Tuesday, January 29, 2013

Review : Silver Linings Playbook ( 2012 )

SILVER LININGS PLAYBOOK
Stars : Jennifer Lawrence, Bradley Cooper, Jackie Weaver, Robert DeNiro
Screenplay and directed by: David O. Russell
 



















Silver Linings Playbook ( SLP ), salah satu film yang memiliki judul yang berbau optimis dan memiliki beberapa bahan dasar untuk diupgrade ke jenis "feelgood movie" sesuai dengan standar Hollywood - Seorang pria bermasalah yang kembali pulang ke rumah untuk berdamai dengan keluarganya, berjumpa dengan gadis yang "kookie" dan mengintimidasi, yang pada akhirnya akan si pria kejar untuk mendapatkan cinta nya, reuni manis di tengah jalan raya, dan sebuah kontes yang masa depan keduanya kadang tergantung di dalamnya.
And indeed, SLP adalah salah satu film yang bisa membuat banyak orang ( termasuk saya ) feel quite good about humanity as the final credits roll. Tapi ini film karya David O Rusell, film keenamnya sejak debutnya dimulai tahun 1994 kemarin. Dan di dalam kamus O Russell, "feeling good" itu tidaklah lengkap tanpa unsur emosi yang sangat tercederai pada awalnya.

Nama David O Russell akan selalu diingat atas arahan brilliannya di The Fighter ( 2010 ), film yang sukses mengantarnya mendapat nominee best director pertamanya di Oscar, yang bercerita tentang petinju underdog yang dikelilingi keluarga yang disfungsional. Maka boleh dibilang SLP adalah sebuah follow up yang cukup mengesankan dari O Russell yang masih memakai ramuan andalannya, tentang dua karakter yang psychologically damaged yang mempunyai keluarga yang tak kalah menariknya.


















Meet, Pat Solitano ( Bradley Cooper ), mantan guru dan mantan suami yang menderita bipolar disorder ( sebuah jenis penyakit psikologi, ditandai dengan perubahan mood yang sangat ekstrim ), dan baru dilepas dari sebuah panti rehabilitasi setelah ia "meledak" karena mengetahui istrinya berselingkuh dengan rekan kerjanya.
kemeriahan itu juga diisi oleh Ayah Pat ( DeNiro ) yang menderita OCD akut ( yang bahkan bisa panik jika remote tv berpindah beberapa inch !! ). Hidup bersama dua orang yang dicintai yang memiliki keanehan psikologis seperti ini tidak akan pernah mudah bagi sang ibu ( Jackie Weaver ), yang selalu setia mendukung keluarganya ini.













Kemudian, there's Tiffany Maxwell ( Jennifer Lawrence ), janda muda, cantik dan sexy and bitchy ( and sex addict ), yang masih sangat rapuh karena kehilangan suaminya dalam kecelakaan lalu lintas.
Ah classic and cliche. Dua orang yang bertolak belakang, bertemu, bertengkar pada awalnya, muncul ketertarikan, konflik drama dan kemudian happy ending.
So, that's it ?

Pat dan Tiffany adalah dua karakter yang kurang familiar dalam komedi Hollywood, dan karakter Tiffany yang tidak biasa ini dibawakan lebih impresif lagi oleh Jennifer lawrence. Dia ternyata bisa  berhubungan dengan Pat dengan cara mereka sendiri. Mungkin awal hubungan mereka tidaklah all sweet and flower but more like slapping and screaming.
Memasangkan dua orang yang sama sama memiliki masalah mental dan terluka secara emosional memerlukan pertaruhan naskah yang rapi, keduanya ( despite of their good looking face ) bukanlah karakter karakter yang sesuai pakem romcom ala Hollywood yang typically loveable. Keduanya brutally honest persons, they say things, things that comes right out of their minds and they don't care about it cause they had. Well, they fucked up already. Why they have to care, anyway ?.

















Kemampuan yang dimiliki Russell dalam menulis naskah serta menyutradarai film ini sepertinya sesuai dengan yang ia harapkan, dimana ia berhasil menjaga humor serta comic tone tanpa kehilangan sentuhan akan kepedihan dalam karakter karakternya yang rapuh. Banyak adegan yang berhasil dibawa Russell dengan sama "memalukannya" apabila terjadi di dunia nyata, mulai dari ayah Pat yang mengejar ngejar seorang remaja di tengah malam yang bertekad meneliti Pat dengan bipolar disorder nya, pertengkaran di meja makan, atau bahkan saat Tiffany 'meledak' dan menghajar Pat saat mereka keluar di malam Halloween. Russell ternyata bisa membawa kita secara dekat dengan apa yang kita tonton saat itu, sehingga secara tidak sadar, saya sebagai penonton berpartisipasi secara emosional.
And that's because he cares for these people in a wholly unpatronising fashion. 

Tiffany yang dibawakan dengan sangat seksi dan bitchy oleh Jennifer Lawrence akan selalu menjadi scene-stealer ( if i was into a woman, i totally have crush on her too loh u_u ), hal ini terbukti ( bagi saya ) yang selalu kembali duduk tegak setiap kali kemunculan Tiffany di setiap adegannya. Dengan sexy, strong and seductive look yang terasa keluar secara natural dari lawrence, menjadikan karakter Tiffany tak ubahnya sangat tidak menyenangkan di awal pertemuannya dengan Pat, tapi kelamaan, kita menjadi penasaran akan kehidupannya, dan apa yang membuatnya menjadi seperti itu. And clearly, Pat and Tiffany are not an ideal couple at all. But what we know about whats ideal, right ? Performa yang baik, lucu tapi serius bahkan terasa menyenangkan dari duet Cooper dan Jen Law ternyata mampu berbicara banyak. Chemistry mereka pun terasa and soon saya bahkan lupa kalau pernah mempertanyakan ke-ideal-an mereka ini.

Setelah melihat bagaimana Lawrence bisa berbuat banyak dengan peran peran serius seperti di "Winter Bone" atau "The Hunger Games", it's such a joy to see yet another facet to Lawrence's talent. Dia sudah mendemonstrasikan talent talentnya yang terasa dewasa di luar umurnya sendiri yang masih sangat muda, tapi "Silver Linings Playbook" mengijinkannya untuk tetap leluasa and have a little fun, sementara tetap mempertahankan integritas dramatis dalam karakter Tiffany nya.

Sedangakan  Siapa yang sangka, Bradley Cooper ( my friend's favorite hollywood bad boy !! )  akhirnya naik ke permukaan film film Hollywood lewat film ini. Dia tidak lagi dipandang sebelah mata, karena selama ini hanya bermain di film film yang cenderung biasa dan tidak terlalu dikenang, dan Oscar pun meliriknya tahun ini. Dengan karakter 'sakit' dan cenderung meledak ledak dan mengagetkan orang orang di sekitarnya. Pat mungkin terkesan naif. Ia berusaha untuk selalu positif dan mencari sisi baik bahkan dalam hal hal yang menyakiti perasaannya. Dengan latar Bipolar Disorder yang diderita Pat, Cooper berhasil membawa hal tersebut mendekati nyata tapi menarik, mulai dari gayanya berbicara, bergerak, bahkan sudut pandangnya yang seperti yang saya bilang tadi, naif, sedikit banyak, ternyata mungkin akan bisa memunculkan perasaan simpati itu sendiri keluar dari kita sebagai penonton.

Russell ternyata berhasil menyeimbangkan karakter karakter berjiwa rapuh ini dengan menarik. Cinta sejati, komedi cerdas yang berbalut dialog sarkatis, dan obsesi yang berlebihan terhadap banyak hal, serta kompetisi dansa yang sebenarnya konyol dan terlihat seperti seadanya saja itu, sebenarnya adalah materi materi romcom yang sulit untuk dikomersilkan oleh banyak filmmaker, namun disinilah keunggulan Russell, ia berhasil meracik semua materi itu menjadi sebuah romcom yang sama sekali tidak childhish atau cenderung lovely, tapi lebih ke romcom yang cerdas, realistis dan dewasa.

For me, this movie is simply adorable haha...

( Mery )

Monday, January 28, 2013

Review : Les Misérables ( 2012 )

Les Misérables
Stars : Hugh Jackman, Anne Hathaway, Russell Crowe, Amanda Seyfried
Director : Tom Hopper 
Based on novel by Victor Hugo and sung-through musical by Alain Boublil and Claude-Michel Schönberg


Apapun yang berhubungan dengan Les Misérables, adalah daya tarik yang besar. Lihat saja jajaran bintangnya, mungkin banyak aktor aktor favorit kalian ada di dalamnya. Ya, aktor aktor, plural, yang berarti banyak bintang bintang terkenal yang ikut ambil bagian dalam Karya besar literatur di abad ke 18 milik Victor Hugo ini. Di awal tahun 2012 kemarin, saya dengan setia selalu menyertakan film ini sebagai salah satu film yang most anticipated untuk ditonton.

Saat official trailer yang pertama dirilis, ekspektasi yang besar mulai tumbuh. Cinematograhy yang indah, suara pilu dan tragis dari Anne Hathaway yang menyanyikan salah satu signature song dari kisah ini, dan beberapa penggal adegan yang sanggup membuat saya menahan napas. Saya melihat satu persatu perwujudan para aktor kawakan ini ke dalam karakter aslinya, mulai dari Jean Valjean, Ins. Javert, Fantine, Cossette, yang terasa langsung memiliki wow-faktor. Rasa pesimis saya terhadap Anne yang didaulat menjadi Fantine perlahan terkikis saat mendengar Anne bernyanyi ,dan dengan sempurna mengeluarkan "roh / jiwa" dari lagu I Dreamed a dream, yang sebelumnnya sudah pernah dicover belasan penyanyi legendaris.

Kalian mungkin tahu ( atau tidak ), untuk membuat film adaptasi dari Drama panggung musikal yang sangat terkenal di dunia internasional ini, Tom Hopper selaku sutradara meminta semua aktornya untuk bernyanyi langsung di setiap adegannya ( alias asli dinyanyikan di lokasi, bukan covering di studio ). Dan, kalian juga mungkin sudah tau, kalau Anne Hathaway berperan sebagai Fantine, seorang ibu tunggal ( yang tentu saja dikecam di era tersebut ) yang kemudian menjadi pelacur, dan berkat peran ini, Anne masuk sebagai front runner untuk Oscar nanti. Dan lagi, kita juga sudah tau, baik dari poster dan trailer, bahwa Jackman yang menjadi Jean Valjean terlihat impresive dan meyakinkan, atau Russell Crowe yang menjadi Ins. Javert, terlihat agak bingung dengan karakternya, apalagi ia diharuskan untuk menyanyi ala broadway yang clearly not his thing.

Tapi sejauh apa kita mengenal Les Misérables ?

Semua ini dimulai dari sosok Jean Valjean ( Hugh Jackman ) yang merupakan seorang budak tahanan yang baru dibebaskan setelah 19 tahun dipenjara karena mencuri sepotong roti. Bertekad memulai hidup baru, ia berkenalan dengan seorang Biarawan yang membantunya keluar dari masalah, sekaligus "menampar" Jean Valjean dengan kebaikan hatinya. Niatnya memulai hidup baru juga tidak semudah itu, dibawah tatapan elang sang penegak hukum, Ins. Javert ( Russell Crowe ) bertekad dan mempunyai prinsip, apa yang salah, akan selalu salah, dimata Javert, Jean Valjean selamanya adalah pesakitan yang akan selalu bersalah. 

Bertahun setelahnya, Jean Valjean sukses dan menjadi walikota sekaligus pemilik sebuah pabrik, dimana salah satu buruhnya, Fantine ( Anne Hathaway ), ibu tunggal yang harus menahan hinaan dan caci maki semua orang akan segala hal tentangnya. Karena sebuah peristiwa menyedihkan, Fantine memohon agar Jean Valjean merawat anaknya, Cossette, yang saat itu dijadikan budak peliharaan oleh pasangan Thernadier. Hal itu tidaklah lancar, karena Ins. Javert yang selalu memburu dirinya, memaksanya untuk kabur dan mengasingkan diri bersama Cossette. Tahun berlalu, Cossette yang telah dewasa terlibat hubungan asmara dengan Marius, salah satu pejuang revolusi Prancis, yang kondisi politiknya saat itu sedang memanas. Apalagi Ins. Javert ( yang susah move on !! ) masih terus mengintai dirinya. apakah Jean Valjean harus memilih untuk kabur dari masa lalunya kembali?

Tom Hooper, memberikan perkenalan yang fantastis akan film ini di 60 menit pertama. Jean Valjean, Javert, Fantine, serta latar belakang mereka yang begitu kacau, terhadirkan dengan begitu istimewa dan emosional. Tentu saja ini proyek yang ambisius, rumit dan besar namun tidak hanya itu, selain punya tata produksi dengan setting sejarah Perancis yang megah, hal ini juga kembali dibebankan ke pundak Hopper akan kisahnya sendiri yang sudah terkenal melanglang buana di dunia literatur dan seni internasional. Ya, semua mata akan tertuju pada film ini dan Tom Hooper selaku nahkoda nya.

Menyisihkan banyak kandidat lainnya sebagai Fantine ( Ammy Adams, Marion Cottilard, Kate Winslet ), Anne Hathaway membuktikan pada semua orang, dirinya tidak salah pilih. Menjadi Fantine, salah satu karakter yang dilatar belakangi dengan kisah yang kelam dan menyedihkan, Anne memberikan sentuhan yang sangat breathtaking dan luapan emosi dari kualitas akting tingkat tinggi tanpa cacat yang konon katanya membuat para juri castingnya menangis dan langsung mencoret daftar calon lainnya.
Fantine bukanlah perempuan yang hina, keadaan menjebaknya, hidup memusuhinya, dan cinta telah menyakitinya. Ia adalah salah satu dari sekian banyak wanita yang diperlakukan secara mengenaskan dan tidak adil. Berkenalan dengan Jean Valjean yang saat itu adalah mantan bos nya, merupakan satu satunya harapan Fantine untuk anaknya, Cossette.

Jean Valjean, mantan narapidana yang penuh amarah setelah diperlakukan secara tidak adil karena sepotong roti, dan Hugh Jackman begitu impressive dalam melakoni peran ini. Siapapun tahu, Jackman yang punya latar profesional dengan panggung broadway tidak akan menemui kesulitan berarti dalam film ini, tapi apakah hal ini lantas memudahkannya ? tentu tidak, karena Jean Valjean sendiri bukanlah karakter sederhana. Di dalam Jean Valjean, tersimpan amarah yang luar biasa akan kehidupan ini, tapi berusaha dengan sangat keras untuk memulai hidup baru setelah dirinya sangat merasa malu dan bersalah terhadap seorang biarawan yang menolongnya. Tekadnya untuk menjaga dan membesarkan Cossette, adalah salah satu bentuk penebusan yang ia usahakan terhadap berbagai hal yang salah dalam hidupnya. Janji yang ia ucapkan kepada Fantine, adalah bentuk komitmen moralnya yang selalu diberatkan oleh masa lalunya. Dan apa yang terjadi kepada Fantine pun, akan terus tergiang di kehidupannya, bahwa tidak peduli siapapun engkau atau berapapun umurmu, life is never fair.
Jean Valjean, hanya ingin menebus masa lalunya yang terus membayangi masa depannya, terutama ketika yang membayanginya itu adalah si mata elang, Inspektur Javert.

 Menjadi Ins. Javert, bukanlah hal yang dianggap remeh oleh Russell Crowe. Seberapa sering kita mendengar Crowe bernyanyi ? karena jelas sekali, sung-through musical seperti ini jauh dari comfort zone nya. Tapi Crowe jelas menerima tantangan ini dengan prospek akan dicaci maki jutaan orang nantinya. Berhasilkah dia ? mengingat Ins. Javert adalah tokoh antagonis yang selalu mengintai Jean Valjean, sang tokoh protagonis utama, yang sudah terlebih dahulu mencuri simpati penonton ? bisakah ia menanamkan kebencian di karakternya ini melalui nyanyian ? 

Banyak dari review yang saya baca, memberatkan film ini ke pundak Crowe atas "ketidak pantas an" nya dalam bernyanyi. Suara datar yang dimiliki nya dipandang tidak cocok dengan drama musikal seperti ini. Secara pribadi, saya tidak bermasalah dengan hal ini, karena dimata saya, Crowe tergolong berhasil bernyanyi dengan gaya khas broadway yang tidak mudah, sekaligus menyelami karakter Ins. Javert yang tak pandang bulu atas kejahatan apapun. Memang Javert versi Crowe, tidak mencuri banyak perhatian jika dibandingkan dengan JV nya Jackman atau Fantine nya Hathaway. He's good, but not bloody good, and he's definetely not bad either. Javert yang memiliki kepribadian abu abu, sebenarnya tidaklah jahat atau bengis. Ia hanya berpegang pada prinsip hidupnya yang bermasalah dengan kepercayaan dan obsesi nya akan penegakkan kebenaran. Dan ketika hal tersebut berhadapan dengan tokoh protagonis seperti Jean Valjean, semua karakteristik dari seorang antagonis tersebut seakan sangat menonjol dari dirinya.

Kemudian masih ada Amanda Seyfried dan Eddie Redmayne dan Samantha Barks yang memberikan kecupan romansa dalam kisah ini. Ditampilkan dengan lumayan mengesankan, walau saya ( dan jutaan penonton lainnya ) mungkin lebih terkesan dengan Eponine nya Barks, yang ternyata pada konser 25 tahun Les Miserable pada Oktober 2010 kemarin, peran Eponine juga dibawakan oleh Barks. Dan tentu saja Sacha Cohen dan Helena B. Carter sebagai pasangan gila Madame dan Monsieur Thernadier, honestly, bisakah kita membayangkan aktor lain yang membawakan karakter antagonis seperti ini selain dua nama tadi yang ahli akan peran peran gila dan mengerikan seperti ini ? Sebelum mereka berbicara, oh hell, kehadiran mereka saja sudah memberikan suasana 'busuk' dan depresif akan perilaku jahat dari seorang manusia


Finally, Les Misérables. Victor Hugo dengan karya masterpiece nya ini mengungkapkan apa yang lebih dari sebuah cerita. Hugo ingin menyampaikan bahwa Cinta dan semangat harapan adalah hadiah terindah yang bisa kita bagikan kepada orang lain, dan yang akan selalu menjadi kualitas dari dalam diri seseorang dalam mencapai hal terpenting di dalam hidupnya.
Hugo juga dengan jelas, berpesan bahwa dengan dengan mencintai dan menyayangi seseorang, walau dalam keadaaan yang sulit sekalipun, tidak akan pernah menjadi sia sia. Bagi Hugo, Cinta dan kasih sayang itu bagaikan virus yang mudah menyebar, berpindah dari satu orang ke orang lain. Setelah ditolong oleh Biarawan saat Valjean baru keluar dari tahanan, yang kemudian dibalas Valjean dengan mencuri darinya, Biarawan tersebut memaafkannya, bahkan merangkulnya seperti kawan lama dengan penuh kasih sayang. Hal itu terus membayangi Valjean, hingga membuat Valjean sampai kepada Cossette, yang diselamatkanya dari Thernadier. Cinta dan kasih sayang Cossette menyebar kepada Marius, hingga Cinta mereka berdua lah yang juga membantu Valjean memaafkan dirinya sendiri.

Les Misérables, Karya apik dari Tom Hooper, yang mungkin bisa saja "menghukum" siapa saja yang tidak punya banyak pengalaman dengan film musical atau tidak menyukai musical. Dengan durasi sepanjang 158 menit dan  diisi oleh dialog dialog yang ditampilkan maksimal lewat nyanyian dan musikalias tingkat tinggi. Semua itu melebur menjadi harmoni yang cantik, indah dan emosional.( Mery )


Saturday, January 26, 2013

Review : Anatomy of a Murder ( 1959 )

Anatomy of a Murder ( 1959 )
Starring : James Stewar, Lee Remick, Ben Gazzara, Arthur O'Connell, Eve Arden
screen play by Wendell Mayes, based on the novel by Robert Traver;
produced and directed by Otto Preminger




















Setelah menonton beberapa courtroom drama  yang dipuja puji sebagai yang terbaik, yang berhasil menyajikan banyak hal hal yang kadang kadang melanggar batas batas akal manusia dan aturan advokasi itu sendiri, kemudian berganti dengan sorak sorai dan takjub dengan sanggahan sanggahan dan pembeberan fakta di dalam ruang sidang tersebut dengan gaya gaya dramatis tapi masih dengan sikap yang masuk akal dan sesuai dengan prosedur pengadilan itu sendiri, seperti yang berhasil mencakup semua faktor tersebut diatas, itulah "Anatomy of a Murder".

Diangkat dari novel yang berjudul sama, film ini mendapat banyak kepopuleran dan posisi posisi penting dalam sejarah perfilman, dan dianggap sebagai film pertama yang menggunakan istilah / terminologi seksual yang sebelumnya terlarang diucapkan atau tabu bagi masyarakat awam, maka jangan heran, sepanjang filmnya, bertebaran kata kata yang tergolong gamblang. Mendengar kata kata seperti pemerkosaan, penetrasi, celana dalam, semen, mungkin terdengar familiar dan atau setidaknya kita tidak terheran heran dan tersipu, tapi hal tersebut dianggap mendobrak tradisi atau nilai kesopanan untuk masyarakan barat di tahun 1950an.

Paul Biegler ( James Stewart ), seorang pengacara senior di kota kecil Michigan mendapat tawaran untuk membela Letnan Frederick Manion, seorang terdakwa atas kasus pembunuhan penembakan seorang pengusaha setempat, Barney Quill. Hal tersebut ia lakukan diduga karena Quill telah memukul dan memperkosa sang istri, Laura Manion ( Lee Remick ), yang anehnya hal tersebut tidak bisa dibuktikan secara valid oleh kepolisian.

Paul pun berusaha membela sang letnan dengan mengatakan bahwa klien nya mengalami apa yang namanya "kegilaan sementara". Berhasilkan Paul dengan pembelaannya tersebut meyakinkan para Juri untuk membebaskan sang letnan dari hukuman ?


so, you see..dengan sudut pandang Biegler sendiri, kita diajak mengikuti bagaimana ia memecahkan kasus ini, ia bukan detektif tentu saja, semua prasangka dan analisis nya murni berasal dari bukti bukti pengadilan dan pernyataan para saksi. Dasarnya, ia mengetahui bahwa : seorang letnan muda telah menembak mati seorang lelaki, pengusaha bar dan hotel setempat, karena istri sang letnan mengaku telah diperkosa dan dipukul oleh lelaki tersebut. Berpegang pada praduga tak bersalah kepada kliennya, Biegler menghiraukan kemungkinan kemungkinan seperti bisa saja sang istri berbohong kepada suaminya, atau mungkin suaminya memang tipe lelaki berdarah dingin, yang sudah terbiasa membunuh orang saat bertugas di medan perang. And then, dengan banyak keanehan yang terlihat baik dari bukti bukti atau pengakuan dari orang orang yang terlibat, Biegler memulai kasus ini dengan informasi informasi yang sangat mengundang naluri pengacara nya hingga akhirnya berhasil mendobrak karakter banyak orang melalui skill dan nalurinya.


Kemudian kedua karakter lainnya, pasangan suami istri yang sedang bermasalah dengan hukum ini, dihadirkan dengan realistis, si suami dan istrinya ini digambarkan dengan orang orang yang tidak simpatik dan cuek. Sang suami, tampak sekali sebagai pribadi yang keras, sinis dan tidak bersahabat, dan terang terangan tampak jelas terbukti bersalah akan kejahatannya, sedangkan sang istri, juga sama terang terangannya sebagai wanita penggoda, yang sering terlibat masalah atau mengundang masalah, yang kemudian membawa kita menyaksikan argumen argumen serta pembelaan cerdas dari Biegler sendiri yang mewakili terdakwa, dan seorang pengacara lainnya sebagai lawan Biegler dari jaksa penuntut. Konflik utama yang terbangun tentu saja berasal dari kedua orang ini, dimana mereka dengan sigap dan cerdas nya membelokkan kalimat, memplintir pernyataan menjadi pertanyaan, menjadi pertempuran hukum yang  Anehnya, malah terlihat sangat 'indah' dan mempunyai daya tarik, saya serasa menjadi salah satu anggota Juri yang masih kesulitan memutuskan apa sebenarnya misteri di balik kasus ini.

Penampilan brillian dari kedua tokoh pengacara ini, salah satunya dimainkan oleh James Stewart, yang boleh dikatakan menjadi salah satu penampilan terbaiknnya.
Dengan karakter yang perlahan dan halus, Stewart memberikan kita tampilan yang hangat, cerdas, tapi sekaligus komplex, terutama gambaran seorang pengacara yang sedang beraksi tidak boleh diremehkan atau disela ucapannya. haha..

Saat hal tersebut membahas tentang pekerjaan atau profesi seseorang, Hollywood kadang sering terlalu banyak berimprovisasi secara teratur, sehingga kadang kita sering bertanya sendiri, apakah memang benar seperti ini di dunia nyata ?
Well, pengecualian yang sangat jarang untuk Anatomy of Murder nya Otto Preminger ini, yang sangat sering dipertimbangkan sebagai salah satu film terbaik dunia pengadilan yang pernah dibuat, mungkin bahkan lebih disukai secara luas oleh para mahasiswa hukum daripada pecinta film itu sendiri. ( Mery )

Monday, January 21, 2013

Even Winnie the pooh have best friend !!

Hiyaa...so long, my friend XD
Entah sejak kapan menulis pernak pernik tentang film ( mostly review )seperti ini menjadi kegemaran saya akhir akhir ini. I love writing offcourse ( suka galau gak jelas and random babbling in my notebook count as writing, yes ? :p). Membaca dan Menonton, kedua hobi yang menjadi kiblat saya selama ini and sure do i have many collection of books and dvds, tapi menulis, mungkin belum saya tekuni seserius buku atau film.


*** 



“If you live to be a hundred, I want to live to be a hundred minus one day so I never have to live without you.”
Piglet sidled up to Pooh from behind. "Pooh?" he whispered.
"Yes, Piglet?"
"Nothing," said Piglet, taking Pooh's hand. "I just wanted to be sure of you.”
― A.A. Milne, Winnie-the-Pooh  

*** 




Well..this is weird, karena dari banyak hubungan persahabatan yang ada di jagat bimasakti, baik yang real atau fiksi, yang caught my attention and makes me remember my closest friends, its come from this winnie the pooh.... O_o
Yang diatas merupakan one of the sweetest quotes i've ever know. Oh relax, i'm a girl, i have permission to be all sissy on everything :p

I do have many friends, but only maybe just 3 or 4 of them that i can surely called best friend, and sadly, 2 of them maybe is an ex-best friend. Not that we're hating each other or what, i guess it's just happen naturally, and neither of us feel the need of each other again. It simply ended.

So, with this, as the honour for my best friends, i humbly present, daftar 5 film film tentang cool , heartwarming friendship yang saya sukai dan membuat saya selalu ingat, bahwa sahabat adalah seseorang yang tahu semua tentang dirimu, dan masih tetap bersamamu dan to have a friend who can commit to each other as friends for life is RARE and when you find her, keep her with everything you can !!
and to anyone of you, girl, who already find her, you are lucky bitch >0<

Here's for the friendship..Cheers !! *angkat aqua gelas*


Bridesmaid ( 2011 )

The cool friend :  Annie and Lillian yang merupakan contoh langka dan nyata film tentang female friendship, that actually rings true. Kita melihat mereka bersumpah serapa haha.., berkata kata kotor, tertawa, saling meledek, saling menjaga dan menyayangi, merasa tidak dipedulikan, dan actually, merasa cemburu saat ada orang lain yang ingin merebut posisimu di depan sahabatmu, take note !!

Coolest Moment: Their gleeful singalong to Wilson Phillips at Lillian's extravagantly wedding atau awfull momen saat Annie diusir dari bachellorette party nya Lilian.

Thelma & Louise (1991)

The Cool Friends:  Dua pasang perempuan bandel yang sedang lari dari kejaran hukum, saling menolong ketika melalui banyak kejadian sulit, hingga akhirnya happy ending, meskipun kadang harus dibayar mahal.


Beaches (1988)

The Cool Friends : Disutradarai Gary Marshall, and no matter how many time i watch this classic friendship movie, i always find myself crying through Bete Midler sing "the glory of love" >o<.
Oh well, pastinya ini film wajib untuk ditonton dengan sahabat yang terdekat dan paling kau sayangi.
I may think of one person while i write this..haha..

 

Coolest moment : gosh..this movie simply being cool every single second. T___T


Muriel's Wedding ( 1994 )

The Cool Friends : duo Toni Colette dan Rachel Griffiths membawa film ini ke arah chick flick yang banyak membahas isu isu kepercayaan diri , terutama dalam diri Muriel. Sangat menyentuh, off course , terdapat banyak tawa tawa kecil sekaligus hal hal melankolis yang tidak kita duga, tapi diluar ekpekstasi sangat mengena di hati saya. Toni Collete memberikan performa yang luar biasa, dan plus, penggunaan yang baik dari lagu lagu ABBA.

Coolest moment : saat Rhonda ( griffith ) divonis menderita kanker di kakinya, Muriel tetap di sampingnya dan bertekad bersamanya, walau saat itu ia juga tidak tahu apa yang harus diperbuat dengan hidupnya. 

 

STEEL MAGNOLIAS (1989)

 The Cool friends : sure do i love this classic characters. ciri ciri khas perempuan ( mostly tante tante ) daerah selatan ( istilah di amrik haha..), yang kepo, judes, cerdas, dan sekaligus mempesona dan mudah disukai
And guess what ? another tearjerker. Tapi filmnya memuaskan sekali, sweetpea !!


Coolest moment : Saat Sally Field di film ini akhirnya meluapkan perasaannya dengan histeris di tempat ke 4 temannya saat putrinya meninggal. The way Sally screams "WHY" shatters my heart everytime.T__T



Special mention ke beberapa chick flicks lainnya ( yang sudah pernah dintonton >,< ) :
Friends with money  ( 2010 ), Monalisa smile, Fried green tomatoes (1991), First Wives Club (1996), Girl, Interrupted (1999), The Women (2008) 

Special mention untuk cool friendship movie lainnya, kali ini yang bromance..haha..:
Butch Cassidy and Sundance Kid ( 1976 ), The Shawshank Redemption ( 1994 ), TLOTR trilogy, 50/50 ( 2011 ), Toy Story ( 1995 ), Top Gun ( 1986 ), The Bucket List ( 2009 ), Sherlock Holmes ( 2009 ).

Special mention, kali ini film film yang persahabatannya beda gender, see..man and woman can be friend without sex in it >,< :
When Harry meet sally ( at least, awalnya mereka temanan haha..), Driving Miss Daisy ( 1989 ), Bridge of Terabithia, and the list still continue.!!

and the very last, save the best for the last is FRIENDS !


my favorite series forever, dimana Joey, Monica, Chandler, Phoebe, Ross dan Rachel akan selamanya dikenang ! 
i love chandler and his smart-ass talk and awfull jokes
i love Joey's stupid act and his ladies-man-attitude.
i love Phoebe and her gypsi style !
i love Monica and her cooking and her control freak !
i love Ross and err..his dinosaurus obsession
i love Rachel and her queen-bitch-attitude !
i love them all !!

***

and cheers for our motto ( who am i kidding ? off course we have motto haha..) :
Every girls dream is to find a the perfect guy, eat without getting fat and to have a best friend who'll stay true to her !!

so long, my friend.., so long.

Pkp, 21/1/13. MK    

 

 

Tuesday, January 15, 2013

Never say Never to make this list !


Ini sebenarnya fashionably late banget buat bikin daftar daftar seperti ini haha.., apalagi di awal bulan Januari ini sudah berhamburan list list yang menyandang predikat "the best movies of 2012" dari banyak pencinta film.
2012 diwarnai dengan banyak film film blockbuster dengan budget fantastis yang siap bersaing ketat, seketat baju yang salah ukuran, pada musim panas kemarin, mulai dari The Amazing Spider-Man, The Avengers, dan The Dark Knight Rises, ketiga film yang menggusung tema superhero yang mewakili kebesaran Hollywood dalam menciptakan pundi pundi uang paman Gober dalam perilisan ketiga film tersebut, dan juga salah satu film flop dan cetar membahana  tahun ini yang juga bisa membuat telinga panas petinggi Disney dan Universal, karena film yang dirilis dengan budget fantastis itu hanya bisa balik modal dengan terpaan badai khatulistiwa ( kritikan maksudnya ), you name it >_<, John Carter dan Battleship.  

Kemudian masih ada sang super rookie yang sanggup menggebrak di kemunculan perdananya dengan fashion Gaga style nya haha... The Hunger Games, yang sangat berpotensi untuk menjadi franchise populer menggantikan The Twilight Saga, yang sudah berakhir di Breaking Dawn part 2 ( ciyus, penulis sedih dengan hal ini, butuh lebih dari dada sixpack Ryan Gosling atau mata biru cemerlangnya Matt Bomer untuk membuat saya Move on T_T ) yang dirilis bulan November 2012 kemarin. Bersaing ketat di bulan yang sama dan mengukir sejarah dalam usia Franchise nya yang sudah memasuki usia ke 50 ( udah Tubang ; tua bangka :p ), Skyfall menunjukkan keperkasaannya baik secara quality dan quantity, dan dengan memasuki film ketiga Bond yang tergolong sukses di pasaran dan di mata kritikus, tampaknya si macho mucho Daniel Craig masih akan betah duduk di kursi aktor utama untuk film berikutnya. Kemudian ada The Hobbit dan Life of Pi yang muncul sebagai film penutup tahun yang manis yang tanpa mengesampingkan kualitas, sanggup tampil gagah dan tampan dalam deretan film film besar tahun 2012 kemarin.

Dari sisi film film non-mainstream yang jarang kita perbincangkan, film film yang bersinar di banyak festival film film bergengsi di dunia, seperti film cinta cintaanya Haneke, Amour dan tribute nya Affleck terhadap film itu sendiri, lewat Argo, yang sepertinya mendapat spotlight khusus untuk tahun 2012 kemarin.
Saya tergolong tipe penonton yang lebih tertarik dengan film film seperti ini, bukannya saya tidak menyukai film film box office seperti yang saya mention di atas, hanya saja, film film seperti ini lebih menarik perhatian saya, dan lebih mengisi dahaga saya akan film film yang membutuhkan perhatian dan daya cerna khusus mengingat saya mempunyai penyakit maag dalam medical record saya. ^_^
Dan melanjutkan kalimat saya di awal artikel ini, akhirnya setelah 2 paragraf  bersok an ria menjadi komentator napak tilas film Hollywood tahun 2012, saya mencoba memindahkan ke blog ini film film yang saya anggap berkesan dan saya sukai selama tahun 2012, and this is my main course ( Gordon Ramsay will be so proud of me ^_^ )..

Amour mencetak prestasi ajaib saat memenangkan Best Actor, Best Actress, Best Picture dan Best Director dalam festival film Eropa 2012 kemarin. Dilanjutkan dengan dimenangkannya Palm D'or oleh film ini lewat tangan Michael Haneke sendiri, sang sutradara.
Bersettingkan hampir seluruh durasinya dalam sebuah ruangan di apartemen, karya Haneke yang satu ini, secara gamblang tanpa ampun, menceritakan realitas yang terjadi pada pasangan renta yang saling mencintai, ketika sang istri mulai menderita stroke, dan sang suami bertahan untuk tetap merawatnya dengan bantuan yang minim. 
Dua aktor veteran dalam film ini, Jean Lous Trintignat dan Emmanuella Riva, menunjukkan kelasnya dalam dunia akting. 

Faktor X film ini ( MGL - menurut gue loh ) :
Penjabaran cinta yang begitu rumit dani indah dalam film ini, yang terpancar dari sikap sang suami serta tindakannya di akhir film yang bikin sesak.


Ben Affleck boleh saja kecewa dengan Academy yang sama sekali tidak melambaikan tangan untuknya dalam pagelaran Oscar 2013 ini. Kemenangannya atas Best Director dan Best Picture di Golden Globes kemarin, hanya satu diantara banyak pembuktian, kalau Ben Affleck benar benar harus dipandang serius dan dihargai dalam perfilman Hollywood.
Dengan berbekal "based on true event", Argo memuat kisah tentang misi penyelamatan para karyawan yang bekerja di kantor duta besar Iran yang sedang dilanda krisis. Misi yang dipandang unik, karena tidak berbekalkan senjata atau tank tank militer yang sudah terlalu mainstream terjadi untuk jaman sekarang, melainkan sebuah taktik dan tipu muslihat pembuatan film asli tapi palsu, seperti tagline di posternya.

Faktor X film ini ( MGL yah..) :
Jeniusnya Affleck dalam menata nada per nada film ini, hingga ke puncak kesimpulan akhir yang bikin merinding karena tegang sendiri..haha..


Bersiap siap untuk bingung bagi siapapun yang belum pernah menonton film film Wes Anderson. 
Moonrise kingdom mendapat perlakuan yang hampir mirip dari Anderson untuk film film sebelumnya, dengan gaya black comedy dan karakter karakter yang punya sensivitas yang tinggi dan dialog dialog yang quirky, toh tetap terbukti film ini tetap menjadi kesayangan di tahun 2012 kemarin. Bercerita tentang dua pasang anak yang sedang mengikuti kegiatan pramuka, dan memutuskan untuk meninggalkan hidup yang mereka anggap tidak cocok dengan diri mereka dan memutuskan berpetualang bersama.

Faktor X film ini ( still MGL :p ) :
Tampilan megah visual dalam film ini serta cara Anderson yang sekali lagi dengan khas memberikan sentuhan muram dalam diri karakter karakternya, yang sebenarnya memendam kesedihan atas persoalan yang sudah lama mereka hadapi.


Sejak aktingnya sebagai Edith Piaf di La Vie En Rose yang dibayar dengan Best Actress nya Oscar tahun 2007 kemarin, Marion Cotillard, rasanya sejak itu tidak pernah benar benar menapakkan kakinya di ranah Hollywood. setelah beberapa kali muncul di berbagai film blockbuster Hollywood beberapa tahun terakhir sebagai gula pemanis, akhirnya Cotillard tahun kemarin berhasil sekali lagi memunculkan namanya di dunia film tahun kemarin lewat Rust and Bone, yang menceritakan tentang kisah perjalanan dua orang yang berbeda latar ( dan fisik ), yang dengan klisenya berubah menjadi sex-buddy, and the rest of history >,<.

Faktor X dalam film ini ( MGL ) :
Film ini dengan berirama abu abu ( istilah saya sendiri hehe..), dengan dialog dialog yang kering dan lebih mengekspos ke jenis jenis emosi yang masih setengah matang yang muncul dari dalam diri Cotillard sendiri, dan uniknya banyak melewatkan bagian bagian yang biasanya malah menjadi adegan adegan pamungkas dengan film film yang bertema sejenis. Alias, saya menyukai film ini karena tidak bergantung pada faktor public pleasurenya..haha..


Okesip, kadang sangat salah tujuan menonton film hanya untuk melototi wajah tampan aktornya, and honestly, as Fassbender and proud, Prometheus menjadi salah satu film yang wajib ditonton oleh semua Fassbender di seluruh jagat bimasakti. Agak lebay haha..mengingat porsi Fassy di film ini ngga dominan amat.
Walau berbekal kebesaran nama Ridley Scott dan Alien nya, saya awalnya menonton film ini karena F faktornya itu >///<, yang kemudian membuat saya malu sendiri, karena diam diam saya sangat menyanjung film satu paket beserta seluruh isi pemainnya, yang berarti ngga fassy juga haha..
Bercerita tentang kisah petualangan beberapa awak kapal Prometheus yang menjelajah alam semesta dan sebuah pencarian akan sang pencipta. Haha..agak religius kedengerannya, tapi tanpa disangka mereka malah terlibat dengan suatu kekuatan besar yang tidak sanggup mereka tanggulangi dengan kemampuan manusia mereka.

Faktor X film ini :
1. Fassy off course
2. tampilan visual, jalinan cerita dan konflik yang dibangun sir Ridley Scott ini yang terbukti mampu berbicara banyak akan kengerian yang dihadapi para awak Prometheus. Belum lagi pintu pintu teori yang dibangun oleh sir Scott yang terbukti memberikan banyak ruang perdebatan.


Siapa yang sangka, Bradley Cooper akhirnya naik ke permukaan film film Hollywood tahun kemarin lewat Silver Lining Playbooks. Dia tidak lagi dipandang sebelah mata, karena selama ini hanya bermain di film film yang cenderung biasa dan tidak terlalu dikenang, dan Oscar pun meliriknya tahun ini,  sedangkan JLaw sendiri bukan kali pertama namanya muncul di pembacaan nominasi best actress di Oscar, setelah nominasi yang diperolehnya di Winter Bones ( 2010 ), rasanya sulit untuk mengalihkan pandangan dari karier Lawrence yang sedang menuju puncaknya ini. Dipasangkan kali ini, Cooper dan Lawrence sama sama memerankan dua tokoh yang mempunyai masalah dalam kepribadian dan sulit untuk move on dari mantan pasangan masing masing. Pada akhirnya timbul chemistry di antara keduanya dan hubungan mereka dengan keluarganya juga semakin harmonis.
Yippiee...

Faktor X dalam film ini :

Twist ending yang menarik dan akting tjap jempol dari Bradley Cooper dan Jennifer Lawrence menjadi nilai tambah bagi film drama ini. Masing-masing memerankan orang "sakit" dengan baik, and dat ass, most people ( men ) talking about @_@..


Aduh, film satu ini, judulnya agak ribet. Salmon Fishing in the Yemen.
dan ngga seperti kebanyakan judul yang hanya sebagai perumpamaan, SFitY ini berarti yang sesungguhnya loh, literally !!
I always love Emily Blunt. She's one of my favorite actress that i will have crush on if i was gay, and i'm serious :l haha..
Dengan ide lucu dan absurd khas orang orang kaya yang duitnya belepotan, seorang Sheikh di Yemen bertekad untuk membuat sebuah kolam budidaya ikan salmon di tengah padang pasir di Yemen. Dibantu seorang konsultan ( blunt ) dan seorang ahli ikan ( atau apalah sebutannya haha..) - Ewan Mcgreggor, misi Sheikh pun segera dilaksanakan. Dalam kisah tersebut terselip cinta, harapan dan pertentangan tradisi.

Faktor X dalam film ini :
Heartwarming, alias bisa membuat saya puas sekaligus kepengen mancing ikan.
eh..bukan seperti itu juga sih haha.., tapi lebih unsur unsur romcom yang mampu menggetarkan hati dengan sesuatu yang sudah ada sejak jaman nenek moyang kita yang orang pelaut dan gemar mengarungi samudra, Cinta. U_U



Saya, selalu menganggap biasa biasa saja aktor aktor tampan yang sudah berada umur middle age ( alias 50s ), setampan apapun George Clooney tidak bisa menggoyahkan komitmen saya, sampai saya berkenalan dengan François Cluzet yang menjadi milyuner super kaya tapi lumpuh total di film ini, The Intouchables. Cluzet praktis hanya mengandalkan akting di mimik muka dan suaranya, and yet, dia tetap terlihat tampan. -------------------------------------------------->
yang saya tunjuk loh, bukan lelaki gagah di sampingnya itu, Omar Sy, yang diluar faktor faktor tampan ngga nya, memang film ini menyorot sosok Omar Sy yang menjadi Driss, seorang berandalan yang dipilih oleh sang milyuner untuk menjadi caretaker ( bahasa keren dari pengasuh ) dirinya sehari hari. 

Faktor X dalam film ini :
filmnya sendiri mengalir dengan banyak momen momen istimewa. Humor dan drama yang sangat berimbang, tapi tidak pernah dibawa ke arah yang benar benar terlalu serius atau lucu sekali. Walau banyak tawa tawa yang bermunculan, ini bukanlah komedi yang gamblang. It respects the characters dan their situations. 


Dan akhirnya film yang ditahbiskan banyak pecinta film sebagai salah satu film terhebat sepanjang 2012, The Dark Knight Rises. like i said, walau saya penyuka film film festival, bukan berarti i hate blockbuster movie..haha...
Saya ngga terlalu memikirkan atau hafal dengan seluk beluk kisah semua superhero, seperti Batman ini. Tapi TDKR berhasil membawa level kisah superhero ke dalam ranah bukan kisah remaja lagi, tapi dengan tone yang lebih muram dan cerita yang lebih dewasa, dan tidak ada monster monsteran hijau disini !!
Disaat semua superhero berprinsip nobita, alias forever young, TDKR melawan arus mainstream itu dengan memunculkan sosok Bruce Wayne yang sudah tidak muda lagi, tapi masih harus mengumpulkan tenaga nya untuk melawan persekutuan teroris gotham yang dipimpin Bane ( yang cara bicaranya lutju bangettt..!! )
kebaikan selalu menang melawan kejahatan, walau si baik harus selalu dipercundangi dulu oleh si jahat. :p

Faktor X film ini :
boleh percaya boleh tidak, tapi cara Bane berbicara sangat menarik buat saya haha.., oh yeah..dan ceritanya sendiri yang dibangun dengan oke, walau saya tidak terlalu mengerti mengapa JGL banyak diagung agungkan di film ini -__-.

And nomer sepuluh, masih saya kosongkan, karena rasanya tidak adil untuk film film rilisan 2012 yang sangat banyak yang belum saya tonton dan sangat ingin saya tonton seperti Killing them sofly nya mas Brad Pitt, Hitchcock nya Om Hopkins, Anna Kareninna, West of Memphis, Zero Dark Thirty ( yang kemungkinan bakal naik pamor di Oscar 2013 ), oh dan juga The Hobbit serta Life of Pi. oh you name it !! :p

Special Tribute untuk film film Indonesia tahun ini yang semakin beragam dan mulai menjajakan kualitasnya. Menyukai film film luar, bukan berarti saya membenci film film Indonesia, walau masih disayangkannya banyak film film Indonesia yang bagus tapi kalah pamor dengan film film blockbuster Hollywood, atau lebih parah lagi, film film hantu gak jelas buatan orang orang yang menyinggung kecerdasan generasi muda bangsa ini.

Dari sekian banyak judul, saya memilih untuk men-spesial-kan Test Pack nya Monty Tiwa dalam tulisan saya kali ini. Haha..another romcom, tapi kali ini romcom asli Indonesia. Test Pack jelas memberikan nyawa baru dalam film film komedi romantis kita dengan suasana yang lebih fresh, setelah saking seringnya dikacaukan film film komedi atau horno yang payah.
Kemudian masih ada The Raid, Modus Anomali, dan Soegija yang menjadi highlight perfilman kita tahun lalu. Saya bukan kurang menyukai ketiga film ini, tapi memang karena The Raid yang bergenre bak bik buk, tidak cocok dengan selera saya yang sudah terbiasa ketiduran saat menonton film action ( saya dua kali ketiduran saat nonton MI:Ghost Protocol dan The Avengers !! ). The Raid seperti yang kita tahu ( atau berkat promosi cetar membahana dari beberapa orang ), mendapat respect di luar negeri dan sanggup masuk tangga box office amerika, atau Modus Anomali yang bergenre Horor yang juga banyak diapresiasi di festival festival film di luar negeri. 
Dan tentu saja Soegija, film yang berpesankan bhineka tunggal ika dengan penyampaian yang humanis dan realistis saat masih dalam masa penjajahan. Dan baru kali ini, saya menonton film Indonesia harus memunculkan subtitle bahasa di filmnya haha.., ya wong hampir seluruh durasinya ngomong pake bahasa jawa dan belanda, ora ngerti akyu..>,<.

 List list juara 2012 udah, special tribute film Indonesia udah, sekarang giliran yang paling saya tunggu tunggu haha.., Guilty Pleasure.
Banyak yang salah mengartikan guilty pleasure. Mau tau artinya ? digugel aja yak, panjang kalo saya jelasin. yang jelas saat saya menuliskan Breaking Dawn Part 2 sebagai guilty pleasure untuk film film 2012, saya yakin pasti banyak yang mencemooh haha.., terserah deh btw.
But come on, BD part 2 ngga sehancur New Moon atau Eclipse. haha..
Kemudian masih ada Magic Mike yang mempersembahkan aktor aktor ganteng dalam balutan busana seksi dan 'menantang' dan bikin merinding melihatnya ( cowo ye yang merinding, kalo saya sih senyum senyum kepengen haha..)

Dan dengan ini juga, saya mengukuhkan ( MGL - Menurut Gue Loh..), kalau The Avengers, Looper dan The Amazing Spider-Man adalah film film yang saya nilai overrated. Sekali lagi, saya bukan pembenci film film superhero. Setelah menonton ketiga film tersebut, saya tetap masih tidak bisa menemukan keistimewaan apapun, kecuali banyak hal klise di dalamnya, exclude Looper. Untuk Looper, banyak yang mengagungkan JGL di film ini, i mean come on, he's not that good >,<. Overrated bukan berarti gue anggep jelek, hanya saja film film ini tidak seheboh yang saya pikirkan, alias kemakan ekspektasi tinggi yang sudah digembar gemborkan teman teman saya, tapi jatoh nya biasa banget. haha..

Dan saya sangat excited menyambut 2013 ini dengan film film yang tak kalah menariknya dari tahun kemarin. Bahkan saya sudah bertekad untuk membuat semacam daftar serta menuliskan fim film yang saya tonton tahun ini ( yang menilik sejarah saya, pasti terlantar sepanjang tahun nanti akhirnya haha..), oh dan tentu saja lebih banyak review review yang bisa ditulis.
Oh well, still, minat saya masih condong ke arah Classic, tapi bukan berarti saya terjebak di masa lalu haha..


Be Healthy, Witty, Naughty and Sexy
 *ketjup mesra
Mery










Friday, January 11, 2013

Review : Once Upon A Time ( 2011 - TBA ) ; TV Series

ONCE UPON A TIME
Creators: Adam Horowitz, Edward Kitsis
Stars: Ginnifer Goodwin, Jennifer Morrison and Lana Parrilla


Familiar dengan dongeng Snow White, Prince Charming, Evil Queen, penyihir, para kurcaci, peri biru, Cinderella, Hansel dan Gretel, Red Riding Hood, Pinokio dan Papa Gepeto ? bagaimana jika semua karakter dongeng dongeng tersebut menyatu ke dalam sebuah cerita, dan dalam perkembangannya beralih ke dunia nyata ? dunia manusia ? dunia yang sedang kita diami saat ini ?

Once upon a time..in a land far far away..
Snow White dicelakai oleh Evil Queen, kemudian diselamatkan Prince Charming , kemudian hidup bahagia selama lamanya..
The End..

err..no..To be continued...it is

Tentu saja tidak sesimpel itu, kisah di film ini berpusat pada Evil Queen, Snow White and Prince Charming dan err..anak mereka ? eh..
Kisah dongeng dari Grimm bersaudara yang paling populer ini kemudian dipelintirkan sedemikian rupa haha.., ternyata Evil Queen tidak mati terjatuh dari tebing, tapi tetap selamat dan mengancam nyawa Snow White dan Prince Charming di hari pernikahan mereka, bahkan mengutuk mereka untuk tidak pernah bahagia . Evil Queen kemudian berjanji akan mengirim kutukan maha dasyat untuk menghancurkan negeri dongeng ini.

Snow White dan Prince Charming kemudian "berkonsultasi" dengan seorang tahanan penyihir jahat, Rumplestiltskin, yang kemudian memberitahu, satu satunya yang bisa menyelamatkan negeri mereka adalah anak dalam kandungan snow white. Dengan berbekal info tersebut, diadakan sebuah rapat penting antara Snow White, Prince Charming, para kurcaci, papa Gepeto, Red Riding Hood dan beberapa tokoh dongeng lainnya. mereka akhirnya memutuskan untuk percayak epada rumplestitskin dan meminta papa gepeto membuat sebuah ruangan di dalam pohon ajaib yang bisa menyelamatkan ( sayangnya hanya satu orang ). Karena terdesak oleh serbuan kutukan evil queen, prince charming yang terluka membawa anak ke tersebut ke dalam pohon ajaib, dan langsung menghilang entah kemana bersamaan dengan kutukan  itu menjadi kenyataan.

Kemanakah anak Snow white dan Prince Charming itu berada?

Dari sini muncul peralihan ke dunia manusia, dunia modern, dunia yang kita tempati saat ini,
Emma Swan’s life has been anything but a fairytale.
Dia sudah ditelantarkan sejak bayi dan tumbuh dewasa menjadi pribadi yang kuat. Tapi saat Henry, anak yang diserahkannya untuk adopsi 10 tahun lalu menemukannya, hidupnya berubah. Henry bersikukuh untuk mencari Emma, ibu kandungnya, dan berpikir bahwa Emma adalah anak Snow White dan Prince Charming yang lama hilang. YES, the actual Snow WHite dan Prince charming yang saya tuliskan diatas.
Henry, anak laki laki cerdas berusia 10 tahun ini, percaya bahwa kota yang ditinggalinya, Storybrooke, Maine, adalah kota yang tertidur, dimana semua penghuninya adalah tokoh tokoh dalam negeri dongeng, adalah bagian dari kutukan Evil Queen, yang membekukan semua karakter dongeng tersebut dan membawa mereka ke dalam dunia modern ini tanpa sedikitpun memori akan kehidupan mereka sebelumnya.

Benarkah hal tersebut ? kalau iya, berarti Emma hanya tinggal satu langkah lagi menemukan orang tuanya, Snow White dan Prince Charming yang sudah pasti ada di kota itu, lalu Evil Queen yang ternyata menjelma menjadi walikota sekaligus orang tua angkat Henry !!
Berhasilkan Henry meyakinkan Emma dengan hal tersebut ?, dengan harapan Emma bisa membantu mereka semua keluar dari kutukan Evil Queen, seusai dengan ramalan Rumplestitskin, yang ternyata juga mendiami Maine dengan sosok seorang Banker yang menyeramkan ?

Meanwhile, the epic battle for the future of all worlds, modern and fairytale alike, is about to begin. For good to win, Emma will have to accept her destiny and fight like hell.

Tokoh Henry, sangat mudah untuk disukai. Dengan kepribadiannya yang lugu tapi cerdas, kita dengan mudah terbawa dengan dongeng ( tapi nyata ) yang diceritakannya dari buku yang diberikan oleh gurunya. Henry dengan sabar membujuk Emma untuk memberi nya kesempatan untuk menunjukkan teori teori yang sudah berhasil dibangunnya mengenai kutukan Evil Queen. Kita sebagai penonton, tentu saja langsung percaya, mengingat persamaan wajah akan semua karakter di kota Maine dengan karakter karakter yang tadinya diceritakan di negeri dongeng tersebut. Tapi Emma tidak percaya semudah itu, yang menarik disini adalah bagaimana Emma dengan sendirinya menyadari banyak kejanggalan yang ada di Maine, dan kita sebagai penonton juga seperti disentil untuk mendapat perasaan janggal tapi familiar akan detail detail kecil yang sebelumnya ada di dongeng dongeng tersebut.Karakter Emma, is a tough girl. Feminime but yet not girly kinda thing. She's Rock !!

Perkenalan yang terjadi di episode 1-2-3 cukup memberikan kita gambaran yang mengasyikkan akan kemana kisah ini akan dibawa. Yang jelas, pertarungan akhir melawan Evil Queen mungkin belum akan terjadi, karena sosok Emma sebagai pahlawan utama masih minim pengalamannya terlibat dalam kehidupan di Maine ( a.k.a negeri dongeng yang sebenarnya ), satu persatu sosok dongeng yang terjebak di Maine akan memunculkan dirinya satu persatu dengan segala permasalahan yang mereka hadapi ( tapi sangat familiar dengan pakem dongeng nya itu sendiri haha..). Saya sendiri baru menonton sampai episode 4 saat "sesi" tokoh Cinderella yang ternyata ikut dipelintirkan dongengnya. Semua happily ever after sudah dimusnahkan oleh Evil Queen saat kutukan nya berjalan, dan Cinderella sendiri bukannya Happily ever after bersama pangerannya, melainkan tetap menjadi pelayan, dimusuhi ibu dan saudara tirinya, serta hamil dan ditinggalkan oleh sang pangeran.

Saya hanya membayangkan bagaimana konfigurasi pengaturan ini akan berubah sambung menyambung setiap episode nya, dengan season 2 nya saja yang akan segera tayang, endingnya sendiri masih jadi pertanyaan banyak orang.
There’s a certain amount of fun to be found here, dan saat episode pilot selesai, mulai terbangun level level pesona yang dibangun oleh para karakter.
Faktanya, secara pribadi, saya berharap dengan improvisasi ( atau pelintiran ) dongeng yang diterapkan di dunia nyata ini, tetap berpegang pada pakem aslinya, tapi bisa dibawa secara kreatif, baik itu karakter atau jalan ceritanya sendiri.

Serial seperti ini harus mempunyai kisah yang berdiri sendiri, dan tentu saja diselipkan banyak kisah sampingan untuk mendukung kisah kisah pelintiran dongeng tersebut, apabila hanya memuat lengkap terjemahan dongeng aslinya sendiri, penonton akan dengan cepat merasa bosan ( karena memang sudah tahu endingnya >,< ). Saya sendiri berusaha menyadari hal ini, dan kembali berfokus pada Emma dan Henry yang menjadi satu satunya karakter yang tidak terjebak di kutukan Evil Queen, dan tetap ber"akal sehat" dalam memperjuangkan keselamatan seluruh penduduk Maine ( negeri dongeng ).

We’ll see how that works out. ( Mery )


Wednesday, January 2, 2013

Review : Amour ( 2012 )

AMOUR
Director : Michael Haneke
Writer : Michael Haneke (screenplay)
Stars : Jean-Louis Trintignant, Emmanuelle Riva




















Memenangkan Palme d'Or di Cannes Film Festival dan secara mengejutkan melakukan sapu bersih di Festival Film Eropa yang tidak pernah terjadi sebelumnya, membawa pulang award Best Picture, Best Director, Best Actress dan Best Actor. Asosiasi LA Film Critics menyatakan bahwa ini adalah film terbaik film ini, dan hingga tulisan ini diturunkan, Amour mempunyai peluang yang sangat tinggi juga untuk berlaga di Golden Globe dan Academy Awards tahun ini.

Sebenarnya apa yang membuat Amour yang lahir dari tangan Michael Haneke ini begitu menginspirasi banyak level kehormatan dan semangat dalam dunia cinematic tahun ini ?, mengingat pada dasarnya film ini sendiri hanya berjalan di tangan 2 orang karakter dan bersettingkan hampir seluruh durasi nya di dalam apartemen di Paris ?
Jawabannya, "Amour", mungkin adalah badai hebat dalam dunia film tahun ini, di tangan dingin Sutradara ini, tanpa disangka mengambil tema persoalan yang sangat emosional dan menguras pikiran : Apa yang terjadi di dalam kehidupan pernikahan yang sudah sangat lama dan harmonis, sudah renta dan lemah, ketika sang istri, Anne ( Emmanuelle Riva ) mulai menderita stroke, yang akan mengubah kehidupannya dan suami nya, George ( Jean-Louis Trintignant)  hingga tak bisa kita kenali ? ditambah lagi film ini dengan tekun menggambarkan kengerian yang tak terelakkan dari bagaimana bayang bayang kematian itu sebenarnya sudah di depan mata. Kunci fokus dari "Amour" ( sesuai judulnya yang berarti cinta ) adalah cinta yang tak berkesudahan antara pasangan ini. Seperti yang pernah dikatakan Haneke  sendiri "how we cope with the suffering of someone we love very deeply ?"

Lupakan judul tunggalnya yang bernuansa manis, dan bisa dibilang ini bukanlah kisah mengharu biru yang mempresentasikan mengenai bagaiaman cinta sejati yang selalu menjadi jawaban atas berbagai rintangan. Haneke jelas tidak seromantis itu.
Keseluruhan film ini diliputi kesedihan dan kemuraman, pace yang berjalan lambat dan sangat sunyi dan sepi. Untuk yang tidak terbiasa atau tidak pernah menyaksikan film dengan gaya seperti ini, mungkin bisa ketiduran atau menyerah sebelum setengah durasi.

Walaupun depressing, kita bisa merasakan bagaimana pasangan Georges dan Anna adalah pasangan yang penuh kasih sayang, walau Haneke tidak secara gamblang mempertunjukkan hal itu lewat peluk-cium dan display of affection lainnya, melainkan bagaimana kita melihat gesture dan cara mereka memandang dan berbicara satu sama lain. Georges dan Anna juga bukanlah dua orang yang selalu larut dalam duka, walau keadaan yang semakin sulit, mereka tetap berusaha untuk menjalani hidup mereka seperti biasa. Anne juga menolak kembali ke rumah sakit dan nursing home, dan Georges ( yang sangat mencintai Anne ) dengan tekun menepati permintaan Anne itu dan merawat istrinya, hingga hal hal yang Georges lakukan di akhir film ini, walau mungkin susah diterima oleh beberapa orang.

Emmanuella Riva & Jean-Louis Trintignat at Cannes Film Festival


















Dengan ritme gaya cerita yang lamban dan banyak adegan adegan yang ditampilkan dengan tempo yang panjang, jelas merupakan tantangan tersendiri bagi penonton untuk bertahan mengikuti perjalanan pahit mereka ini, yang jelas Amour sukses memberikan penampilan yang begitu emosional dari dua pemerean utamanya. Jean Louis Trintignant begitu menghidupi peran Georges yang sedang dihadapkan pada tantangan pahit dalam kehidupan cintanya dengan Anne, yang selalu diwarnai kekhawatiran dan rasa cemas yang mendalam, serta kesadaran akan ketakutan akan kematian yang hari demi hari semakin larut dalam apartemen yang dihuninya besama dengan Anne. Tanpa cela, Trintignant berhasil membawakan karakter yang komplek dan emosional ini dalam genggamannya. Selain itu, Emmanuella Riva, juga jelas memberikan penampilan yang tidak bisa diremehkan, tapi akan membekas dalam ingatan banyak penonton, akan bagaimana usahanya menghadirkan sosok penderita stroke yang totally tidak mampu lagi melakukan apapun, kecuali berbicara dan gerakan tubuh sederhana yang minim. without a doubt, penampilan yang sangat fenomenal dari keduanya.

Finally, sebagaimana yang direpresentasikan oleh judulnya, "Amour", adalah benar sebuah kisah cinta, dengan segmen yang tidak banyak, tapi mampu memberikan gambaran istimewa akan hubungan dua orang, who are everything to each other, sekaligus memperbesar pemahaman kita tentang realitas yang sebenarnya tidak suka kita hadapi. Ini bukanlah narasi dari akhir sebuah cinta, tapi tentang cinta yang dibawa oleh kehidupan dan menjadikannya pahit dan sulit untuk dihadapi akhirnya.
Satu scene, saat Anne melihat foto foto album mereka dimasa lalu, dan berkata "It's a beautifull life", kita diharapkan mengerti bahwa semua yang kita sedang saksikan atau akan saksikan  tidak akan ada yang bisa mengubah perkataannya. ( Mery )

****

Amour l 2012 l Michael Haneke