Wednesday, May 29, 2013

Review : Magic Mike ( 2012 )

MAGIC MIKE
Starring : Channing Tatum, Alex Pettyfer, Matt Bomer, Joe Manganielo, Matthew McConaughey 
Written By: Reid Carolin
Directed by : Steven Soderbergh


Alright..alright..alright..

" You are the husband they never had! You are that dreamboat guy that never came along!

***

Sinar lampu meredup, gambar gambar yang muncul terkesan sunyi..and BAMMM..!! Channing Tatum's butt cheek terpampang jelas di layar.   
Either Ice Age 4 went in a bold new direction, or this is Magic Mike. Wohoo...:D
Wait no..
It's not just Tatum's butt cheek, but also biteable butt cheek of Alex Pettyfer, Bomer's and ooh..don't even let me start writing about the holly-fuck hot body of Joe Manganiello.
oh..and excuse me, i'm not talking porn movie.


Kita pernah melihat Natalie Portman dengan seksinya meliuk liukkan badannya dan ber-striptease ria di depan Clive Owen di Closer ( 2004 ), atau Demi Moore dengan segala latar belakang single mom nya menjadi stripper untuk bertahan hidup dalam Striptease' (1996), dan begitu banyak film film tentang stripper yang mayoritas selalu identik dengan perempuan. Sejauh saya bisa mengingat, tidak lah banyak film film yang mengangkat tema stripper pria, seperti di Full Monty ( 1997 ), and that's it..rasanya cuma itu yang bisa saya ingat, entah itu karena tontonan saya yang masih kurang banyak, atau memang sedikit film film yang berkonten stripper pria. Sungguh sebuah diskriminasi yang tidak adil !! *eh

Kenapa bisa begitu banyak film film yang berisikan stripper wanita yang beraksi dalam balutan two-piece underwear, dan banyak busana busana menantang lainnya, sedangkan sangat jarang kita melihat seorang pria meliuk liukkan tubuh nya dalam balutan thong ( OMG, please lupakan Borat dan thong nya yang super mood-killer itu ). Tapi semua keadaan kemarau nya stripper pria tersebut, tertuntaskan lunas saat hadirnya Magic Mike. Yes ! thank you Soderberg !

Judulnya saja Magic Mike, tentu kita bertanya siapa Mike itu ? apakah nama karakter atau tempat ?. Dengan menjual nama Channing Tatum sebagai aktor terdepan, sudah bisa ditebak tokoh Mike adalah jatah penting dalam film ini. Atau memang karena film ini terinspirasi dari fakta bahwa Tatum memang dulunya seorang stripper ? @.@.
Eniwei, Mike ( Tatum ), adalah seorang pekerja konstruksi yang tinggal di Tampa, Florida. 

Di Siang hari, dia adalah si dekil  Mike, yang bekerja memasang genteng di rumah rumah orang kaya di Florida. Tapi di malam hari, dia adalah Magic Mike, pria terseksi di Tampa yang sanggup meliuk liukkan tubuhnya sampai membuat banyak wanita "panas dan terganggu". Dia adalah bintang utama di grup stripper pria di klub stripper terkenal.
Tentu saja kita berpikir, Mike adalah tipe tipe hedonis yang berjiwa bebas yang menghamburkan uang demi kesenangan sesaat.
"don't judge a book by it's cover.", so, don't judge Mike just by his thong, and his butt cheek, and his six packs abs, and his sexy, provocative gesture and dance. Karena secara diam diam, ternyata Mike ingin membuka sebuah bisnis di bidang furniture. Hanya saja pengajuan pinjaman kreditnya di bank selalu gagal.
Suatu malam, dia bertemu Adam ( Pettyfer ), remaja tanggung yang bekerja bersama nya di kontruksi pada siang hari. Mike pun mengajaknya ke klub, dan saat salah seorang stripper tidak bisa tampil, Adam terpaksa tanpa sengaja menggantikannya, andd..- becoming a huge hit !!
***
 Steven Soderbergh adalah bunglon.

Film filmnya adalah pilihan pilihan yang sangat eksperimental dibandingkan dengan banyak filmmaker lainnya. Semuanya sangat berbeda satu sama lain ( kecuali Trilogy Ocean yang terhitung kategori 1 film yang sama ) yang dia berusaha ciptakan dengan unik atau secara teknis berbeda pencapaiannya.
Beberapa seperti, " Sex, Lies and Videotape," dan " Bubble" yang berusaha mendorong dan keluar dari batas batas standar Hollywood, sementara yang lain seperti " Contangion" atau trilogy Ocean yang lebih ke arah mainstream dan standar blockbuster Hollywood.

Magic Mike adalah film ketiga yang dirilis secara berdekatan dalam kurun waktu satu tahun, bersamaan dengan Contangion dan Haywire. Dan Magic Mike adalah salah satu eksperimen itu. It's an unusual project for the director, tapi bisa mencapai jauh lebih banyak daripada, katakanlah memulai hal dan kontruksi baru dalam film film stripper yang biasanya didominasi kaum wanita, yaitu berfokus, hanya berfokus pada stripper stripper pria.

Magic Mike berfokus pada dua karakter utama, yaitu Mike, yang untuk profesi stripper ini boleh dikatakan hampir "menua" dan Adam, remaja kebingungan, yang tiba tiba matanya berbinar dan bercahaya karena merasakan betapa bisa dengan mudahnya ia mencari uang hanya dengan memelorotkan celananya.

Tapi, Soderbergh kadang kadang melupakan perlunya sebuah drama yang biasanya bisa mengikat utuh sebuah cerita dalam film, tapi lebih berfokus pada goyangan goyangan maut para stripper ini, provocative dance, pelvic thrusts and chiseled abs.

Dan saat kita disajikan drama, Soderbergh masuk ke teritori " Erin Bronkovich ". Seperti Tatum, yang berkepribadian easy going, santai dan kurang ajar, tapi kemudian seperti merasa tersiksa. Mike terjebak dalam roda lingkaran kehidupan yang sebenarnya sangat ingin ia tinggalkan. Dia diam diam sebenarnya ingin terlepas dari mentornya yang haus kekuatan, Dallas ( yang btw, a role perfectly suited for and performed by Matt McConaughey ). Mike melihat kakak perempuan Adam, yang tipe tipe kutu buku dan perempuan baik baik sebagai tempat pelariannya, dan kesempatannya untuk berubah.
Sedangkan Adam, on the other hand, sebenarnya sedang bersiap siap jatuh ke dalam Rabbit Hole, sebuah lobang hidup yang sangat mudah diprediksi, penuh dengan narkotika, kejahatan, perempuan, dan hal hal hedonis lainnya.

Kita melihat cerita seperti ini di banyak film. Hal berbeda yang dibawa oleh Soderbergh adalah masuknya stripper stripper pria ini ke dalam pertunjukkan ( No worries for men, you only see naked butts -_- ). Scene scene di atas panggung di film ini adalah daya tarik tertinggi di film ini, yang sebenarnya hanya dance dance hip hop yang sering kita lihat di banyak music video. Walau setiap dance di scene scene ini sangat dikoreografikan dengan sangat baik, bahkan menghibur, tapi that's it. Cerita yang disajikan terasa dianak tirikan, tanpa drama berarti, bahkan cenderung membosankan.

Soderbergh berhasil memancing penampilan terbaik Tatum dan McConaughey. Tatum benar benar membuktikan dirinya belakangan ini, dan Magic Mike mungkin adalah salah satu penampilan terbaiknya. And no need i say this again ( we know Step Up as the prove ), but boy.., the dude can dance, too.

It’s good to have another Soderbergh movie, and one that’s completely different from anything he’s done before. But beneath the magic, “Mike” is ultimately meh.

 

Sunday, May 26, 2013

Just A Thought : Life Is Not A Movie

Life Is Not A Movie
May, 27th 2013
By Merista Kalorin

 


















“ Tunggu, tolong berhenti bicara. Kenapa bisa ada pisau dapur di lantai kamarmu ?"

Adik saya yang sedang berdiri di pintu kamar, sedang bertanya kenapa pisau dapur tersebut masih ada disana. Pisau tersebut sudah berada disana berbulan bulan, well..i’m surpised it took her so long to notice.

“ Oh..jatuh dari meja di belakang TV. Sini, biar aku ambil “

“ Tunggu, maksudnya..why..? why is it in your room ?   
Dia memaksa bertanya, menatap saya yang sedang membungkukkan badan untuk mengambil pisau tersebut, dengan pandangan penasaran, seolah pisau tersebut cepat lambat akan membongkar sebuah dirty little secret.

So..well..this is going to sound silly. Saat itu malam minggu di bulan Februari sepertinya. As you know, Dad sleep at your place, so thats mean i live alone for that past few day. I Came home and unlocking the door, dan pas pintu terbuka, terdengar  suara berderak dari kamar tidur. I thought someone broken in, you know “ Aku berusaha menjelaskan sambil berpikir betapa terdengar konyolnya hal itu akan seperti.

“ okay.., so one of those nights when someone has broken into our home. Okay., continue.”

Sambil mendesah dan berpikir, aku sedang mengingat malam yang sedang ditanyakan tersebut dan merasa malu. Setiap langkah yang mengandung perasaan was was, dan bagaimana tanganku yang gemetaran memegang erat tas kerja ku, dan bagaimana akhirnya langkahku kupercepat sampai ke dapur sambil menyapu pandang ke segala pojok, kemudian dengan cepat membuka semua pintu lemari cabinet yang ada di kitchen bench, dan langsung meraih sebuah pisau dapur mengkilat ( yang sepertinya baru aku beli dua hari sebelumnya, so no question that it must be sharp as ever :p ). And finally, when the coast was clear, i gripping that knife in my fist – in case someone was lurking behind that close doors, someone i had to stab.

Karena, to be franky, bagaimana jika beneran ada seseorang yang menyelinap masuk ? Bagaimana kalau mereka memang sedang menunggu di balik pintu pintu tersebut, seorang gadis bodoh dengan pisau dapur di tangannya pulang ke rumah ? bagaimana jika aku ternyata berhasil menusuk mereka ? it was self-defense, right ? polisi akan datang dan memeriksa dan membuat pernyataan, and the all would be set right ? Tidak. No. Because life is not a movie.

Saya kadang lupa. Lupa bahwa saya tidak sedang berakting memerankan seseorang. Saya lupa, bahwa jika saya benar benar menusuk orang lain, mungkin saya akan trauma, dan disuruh ikut terapi untuk melupakannya. Saya akan takut dengan keadaan rumah yang kosong. 


Film film tidak menunjukkan hal itu kan ?

You know what else ? i forget that, once you reach a goal, you need a new one. Once you get what you want, you have to want something else. Keberhasilanmu tak akan lama. Keberhasilan keberhasilan itu tidak akan dipajang di lemari kaca di museum untuk dikagumi. Saat kita meraih sesuatu, kita akan kembali membutuhkan hal lain.



 















Contohnya saja, ambil sebuah film tentang seorang pria dan wanita yang sedang jatuh cinta, kita tidak melihat lagi kelanjutan atau apapun yang terjadi pada hubungan tersebut setelah – err..give or take, 129 menit of henpecking and grand gestures. Kita tidak melihat pertengkaran pertengkaran, kita tidak melihat perselingkuhan, kita tidak melihat sang gadis keguguran bayinya, atau sang pria yang sedang digoda sekretaris seksi nya. Pada akhirnya, yang kita lihat hanyalah happy ending. But there are no happy endings – there is one ending, and that ending means death.

Saat kita berharap untuk jatuh cinta seperti film film yang pernah ajarkan kepada kita, bahkan jika film film tersebut adalah apa yang kita pilih untuk me-modelkan hidup kita sendiri dengan modal ke-realistis an nya, bahkan jika film itu tidak terlalu romantis, atau jika kita pikir kalau film itu dekat dengan cinta nyata yang akan kita alami, we’re setting ourselves up to fail. Sebuah film tidak dipertimbangkan atau dibuat untuk seseorang sepenuhnya. 

Film tidak berpikir akan waktu saat kau pernah tersedak saat minum sambil berkendara dengan sepeda kecilmu saat kau berumur 6 tahun. Mereka tidak membahas tentang bagaimana ibumu menjadi freak out saat kau ternyata menabrak pot bunga kesayangannya, dan menyebabkan lututmu tergores parah dan berdarah. Atau tentang saat kau remaja dan sedang asyik asyiknya bermesraan dengan pacarmu dengan bergairah, dan pacarmu kemudian mengernyit dan komplain akan nafas mu  yang tidak sewangi permen kiss, dan hal tersebut merupakan bencana pertama dalam hubungan romantis mu dengan pria ( atau wanita ), yang mungkin sampai sekarang akan kau selalu ingat dan punya perasaan jelek karena hal itu. Movie does not think about that time.

Momen momen tersebut, menit demi menit, mungkin terlihat tidak penting dan kurang begitu lekat di ingatanmu, tapi itu semua adalah jahitan jahitan kecil yang membuatmu menjadi dirimu sekarang ini. Momen momen besar yang kita definiskan sebagai life-changing experience sebenarnya tidak lebih penting dari rutinitas yang kita kenal saat masih kecil., hal hal penting dalam kondisi kondisi yang tidak pernah kita sadari sebelumnya saat itu terjadi, the big and small victories alike. A movie character doesn’t have those stitches. 
A movie doesn’t have that texture.

Tapi kita tahu apa yang dimiliki di semua film. Sutradara, produser dan para aktornya, kemudian naskah. Hidup mungkin akan lebih mudah jika kita memiliki naskah, sehingga kita akan tau apa yang harus kita katakan, saat dokter memvonismu menderita penyakit parah. Ia akan ikut bersedih, dan mungkin ada baiknya apabila kita tahu apa yang akan kita katakan pada saat itu. 

Atau saat kau belajar bahwa hatimu yang terluka karena cinta dari seorang pria, yang sebenarnya adalah seseorang yang mengajarimu dan memberitahumu tentang arti cinta itu. In the first place.
Someone else’s words may have been helpful there.

Bagaimana jika kau tiba tiba mengetahui, saat berikutnya kau bertemu seseorang, itu juga akan menjadi saat terakhir kau bertemu orang itu ?

Dan mungkin kali berikutnya kau bertemu orang itu, dia mungkin sudah berbaring di sebuah box kayu besar, berkaca, dan seperti mannequin yang didisplay secara horizontal. Kau melihatnya dengan teliti dan berpikir, “ oh begini kelihatannya “. Of course you can’t say that out loud. Tidak bisakah seseorang datang, menarikmu, kemudian mengatakan kata kata bijaksana yang cocok dengan momen tersebut ? 

Ugh..No. Life is not a movie.It’s not a drama, it’s not a Rom Com, and it’s not a God-damn blockbuster. We don’t have the promise of perfection, of loose ends getting tied. And why would we expect it, anyway ?

Bahkan seorang model runway, dengan kakinya yang jenjang sempurna, mungkin akan jatuh tersungkur saat kita memintanya untuk berjalan di atas catwalk dengan high heels 8inch. Yeah, she looks stunning and aspirational – sampai kakinya yang indah tadi menyerah dan terjatuh dengan sama epiknya tinggi heels yang dipakainya. A Fake. An Impossible standard. A Movie.

Hidup bukanlah film, you know ? it’s not a talkie. It’s not a still frame from Gone With The Wind. Ini semua bukanlah film, tapi mungkin sebuah gambar, mosaik, pecahan pecahan kaca, yang masing masingnya unik dan berarti. Rumit, dan terikat oleh lem dan keringat. Mungkin keindahannya hanya dapat sepenuhnya disadari ketika kita melihatnya dari jauh, jauh sekali. Atau mungkin hanya dapat dipahami oleh seseorang yang sedang memegang sebuah perekat yang bisa menyambungkan semua pecahan yang berwarna warni tersebut.

**
Saya melihat pisau dapur yang barusan kuambil dari lantai, and it looks alive, berkedap kedip karena permainan cahaya yang terpantul dari TV yang tepat ada di sudut ruangan. 

 “Actually, it was silly. Do you mind taking it to kitchen?”

I don’t need it anymore.

Monday, May 20, 2013

Review : City Lights ( 1931 )

CITY LIGHTS 
Starring : Charlie Chaplin, Virginia Cherrill, Harry Myers
Writer : Charlie Chaplin
Director : Charlie Chaplin


Talkies mulai merambah Hollywood pada pertengahan tahun 1920an. Talkies yang berarti film bersuara memungkinkan para penonton bisa mendengar langsung dialog antar tokoh, yang sebelumnya, di erat silent movie, suara suara yang ada hanya  berupa musik pengiring, dan dengan dialog yang sangat minim yang biasanya dihadirkan dalam bentuk text tertulis. Talkies, merupakan tantangan besar buat sebagian kalangan aktor Hollywood. Kita sudah pernah melihat bagaimana George Valentin yang dibuat bangkrut karena peralihan silent movie ke talkies dalam The Artist ( 2011 ), atau bagaimana Don Lockwood yang bahkan sampai mengambil kursus artikulasi untuk menunjang penampilannya untuk film film terbarunya yang juga memasuki era talkies di Singin' In The Rain ( 1942 ). Walau sayang, rekannya Lina Lamont tetap dipandang sebagai triple threat dengan suaranya yang melengking bak kucing yang sedang berang. Kemudian masih ada The Jazz Singer ( 1927 ), yang akan selalu diingat dan tercatat dalam sejarah perfilman sebagai the first ever talkies dan menjadi tolak ukur di awal awal era talkies.

Kemudian masih ada nama terkenal lainnya, Charlie Chaplin.  Saat The Jazz Singer yang menjadi major hit dan meledak di pasaran saat itu, industri Hollywood seakan langsung berbalik berkiblat pada talkies, tapi tidak Charlie Chaplin. Chaplin tetap bersikukuh dengan silent movie sepanjang tahun 1930an. Dia melihat film sebagai sebuah seni pantomim yang lebih bisa dimaknai dan dihayati dengan gerakan tubuh ketimbang kata kata.

City Lights ( 1931 ) mengisi daftar filmografi Charlie Chaplin sebagai salah satu film bisu karyanya yang terkenal bersama dengan The Kid  (1921), A Woman of Paris (1923), The Gold Rush(1925), The Circus (1928), and Modern Times (1936) , bahkan tidak jarang judul judul diatas mengisi peringkat peringkat tinggi dalam daftar daftar film penting sepanjang masa.

****



















The Tramp ( Charlie Chaplin ) adalah bintang dalam City Lights. Suatu malam, saat sedang berkeliaran dalam kota, dia tanpa sengaja menyelamatkan seorang milyuner ( Harry Myers ) dari percobaan bunuh diri. Si Milyuner yang sedang mabuk menyadari kesalahannya dan dengan dramatis langsung menganggap the Tramp sebagai sahabat dan penyelamatnya, mengajaknya ke rumahnya dan menjamu nya layaknya tamu terhormat. Tapi saat pagi tiba, dan kesadaran si milyuner kembali seutuhnya, dia tidak mengingat the Tramp, sehingga sang asisten langsung mengusir the Tramp dari kediaman si milyuner.

Kemudian malamnya, ketika kembali mabuk, si milyuner kembali mengingat the Tramp dan kembali bersikap super ramah dan bersahabat. Sementara itu, the Tramp jatuh hati dengan seorang gadis cantik penjual bunga yang buta ( Virginia Cherril ). Dengan setiap sen terakhirnya, the Tramp membeli bunga darinya dan selalu meletakannya di kantong jaketnya seperti harta yang sangat berharga. Di hari selanjutnya, dengan uang yang diberikan tanpa sadar oleh si milyuner, the Tramp membeli semua bunga dari gadis itu, dan gadis itupun menganggap the Tramp sebagai seorang yang kaya, apalagi the Tramp bahkan memberikannya uang banyak untuk membayar sewa rumah dan biaya operasi untuk menyembuhkan matanya. Hanya saja gadis tersebut tidak tahu, bahwa uang tersebut menyebabkan the Tramp ditangkap polisi dengan tuduhan mencuri dari si milyuner, yang pada pagi harinya mengaku tidak kenal dengan the Tramp dan merasa dirampok.

City Lights adalah film yang sangat penting untuk Charlie Chaplin. Image publiknya saat itu sedang jelek jeleknya akibat perceraiannya dari istri keduanya, Lita. Film yang dirilisnya pada saat perceraiannya, The Circus ( 1928 ), walau sebenarnya menguntungkan, tapi bukanlah major hit, bahkan para kritikus cenderung mengatakan biasa saja, tidak ada yang istimewa untuk standar film Chaplin. Bahkan pemerintah federal saat itu memetik pajak yang nilainya sampai ratusan ribu dollar darinya. Dan yang paling buruk adalah, munculnya era talkies, yang berpotensi besar menghancurkan kejayaan film bisu yang membangun karirnya.




















Tapi dengan City Lights, Chaplin kembali keatas. Publik Amerika dan kritikus menyukai filmnya, begitu juga hampir di seluruh dunia. Chaplin berhasil mengembalikan reputasinya sebagai satu satunya Charlie, pria di Hollywood yang bisa melakukan persis apapun yang disukainya dan berhasil. Sementara rivalnya yang lain, Harold Lloyd dan Buster Keaton yang malah menjadi meredup karirnya seiring tibanya era talkies. Kepopuleran unik Chaplin ini membawanya bertahan di Hollywood untuk dekade berikutnya. Dia masih Raja komedi yang tidak terkalahkan di masanya.

Walau City Lights tampil all-out dengan ending nya yang dramatis dan menyentuh. Film ini tetap dikelaskan dalam komedi. Ada banyak aspek ganda positif yang saya lihat dalam City Lights. Walau sangat mempesona dengan humor slapstick nya, penggunaan naratif yang sigap serta penampilan yang mengesankan ( tapi tentu saja, dengan gaya khas musical score chaplin yang kaya dan sangat bervariasi, juga sangat menunjang film ini ) juga ikut membuat film ini tampil cemerlang. Once again - not talkies and without talking - adalah bagian penting dari pesona film ni sendiri. Suara suara dialog mungkin bisa membantu. Tapi di film ini, karakter karakternya harus bisa memusatkan emosi dan ekspresi mereka tanpa suara, dan hasilnya memang terlihat mengagumkan di beberapa adegan memorable.
Kemudian hal lainnya, tentu saja komedi slapstik itu sendiri. Kita mengenal komedi slapstick sebagai salah satu jenis komedi yang mungkin akan dipandang konyol saat ini. Hal tersebut akan lebih terlihat dipaksakan dan lebih konyol dalam talkies. Slapstick akan selalu mempunyai tempat dalam film film bisu. Beberapa hal akan bekerja lebih baik tanpa suara, dan ciri khas komedi Chaplin akan selalu identik dengan film film bisu.















Seiring waktu berjalan, saat talkies mulai mengambil alih sepenuhnya, bahkan lebih besar, kuat dan dahsyat dari sebelumnya, Film film bisu semakin meredup dan menghilang. Hanya sedikit penonton, terutama remaja yang kehilangan selera untuk menonton film hitam-putih, apalagi yang karakternya tidak bicara. Sangat disayangkan sebenarnya, karena siapapun yang menolak menonton film film bisu seperti ini, seakan menolak dan membawa diri mereka menghindari salah satu jenis hiburan yang luar biasa. Ada hal hal tertentu yang ajaib yang bisa kita temukan ketika mengeskplorasi sejarah awal perfilman seperti ini. Entah itu hal hal baru yang kita ketahui setelah menonton Battleship Potemkin, gambar gambar mengerikan dari film Nosferatu atau The Cabinet of Dr. Caligari, atau bahkan merasakan sebuah pengalaman cinematic akan bergabungnya genre drama dan komedi kelas atas dalam City Lights.

Untuk siapapun yang mungkin akan merekomendasikan kepada entah itu teman, anak, atau pasangan kalian, sebuah kejayaan era film film bisu, saya merekomendasikan film Chaplin yang satu ini sebagai starting point.
Sangat sangat banyak film film bisu yang dilupakan, tergerus waktu atau bahkan dilupakan karena mulai kurang berkesan dan tidak memiliki impresi apapun sampai hari ini, tapi tidak dengan City Lights.
City Lights akan selalu bersinar dalam jajaran film film terbaik sepanjang masa.

Definitely one of the movies you need to watch before you retire from cinematic world.

Review : Celtic Woman ; Believe ( 2012 )

Celtic Woman ; Believe
Starring : Chloë Agnew, Lisa Kelly, Lisa Lambe, and fiddler Máiréad Nesbitt.
Producer : David Downess

 

 Celtic Woman mempunyai 2 ciri khas utama, yaitu kecantikan dan keanggunan yang dimiliki semua personilnya, oh dan tentu saja suara mereka yang sungguh memanjakan telinga. Setiap konser dan show yang mereka hadirkan selalu mempunyai ciri khas, seperti penampilan mereka yang selalu didukung maksimal oleh kelompok band dan orkestra yang sangat kental dengan instrument khas celtic, seperti fiddle, tin whistle, bodhran, bagpipes, dan banjo.

Celtic Woman pertama kali lahir dari tangan kreatif David Downes pada tahun 2004, yang sebelumnya terkenal sebagai produser serta kreator salah satu kelompok musisi dan dancer legendaris Irlandia, Riverdance. Dari tangan Downes, terbentuk sebuah grup vokal yang terdiri dari 5 penyanyi wanita yang sebelumnya tidak pernah tampil bersama. Chloë Agnew, Órla Fallon, Lisa Kelly and Méav Ní Mhaolchatha, and fiddler Máiréad Nesbitt. Selama 8 tahun berkarya, Celtic Woman sudah pernah merilis 7 album. Seiring tahun berjalan, Celtic mengalami perubahan anggota yang sering datang silih berganti. Hingga saat ini, pada tahun 2013, Celtic Woman beranggotakan  Chloe, Lisa Lambe dan Susan Mcfadden, serta Mairead Nesbitt yang masih bersama mereka sebagai fiddler. Susan McFadden masuk awal tahun ini, untuk mengisi posisi Lisa Kelly yang sedang menjalani cuti kehamilan, dan Lisa Lambe mengisi pertukaran dengan Hayley Westenra. Hayley merupakan penyanyi terkenal asal Kanada yang pernah bergabung dengan Celtic Woman pada tahun 2006.

















Album terbaru mereka, Believe ( 2012 ) dirilis padal awal 2012 dengan konser pendamping yang juga disertakan dalam bentuk DVD dalam perilisan album tersebut, Konser yang diselenggarakan di Fox Theatre in Atlanta, GA. Konser yang dihadiri ribuan orang tersebut masih menggunakan formula unggulan mereka, live performance dan sebuah stage show yang menampilkan beberapa lagu terbaru mereka, lagu lagu tradisional Irlandia, belasan pemain bagpipes, dan alat musik khas celtic lainnya, serta Riverdance Irish Tap Dancer, Michael Gallagher

saya baru berkesempatan mendengar album konser mereka ini kemarin, and well..may i say, i was impressed. Suara suara yang memanjakan telinga yang terdengar sangat indah dari Lisa Kelly, Chloe Agnew, dan Lisa Lambe dan tak lupa juga Mairead Nessbitt yang sangat mencuri perhatian dengan permainan fiddle ( masih sekelompok dengan violin ) nya yang begitu energik dan memanjakan telinga.

Dari pertama saya duduk menonton pertunjukan ini ( concert just isn't word enought to describe this musical phenomena ) hampir tidak ada yang saya keluhkan . Dengan suasana malam yang berkabut dan pencahayaan yang bersinar megah dari panggung mengarah ke dua stage bertingkat tempat duduk penonton, penampilan cantik dan anggun dari Lisa Kelly, Lisa Lambe, Chloe dan Mairead, serta semua penyanyi latar yang tak kalah mengagumkan. Salah satu yang khas dari Celtic Woman adalah, dalam setiap show dan konser, mereka selalu tampil dengan balutan busana gaun pesta formal yang sungguh cantik, bahkan mereka terlihat seperti seorang putri kerajaan.

















Suara vokal mereka yang lembut, dipadu dengan gaun yang indah, serta rambut yang indah dan panjang, semakin membangun suasana harmonis dan dreamy, apalagi ditambah dengan instrumen alat alat music celtic yang begitu menghidupkan suasana panggung. Dibawakan oleh ensemble cast dari Celtic Woman sendiri, seperti Uileann pipes, bagpipes versi Irlandia, dan juga bagpipes regular, yang dimainkan oleh segerombolan musisi pria yang memakai kilt, kemudian masih ada tin whistle, gitar, bodhran dan drum set yang dimainkan bergantian selama pertunjukkan berlangsung.

Para penonton yang terlihat begitu banyak mengisi dua lantai Fox theathre terdiri dari segala jenis usia, bahkan para newbie newbie fans Celtic Woman, seiring pertunjukkan, kerap diperlihatkan ekspresi para penonton yang terlihat tersenyum kagum bahkan sering bernyanyi bersama. Oh tak lupa juga, hampir disetiap lagu, diakhiri dengan standing ovation.

Salah satu lagu favorit saya, sekaligus mungkin bisa dikatakan sebagai pamungkas dari show ini, yaitu "Téir Abhaile Riú" yang dibawakan kedua Lisa, Chloe serta Mairead sambil menari, diiringi ensemble penyanyi latar mereka yang membentuk satu harmoni yang cantik, dan tak lupa juga Michael Gallagher, yang merupakan member dari Irish tap dancer, Riverdance, yang ikut ber-tap dance ria sepanjang lagu berlangsung. Sungguh tontonan yang mengasyikkan.
















Audiens yang dipenuhi tawa, applaus meriah dan banyak standing ovation serta sorakan sorakan kekaguman, sudah menunjukkan, betapa suksesnya pertunjukkan ini.
 I know i was so won over by the performance.
***
Celtic Woman ( Ireland )




Lisa Lambe
lisa Kelly
Máiréad Nesbitt
Chloë Agnew,







Saturday, May 18, 2013

Review : Sabrina ( 1954 )

SABRINA
Starring : Audrey Hepburn, Humphrey Bogart, William Holden
Screenplay By: Ernest Lehman, Samuel A. Taylor & Billy Wilder
Directed By: Billy Wilder



Antara tahun 1940s dan 1950s, kekuatan pesona bintang lah yang menguasai sebuah film. Kekuatan cinema yang sebelumnya seperti, kekuatan plot cerita, naskah, karakter, dan sinematografi mulai menjadi opsi kedua terpenting setelah siapakah bintang terkenal yang berada di film tersebut. Aktor terkenal selalu berhasil menjaring penonton ke bioskop ( walaupun film yang jelek ), sementara kadang nama nama asing dan kurang familair cenderung dihindari oleh penonton, yang sebenarnya membuat mereka jauh dari film film yang sebenarnya bagus. Karisma dan kualitas seorang bintang adalah yang paling penting di Hollywood di masa itu, saat kebesaran film film layar lebar, dinaikkan pamornya oleh pesona para bintangnya.

Sabrina adalah contoh sempurna akan sebuah film dimana para aktornya mempunyai faktor yang lebih penting daripada faktor produksi lainnya. Dengan sebuah plot kisah yang sangat sangat sangat familiar, bahkan cenderung tidak ada yang baru, tapi toh Sabrina tetap berhasil menjadi sebuah tontonan yang charming, delightfully romantic version of Cinderella story. Walau terdapat rumor ketidakharmonisan antar bintangnya di belakang layar, chemistry on-screen yang ada diantara mereka bertiga ternyata berhasil. Tampil fresh setelah kemenangan pertamanya yang dramatis lewat ROman Holiday ( 1953 ), Audrey Hepburn sudah pasti bersinar, serta Bogart, yang sudah lama terkenal dengan image tough-guy, eh..ternyata bisa juga bermain dengan efektif akan peran romantisnya ini, dan tak lupa juga William Holden, yang saat itu baru saja memenangkan Oscar lewat Stalag 14 ( 1953 ), is the perfect playboy on-screen.

Diangkat dari drama panggung Samuel Taylor, Sabrina Fair, Sabrina menceritakan tentang transformasi seorang gadis pemalu, insecure, dan sederhana berubah menjadi seorang gadis yang stylish, percaya diri, dan bergaya, yang berhasil memenangkan hati pangeran impiannya. Disutradarai oleh Billy Wilder ( Sunset Boulevard ), Sabrina dimaksudkan sebagai modern-day fairy tale. Semuanya tentang cinta dan tawa dengan porsi seimbang antara komedi dan kisah romance. Wilder mengerahkan semua kemampuannya dengan formula yang ada ini, dan sebagai hasilnya, adalah produksi yang sederhana namun menarik dan memorable.

Pangeran impian Sabrina sebenarnya adalah David Larrabee ( Holden ), yang sejak awal diperlihatkan sebagai playboy dalam keluarga, menikah tiga kali dan gagal karena susah setia dengan satu wanita . Sabrina ( Hepburn ), adalah anak sopir pribadi keluarga Larrabee, ia terpesona oleh David, tapi sayangnya David tidak pernah melihatnya lebih atau menyadari keberadaannya. Kemudian masih ada sesama Larrabee lainnya, Linus ( Bogart ), seorang pria yang hanya mencintai bisnis keluarganya. DIa tidak memiliki kehidupan pribadi yang menarik yang bisa dijadikan gosip, dan menghabiskan seluruh waktunya di kantor.
Sebagai usaha untuk mencerahkan sekaligus meluaskan pikiran anaknya yang masih tergila gila dengan anak majikan mereka, Sang ayah, Fairchild ( John Williams ), mengirim Sabrina ke Paris untuk belajar kuliner selama dua tahun. Sementara disana, Sabrina akhirnya tumbuh mekar menjadi gadis muda yang cantik dan bergaya, tapi tidak pernah melupakan benih benih cinta nya kepada David. Ketika akhirnya ia pulang dan kembali ke kediaman Larrabee di Long Island, David ternyata terpesona oleh transformasi Sabrina dan memutuskan untuk mengakhiri pertunangannya dengan  seorang anak pewaris perusahaan besar, dan memilih untuk mengejar Sabrina.
Sementara itu Linus, orang pertama yang mengusulkan rencana perjodohan itu tentu saja berang, karena itu berarti membuang kesepakatan bisnis yang bernilai puluhan juta dollar. Jadi, dengan berhati dingin, ia berusaha untuk menjauhkan Sabrina dari David, dan hal yang tidak diramalkan olehnya pun tejadi, Linus fall for her.

Pernah melihat Bogart berpasangan dengan Ingrid Bergman atau Lauren Bacall ?
percayalah, at first glance, dipasangkannya Bogart dan Hepburn seperti pilihan yang tidak cocok. Apalagi jika dibandingkan dengan Bergman dan Bacall yang sama sama berhasil memberi chemistry yang bersinar bersama Bogart. In many ways, love, as it applies to Linus, adalah sesuatu yang muncul disaat yang tidak tepat dan dengan orang yang tidak tepat, atau at least, seseorang yang tidak pernah muncul dalam bayangannya sekalipun ( dan juga penonton ).

Bogart sebagai Linus, adalah seorang pengusaha yang sangat sukses dan terlihat bahagia dan puas dengan hidupnya. Tapi, saat ia mulai menyadari bahwa ia jatuh cinta dengan Sabrina keberhasilannya terasa hampa dan begitu juga hidupnya. Pepatah lama yang berkata, bahwa cinta mengalahkan segalanya, dan dengan sangat non-Wilder, cinta berhasil mengalahkan semua mimpi.
Audrey Hepburn is georgeus, Humphrey Bogart seperti yang saya tulis diatas adalah sosok dingin yang rapuh, namun hanya menunggu waktu yang tepat untuk retak dan melebur. Wiliam Holden sangat charming dan self-oriented serta playboy. Dialog dialog nya lucu, licik dan cerdas, dan filmnnya pun tipikal Wilder, simpel dan to the point serta memanjakan mata dengan segala sinematografinya, setting tempat atau kostum.

Sesekali, anda perlu menonton sebuah film ringan yang berisikan banyak opini opini sosial di permukaannya. Sabrina adalah film itu, tontonan ringan, yang bisa dikatakan sebagai perwujudan lain dari dongeng Cinderella yang berisikan sisi kehidupan sosial masyarakan kelas atas beserta wujud orang orang yang suka membicarakan hal itu. Opini sosial yang bermunculan dalam film ini sebenarnya tidak menyentuh terlalu banyak kalangan, dan mungkin bahkan banyak orang yang tidak menyadarinya jika mereka tidak mencarinya. Wilder seperti sengaja menyentil pihak pihak kelas atas, para orang orang kaya versus orang orang yang puas dengan hidupnya yang sederhana, cinta sebagai konsep and mostly, cinta yang harus berhadapan dengan prestasi di dunia nyata atau kesuksesan di dunia nyata tidaklah menjamin kebahagiaan yang lebih baik.




















Ini adalah cerita yang telah sering sekali diangkat selama sejarah cinema dan tentu saja Audrey Hepburn faktor yang membuatnya semakin familiar dan loveable. Cinderella adalah tipe standar untuk gadis gadis malang yang kemudian berubah menjadi putri yang cantik jelita, dengan segala ketidak beruntungannya, bertemu dengan seorang pria yang akan membahagiakannya, dengan iklim yang indah seperti itu, semakin mengukuhkan ceritanya sendiri menjadi dreamy dan menggelikan. Dan Sabrina pun tidak lepas dari iklim yang seperti ini, dan sayangnya juga tidak berbeda jauh atau diberikan special treatment dengan hal hal baru .

Saya juga agak kesulitan melihat, bagaimana Sabrina yang pre-paris, tidak terlihat cantik oleh Linus atau David, karena..bagaimanapun mereka mencoba mendadani Sabrina dengan se-sederhana mungkin atau tanpa make up sekalipun. Audrey Hepburn adalah Audrey Hepburn, and she is simply georgeus.
However, the acting is good throughout. Dengan cerita yang mungkin sangat familiar, yang dibawakan dengan tempo yang cepat tapi menyenangkan, didukung oleh dialog dialog yang renyah dan pesona gagah dari Humphrey Bogart membuat sepanjang film ini sangat enjoyable.

Sabrina adalah tontonan yang tergolong ringan dan mudah untuk dicerna, terutama dengan isu isu sosial yang dibawakannya, permasalahannya yang sama fresh nya dengan yang terjadi di lingkup sosial modern saat ini

Watching Hepburn in any good romantic comedy is always a treat, but pairing her with such stalwarts as Holden and Bogart made Sabrina even more of a treat than her usual romantic comedy fare.

Friday, May 17, 2013

Review : English Vinglish ( 2012 )

ENGLISH VINGLISH
Director: Gauri Shinde
Writer : Gauri Shinde
Stars : Sridevi, Adil Hussain, Mehdi Nebbou, Adil Hussain 



Tokoh protagonis dalam English Vinglish tersandung pada sebuah kata yang sama sekali asing baginya - Judgemental / menghakimi. Dia kemudian mencari keponakannya dan bertanya apaarti judgemental tersebut ? apakah berarti 'mental' judge? Tidak, gadis itu pun menjelaskan kepada bibi nya ini, bahwa judgemental berarti mengasumsikan atau memberi kesimpulan yang memberatkan / negatif tentang seseorang hanya berdasarbukti yang lemah.

Itulah tepat apa yang dialami oleh Shashi Godbole ( Sridevi ) . Shashi, adalah seorang  ibu dari dua orang anak yang menyukai kehidupan rumah tangga dan perannya sebagai istri dari Satish Godbole ( Adil Hussain ). Ia cekatan dalam urusan rumah tangga, mengurus anak anaknya, akrab dengan ibu mertua dan tetangga sekitar, pandai memasak, terutama membuat Laddoo ( makanan khas India ).  Shashi masih tergolong seorang India yang konvensional / old fashioned, yang kesehariannya masih menggunakan sari dan dengan pola pikir yang masih bersahaja.  
 
Sang suami, Satish, adalah eksekutif di perusahaan besar, yang tentunya cakap berbahasa Inggris, begitupun dengan anak sulungnya, Sapna yang bersekolah di sekolah terkenal. Hal ini menjadi sandungan  baginya, kemampuan berbahasa Inggrisnya yang lemah kerap membuatnya sering diremehkan, bahkan oleh putrinya sendiri.

Suatu ketika, Keluarga Shashi yang tinggal di New York meminta Shashi untuk datang kesana, membantu menyiapkan pernikahan anak kakaknya.  Itu berarti 24/7 berada dalam sebuah lingkungan yang sama sekali asing baginya dan yang terutama, berbahasa Inggris !!

English Vinglish, yang dengan segala permukaannya yang terlihat bercahaya dan bersih,adalah sebuah tontonan keluarga yang sangat menginspirasi. Agak sedikit  tidakmenyangka juga bahwa sesuatu yang kecil, tema tema yang jarang diangkat seperti ini,  bisa memotivasi sedemikian banyak penonton seperti saat ini.
Film ini banyak mengupas tentang kehidupan cinta dalam sebuah keluarga, serta betapa pentingnya saling menghargai, saling mendukung pasangan kita masing-masing. perjuangan pantang menyerah serta interaksi dengan orang-orang baru di tempat yang baru yang  berbekal naskah yang bagus dan diarahkan secara perlahan dari menit pertama untuk memupuk perasaan simpati saya kepada karakter sentral, yang dibawakan dengan cemerlang oleh aktris legendaris bollywood, Sridevi, yang kembali ke layar lebar setelah vakum selama 15 tahun.

Engsel penggerak dalam film ini berada pada konsep  penolakan sebuah gagasan palsu, bahwa tidak peduli seberapa berbakat seorang wanita dalam suatu hal, dia harus fasih berbahasa Inggris untuk benar benar bisa dihargai dan menegaskan kemampuannya.  
Film ini  beraroma cultured. Film India akan sulit menginggalkan dan melupakan Sing dan Dance" ala India, termasuk di film ini. Walau tidak banyak ( di scene terakhir saja haha..), tapi seperti khas film film India, bernuansa warna warni secantik sari sari yang dipakai oleh Shashi.

 Sridevi pernah menghilang selama hampir 15 tahun, dan perfilman Bollywood, tentu saja sudah berubah dengan signifikan. Hal ini mungkin sedikit ditunjukkan, dan kemudian dikemas dengan cara yang menggemaskan yaitu saat Shashi terkejut saat melihat pasangan yang sedang berciuman di dalam coffee shop. Sesuatu yang tidak bisa dibayangkan ( on-screen, anyway ) oleh Shashi ( atau Sridevi sendiri 15 tahun yang lalu ).

Yet.., here she is, better than ever. Yes. Ever.

English Vinglish membawa filmnya sendiri dan secara tak langsung bahkan Sri Devi sendiri, seperti seorang veteran yang menukarkan kehidupan glamour nya dengan dengan sari sari yang cantik, tapi dipandang old fashioned, Sri Devi berhasil memoles karakternya, sebuah karakter yang too simple to be, katakanlah karismatik dan juga, dan yang terpenting, bisa memenangkan hati penonton sepenuhnya lewat keberhasilan keberhasilan kecilnya.

kemudian masih ada Adil Hussain yang menjadi suami Shashi yang saya anggap menjengkelkan. sang suami yang berkepribadian tegas tapi juga santai. Di mata saya,  dengan seringnya memasukkan kosakata Inggris kedalam percakapan mereka itu sangat menjengkelkan, bahkan dengan bacaan ringan novel novel John Grisham sebelum tidur, belum lagi satu-dua-atau tiga kali sang suami yang mengkritisi kegiatan Shashi yang suka membuat Laddoo dan membuka home catering, yang dianggapnya tidak perlu dengan kehidupan mereka yang berkecukupan.
Teman teman Shashi dari tempat kursus bahasa Inggris juga sangat menarik perhatian, ada orang prancis, korea, india lagi, afrika, dan satu kesamaan mereka, their english is not very clean..haha..

















Salah satu scene favorit saya adalah saat Shashi yang sedang sedih berbicara dengan kesal kepada temannya, si chef Laurent, yang tentunya tidak mengerti ucapannya, tapi kemudian membalasnya dengan juga berbahasa bahasa prancis yang tidak dimengerti Shashi. Tapi intinya, it is not about language. Film ini mencoba mengatakan bagaimana hebatnya seseorang ketika mereka benar benar menemukan passion dalam diri  dan dalam hidup mereka, dan yang terutama, jangan meng-underestimate seseorang, hanya berdasarkan pekerjaan atau pendidikan mereka. Apa yang Shashi lakukan di dalam film ini haruslah membuka mata kita dan menyadari, bahwa selalu ingatkan di diri kita, bahwa orang biasa bisa menjadi orang orang yang hebat, dan bisa melakukan hal yang tidak pernah kita perkirakan sebelumnya, apalagi saat mereka menemukan passion yang ada di dalam diri mereka.

Saya teringat, Mother Theresa pernah berkata, " Do small thing with great love". Kata kata tersebut sangat cocok dengan Shashi. Jangan berpikir bahwa kita harus melakukan hal yang besar untuk langsung menjadi sukses. Temukan apa yang anda sukai, dan kemudian kerjakanlah dengan kesenangan dan cinta yang besar. Well, and maybe you will surprise with the result.
Seperti keberhasilan Shashi yang sangatlah manis, dan  bagaimana kita tanpa sadar berkonsentrasi menatap layar saat ia berjuang hanya untuk memesan kopi dengan benar dan ia berhasil, dan kita bergembira.

Ini adalah tentang salah satu bintang terbesar dari era- nya, yang berubah menjadi sosok Shashi yang sederhana dan seorang heroine yang membuat kita jatuh hati kepadanya, dan tentang betapa pentingnya arti dari keberhasilan keberhasilan kecil dalam hidup kita. 
Ah, spell it English Win-glish, I say.

***
 Why "India" not "The India? Why "America", "The United States of America"? - Shashi

Thursday, May 9, 2013

Just a Thought : Why Hollywood Doesn't Understand Love ?



















Hollywood tidak mengerti tentang cinta.
Mereka mengerti CGI
Mereka mengerti hal hal mengenai peran gender yang masih bersifat kuno
Dan mungkin, mereka mengerti tentang anak anak dan segala childhood's tale
Tapi dari semua itu, Hollywood seringkali tersisihkan dalam soal cinta dan pembahasannya.
Hollywood, why you so stupid ?

Ketika Blue Valentine dirilis dua tahun yang lalu, orang-orang kehilangan selera mereka karena akhirnya ada film yang menggambarkan sebuah hubungan dengan kejujuran. Saat saya menonton film ini, saya teringat pernah berpikir, " Well, film yang bagus, tapi seharusnya tidak begitu istimewa. Singkat saja, ceritanya hanya mengenai dua orang yang berpisah setelah pernah jatuh cinta."
Tapi saya mengerti, Walau Blue Valentine terlihat sederhana, film ini adalah salah satu diantara sedikit film yang pernah ada yang menunjukkan dengan sebenarnya tentang cinta sebagaimana adanya : messy, membingungkan, dan bisa kehilangan rasa tanpa ada alasan yang bagus ( diluar segala fakta akan keindahan jatuh cinta ).

Tidak ada kesalahpahaman atau perselingkuhan, sekadar “I don’t love you anymore and I’m not sure why. Bye!”
Sangat menyedihkan sebenarnya, bagaimana hal ini merupakan "every day reality" yang terjadi pada banyak orang.

Anda bisa berpendapat bahwa film adalah suatu bentuk pelarian dan orang-orang tidak ingin pergi ke bioskop untuk menonton sesuatu yang mereka dapat alami sendiri, atau akan mereka alami. Tapi saya tidak berpikir itu sepenuhnya benar. Mengapa film dokumenter ada , jika tidak untuk menangkap bentuk "kehidupan nyata?"

Secara pribadi, saya menonton film untuk melihat "sepotong kehidupan" dari Film atau or something that I know I can relate to. Well, melihat betapa suksesnya Blue Valentine, saya tahu, saya bukanlah satu satu nya penikmat film yang lebih suka realitas ketimbang fiksi dan fantasi.
Salah satu problem besar Hollywood adalah, bagaimana hal hal  yang realistis begitu sulit dijual. Banyak film yang selalu berakhir happy ending setelah melalui banyak rintangan dalam hubunga mereka, kemudian thats it..! then the credits roll. Dalam kehidupan nyata, orang orang terkejut bagaimana saat bersama dengan seseorang hanyalah awal dari hal yang lainnya. It's like, what kind of life after honeymoon period wears off ?

















Saya tertarik dengan Blue Valentine karena hal ini. Mari kita tilik, bukankah terdapat banyak kesempatan dan poin poin tertentu dimana, jika ceritanya diakhiri disaat itu juga, maka terciptalah ending ala Hollywood yang sempurna ?. Tapi filmnya sendiri mendorong jauh lagi ke tahun tahun setelah itu, setelah kebersamaan Dean dan CIndy dimulai bertahun lalu. In fact, saya tertarik sekali mengetahui bagaimana kelanjutan 'hubungan' di film Say Anything nya John Cussack yang terkenal dengan cheesy-bombox-thing nya itu. 
 Ada beberapa di Blue Valentine ini yang mengingatkan saya akan Say Anything, hanya saja dipoles agak realistis. 

Film menggambarkan hubungan sebagai salah satu dari dua hal. Ada yang jenis jenis rom-com berlebihan yang dibintangi seseorang seperti Kate Hudson atau Katherine Heigl. Tidak ada seorang pun yang ada benar benar berhubungan dengan versi sempurna akan cinta ala Hollywood seperti ini, well..but that's sort of the point. Saat konsep akan cinta sejati menyenggol anda dengan keras, anda akan mengalihkan diri ke bentuk gambaran cinta palsu untuk menghibur diri. saya Mengerti hal itu. Well, menjengkelkan juga, dan hal itu eksis dan memiliki tempat yang sah di suatu tempat di dalam diri kita, ntah bagaimana *shrug

Jenis lain dari cinta yang Anda lihat di film film adalah apa yang benar-benar mendapat perhatian kita dan kadang merasuk hingga ke pori pori . Itu yang saya sebut sebagai ”Indie Quirky Love.”
Indie quirky Love dipopulerkan oleh film film seperti Juno, Elizabethtown, atau  Garden State dan diklaim sebagai versi " the anti-Hollywood version of love "

Di mata mereka, cinta berisikan ; keheningan yang canggung, mixed tapes, lirikan bermakna, dan atau hanya sekedar bersepeda bersama dalam keheningan. well..It's bullshit.
Bahkan lebih annoying dari rom-com versi Heigl atau Kate Hudson karena mengklaim hal hal tersebut adalah hal otentik, well everyone knows rom-coms are full of shit, which makes them tolerable but Indie Quirky Love thinks it is so genuine.

Semalam saya menonton Beginners ( 2010 ), FIlm Mike Mills yang dibintangi Ewan McGregor dan Christopher Plummer. Dan agak terkejut saat mengetahui bahwa terdapat hubungan Indie Love Quirky yang saya maksudkan tadi. Meskipun filmnya sendiri mengisahkan tentang hubungan dinamis antara Oliver ( Ewan ) dan sang ayahnya yang gay ( Plummer ) dengan sangat indah. Fokus film sendiri terdapat di Oliver yang menjalin kasih dengan aktris perancis bernama Ana. Meskipun keduanya seharusnya jatuh cinta selama film berlangsung, tidak ada dialog dialog berarti atau memorable diantara mereka. Ana hanya memberikan lirikan lirikan romantis yang seharusnya berarti menunjukkan kedalaman hubungan mereka, melalui kencan kencan canggung, dimana mereka tertawa bersama tanpa alasan.

When things start to fall apart, mulai berantakan. Penonton tidak diberikan alasan secara brutal mengapa hal itu terjadi. Ana hanya mulai menangis dan banyak keheningan canggung, dan saat keduanya mulai membicarakannya, hal itu diredam dan dialihkan oleh lagu lagu soundtrack yang ada.

Soundtrack yang bagus, dan montase yang cute dan lucu, sebenarnya adalah pengganti yang menyebalkan dan pengalihan untuk lack of chemistry dan penjelasan sesungguhnya akan apa yang sedang terjadi.
Mengapa filmmakers / Hollywood begitu takut untuk memberikan penonton sesuatu yang nyata ? something that brutally honest ?
Mereka bersembunyi dibalik lagu lagu Peaches Moldy, Norah Jones, Bonnie Somerville, Cary Brothers. 

And once again, this is just a little piece of my thought about how Hollywood sucks about love ( and everyday reality ). 
As enterteiment, I love romcom movie, i like either Juno or Garden State. And i like Blue Valentine too. ^^