Wednesday, May 4, 2016

Amy ( 2015 )

















By Asif Kapadia

*****
Amy Winehouse
 
Tidak banyak dari kita yang pernah menyaksikan sosoknya yang ceria dan penuh dengan kepercayaan diri, dan menemukan kegembiraan dari mendengar suara yang menjadi talenta nya. Hal hal yang ada dan eksis sebelum invasi yang brutal dari flash flash kamera para papparazi yang mengincar nya 24/7, dan pada akhirnya memadamkan api yang sebelumnya sangat terang menyala di dalam dirinya.

Apa yang kita tahu sekarang tentang Amy, adalah ingatan ingatan akan seorang penyanyi jazz yang muncul pada awalnya di tengah maraknya tema hip hop, reggae, girl-boy band group pop, yang ketika muncul, langsung membakar industri musik dimana mana, dengan album baru yang begitu sukses, “ Back To Black “ dan berhasil menjual 20 juta copy dan memenangkan 5 penghargaan Grammy Awards. 


Saat itu, suara khas nya yang unik membantu nya membentuk persona bad girl nya yang centil yang ada di dalam dirinya. Dan pada akhirnya, Amy terjatuh pada jalan klise dunia showbiz, meninggal di usia yang terlalu muda karena keracunan alkohol.
Amy bergabung dengan “Club 27”, dimana merujuk pada usia dimana banyak musisi legendaris dunia seperti Jimi Hendrix, Kurt Cobain, Jim Morrison atau Brian Jones juga meninggal di usia 27 tahun, yang sangat jauh dari usia “pensiun” para musisi.

Kapadia menjukkan kepada kita transformasi seorang Amy, gadis ceria dan bandel dari utara London ini menjadi seorang penyanyi Jazz and soul terbesar di era modern ini, yang siap menaklukan dunia dan menempatkan dirinya di panggung yang sama dengan penyanyi penyanyi jazz legendaris seperti Ella Fitzgerald, Thelonious Monk atau Tony Bennet.

Kapadia juga sangat keras menyorot sang ayah, Mitch Winehouse, yang telah menekan putrinya untuk bekerja sejak usia muda hingga sampai ia mencapai batas limitnya, atau sang ibu yang terlihat tidak terlalu memusingkan diri dengan diet ekstrim yang dilakukan putrinya sejak remaja. Kemudian juga kepada mantan suami Amy, Blake Fielder, yang mengenalkan Amy dengan heroin dan kokain dan mengeksploitasi nya habis habisan.

Kapadia tidak berlebihan memainkan victim card untuk Amy di film ini. Kapadia dengan bijak dan pintar menggunakan lagu lagu Amy sepanjang film, dan kadang dengan lirik liriknya yang muncul di layar, untuk lebih mewakili kisahnya sendiri. Dari nyanyian happy birthday nya kepada sang sahabat di sebuah footage yang tidak pernah dilihat sebelumnya ketika ia masih berusia 14 tahun, dan lagu yang menjadi hits nya sepanjang masa ( Rehab, Back to Black, Love is A Losing Game ) , hingga ke konser nya di Belgrade, seminggu sebelum ia meninggal, dimana Amy naik ke panggung dalam kondisi mabuk dan tidak menyanyikan satu lagu pun.

Footage dari Amy yang kesulitan menyanyi karena mabuk dan dalam pengaruh narkotika, adalah tragis untuk dilihat. Dipaksa untuk melaksanakan tur di eropa yang tidak diinginkan nya, dia menolak menyanyi di satu konser di Belgrade, dan jatuh beberapa kali di atas panggung. Mungkin salah satu bagian paling mengganggu dalam hidup Amy bagi saya adalah ketika saat dia begitu membutuhkan banyak cinta dan dukungan, tapi yang ada di sekitar nya adalah orang orang yang begitu peduli untuk menginvestasikan uang mereka kedalam ketenaran Amy, tapi hanya dengan sedikit kepedulian akan kesehatan fisik dan mental nya sendiri. 



Film ini juga menunjukkan sisi buruk dari media, khusus nya paparazzi, yang begitu keras mencoba mencabik cabik setiap bagian dari Amy. Di dalam film, juga diperlihatkan teman teman lamanya. Amy mempunyai sangat banyak teman yang peduli padanya, tapi merasa tidak banyak yang bisa mereka perbuat untuk Amy. Salah satu nya dari teman baiknya, Juliette Ashby, berbicara tentang obrolan nya dengan Amy di telpon, beberapa jam sebelum ia meninggal. Amy meninggal tanggal 23 Juli 2011, di usia 27 tahun karena keracunan alkohol, dan yang juga menjadi faktor adalah eating disorder nya dan narkotika, yang melemahkan jantung nya.

Saya mendapat kesan di film ini adalah, Amy, pada dasarnya adalah orang yang baik, sekalipun banyak sekali hal hal yang dilakukannya adalah salah. Tapi film ini tidak menyinggung tentang Amy yang juga seorang Philanthropist semasa hidupnya, dimana ia banyak mendonasikan uang, waktu dan musiknya kepada banyak yayasan amal yang berfokus pada anak anak.

Bagian terakhir di film ini, kita melihat Amy yang dalam kondisi wasted dengan alkohol, narkotika dan eating disorders, dan ini adalah bagian bagian mengerikan seperti di film horror yang sulit untuk saya tonton. Tapi saya tidak memindahkan mata dari layar, karena film ini membuat saya tersentuh melihat Amy sebagai sosok seperti manusia lainnya, yang rapuh dan akhirnya terjatuh di usia yang sangat muda, dan bisa terjadi pada siapapun yang kita kenal. 

It’s her words, her music, her voicemails, her home videos, her friends, her family, her tormentors, and her timeless incandescence. Look, listen and weep.
Rest in peace, Amy 
 
 

Thursday, January 14, 2016

Carol ( 2015 )

Starring : Cate Blanchett, Rooney Mara, Sarah Paulson
Writer : Phyllis Naggy ( screenplay ), Patricia Highsmith ( Novel )
Director : Todd Hayness

Carol is gorgeous, gently groundbreaking, and might be the saddest thing you’ll ever see. 
 
Mereka pertama kali bertemu saat mendekati Natal di tahun 1952, di bagian mainan anak anak di sebuah departemen store dimana Therese bekerja dan Carol mencoba membeli boneka untuk anak perempuannya, tapi gadis penjaga toko, Therese menyarankan set kereta mainan, dan Carol membelinya. Kemudian sarung tangan Carol tertinggal ( very possibily on purpose ? ).

Hayness sengaja tidak terlalu menekankan hal ini, dia ingin menggoda kita dengan berbagai kemungkinan dan clue-clue yang perlu atau tidak kita perhatikan. 
Dari situ kemudian mengarah pada pertemuan pertemuan berikutnya, dari bertemu Carol di rumahnya, tapi suami Carol yang desperate dan sedang dalam proses perceraian, datang tiba tiba. Ketika Carol dan suaminya bertengkar di depan rumah, Therese sengaja menaikkan volume musik di phonograph yang sedang didengar nya. Therese berada di sebuah keadaan yang sama sekali asing baginya, tapi memikat dan ia tidak mampu menolak nya.


Memenangkan best actress di Oscar tahun lalu untuk Blue Jasmine, Blanchett kembali mengkonfirmasikan dirinya sebagai salah satu aktris terbaik di era sinema modern, aktris yang memiliki facial yang tenang, memikat, bahkan almost angelic, yang memiliki suara tenang ketika menggoda sampai gemetar dengan kemarahan tanpa perlu menaikkan suaranya. Dan Mara sendiri, it’s all about the eyes, tatapan tapapan nya, yang berubah dari penuh keingin tahuan sampai penuh passion. Bersama, mereka berdua seperti dinamit, chemsitry antara mereka diperkuat oleh desain kostum luar biasa dari Sandy Powell, yang menambahkan dinamika interpersonal yang terus berkembang sepanjang film.

Sarah Paulson disini menjadi supporting character, sebagai Abby, teman baik Carol, sekaligus mantan kekasih nya. Kyle Chandler yang menjadi Harge, suami Carol, juga tidak kalah baiknya. Dia seperti kombinasi yang tidak seksi antara keras kepala dan berapi api. Dia sangat pemarah dan tidak bahagia, membenci dirinya sendiri karena terlalu lunak dengan Carol dan perselingkuhan nya. Kontribusi Harge di film ini membahkan kompleksitas cerita, yang awalnya ia setuju untuk berbagi hak asuh menjadi akan melakukan apa saja untuk menjauhkan Carol dari anak nya.

Carol dipaksa untuk memilih antara hak asuh anak yang dicintai nya dengan suami yang tidak pernah dicintai nya and the person she love and wants to be with ( thanks pada tabu moral akan homoseksualitas dan sexism di era ini ).

Carol adalah cerita cinta dimana dua wanita yang memiliki daya tarik yang kuat satu sama lain, dan menghabiskan waktu sepanjang film mencoba untuk mencari tau apa yang harus mereka lakukan. Ini adalah tentang dua orang yang tidak tau bagaimana hidup mereka sebelum mereka bertemu satu sama lain.
Tidak ada hal yang sempurna di dunia ini, tapi film seperti Carol sangat dibutuhkan dan sangat penting, karena mengingatkan kita akan kemajuan dari perbudakan emosional yang telah banyak kita hadapi dan telah kita rasakan sampai saat ini di masyarakat

Carol lebih dari sekedar pencapaian yang mengesankan di bidang cinematic, Carol adalah sebuah karya seni yang melankolis ala abad pertengahan yang sangat spesifik, dan memahami cinta sebagai sesuatu yang sangat berisiko tapi juga merupakan perjudian yang paling penting dalam pengalaman siapapun.
It took close to twenty years to get Carol made but the wait has been worth it.

****

Carol ( 2015 )
A film by Todd Hayness

Thursday, December 24, 2015

Un Conte de Noël ( A Christmas Tale ), 2008

Cast : Catherine Deneuve, Jean-Paul Roussillon, Mathieu Amalric
Writer : Arnaud Desplechin
Director : Arnaud Desplechin
****

 

Setiap sutradara membutuhkan setidaknya keberanian dalam membuat sebuah film, dan Arnaud Desplechin memiliki banyak keberanian tersebut. Dengan filmnya, A Christmas Tale, dia dengan berani mengambil unsur dan formula formula yang bisa kita anggap ‘basi’, dengan harapan bisa kembali menyegarkan nya. Dan dia berhasil. Dia juga dengan berani mengambil resiko memberi judul yang klise pada filmnya, tampaknya dia yakin bahwa hal itu akan terlihat ironis. Eventually it even transcends irony.

Lahir di Roubaix, sebuah kota industri di utara Perancis, Desplechin, dengan rekan penulis nya Emmanuel Bourdieu, memulai ceritanya disini.
Pola sangat familiar dengan kita : keluarga besar berkumpul. We start with death and love. Joseph, anak pertama dari Abel dan istrinya, Junon ( Jean-Paul Roussillon and Catherine Deneuve), meninggal karena leukimia di usia nya yang masih muda, 6 tahun. Pasangan suami istri yang sangat terlihat saling mencintai ini, mengatasi duka mereka dengan cara memiliki 3 anak lagi yang semuanya tumbuh besar menjadi orang dewasa yang sangat talenta tapi memiliki pribadi yang rapuh.

Sekarang, di masa tua nya, Junon juga menderita kanker yang sama, dan dengan harapan untuk tetap hidup adalah dengan cara transplatasi sumsung tulang dari donor yang kompatibel, yaitu anak anak nya. Jadi ketika mendekati Natal, di dalam rumah orang tua mereka, di tengah kado kado yang tersebar, terdapat hasil tes darah mereka.

Says the matriarch with characteristically cold sarcasm: "Thanks to my disease, we're being reunited." :D

 Itu adalah metafora yang jelas berjalan sepanjang film. Satu warisan genetik, penyakit dan hal lain nya, yang bisa mengikat kita bersama sama, atau bisa memisahkan kita, bahkan kadang hal itu terjadi secara bersamaan. Sebagai contoh, dua saudara kandung tertua belum berbicara dengan satu sama lain dalam lima tahun. Anak pertama, seorang penulis drama sukses, Elizabeth (Anne Consigny) adalah seseorang yang melankolis dan depresif; Sebaliknya, Henri, produser teater (Mathieu Amalric), adalah seseorang yang manic ketika mabuk. Adik mereka, Ivan (Melvil Poupaud), semenjak ia dewasa sering menjadi peran perantara untuk dua kakak nya.

I tell you all this, and still I haven’t gotten past the movie’s prologue. :D

Membutuhkan lebih dari setengah jam sampai semuanya bisa berkumpul, dan baru A Christmas Tale mengungkapkan “isi” filmnya yang ekspansif dalam skema naratif, kompak dan tepat pada intinya. This being the French version of the scenario. Sangat eksentrik, cerdas dengan kilas baliknya, adegan adegan yang diam, dan dengan pilihan musik yang bizzare. The main change is, karakter karakter di film ini tidak menjelaskan kenapa mereka mencintai satu sama lain, tapi lebih ke sibuk mendebatkan kenapa mereka tidak saling mencintai.


Ini adalah film really really well made dengan deretan cast yang mengesankan. Tapi, dengan durasi nya yang sangat panjang ( 2.5 jam ), walau tetap menarik, tidak semua konflik di film ini mendapatkan penyelesaian nya. Ini mengingatkan saya dengan film The Family Stone, tapi untuk versi Prancis, dengan karakter karakter yang kurang menyenangkan :D Karakter karakter di film ini sangat tidak sempurna dan membutuhkan energi yang lebih untuk mencoba dan memahami mereka.

Film ini tidak untuk semua orang. Jika kalian menganggap Magnolia sudah sangat pretensius, maka kau akan sangat membenci film ini dari awal, karena dari menit pertama film dimulai, sama sekali tidak mencoba untuk perlahan dengan tempo manik nya. Yang membuat saya benar benar menikmati film ini adalah dari sisi akting dan skenario nya yang brilian. Which i think are some the best i have seen this year. Performa para cast nya sangat baik dan masing masing dari mereka memberikan penampilan yang luar biasa. Ini seperti versi lain dari film Nick Cassavettes, tapi lebih bergaya dan mungkin merupakan salah satu keluarga paling disfungsional yang pernah ada di sebuah film.

Again, not for everyone, but I liked it a lot and thought the ending was beautiful. Happy Christmas, everyone !!

****

December, 24th, 2015

Wednesday, October 28, 2015

The Overnight ( 2015 )

Cast : Jason Schwartzman, Taylor Schilling, Adam Scott, Judith Godreche
Writer : Patrick Brice
Director : Patrick Brice

****






Pasangan muda, Alex ( Adam Scott ) dan Emily ( Taylor Schilling ) baru saja pindah dari Seattle ke Los Angeles dan sedang berusaha mencari teman baru. Kesempatan itu datang ketika mereka sedang menemani anak lelaki mereka yang berusia 5 tahun bermain di taman, dan mereka dihampiri oleh Kurt ( Jason Schwartzman ), ayah dari anak lelaki lainnya. Kurt yang bersikap sangat ramah, memuji pilihan mereka yang pindah ke salah satu lingkungan keluarga yang paling baik di LA, dan mengundang mereka untuk datang ke rumah nya untuk makan malam.
Kurt tinggal di sebuah mansion megah yang stylish dengan anak dan istrinya yang orang perancis, Charlotte ( Judith Godreche ). Walau awalnya dijelaskan jika Kurt memiliki bisnis di bidang pengelolahan air, sumber kekayaan pasangan ini sangatlah tidak jelas awal nya. Apakah dari studio lukis Kurt yang berisi banyak lukisan ( lol) butthole akrilik berwarna warni, atau dari pekerjaan akting Charlotte dimana pasangan ini mengerjakan DVD demo breast pump ?

Ketika anak anak mulai tidur, malam kedua pasangan muda ini baru saja dimulai, dan sexual tension diantara mereka yang sejak semula melayang layang di udara mulai mengelilingi mereka. Sementara Emily yang semula merindukan
 kesenangan bersama teman wanita di Charlotte, malah mendapati dirinya dalam perasaan awkward dan mulai merasa nervous ketika atmosfir yang ada diantara mereka semua berubah dari yang awalnya menyenangkan, bersahabat, fun-loving menjadi terasa seperti saling menggoda dan seperti siap akan melakukan pesta swinger. Setelah itu semua menjadi semakin aneh dan aneh. LOL
Penulis sekaligus Sutradara film ini, Patrick Brice telah membuat sebuah alur cerita yang lucu, aneh dan sangat banyak lelucon seks serta dialog dialog awkward yang bisa membuat berubah suasana diantara mereka seketika. 
Schwartzman memainkan peran nya dengan sangat sempurna di film ini, menjadi Kurt, seorang pria penggoda yang ramah, aneh dan ini merupakan salah satu hal terlucu yang pernah ia lakukan. Taylor Schilling yang bersinar dengan Orange Is The New Black , di film ini menunjukkan jika ia tidak hanya ahli akting di bidang drama dan komedi, tapi juga bisa menggabungkan keduanya dengan semua sikap awkward dan canggung di dalam diri Emily, satu satunya karakter yang bisa mendeteksi dan merasakan jika malam mereka yang semakin berubah menjadi aneh.


The Overnight mengajak penonton untuk selalu menebak nebak apa yang akan terjadi dan sebenarnya siapa yang sedang menggoda, atau kenapa mereka saling menggoda satu sama lain, dan bagaimana malam tersebut akan berakhir. Komedi ini sukses mendapatkan klimaksnya sendiri yang sama sama mengairahkan dan membuat frustasi.

Tidak peduli seberapa aneh alur ceritanya, seluruh film ini dipegang penuh oleh akting ensemble 4 aktor berpengalaman ini. Scott, Schilling dan Schwartzman membawa dan membagi pengalaman akting mereka bersama Godreche, sehingga sama sekali tidak ada weak link diantara mereka. Film indie berbudget rendah ini sukses mendapatkan kritik positif pada penayangan nya di Sundance Film Festival. Syuting film ini sendiri hanya memakan waktu 2 minggu, dengan seluruh pakaian dll yang berasal dari milik 4 aktornya masing masing.
The Overnight is one of those cringe comedies that come to truth through awkward misunderstanding and outlandish behavior. The ensemble sets the gold standard for millennial comedy acting. For me, The Overnight is one of the best Indie of 2015.

****

The Overnight ( 2015 )
A film by Patrick Brice



Friday, October 23, 2015

La Sapienza ( 2015 )

Cast : Fabrizio Rongione, Christelle Prot, Arianna Nastro,  Ludovico Succio
Writer : Eugène Green
Director : Eugène Green

******



Berlatar Paris, Alexandre Schmidt ( Fabrizio Rongione ) , arsitektur kelahiran Swiss ini sedang berada di puncak karier nya. Istrinya, Alienor ( Christelle Prot ) yang seorang profesional di bidang sosiologi dan psikologi juga sudah memiliki karier yang mapan. Jelas terlihat ada sesuatu yang menganjal secara emosional diantara mereka berdua. Kedua nya sendiri terlihat asing terhadap satu sama lain, dan bahkan dari hidup mereka secara umum nya, dan kita merasakan semua ini dari shoot kamera director yang sering menyorot pada bagian kepala saja, seperti foto cropped yang ada di kartu ID atau paspor, pandangan mata yang asing, dan banyak jeda jeda yang disengaja dengan keheningan dengan menyorot objek tertentu.

Karena urusan pekerjaan, Alexandre melakukan perjalan ke Italy, dan Alienor memutuskan untuk ikut juga bersama nya. Setelah itu, filmnya sendiri bergeser bolak balik antara dua karakter ini . Sang arsitek dan istrinya, pernah mengalami tragedi yang telah meninggalkan mereka berdua terluka, merasa bersalah dan menjadi dingin satu sama lain. Berinteraksi dengan dua bersaudara Goffredo dan Lavinia, yang mereka jumpai secara tidak sengaja di kota Stresa, membuat mereka kembali bersemangat melalui perhatian dan bimbingan yang bisa mereka berikan kepada Goffredo dan Lavinia. Alienor tetap tinggal bersama Lavinia yang sedang menderita sakit gangguan saraf, sedangkan Alexandre, melanjutkan perjalan nya ke Turin bersama Goffredo, yang juga sedang belajar arsitektur.



Hasil dari perjalanan tersebut menggerakkan banyak hal dalam diri Alexandre dan Alienor, mengatasi beban emosional yang ada dalam diri mereka, dengan cara langsung yang tidak banyak kita temui di film lain. Anak anak, serta orang orang asing yang mereka jumpai di film ini, seperti menerangi realitas yang sulit yang selama mereka hindari, membantu mereka kembali pulih dari trauma masa lalu, dan menemukan kembali apa yang hilang dari hidup mereka. Dialog dialog aneh dan asing di telinga, sikap tubuh serta cara mereka berekspresi yang terasa tidak sinkron satu sama lain, secara perlahan mulai bisa dipahami, It’s like recitations of poetry or pieces of a dream. It's all about finding wisdom.

Untuk sang istri, Alienor, ia menceritakan kepada Lavinia tentang hal yang membuat pernikahan nya terasa kering dan tidak lagi hasrat di dalam nya. Untuk Alexandre, ia menceritakan kepada Goffredo tentang kisah hidup aristek legendaris Italia, Francesco Borromini yang penuh gejolak, yang dirasakan nya seperti cerminan hidupnya sendiri.

Alexandre menjelaskan kepada Goffredo tentang persaingan yang ketat dan intense antara Francesco Borromini dan Gian Lorenzo Bernini. Bernini, kata Alexandre sangat rasional, sementara Borromini terasa lebih mistis karena prinsip nya. Again, the man is telling his own story. “ I am Bernini “, kata Alexandre, walau jelas dia terlihat lebih ingin menjadi Borromini. . Dalam menyampaikan semua ini untuk Goffredo, ia tampaknya menghidupkan kembali gairah dan tekad yang selama telah tertutupi oleh kesulitan hidup dewasanya dan kepatuhan kepada sisi ortodoks modern yang memuja materialisme dan sekularisme.



Dari luar permukaan, La Sapienza, film dari sutradara sekaligus penulis naskah, Eugène Green, bertempo sangat lambat, asing dan terasa sangat aneh. 
But stick with it and it may win you over. Been there, done that. !

Gerakan gerakan lambat di film ini seperti mencerminkan keindahan arsitektur klasik Italia yang menakjubkan, dengan kubah yang indah dan tiang tiang berukir yang diresapi cahaya, dengan kedalaman serta kekayaan yang melampaui kata kata.
Setelah saya perhatikan, saya menyadari jika hampir semua shoot shoot pemandangan arsitektur bangunan di film ini selalu terlihat ke arah atas atau ke bagian atas. Hal ini membuat saya teringat dengan di salah satu percakapan Alexandre dengan Goffredo. "We encounter many obstacles that draw us back toward Earth, but inevitably we find ourselves moving upward again. Until, via an inescapable trajectory, we reach a source of light."

It's a hopeful message in what is ultimately a very hopeful film

***

la Sapienza ( 2015 )
un film di Eugène Green



Sunday, August 30, 2015

Is Piper Chapman Actually the Worst?

Orange Is The New Black ( TV Series 2013 - )
creator : Jenji Kohan

*****






























Is she the worst ?  In short, yes. But the entire point of her character is to be as such, so in a cruel twist of fate, it works in her favor.
Season 1 Piper Chapman will melt your heart, but in season 3 she turn into this she-devil and become one of the least favorable character on the show.

Ketika gue memulai season 1 Orange is The New Black,  Piper Chapman is hillarious and brilliant in her own way. Taylor Schilling got her first emmy nominee because she deserved it.
Drama dimulai ketika Piper mengetahui jika mantan kekasihnya, femme-fatale Alex Vause juga berada di penjara yang sama dengan nya. Piper terjebak dengan kehidupan nya di dalam dan di luar penjara. Di dalam penjara, ada mantan kekasih, yang pernah sangat dicintai nya. Di luar penjara, ada tunangan yang bersama dengan nya selama 3 tahun terakhir.

Piper takes a long time to discover that this journey is meant to teach her to have courage to be who she really is. And between that, she's a one-woman freakshow.
Yang gue sangat suka dari performa Taylor schilling sebagai Piper adalah Diantara masalah masalah yang dihadapi nya di penjara, ia tetap berusaha untuk survive dan terlalu keras kepala untuk  gagal, as if to remind us every time we start to lose faith in her that she's worth cheering for after all.

Seperti yang pernah dikatakan Piper ( S1E11 ), jika berada di penjara, kau tidak bisa melarikan diri, kau dibatasi 4 sisi dinding dan dipaksa untuk berhadapan dengan dirimu yang sesungguhnya dan menghidupkan sisi sisi dari dirimu yang selama ini kau hindari.
In many ways Piper's just surviving, and her behavior changes as her situation changes.
Itu sebenarnya adalah insting alami Piper yang sesungguhnya. Beside, semua karakter dalam serial ini begitu kompleks, salah satu alasan kenapa serial ini begitu menarik. Incredibly good and addictive.

Di season 1, hubungan  Piper dan Alex masih terbungkus kebohongan, karena Piper tidak tahu jika Alex lah yang  membuat nya masuk ke penjara hingga di episode 11.
Di masa lalu mereka, awalnya, Alex lebih kuat dan mempunyai kontrol atas hubungan mereka, tapi di akhir masa hubungan mereka, Piper did. Season 2 dan season 3 adalah serangkaian bukti bagaimana mereka bisa menyakiti satu sama lain.
Ketika Piper mengakhiri hubungan mereka 10 tahun yang lalu, hal tersebut sangat melukai Alex. She ripped her out. Piper sangat mencintai Alex, tapi gaya hidup Alex dan pekerjaan nya semakin tidak bisa dihandle Piper, jadi ia mencampakkan Alex. Piper bisa menjadi sangat egois, yang kemudian akan kita pelajari di setiap season nya.

Dan bertahun tahun kemudian, kembali reuni di penjara - yang satunya sudah bertunangan dan keduanya penuh dengan emotional baggage dikarenakan sejarah hubungan mereka di masa lalu.
Dan seakan tidak dibatasi waktu, daya tarik magnet yang antara mereka, chemistry yang ada masih seperti yang dulu, as great as ever.

They know how wonderful each could be ,And they are still drawn to each other. Piper found someone in Alex, a person that sort of fundamentally, that love that fundamentally change you. And once they experienced that, it never goes away.
Dan itulah yang memisahkan sosok Alex dari setiap hubungan romantic lain nya yang pernah Piper jalani.
Andaikan saja Piper menyadari jika Alex adalah satu satu nya orang yang bisa melihat diri Piper yang sesungguhnya dan tetap mencintai nya.
 Kita berpikir jika Piper adalah sosok yang innocent, tapi sebenarnya tidak. Season 3 ( season 2 juga ) membuka lembar demi lembar sosok Piper yang tidak banyak kita lihat di season 1. And that’s what’s really cool about this show is that things that you think are happening

Gw pikir, apa yang dilakukan Jenji Kohan dan para scriptwriter nya terhadap sosok Piper adalah membingungkan sekaligus brilliant. Gw pikir bahkan mereka sebenarnya tidak pernah secara sengaja/sadar membuat Piper sebagai sosok yang likeable, mereka hanya menulis karakter nya apa ada nya, dan Taylor juga secara brilliant bisa membawakan sosok Piper dengan apa ada nya.  Sosok "penipu" dalam diri Piper ada dalam setiap manusia lain nya, dan instead hanya memainkan satu sisi dari Piper, mereka memutuskan untuk mengeksplorasi semua sisi dari Piper, good side, bad side.
And honestly, prison is one of those places that can reveal sides to people that they didn't know existed or that they didn't ever want to reveal themselves.

Dan itu secara eksplisit 'dibongkar' di season 2 dan 3, yaitu ketika Piper terlihat secara perlahan ia berubah menjadi Alex, dan Alex tidak bisa menghandle hal tersebut. ( I don't like this version of you - Alex , S3E12 ) .
In twisted way buat gue, ada sesuatu yang romantis tentang Piper yang mencoba menjadi orang yang selalu dikagumi nya, Alex.
I think she became the idealized version of Alex she had in her mind. The reality as we saw from the flashbacks was different. And in prison, Alex was even worse.

Piper sedang mencoba menjadi kepribadian yang lebih keras, licik dan tegaan untuk bertahan di penjara.  Sebenarnya, Piper selalu lebih kuat dan tangguh dari yang sebenarnya kita lihat. Mungkin Piper tidak terlalu berpengalaman mengetahui keras nya dunia luar, you know,  ia melalui fase family - college - Alex. She was in her safe nest untill with Alex. Tapi ketika ia meninggalkan Alex di Paris, hal tersebut menjadi pelajaran yang sangat penting untuk Piper, for her own well being.
Itu mungkin bukan tindakan yang mengagumkan ( meninggalkan kekasih mu di saat ia membutuhkan mu ), tapi tetap membutuhkan tekad dan kekuatan. Alex adalah seluruh hidupnya selama 2/3 tahun mereka bersama. Alex on the other side, would never have had the strenght to do that. Alex menghabiskan seluruh hidupnya mencoba berpura pura menjadi lebih kuat dari dirinya sesungguh nya untuk menjaga diri sendiri dari dibully/disakiti. Sedangkan Piper sebaliknya, ia menghabiskan hidupnya berpura pura seperti wanita lemah daripada dirinya sesungguh nya agar ia sesuai dengan image nice blonde lady and the perfect little daughter and sister.

Piper tidak pernah melihat dirinya sendiri sebagai sosok yang kuat dan tangguh. Dan dia selalu melihat sosok Alex sebagai sosok wanita yang lebih kuat, tangguh dan tidak mudah disakiti. Itulah kenapa analogi kecoa ( S3E2 ; Bug Beds ) yang dikatakan nya kepada Alex, sebenarnya merupakan bentuk pujian untuk sosok Piper sendiri ( tanpa disadari nya ), dan sebaliknya, malah insulting untuk Alex ( Season 3 ). Kemampuan untuk bertahan terhadap segala hal seperti kecoa merupakan insting alami dari Piper dan dia perlahan berubah tanpa menyadari hal tersebut. Dan itu merupakan hal yang asing untuk Alex. Dan ketika Alex tidak lagi menjadi sosok "kecoa" yang tangguh dan kuat tersebut, salah satu diantara mereka harus maju menggantikan nya

Bahkan perlakuan Piper kepada Stella sangat mirip dengan cara Alex memperlakukan para kurir narkotika nya ( per their conversation ). Gue berani bertaruh jika Alex tidak pernah sekalipun selingkuh dari Piper bersama satupun diantara mereka. Dan gue berani bertaruh juga jika Piper berpikir jika Alex selalu melakukan nya.

Coba perhatikan track record Piper selama di penjara. Heally berkata jika ia tidak bisa membuka lapangan lari tersebut untuk nya, dan Piper, dengan kemampuan nya memanipulasi keadaan dan CO Fisher, she gets it reopened. Fig berpikir ia bisa memindahkan Piper ke penjara lain untuk menjauhkan wartawan yang mengincar nya. Well, karena berkat Piper juga berikut nya, Fig loses her job. Flaca dan Stella berpikiri jika mereka bisa dengan mudah melangkahi Piper, they both end up burnt. And for Stella, buat gw karakter ini hanya cheap version of Alex.
Orang orang ini, yang selalu meng underestimate diri Piper karena melihat dirinya sebagai sosok yang lemah. They all end up fucked because she's the epitome of a survivor.  Sedangkan Alex, yang terlihat jauh lebih tangguh, mudah dilemahkan oleh kekecewaan nya sendiri ( season 3 ).


One thing for sure, Piper still cared for Alex . a lot. Semua tahap tahap awal nya merencanakan bisnis tersebut adalah bersama Alex, bukan hanya karena ia ingin bersama dengan nya, tapi ia juga menginginkan ijin dari Alex sendiri. Jika Alex dari awal mengatakan jika hal tersebut merupakan ide yang buruk, Piper tidak akan pernah meneruskan rencana nya. Persetujuan dan dukungan dari Alex sangat berarti bagi nya, bahkan setelah ia menjalin hubungan dengan Stella, dia masih mencari Alex dan mengabarkan perkembangan yang ada. Bahkan ketika di episode ketika mereka berpisah, ia masih berkata jika semua biaya yang muncul akan diambil dari " our account" ( berarti dia masih melihat semua profit yang ada adalah bagian mereka berdua ). Kemudian,  Ketika Alex menunjukkan betapa khawatir nya ia dan rentan nya Piper karena Stella, Piper dumped Stella.

She was behaving terribly. But she never stopped caring.

We all hate Piper Chapman in the end of season 3, and Taylor Schilling plays the most unlikable parts of Piper's personality, and delivered every single line like it was nothing. She's great and solid actress.
Let's hope in upcoming season 4, Piper will get her head up from her ass and start realizing how dangerous her position.

See you in season 4 next June !! ^_^
and yeah, i'm Vauseman fans hahaha..

Sunday, August 23, 2015

Wild Tales ( 2014 )

Wild Tales
Relatos Salvajes

Starring : Darío Grandinetti, María Marull, Mónica Villa, Rita Cortese, Erica Rivas
Writer : Damián Szifrón 
Director : Damián Szifrón 

Seseorang mampu melakukan hal hal yang menakjubkan karena cinta, karena kemurahan hati atau pengorbanan diri. Seseorang juga bisa menjadi keras kepala, menjadi getir atau berubah menjadi makhluk yang penuh dendam yang bisa menggunakan kecerdasan mereka dengan cara cara yang sudah diperhitungkan dengan detail dan tepat. Sutradara Argentina, Damian Szifron mendemonstrasikan hal ini, sifat sifat yang tidak ramah, sifat sifat jelek dari manusia yang selama ini kita sendiri hindari, dengan cara cara yang sangat ekstrim.
Terdiri dari enam sketsa cerita, Wild Tales adalah sebuah anthology yang terlihat seperti kolaborasi antara Pedro Almodovar ( The Skin I Live In, Volver ), Quentin Tarantino dan dengan sedikit sentuhan Hitchcock dan Twilight Zone sebagai pelengkap nya.


Sesi 6 sketsa dibuka dengan " Pasternak ", yang dalam waktu sekejap langsung meyakinkan saya untuk duduk manis menyaksikan film ini hingga tuntas.
Momen WTF itu adalah ketika semua penumpang di pesawat mulai menyadari jika mereka semua saling mempunyai koneksi satu sama lain dan sama sekali tak terduga, and what will happen ?
Kemudian, lanjut dari cerita pembuka yang gila dan elegan tersebut, beralih ke cerita yang lebih simpel, dimana seorang koki di sebuah rumah makan, dan sekaligus eks narapidana ( Rita Cortese ) mencoba berbicara dengan seorang waitress yang idealistik untuk membalaskan dendam ayah nya yang bunuh diri karena disebabkan oleh lintah darat yang keji ( Cesar Bordon ) yang kebetulan singgah di rumah makan tersebut. 



Cerita ketiga, sekaligus salah satu yang saya favoritkan, tentang seorang pengemudi Audi yang sombong, yang menyinggung dan menyelip pengemudi lain nya di tengah jalan tol. Sial nya, mobil Audi tersebut pecah ban di tengah jalan, dan pengemudi yang disinggung nya tadi muncul dari kejauhan.
Well, here's the things escalated quickly, dan apa yang terjadi selanjutnya adalah duel pria macho yang berubah menjadi kotor, jijik ( literally ), bizzare, mengerikan dan berubah menjadi fatal. 



Dua cerita berikutnya menyinggung tentang hukum, birokrasi, dan peran seorang ayah. Ada seorang ayah yang ingin menyelamatkan putra nya yang menabrak lari perempuan yang sedang hamil, dan untuk itu ia harus berurusan dengan semua pihak, dan juga mengeluarkan uang untuk pihak pihak tersebut. Dan ayah yang selanjutnya, seorang insinyur konstruksi khusus bahan peledak, yang berusaha mengendalikan emosi , yang dari awal nya soal sepele, yaitu tentang mobil nya yang diderek, berlanjut dengan rentetan masalah lain ya yang membuat emosi nya meledak.

Kemudian, yang terakhir, sekaligus yang  paling gila, dan sekaligus yang paling menarik perhatian, " Till Death Do Us Part ", dimana sang pengantin baru ( Erica Rivas ) yang pada saat pesta pernikahan nya mengetahui jika suami nya ( Diego Gentile ) pernah berselingkuh  dengan teman kerja nya yang juga diundang di pesta tersebut.
Seriously, dengan diiringi lagu Titanium nya David Guetta ft Sia, actually, it's a very beautifull, cool wedding party. Quote seperti " what a wedding without some drama" sangat cocok dengan segmen ini. Rivas, yang terlihat sangat adorable dalam balutan gaun putih nya berubah menjadi seperti malaikat yang penuh dendam dalam seketika, and from this girl alone, the drama is too juicy. haha.. 

Setiap kali  kita melihat film fim antologi yang ada saat ini, more often than not, adalah kumpulan cerita cerita horror melelahkan seperti "V/H/S" atau " The ABC's of Death". Akan sangat menarik dan menyenangkan jika ada seorang filmmaker mencoba metode yang sama dengan genre yang berbeda, dan itu adalah Wild Tales nya Damian Szifron, yang berisikan berbagai cerita yang bizzare ( aneh ), mulai dari insiden kecil di tengah jalan yang berubah fatal, seorang ayah yang mencoba melakukan damage control atas kesalahan mengerikan anak nya, dan tentang pesta pernikahan yang penuh drama. As each story unfolds,we’re forced to ask ourselves that very question: How could this get any worse for these characters?

Brillian nya film Szifron ini terletak pada kemampuan nya memulai dan meningkatkan tensi cerita, dari awal yang biasa saja menjadi apa yang tidak pernah terbayangkan oleh kita sebelum nya. Disinilah terletak betapa nikmat nya film ini, Wild Tales adalah sebuah mish-mash atas balas dendam, emosi yang meledak ledak, keputus asaan, yang semuanya digabung dalam sebuah film yang terdiri dari beberapa genre, seperti drama, thriller dan dark comedy dalam dosis yang besar. Indeed, elemen terakhir inilah yang merupakan aset terbesar di film ini yang membuat nya menjadi absurd, tapi sangat bisa dinikmati. Tidak hanya membuat nya menjadi lebih entertaining, tapi juga sukses membuat saya tertawa keras dengan getir.

Saya bisa saja menyebutkan banyak hal lain nya, but really, this is a film that simply needs to be experience by the viewer without knowing too much about it. Saya hanya ingin memberikan garis besar cerita nya saja. Ini adalah cerita yang sangat keterlaluan menarik nya yang bisa membuat anda betah menonton nya dan menanti apa saja yang bisa terjadi pada karakter karakter yang kurang beruntung ini. What more could you ask for from a film like this ?


Ketidaksetaraan, ketidakadilan dan tuntutan dunia tempat kita hidup ini telah menyebabkan stres dan depresi bagi banyak orang. Beberapa dari mereka, tidak mampu menahan nya dan kemudian meledak emosi nya dan hilang kontrol. Dan Ini adalah film tentang orang-orang tersebut. Tentang rentan nya banyak orang dalam menghadapi realitas yang ada, yang dalam sekejab bisa bergeser dan berubah menjadi tak terduga. Karakter karakter dalam film ini berada dalam ambang garis tipis dalam diri mereka masing masing yang merupakan jurang pemisah antara norma norma sosial dan sifat sifat barbarisme yang ada dalam diri setiap orang. Pengkhianatan kekasih, birokrasi, harga diri, hilang kontrol, ditipu orang terdekat, dan banyak faktor lain nya menjadi pendorong para karakter ini menuju kegilaan dan meledak nya emosi mereka dan ketika itu terjadi, mereka berubah lair, kehilangan kontrol dan mereka menikmati nya.



Wild Tales is shocking and brutally hilarious. Kumpulan cerita yang gila yang penuh sensasi serta dark komedi yang mampu membuat nya tidak mudah dilupakan. So far, is one of the best i watch this year. This is an absurdly entertaining film that is not to be missed.








Monday, August 3, 2015

A Piece of Orange


Jenji Kohan, dropped the L-bomb in the very first 10 second of pilot episode. And it change television in a matter of second and become phenomena since then.
We hear soft, feminine voice of Taylor Schilling said that she's love bath, love getting clean, since she was just a baby, then as toddler, and as grown up woman where she's wet and showering with woman with salt-shaker tattoo on her left shoulder, completely nude and sharing some kisses, and then in a bathtub with a man, laughing and seems happy.

So, Orange is The New Black. This show is so addictive it is not freaking funny. You just can’t beat prison shows for their diverse range of characters, including sexy heroines with fatal flaws. We saw it in Bad Girls and revelled in it there, but Orange Is the New Black is an entirely different beast so the comparisons should stop right there. This show is flat out funny, moving, compelling and authentic, with the kind of twisted black humour in the face of life's horrors that made shows like Six Feet Under and Weeds addictive viewing.

I was very hooked from the beginning. I’d say the first three episodes is already convicing enough for me to follow this series to the end. But I’m just saying, if you are struggling to see what all the fuss is about, stick with it at least until episode 4. If you’re not hooked after that, then this show just may not be for you, but for me that’s where this show really kicks up a gear.



One of the many reason people hooked for this show is the relationship between an entitled, spoiled white girl with a rebellious streak Piper Chapman and her old flame, femme-fattale Alex Vause.
When i know ( but not surprise like Chapman who's screaming like a banshee haha.. ), Alex Vause is doing time too in the same prison with Piper, and Piper is caught between her outside life and inside prison. Piper takes a long time to discover that this journey is meant to teach her to have courage to be who she really is. And between that, she's a one-woman freakshow.

 It is borderline psychotic how many time she sticks her foot in it. But no matter how crazy the other inmates are, no matter how many moments of pure hilarity and shocking violence, the show never loses its focus on Piper. Schilling carries a huge load here, more than usual for an ensemble show, and she's brilliant. 


What I really loved about Schilling's performance is that in between disasters Piper shows real grit and an underlying stubbornness to fail, as if to remind us every time we start to lose faith in her that she's worth cheering for after all. If only she'd wake up and realise that Alex is the only person on earth who sees her for exactly who she is and loves her anyway. 
The supporting cast is magical. They know they have an amazing cast, and they give them moments to shine, and One of the brilliant decisions Kohan makes is to allow us to escape from prison sometimes into the backstories of the individual inmates. 

Jenji Kohan put together an ensemble of underrepresented actresses — a transgender actress in the role of a transgender woman, a big fat butch dyke actually played by one, a number of actresses who had altogether given up on the business after realizing they were too old, too African, too Latina, too gay or too heavy for Hollywood. This show looks like the Island of Misfit Toys. At least for Hollywood standard.


But let’s face it, this is the Piper and Alex show, at least for season 1 before the show turned into ensemble cast show in season 2 and 3.
Their chemsitry is breathtakingly palpable, their attraction for one another is undeniable. Both are like an electric couple whose cup overfloweth with passion and also heavy drama. Alex always looks at piper like she's overcome with desire to consume her, and on the other side, Piper looks at Alex and her eyes seem to scan Alex's face in awe-struck. 

These two ladies met when they were young, in their crazy and wild mid 20s, and immediately sparked, through happy phase and multiple year of relationship that ended badly. And decade later, they reunite in prison - one of them engaged and both of them with a load of emotional baggage over their history - and it is as if no time has passed: their magnetism to one another as great as ever, as well as their propensity to turn each other's world upside down. The chemistry between Taylor Schilling and Laura Prepon is insane, they fit right into the skin for the role.
One thing I learned from this show is if there’s chemistry there’s chemistry, you can see it, you can feel it. — whether it’s with a man or a woman.

In season 1 their relationship was built on a lie . In the past there was a total power discrepancy. At first, Alex had way more power and control in the relationship. By the end, Piper did (. At the end of season 3, it's mostly out on the table. They know how horrible each could be. 

They know how wonderful each could be. And they are still drawn to each other. Piper found someone in Alex, a person that sort of fundamentally, that love that fundamentally change you. And once they experienced that, it never goes away. And thats what separates Alex from every other romantic interest Piper ever has. Quite to say that we all curious how that will plays out.

When Piper ended things with her ten years ago, she ruined her. She ripped her heart out. Piper was in love with Alex, but then Alex’s lifestyle she couldn’t handle so she dumped her. And Piper tends to be very self serving, which we'll going to learn more and more throughout the series. 

We think she’s this innocent woman but she’s really not, we know this by the end of season 3. and that’s what’s really cool about this show is that things that you think are happening

I think what the writers have done is rather brilliant. I don't think they've ever consciously made Piper characterlikeable, they've just written her character as she is, and Taylor has so seamlessly played that character as she is. Piper's deceptively complex as all human beings are, and instead of playing up one side of her they're showing all sides of her. 

And honestly, prison is one of those places that can reveal sides to people that they didn't know existed or that they didn't ever want to reveal themselves. In many ways Piper's just surviving, and her behavior changes as her situation changes.
 That's actually kinda the nature of who she is. Besides, all of the characters on this show are complex, which is one of the reasons why it's so good.

I think it's great how fearlessly Taylor Schilling plays the most unlikable parts of Piper's personality; a lesser actor would still be trying to ingratiate themselves to the audience by overplaying vulnerability, etc. And Taylor Schilling, so far, delivered every single line like it was nothing. When Piper is awful, Schilling owns it and it's marvelous. Taylor is a solid actress. And this show full of amazing cast with top notch acting.

****

Me, at the end of season 3 and realized that we must wait at least a year for the next season. :v


Tuesday, July 28, 2015

The Newsroom ( HBO TV Series 2012 - 2014 )

The Newsroom
Cast : Jeff Daniels, Emily Mortimer, Sam Waterston, Olivia Munn, Thomas Sadoski
Creator : Aaron Sorkin


Sebagai pemerhati berita di tanah air, saya cukup rajin dan rutin mengikuti semua berita baik di televisi, media cetak atau media online, sehingga ditengah gempuran media di era modern ini, kadang saya sering mempertanyakan cara kerja dan kredibiltas yang disandang oleh mereka yang bekerja di balik layar semua berita yang kita tahu saat ini, yang kita tonton kemudian kita bagikan kepada orang lain.

The Newsroom, dengan sang creator Aaron Sorkin, salah satu scriptwriter terhebat yang pernah dimiliki Hollywood, memberikan apa yang mungkin saat ini bisa kita pertanyakan ke semua media berita yang ada, mengenai kredibilitas berita dan semua crew di belakang nya.

Hal pertama yang harus saya singgung mengenai The Newsroom adalah serial ini sama sekali tidak malu menampilkan pemikiran idealis mereka. The Newsroom diisi oleh para jurnalis yang sangat bergairah dengan profesi mereka, yang sangat menghargai kebenaran dan fakta diatas hal hal sepele ( bagi mereka ) seperti rating atau urusan iklan dan sponsor. Dan seperti yang sudah menjadi ciri khas dari karakter karakter rekaan Aaron Sorkin, aksi aksi para karakter serial ini terpusat pada lingkungan dengan tekanan kerja yang tinggi, dimana sebuah tim yang diisi oleh banyak para workaholic yang cerdas yang sering berpidato dengan berapi api.


Pusat dari segala pertunjukan idealis ini sendiri adalah Will McAvoy ( Jeff Daniels ), seorang news anchor yang penggerutu, yang populer karena tidak pernah menggangu pihak manapun, terutama dalam politik. Will pernah percaya jika sebuah berita harus diisi dengan nilai nilai yang berguna dan informatif, tapi dia sendiri sudah mengalami koma dalam pemikiran idealis nya sendiri selama beberapa tahun belakangan.
Semua ini berubah dalam sebuah tayangan debat dimana ia menjadi salah satu pembicara. Ia didesak untuk menjawab kenapa Amerika merupakan negara terhebat di dunia. Saat itu Will seperti dicambuk dari kesadaran nya dan justru melepaskan omelan jujur yang keras mengenai kegagalan Amerika.
" It's not the greatest country in the world !!" bentak Will kepada seluruh audiens yang hadir disitu, setelah sebelumnya memberikan monolog yang memukau kepada mereka.

Dan semuanya dimulai dari sini.

Sekembali nya Will ke kantor setelah liburan pasca insiden debat itu, ia menemukan jika kantor nya kosong, sebagian besar staff nya berhenti dan mantan pacar nya yang pernah mencampakkan nya 3 tahun lalu, Mackenzie McHale ( Emily Mortimer ), telah dipekerjakan oleh Charlie Skinner ( Sam Waterston ), yang merupakan presiden direktur divisi berita dari ACN ( Atlantic Cable News ) sebagai Executive Producer yang baru. 

Mac kecewa melihat Will yang sekarang terobsesi dengan rating dan ingin disukai publik, dia berteriak kepada Will " kau begitu takut akan potensi kehilangan penonton, dan kau akan melakukan apapun untuk menarik mereka kembali. Kau hanya berjarak selangkah lagi dari akan menyajikan berita dalam bentuk 3D !! "
Setelah cukup lama bertengkar, adu argumen, saling memaki, saling mengejek ( yang btw is very very hilarious, at least for me XD ), akhirnya kedua nya setuju untuk membuat program berita yang pernah mereka impikan dulu, sebuah berita yang tidak hanya memberikan apa yang diinginkan penonton, tapi juga memberikan apa yang belum diketahui penonton, terutama di ranah politik yang sebelumnya tidak berani disentuh oleh Will.





The Newsroom berada pada panggung terbaik nya ketika mereka menyajikan cara kerja di belakang layar, bagaimana mereka merangkai fondasi sebuah berita menjadi satu bagian yang utuh di layar kaca. Para kritikus banyak yang komplain mengatakan jika di dunia nyata, para jurnalis jurnalis ini tidak berbicara seperti karakter karakter Sorkin ini atau seidealis mereka.
Ketika Mac dan team nya sedang mengerjakan suatu berita, hasilnya sungguh sangat energetik dan menarik. Skenario dari Sorkin, meanwhile..remain the sharpest and wittiest on TV, you will amaze.
Dialog dialog cepat yang menarik, perdebatan yang serius tapi mengundang senyum, lelucon sinis dan sarkatis, adalah setengah bagian dari apa yang membuat The Newsroom begitu mempesona bagi saya. Setengah nya lagi adalah para karakter nya dan akting mereka yang berhasil menghidupkan setiap bagian cerita.

Jeff Daniels is excellent and outstanding as the gruff grumpy anchorman. Sam Waterston sangat menawan, lucu dan loveable sebagai Charlie Skinner, boss Will yang sangat suportif, memakai dasi kupu kupu dan sangat antusias dan sayang kepada segenap crew nya.
" I will bet the shit out of you ! i don't care how many protein bars you eat !!" teriak Charlie yang pura pura marah kepada Don ( Thomas Sadoski ) yang sedang berdebat dengan Will. Don Keefer adalah Executive Producer Will sebelum diganti oleh Mackenzie, yang keluar dari tim Will setelah tidak tahan dengan cara kerja Will.
Emily Mortimer yang menjadikan karakter Mackenzie yang mustahil untuk tidak disukai dengan rentetan dialog nya yang sinis dan sarkatis serta dedikasi nya terhadap crew nya, atau Olivia Munn sebagai Sloan Sabbith yang socially awkward, pakar ekonomi lulusan ivy league yang cantik dan seksi yang sering dianggap tidak serius atau kompeten karena tampilan nya yang lebih mirip model daripada George Bernard Shaw.
I seriously in love with these characters !!


Sorkin tidak menargetkan The Newsroom menjadi sebuah show yang realis seperti film dokumenter. The Newsroom adalah wujud romantis dari Aaron Sorkin terhadap dunia berita. Well, still, tiap episode nya dibangun dari even even nyata dalam sejarah, seperti meledak nya kilang minyak di teluk meksiko, kematian Osama Bin Laden, tertembak nya anggota kongres Gabrielle Giffords di keramaian, hingga menyentil soal politik tentang pihak Demokrat, Republik, Liberal, hingga meledek habis habisan gerakan tea party di Amerika. 

The Newsroom tidak sepenuh nya menemui gejolak berarti dalam langkah mereka mengubah konsep berita mereka, hingga di musim kedua. Di season kedua dan ketiga mereka lebih cermat dalam pendekatan yang umum dalam sebuah serial, dimana tertata nya berbagai momentum untuk sebuah keutuhan cerita, ketika mereka sedang menginvestigasi kasus yang berhubungan dengan operasi militer rahasia atau di musim ketiga dimana mereka berurusan dengan dokumen dokumen rahasia curian.


Admittedly, The Newsroom can be manipulative – one journalistic victory is accompanied by Coldplay’s Fix You – but it’s also uplifting, a rare quality these days, with most shows fixated on the darker side of human behaviour.

As McHale says during one of her aspirational speeches: “Being a cynic is easy.”

***

The Newsroom ( TV Series 2012 - 2014 )
by Aaron Sorkin