Sunday, December 30, 2012

Me and movie ; An unexpected journey


I love movie since i can remember. That’s for sure.

Sooo.., boleh dibilang  keluarga gue semuanya hobi nonton, mulai dari bokap – alm. Nyokap – kakak 1 – kakak 2 – adek. So can you imagine how loud and crowd when we are still living in one roof ? Lucunya, selera nonton semuanya gado gado. Mulai dari bokap yang dulu seleranya sangat berkelas dari tontonan sejenis Ben-Hur, film film Bruce Lee, film film gangster, triad, silat dan kerajaan hingga njleeeep... ke level shitnetron saat ini #jedot kepala sendiri. Nyokap yang seinget gue sangat hobi nonton telenovela seperti maria mercedes, Esmeralda, cinta paulina dan kakak kakak perempuan gue yang betah nongkrongin drama drama taiwan seperti Putri Huan Zhu, Kabut Cinta yang ndilalah..panjang episodenya ( gue masih inget, 1 episode bisa 60 menit, dengan jumlah episode yang bisa diatas 50 !! ) pokoknya film filmnya Alex Su dan Vicky Zhao yang saat itu idol bagi wanita dewasa nanggung kayak kakak kakak gue diawal tahun 2000an. Gue and adek gue sendiri yang Cuma beda 1 taon, dulu seleranya hampir hampir sama ( maksudnya sama sama alay nya ). 

Oh yesss, gue pernah melalui fase F4, dimana saat itu di pikiran remaja tanggung nan alay kayak gue , Jery Yan, Vic Chou, Vanness Wu dan Ken Zhu itu adalah ciptaan dan hadiah Tuhan untuk perempuan perempuan di bumi ini ( Gosh..i can’t believe i still remember their name ( _ _”). kemudian, setelah fase itu selesai ( tepatnya karena kecewa Meteor Garden 2 yang gembel banget ceritanya, bayangkan ! Sanchai dan Tao Mingse hanya bersama di episode perdana dan terakhir ckckcck..#gagal moveon *on denial ).

 *uhuk* oh ya lanjut, setelah era itu selesai, mulai perlahan deman korean wave, dimulai dari wabah banjir air mata di film Endless love nya Song Hye Kyo dan Song Seung Hoon dan si hottie saat itu, Won Bin, dan sampailah di tahap dimana drama drama korea keren saat itu berlanjut hingga sekarang, dimulai dari Princess Hours ( still don’t understand with it title though ) yang sanggup bikin cewek manapun saat itu bergangnam style saking terlena dengan cerita upik abu nya itu. Let’s see, era Princess Hours itu waktu gue masih junior di SMA, thats mean puncak ke alay an seorang remaja yang sedang mencari jati dirinya. ^_^ ( dan Demi Dumbledore, gue selamat ! ). Oh ya, hingga sekarang, dimana sudah tak terhitung lagi hal hal berbau korea yang menimpa jutaan penduduk Indonesia, termasuk adek gue sendiri yang saat ini sudah cukup mengerti dengan otaknya sendiri, sudah terlena lena dengan all about K-Pop beberapa tahun ini ( kayaknya udah fixed deh, gak bisa diperbaiki lagi seleranya hahaha..).
Tapi gini gini, gue juga demen loh matengin drama drama korea dulu >0<. i'm an ex-Kpop lovers.
 
Lalu diantara fase fase itu semua, dimana kah gue, yang menurut Vogue Magazine sangat sangat mirip Marion Cotillard ini berada ?

Aaahh.. gue seperti gak ada identitas saat itu ( maklum masih dalam pencarian jatih dirih )

****


 








I love movies........................ 

Because I can remember every detail of my first viewing of "Star Wars" as if it was yesterday.  

Because the loudest audience cheer I ever heard was after James J. Braddock is crowned as the World Heavyweight champion after beating Max Baer in "Cinderella Man"

Because the loudest screams I ever heard came when Carrie's arm appeared from below the rocks and clutched her friend's arm at the end of "Carrie."

Because Gene Wilder makes me laugh simply by looking at him. 

Because "Singin in the Rain" always makes me smile and laughing at clouds so dark up above 

Because of Harry Potter keep me fansgirling for the last 10 years 

Because the blind girl regains her sight and realizes the Tramp is the man who loves her in "City Lights." 

Because father shielded evil from son to the very end in "Life is Beautiful." 

Because of 525.600 minutes, 525.600 moment so dear in "R.E.N.T"

Because of John Travolta's dancing in "Saturday Night Fever." 

Because of Fred and Ginger dancing cheek to cheek 

Because long time ago "Superman: The Movie" made me believe a man could fly. 

Because we'll always have Paris. 

Because frankly, my dear, I don't give a damn. 

Because George Lucas gave us a night of cruising in 1962 and then took us to a place a long time ago, in a galaxy far, far away.

Because the opening scene from "Raiders of the Lost Ark" is better than most other movies endings. 

Because of Richard Gere carrying off Debra Winger in "An Officer and a Gentleman." 

Because I am your father.

Because I'm going to make him an offer he can't refuse. 

Because Judy Garland sang 'Over the Rainbow.' 

Because every time the camera would go back upstairs in "The Exorcist," anxiety grew a little more. 

Because it wasn't the airplanes. It was Beauty killed the Beast. 

Because "Ordinary People" was the first film to teach me that life, at no matter what age, is never easy or fair. 

 

Eniwei, seriously >0< , gue pikir setiap kali kita nanyak banyak orang kenapa mereka nonton film, kebanyakan dari mereka mungkin akan menjawab kalau film adalah sekedar hiburan, enterteiment bahasa kerennya. Gosh..terdengar standar dan klise sekali, tapi sayangnya, at the end of the day, IT IS about enterteiment. Para aktor dan sutradara yang memang bekerja keras untuk menggaet penonton kedalam sebuah cerita dimana karakter karakter yang ada di film itu atau setting setting tempat yang unbelievable itu bisa memberikan kesenangan selama beberapa jam kedepan. People go to comedies to laugh; they go to romantic dramas to cry; they go to horror films to be scared; and they go to action flicks to whet their violent appetite and adrenaline rush. Orang orang ini tau dengan apa yang mereka harapkan dari sebuah film ( yang salah nge-set ekspektasi sih, salah mereka sendiri *_* masa lagi galau nonton 500Dos dan Blue Valentine, atau lagi hopeless romantic nontonya Explendables, atau lagi pengen ngeliat aksi darah dan baku tembak, nontonnya twilight..ckck..at your own risk, dude..! :D ). 

 

Ketika film film yang mereka tonton bagus, maka ekspektasi mereka terpuaskan. Gue juga gak beda beda jauh sebenarnya. Gue mau ketawa, nangis, sedih, ketakutan, tereak maling, galau, gugup, dan tetep harap harap cemas akan good ending buat aktor utamanya. Dan film film yang i consider the best adalah film film yang bisa menghasilkan semua emosi itu . ( ralat sebelumnya ; terak aja, bukan tereak maling ).
Film dengan cepat menjadi pelarian gue dari kenyataan. Bukannya gue korban felem ye atau delusional, maksudnya, prinsip ini mungkin hampir sama buat semua orang, whenever i was having a rough day ( and trust me, there’s quite a number ), sekarang ini gue bakal melampiaskan nya dengan nonton film atau sekedar nonton film film yang udah jutaan kali ditonton ulang, seperti serial FRIENDS ( yang by the way, serial ini adalah perwujudan dari Bhineka Tunggal Ika buat gue dan saudara saudara gue, walau selera felem kita sewarna warni rainbow cake, tapi FRIENDS adalah pemersatu selera kita, thanks Chandler Bing a ling !  )

Gue dengan segera mulai agak terbenam ketika menonton film, terbenam ke titik titik dimana ini muka gue ini gak bisa dijauhkan dari layar tv saat nonton. Kisah kisah dalam film yang bertransformasi menjadi sesuatu yang pernah gue lihat atau alami. Gue bakal menyelam sedalam mungkin kedalam story line nya, supaya  bisa merasakan semua hal yang dirasakan karakter favorit  di dalam sebuah film, Berkonsentrasi dengan setiap dialognya, menatap detail detail kecil dalam setting tempatnya, dan mempersiapkan telinga untuk mendengar music score dan soundtrack soundtrack nya yang sering mewarnai ilmu musik gue yang tiarap ini. :D
Membaurkan diri kedalam sebuah film yang kita sukai adalah momen momen memuaskan yang akan kita alami, tapi bukannya hal itu akan selalu kita alami dan jelas bukan hal yang mudah. Kau harus bersiap ketika itu terjadi, beberapa film mungkin lebih mudah diakses buat kita untuk ikut membaur, and those are the ones you know will be good.

Gue menyukai satu momen langka seperti : film film yang gue tonton yang adalah kebetulan atau tanpa ada ide apapun soal film tersebut ( berbeda dengan sekarang, dulu gue males banget kroscek di IMDB ata Rotten Tomatoes ), dan ternyata bagus dan memuaskan ekspektasi kita yang saat nonton itu dari O menjadi 7-10, bukankah itu menarik ? film film yang kita tonton tanpa ekspektasi apapun awalnya, yang mungkin hanya sebagai pengisi waktu luang tanpa ada ketertarikan, tiba tiba terasa ditampar oleh film itu sendiri karena pada akhirnya kita puas dan terpesona bahkan masih terngiang ngiang di kepala untuk beberapa lama. Hehe..semoga hal hal seperti ini lebih sering terjadi ketimbang terjun bebas dari film film yang sudah diharapkan bisa begitu cetar membahana tapi malah berubah menjadi bencana *lebay 

Sejak bergabung ke dalam sebuah komunitas film XY di sebuah jejaring sosial, mungkin boleh dibilang saat saat itulah selera gue akan film film mulai terbentuk. Gue yang kebanyakan nonton film film drama, dibuat surprise dengan hal hal baru seperti banyaknya film film nyeleneh yang selama ini out of my radar, dan banyaknya orang orang disitu memiliki ketertarikan yang besar akan genre genre tertentu.
( sahabat gue super unyu menyukai film film dengan tema tema keras, disturbing, film film yang membutuhkan ketahanan mental dan pikiran dalam mensuplai isi filmnya sendiri, dan no, sahabat gue cewek cantik tulen jelmaan Judi Dench versi 40 tahun yang lalu yang kebetulan saja anti mainstream, *uhuk* walau pernah disangka lady boy, but who doesn't anyway? haha..*potensi dituntut bersimpuh minta maaf sehabis ini ). 

Gue bukannya ngga mau ikutan keren kayak gitu ( hihi... dimata banyak pecinta film, bisa mencerna dan menyukai film film Kubrick, Hitchcock, Scorsese dan Terence Mallick dan film film hipster dan segmented lainnya. berarti elo udah dalam level keren kw 1, 4 tingkat lebih bergengsi ketimbang fans film film Uwe Boll dan KK Dheraaj ), tapi seiiring waktu, dimana mental film gue mulai terbentuk, secara perlahan tapi pasti gue mulai berkiblat ke arah klasik.
 Oh yeah, baby, Classic movies, film film hitam putih abu abu yang tahunnya bisa mbikin kita teringat dengan sesepuh sesepuh di keluarga masing masing, film film yang keluar di tahun tahun yang mungkin tahunnya selama ini kita lihat di buku sejarah.

Film film dimana hampir sepanjang durasinya lo bakal liat aktor aktornya berpakaian rapi lengkap dengan setelan jas, suspender dan topi, para aktris yang berpakaian almost-daster versi lebih keren, bertopi dan hampir sepanjang durasi berbicara dengan lantunan kalimat yang santun dan berirama.

Toh saya tidak pernah takut dibilang tua karena menyukai film film klasik seperti itu..
There’s something that i can’t explain, ada faktor X yang membuat gue sangat tertarik dengan film film klasik, walau pesona James Stewart atau Gary Cooper yang sebenarnya memang sulit dihindari sih..haha..#Blushing ( masih belom menjelajahi hottie hottie lain di era era itu ).


Asiknya, gue masih dalam tahap awal, dan masih sangat banyak film film klasik yang menunggu untuk ditonton. Entah gue nya yang pinter milih atau memang kualitasnya memang begitu, tapi sejauh ini film film klasik yang gue tonton tidak pernah mengecewakan, bukannya mainstream dan mem beo perkataan banyak kritikus terkenal di internet, toh memang film film klasik memiliki banyak hal hal yang sangat sulit ditemukan di film film sekarang. Seperti film film romance yang tidak mengumbar adegan mesra atau six pack sang aktor utama, tapi lebih ke story line yang dibangun dari awal untuk memberikan atmosfir yang pas yang dipadu dengan dialog dialog yang begitu mengena, tapi ambigu serta banyak innuendo innuendo yang meminta perhatian fokus kita untuk mengerti, serta banyak hal lain lagi yang ketika gue sadari, that’s when i know i fall in love with classic movie.

Bergabung dengan sebuah komunitas film XY di sebuah jejaring sosial mungkin salah satu hal terbaik yang ada. Sebuah dunia ( tapi maya ) dimana elo gak diliat seperti Orc dari Mordor saat mendebat inti inti film Prometheus dan membahas cerita cerita dari Middle Earth nya LOTR, tapi sama normalnya dengan mereka sendiri haha ( at least dari kacamata yang sama :p )..dan dari sini gue mulai mendapat banyak hal, film ? tentu saja, tapi lebih dari itu, gue mendapat hal yang lebih gak bisa diukur dengan film film terbaik AFI sekalipun.


 " The only achievement I am really proud of is the friends I have made in this community." - Gary Cooper











****

Tulisan ini merupakan sebuah proyek rombongan antara sesama pecinta film yang saling mengenal, sekaligus blogger yang dikerjakan dengan ciri khas dan kekreatifan masing masing, dengan tema yang sama. 

mau baca curhatan mereka, it said 'cekidot, gan!!' :

* Eneng Indanavetta Dench > Read here
* Algitya Pratomo > Read here
* Lucky Ramadhan > Read here
* Arief Noor Iffandy > Read here 

* Heru Chrisadi > Read here
* Natanael Christanto > Read here
* Zul, Guci dan Jenggot Onta > Read here
* Triyanto Dalay > Read here
* Bahana Damayana > Read here
* Aditya Saputra > Read here
* Bandhi Abstar > Read here

____________________________________


Pangkalpinang, 31 Desember 2012
Mery Ng

Friday, December 21, 2012

I love you for sentimental reasons

Dear Mom,

I woke up this morning with you on my mind, as I so often do. 
It's been 14 years since you've gone. I have such a difficult time believing it's been that long. I was 10 years old when you passed away. For many people, at age of 10, everything about life, all figured out by then, i really didn't. There was so much more, mom.
I need to share with you and learn from you...so much more . I guess that life, at no matter what age, is never easy or fair.

You know wha'ts funny, Mom ? often when i look in the mirror, i always hope to see you in me. They say the daughter becomes the mother and the mother becomes the daughter. Did i ever look like you, even a little bit part ?

I stil remember, you are one of the most compassionate, cheerful person in my early memories. You have beautifull smile and joyful laugh, and you can cook like a pro, even it just scramble eggs :p. I think I inherited your love for cooking, remembering you, cooking in kitchen in our old house brings back some warm memories for me and almost makes me feel like you're still here.

I can only imagine how happy you must be up there in Heaven with many other loved ones. You must be rejoicing every single day. I often think about how wonderful it would be if you could just pay me a quick visit for a little while to let me know how great Heaven truly is. If that ever happen, the problem is, with that is I most likely wouldn't want to let you go, even though i know that Heaven is where you'd rather be.

Mom, i just want to let you know that i love and miss you dearly, but i'm doing okay. By the grace of God, i'm learning ( maybe always will ) to make it in this world without you .i'm trying to be the best daughter and mom ( in the future ) i can possibly be. You were an incredible role model and i'm so gratefull for all the life lesson you taught me in our short time.


Love you with all my heart, Always Have, Always Will

Your daughter


***********

Happy mother's day, mommies..December, 22nd, 2012
To Every mom in the world, to my dear sisters, and my best friend.
you guys are rocks !! 












Rust and Bone ( De rouille et d'os ) ; 2012


Rust and Bone ( De rouille et d'os )

Stars : Marion Cotillard, Matthias Schoenaerts and Armand Verdure
Writers : Jacques Audiard (screenplay), Thomas Bidegain (screenplay)
Director : Jacques Audiard



















This is not a storybook love affair.

Si pria penggerutu, kasar, tidak berpendidikan dan memperlakukan anaknya sendiri dengan ceroboh dan wanita sebagai sebuah objek pelampiasan hawa nafsu nya. Satu satu nya kelebihan - kesenangan dalam dirinya sepertinya hanya memukuli orang orang mabuk keluar dari bar.

Si wanita berpenampilan sensual, wanita berpendidikan yang hanya mencintai dua hal - berdansa dan bekerja dengan hewan hewan. In fact, dia memang bekerja di sebuah wahana rekreasi laut,  sebagai pelatih ikan ikan paus pemangsa.

Hingga kemudian si wanita mengalami kecelakaan yang mengerikan, yang mengakibatkan kedua kakinya diamputasi dan menjadi lumpuh. Hidup dan pekerjaannya seperti dirampas dan dipaksa untuk belajar sebuah cara baru untuk hidup.


















Rust and Bone  bermodalkan dua bintang berkarismatik, Matthias Schoenaerts ( aktor kekar dan bulky asal Belgia yang juga sukses dengan Bullhead tahun kemarin ) dan Marion Cotillard. Cotillard sepertinya belum benar benar bisa masuk ke dalam lingkaran peran peran utama di Hollywood pasca kemenangan epiknya di Oscar 2007 sebagai Edith Piaf di La Vie En Rose. Sejauh ini, dia ikut ambil bagian dalam 2 film Christopher Nolan, The Dark Night dan Inception sebagai love interest aktor utama, dan juga ambil bagian dalam film Woody Allen tahun kemarin, Midnight in Paris, yang juga love interest aktor utama.

Maka, Rust and Bone this year comes as a welcome reminder, betapa georgeus dan menawannya Marion Cotillard. Dia seharusnya tidak dibatasi dalam peran perannya, seperti halnya sebagai wanita cantik yang selalu menjadi buruan para lelaki. Karakterya dalam film ini, sebenarnya juga tidak berbeda jauh.
Stéphanie mempunyai sex appeal yang tinggi, seorang wanita modern yang independen, trainer hiu pemangsa di siang hari dan gadis pesta di malam hari yang kebetulan berjumpa dengan Ali ( Matthias Schoenaerts ) yang bekerja sebagai security di sebuah nightclub, yang menolongnya dari serangan pria mabuk dan kemudian mengantarnya pulang.

Setelah Stéphanie kehilangan kedua kakinya, dia memasuki sebuah era depresi, dengan ekspresi yang sedingin es dan menutup diri dari dunia, di tengah semua hal tersebut - untuk alasan yang tidak pernah jelas- dia berinisiatif untuk menelpon Ali yang dikenalnya sebatas malam itu saja, saat ia diantar pulang. Perlahan, keduanya semakin akrab dalam hubungan pertemanan biasa, Ali pun sering mengajaknya ke pantai, dimana keduanya menghabiskan banyak hari hari mereka dengan berenang, dan hanya sedikit dialog yang terucap diantara keduanya.

Ditangan sutradara tertentu, materi seperti ini, mungkin bisa dibawa ke arah sebuah kisah romance yang mendayu dayu, dan menginspirasi dengan kisah cintanya. Tapi tidak dengan Rust and Bone. Tidak semua penonton akan setuju atau terayu dengan gaya film ini, yang mungkin lebih bisa diklasifikasikan sebagai romantic naturalism. 

Dan inilah setup yang ada di Rust and Bone, mungkin tidak semua penonton mengharapkan hal ini. Saya sendiri tergolong yang terkejut saat mengetahui Stephenie kehilangan kedua kakinya. Walau seiring perkembangannya, apa yang terjadi dengan heroine kita ini adalah sebuah tragedi, tapi dia tidak menjadi setragis yang bisa kita pikirkan. Afterward, she is a spirited - and as sexual as ever.
Dengan apa yang terjadi terhadap Stephenie bisa kita katakan ia kehilangan ( quite literally ) bagian tubuhnya. Dan kemudian apa yang terjadi pada Ali, mungkin secara emosional, adalah seluruh tubuhnya. Ia tidak pintar, bahkan kurang berempati dalam bersikap, hanya memiliki kekuatan tubuh dan hanya tertarik melampiaskan nafsunya kepada wanita seperlunya. Ali, secara fisik, melengkapi Stephenie. ( and no, not in any sort of mushy, you complete me-Jerry Maguire way either hehe..)

It's great, rich melodrama, and helped along by it's stars. Cotillard yang memberikan performa bagus sepanjang durasi film ini, sebagai wanita yang belajar untuk hidup kembali, masih berusaha mandiri, agak kaku dan unsentimental and unembarrased too di film ini dimana terdapat beberapa adegan seks yang lumayan graphic. Dan Matthias Schoenaerts juga bagus membawakan peran pria yang terluka dibalik penampilan kasarnya ini.

It's also an intersting movie, dari tema nya saja, dan juga karena ini dari sutradara yang sama yang telah membuat "The Prophet" ( google it, guys ) dan berhasil membawa film ini dengan irama abu abu ( istilah saya sendiri hehe..) tidak dengan dialog dialog yang kering tapi lebih ke jenis jenis emosi yang masih setengah matang yang kadang muncul di tempat tempat yang tidak kita kira, dan uniknya banyak melewatkan bagian bagian yang biasanya malah menjadi adegan adegan pamungkas dengan film film yang bertema sejenis. Seperti contohnya insiden yang dialami Stephenie, tidak diperlihatkan dengan gamblang atau gory ( seriously, adegan manusia yang dimakan ikan paus pemangsa bisa sehalus apa sih ya ? ), tapi Audiard membawa adegan tersebut terlihat artsy dengan permainan air, darah darah yang tercampur dengan air, dan point of view dari paus itu sendiri sebelum akhirnya ia menerkam tubuh Stephenie.

Dan tentu bagian bagian cerita yang biasanya bisa dibuat tear-jerking, adegan adegan dimana Stephenie yang menjalani rehab contohnya, dimana perjuangan ia kembali untuk menjalani hidupnya dengan cara cara yang sama sekali baru - are skipped over.
Yes, Stephenie tentu sangat shock pada awalnya, kemudian depresi, bahkan ia sering menjadi malu dengan keadaannya. Kemudian ia perlahan mulai belajar untuk menggunakan kursi roda dan berkeliling sendiri di apartemennya, dan kemudian membiasakan diri dengan kaki palsu yang nanti menunjang kelumpuhannya. See, seharusnya bagian bagian ini biasanya bisa dieksploitasi habis habisan oleh banyak sutradara, memancing simpati, emosi dan perasaan haru. Tapi, disini, Stephenie dan filmnya sendiri asks for neither our pity nor applause.

Ali ternyata juga adalah karakter yang mengejutkan. Awalnya, mungkin ia hanya terlihat sebagai orang yang kasar, dan berkelakuan sangat tidak santun, kasar dengan anaknya sendiri, dan terlalu gampang untuk terlibat dalam pertengkaran. tapi perlahan, kita mulai menyadari, mungkin ada satu hal yang memang ia bisa lakukan sekaligus ia cintai. Tinju. Ia kemudian mulai terlibat dalam beberapa pertandingan tinju gelap dan bebas, dimana tidak ada pengaman ataupun batas, yang tentu juga sangat membahayakan.

Dan berkat kecerdasan dan dukungan Stephenie lah, yang mengijinkannya untuk terus mengikuti dan menekuni jalur tersebut. Yes, she completes him, too.
Of course, things get complicated. Kedekatan pertemanan mereka yang mengantarkan mereka juga sebagai "teman" di ranjang mulai terlihat rumit saat Stephenie mulai berpikir ia menginginkan lebih, dan Ali yang tidak percaya ia bisa memberikan apa yang diinginkan Stephenie.

Clearly, it's time he, and we, rethought exactly who the strong one in this relationship/
But rethinking what we thought we knew, about love, sex and disability is what "Rust and Bone" is about.
Be Carefull, the film warns us - we may know less about those things than we think. And one day, we too may be forced to find out we don't know ourselves at all.


Monday, December 10, 2012

Review : It Happened One Night ( 1934 )

IT HAPPENED ONE NIGHT ( 1934 )
Stars : Clark Gable, Claudette Colbert
Writers: Robert Riskin (screenplay), Samuel Hopkins Adams (short story)
Director : Frank Capra




















Ada yang familiar dengan istilah "Screwball Comedy" ?

Screwball Comedy akan selalu lekat dengan It Happened One Night, begitu juga sebaliknya. Screwball Comedy sangatlah populerdi Amerika selama the Great Depression, bermulai dari awal 1930, berkembang dan berlanjut hingga awal 1940an, dan merupakan genre komedi utama di Amerika saat itu. Dalam Screwball Comedy, banyak karakter karakter sekunder yang katanya mirip dengan film film Noir, tapi yang membedakannya adalah karakter wanita yang lebih mendominasi dalam suatu hubungan dengan karakter utama pria, yang sering dalam ceritanya, maskulinitas sang pria ditantang. Elemen lainnya juga termasuk pengulangan beberapa adegan, situasi yang berpotensi humor, tema sampingan yang seperti melarikan diri dari sesuatu, dan plot cerita yang kadang melibatkan konflik dua kekasih atau pernikahan, oh ya, dan juga seringnya berlatar seperti konflik kelas sosial dalam banyak film, seperti juga dalam It Happened One Night, and guess what ? semua ciri ciri Screwball Comedy diatas ada dalam It Happened One Night.



















Meet, Ellie Andrews (Claudette Colbert), gadis cantik tapi manja anak seorang Milyuner, yang memutuskan kabur karena sang ayah berusaha menggagalkan pernikahannya dengan si petualang nan playboy King Westley (Jameson Thomas). Dalam perjalanan bus menuju New York, Ellie bertemu Peter Warne (Clark Gable), seorang wartawan yang sering mempermainkan bos nya. Tak butuh waktu lama, bagi Peter untuk mengetahui identitas Ellie, karena sang ayah yang mengumumkan di koran tentang kaburnya Ellie dan hadiah 10,000 dollar bagi siapa saja yang berhasil menemukannya. Mengetahui hal itu, Peter yang juga melihat Ellie sebagai bahan eksklusif untuk beritanya ( karena karier nya yang sedang di ujung tanduk ), berniat membantu Ellie mencapai New York dengan segala cara saat bus yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Well, may i say, kemudian..beberapa malam yang mereka habiskan bersama inilah yang penuh dengan kejadian lucu, iconic dan memorable..hehe..

Apa sih yang sebenarnya kita butuhkan untuk tertawa ketika menonton sebuah film komedi cerdas ?
Dialog nya. ya, dialog menjadi sangat krusial dalam setiap screwball comedy seperti ini. Hampir setiap adegan di film ini memiliki dialog yang lucu, cerdas dan memorable, lihatlah saat Peter dan Ellie yang sedang berada di kamar penginapan digerebek oleh sekumpulan orang yang sedang mencari Ellie, dan mereka berakting sebagai pasangan suami istri yang sedanga bertengkar dengan sangat menyakinkan, Gable yang berusaha menampakkan mimik dan raut muka serius yang sedang marah dengan "istrinya", dan Ellie yang selalu berusaha menutupi wajahnya didepan orang orang tersebut, sambil mengikuti akting Gable yang meyakinkan, atau scene saat mereka sedang menunggu tumpangan di pinggir jalan. Oh belum lagi, saat Peter memaksa Ellie untuk makan wortel mentah sebagai pengganjal perut ( kabarnya, iconic moment inilah yang menjadi inspirasi Bugs Bunny yang sering tampil memakan wortel :D ).
Dan walapun ceritanya tergolong sederhana, detail detail kecil yang ada di film ini sungguh menyenangkan, penumpang bus menyanyikan lagu bersama-sama, penjual makanan di tempat pemberhentian yang menawarkan makanan, atau ketika Peter membentangkan "walls of jericho" ketika mereka terpaksa berada dalam satu kamar di penginapan. Sungguh rentetan adegan yang berhasil membuat saya tersenyum dan sesekali tertawa lepas...hahaha.

 Menariknya, dalam film yang berhasil membawa ke 5 major oscar ( Best picture, Best Actor, Best Actress, Best Director, Best Screenplay ) ini, sempat membuat Frank Capra tertatih tatih. Baik Gable atau Colbert bukanlah pilihan utama, pilihan pertama dijatuhkan ke Robert  Montgomery sebagai Peter, yang kemudian ditolaknya setelah membaca script filmnya, untuk peran Ellie sendiri, sebelum jatuh ke Colbert, peran itu pernah ditawarkan ke Myrna Loy, Margaret Sullavan, Loreta Young hingga Carole Lombard, ini mungkin terlihat seperti film Casablanca, yang dimana aktris utamanya sama sama bukan first choice sang sutradara, tapi malah menghasilkan salah satu pasangan yang memiliki chemistry yang hebat dan ikonik.

Frank Capra adalah salah satu dari sutradara berpengaruh yang gaya gaya nya sering diikuti oleh sutradara setelah era nya. Sutradaa yang berdarah Sicilia, italia ini memulai kariernya dengan menyutradarai banyak film film bisu, dan dengan It Happened One Night, yang ikut menjadi pionir akan film film bersuara. Capra juga sukses menyutradari banyak film film besar dan film film romance di era era awal film klasik, termasuk You Can't take it with you, It's a wonderfull life, Arsenic and Old lace, dan trilogy tiga pria berprinsip kuku dan berhati baik dalam Mr. Smith goes to washington, Mr. Deeds goes to town dan Meet John Doe ( beruntung sekali, "trilogy" ini sudah pernah saya tonton semua..>0< ).

Well, Gable yang awalnya ogah ogahan ketika memulai proses film ini ternyata bisa dengan sangat baik membawakan karakter seorang wartawan yang sinis dengan orang orang kaya, pintar berbicara tapi tetapi berprinsip. Dibalik kesuksesan nya sebagai Peter, ternyata peran Peter yang dibawakannya ini adalah bentuk "hukuman" yang diberikan oleh Louis. B. Mayer yang saat itu merupakan petinggi MGM studio yang menaungi Gable. Columbia Picture yang menaungi film ini saat itu hanyalah studio kecil yang tidak memiliki artis ternama, maka ketika Capra berniat meminjam Robert Montgomery dan Myrna Loy kepada MGM, yang kemudian ditolak karena kedua bintang tersebut tidak bisa, L.B mengejutkan Capra dengan menawarkan meminjam Gable yang saat itu adalah bintang utama MGM, Gable pun terkesan dikerjai L.B karena sebelumnya Gable yang meminta kenaikan honor kepada MGM, sengaja membuat dirinya masuk rumah sakit dan berkilah bahwa ia terlalu lemah untuk bekerja, Mayer yang merasa diperdayai, langsung mengatur proses peminjaman Gable kepada Capra. Gable yang awal nya enggan bekerja bersama Capra, semakin hari semakin melunakkan sikapnya kepada Capra, dan kemudian memberikan penampilan yang sangat charming sebagai Peter, yang mungkin akan selamanya melekat dengan dirinya.

Capra, Colbert and Gable

Begitu juga Claudette Colbert, yang lebih bersikap sulit ketimbang Gable, sebelum mendapat peran Ellie, Colbert yang sama sekali tidak mau menerima peran Ellie, instead of say No, dia malah menuntut honor yang sangat besar kepada Capra, dengan harapan akan ditolak Capra. Bisa ditebak, ternyata Capra menyetujui hal itu, dan Colbert pun terlibat dalam film ini. Walau Colbert juga memberikan performa yang tak kalah bagusnya dengan Gable, Colbert yang sejak awal tidak menginginkan film ini terus menerus menyulitkan Capra selama masa produksi ( di scene mereka menunggu tumpangan, saat Capra meminta dia untuk menunjukkan kakinya, ditolak mentah mentah oleh Colbert, hanya sesaat sebelum Capra berhasil menyewa stuntman untuk adegan itu, barulah Colbert berubah pikiran ), kemudian hari, saat sedang berlibur bersama temannya, diketahui Colbert pernah berkata " i've just finished the worst picture in the world". This "worst" picture tersebut ternyata mengantarkannya sebagai Best Actress Oscar untuk pertama kalinya, dan ya.., Claudette Colbert knew exactly who was responsible for her award. Saat menerima piala tersebut, diketahui Colbert dengan antusias berkata di depan audiens " i owe Frank Capra for this".

Melihatnya di masa sekarang, mungkin It Happened One Night akan terasa lebih familiar daripada 77 tahun yang lalu, bukan hanya unsur screwball comedy nya yang sudah bisa lebih diterima oleh publik saat ini, tapi saat lebih banyak nya muncul film film yang mengadaptasi banyak adegan di film ini, sehingga perasaan familiar yang ada ketika menonton tak akan lepas dari film ini. Ya, inilah salah satu kasus sebuah film yang menjadi "korban" copycat karena kepopuleran dan keberhasilannya. Jumlah copycat stories yang muncul berpuluh puluh tahun setelahnya, bahkan dengan plot yang mirip tapi sudah mulai terkikis dari ciri ciri khas yang telah berhasil dibangun oleh Capra, walaupun begitu, tidak akan ada yang bisa menggantikan kekuatan performa antara Gable dan Colbert. Ilusi romantis dalam interaksi mereka, dan kemahiran Capra yang berhasil membangun sebuah narasi yang baik, dan unsur unsur screwball comedy yang bekerja sefektif kisah kisah cinta, yang sebenarnya jarang diangkat untuk genre komedi romantis pada saat itu. Keberhasilan film ini memukau para academy di Oscar 1935, merupakan awal dari gelar terbaik yang bisa diperoleh sebuah film komedi romantis, yang tidak hanya sukses secara kualitas tapi juga secara komersill, sejauh ini tidak banyak  film film komedi romantis murni lainnya ( non musik, bukan musical ) yang bisa memenangkan Oscar sebagai Best Picture ( the others : You can't take it with you, The Apartment, Tom Jones, Annie Hall, Shakespeare in Love ).

Film ini adalah jendela yang menggambarkan America yang sudah "punah", dimana para pria nya memakai topi dan setelan jas lengkap  bahkan di dalam perjalanan bus yang panjang, ayah milyuner yang berhasil mengesankan siapa saja dan melakukan banyak hal, tapi tidak bisa mengekang putri nya yang sudah dalam usia dewasa, dan para wartawan surat kabar yang saat itu masih berkomunikasi dengan para editor mereka lewat telegram. It's more than a touch dated, karakter perempuan sekarang di dalam film mungkin garang, hebat dan lebih berprinsip daripada 77 tahun yang lalu, but this is just a great old classic romance with two terrific stars, enterteining and satisfying.

Tahun 1934, publik menemukan sebuah film yang lebih panjang durasinya dibanding film yang ada pada masa itu, dan kejutan demi kejutan terjadi, dari mulai filmnya sendiri yang lucu, lebih lucu daripada yang ada saat itu. But the biggest surprise is, publik saat itu bisa terus mengingat berbagai momen di film ini dan menjadi perbincangan hangat di semua kalangan, dan kemudian kembali lagi menontonnya di bioskop. Keheningan yang berubah menjadi kehebohan tawa dan applause yang beriringan. Tiket tiket bioskop yang laris manise selama berminggu minggu, Para kritikus yang kembali menonton untuk kedua kali, ketiga bahkan empat kali - dan mereka pun terkesima dengan bagaimananya sebuah kesenangan, excitement yang bisa tercipta dari film yang sama.

Yes, the picture was It Happened One Night.
One of the best screwball comedy ever. hey, it's mine too, by the way..^_^.

***

It Happened One Night l 1934 l Frank Capra

Tuesday, December 4, 2012

Review : Ben-Hur ( 1959 )


BEN HUR ( 1959 )
Starring : Charlton Heston, Jack Hawkins, Haya Harareet, Stepehn Boyd, Hugh Griffith
Directed by William Wyler
Written by Karl Tunberg



Epic adalah kata yang akan selalu melekat ketika kita membicarakan Ben-Hur. Film yang dirilis pada tahun 1959 ini merupakan sebuah titik penting dalam catatan dunia perfilman Amerika. Mereka yang pernah berkesempatan menonton film ini di pada tahun 1960an-70an pasti akan mengatakan bahwa film ini adalah salah satu film mahakarya Hollywood waktu itu. Jauh sebelum munculnya film film besar dan megah seperti Star Wars, Titanic, Trilogy Lord of the Rings, dan Avatar, Ben-Hur sudah dikukuhkan sebagai salah satu film terbesar sepanjang masa.

Kisah awal Ben-Hur pertama kali dilahirkan dari sebuah Novel yang berjudul Ben Hur : A Tale of the Christ ( 1880 ) oleh Lew Wallace, keinginan untuk kisah tersebut difilmkan sebenarnya sudah lama menarik perhatian banyak studio besar di Hollywood, dan baru terwujud saat studio MGM mengumumkan rencana pembuatannya tahun 1952.

Cerita tentang Yesus Kristus sudah sangat sering diceritakan dengan berbagai versi. dari yang uber-religious ( mungkin seperti The Greatest Story Ever Told ; 1965 ) ke yang uber-personal ( The Last Temptation of Christ ; 1988 ) hingga ke yang uber-gory ( The Passion of the Christ ; 2004 ). Tapi mungkin salah satu yang lumayan mengesankan adalah Ben-Hur ini sendiri, yang paling meminimalkan kisah tentang Yesus sendiri, despite the subtitle ; A Tale of the Christ ( baik untuk yang versi 1925 atau novel aslinya ), ceritanya sendiri lebih mengikuti kisah hidup seorang pria yang hidupnya pernah dipenuhi kebencian dan balas dendam.

Judah Ben-Hur ( Charlton Heston ) adalah seorang pedagang yahudi yang kaya di Jerusalem. Teman masa kecilnya, Messala ( Stephen Boyd )adalah seorang romawi yang sekarang menjadi seseorang yang mengisi posisi penting di Militer kekaisaran romawi. Kedatangan Messala ke Jerusalem disambut antusias oleh Ben-Hur. Messala adalah seorang romawi sejati yang percaya pada segala keagungan bangsanya yang besar, sedangkan Ben Hur lebih ke seorang Yahudi yang percaya kebebasan, kedamaian, dan kepercayaan hatinya. Pada pertemuan mereka, Messala meminta nama nama orang Yahudi yang pernah mengkritik pemerintah romawi kepada Ben-Hur, tapi ditolaknya. Sejak itu kita bisa melihat ketegangan yang  antara 2 sahabat masa kecil ini.














Pada saat adanya parade menyambut gubernur  Yudea yang baru, secara kebetulan genteng rumah Ben-Hur terlepas dan mengagetkan rombongan kuda dan hampir membunuh gubernur baru tersebut.
Messala, sebenarnya mengerti hal tersebut adalah kecelakaan, tapi ia tetap memutuskan untuk menghukum Ben-Hur ke pengasingan dan mengirim Miriam dan Tirzah, Ibu dan Adik perempuan Ben-Hur ke penjara dan mengambil semua kekayaannya. Motifnya tak lain adalah, dengan caranya menghukum Ben-Hur yang juga merupakan orang terpandang di Jerusalem, ia bisa mengintimidasi orang orang yahudi yang ada di Jerusalem.
Ben-Hur berjanji akan membalas dendam atas semua ketidak adilan yang menimpanya ini.

Menonton Ben-Hur, akan jadi pengalaman yang sangat istimewa. Disini, dimana kualitas artistik dan taste dari seorang Mr. Wyler yang berhasil meracik dan menyajikan tontonan yang kaya dan juga bermuatan drama ini jauh melebihi batas batas tontonan, brilliant dan dramatis. Adegan spektakuler saat balapan kereta kuda antara Ben-Hur dan Messala pun sangat mengesankan, perpaduan kompleks yang menakjubkan dari setting tempat yang luar biasa, aksi aksi yang mendebarkan, serta penggunaan yang dramatis dari music score dan dari sound department nya sendiri.

Penyampaian ide ide mendalam yang ada dalam film ini adalah dalam diri Ben-Hur sendiri, dimana sebuah ketulusan dan kredibilitas karakter Ben-Hur sering diuji di film ini, disaat ia bisa saja dengan sangat mudah membunuh seorang perwira tinggi romawi saat ia menjadi budak, dan mereka berdua terkatung katung di tengah laut saat kapal yang mereka hancur berkeping keping, situasi yang tercipta saat itu sangat mudah bagi Ben-Hur untuk balas dendam kepada bangsa Roma yang telah jahat kepadanya, tapi ia malah melakukan sebaliknya, membantu dan menyelamatkan hidup perwira tersebut, kemudian pertemuan kembali antara Ben-Hur dan ibu dan adiknya setelah 5 tahun berpisah, ternyata menderita kusta selama masa kurungan mereka, pertemuan singkatnya dengan Yesus yang sedang lewat saat memikul salibNya ( yang dengan bijak saat itu tidak pernah diperlihatkan wajahnya secara penuh atau gamblang ), semua itu adalah beberapa adegan yang merupakan ungkapan penyampaian ide ide atas kredibilitas karakter seorang Ben-Hur seperti yang saya ungkapkan sebelumnya.

Ben-Hur is melodrama, no question, tapi filmnya ini sendiri tanpa malu malu seperti menceritakan sebuah legenda, mitos, yang disamarkan melalui beberapa hal di film ini. Seperti kuda kuda yang beradu di arena pacuan, dari kuda putih pucat yang dikendarai Ben-Hur dan kuda hitam pekat yang dikendarai oleh Messala, seperti perumpaan antara good and evil. Kemudian Air - air minum yang diberikan Yesus kepada Ben-Hur di awal film saat ia sedang dalam perbudakkan, dan meloncat ke ratusan menit berikutnya, kembali Judah yang mencoba memberikan air minum kepada Yesus saat Dia terjatuh saat membawa salib, dan tentu saja hujan yang ternyata sebuah mukjizat yang menyembuhkan Tirzah dan Miriam dari kusta. Itu semua seperti simbol atau lambang  dari kepercayaan bahwa kadang pertolongan itu muncul when we least expected it.














Untuk performa dari karakter karakter yang ada di film ini, Mr. Wyler mempunyai deretan cast yang sangat impresif yang ternyata berhasil memberikan nyawa dan kualitas yang esensial untuk peran masing masing. Charlton Heston tampil cemerlang dengan membawakan seorang Ben-hur yang berkarakter kuat, agresif, proud and warm, , He acts like a man with a weight on his shoulders, sosok kuat tangguh yang diselimuti oleh penderitaan, yang secara langsung memberikan efek secara fisik maupun secara psikologis bagi dirinya untuk menjadi lebih kuat. Stephen Boyd, disini yang menjadi musuhnya, Messala, dengan kualitas kualitas yang sama, juga berhasil membawa karakternya tampil cemerlang seperti Ben-Hur, tapi dengan ideologi dan karakter yang bertentangan. Kemudian Jack Hawkins yang menjadi perwira Romawi yang diselamatkan Ben-Hur, Haya Harareet yang menjadi pelayan di keluarga Ben-Hur terdahulu yang kemudian jatuh cinta dengannya, Hugh Griffith yang menjadi Syeikh yang menjembatani Ben-hur ke dalam arena pacuan kuda saat menantang Messala.
Semua ini adalah perpaduan cast yang tau apa yang sedang mereka kerjakan dan mengeksekusi akting mereka dengan sungguh sungguh.

Heston, Boyd, and Mr. Wyler
Peran Judah Ben-Hur tidak serta merta langsung  jatuh ke tangan Charlton Heston. Sebelumnya, Marlon Brando, Geoffrey Home, bahkan Paul Newman pernah ditawari peran ini, tapi ditolak.  Kirk Douglas yang tertarik pada peran ini malah ditolak Wyler yang kemudian lebih memilih Heston yang waktu itu baru sukses dengan peran Moses nya di Ten Commandments. Mungkin penolakan Wyler inilah yang mendorong Douglas membuat Spartacus (1960) yang disutradarai Stanley Kubrick.
William Wyler sendiri bukan orang biasa di Hollywood. Sebelum menduduki kursi sutradara Ben-Hur, Wyler sudah pernah mendapat 2  piala Oscar dan 14 nominasi Best Director di film lainnya.

Dalam bidang casting, Ben-Hur layak disebut sebagai film produksi global karena castingnya berasal dari berbagai negara. Supaya terkesan lebih otentik, Wyler mengundang banyak bangsawan dari berbagai negara di Eropa untuk bergabung sebagai figuran di dalam beberapa adegan di film ini. Untuk hal itu, kabarnya bagian casting film ini berpetualang  ke seluruh penjuru Eropa untuk mengumpulkan orang orang dengan gelar bangsawan. Pada akhirnya, mereka berhasil membawa tiga pangeran, 2 putri, dua Earl, seorang Duchess, seorang Baroness , seorang Marquise, dan seorang Duke yang berasal dari berbagai negara monarki di Eropa.

Ben-Hur yang berbudget $16 juta ( tertinggi saat itu ), merupakan penghabisan terakhir dari studio MGM yang hampir bangkrut. Tapi hal tersebut berbalik, dalam waktu cepat, Ben-Hur berhasil meraup lebih dari $100 juta dari peredaran domestik dan internasional ( jumlah yang super fantastis saat itu ) dan sekaligus menyelamatkan MGM dari kebangkrutan.
Ben-Hur tidak hanya sukses secara komersil, di banyak ajang perfilman, film ini juga mendapat berbagai macam award di Golden Globes, BAFTA, dan meraih 11 piala Oscar di Academy Awards, termasuk Best Actor on Leading Role, Best Director dan Best Picture. Film ini juga selalu masuk dalam daftar film film terbaik sepanjang masa oleh American Film Institute ( AFI ). Hingga sekarang, Ben-Hur akan selalu dijadikan patokan masa keemasan dan kebesaran Hollywood.

Ben - Hur l 1959 l WIlliam Wyler

****

Words by Merista Kalorin