Thursday, November 29, 2012

Review : The Artist ( 2011 )

THE ARTIST
Starring : Jean Dujardin, Berenice Bejo, James Cromwell, John Goodman and Uggie the dog.
Written by Michel Hazanavicius
Directed by Michel Hazanavicius
















Remember the old days, when movies were glorious, magical and...mute ?
You can't remember it ? oh well..,Neither do I..( Eranya jauh sekali sebelum kita lahir, bukan ? :D )

Berlalunya era film film bisu dari memori setiap orang yang kemudian mungkin berubah menjadi mitos bagi banyak orang, mungkin itulah latar yang mendorong sineas berkebangsaan Prancis, Michael Hazanavicius untuk mengkomandani film yang kembali membawa kita ( 'kita' disini mungkin bukan kelompok mayoritas yak..? hehe..) teringat dengan film film Douglas Fairbanks, Charlie Chaplin, Greta Garbo, Buster Keaton, Lillian Gish yang pernah memiliki dan menguasai Hollywood puluhan tahun silam. The Artist bukanlah mengangkat kisah sejarah perfilman, tapi lebih ke sebuah ekspresi perasaan cinta akan dunia perfilman yang ditampilkan dengan sederhana, menyentuh melalui kisah hidup seorang aktor film bisu terkenal, George Valentin ( Jean Dujardin )
















Dengan latar Hollywood di akhir 1920an dan awal 1930an, Dimana talkies ( suara, film yang bersuara ) mulai menjadi mode yang mendominasi bagi para pembuat film sejak diperkenalkan tahun 1927 lewat film The Jazz Singer. Perubahan besar itu sangat mempengaruhi George Valentin, yang sepanjang karier aktingnya merupakan aktor film bisu terkenal, dan tiba tiba sekarang ia harus menghadapi kenyataan bahwa aktingya tidak lagi hanya bergantung pada aksi dan mimik wajahnya, tapi juga suaranya !

Terpuruk dalam ego dan kepercayaan diri yang tidak sejalan lagi dengan selera pasar waktu itu, George nekat untuk membuat film sendiri yang berasal dari kekayaannya. Bisa ditebak, film tersebut jatuh dipasaran dan membuatnya jatuh miskin hingga bertahun kemudian, bahkan memaksanya untuk menjual jas jas nya yang mahal, dan barang barang miliknya saat ia masih aktor terkenal. Kemudian ada Pepy Miller ( Berenice Bejo ), seorang wanita cantik yang dulunya adalh penggemar berat George, dan menyimpan perasaan suka padanya. Seiring tahun berlalu, Pepy menjadi kebalikan dari George, Ia semakin bersinar dan menaiki panggung panggung gemerlap Hollywood yang begitu memujanya sebagai seorang Aktris.

Salah satu inspirasi film yang meraih Best Motion Picture dalam Oscar 2012 ini tentu saja salah satunya adalah Singin' in the Rain ( 1952 ). Tanyakan saja kepada siapapun yang pernah menonton kedua film ini, saya yakin, banyak yang akan merasakan sebuah kemiripan yang manis. Sama sama menceritakan pergeseran era film dari film bisu ke talkies, dengan seorang heroine ( Debbie Reynolds ) yang sama sama jatuh cinta dengan sang aktor film bisu terkenal yang agak besar kepala ( but a nice one, you know ? ), dibawakan oleh si tampan Gene Kelly di tahun 1952 dan sekarang oleh Jean Dujardin.

Dujardin yang juga berhasil mengumpulkan Piala Oscar, Cannes, Bafta, SAG, Golden Globes atas perannya sebagai George Valentin, seperti perpaduan antara Gene Kelly dan Sean Connery saja ( walau kadang lebih mirip dengan perawakan Douglas Fairbanks, aktor terkenal era film bisu ), dengan ekspresi komikal dan pembawaannya yang flamboyan, dan body languange that he might have been - well.., a silent star. 

The Artist memanfaatkan kesadaran dan pengetahuan kita tentang bahasa film dan mengolahnya dengan menyenangkan dengan menggabungkan kedua aspek tersebut. Mungkin ada beberapa adegan dimana terlihat sangat berlebihan sehingga membentuk sebuah lelucon yang menyenangkan. Ada pula beberapa komposisi indah dan lucu dalam gaya film bisu yang tidak kita lihat lagi di film-film masa kini, dan penggunaan signage untuk menunjukkan subtexts yang bertujuan untuk lebih memudahkan penonton dalam memahami maksud dari adegan tertentu.

Kisah roman dan melodrama yang ada dalam film inipun sanggup menghanyutkan para penontonnya ( saya ). Kita tidak hanya akan terpesona dengan  konsekuensi dari pergeseran paradigma di Hollywood tersebut, tapi kita juga peduli dengan karakter karakter utamanya, baik itu George, Peppy, bahkan Uggie si anjing peliharaan George. Film ini tidak memiliki karakter antagonis, kecuali tentu saja pergeseran paradigma dan selera penonton itu sendiri yang memicu jatuhnya karier George dan membuatnya miskin.
Still, apa yang membuat The Artist jauh lebih baik , adalah bagaimana film ini disajikan. Dan film ini spesial bukan hanya karena ini film bisu, tapi tentu saja ke usaha usaha yang sangat terlihat di film ini untuk kembali membawa genune 20's look and feel, dengan nuansa yang begitu mirip. The Artist dibuat oleh orang orang dengan pemahaman tentang sejarah film itu sendiri, dan apresiasi atas dua era - the late silent / early talkies- yang didisajikan dalam satu film. Butuh puluhan tahun untuk flm film bisu dipandang lebih sebagai sebuah aspek penting dan artistik dalam sejarah film daripada hanya sebuah karya kuno, aneh dan tidak bermutu.

Film ini berisi berbagai elemen tak biasa yang akan mungkin akan membuat penonton yang terbiasa dengan film film blockbuster saat ini kurang bisa menikmatinya - it's French, demands reading of the dialogue, and is in black-and-white. Despite those things ( perhaps 'because' of them ), yang menjadikan The Artist adalah salah satu film yang menyenangkan, enjoyable dari deretan film film elit tahun 2011. Mungkin ada saja pengaruh kritikan kritikan positif atas film ini yang membuat publik jauh lebih bisa membuka mata dan seleranya akan film ini. The Artist is most enterteining because, like Hugo, film ini merayakan sejarah sinema dengan memberikan kita sebuah bab baru yang menarik.




The Artist  l 2011 l  Michel Hazanavicius

words by Merista Kalorin


Wednesday, November 28, 2012

Review : JUNO ( 2007 )

JUNO
Starring : Ellen Page, Michael Cera, Jason Bateman, Jennifer Garner
Written by Diablo Cody
Directed by Jason Reitman


Momen Test-Pack yang sungguh mendebarkan..

Bukan..., ini bukanlah kisah kakang dan Tata yang sangat mengharapkan kehadiran anak di film Test Pack.:p

Juno ( Ellen Page ) bahkan belum memikirkan kehadiran anak, at least for the next 5-10 years. Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur, "percobaan" singkat dan pertama Juno dan sahabatnya, Bleeker ( Michael Cera ), ternyata membuahkan gol langsung dan Juno pun hamil. Hal yang diluar dugaan bagi remaja 16 tahun ini yang harusnya sibuk belajar dan bersenang senang dengan temannya.

Lalu apa langkah yang akan dilakukan oleh Juno ? mengingat mempunyai anak adalah tanggung jawab yang sangat besar dan kontrak seumur hidup ?Ya, aborsi pernah terpikirkan olehnya, namun ia kemudian menemukan alternatif yang lebih baik, yaitu orang tua angkat. Dari sini, masuk pasangan Vanesa dan Mark Loring ( Jennifer Garner & Jason Bateman ) yang merupakan pasangan kekasih ideal yang sangat mengharapkan anak, yang dengan senang hati untuk mengadopsi anak yang nanti akan dilahirkan Juno. Keputusan besar yang diambil Juno untuk mempertahankan kehamilannya tentu membuatnya menjadi legenda di sekolah, dimana semua orang selalu memiliki pandangan yang terarah ke perutnya yang semakin membesar.

Dengan bantuan dan support dari sahabat dan orang tuanya, kondisi Juno pun tidak menjadi setragis yang bisa kita bayangkan, sampai ketika kehamilannya membesar, dan tiba tiba calon ayah angkat anaknya, Mark mengatakan bahwa ia sebenarnya belum siap memiliki anak..
wait a minute....0_o


Juno adalah film remaja yang sempurna, sempurna bagi remaja tanpa harus menyandang predikat rating R, dan sempurna bagi penonton dewasa yang tentunya juga sudah memiliki pola pikir dan insting menonton yang sudah baik, dan memang banyak disukai orang orang dewasa.  Rasanya sejak Almost Famous ( 2000 ), Juno adalah film remaja terbaik yang pernah ada hingga saat ini. Merupakan karya kedua dari sutradara Jason Reitman ( setelah menuai pujian dengan karya perdananya, Thank you for smoking ; 2005 dan kemudian kembali berjaya lewat Up in the Air ; 2009 ), dan yang lebih mengejutkan lagi Juno adalah naskah pertama yang lahir dari Diablo Cody ( mantan striper yang banting setir menjadi penulis ) yang langsung membawanya naik ke panggung Oscar menerima Best Writing, Original Screenply. Berkat kolaborasi Reitman - Cody, Juno tampil sukses sebagai salah satu film terbaik tahun 2007, sekaligus menjadi salah satu dari sedikit film yang mendapat pujian tinggi yang hampir merata diantara kritikus film, sekaligus positif di mata penontonnya.

Lalu seberapa dalam film ini membahas ketakutan seorang remaja yang sedang menghadapi masalah terbesar sepanjang hidupnya ?

Juno digambarkan bukanlah seorang remaja super cantik atau populer, ia hanya remaja biasa, tidak terlalu cantik, tomboi, idealis dan bersahabat dengan geek di sekolahnya. Dengan karakter yang santai dan super biasa ( tapi bertanggung jawab ) seperti itu, Juno ternyata berhasil mengundang simpati saya untuk ikut memikirkan masalahnya. Has there been a better perfomance in 2007 than Ellen Page's creation of Juno ? i don't think so.
Jika kebanyakan aktor setuju bahwa genre komedi itu lebih sulit dimainkan ketimbang drama, maka lebih sulit dengan jenis komedi yang bergantung pada pola pikir yang cepat, yang bergantung pada kepercayaan diri sang aktor dan kemampuan dari sang aktor untuk langsung berhenti sebelum kekocakkan yang ditampilkannya itu menjadi terlalu jauh sehingga terkesan konyol, tapi lebih memberikan kesempatan pada penonton untuk menginterpretasikan langsung maksud dari humor yang sedang berlangsung tesebut.

Page's presence and timing are extradiornary. Walau sosok idealis Page sempat hilang teredam di X-Men : The Last Stand, dan seperti yang kita tahu ( at least, yang saya tahu dan mengerti  ), Page adalah aktris remaja dengan jiwa yang sama remaja dengan usianya, menyukai tantangan dan mencoba hal hal baru, seperti yang ia ambil lewat film Hard Candy ( 2005 ) dimana ia menjadi remaja sadis yang berkepribadian rumit dan cerdas atau menjadi skinhead ( botak ) dalam film Mouth to mouth ( 2005 ), dengan berbekal hal tersebut, performa yang ditampilkannya sebagai Juno, sungguh sebuah penampilan kelas Oscar. and the nominations well deserved.
Page baru berusia 20 tahun saat film ini keluar, and i think she's on the right track and will be one of the great actors of her time.

Juno hanyalah gadis 16 tahun yang dipenuhi banyak rasa penasaran yang akhirnya mendorong ia untuk 'eksperimen' seks dengan sahabatnya, Bleeker. Apa daya, eksperimen yang berbuahkan hasil itu berubah menjadi persoalan, yang sebenarnya sangat relevan di dunia remaja ( khususnya saat ini ), tapi sekaligus sangat membutuhkan kedewasaan. Walau berlagak cuek dan santai, tapi Page berhasil menampilkan maksud tersirat dalam perasaannya seperti cemas, ketakutan, kesepian, tapi juga keheranan dan rasa takjub yang diam diam ia rasakan akan seluruh proses kehamilannya.
Juno bisa dikatakan memiliki selera humor yang tinggi. Untuk lebih memahami  Juno, kita diberikan narasi yang diisi oleh Juno sendiri, yang langsung mewakili apa yang dipikirkannya saat itu juga. Terlebih saat, kita melihat transformasi tokoh Juno dan apa yang ia pikirkan selama masa kehamilan dan caranya berdamai dengan situasi tersebut. Many times, you will find it endearing..

Page berhasil memunculkan kebingungan kebingungan Juno dengan cemerlang dibalik segala gaya serba yakin dan percaya diri yang ia tampilkan, terutama kebingungannya atas perasaaannya terhadap Bleeker. oh Bleeker..!, ditangan Michael Cera, Bleeker adalah seorang pemalu, pendiam, pasif dan geek juga, tapi ternyata juga menyimpan emosi yang dalam yang berkembang seiring film ini berlangsung. Bleeker sesungguhnya adalah tokoh yang dikarakterkan cool, tetapi tetap tidak cool dan masih terlihat agak bloon, adalah salah satu tokoh yang ternyata bisa mendekati hati kita. Begitu juga ayah dan ibu tiri Juno, kemudian Mark dan Vanessa. Semua tokoh rasanya terurus dengan baik di tangan yang tepat.

 Ada banyak sentuhan manis di film ini, terutama tentang bagaimana dukungan orang orang terdekat Juno dalam menyikapi masalah kehamilan yang dihadapinya. Kita mungkin menyadari banyak Juno Juno lain di luar sana yang bernasib kurang beruntung dari Juno di film ini, dikucilkan dan ketakutan atas masalah  ini, memilih diam hingga akhirnya nekad menyelesaikannya dengan cara yang sangat salah seperti aborsi atau bunuh diri, atau mungkin ada yang terjebak dalam pernikahan yang tidak bahagia karena alasan tanggung jawab yang pada akhirnya berujung pada siksaan psikologis atau perceraian.
Ini memang masalah yang butuh tanggung jawab dan kedewasaan, dalam hal ini, juga termasuk orang tua Juno, mereka juga sangat kecewa dengan Juno atas masalah ini, tapi sampai kapankah kekecewaan itu berlanjut ? ingin dibawa seumur hidupkah ? atau bisa dihentikan pada saatnya, kemudian move on dengan situasi yang dihadapi saat itu ?
Saya sendiri memiliki beberapa kenalan yang pernah terjebak dalam situasi seperti ini, bahkan beberapa diantaranya adalah teman dan sahabat saya. I'm not here to judge.., karena tanpa kritikan saya sekalipun, mungkin ia ( mereka ) sudah terjatuh dalam penyesalannya sendiri dan sudah dihakimi dan dikritik oleh orang orang terdekatnya yang lain. Seperti Leah, saya pun memilih untuk mendukung apapun keputusan mereka, karena apapun yang saya lakukan, tidak akan bisa mengubah dirinya atau situasi tersebut. I'm just here, like i always do ( for you, dearest friend of mine ).

Juno bukanlah film tentang moralitas remaja yang rusak. Tidak, ini lebih ke sebuah moralitas yang bisa dijelaskan secara sederhana, sebuah moralitas yang bangkit dari puing puing kehancuran sosial dalam masyarakat, keluarga dan terutama dari diri sendiri. Sebuah moralitas yang terlahir kembali.



JUNO l 2007 l Jason Reitman

Words by Merista Kalorin

Saturday, November 24, 2012

Review : Millions ( 2004 )

MILLIONS
Starring : Alex Etel, Lewis McGibbon, James Nesbitt and Daisy Donovan
Directed by Danny Boyle
Written by Frank Cottrell Boyce





















Damian ( Alex Etel ) dan kakaknya, Anthony ( Lewis McGibbon ), bersama sang ayah ( James Nesbitt ) baru saja pindah ke rumah baru mereka. Suatu hari, Damian, sedang bermain dan membangun rumah kardus dekat dengan perlintasan kereta api, tiba tiba sebuah tas besar melayang dari udara dan menimpa rumah kardusnya, yang berisikan ratusan ribu pounds ( tepatnya 229,000 pounds atau sekitar 3,5 milyar rupiah :0 ). Damian pun memberi tahu kakaknya, dan mereka berdua ( atas anjuran Anthony ) tidak boleh memberi tahu siapapun. Pertengkaran kecil pun kemudian terjadi antara dua bersaudara ini tentang tindakan mereka terhadap tumpukan uang ini. Sang kakak, melihat uang tersebut sebagai kekayaan berlimpah yang bisa menaikkan status nya di sekolah, sedangkan Damian sendiri menganggap uang uang tersebut adalah pemberian Tuhan untuk membantu orang orang miskin.

Masalah besar muncul, saat hari pergantian mata uang semakin cepat datang. Mata uang British Pound akan menjadi Euro pada tepat tanggal 1 Januari, setelah itu, semua uang kertas British Pound hanya akan menjadi flypaper yang tidak berguna. Benar atau tidak kah, tas melayang yang penuh uang tesebut adalah pemberian Tuhan ( seperti yang dipercayai Damian ) ?, karena ternyata ada sekelompok penjahat yang juga mencari cari tas ajaib tersebut.















Entah apa yang ada dipikiran Danny Boyle  saat mengkomandani film ceria bertema keluarga ini. I'm talking about hard-R director who suddenly producing a film that is suitable for a family viewing. Dengan Trainspotting, Sunshine, 28 Days later dan Slumdog Millionaire ada dalam filmografi nya, Filmmaker asal Inggris ini seolah melewatii belokan yang curam, dan ternyata tidak mengecewakan, Millions memang sangat berbeda dari film film yang pernah ditangani Boyle, but we'll not be dissapointed by some of the place where it goes.

Millions dengan uniknya mengilustrasikan kalau tidak mudah juga untuk menghabiskan uang dalam jumlah besar, terutama jika kau adalah anak anak. Sebuah cerita kontemporer yang diliputi dengan realis tapi magis dan dibumbui dengan offbeat humor, Millions bertransformasi dari drama menjadi fantasi yang menyenangkan. Millions mempunyai materi yang lebih matang daripada cerita anak anak kebanyakan, tapi untuk nama Boyle sendiri, film ini belumlah se'dewasa' film film nya yang lain. Millions menawarkan sebuah kisah tentang hati yang baik dari seorang anak kecil yang sebenarnya tidak bermaksud berbuat hal yang luar biasa, tapi malah kita yang diajari kebaikan kebaikan tersebut melalui pandangannya yang naif.

Salah satu kekuatan besar dari film ini adalah perspektif. Meskipun ada tokoh orang dewasa dalam film ini, ceritanya sendiri kita ikuti melalui sudut pandang seorang anak kecil yang lugu. Dan Damian, seperti yang dibawakan dengan cemerlang oleh Alex Etel, bukanlah anak anak berusia tujuh tahun yang biasa. Dia melihat ( atau mungkin hanya imajinasinya saja ) orang yang sudah mati - khususnya para santo santa ( orang orang kudus dalam sejarah gereja ). Uniknya, beberapa diantara visualisasi santo santa ini diwujudkan cukup nyeleneh oleh Boyle, seperti Santa Clare of Assisi, yang muncul di dalam rumah kardus Damian sambil merokok dan menyatakan bahwa dirinya sebenarnya adalah santa pelindung televisi, kemudian ada Santo Nicolas yang muncul dan membantu Damian memberikan uang tunai secara diam diam kepada sekelompok penganut mormon yang dia pikir adalah orang miskin ( yang kemudian menghabiskan uang tersebut pada "kebutuhan" penting seperti TV LCD dan alat pijat kaki :0 )

Millions mungkin mempunyai bahan bahan dasar dan materi yang agak mirip, yang membuat film Amelie ( 2001 ) begitu populer dan diterima oleh penonton ( in fact, Boyle mendeskripsikan Millions ini adalah versi "Trainspontting meets Amelie" ), yang alih alih menjual kisah romance, Millions lebih menawarkan paham tentang sebuah cinta, dan tentang bagaimana cinta itu masih kuat ketika baru berpisah dari orang yang kita cintai ( Ibu Damian dan Anthony ceritanya baru meninggal ketika film dimulai ), tentang bagaimana Damian yang masih begitu naif, merasa begitu terikat dan sayang akan ibunya dan selalu melihat Ibunya sebagai orang terbaik sedunia yang pasti menjadi seorang Santa, bahkan ia selalu menanyakan kepada santo santa yang ia lihat dan muncul sepanjang film ini, apakah mereka ada melihat ibunya di dunia para santa dan santo.

Perhaps, karena terlalu fokus memperhatikan uang uang dalam tas dan kemunculan para santo dan santa tersebut, saya jadi agak teralihkan pikirannya akan cerita utama yang ada di film ini, yang melibatkan kehidupan dua bocak laki laki  ini, ayah mereka dan seorang perempuan yang bekerja untuk amal yang nantinya terlibat dalam petualangan kecil keluarga ini. The boys sedang berusaha menerima kenyataan akan kematian ibu mereka yang masih tergolong baru, dan uang uang tersebut hanyalah pengalih perhatian mereka.
Kemudian jajaran pemainnya, yang juga adalah rahasia sukses film ini. Alex Etel dan Lewis McGibbon di film ini seperti perwujudan kembali dua aktor cilik yang pernah sangat terkenal. Etel seperti Macaulay Culkin ( Home alone ), except that he has no idea he is cute, dan kemudian juga mirip dengan Harley Joel Osment ( the Sixth sense ) yang menganggap biasa saja berbincang dengan orang yang sudah meninggal. Tidak ada yang over akting dalam film ini, no over cuteness, not a false note in their performance, dan filmnya sendiri menginjikan mereka untuk menjadi pintar, seperti teori Anthony bahwa lebih baik menukar uang uang pounds tersebut menjadi dollar baru kemudian menjualnya lagi menjadi Euro saat nilai valas euro turun setelah selesai penukaran, atau lebih baik menginvestasikan uang tersebut ke dalam properti rumah. Seriously, anak umur 9 tahun mana yang berpikir sejauh itu ? ;D


Sebuah ide tentang seorang tokoh yang tiba tiba mendapatkan setumpuk uang yang sangat banyak mungkin bukanlah hal yang sama sekali baru, apa yang original dari film ini adalah bagaimana cara uang uang tersebut dipergunakan dari tangan dua orang anak kecil dan bagaimana hal tersebut mengajari mereka tentang sebenarnya bagaiamana dunia ini bekerja, tapi tetap berpedoman pada hati nurani mereka supaya tidak tersesat di dalamnya.

 It's an uplifting motion picture that will bring smiles to faces, This is one of the best films of the year.

Millions l 2004 l Danny Boyle

by : Merista Kalorin

Trailer :

Friday, November 23, 2012

Review : The Green Mile ( 1999 )

THE GREEN MILE
Starring : Tom Hanks, Bonnie Hunt, Michael Clarke Duncan, David Morse, Michael Jeter, James Cromwell
Written By Frank Darabont
Directed By Frank Darabont

Based on novel by Stephen King




















Frank Darabont is amazing story-teller.
Setelah cukup terbuai dengan jalinan cerita yang dihadirkan oleh Darabont dalam The Shawshank Redemption ( 1994 ), kali ini The Green Mile ( 1999 ) kembali mengajak saya untuk terpaku di depan TV selama 3 jam untuk menyaksikan indahnya ceritanya yang kembali dihadirkan oleh sineas yang sudah pernah duduk di kursi sutradara, produser, scriptwriter ini. Untuk Film kedua dimana ia duduk di belakang kamera, Frank Darabont ternyata kembali ke teritori yang familiar baginya. Seperti halnya The Shawshank Redemption, yang menjadi film debut pertamanya yang diangkat dari buah pena penulis terkenal, Stephen King, However The Green Mile yang juga mengambil latar Penjara, ceritanya sendiri memperkenalkan apa yang tidak ada di dalam The Shawshank Redemption, sisi supernatural. Dan, tidak seperti kebanyakan film film yang diangkat dari novel novel Stephen King, ini bukanlah film horor. Sebaliknya, ini adalah sebuah cerita tentang penebusan, pelepasan dan keajaiban, terutama tentang penegasan bahwa keajaiban bisa muncul di tempat tempat yang tidak pernah terpikirkan oleh kita.
Itulah yang membuat The Green Mile, yang sebenarnya adalah film yang suram tapi berisikan banyak pesan pesan moral yang sangat penting.


















" The Green Mile" adalah nickname dari sebuah blok sel penjara di komplek penjara Cold Mountain, sebuah blok khusus tempat semua terpidana mati ditempatkan sebelum mereka dieksekusi di kursi listrik "Old Sparky".
Narator dan sekaligus tokoh utama di film ini adalah Paul Edgecomb ( Tom Hanks ),merupakan Petugas yang bertanggung jawab atas semua hal yang berlangsung di dalam blok khusus ini, bersama rekan rekannya yang lain, Brutus, Dean dan Harry.
Suatu hari, John Coffey ( baca : Like the drink, only not spelled the same ), seorang pria berkulit hitam yang berperawakan sangat besar, menjadi penghuni baru di Green Mile, ia terpidana mati atas kejahatan pembunuhan dan pemerkosaan akan dua orang anak perempuan dari keluarga berkulit putih. Dengan perawakannya yang seperti itu, siapa yang menyangka John ternyata orang yang sentimental, soft-spoken, dan pemalu ?
Satu persatu keajaiban terjadi di The Green Mile dan John Coffey adalah bagian dari keajaiban itu.


















 180 menit yang saya habiskan di minggu siang yang gelap karena hujan saat menonton film in. Dengan durasi yang selama itu, Darabont does an excellent job of character development. Sebenarnya, film ini mungkin bisa dipangkas secara efektif dengan durasi 2/3 nya saja, sesungguhnya untuk materi materi cerita yang ada di film ini tidak terlalu menjamin jika disajikan dengan durasi sepanjang ini. Tapi hal ini diakali dengan cerdas oleh Darabont, yaitu dengan mengajak penonton ( saya ) untuk memfokuskan pikiran ke karakter karakternya ketimbang plot cerita yang ada. Beberapa film mungkin ada yang membutuhkan 180 menit untuk mencapai puncak, klimaks dari ceritanya itu sendiri, The Green Mile is not one of them. Bagi saya, ending film ini mempunyai dampak emosional yang sangat tinggi - yang sangat sulit dielakkan, dan tentu saja hal itu terjadi dan tercipta karena jumlah waktu yang kita habiskan untuk memperhatikan satu persatu karakter yang ada, sehingga kita bisa sampai pada tahap kesimpulan akhir yang sebenarnya sudah bisa kita tebak, tapi tetap kita nantikan sampai menit terakhir. Darabont dengan cerdasnya mengajak penonton tetap asyik menyaksikan menit demi menit yang ada dengan mengandalkan fokus kepada karakter karakternya ini.


















Oke, mungkin saya agak sedikit bermasalah dengan durasi yang agak tidak mampu sejajar dengan materi ceritanya sendiri. walau begitu, The Green Mile is powerfull motion picture. Karakter karakternya tercipta dengan sangat baik, dengan Tom Hanks mengisi posisi seorang tokoh protagonis yang gampang disukai penonton ( saya ), atau Doug Hutchison sebagai Percy Whitmore, salah satu sipir yang sadis dan kejam, yang sangat baik membawakan karakter antagonis sadis di film ini yang sanggup membuat kita membenci nya pada pandangan pertama, saya sendiri mendesis terkejut sekaligus marah ketika dia mencoba membunuh Mr. Jingles, tikus coklat yang menjadi kesayangan salah satu tahanan di Mile, hanya untuk menunjukkan kearoganan dan sifat jahatnya yang tak kenal ampun.
 Dan jangan lupakan Sam Rockwell, yang juga mendapat kesempatan dalam film ini menjadi si penjahat gila yang tidak bisa dikontrol, bahkan membuat kewalahan Paul dan rekan rekannya dengan tingkahnya yang diluar batas.

 But the real standout is Michael Clarke Duncan, pembawaan yang dilakukannya akan karakter John is often touching and occasionally wrenching, dan nominasi Best Supporting actor yang diterimanya pada tahun 2000 is well deserve, walau patung emas tersebut akhirnya jatuh ketangan Michael Caine ( The Cider House Rules ). Duncan jelas standout di film ini, dan hampir menutupi performa Hanks sendiri yang likeable dan tidak terlalu berbelit belit, kita bisa dengan mudahnya menyukai Hanks disini, tapi Duncan selalu menjadi scene stealer di setiap kemunculannya, dan kau tidak bisa berpikir banyak kecuali merasa seram ( ketika pertama melihat perawakannya ), tapi kemudian menjadi penasaran karena sikapnya yang sangat bertolak belakang dengan tampilan fisik dan tentunya tuduhan kejahatan yang dialamatkan kepadanya, membunuh dan memperkosa bocah perempuan. Hal ini juga sempat membuat penasaran Paul yang agak sedikit tidak percaya dengan hal tersebut dan mendorong hatinya untuk mengetahui lebih lanjut dengan bertanya kepada pengacara yang membela John.


Meanwhile, para rekan rekan John di Mile, yang mempunyai persahabatan yang erat satu sama lain ( kecuali dengan Percy ), and it's refreshing to see them treat prisoners like human beings instead of garbage ( walalu selama menonton, kita tidak diberikan detail mendalam akan kejahatan para tahanan lainnya, jadi mungkin agak mudah bagi kita untuk melihat dan menyukai hubungan tersebut )


Salah satu adegan yang paling mengejutkan dan bisa membuat bulu kuduk merinding tentu saja ada di "Old Sparky", saat saat dimana terpidana mati menjalankan eksekusinya di kursi listrik ini, and is disturbing enough to change amost anyone's ( including me ) opinion about the humanity of using the electric chair. Jika ada bagian horor di film ini, maka  Old Sparky lah horor nya, walalu The Green Mile adalah kisah fiksi, tapi apa yang terjadi selama dan di dalam proses eksekusi tersebut adalah berdasarkan kesaksian saksi saksi hidup yang pernah menyaksikannya secara langsung. 

The Green Mile is one of those "not a dry eye" in the theater motion pictures. Dan bukan, ini juga bukanlah film drama tragis yang bisa dengan mudah membuat kita mengeluarkan air mata di setiap adegannya, tapi air mata dan kesedihan yang ada justru berada hampir di penghujung film, saat semua kisah sudah terangkum dan kita mengerti dan mengetahui banyaknya hal hal yang sudah dibangun oleh Darabont untuk membangun emosi tersebut di setiap menit dan menitnya selama durasi 3 jam tersebut. The Green Mile mungkin tidak bisa meyamai reputasi The Shawshank Redemption, beberapa bahkan mungkin akan berpendapat, tidak fair jika kita hanya menyukai salah satunya, tapi dengan pilihan pilihan yang dilakukan Darabont terhadap materi antara dua film ini, Ia telah menciptakan dua film yang sangat familiar, but yet so different, mungkin kita bisa saja mencoba membandingkan dan membedakannya satu persatu, toh saya percaya, semakin hal itu dilakukan, perbedaan yang ada justru semakin jelas dan semakin menguatkan karakter film ini sendiri.
The Green Mile, is an affecting motion picture, its failing is that it does not meet the expectations of those who were waiting to crown it the Best Film of 1999.

The Green Mile l 1999 l Frank Darabont

*******

Nb : oh ya, saya juga suka dengan diselipkannya film Top Hat ( 1935 ) nya Fred Astaire di film ini, muncul di dua scene yaitu saat ditonton Paul yang sudah renta di rumah jompo yang mengingatkannya kepada John, dan menjadi permintaan terakhir seorang John Coffey, yaitu menonton film di layar lebar, dan itu adalah Top Hat ( 1935 ). Membuat lagu yang dinyanyikan Astaire di film ini, Cheek to Cheek , membawa nuansa nostalgia akan kedua film ini. ^_^

Sunday, November 18, 2012

Review : Breakfast at Tiffany's ( 1961 )

BREAKFAST AT TIFFANY'S
Starring : Audrey Hepburn, George Peppard, Buddy Ebsen, Martin Balsam
Directed by Blake Edwards
Written By: Truman Capote, George Axelrod

Based on novel by Truman Capote

























Perjalanan saya menjelajahi masa lalu, akhirnya mengantarkan saya sampai pada dekade 1960an. Sebuah Era dimana perang dingin yang menjadi semakin dingin, John Kennedy dan Lyndon Johnson memenangi pemilu Amerika dengan jumlah perbedaan terkecil dalam sejarah, Hugh Hefner membuka klub playboy nya yang pertama di Chicago, The Flinstone yang tayang pertama kali di televisi, dan tentu saja Audrey Hepburn dengan Breakfast at Tiffany's nya, salah satu film klasik yang masih sangat sering dibicarakan hingga sekarang, dan salah satu film yang membuat Audrey Hepburn menjadi ikon mode hingga sekarang.

Kita bisa membedakan kecantikan Aktris aktris Hollywood dari yang "klasik" hingga "modern", dan saya sangat yakin Audrey Hepburn mencakup keduanya. Melihat Ingrid Bergman, Joan Crawford, Marylin Monroe, Elizabeth Taylor, Barbra Stanwyck,Donna Reed, bahkan Rita Hayworth sekalipun, kecantikan mereka selalu meneriakkan 'klasik', tapi tidak dengan Audrey Hepburn. Saat menontonya pertama kali dalam Roman Hoilday bersama Gregory Peck, saya bisa membayangkan Hepburn yang begitu cantik sangat cocok berdiri di samping Emma Stone di Red Carpet di masa sekarang, atau aktris aktris terkenal saat ini. Kecantikannya abadi dan selalu sesuai dengan era apapun.


Paul Varjak ( George Peppard ) layaknya banyak laki laki di New York saat itu, penasaran dengan sosok Holly Holightly ( Audrey Hepburn ), tetangga yang tinggal dibawah flat miliknya. Dengan Kecantikan, kepolosan dan keceriaan wanita panggilan kelas atas ini, berhasil membuatnya dipuja kaum jetset di New York, mulai dari pengusaha papan atas hingga seorang bos mafia sicilia yang mengendalikan perdagangan narkotika dari balik jeruji penjara.
Paul pun bukanlah seorang pria polos, tapi ia juga adalah laki laki simpanan seorang wanita paruh baya yang sering mendatangi apartemennya.
The guy upstair dan the girl downstair ini pun terlibat dari satu pertemuan dan perbincangan, ke pesta satu dan pesta lainnya yang sering diadakan Holly, Paul pun dibuat penasaran dengan gaya hidup Holly yang bebas, tapi tidak jelas dan membingungkan, sering lupa membawa kunci, berselisih dengan tetangganya, mempunyai kucing liar yang tidak pernah diberi nama, hingga selalu bertingkah menyebalkan dengan memanggil paul dengan sebutan Fred, hanya karena ia menyukai nama Fred dan merasa Paul cocok dipanggil Fred !.

Tapi dibalik pesta pesta yang dihadiri oleh Holly, dibalik semua pria pria yang berada di dalam hidupnya, di saat mereka sedang berdua, Paul mendapati versi yang lebih manis dari glamor Holly yang biasanya ia lihat, tersimpan kesedihan, kerapuhan dan kepolosan dari Holly yang membuat hubungan mereka semakin dekat.


 kekuatan bintang utama film ini adalah Kunci kesuksesan dari Breakfast at Tiffany's. This is a showcase for Audrey Hepburn, dimana dia yang berumur 32 tahun sedang berada di puncak karir aktingnya ( ironisnya, Capote awalnya berkeras memilih Marilyn Monroe untuk peran ini ). Walau tidak pernah menyandang gelar 'great' actress dalam kariernya, kharisma yang ada dalam diri Hepburn selalu mengiringi dirinya, dan saat itu adalah waktunya untuk bersinar. Dengan Sabrina, Roman Holiday, War and Peace, dan Funny Face dibelakanya, dan My Fair Lady yang belum keluar waktu itu, Hepburn adalah "madu" bagi box office. Perannya dalam film ini, Holly Golightly, nyaris sempurna, dan dengan banyaknya ia berganti kostum sepanjang film ( walau gaya nya yang elegan selalu mengiringi setiap kostum yang dikenakannya ). Sebenarnya, ini sama sekali bukan peran yang mudah atau hanya membutuhkan senyuman Hepburn di depan kamera dan mengucapkan dialognya, walau Holly pertama kali dikenalkan sebagai wanita yang biasa saja, sosialita yang hanya tau berpesta dan berpesta, semakin kita diajak mengenalnya, semakin kita diajak untuk mengerti rasa sakit dan kehilangan yang telah menuntunnya hingga ia nyaman dengan gaya hidupnya sekarang. Holly mempunyai kepercayaan diri yang sangat rendah dan masa lalu yang menyedihkan, sehingga membuatnya menyelimuti kehidupannya dengan keglamouran, dan hal hal gemerlap lainnya dengan keyakinan hal ha tersebut akan memberikan kenyamanan di hatinya.She's a phony, but in the words a supporting character, she's a "real" phony.

Baik Holly atau paul bukanlah tokoh yang ideal yang 'wah' untuk ukuran kota New York. Untuk membiayai her wasteful lifestyle, Holly menerima pembayaran yang cukup besar untuk mengunjungi mantan boss mafia di penjara dan menjadi kurir yang membawa pesan singkat untuk "pengacaranya". Itu sama saja hampir seperti pelacuran tanpa melibatkan sex. Sama juga dengan Paul yang menjadi simpanan wanita yang lebih tua darinya.

However, walau kedua karakter tersebut mempunyai kesalahan dan hal yang sisi yang menyulitkan, Breakfast at Tiffany's tetap merupakan sebuah komedi romantis, dibalut dengan karya indah dari Henry Mancini, lagu "Moon River", yang berhasil merekatkan 'the dreamy atmosphere' yang sedari awal sebenarnya sudah dikenalkan di awal film, melalui perkenalanan dengan kota New York yang cantik. Ini bukanlah di dunia nyata, tapi lebih ke sebuah tempat dimana seorang bos mafia adalah seorang pria yang baik, apartemen yang cozy dan cantik, tetangga yang tampan dan pasangan kekasih yang mampu melewati semua hadangan and live happily ever after. And Holly Golightly is a product of this enviromnment.

Ada dua hal yang sangat penting dalam kedalaman cerita Breakfast at Tiffany's ( terlepas dari genre umum yang membungkus film ini, komedi romantis ). Yang pertama adalah kedalaman karakter, terutama Holly. Walaupun nama dan kepribadiaannya mengesankan keceriaan, dia sebenarnya adalah pribadi yang bermasalah. Yatim piatu pada usia kecil, dan menikah dengan Doc Golightly yang baik pada umur yang cukup muda, 14 tahun, yang kemudian ia tinggalkan untuk kehidupan yang lebih gemerlap di Hollywood. Dibawakan oleh Buddy Ebson, Doc Golightly hadir sebagai seorang elder gentleman, tapi terdapat sebuah hal yang ambigu dan tidak jelas dalam hubungannya dengan Holly. For the most part, Holly has done her best to forget the past, but there are instances when it creeps into her mood, turning her sad and wistful.
.
Kemudian dialog dialognya..,walau tidak ada quote quote-quote yang populer atau familiar dari film ini, bukan berarti membuatnya cenderung biasa saja, tapi well writen dan ejoyable to listen to. Salah satu kunci kefektifan dari sebuah percakapan adalah bahwa hal itu mengalir begitu saja, they are allowed to run on naturally. Salah satu bagian terbaik dari film ini adalah saat Holly dan Paul tidak melakukan hal apapun yang luar biasa, melainkan hanya berbicara satu sama lain. Dari tahun ke tahun, dialog yang kuat selalu menjadi karakteristik yang penting dari hampir semua film film komedi romantis yang hebat, mulai dari The Philadelphia Story sampai Before Sunrise dan Before Sunset.

Untuk siapapun yang menyatakan diri kalian romantis atau siapapun yang menyatakan diri sebagai penikmat film biasa, we'll..
Breakfast at Tiffany's offers a few simple pleasures.

****
Breakfast at Tiffany's l 1961 l Blake Edwards

 Moon river wider than a mile
I'm crossing you in style someday
You dream maker, you heartbreaker
Wherever you're going I'm going your way

Two drifters off to see the world  There's such a lot of world to see
We're after the same rainbow's end
Waiting 'round the bend
My huckleberry friend, moon river and me

Moon River - Audrey Hepburn


Saya mengetahui lagu ini jauh sebelum saya mengenal siapa itu Audrey Hepburn atau Breakfast at Tiffany's, karena memang pertama saya mengenal lagu ini dari suara Frank Sinatra, yang jauh lebih banyak lagu lagu nya saya kenal ketimbang filmnya hehe..

Wednesday, November 7, 2012

Review : Roman Holiday ( 1953 )

ROMAN HOLIDAY
Starring : Gregory Peck, Audrey Hepburn and Eddie Albert
Written by Ian McLellan Hunter , John Dighton
Directed by Willliam Wyler





















Saya tidak pernah takut dibilang tua karena suka menonton film film klasik seperti ini..^_^

Tahun depan, film ini genap berusia 60 tahun, tapi Roman Holiday tidak pernah kehilangan pesonanya sebagai salah satu komedi romantis terbaik yang pernah diproduksi Hollywood. Walau film ini disutradarai oleh salah satu sutradara "kelas berat" Hollywood, William Wyler ( The best year of our lives, Ben-Hur ) dan si tampan Gregory Peck, Roman Holiday lebih dikenal sebagai debut yang luar biasa dan menjanjikan dari seorang Audrey Hepburn, yang memenangkan Best Actress di Oscar lewat film ini, film yang pertama kali memasangkannya sebagai bintang utama.


Sering dikatakan kalau hampir semua perempuan sering bermimpi menjadi seorang princess, dan mungkin juga kebalikannya, jika setiap princess selalu bermimpi menjadi seorang perempuan yang biasa. Apapun kasusnya, dengan premis yang hampir mirip,  Roman Holiday menceritakan bagaimana seorang Princess yang menghabiskan harinya tanpa identitas aslinya, jauh dari para penjaganya, mencoba kegiatan kegiatan yang jauh dari kesan glamor tapi yang sangat sederhana dan simpel, yang dilakukan jutaan perempuan biasa di dunia ini, jalan jalan, berkenalan dan berbicara dengan orang asing, menggunting rambut, berdansa, mengendarai skuter, bahkan makan eskrim sambil duduk di pinggir jalan sekalipun.

Ini adalah kisah abadi yang telah diceritakan berulang kalii dalam berbagai bentuk, seperti seorang Englishman yang berkencan dengan aktris yang sangat terkenal yang menutupi identitasnya dalam Notting Hill nya Hugh Grant / Julia Robert, atau seorang First Daughter presiden Amerika yang melarikan diri dari pengawalnya dan berpetualang sendiri ke kehidupan remaja yang biasa atau mungkin yang lebih mendekati, seorang Pangeran yang sedang kuliah dengan identitas remaja biasa seperti dalam The Prince and I.

Seperti judulnya, Roman Holiday, Ada kota Roma yang cantik, secantik Audrey Hepburn yang tampil mengesankan sebagai Princess Ann, putri mahkota dari kerajaan la la land  ( karena saya juga tidak tahu, dan tidak pernah disebutkan negaranya :p )

Princess Ann sedang dalam tur kenegaraan antar benua, pemberhentian terakhirnya adalah di Roma, dimana ia mengalami puncak emosi dan kejenuhan atas semua hal. Satu malam yang cerah, Ann memutuskan untuk kabur dari istana nya, dengan niat yang sangat sederhana, ia hanya ingin mencoba bagaimana rasanya menjadi orang biasa yang tidak dikelilingi oleh puluhan orang yang menjaganya atau mengaturnya.
Malam itu, tanpa disengaja ia berkenalan dengan Joe Bradley ( Gregory Peck ), seorang wartawan Amerika yang juga sedang meliput kegiatan Princess Ann.

Joe yang mengenali Ann, tentu saja langsung menangkap situasi tersebut dan segera memanfaatkannya sebaik mungkin. Dengan bantuan teman fotografernya, Irving Radovich (Eddie Albert), Joe bertekad untuk membuat kisah eksklusif tentang Princess Ann yang diharapkannya bisa merubah kariernya.
Dengan niat di belakang layar seperti itu, Joe menawarkan diri ke Ann untuk menemainya menjelajahi Roma dan segala keajaibannya. Hanya saja, semakin lama ia menghabiskan waktu bersama Ann, hasrat Joe untuk menulis cerita tersebut semakin luntur karena perasaan suka yang semakin kuat diantara mereka.

 I really love this story for sure.


Roman Holiday sama sekali tidak seperti film film komedi romantis yang ada belakangan ini, yang seringkali terjebak dalam pakem yang membosankan dan eksekusi yang membingungkan, sangat menarik di awalnya, tapi kedodoran dan jatuh di belakangnya.
Ada sesuatu yang 'anggun' dalam film ini. Ini adalah sebuah dongeng yang manis yang premisnya masih sering dipakai hingga saat ini. Plot ceritanya ditata sedemikian rapi dengan barisan barisan dialog yang kocak, cerdas dan menyenangkan. Sesuai dengan judulnya, Roman Holiday, merupakan liburan yang menyenangkan yang diisi berbagai petualangan petualangan kecil dan berkesan, banyak senyuman dan perasaan gembira, walau hanya duduk dan mengobrol di cafe pinggir jalan sampai menghadiri pesta dansa yang heboh karena dipenuhi agen agen rahasia yang malah ditangkap satu persatu oleh polisi, dan akhirnya sampai pada 20 menit terakhir yang paling menyentuh dan penuh keintiman dalam hubungan Joe dan Ann, ketika liburan bersama mereka harus berakhir, dentang jam 12 yang menandakan Cinderella pun harus berpisah dari pangerannya. Every party has to end dan liburan kali ini pun ditutup dengan ending yang sangat hebat.

Chemistry antara Gregory Peck dan Audrey Hepburn dalam film ini tidak terbantahkan, keduanya membuat film ini begitu menarik untuk dilahap sampai detik terakhir, dan dengan sedikit olesan humor kocak yang dibawakan oleh teman Joe, Irving Radovich, Roman Holiday sukses membius saya akan keindahan filmnya sendiri, dengan latar kota Roma yang saat itu masih belum dipenuhi kendaraan, tapi jalanan yang masih bersih, pejalan kaki, sepeda, skuter dan cafe cafe pinggir jalan, serta penjual bunga, eskrim dan lukisan.

Gregory Peck yang saat itu sudah besar namanya lewat film film seperti The Yearling, Spellbound, Gentlemen's Agreement, menerima dengan senang hati menjadi Joe Bradley di Roman Holiday. Naskah awalnya sendiri sebenarnya diperuntukkan untuk Golden boy hollywood saat itu, Cary Grant, tapi ditolak Grant dengan alasan ceritanya terlalu berfokus pada Princess Ann, dan ia tidak ingin perhatian publik nanti malah jatuhnya ke Audrey Hepburn yang saat itu adalah aktris baru di Hollywood. Keputusan Peck bukannya tanpa alasan, dengan karier yang panjang di Hollywood dan dunia teater, tapi baru di film inilah, ia bisa mengeluarkan sisi komedi dalam dirinya sekaligus menjadi film romcom pertama baginya. Saat Mr. Wyler mengumumkan hanya akan menuliskan nama Gregory Peck yang lebih terkenal dalam poster poster promosi film ini, hal ini ditolak mentah mentah oleh Peck. Peck bersikeras untuk juga ikut mencantumkan nama Audrey Hepburn disamping namanya, karena ia yakin, Hepburn adalah "the next big star", dan ia benar, Audrey Hepburn bersinar dengan cemerlang di film ini.
Persahabatan antara Peck dan Hepburn pun tetap berlangsung berpuluh tahun lamanya.

Roman Holiday bukanlah debut karir dari Audrey Hepburn, tapi film inilah yang pertama kali memberikannya kesempatan untuk berdiri di panggung utama, dengan tak menyia nyiakannya, Hepburn berhasil bersinar dengan kecantikannya dan aura glamor seorang bintang besar ( yang akan segera disematkan padanya ). Hepburn memenangkan Oscar lewat tokoh Princess Ann, dan ini bukannya tanpa alasan atau mengada ngada, ia berhasil membius seluruh penonton dengan karakter Princess Ann yang tampil begitu cantik dan mempesona di semua scene, dan juga sukses membius saya atau mungkin juga para juri-juri Oscar pada saat itu dengan auranya magisnya sebagai putri bangsawan yang cantik, anggun dan penuh keceriaan, tapi juga mellow dan memiliki kesedihan tersendiri.
Roman Holiday memulai sebuah era yang sangat memorable untuk Hepburn, berlanjut dengan Sabrina Fairchild dalam Sabrina ( 1954 ), Holly Golightly dalam Breakfast at tiffany's ( 1961 ) atau sebagai Eliza Doolitle dalam My Fair Lady ( 1964 ).Penampilan Hepburn dalam film ini, membuat pesona Gregory Peck memudar.
Peck is fine in the role of Joe bradley, but he is diminished whenever he shares the screen with Hepburn.

Film ini dibuat langsung di Roma, Italy ( in fact, terdapat notes notes yang di opening credits nya, untuk membuat yakin para penonton bahwa mereka tidak sedang menyaksikan drama panggung yang layarnya diubah ubah..haha..). Hal ini mengijinkan Mr. Wyler untuk mengeksplor dan memperlihatkan 'wajah' terbaik dari kota paling terkenal di Italy ini. Dengan sinematografi hitam putih, seakan akan membantu membawa film ini keluar dari kenyataan dan meletakkannya ke dalam sebuah tempat dimana dongeng itu berada.


Yeah, Roman Holiday merupakan contoh konkret bagaimana romcom yang bagus itu dibuat. Kisahnya akan tetap abadi, mungkin bertahun nanti akan ada saja versi remake nya dengan premis dan alur yang sama, dengan setting yang lebih mengagumkan dan aktor aktris yang tak kalah cantik dan tampannya, tapi saya mungkin akan tetap mengalami kesulitan untuk melihat mereka menandingi pesona luar biasa antara Audrey Hepburn dan Gregory Peck.
Roman Holiday memberikan semua yang dijanjikannya, mulai dari kisah romance, kisah cinderella yang rindu dengan kehidupan biasa dan pangeran dalam wujud wartawan bengal tapi tampan.

Roman Holiday is about the possibilities of love more than the concrete realities. It reveals something most romantics recognize: the ideal love affair is almost always one that is never consummated. Especially in circumstances like these, fantasy trumps reality.