Tuesday, April 23, 2013

Review : Weekend ( 2011 )

WEEKEND ( 2011 )
Director: Andrew Haigh
Writer : Andrew Haigh
Stars :Tom Cullen, Chris New, Jonathan Race



"Sex is easy. Love is hard."

****

The Sexy Weekend begins, as weekends tend to do..
on friday night..

Russell ( Tom Cullen ) yang berprofesi sebagai lifeguard, mendatangi sebuah bar khusus gay saat jumat malam, setelah seharian bekerja dan berinteraksi dengan teman temannya yang sudah menikah. Terlihat dengan jelas bahwa perasaan lelah dan stress nya itu tidak hanya dipicu oleh pekerjaannya, tapi juga kesehariannya yang selalu bergaul dengan teman temannya yang berorientasi seksual straight. Iya, Russell adalah gay.
Russell membuat pilihan yang tepat ketika ia pulang bersama si sexy Glen ( Chris New )

Glen adalah seorang pria yang dinamis dan sudah merasa nyaman dengan status seksualnya yang gay, sementara Russell lebih ke tipe yang tidak sepenuhnya gamblang atau nyaman dengan status seksualnya.
Pagi harinya, Glen, yang merupakan seorang seniman dan bekerja di sebuah galeri, mengeluarkan sebuah tape recorder dan meminta Russell untuk berbicara tentang malam yang telah mereka lewati, untuk sebuah art project yang sedang dikerjakannya. Glen punya teori sendiri mengenai bagaiamana dia bisa mengetahui diri seseorang ( atau Russell ) dalam waktu singkat yang mereka lewati. Awalnya, Ini tampak seperti cara tercepat untuk memindahkan sebuah omong kosong, one night fling, ke dalam sebuah hubungan romance yang potensial, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Tapi ( lagi ) Weekend ternyata berubah menjadi salah satu kisah romance yang baik untuk tahun 2011 kemarin. Dibawa oleh kedua aktornya dengan naturalisme yang indah, yang menawarkan daya tarik tersendiri yang melampaui orientasi seksual mereka.



Glen adalah seorang seniman yang dikelilingi optimisme dan kepercayaan diri, ia menyukai keterbukaan / exposure dalam karya karya nya, tapi dia juga sangat sinis akan potensi dan prospek untuk menemukan audience.
"the problem is that no one is going to come see it because it's about gay sex", dia mengatakan hal itu pada Russell di suatu sore ( saat mereka bertemu kembali ). " Para gay, katanya, akan melihat proyek seninya sebagai sebuah perangsangan, tapi tidak bagi para pria atau wanita straight. "Karena, yah, itu tidak ada hubungannya dengan dunia mereka. Mereka akan pergi dan melihat gambar para pengungsi atau pembunuhan atau pemerkosaan, namun seks sesama pria ? "Dia menyelesaikan kalimatnya dengan dengusan singgungan.

Saya tidak yakin jika sang sutradara merangkap penulis, Andrew Haigh memasukkan kalimat kalimat diatas untuk memberikan sedikit perasaan malu pada para penonton yang straight, tapi yah..mungkin mereka ( penonton dalam kategori yang sangat luas ) juga harus bercermin akan banyaknya sikap sikap rasis terhadap kaum gay yang ada saat ini. The Kids Are All Right ( yang mengangkat kisah pasangan lesbian ) mungkin adalah pengecualian yang berhasil dalam hal ini, tapi seberapa sering ada filmfilm yang bisa merangkul penonton dengan radar yang lebih luas ?  
Ya, mungkin banyak film film seperti itu, hanya saja seperti yang dipikirkan Glen di film ini " that-not-for-me shrug among the straights", well..apakah kalimatnya itu berniat menyentil suatu hal ?

Tahun sebelumnya, I Love You Phillip Morris - yang dibintangi salah satu aktor mainstream hollywood, Jim Carrey, terlihat menggelinding seperti bola panas yang takut dipegang oleh siapapun, di jadwal ulang beberapa kali hingga akhirnya 'jatuh' di peredarannya yang bahkan tak sanggup memperoleh $2 juta di box office. Film Haigh ini mengingatkan saya pada awal cerita di film Sex, Lies, and videotapes nya Steven Soderbergh. Namun Glen tidak mengorek jauh temuannya seperti karakter James Spader itu. Motif tersembunyi tidak menjadi niat atau tujuannya, tapi lebih ke tentang semua keterlibatannya dengan orang lain. Weekend malah saya pikir lebih dekat secara emosional dwilogy ( soon to be trilogy ) nya Richard Linklater's Before Sunrise and Before Sunset ( tentunya dengan wakil karakter yang berbeda )

Saya menyukai bagaimana Haigh berhasil membawa film ini. Film ini berbau 'politik' ( seperti pemikiran berbagai konsep dan kepentingan ) dan menantang, tapi dikemas dengan cara cara yang lebih organik dan lebih mudah diterima.
Haigh mem-frame sebuah masalah dengan emosi yang dalam, seperti saat  Glenn dan Russell sedang mendiskusikan masalah seksual politik, terasa seperti cerminan kehidupan mereka sendiri. Apa yang ditunjukkan Haigh dari mereka saat bersama, in our out of bedroom, interaski antara mereka, dialog dialog dan gesture..- these two are very sexy together :p


Ya, banyak aspek dalam film ini mengandung unsur homoseksualitas, tapi buat saya sendiri ini bukan film gay, anggap saja saya melihat film ini dengan mengidentifikasi nya sebagai cerita antara Russell dan Glen. Itu karena, banyak diantara kita yang mungkin sudah berpikiran terbuka, tapi juga banyak yang masih 'dijaga' oleh  perasaan 'anti' mereka sendiri, dan juga beberapa dari kita mudah percaya, dan lainnya mungkin lebih lambat percaya. Beberapa dari kita mempunyai perasaan seksual yang menolak membicarakan atau mendiskusikannya. Beberapa diantara kita mungkin juga berpura pura menjadi seseorang yang kita pikir kita "harus" menjadi, dan melakukannya dengan sangat baik, sehingga bahkan teman dekat pun tidak tahu siapa kita sebenarnya.

Mostly, apa yang Glen dan Russell lakukan atau terjadi pada mereka is simply fall in love, despite marked differences in the way they approach their lives. Setelah saling menggoda, yang extrovert ternyata melihat hal yang baik bahkan lebih di dalam diri si introvert and vice versa. Mereka berdua belajar untuk lebih terbuka, well..mungkin buat Glen adalah belajar mencintai, dan buat Russell untuk lebih berani mengambil resiko.

Seperti gaya LInklater di dwilogy nya, Haigh menggoda penonton dengan ending yang ambigu. Ya, ada sebuah perpisahan, yang dishot dengan awal yang lumayan panjang, dimulai dari cara pandang orang orang awam dan mainstream ketika melihat pasangan gay dari jarak jauh, kemudian agak sedikit tegang, tapi sejalan dengan intensitas keintiman yang dibangun Haigh antara kedua karakternya. Apa yang mungkin terjadi pada dua pria ini di jalanan yang panjang nantinya mungkin terserah imajinasi kita. Mungkin mereka hanyalah sebuah cerita pendek, atau mungkin hanya opening dari sebuah kisah, atau mungkin Haigh sendiri tidak ingin mengetahuinya.

Tidak banyak film yang bercerita tentang hubungan, gay atau straight, yang memperhatikan dan merinci detail gaya pacaran yang sudah modern. Scene menarik saat Glen dan Russell, yang mengucapkan selamat tinggal setelah malam pertama mereka bersama-sama, bertukar ponsel dengan canggung untuk mengetik nomor masing masing, walau keduanya tidak tampak yakin menginginkan kencan kedua. Walau hal tersebut terlihat simpel, ringan, dan sederhana, tapi ini adalah prestasi penting untuk Andrew Haigh, dia membuat sebuah kisah cinta yang romantis dan quite funny, walau tanpa punch lines  atau kalimat kalimat indah, dan tanpa terlihat mellow atau dramatis.

Weekend offers a joyfully expanded vision of what romantic fulfillment can be.

1 comment:

  1. Saya menyesal nonton ini karena... subtile nya sangat absurd. Gak pas dan ngawur padahal aku suka banget sama film ini �� terutama dari segi cerita dan mengambilan gambar. Menurutku terasa lain dan asing. Dalam artian bagus tentunya. Thanks telah nge-review film hebat ini.

    ReplyDelete