Sunday, April 28, 2013

Review : Borat ( 2006 )


Borat : Cultural Learnings of America for Make Benefit Glorious Nation of Kazakhstan (2006)
Director: Larry Charles
Writers: Sacha Baron Cohen, Anthony Hines
Stars: Sacha Baron Cohen, Ken Davitian




















"Borat: Cultural Learnings of America for Make Benefit Glorious Nation of Kazakhstan"
(though you'll never hear it called anything but "Borat"...)

Borat, awalnya diperuntukkan untuk sebuah sketsa komedi dalam sebuah serial TV, yang ternyata berhasil diperlebar kelasnya kedalam sebuah film layar lebar. Naskah yang Lahir dari tangan aktornya sendiri, Sacha Baron Cohen yang bekerja sama dengan sang sutradara Larry Charles, mereka berhasil membuat sebuah film komedi yang sangat sering diteriaki sebagai film yang amat lucu dan hampir tidak pernah membosankan, dan itu lebih daripada yang pernah  saya katakan untuk hampir setiap film komedi sejauh ini.

Target utamanya, tentu adalah Borat sendiri. Dibawakan oleh Cohen dalam baluan jas abu abu model tahun 80an, Borat Sagdiyev adalah jurnalist op di Kazakhstan yang bepergian ke Amerika, dengan sang kameramen Azamat, dengan bertujuan untuk mempelajari kultur budaya, well..di filmnya sendiri, perjalanan Borat ini dikategorikan sebagai tugas penting dari negaranya.
Setelah suasana kusam dan kemiskinan dari daerah asalnya, Borat terpesona oleh kemakmuran yang ada di New York, ia pun berusaha mencium orang orang disekelilingnya ( menurut borat, itu adalah ucap sapa antar sesama di kazakhstan, tapi kalau di amerika sih haha..)..
Anddd ... well, I won't tell you what he does in front of Victoria's Secret.

Di dalam kamar hotelnya yang sederhana ( bagi Borat, itu adalah istana, sebelumnya dia bahkan salah mengenali lift yang dinaikinya sebagai kamarnya ), Borat menontn sebuah acara di televisi, dan melihat : Pamela Anderson dalam balutan busana renang ketat dan sedang berlari seksi dalam serial Baywatch.
Seketika ia jatuh cinta..
Dan saat itu juga ia bertekad untuk menemukan Pamela dan menjadikannya istri. !!
Dengan bermodal sebuah mobil bekas eskrim yang tua, seekor beruang ( don't ask ) dan Azamat yang berhasil dikibulinya, mulailah perjalanan dan petualangannya melintasi Amerika demi cinta nya pada Pamela.

Sebenarnya, " Borat" sangat sangat dekat dengan teritori "Jackass" ( pernah menonton film ini ? ) : Dua lelaki telanjang ( salah satunya sangat gemuk ) yang saling bergulat, terlihat lucu, karena, well..they're naked, and melakukan hal hal yang mungkin akan kita pandang dengan tatapan horror karena jijik dan memualkan, kemudian yes, banyak joke joke di film ini yang dibuat secara sengaja berbau offensif, menargetkan banyak kalangan yang memang ada di dunia nyata, sehingga sampai terlihat absurd di pusaran tertinggi dan sangat mustahil untuk menanggapinya dengan serius.

Alasan kenapa "Borat" berhasil, bukan karena unsur "Jackass" diatas, juga bukan adegan gulat yang epik tersebut, atau thong yang dipakai Borat di awal film ini (My retinas are still recovering.)
Borat berhasil karena, ini adalah komedi karakter, dan Cohen dengan hati hati sangat berhasil mengeksekusinya sehingga memberikan tekstur yang terjalin rapi dan merupakan salah satu karakter terbaik yang pernah ada.

Borat berdiri dengan kaku dalam balutan jas kusamnya, dan terlihat sanggat bangga, posisi tubuh yang tegak dan selalu tersenyum merekah, memperlihatkan dirinya sebagai orang yang positif, walau kadang ia sering dibuat shock oleh apa yang ia lihat di Amerika. Ada sebuah scene dimana, ia memegang boneka Barbie di sebuah garage sale ( yang penjualnya, sebelumnya diasumsikan Borat sebagai gipsi ). Dia terkejut dan berkata dengan ekspresi horror " siapa perempuan yang kau sihir  hingga seperti ini ?" haha..
Borat is not dumb,  he just boorishly charming and an innocent abroad.















Ide satir yang ada di film ini sangatlah brillian. Karakter Borat adalah rasis, kasar, dan vulgar serta dramatis. Dalam perjalanannya, dia bertemua dengan berbagai tipe orang Amerika, dengan gaya film film dokumenter yang tampak seperti aslinya, mereka bertemu pemilik penginapan tempat mereka singgah ( disini, unsur ledekan mereka terhadap orang yahudi sangat offensif haha.. ), para remaja lelaki yang sedang travelling keliling Amerika ( disini, "rahasia" Pamela terbongkar ), kemudian atraksi rodeo yang dibuat kacau oleh Borat, semuanya orang Amerika tersebut tampil sebagai diri mereka sendiri, dan tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang bereaksi terhadap karakter fiksional, sangat mengejutkan buat saya haha..
Dan fakta bahwa film ini begitu populer dan booming di Amerika, serta sukses di tangga box office, mungkin semakin mengukuhkan Borat sebagai the greatest practical joke every played.

Tidak ada kata kata yang tepat untuk mendeskripsikan Borat nya Cohen, sungguh sangat brillian. Dedikasi dan kesempurnaan yang berhasil disalurkannya dalam Borat tidak pernah melintas di pikiran saya sebelumnya. Dia melampaui dirinya sendiri ke dalam karakternya. Setiap cm dari karakter ini adalah berkat kecemerlangan Cohen.
You do not see Cohen, and you do not see an actor. You see a rude and ignorant Kazak journalist.
Karakter fiksi ini dibawakan dengan sangat hidup dan penuh energi olehnya. Garis antara realita dan fiksi sangat tipis disini, hingga kita mungkin akan mempertanyakan betapa jauh seorang aktor dalam menyelamai karakternya.
And he is absolutely hysterical to watch.

Borat is an experience everyone should take. Some may find it funnier than others, and some may not find it funny at all. There is a bit of a middle ground, but not much. And in the process of watching, everyone will be able to marvel at one of the greatest character performances ever created.

It was being hailed as groundbreaking, and hilarious beyond anyone's wildest dreams.

Tuesday, April 23, 2013

Review : Weekend ( 2011 )

WEEKEND ( 2011 )
Director: Andrew Haigh
Writer : Andrew Haigh
Stars :Tom Cullen, Chris New, Jonathan Race



"Sex is easy. Love is hard."

****

The Sexy Weekend begins, as weekends tend to do..
on friday night..

Russell ( Tom Cullen ) yang berprofesi sebagai lifeguard, mendatangi sebuah bar khusus gay saat jumat malam, setelah seharian bekerja dan berinteraksi dengan teman temannya yang sudah menikah. Terlihat dengan jelas bahwa perasaan lelah dan stress nya itu tidak hanya dipicu oleh pekerjaannya, tapi juga kesehariannya yang selalu bergaul dengan teman temannya yang berorientasi seksual straight. Iya, Russell adalah gay.
Russell membuat pilihan yang tepat ketika ia pulang bersama si sexy Glen ( Chris New )

Glen adalah seorang pria yang dinamis dan sudah merasa nyaman dengan status seksualnya yang gay, sementara Russell lebih ke tipe yang tidak sepenuhnya gamblang atau nyaman dengan status seksualnya.
Pagi harinya, Glen, yang merupakan seorang seniman dan bekerja di sebuah galeri, mengeluarkan sebuah tape recorder dan meminta Russell untuk berbicara tentang malam yang telah mereka lewati, untuk sebuah art project yang sedang dikerjakannya. Glen punya teori sendiri mengenai bagaiamana dia bisa mengetahui diri seseorang ( atau Russell ) dalam waktu singkat yang mereka lewati. Awalnya, Ini tampak seperti cara tercepat untuk memindahkan sebuah omong kosong, one night fling, ke dalam sebuah hubungan romance yang potensial, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Tapi ( lagi ) Weekend ternyata berubah menjadi salah satu kisah romance yang baik untuk tahun 2011 kemarin. Dibawa oleh kedua aktornya dengan naturalisme yang indah, yang menawarkan daya tarik tersendiri yang melampaui orientasi seksual mereka.



Glen adalah seorang seniman yang dikelilingi optimisme dan kepercayaan diri, ia menyukai keterbukaan / exposure dalam karya karya nya, tapi dia juga sangat sinis akan potensi dan prospek untuk menemukan audience.
"the problem is that no one is going to come see it because it's about gay sex", dia mengatakan hal itu pada Russell di suatu sore ( saat mereka bertemu kembali ). " Para gay, katanya, akan melihat proyek seninya sebagai sebuah perangsangan, tapi tidak bagi para pria atau wanita straight. "Karena, yah, itu tidak ada hubungannya dengan dunia mereka. Mereka akan pergi dan melihat gambar para pengungsi atau pembunuhan atau pemerkosaan, namun seks sesama pria ? "Dia menyelesaikan kalimatnya dengan dengusan singgungan.

Saya tidak yakin jika sang sutradara merangkap penulis, Andrew Haigh memasukkan kalimat kalimat diatas untuk memberikan sedikit perasaan malu pada para penonton yang straight, tapi yah..mungkin mereka ( penonton dalam kategori yang sangat luas ) juga harus bercermin akan banyaknya sikap sikap rasis terhadap kaum gay yang ada saat ini. The Kids Are All Right ( yang mengangkat kisah pasangan lesbian ) mungkin adalah pengecualian yang berhasil dalam hal ini, tapi seberapa sering ada filmfilm yang bisa merangkul penonton dengan radar yang lebih luas ?  
Ya, mungkin banyak film film seperti itu, hanya saja seperti yang dipikirkan Glen di film ini " that-not-for-me shrug among the straights", well..apakah kalimatnya itu berniat menyentil suatu hal ?

Tahun sebelumnya, I Love You Phillip Morris - yang dibintangi salah satu aktor mainstream hollywood, Jim Carrey, terlihat menggelinding seperti bola panas yang takut dipegang oleh siapapun, di jadwal ulang beberapa kali hingga akhirnya 'jatuh' di peredarannya yang bahkan tak sanggup memperoleh $2 juta di box office. Film Haigh ini mengingatkan saya pada awal cerita di film Sex, Lies, and videotapes nya Steven Soderbergh. Namun Glen tidak mengorek jauh temuannya seperti karakter James Spader itu. Motif tersembunyi tidak menjadi niat atau tujuannya, tapi lebih ke tentang semua keterlibatannya dengan orang lain. Weekend malah saya pikir lebih dekat secara emosional dwilogy ( soon to be trilogy ) nya Richard Linklater's Before Sunrise and Before Sunset ( tentunya dengan wakil karakter yang berbeda )

Saya menyukai bagaimana Haigh berhasil membawa film ini. Film ini berbau 'politik' ( seperti pemikiran berbagai konsep dan kepentingan ) dan menantang, tapi dikemas dengan cara cara yang lebih organik dan lebih mudah diterima.
Haigh mem-frame sebuah masalah dengan emosi yang dalam, seperti saat  Glenn dan Russell sedang mendiskusikan masalah seksual politik, terasa seperti cerminan kehidupan mereka sendiri. Apa yang ditunjukkan Haigh dari mereka saat bersama, in our out of bedroom, interaski antara mereka, dialog dialog dan gesture..- these two are very sexy together :p


Ya, banyak aspek dalam film ini mengandung unsur homoseksualitas, tapi buat saya sendiri ini bukan film gay, anggap saja saya melihat film ini dengan mengidentifikasi nya sebagai cerita antara Russell dan Glen. Itu karena, banyak diantara kita yang mungkin sudah berpikiran terbuka, tapi juga banyak yang masih 'dijaga' oleh  perasaan 'anti' mereka sendiri, dan juga beberapa dari kita mudah percaya, dan lainnya mungkin lebih lambat percaya. Beberapa dari kita mempunyai perasaan seksual yang menolak membicarakan atau mendiskusikannya. Beberapa diantara kita mungkin juga berpura pura menjadi seseorang yang kita pikir kita "harus" menjadi, dan melakukannya dengan sangat baik, sehingga bahkan teman dekat pun tidak tahu siapa kita sebenarnya.

Mostly, apa yang Glen dan Russell lakukan atau terjadi pada mereka is simply fall in love, despite marked differences in the way they approach their lives. Setelah saling menggoda, yang extrovert ternyata melihat hal yang baik bahkan lebih di dalam diri si introvert and vice versa. Mereka berdua belajar untuk lebih terbuka, well..mungkin buat Glen adalah belajar mencintai, dan buat Russell untuk lebih berani mengambil resiko.

Seperti gaya LInklater di dwilogy nya, Haigh menggoda penonton dengan ending yang ambigu. Ya, ada sebuah perpisahan, yang dishot dengan awal yang lumayan panjang, dimulai dari cara pandang orang orang awam dan mainstream ketika melihat pasangan gay dari jarak jauh, kemudian agak sedikit tegang, tapi sejalan dengan intensitas keintiman yang dibangun Haigh antara kedua karakternya. Apa yang mungkin terjadi pada dua pria ini di jalanan yang panjang nantinya mungkin terserah imajinasi kita. Mungkin mereka hanyalah sebuah cerita pendek, atau mungkin hanya opening dari sebuah kisah, atau mungkin Haigh sendiri tidak ingin mengetahuinya.

Tidak banyak film yang bercerita tentang hubungan, gay atau straight, yang memperhatikan dan merinci detail gaya pacaran yang sudah modern. Scene menarik saat Glen dan Russell, yang mengucapkan selamat tinggal setelah malam pertama mereka bersama-sama, bertukar ponsel dengan canggung untuk mengetik nomor masing masing, walau keduanya tidak tampak yakin menginginkan kencan kedua. Walau hal tersebut terlihat simpel, ringan, dan sederhana, tapi ini adalah prestasi penting untuk Andrew Haigh, dia membuat sebuah kisah cinta yang romantis dan quite funny, walau tanpa punch lines  atau kalimat kalimat indah, dan tanpa terlihat mellow atau dramatis.

Weekend offers a joyfully expanded vision of what romantic fulfillment can be.

Wednesday, April 17, 2013

Review : The Shop Around the Corner ( 1940 )


The Shop Around the Corner
Starring : James Stewart, Margaret Sullavan
Writers :  Samson Raphaelson (screenplay), Miklós László (based on a play by) 
Director : Ernst Lubitsch






















The Shop Around the Corner jarang kita temui dalam jajaran kategori film 'holiday classics', padahal film ini mengandung banyak unsur unsur elemen klasik akan syarat sebuah 'holiday classics', seperti heart-warming story, chemistry yang hebat, kejenakaan serta romance.

Alfred Klarik ( James Stewart ) adalah seorang pegawai setia ( dan lama ) di sebuah gift shop terkenal di Budapest, saat ada karyawan baru, perempuan cantik, Klara Novak ( Margaret Sullavan ) mulai bekerja di toko itu, keduanya langsung bentrok dan tumbuh perasaan tidak suka kepada satu sama lain. 

Hanya saja...

Keduanya tidak tau dan menyadari, bahwa mereka adalah sahabat pena, yang sering bertukar cerita dan menjalin hubungan mesra melalui surat.Karya klasik Ernst Lubitsch pada tahun 1940 ini masih sangat gampang dinikmati hingga hari ini, 73 tahun kemudian ; berkat naskah fantastis dari Samson Raphaelson yang diadaptasi dari lakon Nikolaus Laszlo.
Komedi romantis, ringan, dan memiliki dialog dialog serta olok olokan jenaka antar kedua tokohnya membuat film ini merupakan salah satu kisah romantik komedi yang masih sanggup membuat kita tersenyum simpul dan merasa puas.

Filmnya sendiri kemudian diremake 58 tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1998. saat Meg Ryan dan Tom Hanks bergabung untuk membintangi You've Got Mail. Menariknya, Sebenarnya The Shop Around the Corner mempunyai sebuah rangkuman simpel yang bisa dieksplorasi seluas mungkin, yaitu tentang cara berkoresponden, dua orang yang merupakan sahabat pena dan saling jauh cinta, tapi di dunia nyata ternyata mereka saling mengenal bahkan cenderung saling tidak menyukai. Hanya saja, You've Got Mail lebih memilih meng-update perubahan dan alih alih memakai media surat, email email dan chat lah yang dipakai di You've got Mail.

Tema yang difokuskan dalam The Shop Around the Corner adalah tentang kesabaran, dan jangan menjudge seseorang dari penampilan mereka, serta sebuah passion akan cinta sejati, dan sebuah hirarki kedudukan dalam tempat kerja yang masih sangat relevan terjadi saat ini sebagaimana yang terjadi 70 tahun yang lalu. Lalu dengan miripnya pendekatan gambaran akan kesengsaraan, dilema di tempat kerja yang dihadapi oleh beberapa karakter, film ini tampaknya semakin relevan dengan penonton modern.

Kemudian yang menjadi ujung tombak dalam film ini sendiri adalah deretan karakter nya yang berhasil didandani dengan baik oleh para aktornya, ada Pivoritch yang merupakan lelaki tua yang jujur dan teman baik Klarik, kemudian si big-talk, smarty pants Vadas, yang suka show off dan menyombongkan dirinya sendiri. Matuschek adalah tipe bos yang berhati baik, tapi emosian dan gampang menarik kesimpulan yang salah. Dan si pesuruh, Pepi, termasuk karakter yang lucu, antusias, dan membawa banyak tawa tawa  di film ini.

James Stewart dan Margaret Sullavan berhasil menghasilkan chemistry yang unik di film ini, sebagai Kralik dan Klara, kedua sahabat pena yang begitu mesra diatas kertas, tapi bagai anjing dan kucing di dunia nyata. James Stewart masih memerankan tipikal "James Stewart" karakter, tapi tentunya masih charming dan natural ketika memegang peran ini. Sullavan berhasil menjadikan Klara sebagai perempuan yang baik dan cerdas, tapi ketika berhadapan dengan Klarik ia akan menjelma menjadi kucing yang siap bertarung dengan kuku kukunnya yang tajam serta kata katanya yang sarkatis, tapi kemudian berubah menjadi perempuan yang berbunga bunga dilanda asmara setiap kali membaca surat dari si 2307 ( logo surat Klarik ).


















Ernst Lubitsch saat akan membuat film ini, ia sudah bertekad untuk memakai James Stewart dan Margaret Sullavan, tapi pada saat yang dijadwalkan, kedua aktor pesanannya ini belum bisa ikut dalam proses produksi, karena masih terikat syuting akan film lain, tapi Lubitsch tidak menginginkan aktor lain selain mereka, sehingga ia memutuskan untuk menunda proses produksi dan kemudian sambil menunggu Stewart dan Sullavan, ia membuat Ninotchka ( 1939 ) bersama sang aktris legenda, Great Garbo.
Pengorbanan Lubitsch ternyata tak sia sia, The Shop Around the Corner berhasil menjadi hits terkenal saat filmnya dirilis, bagi Stewart sendiri, dikombinasikan dengan The Philadelphia Story yang juga sukses di tahun yang sama, James Stewart seakan mengokohkan dirinya sebagai Hollywood top romantic leading men.

The Shop Around the Corner adalah contoh yang sangat bagus dari ciri ciri cinema di era 1940an. Memperagakan sebuah naskah yang kuat dan karakter karakter yang ditulis dengan baik lengkap dengan detail detail kecil lainnya, dua hal yang sesungguhnya semakin tahun hingga sekarang terlihat semakin memudar dari film film Hollywood yang ada sekarang.

The Shop Around the Corner is both timeless and timely, a perfect dose of seasonal escapism.

Monday, April 15, 2013

Review : Les Misérables 10th Anniversary ( 1995 ) The Dream Cast in Concert

Les Misérables 10th Anniversary  ( 1995 )

The Dream Cast in Concert


Starring : Colm Wilkinson,Philip Quast, Alun Armstrong, Jenny Galloway, Judy Kuhn, Michael Ball, Lea Salonga, Ruthie Henshall. Anthony Crivello
Written byAlain Boublil, Herbert Kretzmer, Claude-Michel Schönberg
Directed byGavin TaylorProduced byCameron Mackintosh


Apa yang akan spontan kita ucapkan ketika mendengar nama Les Miserables ?
Film ! Anne Hathaway ! Victor Hugo ! Hooper ! Oscar ! Musikal !
Tapi ada dua nama yang selama ini luput dari perhatian adalah Alain Boublil dan Claude-Michel Schönberg, yang merupakan pencetus dan membawa kisah ini ke panggung live-show, dimana kemudian diadaptasi Tom Hooper ke layar lebar yang sukses awal tahun ini, sekaligus memperkenalkan ke publik kita sebuah film musikal yang serius dan berkelas.

Les Miserables, salah satu kisah yang sangat terkenal yang lahir dari tangan penulis Prancis, Victor Hugo, yang sudah diadaptasi ke dalam banyak versi broadway maupun layar lebar di banyak negara. Untuk drama panggungnya sendiri, bisa dikatakan hampir tidak ada yang bisa menyamakan kepopuleran dan kesusksesan Les Miserables. Pertama kali diadaptasi ke dalam broadway oleh komposer Prancis, Claude-Michel Schonberg dan Alain Boublil di Prancis pada tahun 1980, dan terus menerus dipertunjukkan di West End of the London theathre distrik selama 23 tahun dan merupakan salah satu dari 3 show yang terlama yang pernah digelar dalam sejarah broadway.

















Drama panggung  ini pertama kali digelar di Prancis pada tahun 1982 dengan lebih dari 100 partisipan yang terlibat di dalamnya, hingga pada tahun 1985, pertama kalinya digelar di London. Dan pada tahun 1995, tepat 10 tahun saat drama ini pertama kali dikenal publik Inggris, Cameron Mackintosh dan tim nya membuat sebuah konser akbar yang berisikan para dream cast drama ini selama 10 tahun terakhiri, dan dengan team pendukung yang sungguh fantastis, lebih dari 250 orang yang terlibat di dalam produksi ini. Dengan dream team seperti ini, layaklah perayaan ke-10 Les Miserables ini menjadi salah satu hit internasional yang mungkin masih dibicarakan hingga saat ini.

Mengenai kisahnya sendiri, mungkin kita sudah lumayan familiar ya, mengingat kesuksesan versi filmnya sendiri yang dengan cemerlang ditangan Hugh Jackman, Russell Crowe, dan Anne Hathaway. Versi broadway nya sendiri, juga hampir sama persis, haha..tentu saja, mengingat Hooper lah yang menjadikan versi broadway nya ini sebagai acuan untuk filmnya.
Berkisah mengenai drama hidup seorang Jean Valjean ( yang dibawakan ( dinyanyikan ) dengan fantastis oleh Colm Wilkinson ) yang merupakan mantan budak yang telah bebas dan kemudian berusah kembali menata hidupnya dibawah ancaman Ins. Javert ( dibawakan dengan bagus sekali oleh Phillip Quast ). Kemudian Valjean bertemu dengan banyak orang orang yang akan mengubah hidupnya.



Berkonsep "Through -sung", yang berarti setiap penggal kalimat disampaikan lewat nyanyian. Pagelaran istimewa yang diselenggarakan di Royal Albert Hall ini ( Royal Albert Hall adalah gedung serba guna terkenal di Lonndon yang didirikan oleh Ratu Victoria untuk mengenang sang suami, Prince Albert ), diisi oleh deretan penyanyi yang sangat impresif dari berbagai produksi broadway nya sendiri. Berjumlah 250 orang member pendukung yang semuanya memakai kostum dan selalu siaga di sekitar panggung untuk memasukkan properti, dan menjadi backing vocal, dan belum lagi tim orkestra dari  Royal Philharmonic Orchestra and chorus yang mendukung acara akbar ini.

Setiap parte menggunakan cantata style, dimana setiap penyanyi berdiri di depan microfon menyanyikan setiap lagu bagiannya, bukannya berseliweran sana sini, dan setiap chorus di beberapa lagu didukung oleh para backing vocal yang berdiri di belakang tim orkestra.

Well.. i was pretty impressed.

Deretan cast yang fantastis, padahal memang digadang gadang sebagai "dream team", tapi berhubung saya baru pertama kali menonton versi broadway nya ini, tetap saja saya dikejutkan oleh banyak hal. Seperti masing masing karakter yang dibawakan dengan begitu maksimal serta permainan ekspresi yang bergabung dengan nyanyian mereka, dan melebur menjadi begitu istimewa. Tak peduli siapa yang bernyanyi, entah itu Jean Valjean, Javert, Fantine, Cosette, Marius, Eljoras atau pasangan Thernadier.  my eyes glued to the screen, my ear maybe have its own orgasm.
The performance are very well done. Entah kapan lagi mungkin saya akan bisa menyaksikan show yang begitu memuaskan dan berisikan banyak penyanyi luar biasa serta tim orkestra yang tampil jauh diatas rata rata. Hampir semua cast berasal dari anggota asli broadway Les Mis di Inggris, kecuali Phillip Quast yang merupakan Javert versi Australia.




















Dengan Cantata style yang diterapkan , para cast diberikan kesempatan untuk benar benar fokus pada nyanyian mereka, dan sebagai hasilnya, kita mendapatkan versi terkuat dari lagu lagu dan melodi klasik yang pernah kita dengar. Hampir semua cast bagi saya stand-out.
Selain ketiga main cast yang membuat saya speechles, no word needed, simply amazing, Jean Valjean, Javet dan Fantine, pasangan Thernadier dan Eponine sangatlah menonjol dalam pertunjukkan ini. Kedua Thernadier bahkan sanggup mengundang tawa, tapi kita bisa tetap melihat kelicikan mereka lewat lirik lirik lagu yang dinyanyikan dengan jenaka oleh mereka.

Eponine yang dibawakan oleh Lea Salonga ( Versi film oleh Samantha Barks ) pun walau tidak mendapat porsi yang banyak, tapi sangat mencuri perhatian dengan lagu pamungkasnya, "On my own" ( bahkan sayapun dibuat terharu oleh penampilannya ). Dengan suara indahnya, serta permainan ekspresi yang sangat baik saat ia menyanyi, kita bisa merasakan kegetiran yang ada dalam diri Eponine yang hanya bisa mencintai Marius secara sepihak.
Marius dan Cosette lebih banyak bernyanyi bersama, serta karakter Eljoras yang begitu berapi api ketika menyanyikan "Did you hear the people sing", dan lagi lagi dengan permainan ekspresi yang begitu memanas di wajahnya.
Tokoh Fantine, yang mendunia dengan lagu "I Dreamed a dream" nya juga memukau ( bahkan saat ia selesai bernyanyi, para penonton melakukan standing ovation untuknya ), ia tampil tidak terlalu sering ( hanya pada awal dan akhir ), dan tentu saja kedua tokoh yang menghiasi hampir separoh durasi, yaitu Jean valjean dan Javert, yang without a doubt, one of the strongest performance ever. Colm Wilkinson begitu hebat ! Saat show ini, ia sudah berumur 51 tahun, tapi penampilannya begitu powerfull, setiap nyanyiannya stand out, dan maksimal.

Hingga pada Epilog terakhir, saat hampir semua cast berdiri di satu panggung dan melakukan penghormatan kepada penonton satu persatu, tidak sadar bahwa dua jam lebih dinding kamar saya bergema dengan lagu lagu di pertunjukkan ini, fantastis !
Dan kejutan terakhir di akhir acara, muncul 17 Jean Valjean dari berbagai negara yang naik ke panggung dan menyanyikan "Do You Hear the People Sing?" denga bahasa ibu mereka masing masing, dan dilanjutkan terakhir kalinya dengan semua cast yang bergabung menyanyikan chorus terakhir dari lagu "One Day More"

Spectacular !!!




















Ini mungkin live-show Les Miserables terbaik yang pernah saya tonton. Saya singkirkan dulu versi Tom Hopper dari gambaran, karena jelas beda versinya. Mungkin versi layar lebar juga fantastis, tapi saya secara pribadi merasa terkesima dengan sempurnanya show ini berjalan, Disini, adalah assemble dari para penyanyi dan cast terbaik dari seluruh show broadway Les Mis di Inggris, Kapan lagi kita akan melihat para legenda broadway dari London dan Australia berkolaborasi dengan Royal Philharmonic Orhestra ( salah satu orkestra legendaris di Inggris ) ?
Belum lagi dengan tampilnya 17 Jean Valjean yang kuat dengan kesan historik haha..and you've may got an absolute jaw dropping spectacle.

Apalagi ? Nothing. Simply super fantastic.
So lucky i got the chance to watch this show ( even just n DVD haha..)

The Dream Team :

The Stage



Colm Wilkinson as Jean Valjean



Phillip Quast as Ins. Javert






Ruthie Henshall as Fantine

Judi Kuhn as Cossette

Michael Ball as Marius

Michael Maguire as Eljoras











David Searles as Gavroche







Jenny Galloway & Alun Amstrong as The Thernadiers


                              Lea Salonga as Eponine

Review : Sigur Rós ; Heima ( 2006 )

 Sigur Rós ; Heima
Starring : Jon Thor Birgisson , Orri Pall Dyrason,  Georg Holm , Kjartan Sveinsson, Hildur Arsaelsdottir
Director : Dean DeBlois




















Sigur Rós begitu dicintai di negara asalnya, Islandia. Dan bukan rahasia  lagi jika saya pun mencintai lagu lagu mereka. Pada tahun 2006, setelah menyelesaikan rangkaian tur sukses keliling dunia, mereka kembali ke Islandia dan menyelenggarakan konser kejutan, gratis dan tanpa pemberitahuan besar besaran. Sineas Dean DeBlois asal Kanada kemudian merangkum rangkaian event menarik ini dalam sebuah film dokumenter musikal yang akan membawa kita lebih dekat mengenal Sigur Rós.

Layaknya sebuah film dokumenter, terdapat banyak petikan wawancara dengan para personel Sigur Rós. Mereka membicarakan Sigur Rós dari sudut pandang yang lebih intim, dengan bahasa inggris mereka yang terbata bata dan masih kental dengan dialek icelandic, membuat semuanya terasa semakin nyata bagaimana usaha mereka untuk membuat diri mereka merasa homey, akrab, dan menyatu dengan musik musik mereka serta menjadi bagian dari negara mereka sendiri.

Sigur Ros akan selalu dikenal sebagai band yang unclassifiable, mulai dari merilis sebuah album yang full berisikan lagu lagu yang berlirik hopelandic ( bahasa gumamam kreasi mereka sendiri ) hingga menggunakan bow violin pada gitar electric, musik nya Sigur Ros sangatlah unik and one-of-a-kind. Sigur Ros juga terkenal akan MV mereka yang terkenal indah dan berseni dan (mungkin) aneh.

Film yang berdurasi sekitar 97 menit ini menampilkan beberapa lagu sepert ;i glósóli, sé lest, ágætis byrjun, heysátan, olsen olsen, von, gítardjamm, vaka, a ferd til breidafjardar 1922 (with steindór andersen), starálfur, hoppípolla, popplagið, samskeyti.

Semuanya dikemas dalam suasana yang berbeda. Layaknya semua konser kecil / Gigs yang informal, semuanya serba sederhana. Lupakan panggung gemerlap dan lampu yang kelap kelip, yang ada ialah tempat tempat yang sangat sederhana dan simpel, seperti halaman rumah seseorang, padang rumput, restoran kecil, lapangan parkir, di dalam rumah, bahkan basement bawah tanah. Tidak ada sound system yang berlebih, semua serba apa adanya, tidak ada panggung, bahkan penonton pun bebas melakukan apa saja yang bisa membuat mereka nyaman ketika menonton pertunjukkan kecil mereka. Tidak ada rombongan mobil penonton yang datang, yang ada ialah sekumpulan orang orang yang saling mengajak satu sama lain berjalan menelusuri jalan menuju tempat pertunjukkan. Orang dewasa, anak anak, dan para orang tua semuanya berbaur menjadi satu.



Saya sendiri kadang tersenyum melihat betapa berbeda nya penonton mereka, semua golongan usia tampak antusias ketika melihat penampilan mereka, musik yang mampu diterima siapa saja, bahkan orang orang tua dan anak anak. Yang membuat saya terkesima adalah suasana Islandia sendiri yang sangat nyaman, akrab, small community yang saling berinteraksi layaknya keluarga, dan pemandangan khas skandinavia mulai dari bentuk rumah rumah yang unik, pengunungan, salju, sungai, pantai, hingga domba di padang rumput.

Saya tidak menikmati ketika banyak artis artis yang menjelaskan kenapa mereka berpikir mereka cool, dan kenapa kita sebagai fan base berpikir mereka cool. Sebaliknya, disini, walaupun banyak interview dengan para personil Sigur Ros, mereka berbicara kekaguman mereka akan para fans dan kecintaan mereka pada kampung halaman mereka. Terlihat betapa mereka bangga dan rindu akan orang orang di rumah mereka selama mereka pergi melakukan tur, sungguh sangat menyenangkan dan heartwarming.

















Saat lagu lagu sedang berjalan, live dari manapun tempat yang mereka pilih, terselip banyak video sungai sungai, ombak, dan deretan pegunungan yang diekspos. Bercampurnya live performance tadi dan shot shot akan keindahan alam sungguh breathtaking.

Shot shot kamera dalam film ini, menghabiskan banyak porsi untuk menangkap ekspresi para penonton ketika melihat pertunjukkan mereka. Buat saya sendiri, hal ini terasa sangat pribadi dan indah, seperti sambil mendengarkan lagu lagu mereka, kita juga melihat orang orang lain yang sama sekali asing dan jauh yang mendengar lagu yang sama. Tidak ada yang istimewa dalam pertunjukkan mereka kecuali lagu mereka sendiri. Mereka berpakaian sesantai mungkin, no fancy thing, bahkan anak anak bermain kejar kejaran diantara para personil band saat mereka sedang melakukan pertunjukkan.

In both circumstances, a normal setting and normal people create a palette that Sigur Ros uses to portray beauty.
Heima is vibrant and is filled with shots from Iceland. The images of Iceland are lush, rich, and beautiful as the compositions.

This is truly a masterpiece.


****

 Sigur Rós ; Heima
( Mery ; 3.00 AM, Sunday, April, 14th )

Thursday, April 4, 2013

In Memoriam : Roger Ebert ( 1942 - 2013 )




































Hari ini, Roger Ebert meninggal pada usia 70 tahun, setelah perjuangan panjang nya melawan kanker sejak tahun 2002. Perasaan shock pasti menimpa siapa saja yang begitu akrab, mencintai, dan mengagumi tulisan tulisan beliau yang pedas, mengandung humor dan sarkasme yang begitu kental dengan ciri khas nya. Saya sendiri sangat merasa kehilangan akan sosok seorang Ebert, yang selama ini selalu dijadikan sebagai tolak ukur kritikan sebuah film. Saya mengagumi dan mencintai tulisan tulisannya. Mungkin sering saya tidak sependapat dengan kritikan kritikan beliau akan beberapa film, tapi selalu ada kesenangan setiap kali membaca tulisan tulisan tersebut. He just know how to push some buttons to make us laugh and snort.

Ebert dikenal sebagai kolumnis utama di seksi review film di harian Chicago Sun-Times sejak tahun 1967, bahkan sejak ia divonis kanker pada tahun 2002, ia masih aktif menulis hingga minggu kemarin. Minggu kemarin, beliau mengundurkan diri sebagai kritikus utama di Chicago sun-Times ( sekarang mungkin dipegang rekannya, Richard Roeper ). Tapi saat turun dari 'singgasananya" minggu lalu, beliau masih berjanji akan terus mereview film, tapi hanya akan berfokus pada film film yang benar benar disukainya.

Walau kita, para pecinta film, tidak pernah mendapatkan janji akan beberapa tahun lagi bersama Roger Ebert, warisannya akan selalu hidup dalam karya karya tulisannya. Para pecinta tulisan Ebert pasti menyadari bahwa film film yang direview dengan sangat bergariah oleh beliau, kebanyakan adalah film film yang dibenci nya, dan dia terkenal karena hal itu. Walau kadang sering tidak sependapat dengan beliau, saya selalu mengagumi rangkaian kata katanya yang jenaka dan nakal. Dia menulis review review nya sama dengan cara ia hidup : Tanpa takut.

Untuk mengenangnya, saya berusaha menuliskan ( setelah melalui beberapa browsing dan baca sana sini di blog nya ), 40 film yang dikritiknya secara pedas, bersemangat, dan jenaka. Seperti Ebert, film film ini berada di masanya.

If you know Ebert, you'll learn a lot about why you love movies.


1. A Lot Like Love (2005):
“Judging by their dialogue, Oliver and Emily have never read a book or a newspaper, seen a movie, watched TV, had an idea, carried on an interesting conversation or ever thought much about anything. The movie thinks they are cute and funny, which is embarrassing, like your uncle who won’t stop with the golf jokes.”


2. Americathon (1979):
“If you plan to miss this movie, better miss it quickly; I doubt if it’ll be around to miss for long.”


3. Armageddon (1998):
“The movie is an assault on the eyes, the ears, the brain, common sense, and the human desire to be entertained. No matter what they’re charging to get in, it’s worth more to get out.”


4. B.A.P.S. (1997):
“My guess is that African Americans will be offended by the movie, and whites will be embarrassed. The movie will bring us all together, I imagine, in paralyzing boredom.”


5. Movie 43 ( 2012 ) :
Midway through "Movie 43," I knew the day had come. As the credits rolled with the inevitable blooper scenes of actors breaking character and inexplicably laughing when nothing funny is going on, I swallowed that pill, hoping to erase instantly all mental images of what had just transpired.

6. Baby Geniuses (1999):
“This is an old idea, beautifully expressed by Wordsworth, who said, ‘Heaven lies about us in our infancy.’ If I could quote the whole poem instead of completing this review, believe me, we’d all be happier. But I press on.”

7. Battle: Los Angeles (2011):
“Young men: If you attend this crap with friends who admire it, tactfully inform them they are idiots. Young women: If your date likes this movie, tell him you’ve been thinking it over, and you think you should consider spending some time apart.”

8. Battlefield Earth (2000):
Battlefield Earth is like taking a bus trip with someone who has needed a bath for a long time. It’s not merely bad; it’s unpleasant in a hostile way.”

9. The Beyond (1981):
“The movie is being revived around the country for midnight cult showings. Midnight is not late enough.”

10. Body of Evidence (1993):
“What about the story here? It has to be seen to be believed — something I do not advise. There’s all kinds of murky plot debris involving nasal spray with cocaine in it, ghosts from the past, bizarre sex, and lots of nudity. We are asked to believe that Madonna lives on a luxury houseboat, where she parades in front of the windows naked at
all hours, yet somehow doesn’t attract a crowd, not even of appreciative lobstermen.”

11. Breaking the Rules (1992):
“”The movie has to be seen to be believed. It is a long, painful lapse of taste, tone, and ordinary human feeling. Perhaps it was made by beings from another planet, who were able to watch our television in order to absorb key concepts such as cars, sex, leukemia, and casinos, but formed an imperfect view of how to fit them together.”

12. Catwoman (2004):
“The director, whose name is Pitof, was probably issued with two names at birth and would be wise to use the other one on his next project.”

13. Dice Rules (1991):
Dice Rules is one of the most appalling movies I have ever seen. It could not be more damaging to the career of Andrew Dice Clay if it had been made as a documentary by someone who hated him. The fact that Clay apparently thinks this movie is worth seeing is revealing and sad, indicating that he not only lacks a sense of humor, but also ordinary human decency.”

14. Dirty Love (2005):
Dirty Love wasn’t written and directed, it was committed. Here is a film so pitiful, it doesn’t rise to the level of badness. It is hopelessly incompetent… I am not certain that anyone involved has ever seen a movie, or knows what one is.”

15-16. Freddy Got Fingered (2001):
So great it gets two entries.
“Then he visits his friend in the hospital. A woman in the next bed goes into labor. [Tom Green] rips the baby from her womb and, when it appears to be dead, brings it to life by swinging it around his head by its umbilical cord, spraying the walls with blood. If you wanted that to be a surprise, then I’m sorry I spoiled it for you.”
“This movie doesn’t scrape the bottom of the barrel. This movie isn’t the bottom of the barrel. This movie isn’t below the bottom of the barrel. This movie doesn’t deserve to be mentioned in the same sentence with barrels.”

17. Friends and Lovers (1999):
“Last week I hosted the first Overlooked Film Festival at the University of Illinois, for films that have been unfairly overlooked. If I ever do a festival of films that deserve to be overlooked, Friends & Lovers is my opening night selection.”

18. The Frighteners (1996):
“Last year, I reviewed a nine-hour documentary about the lives of Mongolian yak herdsmen, and I would rather see it again than sit through The Frighteners.”

19. Godzilla (1998):
“Going to see Godzilla at the Palais of the Cannes Film Festival is like attending a satanic ritual in St. Peter’s Basilica…It was the festival’s closing film, coming at the end like the horses in a parade, perhaps for the same reason.”

20. How to Lose a Guy in 10 Days (2003):
“Matthew McConaughey and Kate Hudson star. I neglected to mention that, maybe because I was trying to place them in this review’s version of the Witness Protection Program. If I were taken off the movie beat and assigned to cover the interior design of bowling alleys, I would have some idea of how they must have felt as they made this film.”

21. I Spit on Your Grave (1978):
“This movie is an expression of the most diseased and perverted darker human natures, Because it is made artlessly, It flaunts its motives: There is no reason to see this movie except to be entertained by the sight of sadism and suffering. As a critic, I have never condemned the use of violence in films if I felt the filmmakers had an artistic reason for employing it. I Spit on Your Grave does not. It is a geek show. I wonder if its exhibitors saw it before they decided to play it, and if they felt as unclean afterward as I did.”

22. Jason X (2001):
“’This sucks on so many levels.’ Dialogue from Jason X; rare for a movie to so frankly describe itself. Jason X sucks on the levels of storytelling, character development, suspense, special effects, originality, punctuation, neatness and aptness of thought.”

23. Johnny Be Good (1988):
“This movie is simply financial leakage, a squandering of resources equivalent to polluting a river or plowing under a rain forest. I’m serious. We’re desperate for things to think about in this society, and these guys contribute to the situation by providing us with 86 minutes of zip. They oughta have their pictures on the post office wall.”

24. The Last Airbender (2011):
The Last Airbender is an agonizing experience in every category I can think of and others still waiting to be invented. The laws of chance suggest that something should have gone right. Not here. It puts a nail in the coffin of low-rent 3D, but it will need a lot more coffins than that.”

25. Little Indian, Big City (1994):
“Through a stroke of good luck, the entire third reel of the film was missing the day I saw it. I went back to the screening room two days later, to view the missing reel. It was as bad as the rest, but nothing could have saved this film. As my colleague Gene Siskel observed, ‘If the third reel had been the missing footage from Orson Welles’ The Magnificent Ambersons, this movie still would have sucked…There is a movie called Fargo playing right now. It is a masterpiece. Go see it. If you, under any circumstances, see Little Indian, Big City, I will never let you read one of my reviews again.”

26. Mad Dog Time (1996):
Mad Dog Time is the first movie I have seen that does not improve on the sight of a blank screen viewed for the same length of time. Oh, I’ve seen bad movies before. But they usually made me care about how bad they were. Watching Mad Dog Time is like waiting for the bus in a city where you’re not sure they have a bus line….Mad Dog Time should be cut into free ukulele picks for the poor.”

27. Mandingo (1975):
Mandingo is racist trash, obscene in its manipulation of human beings and feelings, and excruciating to sit through in an audience made up largely of children, as I did last Saturday afternoon. The film has an “R” rating, which didn’t keep many kids out, since most came with their parents… if [Chicago] believes Mandingo should be shown to children, then there are no possible standards left and the only thing to do is transfer the censors to the parks department, where they can supervise paper‑plate‑throwing contests.”

28. North (1994):
“I hated this movie. Hated, hated, hated, hated, hated this movie. Hated it. Hated every simpering stupid vacant audience-insulting moment of it. Hated the sensibility that thought anyone would like it. Hated the implied insult to the audience by its belief that anyone would be entertained by it.”

29. One Woman or Two (1985):
“Add it all up, and what you’ve got here is a waste of good electricity. I’m not talking about the electricity between the actors. I’m talking about the current to the projector.”

30. Pink Flamingos (1972):
“John Waters’ Pink Flamingos has been restored for its 25th anniversary revival, and with any luck at all that means I won’t have to see it again for another 25 years. If I haven’t retired by then, I will.”

31. Revolver (2005):
“Some of the acting is better than the film deserves. Make that all of the acting. Actually, the film stock itself is better than the film deserves. You know when sometimes a film catches fire inside a projector? If it happened with this one, I suspect the audience might cheer.”

32. Saving Silverman (2001):
“Saving Silverman is so bad in so many different ways that perhaps you should see it, as an example of the lowest slopes of the bell-shaped curve. This is the kind of movie that gives even its defenders fits of desperation. Consider my friend James Berardinelli, the best of the Web-based critics. No doubt 10 days of oxygen deprivation at the Sundance Film Festival helped inspire his three-star review, in which he reports optimistically, ‘Saving Silverman has its share of pratfalls and slapstick moments, but there’s almost no flatulence.’ Here’s a critical rule of thumb: You know you’re in trouble when you’re reduced to praising a movie for its absence of fart jokes, and have to add ‘almost.’”

33. Sex Drive (2008):
Sex Drive is an exercise in versatile vulgarity. The actors seem to be performing a public reading of the film’s mastery of the subject. Not only are all the usual human reproductive and excretory functions evoked, but new and I think probably impossible ones are included. This movie doesn’t contain ‘offensive language.’ The offensive language contains the movie.”

34. The Skulls (2000):
The Skulls is one of the great howlers, a film that bears comparison, yes, with The Greek Tycoon or even The Scarlet Letter. It’s so ludicrous in so many different ways it achieves a kind of forlorn grandeur. It’s in a category by itself.”

35. Sour Grapes (1998):
Sour Grapes is a comedy about things that aren’t funny. It reminded me of Crash, an erotic thriller about things no one finds erotic. The big difference is that David Cronenberg, who made Crash, knew that people were not turned on by auto accidents. Larry David, who wrote and directed Sour Grapes, apparently thinks people are amused by cancer, accidental castration, racial stereotypes and bitter family feuds… The more I think of it, the more Sour Grapes really does resemble Crash (except that Crash was not a bad film). Both movies are like watching automobile accidents. Only one was intended to be.”

36. Spice World (1997):
“The Spice Girls are easier to tell apart than the Teenage Mutant Ninja Turtles, but that is small consolation: What can you say about five women whose principal distinguishing characteristic is that they have different names? They occupy Spice World as if they were watching it: They’re so detached they can’t even successfully lip-synch their own songs. During a rehearsal scene, their director tells them, with such truth that we may be hearing a secret message from the screenwriter, ‘That was absolutely perfect — without being actually any good.’ Spice World is obviously intended as a ripoff of A Hard Day’s Night which gave The Beatles to the movies…the huge difference, of course, is that the Beatles were talented — while, let’s face it, the Spice Girls could be duplicated by any five women under the age of 30 standing in line at Dunkin’ Donuts.”

37. A Taste of Cherry (1997):
“A case can be made for the movie, but it would involve transforming the experience of viewing the film (which is excruciatingly boring) into something more interesting, a fable about life and death. Just as a bad novel can be made into a good movie, so can a boring movie be made into a fascinating movie review.”

38. Texas Chainsaw Massacre (2003):
“I like good horror movies. They can exorcise our demons. The Texas Chainsaw Massacre doesn’t want to exorcise anything. It wants to tramp crap through our imaginations and wipe its feet on our dreams. I think of filmgoers on a date, seeing this movie and then — what? I guess they’ll have to laugh at it, irony being a fashionable response to the experience of being had. … Do yourself a favor. There are a lot of good movies playing right now that can make you feel a little happier, smarter, sexier, funnier, more excited — or more scared, if that’s what you want. This is not one of them. Don’t let it kill 98 minutes of your life.”

39. Tim and Eric’s Billion Dollar Movie (2012):
“As faithful readers will know, I have a few cult followers who enjoy my reviews of bad movies. These have been collected in the books I Hated, Hated, Hated, HATED This Movie, Your Movie Sucks and A Horrible Experience of Unendurable Length. This movie is so bad, it couldn’t even inspire a review worthy of one of those books. I have my standards.”

40. Transformers: Revenge of the Fallen (2010):
“If you want to save yourself the ticket price, go into the kitchen, cue up a male choir singing the music of hell, and get a kid to start banging pots and pans together. Then close your eyes and use your imagination… The movie has been signed by Michael Bay. This is the same man who directed The Rock in 1996. Now he has made Transformers: Revenge of the Fallen. Faust made a better deal.”

*****

Farewell, Mr. Ebert.
One of the finest critic in film history, a champion of cinema and an extremely talented and insightful writer who was always a joy to read.