Tuesday, December 10, 2013

Review : Frances Ha ( 2013 )

FRANCES HA
Starring : Greta Gerwig, Mickey Romney
Written by : Greta Gerwig and Noah Baumbach
Director : Noah Baumbach

" i'm not a real person yet " - Frances
















Cukup banyak film film yang bergantung terhadap bisa atau tidaknya kita terpesona dalam penampilan cemerlang baik itu aktris atau aktor utamanya, dan hal itu tidak sulit terpikirkan dalam Frances Ha. Bergaya mirip ala era French New Wave, difilmkan dalam hitam dan putih yang telah diproses secara digital menjadi kaya dalam nuansa berbayang nya, and somehow, sangat terasa nuansa nostalgia - Frances Ha, menceritakan tentang seorang perempuan dan kehidupannya di New York saat ia mencoba untuk berdamai dengan fakta bahwa ia sudah berusia 27 tahun dan sudah saat nya untuk menata hidupnya.

Frances Ha dirilis pertama kali saat Toronto Film Festival tahun ini, beberapa petikan obrolan yang saya tangkap dari teman saya yang sudah menontonnya, dan ketika saya bertanya film seperti apakah ini ? mereka hanya bisa menjabarkan nya menjadi " tentang seorang perempuan muda yang mencoba menata hidupnya di New York, kelihatannya sederhana dan remeh banget, but i promise it's good."
Setelah selesainya era Sex and The City dan The Girls, ditambah lagi dengan lumayan banyaknya film film tentang pencarian jati diri seperti ini di banyak film indie, rasanya memang sulit untuk berusaha menjelaskan keistimewaan yang super spesial dari film yang dipuja banyak kritikus tahun ini, its like Frances Ha just another addition to the genre. Bahkan bisa saja jika mendengar garis besar cerita film ini, para penonton screening di TIFF 2013 tersebut mungkin  sudah 'rolling their eyes' terlebih dahulu.
Dan tentu saja mereka salah, Frances Ha is not just another addition to the genre. Frances Ha justru tampil keluar menjadi permata diantara banyak film yang bertema sejenis.













 Meet Frances, seorang wanita yang secara penuh menyadari karakter nya yang unik, aneh, egois dan kadang bahkan kurang tau malu, yang dibawakan oleh Greta Gerwig, yang juga ikut menulis naskah film ini bersama sang sutradara, Noah Baumbach. Frances bersusah payah bertahan hidup di New York dengan meniti karier nya sebagai seorang dancer, dan sial nya, karier nya jalan ditempat dan tidak menunjukkan kemajuan. Pertama kali bertemu kita bertemu Frances, ia mempunyai pacar yang ingin agar dia tinggal serumah dengan nya dan memelihara kucing bersama. Tapi tak disangka, mereka malah berpisah.

Frances sangat bahagia tinggal dengan sahabat baiknya, Sophie ( Mickey Sumner ). Sophie adalah tipe wanita serius yang tau kapan waktunya bersenang senang, dan waktunya serius dengan hidupnya. Mereka bersenang senang, bercanda dan menghabiskan waktu bersama. Frances bahkan bergurau dan mengatakan pada orang lain, bahwa mereka basically adalah orang yang sama dengan rambut yang berbeda. Mereka seperti pasangan kekasih tanpa hubungan seksual haha.., dan itu benar. Mereka mesra dalam bersahabat.
Tapi kemudian semua itu mulai berubah ketika Sophie mempunyai pacar dan mulai serius, dan seperti hal yang ditakuti Frances, bahwa, Sophie pun mulai move on dengan hidupnya.












Well, you can tell..
bahwa Frances mungkin seperti tipe orang yang gampang membuat frustasi orang orang disektiarnya. Penuh spontanitas dan lelucon lelucon yang tidak masuk akal, suka bercanda yang tidak pantas di tengah jamuan makan, bersikeras untuk mentraktir kenalannya ( yang sesungguhnya tidak sanggup ia bayar ), dan yang terutama, Frances terlalu bergantung pada sahabatnya. Frances bisa saja menjadi mimpi buruk untuk sebuah film yang lain, bahkan mungkin di dalam film film Baumbach yang lain. Tapi selain hal itu, Frances juga dipenuhi banyak sifat menyenangkan lainnya, seperti semangat nya yang tinggi untuk setiap hal, ramah dan supel, lebih cerdas dari yang sesungguhnya ia ijinkan perlihatkan, dan yang terutama, Frances bersedia untuk berusaha dan mencoba menjadi dewasa dan berubah, - dua hal yang selama  ini ia hindari.

Jika kau menyukai Greta Gerwig, ini akan menjadi momen dimana kau akan memuja film ini sepanjang tahun, after all, this is Gerwig best performance, and she's pretty irresistible, dengan sosoknya yang tinggi, canggung, banyak bicara, dan selalu mengeluarkan lelucon lelucon yang kadang tidak nyambung, dan terutama Gerwig sangat bisa membuat karakter Frances yang terlihat awkward, tapi memiliki keterbukaan yang jujur, dan tentu saja, sering bersikap konyol. Saya sangat menyukai salah satu scene dimana Frances berlari lari di jalan, memakai ransel dan sambil menari sesekali, cute !.
Dan juga salah satu scene, dimana setelah kunjungan pas Natal di rumah orang tuanya di Sacramento berakhir, Frances membalikkan badannya dan menuju ke airport, wajahnya sangat penuh emosi  It's feels real, not like acting at all. In fact, orang tua Frances di film ini, juga dimainkan oleh orang tua asli Greta Gerwig
....
Bahkan lewat film ini, kita bisa melihat betapa film nya sendiri mencintai Gerwig dan karakter Frances nya. In fact ( again ! ), actually, it's the director Noah Baumbach. Baumbach dan Gerwig memang pasangan kekasih diluar film, mereka sudah berkencan sejak tahun 2011. Such a sweet ! haha..
Frances Ha bahkan bagai sebuah surat cinta Baumbach yang dipertontonkannya ke publik, sebuah surat cinta yang sama sama diapresiasi Gerwig dengan baik, lewat penampilannya yang sama bagus nya dengan arahan Baumbach sebagai sutradara untuknya. That's why, its funnily and cute enough for me.

Akhir akhir ini, Saya sepertinya jarang melihat film film bagus yang menceritakan tentang persahabatan antara sesama perempuan ( when was the last ? Bridesmaids ?? ). Frances Ha adalah film indie yang sangat charming, yang dishoot dalam balutan warna hitam dan putih yang indah. Ini adalah kisah cinta antara Frances dan Sophie, dan terasa jujur dan nyata. Honestly, seberapa banyak dari kita yang merasa stuck dengan hidup dan karier, sementara sahabat kita sudah melaju kencang, hal ini juga seperti menuntut kita untuk "stop bitching on everything, get real and move on !"
Saat kita memasuki umur 20an, kita seperti dihadapkan pada dua pilihan seperti Frances dan Sophie.
Its like, kita dihadapkan pada final version of us. Apakah seperti Sophie yang sedang bekerja dan berusaha membentuk fondasi utuh di kehidupan dewasa nya, atau seperti Frances, yang seperti terjebak dengan masa masa "gila" nya yang semua serba santai, nyaman dan serba spontan, tanpa perlu memikirkan hari esok.

You will love Gerwig for this, If you’ve not seen her in a film before, you will walk out of ‘Frances Ha’ having watched your new favourite actress. hihi..me did.
Frances Ha – both the movie and its heroine – is graceful, awkward, luminous and hilarious. It is a film that gives us a female central character living on her own terms, and it's remarkable how refreshing, even rare, this feels. 
One of the best film this year.

****

Review : Jagten ( 2012 )

Jagten ( The Hunt )
Starring: Mads Mikkelsen, Thomas Bo Larsen, Annika Wedderkopp
Directed by: Thomas Vinterberg













Ada semacam kesadaran yang menghantam saya ketika menonton film dari Denmark ini, Jagten ( The Hunt ), disamping fakta bahwa Mads Mikkelsen sangat bagus disini, dan gadis kecil berambut pirang di film ini, tak disangka ternyata menjadi ancaman yang sangat besar untuk Mads Mikkelsen.
Yaitu perkataan yang membawa celaka.
Kata-kata bisa menginspirasi - atau menghasut - atau menjadi cermin dari sebuah perilaku yang mencengangkan. Dan ketika kata-kata tersebut ditujukan untuk seseorang, entah itu benar atau tidak, hal itu bisa berkembang menjadi hal yang biadab dan barbarik.
Atau setidaknya, itulah realitas yang disajikan di film ini, dimana seorang pria baik baik, Lucas ( Mads Mikkelsen ), yang juga merupakan guru TK, yang terperangkap dalam gelombang cemooh masyarakat karena akibat dari sebuah perkataan seorang gadis kecil, dengan tuduhan pelecehan seksual, lebih tepatnya pedofilia.
Mengerikan !

Klara ( Annika Wedderkopp ), seorang gadis kecil yang cantik dan menggemaskan. Ketika pertama kita mengenalnya, dia sedang berkeliaran seorang diri di tengah tengah kota. Kemudian kita bertemu Lucas ( Mads Mikkelsen ), yang merupakan guru TK Klara dan juga sahabat baik ayah Klara, Theo. Lucas pun mengantarkan Klara yang tersesat tersebut. That's it, nothing happens.
Tapi Vinterberg kemudian dengan sukses mengubah tempo dan arah cerita ke sebuah jaringan yang terbentuk dari sisi sisi protektif para orang dewasa akan anak anak, dimana di masa masa sekarang, seorang anak yang berdiri sendiri selalu secara langsung dilihat sebagai korban.





















Walaupun nantinya Klara menyangkal semua perkataannya, tidak begitu dengan para orang dewasa disekitarnya.
Dan seperti fenomena, anak anak lainnya, tiba tiba juga mengaku menjadi korban pelecehan Lucas, para orang tua kemudian bersatu dan melaporkan Lucas ke polisi sebagai seorang predator mengerikan yang membujuk anak anak mereka ke basement rumahnya ( yang sebenarnya tidak pernah ada ) dan melakukan perbuatan tercela. Tanpa bukti yang kuat yang menyudutkannya, Lucas dibebaskan, tapi perlakuan yang diterima nya dari warga kota nya malah semakin memburuk dan membuat hidupnya dalam bahaya.

Untuk beberapa lama,walaupun sepanjang durasi film, kita diperlihatkan sisi jujur dari Lucas dan tidak ada nya perbuatan pelecehan tersebut, saya masih saja merasa was was, dan prasangka - karena sebuah film bisa saja mempunyai twist twist mengejutkan yang awalnya dilapisi kebohongan kebohongan yang begitu meyakinkan.
Walau akhirnya saya baru benar benar yakin bahwa Lucas tidak pernah melakukannya - disaat itulah dunia Lucas mulai runtuh dengan perlakuan tidak adil yang diterima nya sejak saat itu dari siapa saja.

Tentu saja hal ini menyiksa hati saya yang menontonnya, tidak ada yang lebih mengundang rasa simpati dimana saat ada seseorang yang menderita karena tuduhan perbuatan yang tidak pernah diperbuat nya. Apalagi kemudian hal itu berlanjut ketika melihat teman teman mu, keluarga, dan semua kenalan mu berbalik memusuhi mu, seperti rasa sakit yang susah dijelaskan

Kemudian hal lainnya, Kenapa kita selalu melihat anak anak sebagai korban utama ?
Menurut Vinterberg, hal itu karena kepolosan anak anak selalu membuat kita bisa melihat sisi iblis diantara kita, bahkan di dalam kita sendiri, dan kita sangat membencinya. kita seperti sedang mencari simbol untuk disalibkan tanpa pernah mengakui partisipasi kita sendiri.
Prestasi terbesar Vinterberg adalah bagaimana cara dia secara diam-diam memberikan "batu" ke tangan kita, dan membiarkan kita diam perlahan merasakan teksture dan beratnya, dan mengetahui kemampuan mematikannya jika kita melemparkan batu itu ke orang bersalah.
Sepotong drama moral yang  dirangkai dan dipoles dengan cemerlang dan indah oleh Mads Mikkelsen.





















Mikkelsen terkenal sebagai aktor yang mempunyai paras kokoh dan dingin, walau selama ini ia lebih dikenal publik barat sebagai musuh terbaik dalam franchise James Bond, dan kembali menakut nakuti penonton sebagai versi muda Dr. Hannibal Lecter. Mikkelsen sangat menarik disini, ia membawa karakter Lucas bisa disukai, tidak hanya karena hubungan harmonis nya dengan sahabatnya dan orang orang di komunitas kotanya, tapi juga dengan bagaimana ia tetap berusaha mempertahankan martabat nya di sepanjang film, bahkan ketika situasi semakin memburuk dan ia semakin dimusuhi semua kenalannya.
Lucas adalah seorang pria yang dipersalahkan atas tuduhan yang harusnya tidak pernah ada, dan Lucas menangani hal tersebut dengan rasional dan bermartabat. Saya separoh tegang dan kesal dengan situasi tersebut, ingin rasanya membuat Lucas berdiri di tengah tengah alun alun kota dan memproklamirkan pembelaan dan kebenaran dirinya. Apalagi dengan melihat perlakuan diskriminatif terhadap dirinya, ia berhak memperoleh kesempatan seperti itu. 

Thats why - di salah satu adegan kunci - saat Lucas sedang berbelanja di supermarket, dan ia ditolak belanja disana oleh tukang daging dan manajer nya, bahkan ia dipukul babak belur dan dilempar keluar saat ia menolak dan bersikeras dengan hak nya untuk berbelanja disitu, dengan wajah bersimbah darah, Lucas kembali masuk dan memukul tukang daging tersebut dan sang manajer akhirnya menyerah dan mengembalikan belanjaannya.

Terdapat sebuah kepuasan terhadap Lucas dengan kejadian tersebut. Dan kemudian berlanjut ke adegan puncak nya saat Lucas mengkonfrontir Theo di depan banyak orang saat sedang misa malam natal di gereja. Kau akan mendapatakan akting dari seorang Mads Mikkelsen yang begitu keren di adegan ini.

Mikkelsen memenangkan Best Actor saat Cannes FIlm Festival 2012 dari film ini. That ain’t no small thing and you see why it was deserved by his turn in this film

Tuesday, November 26, 2013

Review : 12 Years A Slave

12 Years A Slave

Starring : Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Benedict Cumberbatch, Lupita Nyong'O, Sarah Paulson
Writers: John Ridley (screenplay), Solomon Northup (based on "Twelve Years a Slave" by)
Director : Steve McQueen
















Sebuah film horor bisa menjadi sangat mengerikan, menakutkan, atau cenderung depresif dan bisa membuat penonton kehilangan selera menonton itu sendiri ( kecuali, tentu saja untuk para die-hard fans yang sangat mencintai hal hal ekstrim tersebut ). Sebuah film yang baik dapat membuat sebuah hal yang gelap menjadi begitu baiknya sehingga menjadi tidak menyenangkan untuk menonton.

and "12 Years A Slave" is like that.

Karya Solomon Northup, Twelve Years A Slave, dipublikasikan tahun 1853, adalah sebuah karya yang keras dan mencekik hati dengan semua cerita mengerikan yang bisa terbayangkan terjadi pada seorang pria biasa.
Di Tahun1841, sepasang seniman pertunjukkan keliling mengajak Solomon (Chiwetel Ejiofor) untuk meninggalkan keluarga nya dan bekerja sama dengan mereka dalam sebuah pertunjukkan di Saratoga Springs, New York, dengan janji janji bahwa ia akan sangat cepat mendapatkan uang jika bekerja bersama mereka dengan keahliannya bermain violin. Ajakan manis itu berubah kesialan yang mengerikan, ketika  Solomon terbangun keesokkan harinya dan menyadari bahwa dirinya telah ditipu, diculik dan dijual sebagai budak keWashington, DC
















Mulai dari situ Solomon dengan cepat belajar bahwa bersikeras dengan identitas aslinya akan membuat nya lebih keras dipukuli, berbicara lebih banyak akan membuatnya dicambuk, atau jika membuat orang lain tau kalau ia bisa membaca dan menulis, mungkin akan membuatnya dibunuh. Majikan pertamanya, Mr. Ford ( Benedict Cumberbatch ) adalah seorang yang baik, terhormat dan taat pada agamanya, yang cukup manusiawi memperlakukan para budak budak nya. Namun majikan nya yang lain, Mr. Epps ( Michael Fassbender ), adalah seorang alkoholik dan psychopath.“ Dia dikenal sebagai ‘nigger-breaker”” tulis Northup. Epps melihat para budaknya yang berkulit hitam tidak sebagai manusia, but as…mere live property,no better, except in value than his mule or dog”.

Steve McQueen, sutradara yang berada dibalik adaptasi film ini, memiliki sebuah keahlian ; ia suka membingkai sebuah hal ekstremis dalam diri seseorang dari kamera nya - mati kelaparan dalam Hunger, shaming himself sexually in shame, dan sekarang disiksa oleh monster monster berkulit putih. Shot shot kamera nya tajam dan high-toned, terasa mistis dan menyiksa dalam kebekuan yang kering. McQueen seperti berusaha menciptakan efek claustrophobia, secara fisik atau mental. Gambar gambar yang dishoot McQueen memiliki kekuatan yang cukup besar, dan saya mungkin akan menonton film-filmnya dengan kurang waspada jika saya pikir dia sedang mencari sesuatu yang lebih dari reaksi tokoh-tokohnya  dari sebuah degradasi ekstrim seperti di Hunger atau hal yang menyiksa batin dan personal di Shame.
Dalam hal ini, setidaknya, ia telah menemukan sebuah lingkungan di mana perasaan terjebak seperti itu tidak harus ada dalam setiap frame.




















Mr. McQueen adalah seorang sutradara British yang berani membuat transisi yang kasar dan drastis dalam kedua film besarnya, "HUnger" dan "Shame" yang keduanya terasa dibalsem oleh McQueen untuk mempromosikan dirinya dan memetakan dirinya dalam jajaran Sutradara menjanjikan. Dan untuk "12 Years A Slave", dengan kontrasnya Mr. McQueen sekali lagi, dengan drastis nya, bertransisi dari gaya art cinema untuk membuat sesuatu yang lebih dekat dengan naratif yang klasik, dalam film ini, penekanannya bukan pada gaya visual tetapi pada Solomon dan jelas nya keinginannya untuk bebas.

Kemudian dari  Ejiofor sebagai Solomon Northop. TIdak ada yang ambivalen dari karakter Solomon. Ejiofor sendiri memiliki sosok wajah yang lembut, kind and inviting face,  dan dia memainkan karakternya sedari awal dengan cemerlang, mulai dari sosok seorang warga biasa terhormat yang sopan menjadi seorang pria yang tertegun melihat kaki dan tangannya dirantai, dan tidak percaya dengan bencana yang terjadi padanya. Tidak lama setelah Solomon diculik, ia duduk meringkuk bersama dua tahanan lainnya pada sebauh perahu. Seorang diantara mereka menegaskan bahwa mereka harus melawan kru kapal tersebut supaya bebas. Tapi yang lainnya tidak setuju. " survival is not about certain death, but its about keeping your head down dan not making a scene" kata yang satunya. Duduk diantara mereka, Solomon yang menggelengkan kepala tidak setuju akan keduanya. Beberapa hari sebelumnya, ia masih bersama keluarganya di rumah, dan sekarang kedua teman seperjalanannya itu seakan mengatakan padanya bahwa semua itu sudah hilang. Bagi Solomon, bertahan hidup saja tidak cukup. Ia ingin hidup. " I want to live". He's amazing.

 

Kemudian ada Mr. Ford yang baik yang dimainkan oleh Benedict Cumberbatch, yang sayangnya, baru akan mulai bersinar dengan karakter Ford yang baik hati nya itu, tapi kemudian terhenti tengah jalan ketika perasaan takut dan was was itu kembali ke status quo ketika Mr. Epps beralih menjadi majikan Solomon. Hidup Solomon langsung berubah mengerikan ketika ia sampai ke rumah Mr. Epps yang mengerikan dan istri gorgon nya yang tak kalah aneh dan psycopath, Mrs. Epss ( Sarah Paulson ), yang terobsesi untuk menyiksa Patsey ( Lupita Nyong'o ), budak wanita kesayangan Mr. Epps, bahkan ia bisa memukul dan melempari Patsey dengan sorot wajah datar seakan hal itu hal yang sangat wajar.

Selain Chiwetel Ejiofor, masih ada Michael Fassbender yang mengundang decak kagum. Fassbender memberikan penampilan yang cemerlang sebagi Epps - dengan cara nya sendiri. Kau akan menahan napas ketika ia memasuki ruangan. Dia adalah seorang predator yang pada saat ramah nya, kau akan mengijinkannya bercanda dengan anak, nenek dan orang tuamu. Fassbender tidak salah lagi, akan menjadi wujud sempurna dari karakter Richard III atau Macbeth - atau bahkan werewolf. Ia menampilkan kegilaan yang tidak biasa dari Mr. Epps yang freak, dan terobsesi dengan "pesta" dansa tengah malam yang ia peruntukkan untuk budak budak nya. Dan kemudian begitu menikmati pertunjukan dansa yang dihiasi wajah wajah murung ketakutan tersebut. Walau tidak sesakit Caligula, Epps cukup membuat bulu kuduk merinding dengan kegilaannya, dan sekali lagi - with his own way.
Kemudian Sarah Paulson sebagai Mrs. Epps, paulson juga ternyata melakukan hal yang menarik, Mrs. Epps seperti berusaha memasang topek baik di wajahnya, tapi ia lebih sering teracuni oleh kecemburuannya yang tinggi terhadap Patsey. 

















"12 Years A Slave" bukanlah film yang menyenangkan, bahkan bisa saya kualifikasikan menjadi film horror.  Kekejaman yang dilakukan terhadap para budak di film ini bahkan tidak jauh berbeda dalam karakter dari penyiksaan seksual mengerikan di "Saw." Dan tentu saja, ini lebih menjadi meresahkan ketika mengetahui ini adalah kisah nyata. Ini adalah sebuah film yang panjang dan dibuat dengan baik, dan menjadi tes yang melelahkan untuk penonton dengan unsur unsur horror nya yang berbeda tersebut. 

Mungkin saja itu intinya, yaitu supaya kita menjadi kebal terhadap kebiadaban di layar tv atau mungkin inilah satu satunya cara untuk memahami mengapa perbuatan mengerikan yang seperti ini bisa begitu luas  di era perbudakan ini terjadi. Ada bahaya besar bagi sebuah peradaban yang tumbuh dari sebuah adat dan kebiasaan yang mati rasa seperti itu. 

Film ini mungkin menimbulkan banyak implikasi. Seperti memecut kebohongan yang banyak terlihat di film film hollywood klasik, dimana budak budak menari gembira di tengah perkebunan.
Lebih kritis lagi, itu seperti mendorong masa lalu perbudakan, rasisme yang kelam tersebut dan berlama lama di dalam sebuah cahaya yang terang seperti untuk diperiksa, diperhatikan dan dipertunjukkan ke masyarakat saat ini, seperti inilah cermin perbudakana dimasa tersebut.

"12 Years a Slave" harus hadir di Academy Awards 2014. Layak nominasi untuk Best Picture, Best Actor, Best Supporting Actor and Actress, and adapted screenplay. It is, however, the best and most important film of 2013.

****
12 Years A Slave / 2013 / Steve MacQueen


Sunday, November 17, 2013

Review : Efter Brylluppet ( 2006 )

Efter Brylluppet (After the Wedding)

Starring : Mads Mikkelsen, Rolf Lassgård , Sidse Babett Knudsen , Stine Fischer Christensen
Written By: Susanne Bier, Anders Thomas Jensen
Directed By : Susanne Bier














Walau lahir dan dibesarkan di Denmark, Jacob ( Mads Mikkelsen ) mempunyai hidup lain di India, dimana ia membangun kehidupan yang simpel, sederhana dan membaktikan hidupnya sebagai pekerja sosial di sebuah rumah yatim piatu di Bombay, India, dimana ia juga mengajar, merawat dan menjadi orang tua asuh bagi anak anak terlantar ini.
Walau Jacob bukan orang yang terlalu terlena akan uang, mencari bantuan dana ( raising funds ) untuk rumah asuh yang diurusnya adalah menjadi kewajibannya, saat itulah ia mengetahui, bahwa Jørgan (Rolf Lassgård), seorang jutawan dari negara asalnya, ingin mendonasikan jumlah uang yang sangat besar kepada Jacob, tapi dengan syarat, Jacob harus bertemu langsung dengan dirinya. Jacob pun terpaksa harus kembali ke negara nya mengurus hal ini.
Ketika sampai di Denmark, Jørgan bersikeras agar Jacob juga ikut menghadiri pesta pernikahan putrinya, Anna ( Stine Fischer Christensen )  , dan di pesta pernikahan itu, Jacob mengetahui kalau istri Jørgan, Helene ( Sidse Babett Knudsen ) adalah mantan kekasihnya di masa lalu, dan mulai muncul nya kemungkinan bahwa Jacob adalah ayah kandung Anna. Dan masih ada Jørgan, yang mempunyai rencana tersendiri dibalik donasi yang ingin diberikannya kepada Jacob. 


















Dijamin, premis yang seperti ini bisa menjadi  sebuah awal cerita yang sangat menarik, bernuansa drama bergaya opera sabun yang membuat kita familiar, namun penulis sekaligus sutradaranya, Susanne Bier, bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang khusus serta  mendalam dengan studi karakter yang baik dan memasukkan unsur drama yang unik dari sebuah keluarga yang sedang berada dalam krisis .

Basically, film ini menceritakan kepada kita, bahwa sekalipun, sebuah keluarga yang saling dekat, menyayangi dan normal, pasti ada bagian yang dirangkai oleh jaringan jaringan rahasia, yang selama ini berusaha ditutupi, dan film ini pun memberikan progress yang baik tentang bagaimana rahasia rahasia itu terbuka, dan bagaimana mereka berusaha untuk memperbaikinya dari apa yang tersisa.

Tapi ketika kebohongan dan kebenaran yang ditutupi tersebut berhasil disingkirkan dari keluarga ini, apa yang terjadi bukanlah sebuah kekosongan atau munculnya kepentingan lain, tetapi semua semangat dan kekuatan yang well..maybe will makes you proud to be human.
Berbicara perasaan, film ini memberikan sebuah perjalanan yang emosional ( mungkin kalian akan memikirkan hal hal dari film ini berhari hari kemudian seperti saya ), dan buat saya itu sangat memuaskan, hal hal yang saya inginkan dari sebuah film drama, dan pada saat yang sama, tidak ada momen momen palsu yang bisa saja mengacaukan drama ini, semua terasa dalam porsi yang tepat dan tidak mengada ngada.

Selain itu, setiap adegan memberikan sentuhan ironi, dengan semua karakter yang tampak sempurna, dengan narasi perlahan yang mengungkap jati diri masing masing karakter yang terlihat sempurna tadi. Sepertinya, sang sutradara, Susanne Bier berhasil memoles namanya lewat film ini.
Mikkelsen mungkin akan selalu diingat sebagai penjahat Le Chiffre yang berlumuran darah di salah satu film James Bond nya Daniel Craig. Ia memiliki wajah yang terkesan seperti dipahat, keras dan terlihat garang. Dan Mikkelsen sendiri memberikan penampilan nya yang sangat apik dalam film ini sebagai Jacob, akting yang keren dan penuh dengan emosi emosi yang terpancar dari raut wajahnya.

Knudsen yang menjadi Helene, istri Jørgan, Anda akan merasa kenal dengan wanita wanita sepertinya, merasa dekat dan familiar, dan mungkin akan memahami kesalahannya, dan bersimpati dengan pilihannya.

Kemudian masih ada Rolf Lassgård yang menjadi Jørgan, yang merupakan seorang pria yang bersemangat dan penuh dengan rencana rencana, yang ikut menopang film ini dari awal hingga akhir, Jørgan adalah seorang pria yang bisa mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, sekaligus menghasihani diri sendiri, yang terpaksa bertindak berani untuk memanipulasi banyak hal untuk menjaga orang orang yang disayanginya.
Dan pada akhirnya, Jørgan melambangkan banyak tema dalam film ini, ketidakmampuan individu saat ia tidak berdaya walaupun ia kaya sekalipun dan bagaimana uang tiu mempunyai nilai abadi dalam hidup beberapa orang.

After the Wedding, adalah sebuah drama yang kuat bernuansa soap-opera nya, bisa memainkan emosi penonton serta berisikan hal hal tak terduga dan rahasia yang membuat kita terkejut. Dan semuanya terjadi tepat ketika pasangan pengantin mengatakan " I do ", sesuai judulnya, After the Wedding, yang juga mewakili makna perjalanan Jacob dengan masa lalu nya yang kembali berhadapan dengannya.
Sutradara Susanne Blier dengan co-writer nya, Anders Jensen telah mengembangkan sebuah cerita yang komplek, pararel, berisikan pengkhianatan, intrik, simbol simbol dan banyak metafora.

Dinding di mansion milik Jørgan yang penuh dengan piala-piala, trophy ( yang sering dishoot lama lama ), kemudian di luar di halaman, terdapat kebun yang indah dengan kawanan rusa merumput tanpa gangguan. Hidup dan mati, sebuah hubungan yang masih hidup dan terjalin dengan yang sudah mati, nilai nilai yang bertentangan, kebenaran dan kebohongan, masa lalu dan masa depan, semua itu Kembali tercermin dalam gambar ini.

Kemudian tema lainnya yang menarik dari film ini adalah, apa yang lebih penting untuk sebuah sebab, orang nya atau uang nya ?. Ketika Jacob menolak untuk kembali ke Denmark, dan bersikeras ia ingin tetap di Mumbai, ketua rumah yatim memberikan pandangan yang jelas kepada Jacob, tanpa uang tersebut, tempat mereka akan tutup, karena kekurangan pendanaan. Dan ketika Jacob akhirnya mengetahui seluk beluk rahasia dari keluarga Jørgan
dan istrinya ( mantan kekasih Jacob ), yang sangat melibatkan dirinya, reaksi Jacob adalah personal dan keras, yang tentu saja bisa membahayakan rumah yatim nya di India kehilangan donasi. At one point another character puts the question directly to jacob " Think how many you could help ? won't you sell yourself for that ? "

***

Friday, October 11, 2013

Review : Drinking Buddies ( 2013 )




Drinking Buddies
Starring : Olivia Wilde, Jake Johnson, Anna Kendrick, Ron Livingston
Director : Joe Swanberg.
 














Sering di dalam film film komedi romantis banyak menjual hal hal yang overcomplicated dan terlalu dreamy, seperti mencari seorang suami dalam 30 hari, merayu seorang pria demi bahan analisa untuk menulis sebuah artikel atau buku, atau mengangkat tinggi tinggi bombox sambil menyatakan cinta dan komitmen  untuk memenangkan hati figur otoritas juga merupakan ayah sang perempuan yang dicintai.
Geez..

"Drinking Buddies is delightfully simple"

Bercerita tentang 2 teman kerja yang juga merupakan sahabat baik, yang menemukan bahwa hubungan persahabatan mereka diujui saat mereka mengeksplorasi hubungan mereka masing masing dengan orang lain.

Kate ( Olivia WIlde ) dan Luke ( Jake Johnson ) are best friends.
Keduanya bekerja di sebuah pabirik bir di Chicago. Kate merupakan satu satunya karyawan perempuan di pabrik tersebut. Ia mengurus pembukuan, marketing hingga ke even planner. Sedangkan Luke adalah sosok happy-man kinda guy, berjenggot lebat, sering memakai topi dan banyak bicara. Mereka memiliki salah satu hubungan platonis yang santai, casual tapi mendalam, mulai dari saling menggoda, saling mengejek tapi selalu tersenyum penuh makna terhadap satu sama lain. It's almost like brother-sister relationship - kecuali kita bisa merasakan ada sesuatu yang lebih, yang tertimbun dalam dalam diri keduanya, yang sama sama menolak untuk mencari tahu.




















Keduanya pun sebenarnya sedang berpacaran dengan orang lain. Luke malah sudah serumah dan berencana menikah dengan Jill ( Anna Kendrick ), dan Kate juga sedang mengencani Chris ( Ron Livingston ).
Semuanya sebenarnya terlihat harmonis dan mereka bahagia.
Kedua pasangan ini mulai merasakan tensi yang berbeda saat mereka kencan ganda dan berlibur di rumah pondok orang tua Chris di pinggir danau saat weekend.
Agak lucu sebenarnya melihat bagaimana Jill lebih banyak menghabiskan waktu dengan Chris yang penuh dengan suasana sunyi, jalan jalan di hutan, dan penuh dengan obrolan awkward, tapi dari situ kita malah bisa merasakan chemistry diantara mereka. Begitu juga dengan Kate yang benar benar having fun bersama Luke, berenang di danau, sama sama menyukai bir, bermain black jack, hingga mengobrol dan bercanda hingga pagi.
Well, boleh dikatakan kalau garis batas sudah terlewati, dan banyak kemungkinan yang mulai terlihat dan terbuka.

Saat mereka kembal ke Chicago, ke 4 orang ini mulai merasakan dampak dari weekend yang lumayan awkward itu.
They have to deal with the consequences of what happened, what didn't happen, and what could happen.
















Olivia Wilde dan Jake Johnson sungguh sangat cocok satu sama lain, mereka sangat cocok untuki will-they or won't-they tension. Obrolan yang ada diantara mereka sangatlah casual, layaknya sepasang sahabat,  sailing menggoda, mengejek, memukul, hingga kontak fisik yang bisa dengan gampang kita bayangkan jika kita sendiri sering bersikap seperti itu terhadap sahabat kita sendiri.
Tapi saya melihatnya hal itu sangat romantis sekali, mulai dari gesture hingga topik obrolan mereka yang sama sama keduanya penggemar berat bir, sandwich dan mustard, sangat terlihat seperti murni Teman Tapi Mesra tanpa embel embel seksualitas, tapi kita entah kenapa dipaksakan mengesampingkan kecurigaan tersebut karena adanya 2 tokoh lain yang merupakan pasangan mereka, dan mereka sama sama harmonis. Ini awalnya agak membingungkan untuk saya, karena awalnya kita disajikan fakta jika Katie dan Luke sama sama berpacaran dengan orang lain, dan terlihat bahagia, tapi kita tidak bisa tidak merasakan chemistry yang  ada diantara mereka.

Performa keduanya juga likeable, alias susah untuk tidak menyukai mereka, mereka berhasil membawa chemistry yang ada berubah dari friends to lovers.
Keduanya adalah sosok yang cerdas, lucu, santai dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap alkohol.

Tapi Swanberg perlahan mulai melucuti kepribadian masing masing yang mendasari setiap karater, hal hal yang menjadi jangkar yang kuat dalam hubungan mereka, atau hal hal yang merupakan weak link dalam hubungan mereka.
Kate, walau saat itu berpacaran dan berkomitmen dengan Chris, ia tidak ingin menginap dirumah pacarnya sendiri. Ia sebenarnya cukup nyaman dengan hubungannya fisiknya dengan Chris, tapi tidak secara emosi.
Sementara Luke, sebenarnya sudah memilki hubungan yang lebih mendalam dengan Jill. bahkan mereka saling melengkapi kekurangan masing masing, daripada saling mengeluhkan hal tersebut.













Yang menarik adalah film ini menghindari konflik konflik konvensional, sebagian besar keterlibatan emosional antara Luke dan Kate tidak pernah benar benar meledak, seperti Luke yang memutuskan bersabar dan diam, daripada mengkonfrontasi atau marah karena cemburu saat Kate dirayu oleh teman kerja mereka yang tidak disukai Luke
walau kau tidak pernah tertarik dengan orang tersebut sebelumnya, melihat mereka dengan seseorang yang tidak kau sukai, tentu itu siksaan yang pahit, and eventually, self-torture.
Luke yang cemburu dengan Dave seperti menempa keretakan dalam hubungan mereka yang terasa seperti serpihan dramatis, sebuah hal kecil yang kembali mengikat persahabatn mereka dan "memaksa" mereka mengetahui perasaan yang mengintai dibawah permukaan tenang persahabatan mereka yang platonis.
Sementara itu, kedua karakter lainnya, Jill dan Chris, juga sama santai nya dalam perasaan mereka, tidak ada kecemburuan yang berlebih atau kecurigaan, bahkan mereka menghindari konflik dengan pasangan masing masing.
Sehingga apa yang saya tangkap adalah, memang hubungan mereka dengan pasangan masing masing damai dan harmonis, tapi sama sekali tidak terlihat passion atau gairah. 

Swanberg ternyata berhasil memperlihatkan sebuah hubungan, sekaligus menganalisa nya tanpa memerlukan teriakam histeris dramatis Katherine Heighl, atau gesture gesture heboh yang bisa membuat kita menonton mual haha..

Pada akhirnya , Drinking Buddies adalah alternatif yang luar biasa ke seluruh lanskap rom - com , karena ini tentang orang, karakter , kehidupan , tapi bukan drama .
Tentu saja, apakah Kate dan Luke apakah akan besama nantinya terserah kita yang memikirkan, tapi apa yang paling menarik adalah apa yang mereka, dan saya sebagai penonton, pelajari dalam proses ini, yang lebih jauh bermanfaat daripada sebuah misteri yang diselesaikan di akhirnya.

Easily become one of my favorite this year.

Tuesday, September 24, 2013

Review : You Can't Take It With You ( 1936 )



YOU CAN'T TAKE IT WITH YOU
Starring : James Stewart, Jean Arthur, Lionel Barrymore
Writer : Robert Riskin
Director : Frank Capra


























Tahun 1930 - 1940an merupakan era emas untuk Frank Capra. Namanya diperbincangkan banyak pihak dan disanjung banyak kritikus serta menjadi media darling. Dalam kurun waktu tersebut ia banyak menciptakan film film hebat yang membuatnya terus diingat sampai sekarang. Dari tahun 1930-1940, ia mendapat 5 nominasi Academy Awards, dan memenangkan 3 diantaranya, lewat It Happened OneNight ( 1934 ), Mr. Deeds Goes To Town ( 1936 ), dan You Can't Take It With You( 1938 ). Nama Capra mempunyai influence yang sangat hebat saat itu, semua film yang mempunyai label Capra diatasnya laris manis bahkan menjadikan ia anak emas Harry Cohn, presiden Columbia Pictures saat itu.

Awal mula kelahiran You Can't Take It With You dari tangan Capra tidaklah mulus,You Can't Take It You, adalah sebuah drama panggung yang sangat sukses saat itu, dan berhasil memenangkan Pulitzer Prize di tahun 1937, dan Frank Capra adalah salah satu penggembar beratnya. Niat memfilmkan drama ini awal nya ditolak mentah mentah oleh Harry Cohn, karena membutuhkan biaya yang sangat besar, lebih dari $200,000. Tapi nantinya Cohn pun berubah pikiran, sebagai bagian dari upaya damainya dengan Capra yang saat itu sedang bersitegang dengan Columbia dan berniat menuntut mereka, karena mencantumkan nama Capra di filmfilm yang tidak ada hubungan dirinya, dikarenakan faktor popularity Capra saat itu.

Karena keternaran Capra yang sangat hebat saat itu, lahirlah istilah "Capra-Corn". Istilah tersebut muncul untuk film film yang mempunyai ciriciri ; tentang pria baik yang terjebak dalam intrik si kaya melawan si miskin,bagaimana orang orang baik sering terjebak dalam intrik idealisme dan korupsi,dan tentang bagaimana integritas seorang pria diuji ketika ia dihadapkan dengan kekuatan besar yang bisa saja ia pergunakan untuk merubah hidup banyak orang,baik ke arah jahat atau baik.  Bersama Capra, tidak peduli seberapa perjalanan itu gelap dan menyakitkan, akan selalu ada cahaya diujung jalan (and it's tough to get darker than the alternate reality of It's a WonderfulLife ).















Dalam You Can't Take It With You, Grandpa Vanderhof ( Lionel Barrymore )adalah kepala keluarga Sycamore yang eksentrik. Granpa adalah mantan pengusaha yang banting setir dan memutuskan untuk hidup bahagia apa adanya, Granpa suka bernyanyi dan bermain harmonika, ramah terhadap siapa saja, dan ia tidak mempercayai pajak dan menolak untuk membayarnya !

Di rumah Sycamore, semua orang bebas melakukan apa yang mereka senangi,seperti Penny, anak Grandpa yang tiba tiba menjadi novelis saat ada seseorang yang tanpa sengaja mengirimkan mesin tik ke rumah mereka, atau suami Penny,yang bekerja membuat petasan di basement rumah mereka, dibantu Mr. DePinna,orang asing yang suatu hari muncul di depan rumah Sycamore dan sejak itu tidak pernah pergi lagi. Kemudian masih ada Essie, anak Penny, yang mempunyai impian menjadi Balerina dan selalu menari setiap saat dan di kondisi apapun. Guru Essie, Boris, adalah seorang rusia yang sama eksentrik nya dan selalu mengatai Essie itu payah ( tapi ia selalu tinggal untuk ikut makan malam ), dan masih ada Ed, suami Essie yang lebih suka bermain xylophone, ia juga suka memakai topeng serta ikut membantu menjual permen permen yang dibuat istrinya.

 


















Kemudian ada Alicia ( Jean Arthur ), satu satu nya anggota keluarga Sycamoreyang 'normal', ia bekerja sebagai sekretaris untuk Tony Kirby ( James Stewart), yang merupakan anak dari jutawan dan banker terkenal, Anthony Kirby. Keduanya jatuh cinta, tanpa keduanya saling tahu kalau ayah Tony, adalah bankeryang ingin menggusur rumah Sycamore yang saat itu menjadi penghambat sebuah kontrak properti besar yang sedang diurus perusahaan Kirby. Saat Tony berhasilmelamar Alice, mereka menghadapi sebuah masalah, yaitu bagaimana caranya untuk mendekatkan keluarga mereka yang sangat bertolak belakang, Alice dengan keluarga Sycamore yang penuh dengan hal hal eksentrik , dan Tony dengan ayah dan ibu nya yang berasal dari high society, kaku dan angkuh. Alicia, sebenarnya sudah berencana membujuk keluarga nya bersikap normal saat pertemuan itu akan terjadi, tapi sayang Tony mengacaukan rencana itu dan memberikan surprise dengan mengajak kedua orang tuanya datang di malam yang salah, yang tanpa sengaja mengekspos  ke-eksentrikkan keluarga Sycamore sehebat hebatnya secara dramatis. Dan Hal ini membuat pertunangan Alice dan Tony diujung tanduk
















Dengan jumlah karakter yang banyak dan mempunyai ciri ciri khusus seperti ini, sebenarnya film ini sangat rentan dan bisa dengan mudah menjadi memusingkan. Tapi bagusnya, semua karakter ternyata terbangun dengan sangat baik. serta diberikan waktu khusus untuk menunjukkan keunikkan karakter mereka,dan hal ini berhasil mewarnai dari awal hingga akhir. Capra pun dengan cerdas bisa memfokuskan kisah ini kepada karakter Granpa Vanderhof, Alice dan Tony. Grandpa dengan idealism nya yang ternyata mempengaruhi gaya hidup keluarga Sycamore, serta Tony dan Alice dengan kisah cinta mereka di tengah semua keributan tersebut, tanpa meremehkan karakter karakter lain yang ikut dalam kehebohan tersebut.

Dialog dan argument dalam film ini juga sangat menarik dan unik.
Menarik, karena saya susah untuk tidak tertawa saat melihat bagaimana Grandpa beradu debat dengan akuntan pemerintah yang saat itu datang untuk menegur dan memperingati Grandpa yang puluhan tahun tidak membayar pajak, dan bagaimana Grandpa dengan tenang, ramah dan sambil tersenyum malah membalikkan semua perkataan akuntan tersebut, hingga membuat akuntan tersebut kesal dan marah danbingung.
Kemudian unik, karena Capra sesungguhnya membawa tone film ini ke arah yang berbeda, tanpa kita bisa merasakan atau melihat sebenarnya betapa depresi tema dan maksud cerita ini, tapi Capra sekali lagi, alih alih memusatkan pikiran kita dengan idealisme idealisme pria sederhana vs intrik, dan kekuasaan si kaya yang jahat, ia malah membawa film ini dengan ringan menyenangkan, tapi tanpa melewatkan apa sebenarnya yang ingin ia sampaikan. 

Film ini merupakan film pertama kolaborasi antara James Stewart dan FrankCapra.
Don’t get me wrong, I’m a big fans of James Stewart, as much as it feels rightto talk about him, tapi film ini sepenuhnya milik Lionel Barrymore. Stewart terlihat begitu terbayangi oleh Barrymore, bahkan oleh love interestnya, yang juga merupakan salah satu aktris favorit Capra, Jean Arthur. Karakter Alice adalah karakter yang lembut, cerdas, dan independen, dan ia tidak ragu untuk membantu orang lain, atau meminta tolong saat ia membutuhkan bimbingan, Jean Arthur bisa mengeluarkan aspek aspek tersebut dalam akting nya, and turns in a really good performance.

Mengesampingkan semua aspek positif tersebut dan bagaimana film ini menjadifilm terlaris Capra, serta menjadi big winner untuk Academy Awards 1938, memangfilmnya sangat entertening, tapi bagi saya sendiri, untuk film film Capra, YouCan’t Take It With you tidak berada di urutan teratas favorit saya. Untuk hal ini, It Happenned One Night dan It’s A Wonderfull Life masih menjadipemenangnya.

YouCan’t Take It With You is an extremely feel-good movie if there everwas one. It is one of those films that speaks to every and any generation, andbecause of that timelessness it will never grow old. It makes the viewer feelwarm

Wednesday, September 18, 2013

Review : Bridge To Terabithia ( 2007 )

BRIDGE TO TERABITHIA
Starring : Josh Hutcherson, Anna Sophia Robb
Writer : Jeff Stockwell, David Paterson
Director : Gabor Csupo





















Jika lemari ajaib yang mengantarkan anak anak keluarga Pevensi ke kerajaan ajaib Narnia, maka bagi Jess Aarons ( Josh Hutcherson ) dan Leslie Burke ( Annasophia Robb ), sebuah tali lah yang mengantarkan mereka ke sebuah dunia fantasi yang mereka panggil Terabithia. Mungkin kita bisa melihat hubungan pararel yang jelas antara Chronicle of Narnia nya C.S. Lewis dengan buku nya Katherine Paterson ini, yang kemudian diadaptasikan oleh anak Paterson sendiri, David, ke sebuah layar lebar. Kedua cerita ini memiliki sebuah persamaan, yaitu keduanya sama sama melibatkan dunia fantasi dan dengan para pahlawan nya yang masih muda masuk kedalamanya, dibalik kenyataan itu, kedua buku ini sama sama juga sukses bertransisi ke layar lebar.
Sang sutradara, Gabor Csupo mungkin berhasil menghadirkan aspek aspek lembut tapi memilukan dari kisah Paterson ini, tapi ketrampilan dan skill nya yang handal sebagai seniman animasi lah yang memperkaya Bridge To Terabithia dengan imajinasi yang indah.


















Seiirng usia, dan sebelum pikiran pikiran mereka diisi oleh hal hal yang nyata, anak anak cenderung menghabiskan banyak waktu mereka untuk berimajinasi dan menjalani imajinasi itu sendiri. Dalam beberapa kasus, hal itu dilalukan karena kebuthan. Dalam Bridge To Terabithia, baik Jess dan Leslie memasuki dunia Terabithia untuk mendapatkan kebebasan dan kelonggaran dari masalah yang mereka hadapi di rumah atau sekolah. Jess sendiri kesulitan untuk bergaul dengan siapapun, bahkan dengan saudara dan orang tuanya. Sebagai satu satunya anak lelaki di keluarganya, Jess merasa sulit untuk dekat dengan ayahnya, yang terlihat lebih dekat dengan kakak dan adik perempuannya, tapi terlihat tidak peka atau bersikap keras terhadap Jess, yang diam diam memiliki kerinduan untuk dekat dengan ayahnya. Jess juga kesulitan di sekolah, ia adalah korban bully teman temannya, dan ia juga seorang seniman yang berbakat, yang berusaha mencari penghiburan dalam buku buku gambarnya.

Kemudian Leslie pun muncul. Leslie merupakan anak yang memiliki pemikiran yang kreatif dan suka berpakaian ala punk, Leslie juga dikucilkan oleh teman sebaya nya karena terlihat dan berprilaku aneh, dan karena sama sama merasa sebagai outsiders di lingkungannya sendiri, baik di rumah dan sekolah, dan juga ternyata mereka tertetangga, mereka kemudian menjadi sahabat yang sangat akrab. Mereka berpetualang ke hutan terdekat, dimana Leslie menemukan sebuah tali liar tergantung diantara sungai kecil, dia pun berayun dengan tali itu ke seberang sungai, dan dari situlah imajinasi keduanya terbuka lebar, dimana mereka seperti menemukan sebuah portal menuju dunia ajaib Terabithia yang dipenuhi makhluk makhluk aneh. Leslie pun mengajak Jess dan berbagi imajinasi akan Terabithia, dimana disini kedua anak muda ini berkuasa sebagai Raja dan Ratu, berperang melawan raksasa, troll, ogre, yang mereka bayangkan sebagai perwujudan teman teman mereka yang jahat yang sering mem bully mereka di sekolah.















Bridge To Terabithia, merupakan sebuah cerita tentang persahabatan yang terisolasi. Yang mempelajari dan menguji rasa sakit yang diderita oleh anak anak seperti Jess dan Leslie, yang memiliki waktu yang sulit untuk beradaptasi di lingkungannya sendiri, dan selalu merasa terasing dan merasa tersingkirkan. Hubungan persahabatan Jess dan Leslie sangat mendalam, bahkan kadang mengisyaratkan hal hal tentang perasaan cinta dan rasa nyaman terhadap satu sama lain. Persahabatan mereka dan Terabithia merupakan sumber penting akan kenyamanan di dalam keduanya di dalam hidup mereka yang bermasalah.

Dalam Bridge to Terabithia, Csupo berhasil membawa keluar hal hal mistis dan keindahan Terabithia, seperti bagaimana Csupo memberikan nuansa berpetualang di dalam hutan yang kita sebagai penonton melihatnya sama sekali sebagai hutan biasa, tapi kita seperti dinasehatkan dan diajak untuk melihat semua itu dari kacamata imajinasi Jess dan Leslie ( terutama Leslie ).  

" Just close your eyes, but keep your mind wide open." 

Lebih dalam lagi, Bridge to Terabithia lebih mengetengahkan tentang mewakili apakah Terabithia itu, dan itulah sebabnya apa yang terjadi di dunia nyata lebih penting. Aspekinilah yang berusaha disatukan oleh Cuspo, dan dibantu oleh performa yang kuat dan baik dari Josh Hutcherson dan Anna Sophia Robb.
Baik Josh maupun Anna, sangat mampu memberikan performa yang efektif, dan memang film ini bergantung pada performa mereka, karena kita harus percaya akan persahabatan keduanya, baru bisa melihat dimana keindahan film ini, and they succeed.

















Jess yang introvert dan Leslie yang extrovert berhasil dihidupkan oleh Josh dan Anna. Kemudian para karakter pendukung yang tetap berada di belakang sampai karakter mereka maju memberikan kontribusi dalam cerita, seperti Zooey Deschanel sebagai guru mereka, Robert Patrick, sebagai ayah Jess, dan Bailee Madison yang masih sangat muda, yang memberikan performa yang sangat baik.

Walau filmnya sendiri yang bertemakan fantasi, Bridge To Terabithia tidaklah dipenuhi oleh banyak spesial efek. Mungkin beberapa teknologi CGI diperlihatkan, tapi tidak terlalu sering. Terabithia adalah dunia imajinasi,

Terabithia is a land of imagination and, for the most part, Csupo keeps it that way.

Film ini memang magical, ajaib dan penuh fantasi, tapi tidak dijalur yang sama dengan Chronicle of Narnia. Bridge To Terabithia berhasil menyentuh hati kita tanpa berusaha terlalu keras atau memaksakan unsur unsur magical nya,
Ini semua mengingatkan kita bahwa kreativitas kadang harus didorong pada anak-anak, sebuah dunia dimana mereka bisa mendapatakna perlindungan sementara, ketika warna realitas berubah abu-abu.

Bridge To Terabithia is not only one of the best family films of 2007, it's one of the finest film adaptations of children's literature.