Monday, September 24, 2012

Review : East of Eden ( 1955 )

EAST OF EDEN
Starring : James Dean, Julie Harris, Raymond Massey, Dick Davalos
Directed by Elia Kazan
Written by Paul Osborn



















Ada sebuah hal  yang sangat menakjubkan tentang seorang James Dean. Dia hanya membuat tiga film seumur hidupnya. Semuanya bisa dibilang sangat baik dan penampilannya dalam setiap filmnya itu tanpa diragukan lagi brilliant dan selalu berapi api, bersemangat dan penuh antusias. Dengan style nya yang khas untuk ukuran anak muda waktu itu, rambut acak acakkan, jeans biru dan TShirt putih, membuatnya tidak pernah terlihat ketinggalan jaman.

Kecelakaan tragis yang menimpanya pada bulan Oktober 1955 ketika ia baru berusia 24 tahun, telah merenggut nyawanya sekaligus telah membuat Hollywood kehilangan salah satu calon bintang besar di masa depan. Ketiga filmnya ( East of Eden, Rebel without a cause, dan Giant ) merupakan film film yang Oscar oriented. Dia pernah mendapat 2 nominee Best Actor on Leading Role lewat film East of Eden dan Giant.
'East of Eden' adalah satu satunya film yang dirilis saat diwaktu ia masih hidup dan akan tetap menjadi filmnya yang terbaik dengan penampilan yang paling elektrik dan memuaskan.













 

Berdasarkan novel yang berjudul sama, karya John Steinback, film ini menjadikan sosok Cal ( James Dean ) sebagai kambing hitam dikeluarganya. Dengan seorang ayah yang sibuk dan religius, dan seorang kakak yang terlihat begitu sempurna dan menjadi kebanggaan ayahnya. Bisakah si bungsu Cal, mencari celah diantara hal tersebut dan mendapatkan respek dan sayang dari ayahnya sendiri ?

Disisi lain, Cal menemukan fakta baru bahwa ibu mereka tidaklah meninggal seperti yang diceritakan ayah mereka sejak kecil, tapi masih hidup dan menjadi pemilik sebuah bar di kota seberang. Cal marah mendengar hal ini dan merasa telah dibohongi seumur hidupnya. Jarak pun semakin melebar antara ia dan ayahnya.
Masalah pelik lainnya muncul saat perang dunia pertama meletus, sang ayah yang berbisnis di usaha pertanian mengalami kerugian. Cal ingin membantu ( dan mencoba membeli cinta ayahnya ), tapi akhirnya ia menyadari, hal tersebut sia sia.

Dean bukan hanya terlihat sebagai remaja yang kebingungan disini. Tapi kita bisa melihat tepat dari gerak geriknya dan ekspresinya betapa ia tersiksa dengan kelakuan ayahnya, kita bisa melihatnya saat ia menggeram, mengerutkan keningnya, omongannya yang kadang terpatah patah, banyak bergumam dan emosi yang sering muncul saat ia bicara seakan akan seperti bom yang selalu siap meledak. Keinginannya yang besar untuk kasih sayang ayahnya dan fakta kalau ia tidak bisa mendapatkannya membuatnya semarah beruang kutub. Semua adegan yang ada antara Dean dengan sang ayah ( Raymond Massey ) di film ini unbelievable.., fakta bahwa Massey memang sebenarnya tidak menyukai Dean di kehidupan nyata sepertinya ikut membantu menyalurkan hal tesebut ke peran masing masing.

Sepanjang film, Cal selalu diperlihatkan sebagai anak yang jahat dan mengerikan. Tapi ia pada dasarnya adalah anak yang baik dan bersemangat, yang tak lain tak bukan menjadi dasar atas semua kelakuan jeleknya adalah kefrustasiannya karena tak disayangi ayahnya. Cemburu pada perhatian ayahnya yang tidak terbagi kepada dirinya, Cal mencoba semua hal untuk menarik perhatian ayahnya dengan harapan bahwa sang ayah akan mulai memperhatikannya dan siapa tahu akan mulai menyayanginya seperti kakaknya.

Kemudian masih ada Julie Harris sebagai Abra, kekasih Aron, sang kakak. Abra adalah gambaran sempurna perempuan amerika yang bersemangat dan antusias akan segala hal. Dan dia awalnya sangat takut terhadap Cal yang aneh dan sering terkesan mengintimidasinya. Tapi tentu saja hal ini semakin membuatnya penasaran dengan Cal yang semakin hari semakin menarik di matanya. Pikirannya mengatakan untuk bersama Aron, tapi hampir semua bagian dari driinya terpesona dengan Cal yang berada di jalur yang lebih 'liar'. Istilah, "nice guys finish last" dan East of Eden adalah salah satu contoh bukti yang terdokumentasi dengan baik.

James Dean yang mempunyai aura yang 'cool dan rebellious' di wajahnya sangat cocok memerankan Cal yang selalu keluyuran sendirian dan selalu ingin memberontak terhadap segala hal yang diajarkan ayahnya. Ketika kita menonton film ini dari kacamata orang awam, saya berani bertaruh berapa banyak yang akan bersimpati terhadap sang ayah yang selalu jujur dan menjalankan perintah agama atau kepada sang kakak, Aaron yang selalu ceria dan memiliki kehidupan dengan tujuan yang pasti dan selalu penuh semangat. Mungkin sampai disini kita akan merasa terganggu melihat sikap dan sifat Cal yang selalu menentang hal apapun dari ayahnya, super sinis dan kadang bertingkah seperti anak kecil untuk menarik perhatian ayahnya.

Layaknya film film yang diadaptasi dari sebuah novel ternama, pro dan kontra pasti akan selalu mengiringi filmnya sendiri dengan tingkat was was yang tinggi apabila filmnya tidak memenuhi standar bagi para penggemar novelnya. Tapi hal ini tidak berlaku untuk film yang diarahkan oleh Elia Kazan ini, filmnya dinilai begitu memuaskan banyak pihak, bahkan kazan mendapat nominee Best Director untuk Academy awards tahun 1956 dari film ini, James Dean juga berhasil menghidupkan karakter Cal yang pemurung, aneh, penyendiri, sinis dan pemberontak. Peran ini pula lah yang mengantarkannya pertama kali mendapat nominee oscar untuk Best Actor on Leading Role melalui film yang juga merupakan film pertamanya.

Not only one of Kazan's richest films and Dean's first significant role, East of Eden is also arguably the actor's best performance. 
James Dean's finest performance.

*******


James Byron Dean
American Film Actor
February 8, 1931 - September 30, 1955
( Died aged 24)







****** 

East of Eden l 1955 l Elia Kazan

Official Trailer 

Review : Bridesmaids ( 2011 )

BRIDESMAIDS
Starring :Kristen Wiig, Maya Rudolph, Rose Byrne, Melissa McCarthy
Written by Annie Mumolo, Kristen Wiig
Directed by Paul Feig

Saya kurang setuju melihat banyaknya orang yang menyamakan film sebagai The Hangover versi wanita. Tidak..itu tidak benar, setidaknya saya melihat tidak ada "kegilaan" para lelaki di The Hangover yang bahkan mirip di film ini. Kekonyolan para lelaki di The Hangover jelas karena akibat perbuatan mereka, sedangkan semua "kegilaan" yang ada di Bridesmaid, terasa sangat natural dan bahkan saya bisa melihat kalau hal itu bisa saja terjadi pada pernikahan saya atau sahabat saya nantinya. Dan jelas bagi saya Bridesmaids bukan copycat murahan dari The Hangover.

Dalam budaya pernikahan di barat, setiap mempelai laki laki dan perempuan mempunyai beberapa orang yang bisa dijadikan bridesmaids dan groomsmans, dan biasanya merupakan sahabat, rekan kerja atau saudara. Tapi diantara banyak orang tersebut, hanya terdapat satu saja yang spesial, yaitu disebut Maid of honor dan Best man. Dan sesuai judulnya, Bridesmaids, jadi silahkan minggir para groomsmans..:p

Ada Annie (Kristen Wiig) yang sedang mengalami krisis umur 30′an yang mungkin dipandang banyak orang menyedihkan. Toko kuenya bangkrut, ditinggal pergi sang kekasih, kondisi keuangan yang kacau, dan ia  juga harus berbagi tempat tinggal bersama dua pasangan kakak adik asal Inggris yang aneh, dan kini ia harus bekerja sebagai penjaga toko perhiasan, salah satu pekerjaan yang paling dibencinya. Dan satu-satunya yang bisa membuat dirinya tetap waras dalam menghadapi segala keterpurukan hidup hanyalah sahabat baiknya, Lillian (Maya Rudolph).
Bagi Annie, Lilian, yang merupakan sahabat terdekatnya, adalah sumber kebahagiaanya saat itu, sahabat di setiap keadaan yang mengerti dirinya , mengetahui Lilian yang akan segera menikah denga Doug, lengkap sudah kesepian dalam hidupnya. Tapi hati Annie berada di tempat yang benar.., ia mengesampingkan perasaannya dan tetap berusaha ikut bahagia untuk Lilian. Hal ini kemudian berlanjut dengan perkenalannya dengan para bridesmaid yang lain, Megan, Helen, Rita dan Becca. Well, boleh dibilang kelompok ini benar benar campuran wanita dengan gaya hidup yang kompleks, ada Helen yang super kaya, cantik dan sangat 'manis', ada Megan, adik Doug, yang bertubuh besar dan nyentrik, kemudian ada Rita, ibu 3 orang anak yang super haus akan lelaki dan Becca si innocent.

Katanya, semakin banyak orangnya, semakin ringan pekerjaannya, faktanya, semakin banyak orangnya, semakin rumit urusannya. Para Bridesmaid tersebut ternyata tidak membuat persiapan pernikahan Lilian menjadi mulus, melainkan rumit, karena Annie dan Helen saling bersaing untuk merebut perhatian khusus dan gelar sahabat terbaik dari sang pengantin dan mulai melakukan segala cara untuk saling menjatuhkan satu sama lain agar diri mereka terlihat lebih baik di mata Lillian.












Annie, yang diperankan dengan sangat baik oleh Kristen Wigg yang juga bertindak sebagai co-writer disini. Bahkan untuk sebuah komedi yang bertema pernikahan, ia juga tidak banyak menghadirkan momen penuh kebahagian itu, Annie masih berjuang memperbaiki hidupnya dan ditambah ia harus bersaing dengan Helen yang  bertekad menggantikan posisi 'bestfriend' dari Annie dimata Lilian.

Perpaduan elemen drama persahabatan dengan selipan komedi komedi kasar khas film film Judd Apatow, Bridesmaids berhasil tampil dengan menarik tapi tidak terlalu didramatisir bahkan terlihat nyata dan kadang menohok kita dengan kebenarannya.
Saya menyukai saat formula formula humor di film ini, mulai bekerja dengan baik dan lancar sejak awal film ini berlangsung dan merangsang syaraf tawa saya dan mencapai puncaknya hingga rasanya sulit untuk memandang serius sisa durasi film ini, tapi ternyata saya salah. Film ini memanfaatkan potensi humornya dengan sempurna dan bisa dengan sekejap merubah emosi dengan yang berlawanan.

Banyak kombinasi komedi yang ditawarkan di film ini, mulai dari slapstik, eksploitasi fisik sampai dialog dialognya yang kocak dan jorok ( bagi yang mengerti ).
Rose Byrene sebagai Helen tidak banyak menampilkan perkembangan karakternya disini, bahkan ia boleh dibilang kurang cocok untuk tampil lucu dengan wajah cantiknya, tapi untung personil bridesmaids lainnya mampu memperkasai film ini, walau tidak semuanya, selain Annie, ada Megan yang sangat berhasil mencuri perhatian. Dengan bentuk fisiknya yang tidak menarik dan tingkahnya yang lucu dan nyentrik, ia berhasil menjadi maskot film ini bersama Kristen Wigg, bahkan Melissa McCarthy mendapatkan nominee oscar untuk Best actress on supporting role lewat peran Megan ( well, para bintang bridesmaid ini tampil cukup menghibur di perhelatan oscar kemarin..>.< ). Kristen Wiig dan Maya Rudolph, bermain amat apik dan penuh kerja sama, mengatur dimensi antara komedi dan drama dengan balutan romansa persahabatan yang erat dan penuh emosi.



Menyenangkan sekali menyaksikan sebuah drama komedi yang diperkasai oleh barisan para pemeran wanita yang mampu tampil 'urakan dan gila' seperti drama drama komedi yang banyak ditampilkan oleh pemeran pria. Di tengah semua itu, Bridesmaid tetap mampu dan berhasil tampil cemerlang dalam memberikan elemen elemen dan sentuhan khas perempuan dalam jalan ceritanya sendiri sehingga kadang di beberapa bagian, tetap mampu tampil rapuh dan menyentuh di setiap momen yang membutuhkannya. Tapi apapun itu, dibalik semua kegilaan, kelucuan, dan konflik konfliknya, Bridesmaids adalah sebuah komedi menarik yang memberikan gambaran persahabatan yang tulus, seorang wanita di usia 30an yang sedang krisis dan dalam usaha pencarian jati dirinya, dan tentu saja dengan kemeriahan sebuah pesta pernikahan.

Bridesmaids jelas merupakan salah satu film komedi terbaik yang dihasilkan Hollywood dalam beberapa tahun terakhir dan jelas merupakan salah satu film favorit saya sejauh ini. Untuk genre komedi, rasanya tahun 2011 kemarin adalah milik Bridesmaids.

















 ****

Megan: "I'm life, Annie, and I'm biting you in the ass!"
[bites Annie's ass]

**** 

Bridesmaids l 2011 l  Paul Feig




Official Trailer : 



Wednesday, September 19, 2012

Review : Gone with the Wind ( 1939 )


GONE WITH THE WIND
Cast : Clark Gable, Vivian Leigh, Thomas Mitchell, Olivia DeHaviiland
Director : Victor Flemming


Film ini adalah salah satu film klasik yang menjadi tolak ukur sinema amerika, sebuah epik kesayangan hollywood yang judulnya paling sering ditemukan dalam top list apapun di berbagai movie sites, majalah di seluruh dunia.
Gone with the Wind, merupakan contoh kolaborasi besar yang melibatkan ratusan pekerja yang ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang sangat luar biasa. Lusinan crew dan penulis naskah yang digonta ganti, proses pemilihan bintang utama yang begitu menyedot waktu dan biaya besar, konflik perpindahan kursi sutradara  hingga permainan bisnis studio besar jaman itu berhasil dihadapi oleh sang produser, David O'Selznick yang kabarnya mengkomandani proyek film ini dengan tangan besi.

Diangkat dari sebuah novel berjudul sama karangan Margaret Mitchell tahun 1936. Tahun depannya, Mitchell meraih Pulitzer dari satu-satunya novel yang pernah ditulisnya dan tiga tahun setelah rilisnya novel itu, 1939, filmnya dirilis dan menciptakan sejarah. Selznick membeli hak untuk memfilmkan novelnya sebesar $50,000 atas dorongan teman temannya. Studio besar waktu itu semacam, MGM dan RKO ironisnya sama sekali tidak tertarik membuat GWTW.
Victor Fleming ditunjuk sebagai sutradara menggantikan George Cukor, yang kabarnya dipecat Selznick karena konflik personal. Tahun 1939 adalah puncak keemasan bagi karier Flemming. Filmnya yang lain yang dirilis di tahun yang sama, The Wizard of Oz juga menjadi fenomena tersendiri dalam sejarah sinema amerika.
Dalam jajaran pemain utama, Clark Gable yang saat itu merupakan anak emas hollywood mengisi peran Rhett Butler . Proses Selznick mendapatkan Clark Gable dari tangan MGM ( studio yang menaugi sang aktor ) pun tidak lah mudah, berbagai negosiasi alot pun dilakukan Selznick kepada para petinggi MGM. Untuk peran Scarlett O'Harra sendiri, Selznick turun tangan langsung mengaudisi ribuan aktris wanita secara random hingga akhirnya memangkas nya menjadi dua antara Paulette Goddard dan Vivian Leigh.

Film ini lebih mengisahkan konflik (dan cinta) antara empat karakter sentral, Rhett Buttler (Clark Gable), Scarlett O’Hara (Viven Leigh),Melanie Hamilton (Olivia DeHaviiland), Ashley Wilkes (Leslie Howard),  dengan latar Tara, Atlanta dan daerah selatan di masa sebelum dan sesudah perang sipil yang berkecamuk di amerika antara tahun 1861–1865.
Scarlett adalah sosok wanita cantik yang digambarkan manja, egois, sinis dan agak liar. Scarlett sebenarnya bisa saja mendapatkan lelaki manapun saat itu, tapi ia lebih memilih untuk mengejar ngejar ( dan agak mempermalukan dirinya sendiri ) Ashley Wilkes, yang pada saat itu merupakan tunangan sepupunya, Melanie Hamilton. Nah, di tengah konflik cinta segitiga itu muncullah pria yang terusir dari kampung halamannya dan merupakan veteran perang, Rhett Butler. hehe..yang pernah menonton GWTW pasti hafal dengan senyuman maut Rhett Butler yang ditujukan kepada Scarlett pertama kali dari bawah tangga, seolah olah senyumannya sanggup merobek pakaian Scarlett.


Jika diperhatikan, Scarlett dan Rhett sebenarnya hampir memiliki sifat yang sama. Scarlett bukanlah wanita polos yang berhati baik, tapi lebih ke suka mempermainkan hati para lelaki dan mempermainkan nafsu seksual mereka dengan kecantikannya ( termasuk hati para lelaki berpasangan ). Rhett sendiri terkenal arrogan, sombong, egois, kurang ajar dan suka bersikap masa bodoh, dan juga seorang jutawan dan penakluk wanita. Karisma dan pesona Rhett berhadapan dengan gairah dan kecantikan Scarlett menjadikan mereka sangat pantas berhadapan satu sama lain, mereka sama sama mempunyai daya tarik tersendiri bagi lawan jenis.

Rhett Butler & Scarlet O'Hara


Selain 2 dari 4 karakter sentral di film ini, Ashley Wilkes, yang dari awal dikejar kejar oleh Scarlett, juga sebenarnya bukanlah Lelaki sempurna , ia bukanlah prince charming yang bijak dan tentunya ia masih seorang pria yang digambarkan masih berkeinginan selingkuh tapi masih belum yakin dan kesetiaannya terhadap sang istri sekaligus sepupunya, Melanie masih terlalu kuat baginya untuk disia siakan. Sedangkan Melanie sendiri, merupakan kebalikan dari Scarlett, ia tergambarkan sebagai gadis yang rapuh, lemah, polos, bodoh dan terlihat sok baik ( walau sebenarnya ia memang baik ), mungkin kepolosan dan sikapnya yang plin plan lah yang membuatnya terlihat bodoh.
Ashley mungkin saja pada awalnya jatuh hati kepada Melanie karena hal ini, dan kebalikan juga terhadap banyak pria yang terpesona dengan gairah dan kecantikan Scarlett, well.., mungkin kecuali Rhett yang sering mengucapkan kata kata menusuk dan menyinggung perasaan Scarlett. Di mata Rhett, Scarlett adalah wanita yang sangat menarik untuk dikencani, tapi tidak untuk dinikahi.

Berkecamuk perang sipil di seantereo amerika, kekalahan terjadi bagi Tara, Atlanta, Tara hanya damai untuk sementara. Tanah yang awalnya subur sekarang merah membara dan tandus, dan perlu dikerjakan dari nol untuk membuatnya kembali subur yang merupakan mata pencarian sebagian besar penduduk Tara. Tara tidak pernah sama lagi.
Di tengah kondisi sulit itu, Menikahnya Scarlett dan Rhett Butler, bukan merupakan hal yang diidam idamkan siapapun, dan tentu tidak menyelesaikan masalah apapun yang sedang menimpa keduanya. Rhett dengan kepribadiannya yang egois hanya menginginkan keturunan dan kesenangan dari Scarlett, begitu juga Scarlett yang hanya tertarik dengan uang dan kekayaan Rhett.
Scarlett  menunjukkan sebuah perubahan besar dalam dirinya dari awal film, pertengahan, hingg akhir. Yang awalnya membenci perang sebagaimana wanita lainnya, keadaan memaksanya menjadi tegar menerima kenyataan hidup dan rela bekerja kasar. Ya tentu bukan alasan sentimentil, dia hanya tak ingin hidup miskin lagi.

Behind the scene

Behind the scene






































Film ini memenangkan 8 dari 13 nominasi oscar saat itu, termasuk Best Picture 1939. Kerja keras David O'Selznick untuk film ini terbayar tuntas dengan berjaya nya film ini baik secara kualitas maupun komersil. Ceritanya yang realistis ikut memberikan pesona bagi film in i. Ini bukanlah sebuah dongeng cinta yang penuh khayalan. Jajaran aktor dan aktris di film ini yang terlihat sangat jujur dalam aktingnya, Chemistry antara Rhett dan Scarlett  (yang seharusnya menjadi jualan utama di sebuah film romantis), juga bukan Chemistry terkuat on screen yang pernah ada. Untuk menghindari kesalah pahaman seperti itu, perlu kita ketahui, film ini bukanlah sebuah film komedi romantis sepenuhnya, film ini sudah jauh keatas meninggalkan genre sederhana seperti komedi romantis.

Kisah epik ini terlalu sederhana jika dijelaskan melaui resensi singkat. Durasi film yang sebanyak 238 menit ( hampir 4 jam.!!) yang diangkat dari novel setebal 1.037 halaman ini bahkan jika dibahas secara mendetail akan butuh berhari hari. Kompleksitas cerita dan karakter, latar perang sipil yang berkecamuk saat itu, belum lagi perubahan ke 4 karakter sentral tersebut sepanjang film dan kondisi keadaan sekitar yang digambarkan dengan detail, padat dan bermakna. Berbeda saya melihatnya dengan film film sekarang yang banyak memakan durasi dengan banyak adegan kosong melompong. Salah satu yang menjadi kecintaan saya terhadap film klasik adalah cara penceritaannya yang begitu detail dan padat walau dengan durasi yang tidak terlalu lama, tapi setelah selesai menyaksikan nya, saya mendapat sebuah kepuasan besar dari segala sisi.

Bertahun tahun mendatang, Film ini akan selalu menjadi salah satu contoh bukti kebesaran sinema amerika dan betapa nyata terciptanya mahakarya dari tangan ratusan pekerja di sebuah era dimana keterbatasan teknologi tidak pernah menjadi hambatan untuk menciptakan sebuah karya seni yang luar biasa. Layaknya waktu yang terus berjalan, everything Gone with the wind, all right - gone, but never forgotten.


***********************************
Gone With the Wind l 1939 l Victor Flemming





Review : Mildred Pierce ( 1945 )

MILDRED PIERCE
Cast : Joan Crawford, Zachary Scott, John Carson, Anna Blyth
Director : Michael Curtiz



Jika sebelumnya, saya menulis review perjuangan seorang ayah untuk mendapatkan hidup yang lebih baik untuk putranya dalam A Better Life ( 2011 ), maka Mildred Pierce adalah kebalikannya, perjuangan seorang ibu yang berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi kedua anaknya.
Menyaksikan film tentang perjuangan seringkali menarik, apalagi kalau tokoh utamanya adalah perempuan. Sosok perempuan sering diposisikan sebagai sosok lemah dan kurang terhormat dibanding laki laki, hingga kadang perjuangan mereka terlihat lebih mengesankan daripada kalau perjuangan tersebut dilakukan laki laki. Bukan bermaksud merendahkan kaum laki laki, namun kenyataannya demikian. Seorang perempuan sopir angkot mempunyai nilai cerita dan berita yang lebih dibanding sopir angkot laki laki ( pengibaratan saja haha..)

Tahun 1941 diluncurkan novel berjudul Mildred Pierce yang merupakan karangan dari James M. Cain, yang bercerita tentang wanita bernama Mildred Pierce yang berpisah dari suaminya dan harus menghidupi kedua anaknya sendiri di tengah dunia kerja yang masih didominasi kaum pria. Demi bertahan hidup dan mengangkat harkat martabat keluarga, Mildred meski dengan terpaksa harus melakukan kompromi demi kompromi dengan pria bahkan mencari nafkah dengan menjadi seorang pelayan di sebuah restoran.

Dengan tekad yang dibalut dengan kerja keras dan harapan untuk hidup yang nyaman bagi kedua putrinya, Mildred akhirnya bisa membuka sebuah restoran yang nantinya menjadi sangat sukses dan mengangkat keluarganya ke dalam golongan orang orang kaya.
Kejatuhan Mildred mulai tersusun saat putri kesayangannya, Veda Pierce ( Anna Blyth ) tumbuh menjadi remaja yang angkuh, manja, boros dan suka merendahkan ibunya yang pernah bekerja sebagai pelayan ini, tertarik dengan sang ayah tiri, Monte Beragon ( Zacharry Scott ) yang dilihat Veda sebagai sosok pria kaya dan terhormat dan tidak pantas menjadi suami ibunya.

Veda sounds bad ? huh..Veda Pierce adalah salah satu karakter anak terdurhaka dalam sejarah perfilman hollywood. Rasanya emosi kita begitu terpancing saat Veda bersikap kurang ajar terhadap sang ibu, dengan terang terangan berkata ia malu dengan ibunya yang pelayan restoran, bermuka dua, menghina pemberian ibunya yang dirasa murahan, sampai terang terangan merayu dan bermesraan dengan ayah tirinya di depan sang ibu.



Mildred Pierce memberikan gambaran sosial akan kondisi masyarakat kelas menengah keatas sekitar tahun 1930an. Pada jaman tersebut, seorang wanita yang mandiri dan sukses dalam bisinis sangatlah tidak lazim dan jarang ditemui. Langkah Mildred Pierce membuka restoran yang memakain namanya ini, dan ternyata sukses besar merupakan sebuah gebrakan yang mengesankan dengan pola budaya feminisme yang berjalan lambat saat itu. Keberanian Mildred untuk berpisah dari suaminya yang bersikap acuh terhadap keluarganya menunjukkan keberanian, mengingat posisi wanita lebih banyak bergerak dan terlibat di hal hal domestik ( rumah ).
Namun, ternyata segala usaha keras dan kiprah Mildred tersebut tidak pernah memuaskan hati sang putri kesayangan, Veda si anak angkuh dan manja. Hal ini sangat ironis, mengingat satu satunya motivasi Mildred dalam meraih kesuksesan dalam bisnisnya berlandaskan keinginannya untuk memberikan kehidupan yang nyaman bagi Veda yang acap kali sering bergaya layaknya orang yang jauh lebih terhormat daripada ibunya.

Sayang, walaupun bisnis restoran yang ditekuni Mildred suskes besar, hal tersebut tidak membuatnya naik ke strata sosial yang lebih tinggi karena status jandanya. Tragisnya, pandangan tersebut datang dari anaknya yang juga berjenis kelamin perempuan. Mildred dan Veda merupakan perbandingan dua karakter perempuan dengan segala dinamikanya. Mildred berada disisi pendobrak tatanan kaku yang membelenggu perempuan selama ratusan tahun, dan Veda yang bersikukuh dan terbelenggu dengan tatanan kaku tersebut.



Mildred Pierce mengantarkan Joan Crawford yang saat itu baru pindah ke studio MGM, memperoleh oscar nya yang pertama tahun 1945, dan dua nominasi berikutnya lewat Possesed ( 1948 ) dan Sudden Fear ( 1952 ). Pada saat pagelaran tersebut, Joan Crawford tidak menghadirinya karena sakit, tapi ia diketahui melakukan konfrensi pers dan pidato kemenangan dari tempat tidurnya.Kemenangan Joan Crawford sangatlah pantas, mengingat penampilannya dalam film ini sungguh memikat. Pergulatan batin yang mendera dirinya mampu ia tampilkan dengan apik dan berkesan.

Mildred Pierce sungguh merupakan drama yang sangat kaya cerita, membahas isu isu feminisme yang saat itu belum lazim untuk dijadikan topik dialog, dan memberikan gambaran tatanan masyarakat yang jujur saja tidak banyak berubah sejak tahun 1945 hingga sekarang.

Joan Crawford is Mildred Pierce. Top notch performance. Brava..!!

Official Trailer :

 

Review : Pride and Prejudice ( 2005 )


PRIDE AND PREJUDICE 
Cast : Keira Knightley, Matthew Macfadyen and Brenda Blethyn
Director : Joe Wright

 

Mr. Darcy dan Elizabeth Bennet, bisa jadi merupakan salah satu icon couple paling terkenal dalam dunia literature baik klasik maupun hingga saat ini.
Saya sendiri sangat mengenal historical romance seperti ini, kisah kisah cinta dari negeri Inggris yang penuh dengan Pride ( harga diri ) dan prejudice ( prasangka ). Kisah kisah cinta dari sebuah era dimana perempuan yang belum menikah ketika sudah berumur cukup menjadi seperti duri dalam daging dalam keluarga, dimana persaingan mendapatkan suami terasa begitu ketat, apalagi jika target incaran para ibu bergelar bangsawan atau bahkan seorang Gentleman biasa sekalipun.

Kekhawatiran Mrs. Bennet akan ke 5 anak perempuannya sungguh besar. Melihat ke 5 putri nya yang semakin bertambah usia tapi belum ada satupun diantara mereka yang menikah, membuat Mrs. Bennet selalu berharap datangnya sebuah kesempatan dimana, akan ada Gentleman yang akan memperistri anak anaknya.
Hingga suatu saat, Netherfield, sebuah rumah tiga mil dari rumah mereka di Longbourn, kedatangan penyewa baru bernama Mr. Bingley. Mrs. Bennet begitu bersemangat, kakak beradik Bennet pun bertemu Mr. Bingley di sebuah pesta yang diadakan di Netherfield dan disana mereka melihat bahwa Mr. Bingley membawa dua adik perempuannya, dan seorang temannya, yaitu Mr. Darcy.



Begitu kuatnya prasangka yang dapat berakar dalam hati seseorang, sehingga tumbuh kebencian. Angkuh dan menyebalkan, begitu kesan pertama yang didapatkan Elizabeth Bennet ketika bertemu Mr. Darcy.
Elizabeth sendiri adalah putri kedua dari pasangan Mr. dan Mrs. Bennet. Ia memiliki empat orang saudari yang berbeda karakternya; Jane, yang tertua, adalah yang tercantik dan paling lembut dari semuanya; Mary, seorang penyendiri dan kutu buku; serta Catherine dan Lydia yang agak liar, terutama jika menyangkut prajurit-prajurit tampan.
Seperti yang diharapkan oleh Mrs. Bennet, Mr. Bingley tertarik kepada Jane. Dan Mr. Darcy lambat laun pun tertarik kepada Elizabeth, namun perasaan itu tidak dibalas oleh Elizabeth, karena ia, juga ibunya, terlanjur mencap buruk Mr. Darcy.

Di jajaran castnya, The highlight here is Keira Knightley, she's fantastic as Elizabeth. Carey Mulligan tidak memberikan kontribusi banyak untuk aktingnya, kecuali banyak cekikikan, Matthew Mcfaydden masih belum mampu mencapai karakter Mr. Darcy, dan Rosamund Pike yang juga lebih bersinar dari ke 2 Bennet's sister yang lainnya.




















Keira Knightley sebagai tokoh sentral di kisah ini membawakan Elizabeth Bennet terasa mempesona, sebagai seorang wanita yang idealis dan cerdas. Sayangnya ia terasa hampir selalu berdiri sendiri di film ini, chemistry antara Knightley sebagai Elizabeth dan McFaydden sebagai Mr. Darcy juga tampak kaku awalnya, walau seiiring durasinya, hal ini terhapus dan akhirnya saya bisa menikmati hubungan yang pas antara Mr. Darcy dan Elizabeth, yang sayangnya baru terasa ketika hampir mendekati akhir akhir film. haha..
Awalnya saya pikir, " oh, she's too pretty as Elizabeth".  Bukankah selama ini kita mengenal Jane, sang sulung sebagai yang tercantik dari Bennet's sister ? >___< haha..

Secara keseluruhan, versi terbaru dari adaptasi kisah cinta klasik karya Jane Austen ini bisa dibilang sebagai sebuah interpretasi modern yang lumayan mengesankan, dan sebaiknya tidak perlu dibandingkan head to head dengan versi Greer Garson dan Laurence Olivier ( 1940 ) atau versi BBC nya Jennifer Ehle dan Colin Firth ( 2005 ).
Walau dalam bayangan saya, Colin Firth lah yang paling mendekati sosok Mr. Darcy di novel, body languange nya, tatapannya, aksen Inggrisnya yang kental dan senyumannya yang pelit tapi mempesona, sedangkan McFaydden terasa lebih sendu dalam menjadi Mr. Darcy, dan tidak setegas atau seangkuh yang digambarkan Jane Austen di dalam novelnya.

Hal lainnya, yaitu "modernisasi" dialog dari kisah cinta klasik ini terasa agak 'menekan' esensi (jiwa) dari dialog itu sendiri. Untuk sebuah adaptasi dari karya klasik terkenal, mungkin hal ini tidak terelakkan karena mengikuti perkembangan jaman dan perubahan tata gaya bahasa. Gaya bahasa "Shakespearean" yang menyimpan keorisinilan, detil, ironi dan kalimat kalimat yang berisikan sajak dan maksud tersendiri, yang merupakan khas dari literatur klasik seperti menjadi agak tersamarkan dalam perubahan terjemahannya yang terasa terlalu simpel dan gamblang. Wah..saya terkesan sombong dan sok pinter yak..hahaha..>____< haha..



Well, overall, secara pribadi sih. Pride and Prejudice bukanlah kisah cinta yang ideal bagi saya, romantis iya, tapi karena saya seorang perempuan yang berpikir modern dan menginginkan kemajuan feminisme, i would totally hates to live in that era, when a  women go all silly over a simple praise from a  man, and when marriage become the biggest problem of women's life, and they just can waiting for it.

Filmnya sendiri sebenarnya bagus dan sinematografinya indah, tapi ya itu..saya masih belum bisa sepenuhnya mengukuhkan menyukai atau tidak film ini. Saya kurang suka dengan pesan pesan yang terkandung dalam film ini, yaitu dimana pengekangan terhadap hak hak wanita dan kontribusi mereka yang dipandang sebelah mata, dan mereka practically hanya berkutat di urusan domestic rumah tangga dan dimana perempuan yang belum menikah itu terkesan seperti menyusahkan dan mencemari nama baik keluarga mereka.
Well, tapi akhirnya saya mengerti, era waktu  kisah ini diciptakan completely different dengan saat ini, mungkin saat itu, hal hal seperti itu dianggap wajar dan biasa saja.
But yeah..i still totally hates to live in that era..

****

Mr. Darcy:  "Miss Elizabeth. I have struggled in vain and I can bear it no longer. These past months have been a torment. I came to Rosings with the single object of seeing you... I had to see you. I have fought against my better judgment, my family's expectations, the inferiority of your birth by rank and circumstance. All these things I am willing to put aside and ask you to end my agony."

Elizabeth Bennet: " I don't understand."
Mr. Darcy: "I love you."

****

PRIDE AND PREJUDICE l 2005 l Joe Wright

Official Trailer :


Review : Welcome to the Rileys ( 2010 )


WELCOME TO THE RILEYS 
Cast : James Gandolfini, Melisa Leo, Kristen Stewart
Director : Jake Scott


Pasangan Rileys, Doug ( Gandolfini ) dan Lois ( Leo ), kehilangan putri semata wayangnya yang baru berusia 15 tahun dalam kecelakan mobil. Dunia mereka runtuh, bahkan hingga 8 tahun kemudian, Lois masih terlalu takut untuk beraktivitas di luar rumah. Doug tetap menekuni bisnisnya . Hubungannya dengan Lois pun semakin kaku dan dingin. Tidak berapa lama kemudian Doug harus menghadiri sebuah konvensi yang diadakan di New Orleans. Disana ia bertemu dengan seorang penari striptis berusia 16 tahun bernama Mallory (Kristen Stewart).

Insting kebapakan Doug muncul, tak peduli betapa urakan dan kasarnya sikap Mallory, F words yang menghiasi setiap ucapannya, dan betapa temperamentalnya Mallory, Doug memutuskan untuk tinggal di rumahnya yang shabby dan bertekad untuk mengurusnya. Doug mengiming imingi nya dengan uang untuk mempermudah hal tersebut.Sementara Lois memutuskan untuk menyelamatkan perkawinannya dengan Doug yang hampir berusia 30 tahun, karena merasa apa yang terjadi pada mereka tidak bisa lagi dibiarkan. Ia pun keluar rumah untuk pertama kalinya dan mengendarai mobilnya menuju New Orleans untuk menemui Doug.
Mengetahui suaminya tinggal bersama penari striptis belia, Lois merasa kaget dan marah awalnya, toh tapi akhirnya naluri keibuannya berkata lain dan mencoba mengerti perbuatan suaminya.

Mereka berbuat mengikuti insting mereka, naluri orang tua yang ada dalam diri Doug dan Lois begitu menyentuh. Kehilangan putri semata wayang mereka yang masih remaja membuat mereka masih menyisahkan begitu banyak cinta dan kasih sayang yang tak tahu harus disalurkan kemana.
Melihat Mallory yang begitu "rusak", naluri tersebut muncul dan berteriak untuk berbuat sesuatu terhadap remaja ini yang seharusnya sedang sekolah dan menikmati masa masa remajanya, instead, malah bekerja sebagai penari striptis dan pelacur demi bertahan hidup.
Mallory yang terlanjur begitu lama hidup sendiri dalam kehancuran, tentu saja tidak terbiasa dengan datangnya perhatian dari dua orang yang tidak ingin apapun darinya, malah hanya ingin merawatnya saja.

Doug, Lois dan Mallory, tiga karakter penting dalam film ini lah yang menjadi kekuatan utama yang mampu membuat Welcome to the Rileys berjalan rapi dan begitu sempurna terlepas dari jalan cerita yang sedikit sulit untuk dipercaya oleh penonton. James Gandolfini memimpin film ini dengan begitu kharismatik. Dalam sosoknya yang kharismatik tersebut tetap terpancar kerapuhan dan kesedihan yang terlihat dari gerak geriknya. Walau kerapuhan itu berhasil disembunyikannya dengan sikapnya sehari hari. Gandolfini membawakan hal ini dengan baik sehingga karakternya mampu memberikan jalinan emosi yang kuat ke dalam jalan cerita.


Kehadiran Gandolfini didukung oleh Melisa Leo yang tampil sama kuatnya. Leo dengan segala kebesaran namanya dalam dunia akting, selalu berhasil menjiwai karakternya yang baik. Leo mampu membawakan karakter Lois yang sejak awal terlihat sebagai karakter dengan sebuah kekosongan jiwa, yang masih berduka, betapa ia menutup diri dari dunia dan secara perlahan lahan mampu kembali menjadi seorang manusia yang utuh dan mempunyai semangat hidup di akhir film.
Karakter Lois memang tidak sebesar porsi Doug atau Mallory, tapi berkat Leo lah, karakter Lois meninggalkan kesan yang berarti.

Kemudian ada Kristen Stewart, yang tampil sangat mengejutkan bagi siapa saja yang hanya pernah melihatnya di franchise twilight. Stewart disini jauh dari polesan cantik, desperate Bella Swan. At least, "dosa" yang ia buat dalam aktingnya di twilight, terbayar tuntas dalam film film indie yang selama ini ia bintangi, termasuk Welcome To The Rileys. Dedikasinya terhadap film ini bisa kita lihat dari sosok Mallory yang terlihat berantakan, memar di sekujur tubuhnya, matanya yang kelelahan, yang kabarnya dijiwai Stewart dengan sungguh sungguh dengan tidak tidur, terus terusan merokok dan makan junk food, semua tampilan yang kita lihat dalam diri mallory adalah asli dari kesediaan Stewart menjiwai karakternya.

Apa yang ia tampilkan di film ini adalah salah satu bukti bahwa Stewart adalah Seorang aktris muda yang membutuhkan tantangan dalam setiap perannya. Mungkin ia bisa saja mengikuti jejak aktirs lainnya yang bermain di film film popcorn, romance dan semacamnya dan tetap memperoleh bayaran tinggi, tapi tentu saja ia lebih dari itu. Dan Stewart menyadari hal itu, terlihat dari sejauh ini film film blockbuster yang dimainkannya baru dua judul, yaitu franchise twilight dan Snow white and the hunstman. sisanya ? Melihat filmographynya di IMDb, bahkan saya yakin, dari 25 judul film yang sudah dimainkannya, kita tidak bisa menyebutkan lebih dari 15 judul, karena film film indie hampir mendominasi karirnya, film film berbudget kecil yang kurang terkenal, yang diperuntukan untuk kelas festival dengan karakter karakter yang 'out of comfort zone'.
Kristen Stewart is the next big thing. i'm sure of it >___<

















Dengan debut karirnya sebagai sutradara  film Plunkett and MacLeane ( 1999 ), Welcome to the Rileys dapat dilihat sebagai karya kedua yang cukup berhasil dari Jake Scott yang merupakan putra sutradara ternama Hollywood, Ridley Scott dan pamanya yang juga sutradara ternama, Tony Scott ( RIP ), yang kedua nama besar tersebut ( Scott, Ridley and Tony ) ternyata juga duduk di jajaran executive producer di film ini.
Melihat kinerja Jake, terlihat jelas bakat ayah dan pamannya mengalir dalam dirinya. Penguasaan dan gayanya yang cukup kuat membuat ia pantas dipertimbangkan sebagai calon sutradara besar penerus dinasti Scott.

Official Trailer :




Tuesday, September 18, 2012

Review : A Better Life ( 2011 )


A BETTER LIFE
Cast : Demián Bichir, José Julián
Director : Chris Weitz



Every father wants more for his son..

Carlos Galindo ( Demián Bichir ) memiliki harapan yang besar ketika memasuki Amerika secara ilegal dan bekerja sebagai tukang kebun. Ia menginginkan kehidupan yang lebih baik untuk istri dan anaknya. Ia bekerja dan tidak pernah mengeluh. Sayang, istrinya keberatan dengan hidup sederhana tersebut dan memilih meninggalkan Carlos bersama anak mereka, Luis Galindo ( José Julián ).

Harapan untuk hidup yang lebih baik muncul saat Carlos ditawari membeli Mobil Pickup yang bisa dipakainya untuk bekerja sendiri dengan upah yang tidak usah dibagi. Dengan kondisi keuangan yang pas pas an, Carlos meminjam uang kepada adik perempuannya, Anita, dengan tekad akan mengembalikannya nanti.
Naas, beberapa hari kemudian, saat Carlos sedang bekerja, Mobilnya dicuri.
Mimpi akan hidup yang lebih baik seakan runtuh dihadapan Carlos.




Karakter ayah dan anak yang bergabung untuk mencari mobil di film ini menjadi tumpuan dan akar dari segala inti cerita di film ini. Pencarian mobil yang dicuri inilah yang mempererat hubungan ayah dan anak ini, sekaligus terungkapnya beberapa rahasia kecil yang selama ini sang ayah tutupi untuk kebahagiaan anaknya.
Namun setiap kehidupan selalu memiliki masalah, bagi siapa saja. Carlos pun harus rela dan sabar saat gerak geriknya dibatasi oleh pihak imigrasi, bermain kucing kucingan, berhati hati dan menyembunyikan pekerjaannya agar tidak dideportasi.

Chris Weitz menyulap A Better Life menjadi kisah drama sederhana dan jalan cerita yang sederhana, bahkan tidak ada nama besar dalam jajaran cast nya, atau tampilan visual megah yang dapat memukau penontonnya, tapi berhasil membawa film ini menjadi sebuah film drama berkualitas dan juga sekaligus menyentuh mengenai kehidupan para imigran ilegal di Amerika Serikat, dihadirkan Weitz dalam formula yang sederhana sekaligus familiar dan bisa membuat A Better Life begitu mampu untuk tampil sebagai sebuah drama yang kuat.

JIka kita menonton film ini dengan ekspektasi besar akan inovasi dalam cerita, jelas A Better life tidak memiliki kualitas ini. Kita sering menonton tentang kisah seorang imigran gelap yang menyelinap ke Amerika dengan kondisi miskin dan tumpang tindih, atau kisah mengenai seorang ayah yang berjuang keras bekerja menghidupi sang anak. kedua kisah tersebut diatas sangat familiar dan sering dijumpai di berbagai film.
Cerita yang standar dan klise memang, tapi ternyata A Better Life dengan banyak sisi positifnya, mampu tampil menyentuh dan bisa mengambil hati penonton dan jauh dari kata gagal untuk sebuah drama ( sekali lagi, walau ceritanya sangat klise ^^ ).
















Melihat perjuangan seorang ayah yang begitu rela bekerja keras, pergi pagi pagi, bekerja seharian mencari uang, pulang rumah langsung tertidur, dan besoknya diulangi rutinitas yang sama persis,  tanpa sedetik pun kita melihat sang ayah marah, sedih atau mengeluh. karakter Carlos jauh dari model ayah idaman, tapi kita diajak untuk melihat betapa kerasnya perjuangan yang dilakukan Carlos untuk bertahan di negeri orang ini, bekerja dengan upah yang tidak seberapa, karena ia tidak sanggup mencari pekerjaan yang lebih mapan karena statusnya yang imigran gelap. Hidup bersama putranya yang remaja ( Remaja itu sulit, kita tahu itu >0< ) dan berusaha menjauhkan putranya dari kegiatan Geng geng latin dan peredaran narkoba, mimpi Carlos hanya satu, hidup yang lebih baik, bisa menyekolahkan putranya ke sekolah yang lebih baik dan mengantar putranya menjadi seseorang, itulah target terbesar dalam hidupnya.

Carlos selalu memperlakukan semua orang, bahkan orang orang yang merugikannya dengan kehormatan yang ia sendiripun jarang dapatkan.

Demian Bichir berhasil membawakan sosok Carlos dengan sangat baik tanpa banyak dialog yang dramatis, cukup melalui mimik wajahnya kita bisa merasakan keletihannya dalam menjalani hidup, ketakutan yang tersinar dari matanya saat melihat mobilnya yang menjadi pintu harapan baginya, dicuri, ia berlari mengejar, terjatuh sampai ia tidak sanggup lagi dan hanya bisa menatap dengan sedih dan takut mobil tersebut dirampas dari tangannya.
Bagian saat Carlos berbicara dengan sungguh sungguh dengan anaknya, Luis, sesaat sebelum ia akan dideportasi sungguh merupakan klimaks dari akting memukau Demian Bichir. Walaupun ia menangis, air mata tersebut tidak sedikitpun mengurangi nilainya sebagai sosok ayah yang kuat dan tegar.

Demian Bichir adalah kuda hitam dalam Oscar tahun ini, banyak yang tidak menyangka bahwa ia dan sosok Carlos yang dibawakannya ini bisa mengalahkan calon calon kuat lainnya seperti Leonardo DiCaprio ( J. Edgar ), Michael Fassbender ( Shame ) ataupun Ryan Gosling ( Ides of March, Drive ). Saya tidak bisa mengatakan bahwa masuknya Bichir dan tersingkirnya nama-nama yang  saya sebutkan diatas sebagai sebuah kontroversi. Mereka semua termasuk Bichir layak dapat nominasi. Hal yang membuktikan, persaingan Best Actor di Oscar yang lalu memang ketat.

A Better Life..
Hidup yang lebih baik..

seperti apakah ? setiap saat kita selalu berusaha untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, namun benarkah kehidupan yang kita kejar itu memang yang lebih baik ? terkadang memang membingungkan apakah hidup kita sudah lebih baik atau terdapat kehidupan lain yang bisa lebih baik jika kita terbiasa dengan kehidupan yang kita jalani dan mensyukurinya.

Official Trailer :


Review : Driving Miss Daisy ( 1989 )

DRIVING MISS DAISY 
Cast : Jessica Tandy, Morgan Freeman, Dan Aykroyd
Director : Bruce Beresford

























Daisy Werthan (Jessica Tandy) dan Hoke Colburn (Morgan Freeman) adalah dua manusia yang sangat berbeda latar belakang. Miss Daisy adalah seorang janda keturunan Yahudi keras kepala dan ketus berusia 72 tahun yang sehari harinya hanya hidup bersama pembantu di rumahnya yang besar di Atlanta. Hoke adalah pria kulit hitam paruh baya yang sangat ramah, gemar melucu dan tertawa.

Karena sebuah kecelakaan kecil, Hoke dipekerjakan oleh anak Miss Daisy, Boolie ( Dan Aykroyd ) sebagai sopir. Awalnya Miss Daisy sangat menentang kehadiran Hoke, ia tidak menyukainya, bahkan selalu mencari celah celah kesalahan Hoke supaya bisa meyakinkan Boolie untuk memecatnya. Tapi dengan  keramahan dan komunikasi yang baik, Miss Daisy perlahan bisa menerima Hoke, tidak hanya sebagai sopir tapi juga sebagai seorang sahabat yang saling membutuhkan satu sama lain.
Dan persahabatan mereka berlangsung lebih dari 25 tahun.

Persahabatan bagai kepompong, yang awalnya terlihat 'jelek', tapi dengan tempaan waktu, kepercayaan dan komunikasi, proses metamorfosis itu berbuah sempurna menjadi kupu kupu yang cantik.
Metamorfosis persahabatan. 

Dengan plot yang ringan, lucu dan bersahabat, film yang juga diangkat dari drama teater yang berjudul sama ini dijamin bisa membuat penontonnya ( seperti saya ) betah duduk menyaksikan kisah menarik persahabatan dua orang yang berkarakter unik ini. 
Sang sutradara, Bruce Beresford bahkan sepertinya tidak kesusahan dalam menghasilkan tontonan menarik yang bisa diterima semua kalangan ini, berkat penampilan apik kedua pemeran utamanya. 


Film ini bersettingkan Amerika di tahun 1950an, waktu dimana politik apharteid masih berlaku, rasisme dimana mana, tak hanya terhadap kulit hitam, kaum minoritas lainnya seperti yahudi pun didiskriminasi. Hoke yang berkulit hitam dan Miss Daisy yang keturunan yahudi menjadi 'keanehan' tersendiri di mata orang lain, bahkan bagi para polisi. Satu adegan dimana Hoke dan Miss Daisy sedang beristirahat dari perjalanan panjang, mereka didatangi polisi yang berseru kepada Hoke " hey boy ! what you think you doing with this car ?" dengan raut muka mengejek seakan akan siap menduga bahwa Hoke adalah pencuri, karena mobil tersebut tergolong mobil mewah di jamannya. Dan setelah mengetahui mobil tersebut milik Miss Daisy yang yahudi, polisi tersebut langsung mengejek hal tesebut dibelakang mereka  saat mobil itu kembali melaju. Adegan ini cukup memberikan gambaran, betapa buruk, menghina dan tidak manusiawi nya politik apharteid itu. Walau begitu fokus utama tetap adalah persahabatan dua orang ini, bukan rasisme.

Setelah berkaca kaca hampir setengah durasi terakhir yang diceritakan sudah berjalan lebih dari 20 tahun, akhirnya saya leleh juga saat adegan Hoke yang juga sudah tua menyuapkan kue pie kepada Miss Daisy yang saat itu sudah lebih renta lagi atau saat Miss Daisy yang sudah mulai pikun dan mengira dirinya masih menjadi seorang guru, Hoke dengan sabar menemaninya, Miss Daisy menggengam tangannya sambil berkata, " Hoke, you are my best friend".

Film ini adalah drama yang sangat manis, tapi saya peringatkan ; tidak ada konflik pelik, thrill apalagi bumbu action. Film ini tidak berorientasi klimaks. Durasi 99 menit yang ada di film ini mempunyai alur cerita yang sangat datar. Inti cerita / inti film ini pun tidak terletak di bagian akhir.Seluruh kisah inilah yang merupakan intinya, dan bagi saya menarik. Menonton film ini berasa seperti mendengar dongeng orang lain, yang manis dan membuai.

Sebagai Miss Daisy yang keras kepala, cemberut, kaku dan cerewet, Jessica Tandy sangatlah layak memperloleh Oscar atas penampilannya ini. Akting beliau mungkin tidak seekspresif apa yang kita harapkan ( jika dibandingkan dengan Betty White, of course haha..) atau overrated, tapi beliau bisa membawa Miss Daisy yang dengan segala kategori tidak menyenangkan diatas ke sebuah level perubahan yang sungguh menyentuh. Chemistry yang dihasilkan antara Miss Daisy dan Hoke, berhasil dibangun dengan sangat apik sepanjang film. Perbedaan pandangan dan pendapat yang kerap kali ditunjukan keduanya tidak jarang mampu membuat penontonnya tersenyum diselingi tertawa kecil. Walau Morgan Freeman sendiri gagal membawa Oscar untuk Best Actor, tapi menurut saya ini adalah salah satu penampilan terbaik dari beliau.

Untuk ukuran sebuah Best Picture, mungkin banyak yang bertanya dan heran akan menangnya film yang sederhana ini. Bersaing dengan Born on the Fourth of July ( Tom Cruise ), Dead Poets Society ( Robin Williams ), Field of Dreams ( Kevin Costner ), dan My Left Foot ( Daniel Day-Lewis) toh ternyata film yang berating PG, berisi banyak dialog jenaka antara dua orang tua ini mampu menaiki podium Best Picture, seakan membuktikan bahwa kesederhaan kadang bisa membuktikan lebih.

 Oh ya.., Belum lagi music score film ini, salah satu music score favorit saya sepanjang masa, Driving Miss Daisy gubahan Hans Zimmer yang playfull, terkesan jenaka dan ear catching. Bahkan sempat menjadi nostalgia di film The Holiday ( 2007 )  yang juga memakai music score ini di beberapa adegan. Bagi saya, ini termasuk salah satu the best of Hans Zimmer ( haha..gayanya, paling baru tahu beberapa doang juga..>,< ).

This is an undeniably sweet movie, worth to watch, sweet drama comedy that you cant help but enjoy.
Driving miss Daisy is a film about great love and patient. Telling a story that need 25 years to unfold, exploring its character as few film takes the time to do.

Touching tale of an unlikely friendship

*****

Driving Miss Daisy l 1989 l Bruce Beresford





Review : The Kite Runner ( 2007 )


THE KITE RUNNER 
Cast : Zekeria Ebrahimi, Ahmad Khan Mahmidzada, Khalid Abdalla
Director : Marc Foster



Novelnya yang sudah terbit sejak tahun 2003 sempat menjadi sebuah fenomena, dipuji banyak kritikus dan menjadi International best seller. Nyaris semua pembacanya mengaku terhanyut, terharu, bahkan hingga meneteskan air mata. Bukan karena kisahnya cengeng merengek-rengek, tapi justru karena ketegaran tokoh tokohnya.
Karena saya sendiri sama sekali belum pernah membaca novel ini, jadi zero expectation. Tulisan saya murni dari sudut pandang filmnya sendiri.

Amir dewasa ( Khalid Abdalla ) menerima telepon dari Afganistan yang menyuruhnya agar kembali kesana segera, Amir langsung teringat masa kecilnya..
Film pun dibuat flashback...
berawal dari persahabatan antara Amir kecil (anak dari suku Pushtun yang terpandang) dan Hassan (anak dari suku minoritas Hazara yang menjadi abdi/pelayan yang setia di rumah keluarga Amir). Sebenarnya anak anak itu begitu sederhana, mereka hanya ingin bermain dengan tenang, and yet, di beberapa tempat, hal itu sangat sulit dilakukan. Dalam sebuah komunitas, selalu terdapat para bullies ( contoh terfamiliar aja ; Giant dan Tsuneo wkwk..)

Satu peristiwa mengubah segalanya, peristiwa yang menggoncang persahabatan Amir dan Hassan dan membuat Amir mengkhianati Hassan. Sebenarnya terlalu sok tahu jika saya bilang mengkhianati, mengingat pikiran anak anak itu simple atau terkadang bisa lebih rumit dari yang kita duga. Mungkin lebih cocok, jika dikatakan Amir disini merasa terguncang dengan peristiwa tersebut sehingga ia tidak tahu harus melakukan apa, sehingga dalam kapasitas nya sebagai anak anak, ia melakukan hal yang bagi kita terlihat sederhana, tapi bagi pikiran mudanya, kita diajak melihatnya sebagai pengkhianatan terhadap persahabatannya dengan Hassan.
Saat Soviet menginvasi Afganistan, Amir dan ayahnya dengan susah payah keluar dari kabul dan nantinya pergi ke Amerika, sedangkan Hassan dan ayahnya tetap di Kabul.
Di tempat barunya Amir berhasil menjadi seorang Novelis dan menikah.

Oh wait..this is not the ending..

Amir dewasa yang menerima telpon di awal film ini langsung pergi ke afganistan dengan sebuah tujuan, disinilah terbuka rahasia selama terpendam, rahasia yang semakin membawa film ini ke level baru yang  mencengangkan dan mengharukan.

The Kite Runner is a story of guilt and atonement.
Film tentang timur tengah dengan citarasa Hollywood, sebenarnya hal ini agak riskan jika dilihat dari deretan cast nya yang sama sekali nihil aktor hollywood, setting tempat di kabul, Afganistan, sebuah negara yang selama ini jadi duri dalam daging bagi pemerintah Amerika ( mengingat disematkannya label pusat terroris pada negara ini ). Film ini juga agak kontroversi karena adanya adegan kekerasan seksual terhadap anak anak, subjek ini cukup sensitif bahkan dalam fiksi naratif.

So, The Kite Runner dibayangi oleh banyak deretan opini subjektif yang negatif, and yet by many critics, it's one of the best movies of 2007 dan juga salah satu performa terbaik dari salah satu aktor anak anak, Ahmad Khan Mahoodzada ( Hassan kecil ). Walaupun ini peran pertamanya di film, Ahmad begitu luar biasa. Dia bisa dengan baik menggambarkan kegembiraan, ketakutan dan sakit hati dalam diri Hassan, yang kadang  somehow, aktingnya ( Ahmad Khan ) seperti saluran bakat dari aktor yang dewasa yang sudah sangat berpengalaman.

Salah satu scene di film ini yang membuat saya terharu adalah saat ayah Amir memasukkan sejumput tanah ke dalam sebuah liontin sebelum mereka meninggalkan afganistan, dan kemudian, saat beliau sekarat dan hendak menemui ajalnya, ia kembali mengeluarkan dan menggenggam erat liontin yang berisi tanah kelahirannya. Ia lahir di Afganistan, tapi harus meninggal di tanah orang lain karena terpaksa. Saya sih tidak sok nasionalis, hanya saja terdapat perbedaan besar antara orang orang yang meninggalkan negara tempat kelahirannya karena terpaksa atau karena keinginannya.

it never feels at home there.





Masih banyak scene scene yang sanggup membuat kita haru atau berkaca kaca. Kisah persahabatan yang sangat kental di film ini, perbuatan salah Amir terhadap Hassan yang telah melukai hati keduanya, tapi seiiring tumbuh dewasa, keduanya ternyata tidak pernah benar benar melupakan satu sama lain. Seorang sahabat tidak pernah benar benar hilang, hanya kita saja yang terkadang memilih untuk tidak mengingatnya. Siapapun pernah berbuat salah dalam hidupnya, alangkah baiknya jika kita bisa memperoleh kesempatan untuk menebusnya, seperti hal nya Amir.

The Kite Runner adalah sebuah kisah penuh kekuatan tentang persaudaraan, kasih sayang, pengkhianatan, dan penderitaan. Filmi dengan brilian menghadirkan sisi-sisi lain Afghanistan, negeri indah yang hingga kini masih menyimpan duka.

This is one of those stories that, on some primal level, goes straight to the heart

The Kite Runner I 2007 I Marc Foster

Official Trailer :


Review : Singin' in the Rain ( 1952 )


SINGIN' IN THE RAIN 
Cast : Gene Kelly, Donald O'Connor, Debbie Reynolds, Jean Hagen
Director : Gene Kelly & Stanley Donen



Singin' in the Rain sering disebut  sebagai film musikal terbaik yang pernah diproduksi Hollywood. Untuk orang orang yang pernah menonton film ini, alasan untuk hal ini akan mudah dipahami. Menonton Singin' in the rain adalah pengalaman yang menakjubkan. Film berdurasi 102 menit ini terasa seperti obat yang bisa mengubah suasana hati, yang bagi saya sendiri sangat menyenangkan dan mampu memberikan perasaan puas yang begitu besar setelah menonton.

This is a big, big musical show of the year, this is the story of a great moment in motion picture history when the screen learn to..err..talk ?

Apakah persamaan The Artist ( 2011 ) dengan Singin' in the Rain ( 1952 ) ?
Sebelum saya menonton Singin' in the Rain, ada beberapa teman yang berkomentar bahwa ketika menonton The Artist, pasti akan merasakan deja vu terhadap film ini. Bagaimana tidak, keduanya mengambil jalan cerita utama tentang masa peralihan besar di dunia perfilman ketika film film bisu mulai maju dengan teknologi yang mutakhir pada saat itu, yaitu suara, film yang dilengkapi suara.

Jika George Valentin ( yang ternyata lumayan mirip dengan Douglas Fairbanks ) terpukul begitu berat saat mengetahui peralihan teknologi ini dan langsung surut karir nya sebagai aktor film bisu di The Artist, maka Don Lockwood ( Gene Kelly ) berusaha keras untuk mempertahankan karir nya di Hollywood bersama rekannya yang 'nyinyir', Lina Lamont (Jean Hagen), sahabatnya Cosmo Brown (Donald O'Connor) dan wanita yang dicintainya, Kathy Selden (Debbie Reynolds).
Masalah besar muncul saat Lina Lamont yang bersuara sangat jelek ( beneran loh >0< ) susah bekerja sama dengan segala perubahan teknologi ini, sehingga muncul ide untuk menjadikan Kathy yang bersuara bagus untuk menjadi pengganti suaranya.

"she can't act, she can't dance and she can't talk. that's a triple threat !!"

Bagi saya, ini adalah sebuah film yang menakjubkan, mengetengahkan sejarah perfilman dimana hal tersebut merupakan akar dari semua teknologi canggih yang ada di film film era saat ini dipadu padankan dengan akting yang solid, lagu lagu dan tarian yang sangat ciamik. Tidak seperti banyak film film musikal dari Hollywood's Golden Era, Singin' in the Rain tidak berdasar dari drama panggung, faktanya, hanya beberapa dari lagu lagu di film ini dibuat secara khusus, kebanyakan lagu lagu tersebut ditulis oleh Freed and Nacio Herb Brown di akhir 1920an dan awal 1930an ( i google it ;p ) yang banyak dipakai di film film tahun 1929 - 1939, bahkan menurut info yang saya baca, song writer favorit saya,  ikut dijadikan ilham dalam lagu "make 'Em Laugh" yang merupakan katanya mirip dengan lagu beliau, Cole Porter's "Be a clown".




Salah satu scene favorit saya di film ini di, bagian Don dan sahabatya, Cosmo menari bersama dan menyanyikan lagu "Mouses Supposes"..Gosh..bagian ini sampai saya ulangi sebanyak 3-4 kali..haha.., dan bagian saat Don berkenalan dengan Kathy, aihh..rasanya sangat klise tapi sekaligus manis, aktor terkenal berkenalan dengan wanita biasa yang katanya tidak terlalu terkesan dengan kepopulerannya. "If you've seen one you've seen them all"
Bayangkan betapa tergoncangnya kepercayaan diri Don haha..

Tak lupa juga saat Don, Cosmo dan Kathy bernyanyi dan menari bersama dalam lagu " Good morning", bagian ini sangat cute, ketiga sahabat menari dan bernyanyi bersama, konon kabarnya dalam melakukan routine 'good morning' ini Debbie Reynolds ( as kathy ) yang pada dasarnya bukan seorang penari sempat terlibat pertengkaran dengan Gene Kelly. Fred Astaire (  my gosh, please google him ) yang saat itu berada di lokasi syuting menemukan Reynolds yang menangis di bawah piano pun memutuskan untuk mengajar Reynolds dalam menari.


Setelah selesai syuting bagian "good morning" routine, kaki Reynolds berdarah, dan bertahun kemudian, ia pernah diketahui berkata bahwa "singin' in the Rain dan melahirkan adalah dua hal yang paling sulit yang pernah dilakukannya seumur hidup. haha..
 Adegan lainnya yang memorable tentu saja adegannya Gene Kelly menari di tengah hujan sambil mendendangkan "Singin' in the Rain. Bagian ini adalah signature scene dalam film ini. wowsome >___< haha..



Singin' in the Rain mampu menyuguhkan suatu tontonan yang spektakuler. Cerita yang menarik, dan tentunya lagu-lagu plus koreografi yang luar biasa dramatik, kembali bagi saya, menonton film ini merupakan suatu pengalaman sinematik yang luar biasa.
Maka layaklah jika film ini menjadi salah satu film yang legendaris. AFI's 100 years of Musical List - Daftar film Musikal terbaik yang disusun oleh American Film Institute, bahkan menobatkan film ini sebagai film musikal terhebat sepanjang masa, dan menduduki peringkat pertama. Seperti yang saya katakan di awal, jika kita pernah menonton film ini, maka pujian yang luar biasa ini tidak berlebihan dan mudah dimengerti ^^

For those who love musicals, nothing beats spending two hours in the company of Gene Kelly, Donald O'Connor, and Debbie Reynolds.
One of the shining gloriest of the American musical.
Singin' in the rain, what a glorious feeling and i'm happy again..

~~

Singin' in the Rain I 1952 I Gene Kelly & Stanley Donen

Official Trailer :







Review : Muriel's Wedding ( 1994 )


MURIEL'S WEDDING
Cast : Toni collette, Rachel Griffiths
Director : P.J Hogan























"Muriel !!!,"Throw it again - you'll never get married." !!"
* Gosh, What a bitch.. -___-*

Muriel's wedding dibuka dengan scene sebuah pernikahan yang sangat meriah, rombongan undangan beramai ramai berdansa dan memperebutkan buket bunga yang dilempar mempelai wanita.
Buket bunga tersebut ternyata didapat seorang perempuan yang sama sekali tidak menarik, dia tidak terlalu cantik, overweight, canggung dan memakai baju ketat bercorak leopard. Sialnya bagi Muriel Heslop ( Collette ), ternyata ia juga dituduh mencuri pakaian tersebut dan dibawa polisi langsung ke rumahnya.
Muriel terjebak dalam dunianya sendiri, ia selalu mendengar lagu ABBA, berfantasi hidupnya akan semenarik lagu lagu dari ABBA, kenyataannya ternyata pahit. Ayahnya seorang politikus gagal yang berniat selingkuh dari ibunya, rumah mereka seperti kapal pecah, Muriel dan ketiga saudaranya pemalas, pengangguran dan tidak bisa diharapkan. Teman temannya tidak ubahnya seperti geng ( mean girl ) perempuan yang menolak bersikap dewasa dan selalu memandang rendah Muriel. Gosh..depresi sekali background Muriel Heslop..:(

Tidak tahan akan keadaan tersebut ( lebih tepatnya karena ia mencuri uang ayahnya untuk pergi berlibur hanya untuk show off ke geng 'mean girl' tersebut >_< ), Muriel kabur ke Australia untuk memulai kehidupan baru bersama temannya yang lain, Rhonda ( Rachel Griffith ).
Jadi, sesuai judul film ini, Muriel's wedding, apakah benar benar mengetengahkan kisah pernikahan Muriel ? lalu siapakah yang akan jatuh hati dengan gadis yang kurang menarik ini ?

Pfftt..saya kesulitan untuk menentukan ikut tertawa karena lucu atau karena miris.

Pernikahan selalu menjadi momok bagi sebagian wanita. Ada kelompok wanita wanita yang kurang begitu suka dengan ide monogami seperti ini, ada juga yang sepenuhnya terlena oleh dongeng happily ever after begin with married. dan ada juga yang seperti Muriel, yang terpesona dengan konsep betapa indahnya pernikahan itu sendiri, tanpa peduli ada tidaknya cinta, yang penting menikah, cyinn..
Gosh, betapa kadang sempitnya pemikiran kaum perempuan, jadi saya juga tidak terlalu heran dengan kebudayaan feminisme yang berjalan seperti kura kura.

Film ini kadang bisa jadi sangat lucu, tapi kadang juga bisa berpotensi galau bagi banyak perempuan. Muriel terobsesi dengan pernikahan, sehingga ia nekad mencoba gaun pengantin di banyak butik dan ketika ketahuan oleh sahabatnya, Rhonda, ia menjawab sambil berurai air mata bahwa tidak akan ada yang mau menikah dengannya, jadi apa salahnya ia menciptakan album pernikahannya sendiri..



Ouchh..strike..

Saya sangat suka dengan Toni Collette, walau belum banyak film nya yang saya tonton, termasuk The Sixth Sense, Little miss sunshine dan In Her Shoes. Dalam film ini, Collette bahkan sampai menaikkan berat tubuhnya hingga 18 kilo. karakter Muriel yang canggung, insecure, tidak percaya diri, dan selalu menjadi pelampiasan kemarahan ayahnya, dibawakan Collete dengan baik, mulai dari mimik wajahnya ( walau kurang ekspresif ) dan gerak geriknya canggung dan clumsy, terlihat dari caranya sebentar sebentar selalu merapikan bajunya dan menyelipkan rambut di telinganya, dan selalu menaruh tangan di arah depan, sering menunduk dan jarang memandang mata lawan bicaranya seakan akan ia melindungi diri sendiri dari dunia ini.

Walau 'bertema' pernikahan, saya melihat film ini juga menjunjung tinggi nilai pertemanan, hubungan pertemanan busuk antara Muriel dan geng 'mean girl' sebelumnya dibalas dengan manis dari pertemanan sejati antara Muriel dan Rhonda. Mereka saling membantu dan menghibur di saat saat 'low point' dalam hidup mereka. Rhonda membantu Muriel menemukan jati dirinya, tanpa berusaha merubah Muriel menjadi lebih keren untuk standar anak muda waktu itu ( dan jujur saja, perubahan Muriel sangat menyentuh saya ), sebaliknya Muriel juga tetap berada disisi Rhonda saat ia divonis menderita kanker di kaki dan ternyata akan lumpuh seumur hidup. Mereka tidak pernah menyerah terhadap satu sama lain.














Mungkin ada saat saat kita berbuat salah dan menyakiti perasaan sahabat kita. Ada saat saat kita merasa benar dan terlalu teralih pikirannya untuk meraih kembali hubungan persahabatan itu, bagaimanapun, sosok sahabat tidak mudah ditemukan, jika kita tidak mendukung mereka disaat saat terburuk dalam hidup mereka, maka kitapun tidak pantas berada bersama mereka ( sahabat kita ) disaat saat terbaik dalam hidupnya.
" if i don't support you at your worst, then i don't deserve you at your best "

Gosh, now i become all mushy and sentimental @__@ hahaha..

Muriel's wedding adalah tipe tipe film chick flick yang banyak membahas isu isu kepercayaan diri , terutama dalam diri Muriel. Dengan talenta berbakat dari Toni Collete dan Rachel Griffith, film ini ternyata sangat menyentuh , terdapat banyak tawa tawa kecil sekaligus hal hal melankolis yang tidak kita duga, tapi diluar ekpekstasi sangat mengena di hati saya. Toni Collete memberikan performa yang luar biasa, dan plus, penggunaan yang baik dari lagu lagu ABBA.

~~~Muriel's Wedding l 1994 l P.J. Hogan

Special dedicated to my friend, Tyaz ^^
If i don't support you at your worst, then i don't deserve you at your best.

Official Trailer :