Saturday, March 30, 2013

Review : Ruby Sparks ( 2012 )


RUBY SPARKS
Starring : Paul Dano, Zoe Kazan, Chris Messina, Annette Bening, Antonio Banderas
Writer : Zoe Kazan
Directors: Jonathan Dayton, Valerie Faris


Siapa bilang mimpi itu hanyalah sebuah mimpi dan tak akan pernah jadi kenyataan ?
I bet whoever say that never meet Calvin ( Paul Dano ), seorang novelist sukses yang bertemu dengan wanita pujaan di mimpinya...literally in the real world..

previously..in Ruby Sparks...

Meet, Calvin ( Paul Dano ), seorang novelist sukses yang sangat sangat kesepian dengan hidupnya. Rutin bertemu kakaknya ( Chris Messina ), dan memelihara seekor anjing, adalah penghiburan Calvin untuk kehidupan sosialnya.
Psikiater Calvin, menyarankan agar Calvin mulai menulis tentang seorang wanita impiannya. Di dalam mimpinya, wanita itu  bernama Ruby Sparks (Zoe Kazan) dan memiliki karakter-karakter yang disukai Calvin. Betapa terkejutnya Calvin ketika suatu hari ia terbangun dan menemukan Ruby, wanita yang ia karang dalam mimpinya dan tulisannya, tiba-tiba muncul di hadapannya.

Calvin just dreamed a dream and it's come true..!!?!


Ruby Sparks menawarkan sesuatu yang kreatif dan unik dan jarang kita temukan. saya membayangkan, kebanyakan orang yang menonton film ini akan mempertimbangkannya sebagai sebuah kisah antara penulis dan karakter fiksi ciptaannya, atau teori lainnya. Zoe Kazan, yang merangkap menjadi penulis sekaligus aktris di dalam film ini, mungkin juga merasakan hal yang sama seperti Calvin, mungkin saja saat ia menulis cerita film ini, ia juga membayangkan karakter pria semacam apa yang diinginkannya.

Film yang bergenre drama komedi ini juga mengajak kita untuk ikut membayangkan hal tersebut bersama Calvin, bagaimana jika kita bisa berkesempatan untuk menciptakan seseorang sesuai dengan keinginan kita sendiri ? and lucky Calvin got that chance !
Hal ini terhitung menarik untuk saya, dari premis yang ditawarkan sejak awal, yaitu tentang seorang pria culun yang dicampakkan kekasihnya dan didatangi karakter hasil imajinasinya. Bisa dibilang, tidak ada karakter lain yang menciptakan konflik sampingan lainnya, semua berfokus pada permainan emosi dari Calvin sendiri yang mencoba untuk menjalani hidupnya bersama Ruby dan mencoba menyelesaikan bukunya.

Chemistry yang terbangun antara Zoe Kazan dan Paul dano tergolong kuat. Momen momen ceria, berbunga bunga dan pertengkaran mereka tervisualisasikan dengan baik. Sosok jenius yang geek dan tidak pandai bergaul tampak jelas dari wajah Paul Dano ( masih ingat dia sebagai kakak Abigail Breslin, fans berat Friedrich Nietzsche yang tidak hobi berbicara ? ). Sikap, postur tubuh, cara berbicara, hingga ekspresi nya, oh tak lupa juga mesin tik yang masih dipergunakannya untuk mengetik lembar per lembar ceritanya. Agak kontras sebenarnya melihat mesin tik lawas tersebut berada di tengah tengah rumah modern minimalis milik Calvin haha..

Zoe Kazan yang menghidupkan karakter perempuan impian Calvin, Ruby Sparks, juga tak kalah saingnya. Dari detail deskripsi Calvin akan karakter Zoe dalam ceritanya, seperti, sering berpindah tempat, pernah dikeluarkan dari sekolah karena terlibat hubungan dengan gurunya, dan membenci nama tengahnya, menunjukkan karakter Ruby yang free spirit, dan bukanlah wanita yang berkarakter membosankan.
Mereka berdua kompak membuat sebuah tim yang saling melengkapi dan sukses menjadikan kedua tokoh utama tetap menjadi fokus cerita, walau terdapat beberapa karakter lainnya yang mencuri perhatian seperti Annette Bening dan Antonia Banderas yang menjadi orang tua Calvin yang eksentrik.

Dari pertama hingga akhir, saya menyaksikan apa yang disebut dengan sebuah cerita yang cerdas, unik dan terasa lembut, karena dibantu banyak elemen pendukung cerita yang menambah karakter film ini. Film ini menyenangkan, karena disamping cerita yang dibentuk dengan potensi maksimal, segala joke dan dialog nya yang renyah pun berhasil disuntikkan dengan dosis yang pas.


yang menjadikan film ini tetap menarik hingga saat terakhir tentu adalah pertanyaan besar yang telah tercipta sejak kemunculan Ruby. Nyata atau tidak kah sosok Ruby Sparks ini ?. Pertanyaan tersebut membayangi sepanjang durasi film ini, menggantung dan berputar di pikiran saya. Yeah..bahkan scene akhirnya pun masih membuat saya kembali tidak yakin dan merasa sangsi dengan sosok Ruby Spark, tapi terlalu banyak bukti menyakinkan akan sosok nyata Ruby Spark.
See..membingungkan. !?!
Film ini pun disempurnakan dengan ending yang tepat tapi tidak terkesan murahan. Dan untuk hal ini, eksekusi yang sukses dari Zoe Kazan.

Beranikah saya mengatakan bahwa film ini cocok untuk siapa saja yang menyukai kisah cinta yang menyenangkan dan menyentuh, namun tetap mempesona dengan formula serius dan fantasi nya ? Ya, saya berani, karena saya seperti membaca buku bersama Calvin, dan sambil bertanya tanya tentang eksistensi Ruby yang terkesan sangat tidak mungkin. Ah mungkin Calvin saja yang terlampau delusiona, atau tidak ? atau memang iya ?See.. masih membingungkan haha..

Ah..andai saya mendapat kesempatan itu.., mine would be a a hot, handsome guy with sexy jaw, well..just imagine Rob Pattinson or Michael Fassbender, or Matt Bomer, or Stellan Skarsgard, or Hugh Jackman, or Ian Sommerhalder, or Henry Cavill, or..( okay, sepertinya butuh waktu lagi untuk menuliskannya haha.. )


Thursday, March 28, 2013

Review : The Exorcism of Emily Rose ( 2005 )

THE EXORCISM OF EMILY ROSE
Starring : Jennifer Carpenter, Tom Wilkinson, Laura Linney
Written By: Scott Derrickson, Paul Harris Boardman
Directed By: Scott Derrickson

.

Based on true story of Anneliese Michel (21 September 1952 – 1 July 1976)

***
" Iblis itu ada !! baik kau percaya atau tidak !" tegas seorang pastur di film ini.Ya, tentu saja ia boleh berkata seperti itu. Sama saja halnya, jika kita juga yang berkata sebaliknya, " Iblis itu tidak ada, baik kau percaya atau tidak !"Semuanya toh ujung ujungnya kembali ke apa yang kita percayai. Tapi dalam pengadilan, sebuah ranah hukum yang berfondasi pada bukti nyata dan aktual, kepercayaan berdiri diluar "barang bukti". JIka kau bisa membuktikannya, maka kau berhak untuk mempercayainya, begitu juga sebaliknya.

Perdebatan antara hal hal berbau mistis dengan hal hal yang nyata, ilmiah, atau ilmu pengetahuan memang sangat membuat pusing banyak orang, saya sendiri pun begitu. Kita sudah mengetahui banyak konflik berkepentingan yang mewakili dua kubu ini, dari jaman Charles Darwin pun sudah terjadi dengan teori evolusinya, bahkan mungkin lebih jauh ke era sebelumnya. dan tentu saja yang paling teranyar sekarang adalah, para wakil rakyat kita di gedung senayan yang saat ini sedang sibuk membahas akan adanya undang undang tentang santet ( yang tergolong mistis ). Menarik saja saya mengikuti perkembangannya, penasaran pasti, akan ke negara manakah mereka melakukan studi banding ( a.k.a jalan jalan ). Inggris perhaps ? mungkin mereka bisa singgah di Leaky Cauldron untuk pergi Diagon Alley, kemudian bertukar pikiran dengan Profesor MacGonnagal tentang kemajuan ilmu sihir ( dan santet ), atau dengan siapapun guru Defense Against the Dark Arts yang menggantikan Amycus Carrow pasca perang.

Okay..back to the topic >0<


















Filmnya sendiri bercerita dengan gaya flashback dari ruang persidangan tempat Father Moore ( Tom Wilkinson ), seorang pastur yang menjadi tersangka atas meninggalnya seorang perempuan muda, Emily Rose ( Jennifer Carpenter ). Father Moore yang melakukan proses ritual pengusiran roh jahat atas permintaan keluarga Emily, dinilai telah lalai sehingga menyebabkan kematian Emily Rose. Dia sebenarnya ditawari sebuah kesepakatan, jika ia mengakui dakwaannya tanpa perlawanan, mungkin hukumannya bisa lebih ringan. Tapi ia menolaknya. " Aku tidak peduli dengan hukuman atau reputasiku, aku tidak takut dengan penjara, yang aku pedulikan adalah menceritakan kisah Emily Rose ini !!".Tentu hal ini membuat kelimpungan sang pengacara, Erin Brunner ( Laura Linney ), yang agnostik dan cenderung atheis.  Brunner sebenarnya mengagumi tekad Father Moore, dia sendiri tentu saja tidak percaya dengan adanya roh jahat. Jaksa penuntut nya sendiri, Ethan Thomas ( Campbell Scott ), adalah seorang religius dan jemaat gereja dan sebenarnya percaya dengan Father Moore, tapi profesi pengacara kadang harus berhadapan, berargumen melawan apa yang mereka percayai, bagian dari profesi mereka.

Dan siapakah Emily Rose ? Dia adalah mahasiswi, penganut katolik taat dari keluarga menengah. Ia mulai dihampiri eksistensi roh roh jahat tersebut secara tiba tiba, teman teman dan semua orang berubah berwajah menyeramkan, dihantui mimpi buruk, merasa tertindih saat sedang tidur, penurunan berat badan secara drastis, dia pun menelpon rumahnya meminta pertolongan dalam keadaan menangis. Dengan kondisi yang membingungkan, dipanggil lah sang pastur setempat, yang kemudian oleh Father Moore, telah terindikasi bahwa Emily kerasukan roh jahat.
Proses penengkingan ( pengusiran ) roh jahat pun dimulai, hingga sampai pada dalam prosesnya, Emily Rose meninggal.

Yang menarik adalah, film ini mengetengahkan kisah tentang drama pengadilan dengan sebuah kasus mistis, yang diurus oleh lembaga hukum resmi, dengan banyak pertanyaan-pertanyaan yang mungkin para juri dan hakim tidak memiliki jawabannya. Siapakah yang bersalah ? benarkah Father Moore yang lalai dalam proses penengkingan tersebut atau Emily Rose meninggal karena kerasukan roh jahat ?

Kemudian, kunci hubungan itu ada terdapat antara Father Moore dan pengacaranya. Erin Brunner tidak mempercayai eksistensi roh jahat, tapi dia percaya dengan Father Moore dan dia percaya apa yang dipercayai Father Moore. " Ada kekuatan jahat yang melingkupi sidang ini", Father Moore memperingati Erin, dan ia menyarankan Erin untuk berhati hati karena mungkin dia sudah dijadikan target oleh para roh jahat itu. Sosok Erin Bruner, seorang yang tak percaya setan dan berubah jadi ragu-ragu akan hal tersebut, menjadi cermin betapa ada kecenderungan spiritual terdalam dalam diri setiap orang

Mengadaptasi kisah nyatanya, film ini bukan sekedar kisah murahan tentang kematian gadis muda yang tergantung dengan obat obatan. Filmnya tetap mempertahankan keutuhan kisah asalnya dan mengajak penonton untuk ikut berpikir dan ikut bertanya. Film ini terbuka untuk ditanggapi dengan banyak sisi, percaya, tak percaya, atau ragu ragu. walaupun kasusnya sendiri telah usai, toh tetap sampai sekarang kita akan tetap membincangkan mengenai kebenaran apakah nyata atau tidak kerasukan setan itu.
Inilah sebuah film segar yang patut diapresiasi karena keterbukaan dan konsistensi nya.


















Kemudian lagi, scene puncak yang bisa membuat siapa saja merinding, saat proses penengkingan itu dilakukan, Father Moore menggunakan media media yang umum digunakan seperti, air yang telah diberkati, Doa Bapa Kami, dan ayat ayat alkitab. Layaknya film film horror, situasi dibuat semencekam mungkin, dan hal hal yang tiba tiba terjadi dan mengagetkan mulai diperlihatkan, kucing kucing yang menyerang father Moore, Emily yang memukul ayahnya, kemdian pergi ke sebuah kandang kuda. Semua yang mengikuti proses itu ( Father Moore, ayah emily, pacar Emily, dan seorang dokter ), terhentak saat melihat Emily yang kemudian berbicara dalam bahasa Latin, Jerman dan Aram ( bahas yang dipergunakan saat jaman Yesus ). Father Moore dengan segala doa doa nya sebagai perlawanan, memaksa roh jahat yang ada dalam tubuh Emily mengakui jati dirinya, dan dalam keadaan kerasukan seperti itu, Emily dengan 6 suara yang berbeda menyebutkan satu persatu roh jahat tersebut, Nero, Yudas, Kain, Baal, Lucifer dan Legion.
Menyeramkan, karena keenam nama itu memang mempunyai latar mengerikan tersendiri dalam sejarah manusia, dan di dalam kitab perjanjian ( alkitab ) ;
  1. Nero, kaisar Romawi yang membakar Roma dan membunuh banyak pengikut Kristus.
  2. Yudas, murid Yesus yang akhirnya berkhianat dan menyerahkan-Nya ke pengadilan tua-tua Yahudi.
  3. Baal, setan yang tersurat dalam Alkitab Perjanjian Lama.
  4. Kain, tokoh dalam pembunuhan pertama dalam buku Kejadian. Kain membunuh saudaranya sendiri, Babel, karena dengki.
  5. Lucifer, raja setan, malaikat yang berkhianat kepada Allah
  6. Legion, setan yang diusir oleh Yesus
Tetapi terlepas dari semua ini, kadang saya memang pernah terpikir mempertanyakan eksistensi setan di kehidupan manusia. Bila benar memang setan itu eksis, mengapa keberadaannya hanya untuk membujuk dan menipu manusia untuk menjadi pengikutnya? Mengapa Allah seolah-olah tidak berkuasa dengan membiarkan keberadaan setan ini?
Seakan akan ini adalah skema besar dan agung yang kasat mata, yang dengan kehendak-Nya membiarkan gadis muda beriman kepada-Nya dirasuki roh roh jahat, bertujuan agar orang orang yang menganggap Tuhan tidak ada, dengan cara menunjukkan eksistensi lainnya, yaitu kekuatan jahat. kenapa Tuhan ingin menunjukkan diri-Nya dengan menunjukkan keberadaan iblis ?

Menurut saya sendiri, itu karena Esensi akan Tuhan diluar jangkauan pikiran manusia.

****"

The Exorcism of Emily Rose adalah sebuah film thriller horor yang nampaknya akan sangat memuaskan para penggemar film horor, apalagi bagi mereka yang rindu akan sebuah film horor sejenis dengan The Exorcist yang melegenda itu. Berbekal oleh kisah nyata serta adanya bukti nyata tersebut ditambah lagi inti ceritanya yang mempertanyakan tentang ritual pengusiran setan,
Demikianlah film ini menjadi menarik, karena kerasukan setan memang ambigu, namun bukan tidak nyata.

**** 


Anneliese Michel (21 September 1952 – 1 July 1976 )
meninggal di usia 24 tahun dan masih menjadi misteri hingga sekarang. Di batu nisannya terpatri sebuah kalimat " work out your salvation with fear and trembling " - Phillipians 2:12, atau yang kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia yang berarti, " kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar" - dikutip dari  Filipi pasal 2 ayat 12, kitab perjanjian baru.

Bagaimana anda mengartikan kalimat tersebut ?

Monday, March 25, 2013

The valtari mystery film experiment ( 2012 )


Varúð
By
Sigur Rós

Director/Editor/Cinematographer: Jeff Ray
Starring :
Rebekah Downs & Dietrich Schmidt







Valtari adalah album teranyar dari Sigur Rós yang dirilis tahun 2012 kemarin, dan sebagai sebuah karya yang elegan dan eksklusif ( serius -,- ) ; mereka kurang mau banyak berbicara tentang lagu lagu mereka, so..instead, mereka meminta para filmmaker berbakat di seluruh dunia ( open competition ) untuk membuat sebuah video film pendek yang berkonsep kebebasan kreatif mereka, dan apa yang ada di pikiran mereka saat mendengar lagu lagu dari album Valtari. Hasilnya ? terdapat hampir 1,000 video yang masuk ke kompetisi ini. Akhirnya sih, terpilih 16 films yang bernuansa sedih, lucu, indah, dan membingungkan. mereka mewakili hanya sebagian dari respon emosional dan semangat akan album Sigur Ros yang teranyar ini.
And believe me, jumlah video yang masuk sangat sangat banyak, dan sampai saat ini, saya sendiri baru nonton belasan haha..
Dan sejauh ini, dengan antusias saya akan berkata semuanya OKE banget, tapi ada satu yang benar benar narik perhatian saya secara pribadi, yaitu Sigur Rós - Varúð - Directed by Jeff Ray. Video besutan Jeff Ray ini memang bukan keluar sebagai pemenang, tapi ia terpilih menjadi salah satu dari 7 finalist video lainnya, dan semuaya dipilih secara langsung oleh
Sigur Rós.

Dengan berlatar lagu Varúð, Jeff Ray berhasil membangun sebuah kisah pendek yang sangat emosional dan sangat klop dengan lagunya sendiri. Tentang sepasang kekasih, fokus POV nya dari si wanita yang terlihat menungguh kekasihnya pulang, dan agak serem sih saat ada sekilas terlihat 4 mayat di salah satu kamar. Sampai disitu, saya yang seperti..ookay..seems like this is not love story at all, saya mulai duduk tegak dan konsen menyaksikan detik perdetik, dan..andaikan saya bisa nahan napas selama 2 menit, i will do it. >0<
Karena this is AMAZING !!

Sangat banyak video yang lebih populer dari ini, tapi toh memang saya pribadi suka dengan video Jeff Ray ini haha..saya pikir ya.., hal yang khusus akan video ini adalah creatornya menangkap esensi dan momentum dari hal hal yang tidak kita sadari atau perhatikan, sangat sangat abstrak..tapi tidak sama. Videonya sendiri berhasil membuat saya benar benar merasakan lagunya ( bahasa icelandic, jadi sama sekali asing di telinga sehingga kita murni menikmati musik nya tanpa memperhatikan liriknya ). Penampilan dari dua aktor utamanya sendiri
, Rebekah Downs & Dietrich Schmidt sangat mengagumkan, permainan ekspresi dan mood yang mereka bangun sangatlah indah dan menyayat hati, its so beautifully hurt and simply amazing !
Video ini di-shoot dengan sangat baik, mulai dari hal hal teknis seperti cinematography, lighting, dan elemen elemen dalam setiap scene per scene yang ada sangat cocok menyatu dengan lagunya sendiri. Visi dan misi Jeff Ray akan interpretasi lagu ini sangat terasa.
Sangat menginsprasi ! Well Done !!
Simply so touching and amazing. So many emotions, words can't explain, definitely blew me away. So POWERFUL!
one of the best short films ever !!
 

Thursday, March 21, 2013

Review : In Her Shoes ( 2005 )

In Her Shoes
Starring : Toni Collette, Cameron Diaz, Shirley McClaine
Writter : Jennifer Weiner (based on the novel by), Susannah Grant (screenplay)
Director : Curtis Hanson

" Rose Feller: You're not going to look like this forever, you know. Eventually you'll be older, and all of the men who foot your bill now will be buying drinks for women half your age and then what will you do? Well, you'd better think of something because middle-aged tramps aren't cute, they're pathetic."

Awww...3 baris kalimat yang sangat menohok yang bisa diucapkan oleh seorang perempuan, dan yang mengucapkannya adalah seorang kakak kepada adiknya yang kesehariannya menjelma menjadi perempuan pesta, urakan, dan tanpa tujuan hidup yang pasti. Tapi apakah itu berarti dia membenci adiknya ?
I don't about guys and their brothers. But i have 3 sister that used to be like that. Oh well.., you know, cerewet, banyak tingkah, saying cruel things to each other when they're fight. Saya mempunyai 2 orang kakak perempuan ( berjarak usia lumayan jauh, 10 dan 12 tahun ), dan seorang adik perempuan yang hanya berjarak 2 tahun. Oh well..that glory days, when we're all still living in one roof. LOL..Setiap kakak yang baik merasakan insting protektif yang sangat besar untuk adik adiknya ( me too !! i still learn that, and believe me it's sooo hard to keep that feeling, and my sister's attitude is not helping :p  )

But no, we're not hating each other or having any bad feeling to each other. We are sister, family. You can't pick your own family, but you can pick who you want to be.

Just like The Fellers sister.

















Meet, Rose Feller ( Toni Collette ), perempuan dewasa, kaku, seorang pengacara yang mempunyai hidup dan rumah yang sangat normal, sampai pada tahap ia menjadi membosankan dirinya sendiri. Rose dikejutkan pada telpon tengah malam ( disaat ia sedang diam diam memotret lelaki yang sedang tidur disampingnya untuk dipamerkan kepada sahabatnya ), yang memaksanya untuk menjemput sang adik, Maggie Feller ( Cameron Diaz ) yang mabuk berat di sebuah acara reuni. Cantik, langsing, penggoda, blond bimbo, itulah kesan yang pertama kali kita dapat dari Maggie. Maggie adalah semua perwujudan karakter yang tidak ada pada Rose, dan sebaliknya juga. Maggie selama ini tinggal bersama ayah mereka dan ibu tiri mereka karena bebas 'uang sewa', tapi sang ibu tiri mengusirnya karena menginginkan kamarnya akan dipakai untuk anaknya sendiri, yang sering di-mocking oleh Maggie dan Rose sebagai si sempurna Marsha, my Marsha.

Maggie pun pindah dan tinggal bersama Rose, dan kita pun tau kalau Maggie ternyata mengidap Disleksia ( sebuah ketidakmampuan akan membaca dan menulis ) saat ia gagal mengikuti audisi VJ MTV yang diikutinya. Meanwhile, dia benar benar seenaknya tinggal di apartemen Rose, memakai pakaiannya, mencuri uangnya, sepatunya, daaann..merayu pria yang sedang berkencan dengan Rose. THAT'S IT !! cukup sudah buat Rose untuk mempertahankan Maggie di hidupnya, Maggie pun diusir Rose tanpa mau tau lagi kemana perginya saudarinya ini.

Sementara itu, ternyata nenek mereka ( Shirley McClaine )  yang sudah lama menghilang kembali hadir di hidup mereka.

Kepergian Maggie setelah diusir Rose dari rumahnya, membuat Maggie tanpa berpikir panjang ( atau malas memikirkan jalan keluar ), mengunjungi sang nenek yang diketahuinya masih hidup tersebut, dengan dalih berlibur, mulailah ia tinggal bersama sang nenek ( karena ia mungkin sudah bingung ingin tinggal menumpang dengan siapa ). So, mungkin bisa dikatakan mulai dari sini, film ini sendiri menyelip dari stereotip yang tertanam di awal film dan mulai membangun tensi dan kelebihan ceritanya sendiri. Ella, sang nenek, bukanlah tipikal wanita wanita tua di banyak film. Dia bukan seorang tua yang sentimental dengan hidup, tapi kebalikannya, she's tough, even in her old age, bahkan terang terangan bertanya kepada Maggie ( yang kepergok memeriksa laci untuk mencuri uangnya ) " Berapa uang yang kau harap bisa kau dapatkan dariku ?", dan kemudian dia membuat kesepakatan dengan Maggie, bahwa Maggie bisa bekerja di Panti Werda setempat, dan berapapun yang dihasilkan Maggie, Ia akan memberi Maggie uang sejumlah yang ia hasilkan. Maggie pun tertantang, dan mulai berhubungan serta berinteraksi dengan orang orang tua di Panti tersebut, seperti Mrs. Lefkowitz dan Profesor Norman, yang kemudian membuatnya sadar, lambat tapi pasti, ternyata Maggie punya kompetensi dan bisa bertanggung jawab, well..and maybe even respectable.

Scene scene kunci di film ini sendiri mengambil tempat dengan Maggie bersama orang orang tua tersebut, mereka digambarkan sebagai orang orang tua yang telah mempunyai dan mengalami hidup yang baik, dan sangat berpengalaman dan secara insting tau apa yang harus diperbuat untuk menghadapi seseorang yang berkepribadian seperti Maggie.

Sang profesor, salah satu penghuni panti tempat Maggie rutin bekerja, adalah salah satu yang terpenting untuk Maggie. Dia menginginkan Maggie membaca untuknya, dengan sabar dan lembut, membantu Maggie mengerti bahwa tujuannya membuat Maggie membaca untuknya, adalah untuk membimbingnya menaklukkan Disleksia yang dialami Maggie. Si Profesor buta, makanya dia ingin Maggie membaca untuknya, dan itu juga penting, karena Maggie sering memikirkan kata kata Rose kepadanya "You're not going to look like this forever, you know."
Dia tau, si profesor menyukainya bukan karena ia cantik, dan hal itu membuatnya sedikit bangga dengan dirinya sendiri, you know..doing something good without using your beauty, sexy face, yang seperti Rose katakan juga " won't like this forever".Si profesor juga  juga mengajaknya membaca sebuah puisi dari Elizabeth Bishop, "The Art of Losing", dan sebagai seorang perempuan yang mempunyai hidup yang bisa dikatakan urakan, bertemu dengan orang orang yang salah, tidak mempunyai ambisi dan tidak bisa bertanggung jawab bahkan untuk dirinya sendiri, Maggie mendapatkan puisi tersebut menenangkan dirinya, dan mungkin ia mulai membaca puisi itu diluar scene yang ada, kemudian masih ada puisi terkenal dari E.E. Cummings yang juga termasuk spotlight di film ini.

Scene scene yang tergolong annoying mungkin hampir semua scene antara Maggie dan Rose. Like real sisters, mereka saling menyayangi, tapi juga hasrat untuk 'mencekik' leher satu sama lain juga sama besarnya. I have to be honest, sebenarnya malah tidak menyenangkan ditonton. Tidak nyaman ditonton karena itu sangat real, dan memang terjadi di dunia nyata loh, between sisters. ( i have 3 sisters to proof that !! ). Maka dari itu, saya katakan annoying, bukan berarti hal itu jadi nilai kurang dari film ini, justru sebaliknya, just like our movie experience, semakin scene scene dalam sebuah film menyentuh kenyataan yang ada, semakin sulit bagi kita untuk menikmatinya. Lagi, bukan berarti hal tersebut mengurangi nilai dalam film ini.

Sangat banyak 'catfight' yang kita saksikan saat mereka bersama. Untunglah, sebagian dari In Her Shoes dihabiskan dengan banyak scene kedua kakak beradik ini terpisah, dan belajar independen dengan cara masing masing, yang bahkan terbukti malah manjur. , the girls work best when they’re not together.
Di tengah semua itu, hubungan romance antara Rose dan mantan rekan kerjanya, Simon, sungguh sebuah hal yang menyenangkan. Karakter Simon yang lucu, dan easy going, merupakan penyeimbang yang tepat untuk karakter Rose yang kaku dan murung. Thank heavens for side characters. hehe..

Masih ada beberapa karakter pria di film ini yang bervariasi, pria pria yang terhubung dengan banyak kemungkinan yang ada untuk terpautkan dengan hati hati wanita di film ini ( or not ), tapi film ini dengan tegas ingin menggambarkan transformasi dari ketiga wanita di film ini, Rose, Maggie dan sang nenek, Ella. Dan itulah yang membuat surprise ini menyenangkan, ini bukanlah melulu tentang Maggie sendiri yang ditempa oleh Ella dan Rose untuk berubah, tapi tentang juga bagaimana perubahan yang ada di Maggie ternyata juga membantu kedua wanita tersebut menuju ke arah yang baru.

Film besutan tangan Curtis Hanson ini memanfaatkan dengan baik setengah jam pertamanya untuk to make it clear this is won't be a soppy chick flick, and for that matter, kata chick flick itu sendiri kadang terkesan sebagai "insulting term" untuk film film yang bertemakan wanita, ketimbang film film yang bermuatan testosteron, yang menurut saya harusnya disebut "dude flick" :p
But seriously, apapun yang kau lakukan, jangan biarkan orang lain mengatai film ini dengan sebutan "chick flick", saya jamin apa yang ditawarkan film ini lebih dari sekedar standar chick flick. Film ini adalah untuk semua orang yang menginginkan sebuah film yang lebih berisi, something with a little more emotional depth than your average mainstream studio film.
Anyway, jika setengah jam pertama tadi merupakan sebuah introducing yang pas, maka sisa 99 menit kemudian menjadi semakin tak terduga, karena para karakter nya memaksa untuk merobek semua stereotip yang melekat pada mereka di awal film.

" In Her Shoes" dimulai dengan material material dari sebuah film film mainstream biasa, ketimbang terkesan spesial dari awal. Scene manis dan berkesan di penghujung film memang terbayarkan, bukan karena kita sudah bisa menebak hal itu, tapi lebih karena hal tersebut tiba diluar dugaan, and yet, once we think about it, makes perfect sense. It tells us something fundamental and important about a character, it allows her to share that something with those she loves, and it does it in a way we could not possibly anticipate.

Like a good poem, it blindsides us with the turn it takes right at the end.


***

In Her Shoes l 2005 l Curtiz Hanson

( Mery )

Monday, March 18, 2013

Review : Mr. Smith Goes To Washington ( 1939 )

Mr. Smith Goes to Washington (1939)
Stars : James Stewart, Jean Arthur, Claude Rains
Writer : Lewis Foster
Director : Frank Capra


Pada 10 Agustus 1938, studio Columbia mengumumkan sebuah proyek baru yang berjudul, “Mr. Deeds Goes to Washington”. Terdengar familiar ? ya, saya pernah menuliskan sebuah review yang berjudul “Mr. Deeds Goes to Town” sebelum ini, film Capra yang dibintangi Gary Cooper. Awalnya proyek terbaru Columbia dan Capra ini masih merupakan lanjutan dari kisah Mr. Deeds nya Cooper. Sayang, Samuel Goldwyn, produser kenamaan di Hollywood saat itu yang memiliki kontrak eksklusif dengan Cooper, memutuskan untuk tidak meminjamkan Cooper ke Columbia. Hal ini membuat Capra kembali menggandeng bintang dari filmnya yang sukses besar tahun sebelumnya, “ You Can’t take it with You”, yaitu James Stewart.

Tidak hanya bintang utama nya saja yang di-recast ulang, begitu pula dengan judulnya menjadi “Mr. Smith Goes to Washington”. Kemiripan judul ini kadang sering membuat saya terpelintir akan judul masing masing, apalagi mengingat kedua aktor di film ini, serta Frank Capra, semua adalah favorit saya juga.

Ceritanya mungkin terdengar sederhana : seorang senator parlemen amerika meninggal, dan penggantinya harus secepatnya ditemukan. Terjadi persaingan antara dua kubu pendukung dua kandidat utama yang sangat sengit, sehingga membuat sang gubernur negara bagian takut akan karier politiknya, mengingat jika ia memilih salah satu tetap saja akan secara otomatis mempengaruhi jumlah pemilik suara untuknya. Dalam situasi rumit tersebut, muncul sebuah nama, Jefferson Smith ( James Stewart ), seorang pria lokal yang sangat terkenal dimata anak anak karena banyak tindakan heroiknya. Anak bungsu sang gubernur yang merupakan fans berat Smith, berkeras jika Smith bisa menjadi senator yang hebat. Dalam keadaan kalut dan panik karena desakan banyak pihak, membuat sang gubernur mempertimbangkan usulan anaknya.

Hanya saja, ternyata setelah diselidiki, Smith ternyata merupakan calon yang sempurna : naif, tidak serakah atau mempunyai ambisi politik, pria yang baik, serta sangat patriotik. Hanya saja, sampai disini, kita sampai pada sebuah fakta, bahwa kekuatan sebenarnya tidak berada di belakang sang gubernur, melainkan seorang milyuner penguasa industri media massa, Jim Taylor, yang ternyata tidak hanya mengendalikan berita di media, tapi juga hampir seluruh anggota senat di kongres, and pretty much everything else. Sesampai Smith di Washington, ia hanyalah menjadi cercaan dan badut media massa, bagaimanakah Smith, pria tampan dan berintegritas tinggi ini harus berkelana di belantara politik senat amerika yang begitu kaya akan intrik dan korupsi ?, apalagi dengan sokongan kuat dari Jim Taylor di belakang hampir seluruh senator lainnya untuk menjatuhkan Smith dan membuatnya diam hingga tidak bisa bersuara lagi ?

"Mr. Smith Goes to Washington" sejauh ini adalah salah satu film terbaik Hollywood di masanya. Sangat menyenangkan bisa mengatakan hal tersebut tanpa 'tapi' dan 'atau'. Filmnya sendiri berdurasi 2 jam, dan sama sekali tidak membosankan.
Pada lapisan luarnya, plotnya mungkin 'hanya' bercerita tentang pertarungan antara yang baik dan yang buruk, tapi justru disinilah menariknya, pertarungan baik dan buruk tersebut memunculkan zona abu abu yang dihadirkan oleh karakter Paine ( Claude Rains ), senator senior terhormat yang merupakan sahabat ayah Smith yang berjanji untuk menjaga dan membimbing Smith sebagai senator baru. Tapi ternyata Paine mengkhianatinya terang terangan, dan "menghajar" nya  habis habisan di depan kongres, serta merusak seluruh hubungan persahabatannya dengan Smith. Nah, disinilah tidak semuanya hitam dan putih, selama konflik berlangsung, Paine pernah berkata kepada Smith  “30 years ago, I was you. But I learned to compromise”. 
Paine, ternyata sama saja seperti Smith dulunya, seorang pria yang berintegritas tinggi, dan dari hal inilah, kedalaman cerita mulai terlihat.

Is it good movie ?
well..let see..

Frank Capra memberikan sebuah gambaran akan sebuah identitas kebangsaan, tanpa menghiraukan tantangan yang harus dihadai, walaupun ketika kita dihadapkan akan hal tersebut, mungkin semua itu terdengar lebih seperti prinsip idealisme yang hanya terpampang di permukaan. Film ini, dibuat di tepi jurang perhelatan akbar Perang Dunia ke 2 yang resmi dibuka tahun 1939, dimana semua aspek kehidupan sedang memanas di puncak gunung es yang siap menggelinding. Kondisi yang sangat tidak kondusif di Eropa dan Asia, Amerika, khususnya Hollywood sepertinya masih berpegang teguh dan berusaha menghiraukan kenyataan dan ancaman perang di depan mata. Ketakutan akan film film yang berbau propaganda yang banyak beredar di Eropa, seperti Triumph of the Will (1935), film propaganda Jerman yang termasyur, powerfull and horrible, akan mempengaruhi warga Amerika menjadi pro-war, yang kabarnya hingga membuat senat amerika secara khusus membuat kesepakatan untuk mengivestigasi film film peredaran Hollywood, baik di dalam dan diluar Amerika.

Mr. Smith Goes To Washington inipun terkena imbas tersebut,  kritikan akan penggambaran ketidak jujuran dan sinisme di kalangan senat di Washington yang pada saat itu sangat sangat tidak biasa, unusual dan seperti menohok kalangan elit Washington saat itu. Apalagi mengingat kerapuhan yang terlihat dimana mana di banyak penjuru Amerika waktu itu, kalangan elit politik Amerika membutuhkan dukungan patriotik dari rakyatnya, dan seperti yang disangka, film Capra yang satu ini awalnya dianggap sebaliknya, tapi pada akhirnya, selain sukses secara komersil, secara kualitas pun film ini tidak mengecewakan, dan toh kalangan elit politik Amerika, para senat khususnya mengakui bahwa film ini lebih banyak menggambarkan patriotisme warga Amerika sejati yang mereka lihat terwakilkan oleh sosok Jefferson Smith. Ibaratnya yaa..alih alih memojokkan Capra akan tema sosial nya yang berbau KKN, mereka lebih memilih untuk melihat sisi baik dan patriotis dari sosok yang dimainkan Stewart ini.

Sangat sulit dibayangkan jika bukan Jimmy Stewart yang menjadi bintang utamanya, karena memang terlihat sekali film ini dibuat khusus untuknya. Dia adalah pilihan sempurna untuk seorang idealist muda yang pemalu. Jimmy Stewart yang gugup, compang camping dan sangat kelelahan, adalah salah satu penampilan terbaik untuk tahun itu. Well, like we know, sayang Oscar tahun itu belum berpihak padanya, melainkan Spencer Tracy.

Kemudian masih ada Jean Arthur, yang merupakan salah satu aktris langganan Capra, yang menjadi sekretaris Smith yang sinis, bermulut tajam, tapi hatinya berada di tempat yang benar, yang menjadi love interest Smith sekaligus pendukung sejati Smith dari bangku penonton di kongres. Seperti di Mr. Deeds, Jean Arthur, saya ulangi mempunyai "star power" yang sulit untuk kita hiraukan, bisa saja kita merasa agak sebal pada awalnya melihat ia dan bersama para elit politisi saat itu ikut me-mocking kemampuan Smith untuk menjadi senat, tapi toh hal itu tidak berpengaruh, walau cenderung sarkatis dan tegas, tapi seperti yang saya ungkap sebelumnya, hatinya ada di tempat yang benar. ( Entah kenapa saya cenderung agak membeda bedakan peran Jean Arthur baik di Mr. Smith dan Mr. Deeds, memiliki kesamaan tanpa perbedaan yang berarti >0< ).

Selain penampilan memukau dari Jimmy sendiri, masih ada Claude Rains yang menjadi Senator Paine yang mencuri perhatian ( sudah saya paparkan sebelumnya ) dengan gaya politiknya yang abu abu, saya sendiri percaya sangat banyak yang seperti Paine ini di dunia nyata, ya..berkompromi hingga terjerumus terlalu jauh, tapi toh tindakannya di penghujung film patut diapresiasi, dan berbalik malah membuatnya terlihat "agak" heroik. Dan masih ada Harry Carrey yang menjadi Presiden senat, dengan banyaknya senyum tersembunyi yang diperlihatkannya pada Smith, toh kita sudah tahu dimana ke-berpihak kannya terletak, hal itu memberikan pesona dan simpati simpati kecil tersendiri di film ini.

Where have you gone Jimmy Stewart ? or Frank Capra ?
Film ini dibuat pada tahun 1939, tapi saya menontonnya seperti baru keluar di era modern ini.

Cinema-God help us, we need movies like this. ;p

****

Remember back in the old days when there were only about four television channels and you’d marvel at your middle of the night good fortune to find a great old movie on worth watching ?
Well, perasaan saya setiap kali menonton Frank Capra Classic, without a doubt, adalah kesenangan yang sangat jarang dan heartwarming, its like "yay, it's Capra's !!".

Saat menonton film ini, saya menyelesaikannya tepat pada jam 2 malam. Waktu yang sangat larut untuk standar saya sendiri, saat pengaruh film ini sendiri sedang kuat kuatnya, saya terdiam dan berjanji kepada diri sendiri, bahwa saya akan memikirkan pesan pesan moral yang terkandung di dalam film film Capra ini dan berusaha menjadi orang yang lebih baik. Of course, the next morning, saya tetap menjalankan rutinitas seperti biasa, bangun di pagi hari, bekerja, dan yeah..mungkin kurang tidur akan menjadi penyebab kenapa saya berlaku sensitif dan mudah marah sepanjang hari.

We can’t always be Jefferson Smith, but at least we know where the high bar is.

***

Mr. Smith Goes to Washington l 1939 l Frank Capra

( Mery )

Sunday, March 10, 2013

Review : Mr. Deeds Goes To Town ( 1936 )

Mr. Deeds Goes To Town
Starring : Gary Cooper, Jean Arthur
Written by Robert Riskin
Directed by Frank Capra


Frank Capra hingga saat ini mungkin tidaklah terlalu familiar dibanyak telinga para pecinta film. Mungkin beliau tidak se-dahsyat Alfred Hitchcock, se-spekatakuler Stanley Kubrick, atau se-fantastis Orson Welles dan Ingmar Bergman. Bagi saya sendiri, Frank Capra adalah sutradara favorit saya hingga saat ini. Saya tergila gila dengan hampir semua filmnya, meninggalkan kesan yang tidak biasa, heartwarming, dan berisikan banyak pesan sosial yang masih hidup dan berjalan hingga saat ini. Frank Capra mempunyai ciri khas yang sangat identik dalam berkarya, lewat karakter pria pria seperti John Doe, George Bailey, Jefferson Smith, Tony Kirby, Peter Warne, beliau menderetkan film filmnya ke dalam deretan film yang berisikan pesan sosial yang tinggi lewat potret seorang pria sederhana tapi mempunyai integritas, seperti halnya juga dengan Longfellow Deeds.

Deeds ( Gary Cooper ) hanyalah seorang pria sederhana yang hobi bermain alat music tuba di drum band local, bekerja dengan menciptakan puisi puisi yang tercetak dalam kartu ucapan. Ia pria jujur, ramah dan disukai banyak orang di kota kecilnya di Mandrake Falls, Vermount. Tentu saja ia bingung ketika kedatangan beberapa orang yang mengklaim dirinya telah menjadi milyuner dan mewarisi jumlah warisan yang fantastis dari almarhum pamannya. Disatu sisi, “Babe” Bennet ( Jean Arthur ) , wartawati cantik yang diutus oleh pimpinannya untuk mengintai kehidupan Deeds yang orang kaya baru tersebut, termasuk dengan menghalalkan segala cara.

Tentu saja mereka terlibat hubungan romance (who am I to kidding, anyway hehe..), sanggupkan Bennet melanjutkan aktingnya tersebut ? atau bagaimana Deeds menanggapi kebenaran akan hal tersebut, belum lagi soal kekayaan yang menjadi unsur utama film ini. Bagaimana Deeds beradaptasi dan mengurus semuanya ini, sementara juga banyak tangan tangan yang ingin bermain di sekitaran harta warisannya tersebut ?

Saya hanya bisa senyum senyum sendiri saat sampai pada paruh pertama film ini. Saya seperti merasa sedang menonton versi yang sama superiornya dari film Frank Capra selanjutnya, Mr. Smith Goes To Washington. Bertema tentang seorang pria baik dan jujur yang harus berurusan dan dikelilingi oleh orang orang yang serakah, tidak jujur dan egois, dan juga tentang seseorang yang yang mengalami perubahan lingkungan secara drastis dan kesulitan untuk beradaptasi dengan kehidupan kelas atas, dan langsung dicap sebagai bodoh dan kampungan sebagai hasilnya. Dua tema diatas tentu saja kuat dan pentingnya lagi, hal tersebut memang hal nyata, tidak seperti Mr, Smith Goes to Washington, Film ini mempersembahkan tema yang lebih menyentuh serta mudah dipercaya, karena memang kebanyaankan orang berpikir dan bertindak seperti yang mereka lakukan di film ini, tapi Deeds mempunyai kekuatan karena ialah pemilik uangnya, jadi dia bisa membuat perubahan dalam pikiran orang orang tersebut.

Untuk peran Longfellow Deeds, Capra hanya punya satu pilihan aktor, the one and only, Gary Cooper.
Peran Longfellow Deeds cocok dengan Gary Cooper seperti sarung tangan, dan juga bisa dibilang mengubah karier aktingnya dengan membawanya mendapat nominasi best actor pertamanya di Oscar dan menjadi prototype karakter yang akan banyak dimainkannya bertahun tahun kemudian. Sebelum Mr. Deeds, Cooper biasanya lebih sering membawakan karakter pria pria keras dan tangguh. Dan dengan peran ini, ia menciptakan  sebuah karakter lain dari image aktingnya, seorang pria sederhana yang berintergritas tinggi tapi sedikit berkata kata.

Deeds tidaklah bodoh atau tidak berpendidikan seperti yang kita kira. Dia bisa mengingat banyak quotes orang terkenal, dia tipe orang yang berpikir secara logis dalam memahami sesuatu dengan kacamata yang jauh lebih sederhana tapi sama benarnya dengan cara pandang rumit yang biasa kita perdebatkan. Deeds mungkin pria yang polos dan jujur, tapi ia bukanlah idiot. Dia mungkin sedang berada di luar zona nyamannya di kota besar, tapi dia seorang penilai karakter yang bagus, jadi tidak ada yang namanya seorang tokoh utama yang termakan hasutan atau jatuh ke dalam jebakan kata kata seseorang. Deeds bisa saja dengan mudah menjadi seorang karakter yang sembrono dan komikal, tapi thanks ke Cooper, Deeds dibawakan lebih dari itu.Deeds adalah karakter stereotype akan seorang pria dari kota kecil yang muncul di hampir semua film film Capra. Dia patriotik, berjiwa besar, baik dan berintegritas, jadi tentu saja uang bukanlah hal yang sangat penting baginya. Hanya orang orang kasar, serakah, dan jahat yang biasanya kaya di film film Capra.


Menemani Cooper sebagai Deeds, Jean Arthur yang menjadi Babe Bennet juga tidak kalah baiknya. Barbara Stanwyck, Loretta Young dan Nancy Caroll, semuanya pernah dipertimbangkan untuk peran ini, malah Carole Lombard sudah diberikan peran Babe Bennett ini, tapi secara mengejutkan ia mundur 3 hari sebelum masa produksi, saat ia memutuskan untuk terlibat dalam film lain, My Man Godfrey ( 1936 ).

Jean Arthur mempunyai banyak faktor"star power",  yang tentu saja selain akting yang menawan, hal itu juga dipadu dengan gaya bicara, wajahnya yang cantik dan pesona yang dimillikinya seolah bergabung jadi satu. Salah satu scene, di pagi hari setelah ia menghabiskan malamnya bersama Mr. Deeds, dia sedang belajar koin sulap sambil berbicara dengan editornya..eh..entah kenapa hal ini sangat terlihat cute dan adorable buat saya. Jean Arthur memiliki chemistry yang lebih kuat bersama Cooper di film ini daripada bersama Jimmy Stewart di Mr. Smith goes to Washington.

Sampai saat ini, Capra sangat terkenal sebagai sutradara yang memiliki banyak ciri tersendiri. Dia mempunyai sesuatu yang jarang, khas, sebuah style of his own, yang muncul dalam setiap karya karyanya, sebuah bakat membangun sebuah cerita yang heartwarming with goodnatured spirit, penuh dengan intrik antara idealisme dan korupsi, kebaikan dalam diri seorang manusia, dan menjaga semuanya tetap masuk akal dan menyenangkan. It's pure Capra.
Dia adalah seorang penyihir yang mampu menyulap seorang aktor menjadi sangat likeable. Yeah..Capra berhasil menyihir saya menjadi penggemar berat Jim Stewart sejauh ini, 3 film kolaborasinya bersama Capra & Stewart ( You can't take it with you, Mr. Smith goes to washington dan It's a wonderfull Life ) tidak ada yang bisa diremehkan. Ketiganya bertengger di tangga tangga list AFI dan mewarisi banyak kelas Oscar. You watch it, and it's almost impossible for you to not like it.

Now that we know Capra is good, even great.

Monday, March 4, 2013

Review : Another Earth ( 2011 )

Another Earth
Cast : Britt Marling, William Mapother
Writers : Britt Marling, Mike Cahill
Director : Mike Cahill

Bumi yang lain ? terasa familiar dengan hal itu ? Kali pertama saya mendengar kisah mengenai bumi yang lain ini tak lain dari sudut pandang seorang bocah SD yang forever young, Nobita. Ya, dari Doraemon, legenda manga jepang. Dari ratusan kisah ajaib dari Fujiko F. Fujio ini, terdapat sebuah kisah, dimana Nobita dan Doraemon yang berpetualang keluar angkasa dan terdampar di sebuah planet yang juga mirip dengan bumi dan segala isinya, bahkan mereka bisa melihat Nobita versi kedua, dimana kehidupannya berbeda sama sekali, dimana Nobita adalah anak yang pandai dan dikagumi banyak orang.

Terlepas dari itu semua, tahun 2011 kemarin, muncul sebuah film independen yang kurang lebih berkonsep mirip, dan mencuri perhatian di Sundance Film Festival, festival film indie paling bergengsi di dunia. Memenangkan penghargaan Special Jury Prize dan  Alfred P. Sloan Prize ( winner untuk genre science fiction terbaik ) and Roger Ebert give it 3.5 stars , "Another Earth" menampilkan taringnya yang tajam diantara film film terbaik keluaran 2011 kemarin. Menggusung semangat film film Indie yang begitu kuat, minim budget, cerita yang kuat dan aktor yang kurang dikenal, Another Earth lahir dari tangan kreatif sang sutradara, Mike Cahill dan sang aktris utama, Britt Marling yang juga merangkap sebagai penulis naskah untuk film ini.

Another Earth, menampilkan sebuah film yang bercerita dari judulnya, dimana kehidupan Rhoda Williams ( Britt Marling ) dan John Burrough ( William Mapother ) sama sempurnanya. Rhoda baru saja akan melangkahkan kakinya ke universitas MIT ( salah satu universitas top di Amerika ), dan John sendiri beristrikan perempuan cantik yang sedang mengandung anak kedua serta seorang anak laki laki yang sehat dan bahagia. Kehidupan keduanya bagai terkoyak dengan tragis saat Rhoda yang sedang menyetir dalam keadaan mabuk, sedang mengagumi keindahan Earth Two, sebuah planet yang sangat mirip dan berdekatan dengan orbit bumi, Rhoda menabrak mobil milik John dan seketika menewaskan semua keluarganya, dan John sendiri dalam keadaan koma.

Berantakan bukan kata yang cukup untuk menggambarkan kehidupan keduanya setelah itu. Rhoda dipenjara beberapa tahun dalam keadaan terpuruk dalam rasa bersalah, dan John yang baru sembuh dari koma harus menata kembali hidupnya dari nol sepeninggal istri dan anaknya. Saat Rhoda bebas, perasaan bersalah yang memburu nya lantas membuatnya mencari tau hidup John, menyamar sebagai tukang bersih bersih, ia berusaha membantu John menata kembali hidupnya, hanya saja John tidak mengetahui kalau Rhoda adalah orang yang mencelakakan hidupnya, sebab saat kecelakaan terjadi Rhoda masih di bawah umur (artinya identitasnya tidak dipublikasikan). Spot some drama? yes.
Dan dari semua ini, apa kaitannya dengan Earth Two?


Sekarang, kita memiliki situasi yang tidak familiar dalam sebuah film, dimana dua orang yang perlahan menjadi dekat, sementara hanya salah satu diantara mereka yang aware of their deep connection. Kekuatan dari "Another Earth" adalah bahwa kisah ini seperti dipergunakan untuk tujuan yang lebih besar, dan tak lebih atau kurang dari sebuah mediasi atas kemungkinan variasi yang tak terbatas akan kehidupan yang bisa manusia jalankan.

Andai saja Rhoda tidak banyak minum bir malam itu.
Andai saja Rhoda tidak mendengarkan radio yang membicarakan Eart Two malam itu.
Andai saja Rhoda tidak berada di jalan itu, atau pada waktu itu.
This.., fatal crash. Kecelakaan fatal ini adalah gabungan dari seri 'Andai saja" itu. Harapan, kesempatan dan jalan keluar. Nampaknya memang begitu pesan dari film ini.

Eksekusi ala semi dokumenter dari tangan Mike Cahill ini sukses menarik perhatian, dengan sedikit special efek, pengambilan sudut sudut gambar yang cantik, yang katanya hampir semua dishoot dari kamera genggam, serta banyak zoom out - zoom in inilah yang menjadikan film ini terasa personal bagi siapapun yang menontonnya.

Jangan terlalu banyak mendebat bagaimana Another Earth tidak ilmiah. Kenyataannya logika sci-fi dari film ini memang banyak terdapat plot hole. Walau berbekal kisah ilmiah, film ini tak lebih dari kisah dua orang yang sama sama terlibat tragedi memilukan dan sedang memohon pengampunan atas masa lalu mereka, dan tentu saja dengan latar bumi baru  yang berkeliaran di angkasa. Walau mungkin , terdapat beberapa momen yang cukup bisa menggetarkan hati para loyalis sci-fi, yaitu saat kemunculan pertama Earth Two serta first contact dengan planet tersebut, yaitu dilakukannya transmisi radio untuk pertama kalinya antara Bumi dan "kembarannya" dimana disitu makin terbukti bahwa kehidupan dalam kedua planet itu identik.
It's like, oke..WOW.., sedetik hampir terasa seperti menyaksikan sebuah penemuan maha dahsyat dari antariksa, berisikan banyak teori cerdik mengenai Earth Two tersebut. Dan bagi saya hal itu cerdas karena bagaimana kaitan antara aspek teori satu sama lain itu terasa menarik, meski logikanya berteriak kurang tepat haha...



Kemudian, dua cast utamanya, William Mapother dan Brit Marling yang sama sekali tidak berpengalaman dalam dunia film, tampil begitu baik membawa karakter rapuh ini dan usaha mereka berdamai dengan masa lalu. Mike Cahill disini mampu mengolah emosi dan cerdas menangkap ‘momen’ sehingga premis bumi parallel sengaja dihadirkan untuk melengkapi rangkaian ‘cantik’ pertanyaan-pertanyaan dalam mencari jati diri dari kedua orang yang bermandikan kesedihan dan penyesalan ini.

Apakah begitu sempurna film ini dimata banyak orang ?
Tentu saja tidak, bagi saya sendiri, tempo film ini agak lamban dan terlihat sekali kalau Cahill agak terseok seok dalam menarasikan kisahnya ini. Elemen sci-fic memang mempunyai peran besar sebagai penyelesaian konflik, tapi kehadiran dan peran Earth Two sendiri tidak lebih dari sekedar 'satelit' yang terus mengelilingi seluruh kisah film ini, tapi tanpa punya peran yang besar, dan walaupun begitu tetap saja tidak terpisahkan dari kesatuan film ini sendiri.
Face it, tanpa bumbu peran Earth Two tersebut, kisahnya sendiri tak lebih dari sebuah kisah drama melow yang sudah terlalu banyak di pasaran.

After all, walau bertempo lambat seperti itu, film ini buat saya tetaplah menarik, intriguing ideas and Marling's touching performance make it a promising debut
Sebuah film tentang sebuah keinginan tentang kesempatan kedua yang tidak pernah padam, dan tidak peduli seberapa jarang hal tersebut akan terjadi.