Monday, October 29, 2012

Review : Casablanca ( 1942 )

CASABLANCA 
Starring : Humphrey Bogart, Ingrid Bergman, Paul Henreid
Written by Julius J. Epstein , Philip G. Epstein,and Howard Koch
Directed by Michael Curtiz
Based on drama " Everybody come to Rick's "

" with the whole world crumbling, we pick this time to fall in love"


Menonton film ini saat saya berumur 13 tahun tentu saja terasa berbeda saat kembali menontonnya hari ini, saat saya mempunyai persiapan yang lebih cukup untuk menonton film film klasik, hal ini terasa sangat berbeda. Dulu saya berpendapat ini hanya film 'jadul' dan hitam putih nya yang menyakitkan mata, setting perang yang tanggung dan kisah cinta datar yang tidak lebih mengharukan daripada Romeo and Juliet nya Claire Danes dan Leonardo DiCaprio. Sekarang ?semuanya serba terbalik, saya menemukan film klasik dan hitam putih lebih menarik ketimbang film film modern saat ini dan Romeo & Juliet adalah salah satu kisah cinta terbodoh dan norak yang pernah saya ketahui, serta karya Shakespeare yang paling saya tidak suka.

kembali menonton film ini adalah kesenangan yang besar. Hal pertama yang muncul dalam pikiran saya ketika kembali menonton Casablanca adalah film ini anggun dan elegan, kemudian berlanjut ke banyaknya wajah wajah asing di kerumunan, dan ketika ada pesawat yang melintas tinggi diatas kota, penduduk yang kebanyakan pengungsi menengok keatas dengan raut wajah berharap. Saya lalu langsung mengerti premis yang ditawarkan di film ini, selain kisah romance nya tentu saja. Hollywood di masa lalu banyak didatangi pengungsi dari Eropa, baik untuk mendapatkan hidup yang lebih baik atau melarikan diri dari pengaruh Hitler dan Nazi nya, dan raut wajah para pengungsi ini seakan bercerita lebih banyak daripada narasi tunggal yang dihadirkan.



Diangkat dari drama teater yang berjudul Everybody comes to Rick's, dengan latar pada masa Perang Dunia II, dimana Jerman masih sangat berkuasa. Casablanca adalah nama sebuah daerah di Maroko yang merupakan tempat transit bagi siapa saja yang ingin pergi menuju Amerika. Richard 'Rick' Blaine ( Humphrey Bogart ) adalah pemilik Rick’s CafĂ© AmĂ©ricain, sebuah klub malam kelas atas yang disinggahi kaum ekspatriat, orang orang kaya, hingga para militer Italia, Perancis bahkan Jerman. Sebagai orang yang paling disegani di Casablanca, Rick mempunyai pengaruh dan berteman baik dengan para penjahat bawah tanah sampai ke dalam kepolisian. Satu malam, salah satu kenalan Rick yang kemudian ditangkap polisi, Ugarte ( Peter Lorre ), menitipkan dua surat transit yang sudah ditanda tangani Capt. Louis Renault ( Claude Rains ) dari Prancis.

Pembawa surat tersebut bisa pergi ke negara manapun yang mereka tuju, tanpa banyak proses atau pertanyaan. Untuk Casablanca, sebuah kota yang dipenuhi para pengungsi yang menunggu kesempatan untuk pergi, surat tersebut bagai surat 'sakti' yang diincar banyak pihak, terutama bagi Victor Laszlo ( Paul Henreid ) dan Ilsa Lund ( Ingrid Bergman ), pasangan suami istri yang merupakan pemesan surat 'sakti' tersebut ke Ugarte. Laszlo merupakan pejuang prancis sekaligus buronan  jerman yang berhasil kabur dari Camp Konsentrasi Nazy. dan ia membutuhkan surat itu untuk pergi ke Amerika.

Masalah muncul ketika Ilsa, istri Victor ternyata merupakan kekasih Rick saat mereka masih berada di Paris bertahun yang lalu. Ilsa meninggalkan Rick untuk alasan misterius yang tidak pernah ia jelaskan. Rick yang masih sakit hati ( dan juga masih mencintai ) dan kecewa dengan Ilsa tentu saja berada dalam dilema, apakah ia harus memberikan surat itu yang pasti akan menyelamatkan nyawa Laszlo dan Ilsa atau tetap menahan mereka di Casablanca, atau ia bisa saja menggunakan surat itu sendiri dan pergi ke Amerika mengajak Ilsa.

Humphrey Bogart dan Ingrid Bergman, dua nama ini selalu otomatis muncul dalam pikiran saat seseorang mengungkit film ini. Pemilihan dan pembawaan karakter yang sangat baik , sanggup menciptakan sebuah tensi keromantisan dan chemistry yang tidak sembarangan bisa dibawakan oleh pasangan aktor manapun.
Rick Blaine, adalah karakter terbaik yang pernah dimainkan oleh Humphrey Bogart. Sebelum Casablanca, Bogart lebih terkenal dengan karakter gangster, hingga suatu saat, Hal B. Wallis, produser film ini memutuskan untuk mengubah image Bogart dari gangster bengis menjadi seorang gentleman yang pernah tersakiti oleh cinta. Rick adalah tokoh yang cuek, dingin, dan super sinis. Rick tidak akan membahayakan dirinya untuk siapa pun. Dengan gaya bicara semaunya tanpa rasa takut, Rick memang terkenal sebagai pria yang dingin dan dihormati seantero Casablanca. Ia adalah bos yang baik di mata semua karyawannya, teman baik para penjahat dan polisi, tapi siapa yang menyangka, pribadi yang keras ini pernah rapuh karena dikecewakan oleh wanita yang pernah sangat dicintainya, Ilsa. Bogart mengeluarkan kemampuan aktingnya yang bisa membuat kita terkesan. Kemunculan Ilsa yang tidak terduga di Cafe milik Rick seperti merobek kenangan pahit Rick serta membuyarkan perisai yang selama ini dibangunnya, serta mengungkapkan pribadi yang kompleks yang membutuhkan seluruh kemampuan akting Bogart.

 Menjadi Ilsa, Bergman selalu berhasil menghidupkan semua scene yang melibatkan dirinya. Coba tanyakan pada teman pria anda yang menonton film ini, apa yang tidak mau mereka serahkan untuk bisa kabur bersama seorang wanita cantik seperti Ilsa ?
Walaupun Ilsa bisa dikatakan sebagai sumber penderitaan Rick selama bertahun tahun, seperti kata Sam ( Dooley Wilson ), pemain piano dan penyayi di bar milik Rick. Ilsa juga membawa kebahagian yang besar dalam hidup Rick, hari hari mereka di Paris adalah kebahagiaan terbesar Rick. pepatah usang seperti "kita hanya bisa disakiti oleh orang yang sangat kita cintai" sepertinya sangat cocok untuk Rick. Lantas apa yang membuat Ilsa tega menyakiti hati Rick seperti itu ?
Ingrid Bergman, awalnya sama sekali tidak antusias dengan film ini, malah ia lebih tertarik dengan film lain yang akan dibintanginya bersama Gary Cooper, From Whom the Bell Tolls ( 1943 ), sehingga setiap kali ada yang menyanjungnya atas Casablanca, ia seperti merasa lucu, karena siapa sangka, peran Ilsa yang tidak pernah membuatnya tertarik sebelumnya malah menjadi ikonik dan selalu diingat banyak orang, bahkan hingga saat ini.

Lantas pertanyaan yang muncul di benak kita hingga film ini usai adalah, sebenarnya siapa yang dicintai oleh Ilsa Lund ? Laszlo, suaminya ? atau Rick, kekasih yang pernah ia tinggalkan ?. Bergman juga sangat bagus membawakan Ilsa yang abu abu ini. Pertanyaan yang sama juga pernah ditanyakan oleh Bergman langsung kepada sang sutradara, Michael Curtiz yang ternyata juga tidak bisa menjawabnya, karena pada saat mereka mulai syuting, naskah yang ada belumlah selesai sepenuhnya, sehingga Curtiz meminta Bergman untuk menjadikan Ilsa karakter abu abu hingga mereka mengetahui akhir dari naskahnya, yang tentu saja sampai akhir film, hal ini tidak pernah terjelaskan secara gamblang. Let's the audience do the judge ^_^..

Rick dan Ilsa adalah contoh karakter yang ditulis dengan sangat baik sehingga penokohannya begitu kuat dan berkesan, selain itu masih ada Claude Rains sebagai Capt. Renault, polisi yang korup, tapi merupakan teman baik Rick juga, dan masih ada Dooley Wilson sebagai Sam, yang berkat suara dan nyanyiannya, menjadikan lagu "As Time Goes By" sebagai salah satu lagu dalam film terbaik dalam peringkat AFI ( America's film Institute ).
Akting semua pemain bisa dibilang sangat baik. Mata mereka ikut berakting dan berbicara dengan kombinasi yang harmonis dengan vokal dan ekspresi mereka. Dalam beberapa scene yang di close up, kita bisa melihat betapa merana dan memelasnya Ingrid Bergman, atau khusus Bogart, kita bisa melihat kebencian yang mengerikan dan sakit hati yang mendalam dari raut wajah dan sinar matanya, ketika ia kembali bertemu dengan Ilsa.


Tema yang diangkat dalam film ini tidak semuanya full 100% kisah romance, perhatikan lebih seksama, dan kita akan menemukan kisah tentang persahabatan, keputus asaan, perjuangan, pemberontakan, teror, rasa nasionalisme, kebebasan dan perjuangan dalam kenyataan perang yang pahit. Menonton film ini untuk kedua kalinya, sempat membuat saya terkejut karena sadar akan kedalaman cerita ini, atau bagaimana tokoh tokoh utamanya terus berkembang dan banyaknya quote quote dalam film ini yang akan selalu diingat seperti " We'll always have Paris", "play it, Sam. Play 'As time goes by'", dan tentu saja yang paling melegenda " Here's looking at you, kid". Khusus yang terakhir, saya masih mencoba coba memahami maknanya, hehe..

Salah satu hal yang mengherankan tentang Casablanca adalah, jarangnya ada yang membahas sang sutradara. Michael Curtiz bukannya sutradara baru yang tiba tiba ditimpa keberuntungan. Sejak era tahun 1920an-50an, Curtiz adalah salah satu Sutradara tergiat di Hollywood, mengkomandani lebih dari 100 film, termasuk White Christmas, Mildred Pierce dan Yankee Doodle Dandy ( sebelumnya, ia bahkan sudah terlebih dulu berkarir dan membuat sekitar 50 film di Eropa ). Curtiz was a well-respected film maker and his work on Casablanca was first rate, but, for some reason, few non-cineastes associate his name with this picture.

 Tidak terlalu kontroversi kalau saya mengatakan Hollywood tidak lagi membuat film seperti ini, ending yang bittersweet dengan gambar hitam putih, bahkan jika Casablanca dibuat dibawah iklim Hollywood yang sekarang, mungkin Rick dan Ilsa akan kabur bersama dan menghindari rentetan peluru yang menghalangi mereka, atau bahkan Rick akan berpose dan bergaya seperti aktor aktor di film John Woo yang menembak dengan kedua tangannya, tidak akan ada jalinan persahabatan antara Louis dan Rick, atau belum lagi dengan Victor Laszlo, God know what will happen to him ?. Dan inilah yang membuat Casablanca unik dan berbeda karena film ini berdiri dengan independen tanpa ketergantungan pada konsep crowd-pleasing tactics.

Menambah citra klasik, Casablanca menggunakan sinematografi hitam putih yang penataan cahaya, kekontrasan warna hitam putih semakin memperkuat mood yang dihasilkan, sehingga medium hitam putih seperti ini sangat cocok dengan Casablanca. Apakah benar atau tidak, tapi saya dulu pernah membaca ada yang mencoba untuk mewarnai film ini, oh betapa itu adalah kesalahan yang sangat fatal, atau salah satu hal lainnya adalah dengan mencoba me remake, parodi atau adaptasi dari Casablanca yang tersebar di seluruh dunia. Havana (1990) yang dibintangi Robert Redford pernah dicap sebagai salah satu penjiplak Casablanca, karena memiliki kesamaan plot dan karakter dengan Casablanca. This is clearly an updated Casablanca, and Casablanca isn't Casablanca without Bogart and Bergman. Film film seperti Casablanca tidak akan pernah lekang dimakan waktu, nekad untuk me remake film seperti Casablanca adalah kesalahan yang sangat fatal.

 Casablanca adalah salah satu film besar yang akan dengan sangat mudah ditemukan dalam berbagai top list movie di berbagai situs film. Mungkin saja film ini bukan film terbesar atau terbaik atau terfantastis yang pernah ada dalam sejarah perfilman Hollywood, tapi Casablanca selalu akan menjadi fim kesayangan banyak orang-termasuk saya.  Abad sudah berganti, banyak era film keemasan Hollywood yang sudah dicap usang, tapi Casablanca akan selalu menjadi sebuah film klasik kesayangan banyak pecinta film dan merupakan sebuah tontonan yang tak akan pernah basi atau terlupakan. Here's looking at you, kid. ;)

Casablanca l 1942 l Michael Curtiz 

***
M.K ; 2012


Wednesday, October 24, 2012

Hollywood & The Stars & World War II


 

Pada tahun 1940an, Perang dunia ke 2 mengubah wajah glamor Hollywood. Merubah dan mengajak Bette Davis untuk bernyanyi, Joan Crawford untuk menari, Greta Garbo to laugh, Bob Hope yang turun ke jalan, Dorothy Lamour tiba tiba menjadi sales, Donna Reed menjadi juru tulis, Buster Keaton menjadi bartender, Judy Garland menyanyi di panggung, and sadly, sampai menjadi akhir dari hidup istri Clark Gable, Carole Lombard dan salah satu bintang Gone with the Wind, Leslie Howard.

Saat perang mulai merambah Eropa, Amerika, khususnya Hollywood sengaja tetap mengisolasikan diri dari kenyataan perang dan berbagai ancaman, tak lain karena ketakutan bahwa film film yang berbau propaganda akan mempengaruhi warga Amerika dan mendorong mereka menjadi pro-war ( pendukung perang ). Bahkan, kabarnya beberapa anggota senat Amerika membuat kesepakatan untuk menginvestigasi peredaran film film Hollywood di luar Amerika.

Seperti yang kita tau, WW2 erat dengan Jerman dan Nazi, dampak yang terjadi di Hollywood sendiri adalah, sampai banyak studio studio besar yang memecat banyak pekerja yang "non-arya" ( merupakan istilah yang sudah diadopsi dalam politik rasis nazi yang membedakan dan mengagungkan orang orang ras nordic diatas ras lainnya ; brown or blonde hair, blue eyes and pale skin ). Hal tersebut kabarnya dilakukan karena tekanan yang kuat dilakukan oleh Nazi sendiri. Selama masa itu hanya beberapa film anti-nazi yang berhasil diproduksi seperti "Confessions of a Nazy spy" atau salah satu karya Chaplin yang masih terkenal hingga saat ini, "The Dictator", "Sergeant York", dan film yang pro-british seperti "A Yank in the R.A.F"

Then came Pearl Harbor and everything changed.
Ironisnya, pemerintah saat itu sangat sangat terlibat dalam setiap pembuatan film di Hollywood, menggunakananya sebagai alat promosi yang menunjukkan kekuatan Amerika dan keterlibatannya yang digambarkan sangat besar dalam perang. Bahkan saat itu terdapat dua institusi yang sengaja dibuat, yang satu merupakan kantor informasi perang yang mengatur semua info yang beredar saat itu, dan The Bureau of Motion Picture ( Biro film ) yang berhubungan langsung dengan Hollywood, mengatur dan membimbing serta memutuskan film film apa saja yang kira kira bisa memberikan keuntungan tak langsung dalam perang saat itu, dan dengan dukungan penuh dari semua studio besar saat itu dan bintang bintang besar yang berada di bawah atap mereka, Hollywood secara tak langsung ikut membuat sebuah era Patriotisme seorang Amerika, dengan kacamata para bintangnya.

Those Who Served, Those Who Died

Perang Dunia ke-2 banyak mengajak para bintang Hollywood untuk mengganti kostum glamor mereka dengan kostum yang lebih serius. Bahkan diantaranya, banyak aktor aktris terkenal yang rela meninggalkan karier cemerlang mereka demi hal ini. Berikut beberapa diantaranya :

James "Jimmy" Stewart adalah bintang hollywood pertama yang memasuki militer untuk Perang Dunia ke-2, dan tentu saja walau di kemiliteran, dia tetap menjadi seorang Enterteiner sejati. Ia memasuki dunia militer mulai dari tingkatan terbawah dalam Angkatan Udara, Stewart pernah memegang 20 misi tempur sebagai Pilot B-24 di Eropa, mengambil bagian dalam ratusan serangan udara dan memerintah skuadron, hingga akhirnya mendapatkan pangkat kolonel. Dia pernah dianugrahkan berbagai Medali dan bintang penghargaan dari pemerintah.Bahkan setelah usai perang, Stewart tetap melanjutkan karier militernya di Angkatan udara dan menjadi Brigadir Jenderal.


Kemudian ada bintang Gone With the Wind,     Clark Gable, yang setelah kematian istirnya, Carole Lombard, Gable pada umur 41 tahun tercatat di akademi militer sebagai tentara. Selama masa tugasnya, Gable mencoba mendokumentasikan keterlibatan Jerman dan institusi militer Jerman dan Ia juga ikut terlibat dalam beberapa misi di Eropa. karena sudah terlalu berumur untuk terjun langsung perang di lapangan, Gable dibebas tugaskan pada saat perang usai, dengan pangkat seorang Mayor.

Masih ingat perannya dalam 12 Angry Men, dimana ia satu satunya juri yang tidak menyetujui kesepakatan mayoritas juri lainnya ?. Henry Fonda terlibat ke dalam militer sejak Agustus, 1942 dan ditugaskan ke Kapal perang penghancur, U.S.S Saterlee sebagai kelasi kelas ketiga. Fonda juga nantinya ditugaskan di daerah Pasifik. Ia pernah dianugrahkan Medali bintang perunggu atas jasa militernya.

Andy Murphy bahkan pernah menyemat gelar "American Hero" di dalam perjalanan karir militernya. Aksi aksi heroiknya membuatnya menjadi(Aktor) Tentara Amerika yang paling banyak mendapat penghargaan. Walau dalam karir aktingnya, Murphy lebih banyak membintangi B-movie ( yang jumlahnya lebih dari 30 judul ), dengan karirnya dalam bidang militer yang sangat cemerlang, Murphy akhirnya berkesempatan membintangi film tentang dirinya sendiri, To Hell and Back (1955) 


William Holden ( Sabrina, Sunset Boulevard )
Served in the U.S. Army Air Corps from 1942-1945.

Young Paul Newman
Radioman during torpedo bombers in WWII







Jack Lemmon ( The Apartment, Missing, Tribute )
US Navy Reserve (WWII, communications officer on USS Lake Champlain
Sama pentingnya dengan seorang aktor yang membintangi sebuah film, seorang sutradara malah lebih ditugaskan dengan lebih banyak tanggung jawab besar. Dengan pengaruh dari pendapat orang lain, dan keuntungan dari gambar dan suara, Film bisa jadi alat terkuat dalam sebuah propaganda, lebih dari radio atau tulisan. Pergunakan dengan benar, maka hal tersebut akan berdampak positif, dan tentu saja sebaliknya dengan efek yang lebih mengerikan.

Frank Capra, yang juga merupakan sahabat dekat Jim Stewart, mendaftarkan diri  tak lama setelah serangan ke Pearl Harbor dan ditugaskan untuk bekerja di bawah komando Chief of staff, George Marshall. Marshall ingin agar Capra bisa membuat sebuah film seri berdasarkan kisah nyata yang menjelaskan alasan Amerika ikut berperang dan prinsip prinsip yang mereka perjuangkan. Setelah menyaksikan Triumph of the Will, film Leni Reinfenstahl yang merupakan salah satu film propaganda Jerman yang sangat powerfull yet horrible >_<, Capra was overwhelmed. Kemudian, Capra dengan bantuan studio besar seperti MGM, Paramount dan 20th Century Fox facilities, Walt Disney dan staff, dan bantuan dari aktor Walter Huston, Sutradara George Stevens, William Wyler dan John Huston. Frank Capra berhasil membuat banyak seri film dokumenter tentang Perang Dunia ke-2 . Capra not only fulfilled the original purpose of the films, but a revolutionized documentary filmmaking. 

Bob Hope adalah salah satu Enterteiner terhebat sepanjang sejarah Hollywood. Ia adalah salah satu tentara garis depan saat perang dunia ke-2. Hope adalah salah satu tentara yang tidak segera dibebas tugaskan saat perang telah usai, tapi tetap dilanjutkan tugas kemiliterannya dan ikut serta dalam Perang Vietnam. Tahun 1997, Pemerintah Amerika, menyematkan gelar Veteran perang kehormatan Amerika kepada Hope yang ditandatangani langsung oleh presiden Bill Clinton.

Diantara banyak bintang Hollywood yang menapakkan kakinya dalam Perang Dunia ke-2 secara langsung atau tidak, terdapat dua nama besar yang meninggal dalam peristiwa besar tersebut, Salah Satunya Leslie Howard, salah satu bintang Gone with the Wind ini merupakan satu diantara 17 korban pada peristiwa tahun 1943 saat sebuah pesawat komersil ditembak jatuh oleh Jerman di Teluk Biscay, Perancis. Kabar rumornya bahwa pesawat tersebut diserang karena diduga Howard adalah adalah mata mata Inggris.

Carole Lombard sedang terburu buru untuk pulang ke suaminya, Clark Gable, setelah ikut membantu pekerjaan amal untuk perang ketika pesawat yang ditumpanginya jatuh dan hancur dekat gunung. Dianggap sebagai korban sipil yang sama sekali tidak bersalah dan kenyataan bahwa Lombard baru saja mengikuti pekerjaan amal untuk perang, Presiden FD. Rosevelt berkata dalam eulogy nya " Dia memberikan waktu dan bakatnya untuk melayani negara demi terciptanya kedamaian. Dia akan dicintai negerinya, dan dia akan selalu menjadi bintang, seseorang yang tak akan pernah kita lupakan."
 
Hollywood Canteen

Bette Davis & John Garfield
Dipopulerkan oleh Bette Davis dan John Garfield, dan dengan dukungan dari banyak relawan dan rekan sesama artis, sebuah kandang peternakan tua di Sunset Boulevard disulap menjadi Hollywood Canteen dan dibuka pada 3 Oktober 1942. Para waitress dan Waiter berseragam, band band yang melakukan pertunjukkan dengan gratis dan para relawan yang berdansa, dan juga banyak bintang film yang melakukan kunjungan dan ikut membantu.

Bette Davis ( All about Eve )


















Robert Benchley and Charles Butterworth













Donna Reed ( It's a Wonderfull Life )

















Buster Keaton ( The General )

















Katharine Hepburn ( The Philadelphia Story )


















Rita Hayworth ( Andy Dufresne's idol :D )



















Judy Garland ( The Wizard of Oz )






Wednesday, October 17, 2012

Review : 50/50 ( 2011 )

50/50
Starring : Joseph Gordon-Levitt, Seth Rogen, Anna Kendrick, Bryce Dallas Howard
Directed by Jonathan Levine
Written by Will Reiser













Mengatakan film ini bergenre komedi sepertinya agak tidak tepat, walaupun kita bisa melihat salah satu bintang komedi terkenal disini, Seth Rogen, film ini lebih tepat disebut bergenre drama yang lebih ke arah mengangkat tema bertahan hidup dari penyakit. Kemudian, formula apa yang biasanya dipakai dalam film film yang bertema seperti ini ? vonis tak terduga dari dokter,  momen frustasi dan breakdown si tokoh utama, kisah cinta yang romantis, hubungan keluarga yang semakin dekat, dan sahabat karib yang setia menemani ?. Semua formula tersebut memang tidak selalu dipergunakan dalam satu film. Sebut saja beberapa film bertema serupa yang pernah saya tonton seperti The Bucket List (2007), The Sea Inside (2004), Biutifull (2010), my sister keeper (2009) yang mengandung beberapa elemen formula diatas, lalu apa yang menarik dari 50/50 ?

Film yang juga diproduseri oleh Seth Rogen ini meraih dua nominasi pada perhelatan Golden Globes tahun ini, dan juga berdasarkan pada pengalaman nyata sang penulis naskah, Will Reiser yang berjuang hidup melawan kanker yang dituangkan dalam karakter Adam Lerner (Joseph Gordon-Levitt).

Saat terus terusan mengeluhkan sakit pada punggungnya, Adam memeriksakan diri ke dokter dan ternyata didiagnosa menderita kanker langka yang bersarang di tulang punggungnya. Adam, yang kita lihat di film ini adalah seorang pria yang baik, rapi, softspoken, hidup teratur, bahkan ia tidak merokok dan minum alkohol, tidak memiliki SIM dan mobil ( karena baginya kecelakaan mobil adalah penyebab ketiga kematian terbesar ), dan mempunyai kekasih cantik, Rachel ( Bryce Dallas Howard ). Bersama sahabatnya, Kyle ( Seth Rogen ) yang selalu menemani dirinya, dan terapis cantik, Katherine ( Anna Kendrick ), Adam harus memperjuangkan hidupnya yang bergantung pada rasio 50:50. 

“You’re gonna be fine. 50/50. If you were a casino game, you’d have the best odds.” - Kyle


Joseph Gordon Levitt, bintang muda hollywood yang satu ini rasanya  selalu mengeluarkan karya yang cemerlang dalam beberapa tahun ini. Mulai dari 500 Days of Summer yang fenomenal dan film galaunya hampir semua golongan, Inception yang kembali mengibarkan namanya pasca 500 DoS, The Dark Night Rises, Premium Rush, Looper dan Lincoln yang merupakan 4 film besar tahun ini yang menggandeng dirinya, atau 50:50 sendiri yang merupakan satu satunya film yang dibintanginya tahun 2011 kemarin. 

Dengan perawakan yang hampir mirip dengan Tom di 500 DoS, saya pun langsung mengendus  karakter yang hampir mirip, Adam pun digambarkan sebagai pria baik baik yang cupu, lempeng dan tidak lihai dalam urusan cinta. Tapi kalau berbicara akting dari JGL sendiri, well, bagi saya, dia tidak tampil sepenuhnya mempesona, bahkan ada beberapa bagian yang terkesan kaku dan apa adanya, tapi ada dua momen di film ini yang ternyata menghapus pendapat saya tesebut, yaitu momen dimana ia frustasi dan breakdown, dan berteriak kesal di dalam mobil Kyle, disitulah sisi paling manusiawi dan nyata dari seorang pria baik baik yang menderita kanker di masa mudanya, dan saat sebelum ia akan dioperasi, dimana ia memeluk ibunya dan ketakutan besar terpancar dari raut wajahnya.
50:50 juga menunjukkan bahwa salah satu obat terbaik ketika menghadapi kanker adalah dukungan dan kasih sayang dari keluarga dan sahabat kita, dan untuk hal ini, Adam bukannya tidak ada kelemahan. Ia sangat tidak terbiasa dengan perhatian berlebihan dari ibunya, dan bersikeras untuk hidup mandiri, well, kadang bahwa tanggapan orang tua yang berlebihan adalah salah satu bentuk kasih sayang mereka.













 


 

Kemudian ada Seth Rogen sebagai sahabat Kyle yang lebih fun dan gaul dibanding Adam sendiri, perlu dicatat, ini pertama kalinya karakter Seth Rogen tidak seannoying biasanya XD. Lalu ada Anna Kendrick yang lebih eye catching dibanding Bryce Dallas Howard. Howard disini, ntah kenapa ( mungkin perasaan saya saja ) sangat tidak cocok berpasangan dengan JGL disini, karakter Rachel memang sudah pas dengan dirinya, tapi dengan chemistry yang kosong melompong antara dirinya dan JGL, saya sudah bisa menebak dari awal apa yang akan terjadi dengan Rachel sendiri.
Anna Kendrick, yang bersinar melalui Up in the Air (2009) dan mengantarkannya mendapat nominasi Best Supporting Actress di Oscar, membawakan karakter Katherine yang dengan amatir tapi penuh kesungguhan membantu terapis Adam. Mungkin selain Adam di film ini, karakter Anna Kendrick di sini adalah yang paling manusiawi dan penuh kejujuran. Caranya menanggapi penolakan awal dari Adam membuat kita suka padanya.


Di tangan sutradara tertentu, film dengan topik penyakit kanker pasti dibawa ke arah tear-jerker di mana banyak adegan yang didramatisir untuk menarik simpati penonton terhadap karakter utamanya. 50/50 bisa menginspirasi dan menghibur dengan baik dan porsi seimbang. Dibantu dengan akting prima dari Gordon Levitt dan pemain pembantunya (terutama Anna Kendrick), 50/50 menjadi contoh bahwa cerita tentang kanker tidak harus didramatisir berlebihan untuk memikat penonton jika dibuat dengan penuh hati dan tetap berpegang pada pengalaman sendiri.


50/50 l 2011 l Jonatan Levine

Trailer :


Saturday, October 13, 2012

Review : To Kill a Mockingbird ( 1962 )

TO KILL A MOCKINGBIRD
Starring : Gregory Peck, Mary Badham, Phillip Alford, James Anderson, Robert Duvall
Directed by Robert Mulligan
Written by Horton Foote
Based on the novel by Harper Lee


Ada yang menyebut film ini drama keluarga, dan ada juga yang menyebutnya sebagai salah satu drama pengadilan terbaik yang pernah ada. Menduduki peringkat pertama dalam ( America Film Institute ) AFI's 10 Top 10 - #1 Courtroom Drama, dan tokoh Atticus Finch juga mendapat peringkat pertama dalam  AFI's 100 Years  #1 Hero. Diangkat dari Novel yang pernah memenangkan Pulitzer tahun 1960 berjudul sama, To Kill a Mockingbird mengambil latar Amerika di era Great Depression tahun 1930s, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Maycomb, Alabama.

Pada awal film, kita disuguhkan dengan pemadangan kota yang dinarasikan oleh anak perempuan Atticus yang sudah dewasa, Scout ( Mary Badham ) sebagai "tired old town", suram, kusam, panas,tanaman yang merambat di beranda rumah, kursi goyang yang menghiasi setiap rumah dan perekonomian yang sedang sulit, dan tentu saja keadaan dimana rasisme masih begitu kuat, dimana masih banyak terdapat orang orang kulit putih yang sangat merendahkan orang orang kulit hitam, tidak peduli jika mereka pun sama miskinnya dengan orang orang kulit hitam. Kebencian yang tertanam sungguh dalam bahkan tanpa motif yang sama kuatnya.


Sampai pertengahan cerita kita disuguhkan dengan rutinitas kota tersebut dari sudut pandang kakak beradik Finch,  Scout dan Jem, yang merupakan anak anak Atticus ( Gregory Peck ), seorang duda yang merupakan pengacara di kota tersebut. Atticus bisa dbilang sebagai seorang ayah yang kaku, softspoken dan tidak terlalu mengekang kebebasan anak anaknya, kita bisa melihat kasih sayang dan cintanya lewat caranya berbincang dengan anak anaknya atau kepribadiannya yang baik yang selalu menghargai orang lain dan jiwa keadilan yang tinggi. Satu malam, ia diminta oleh pengadilan setempat untuk menjadi pengacara Tom Robinson ( Brocks Peters ), seorang buruh berkulit hitam yang dituduh memperkosa dan menganiaya seorang gadis berkulit putih, yang mempunyai ayah yang sangat rasis, Bob (James Anderson). Jiwa keadilan dalam diri Atticus bisa melihat kejanggalan dalam kasus ini, dan ketika ia mulai membela Tom, mulailah ia dibenci oleh mayoritas orang orang kulit putih di daerah itu. Di tengah keadaan itu, ia juga harus melindugi Tom dan keluarganya sendiri dari orang orang kulit putih yang memusuhinya, terutama Bob.

 
Untuk sebuah courtroom drama, saya merasa 12 Angry men  masih sedikit diatas film ini dalam peringkat AFI. Hal ini bukan karena lack of story, tapi bagi saya sesi cerita "courtroom drama" yang dielu elukan dari film ini, terasa sangat kurang >_< ( hehe..kali ini anti mainstream )
The problem here for me, is, karakter Tom Robinson yang terkesan bukan merupakan poin penting dalam film ini, tapi lebih ke seperti ingin memfokuskan langsung ke perbuatan perbuatan mulia seorang Atticus Finch yang dengan segenap hatinya membela terdakwa yang seorang kulit hitam. Benar, ini kisah Atticus Finch and his noble work, tapi tetap saja saya merasa motif dan latar yang disajikan di film ini belumlah sekuat karakter Atticus Finch yang seharusnya, and general lack of emotion in the courtroom agak membuat saya merasa janggal, seolah olah semuanya berakhir dengan cepat tapi kita diharuskan mengikuti proses yang sangat panjang sebelumnya.

Namun film ini juga memperlihatkan cara sudut pandang baru antara perbedaan antara orang dewasa dan anak anak dalam memandang bahaya yang ada.
Saat Jem dan Scout pergi tengah malam mengikuti ayah mereka yang berjaga semalaman di depan sel Tom, yang ternyata didatangi kerumunan masa yang memaksa Atticus untuk tidak membela Tom, kondisi tersebut tentu tidak ideal dan terlihat sangat berbahaya dari sudut pandang orang dewasa, tapi melalui anak anak Finch, respon akan bahaya tersebut ditanggapi dengan lugas, polos, lugu dan apa adanya. Atau saat Jem dan Scout yang selalu takut dengan sosok tetangga misterius mereka,  'Boo' Bradley, lewat kisah kisah yang diceritakan dari mulut ke mulut di daerah tersebut, mereka yang belum pernah melihat sosok Boo pun selalu ketakutan setiap kali melihat bayangan di rumah Bradley. See, hehe..mereka lebih takut dengan hal hal yang belum mereka lihat ketimbang dengan bahaya yang memang sudah ada di depan mereka.

Dari jajaran cast, kita bisa dengan jelas langsung mengenali dua nama besar yang menghiasi film ini, Bintang besar dalam film ini adalah Gregory Peck, yang pada saat itu sedang berada di puncak kariernya. Dalam tiga tahun sebelumnya, ia sudah bermain dalam film film besar seperti How West was Won, Cape Fear, The Guns of Navarone, dan On The Beach. Untuk peran Atticus, pada awalnya, Peck bukanlah opsi pertama dimata para produser, sebelumnya masih ada Rock Hudson ( Giant l 1956 ) dan James Stewart, yang kemudian ditolaknya dengan alasan naskah yang ada terlalu liberal dan takut filmnya sendiri akan kontroversial. Well, saya tidak bisa mengatakan ini hal yang disayangkan atau bagaimana, karena rasanya sulit membayangkan Atticus Finch dibawakan oleh aktor lain selain Peck. Kharisma yang keluar dari dalam dirinya yang seorang tokoh peradilan, tutur katanya yang sopan, tenang dan selalu bermakna dan sosok seorang ayah penyayang yang ada dalam dirinya dan bisa berubah menjadi seorang pengacara yang membela Tom yang malang dengan berapi api dan rasa keadilan yang tinggi. Rasa nya sah sah saja Best Actor Oscar 1963 jatuh di tangannya. Well-deserved..

Kemudian masih ada nama Robert Duvall. Tahun 1962 saat film ini dibuat, dia bukan siapa siapa. To Kill a Mockingbird adalah film pertamanya, menjadi Boo Bradley yang misterius, dan uniknya penampilannya yang hanya sebentar itu begitu mencuri perhatian, yang nantinya membuka kesempatan karirnya di Hollywood.

Dan tentu saja, dua member terpenting dalam film ini, adalah Mary Badham dan Phillip Alfrod sebagai anak anak Finch. Walau belum pernah berkarir secara profesional sebelum film ini, kedua aktor aktris cilik ini tetap tampil mengagumkan. Tidak ada keanehan atau kecanggungan di setiap gerak gerik mereka, dan melalui sudut pandang lugu dan polos kedua anak inilah film ini dinahkodai.

To Kill a Mockingbird adalah  film yang diadaptasi dari salah satu karya penting dalam dunia literature Amerika, dengan novel yang berhasil memenangkan Pulitzer tahun 1960, filmnya bisa dikatakan mengikuti jejak bukunya sebagai salah satu film  Hollywood yang sangat sukses di mata penonton awam, dimana kekuatan filmnya sendiri didukung dari segala aspek mulai dari lokasi, naskah yang baik, perfect cast dan sutradara yang terlihat jelas memiliki visi dan misi yang pasti dalam membawa film ini. To Kill a Mockingbird is universally recognized as a classic, and the label is well deserved, hanya saja mungkin tidak seheboh yang saya kira, too overrated i think, but overall, it's very good and definetely is one of 100 movies you have to watch before you die.

********* 

Atticus Finch: "Well, I reckon because mockingbirds don't do anything but make music for us to enjoy. They don't eat people's gardens, don't nest in the corncrib, they don't do one thing but just sing their hearts out for us."


********

To Kill a Mockingbird l 1962 l Robert Mulligan

Tuesday, October 9, 2012

Review : It's a Wonderful Life ( 1946 )

IT'S A WONDERFUL LIFE
Starring : James Stewart, Donna Reed, Henry Travers, Lionel Barrymore
Directed by Frank Capra
Written By: Frances Goodrich, Albert Hackett, Frank Capra



George Bailey ( James Stewart ) adalah seorang pengusaha yang bergerak di bisnis simpan pinjam di sebuah kota kecil, Bedford Falls yang ia teruskan dari ayahnya. George adalah seseorang yang selalu mengalah demi kepentingan orang lain. Saat itu malam natal, suatu kejadian tak terduga terjadi dan membuat George frustasi dan putus asa, ia kabur dari rumah, dan nekad bunuh diri, tapi dicegah oleh Clarence, malaikat yang dikirim Tuhan untuk menjaganya. George yang putus asa dan frustasi semakin menyalahkan dirinya, dan dengan emosi meminta kepada Tuhan agar seandainya ia tidak pernah dilahirkan. Doa itu terkabulkan, sejak itu, tidak ada George Bailey. Clarence kemudian menunjukkan padanya bagaimana jadinya hidup orang-orang terdekatnya jika ia tidak pernah lahir.

Perhatikan judulnya " it's a wonderful life ", agak ironis, karena kita disodorkan oleh kisah hidup George Bailey yang sama sekali tidak sewonderfull keinginannya. Dari sejak ia kecil, kita bisa melihatnya sebagai orang yang selfless, memikirkan orang lain dibanding dirinya sendiri, selalu bersikap ramah dan hangat kepada siapapun yang membutuhkan pertolongannya. Rasanya sifat sifat baik seorang manusia hampir dimiliki semua oleh George Bailey and yet, kita melihat sendiri, mimpi mimpi nya yang semakin jauh dari jangkauannya.

 Apakah terdengar agak klise ? seorang tokoh protagonis baik hati yang selalu menderita dan bernasib sial, kemudian ada tokoh antagonis yang kejam dan jahat dan mempermalukannya, dan tentu saja ( sorry ya..^_^) surprise surprise tadaaa..tentu saja Happy Ending.
Saya tidak pernah peduli seberapa simpel dan klise cerita yang dihadirkan, terus apakah karena klise menjadikan film ini membosankan atau norak ? Hell no..!!, mungkin ada beberapa bagian yang terlihat cheesy and corny untuk ukuran jaman sekarang, belum lagi hal hal tradisional yang ada di film ini juga terasa begitu kental dan selalu memancarkan kehangatan akan hal hal humanis yang ternyata memberikan efek luar biasa ketika saya selesai menonton. Salah satu pesan film ini adalah, bahwa apa yang kita tanam akan kita tuai, berbuat baik pasti akan dibalas kebaikan pula, setidaknya itu yang kita harapkan, yes ? lalu yang juga kadang luput dari perhatian kita dan sering kita remehkan, yaitu kadang kita tidak menyadari perbuatan kita yang kadang paling sederhana sekalipun bisa membuat perubahan besar dalam hidup orang lain.
James Stewart, as always, bermain dengan begitu baik dalam film yang ia katakan sebagai salah satu film favoritnya ini, ia menjadikan George Bailey begitu loveable, kita bisa dengan mudah jatuh hati dengan sifat sifat baik dan selfless Bailey, dimana kita bisa melihat semuanya dilakukannya dengan ikhlas dan jujur tanpa ada perasaan iri dan dengki, dan ketika gagal, tidak ada perasaan marah atas keadaan, tapi lebih ke perasaan kecewa terhadap dirinya sendiri yang selalu dinilainya tak cukup baik dalam segala hal.
Frank Capra & James Stewart
Kemudian ada Frank Capra, salah satu ciri khas dalam film film Capra adalah kekuatannya dalam bercerita yang banyak memberikan motivasi, insipirasi dan kekuatan untuk umat manusia lain. Saya belum banyak menonton film film Capra, sebelumnya yang saya tonton ada Meet John Doe ( 1941 )yang dibintangi salah satu aktor favorit saya juga, Gary Cooper. Fim film Capra selalu mempunyai daya tarik untuk selera penonton awam, dikarenakan masih lekatnya hal hal tradisional yang kadang sudah kita lupakan saat ini, hal hal old fashioned yang kadang kita pandang remeh dan klise ( bahkan norak ) terkadang membuat penonton seperti saya rindu akan hal hal baik yang sebenarnya ada di dunia ini.
The Baileys
Seberapa sering kita terpesona dengan film yang klise dan has some cheesy moments ?, but once, you get to the end, you will find out how beautifull this film is. Dengan penampilan yang apik dari James Stewart dan gaya penyutradaraan Capra yang khas dalam membidik hal hal yang humanis dan manusiawi, kita seperti masuk dan merasakan kehidupan George Bailey, and we'll be rooting for his happiness till the end.
Saya pernah mendengar sebuah quote yang sangat saya sukai hingga saat ini, "keberhasilan ialah ketika kau memasuki ruangan penuh orang asing, dan ketika keluar dengan banyak teman ". Hal tersebut menggambarkan kadang hidup kita tidak selalu diukur lewat harta dan benda, tapi lebih ke keadaan di sekeliling kita. Maka saat saat kita merasa lelah, marah, sedih dan frustasi, take a good look at your life. Family, friends..dan lihatlah hal hal baik yang pernah terjadi dalam hidup kita.

It's a Wonderful Life, one of the best classic movie i've ever seen ( ckckck..perasaan sering banget nulis kayak gini..haha..)

****

Dearest George,
Remember NO man is failure who has FRIENDS

****

It's a Wonderful Life l 1946 l Frank Capra

Saturday, October 6, 2012

Review : The Shawshank Redemption ( 1994 )

THE SHAWSHANK REDEMPTION
by
Frank Darabont

Based upon a story
Rita Hayworth and Shawshank Redemption
by Stephen King


 Starring : Tim Robbins, Morgan Freeman and Bob Gunton

Screenplay : Frank Darabont
*********

Kita sering mendengar orang berkata " filmnya tidak sebaik bukunya" atau "versi filmnya lain sekali dibandingkan dengan novelnya ya..". Apa yang menjadi dasar pertimbangan perbandingan mereka ?. Apakah mereka keliru ? karena sudah pasti, sebagian cerita akan jauh lebih mengena jika dituangkan dalam bentuk novel yang memiliki kedalaman cerita di tiap halamannya.

Mari kita mendalami hal ini dengan bantuan Frank Darabont dan karyanya yang diadaptasi dari novel Stephen King, Rita Hayworth and the Shawshank Redemption, beranikah kita menyebut film Darabont ini sebagai salah satu adaptasi novel terbaik yang pernah ada ?. Bagi beberapa orang, film ini nyaris sempurna dan seharusnya paling layak mendapat Oscar tahun 1994. Hingga kini, The Shawshank Redemption adalah salah satu contoh film yang bertumbuh kembang bertahun tahun setelahnya dan berhasil menorehkan kesan yang mendalam bagi siapa saja yang menontonnya tanpa ada gelar resmi paling bergengsi sekalipun.

Dinarasikan oleh Red ( Morgan Freeman ), yang telah sangat lama mendekam di penjara Shawshank. Layaknya kejadian yang berulang selama puluhan tahun, Red dan teman teman senasibnya menyaksikan tahanan tahanan baru akan menjadi penghuni penjara tersebut. Diantaranya, tampak Andy Dufresne ( Tim Robbins ) yang terlihat lugu. Andy tampaknya mengejutkan semua orang di sana karena dengan kebulatan hati dan kekuatannya tidak ada yang bisa melumpuhkannya. Andy, mantan bankir yang masuk penjara tersebut karena kasus pembunuhan.
Seperti Andy, Red pun dihukum seumur hidup. Menjalani hidup yang begitu lama di penjara menjadikannya ( dan banyak tahanan lainnya ) tidak mampu lagi memimpikan hidup di luar penjara. Red bercerita betapa para tahanan yang lain merasa kagum atas ketabahan dan integritas Andy dalam menjalani berbagai cobaan selama di penjara.
Film berdurasi 142 menit ini mengisahkan bagaimana dua orang yang menjalani hukuman penjara seumur hidup, kemudian menjadi sahabat dan mencari cara untuk melawan rasa putus asa. Sebuah mahakarya dari seorang Frank Darabont.





Dalam novelnya, Red sebenarnya sang tokoh utama, tetapi dia menceritakan kisah Andy Dufresne. Inilah perubahan pertama yang dilakukan Darabont. Dalam film ini sendiri, Andy adalah tokoh utama, dan ini adalah kisahnya. Red adalah narator dan tokoh pemeran pembantu yang sangat penting, tetapi perkembangannya adalah akibat perkembangan yang dialami Andy. Dan banyak sekali perubahan yang dilakukan Darabont dalam adaptasi ini, dan bisa dijelaskan dalam bullet point.
Sebenarnya tidak ada rumus baku yang bisa digunakan untuk menentukan panjang tidaknya sebuah novel untuk disebut novel sejati, atau rumus baku untuk sebuah adaptasi, yang selalu terdiri dari pemotongan, penambahan, penggabungan dan penciptaannya sendiri.Tujuan adaptasi bukanlah untuk mempertahankan sebanyak mungkin kemiripan dengan cerita asli, melainkan untuk membuat pilihan terbaik dari materi yang sudah anda punya untuk menghasilkan skenario sebaik mungkin.

Melalui kisah Andy, sang tokoh utama, kita mengetahui kisah orang orang lain di dunia yang dia huni. Shawshank adalah kisah tentang harapan, , mengenai apa arti dipenjarakan, tentang penebusan dosa, tekad, kesetiaan, kekejaman, kebaikan, persahabatan, dan juga tentang harapan, apa yang terjadi jika kau kehilangan harapan ? dan apa yang akan terjadi jika kau berpegang erat kepadanya ? Bisa dikatakan juga bahwa bahwa ini adalah kisah tentang kebaikan mengalahkan kejahatan, tetapi sudahlah.., kita bisa mengatakan hal yang sama untuk hampir setiap kisah >_<
Ini adalah kisah Andy Dufresne, seseorang yang menggantungkan diri pada harapan .



Bisa kita temukan sebenarnya, apa yang membuat kita begitu mencintai dan mendukung Andy. Andy adalah korban dari ketidakadilan yang paling brutal, dia dipenjara karena kejahatan yang tidak dia lakukan, diperkosa, dipukul dan hampir mati. Sebagai manusia, sudah sewajarnya jika hati kita memihak keadilan, dan apa yang paling menyakitkan hati daripada melihat seseorang yang tidak bersalah dihukum ? Bagaimana tidak, sikap kita yang otomatis mendukung Andy di film ini sudah mendarah daging dalam diri dan kita tahu bahwa tidak ada seorang pun yang lebih berhak bebas dibandingkan dengan dirinya.

Kemudian, apakah kita sering membaca novel novel atau film yang selalu menempatkan tokoh utama dalam setiap adegan yang ada ? Dalam Shawshank, tokoh tokoh sekunder juga diberikan hak untuk menjadi pusat perhatian, melaui kisahnya, Red mengatakannya dengan sangat baik " Tembok penjara ini aneh. Mula mula, kau membencinya, kemudian kau menjadi terbiasa dan setelah cukup lama berada disini. kau akan menjadi begitu bergantung berada disini. Begitulah rasanya dipenjara". Seorang penghuni senior di penjara tersebut, Brooks ( James Whitmore ) adalah bukti teori Red. Apa yang terjadi padanya dan apa yang dia lakukan pada dirinya sendiri merupakan pertanda buruk bagi kemungkinan masa depan Red dan Andy. Bagaimana dengan Andy ? Kita sama sama tau bagaimana kelanjutan kisah Andy ( tidak perlu saya bocorkan ^_^ ). Kisah Andy tamat, tapi ini kisah tentang harapan. Darabont tidak mungkin akan menginggalkan Red di Shawshank dengan harapan harapan yang tidak tercapai. Namun, aksi tokoh utama kita ini lah yang memotivasi tokoh pemeran pembantu, seperti Red dan satu satunya hal yang menahan Red untuk tidak berakhir seperti Brooks adalah janji yang telah dia buat untuk Andy. Karena janji inilah yang satu satunya hal yang membuat Red bergantung pada harapan dan menyangkal teorinya sendiri.

Kemudian, tokoh antagonis. Buat apa mempunyai tiga tokoh jahat jika bisa punya satu tokoh yang benar benar jahat ?. Dalam novelnya, terdapat beberapa kepala penjara yang sama jahatnya, namun Darabont mengambil 'kejahatan' dari semua kepala penjara dalam novel itu dam menggabungkannya dalam sosok Kepada penjara Norton yang sangat membuat kesal atas taktik dan ide jahatnya dalam mengekang Andy yang telah membuatnya kaya, dan semakin lama Andy berada disana semakin kayalah dia. Bagaimanapun, hidup Andy ada dalam genggamannya, dan dia tidak akan melepaskannya.
Sebelum Norton, kita bisa melihat banyak tokoh antagonis yang menjegal langkah Andy setiap hari disana, dari sini, kita bisa melihat Darabont memakai satu antagonis untuk menyingkirkan antagonis lainnya. Mereka harus disingkirkan agar cerita terus berkembang, hingga akhirnya kita bisa menuju pada ajal tokoh antagonis utama disini, Norton. Sekali lagi, kita kembali pada kata kunci kita - keadilan.

saya telah menuliskan hal ini sebelumnya, dan tidak ada seorang pun yang mampu mengungkapkannya dengan lebih baik daripada Andy, " harapan adalah sesuatu yang baik, mungkin yang terbaik, dan hal hal yang baik, tidak akan pernah mati."
Apa yang ingin dikatakan film ini adalah, anda dapat bercita cita setinggi apapun jika anda bergantung pada harapan. Begitu anda kehilangan harapan, maka hidup anda berakhir.
Mengatakan film ini luar biasa ? tentu, dan tidak berlebihan ^_^

The Shawshank Redemption ? one of the best movie ever made.

***

The Shawshank Redempion l 1994 l Frank Darabont

***

Official Trailer :