Saturday, May 18, 2013

Review : Sabrina ( 1954 )

SABRINA
Starring : Audrey Hepburn, Humphrey Bogart, William Holden
Screenplay By: Ernest Lehman, Samuel A. Taylor & Billy Wilder
Directed By: Billy Wilder



Antara tahun 1940s dan 1950s, kekuatan pesona bintang lah yang menguasai sebuah film. Kekuatan cinema yang sebelumnya seperti, kekuatan plot cerita, naskah, karakter, dan sinematografi mulai menjadi opsi kedua terpenting setelah siapakah bintang terkenal yang berada di film tersebut. Aktor terkenal selalu berhasil menjaring penonton ke bioskop ( walaupun film yang jelek ), sementara kadang nama nama asing dan kurang familair cenderung dihindari oleh penonton, yang sebenarnya membuat mereka jauh dari film film yang sebenarnya bagus. Karisma dan kualitas seorang bintang adalah yang paling penting di Hollywood di masa itu, saat kebesaran film film layar lebar, dinaikkan pamornya oleh pesona para bintangnya.

Sabrina adalah contoh sempurna akan sebuah film dimana para aktornya mempunyai faktor yang lebih penting daripada faktor produksi lainnya. Dengan sebuah plot kisah yang sangat sangat sangat familiar, bahkan cenderung tidak ada yang baru, tapi toh Sabrina tetap berhasil menjadi sebuah tontonan yang charming, delightfully romantic version of Cinderella story. Walau terdapat rumor ketidakharmonisan antar bintangnya di belakang layar, chemistry on-screen yang ada diantara mereka bertiga ternyata berhasil. Tampil fresh setelah kemenangan pertamanya yang dramatis lewat ROman Holiday ( 1953 ), Audrey Hepburn sudah pasti bersinar, serta Bogart, yang sudah lama terkenal dengan image tough-guy, eh..ternyata bisa juga bermain dengan efektif akan peran romantisnya ini, dan tak lupa juga William Holden, yang saat itu baru saja memenangkan Oscar lewat Stalag 14 ( 1953 ), is the perfect playboy on-screen.

Diangkat dari drama panggung Samuel Taylor, Sabrina Fair, Sabrina menceritakan tentang transformasi seorang gadis pemalu, insecure, dan sederhana berubah menjadi seorang gadis yang stylish, percaya diri, dan bergaya, yang berhasil memenangkan hati pangeran impiannya. Disutradarai oleh Billy Wilder ( Sunset Boulevard ), Sabrina dimaksudkan sebagai modern-day fairy tale. Semuanya tentang cinta dan tawa dengan porsi seimbang antara komedi dan kisah romance. Wilder mengerahkan semua kemampuannya dengan formula yang ada ini, dan sebagai hasilnya, adalah produksi yang sederhana namun menarik dan memorable.

Pangeran impian Sabrina sebenarnya adalah David Larrabee ( Holden ), yang sejak awal diperlihatkan sebagai playboy dalam keluarga, menikah tiga kali dan gagal karena susah setia dengan satu wanita . Sabrina ( Hepburn ), adalah anak sopir pribadi keluarga Larrabee, ia terpesona oleh David, tapi sayangnya David tidak pernah melihatnya lebih atau menyadari keberadaannya. Kemudian masih ada sesama Larrabee lainnya, Linus ( Bogart ), seorang pria yang hanya mencintai bisnis keluarganya. DIa tidak memiliki kehidupan pribadi yang menarik yang bisa dijadikan gosip, dan menghabiskan seluruh waktunya di kantor.
Sebagai usaha untuk mencerahkan sekaligus meluaskan pikiran anaknya yang masih tergila gila dengan anak majikan mereka, Sang ayah, Fairchild ( John Williams ), mengirim Sabrina ke Paris untuk belajar kuliner selama dua tahun. Sementara disana, Sabrina akhirnya tumbuh mekar menjadi gadis muda yang cantik dan bergaya, tapi tidak pernah melupakan benih benih cinta nya kepada David. Ketika akhirnya ia pulang dan kembali ke kediaman Larrabee di Long Island, David ternyata terpesona oleh transformasi Sabrina dan memutuskan untuk mengakhiri pertunangannya dengan  seorang anak pewaris perusahaan besar, dan memilih untuk mengejar Sabrina.
Sementara itu Linus, orang pertama yang mengusulkan rencana perjodohan itu tentu saja berang, karena itu berarti membuang kesepakatan bisnis yang bernilai puluhan juta dollar. Jadi, dengan berhati dingin, ia berusaha untuk menjauhkan Sabrina dari David, dan hal yang tidak diramalkan olehnya pun tejadi, Linus fall for her.

Pernah melihat Bogart berpasangan dengan Ingrid Bergman atau Lauren Bacall ?
percayalah, at first glance, dipasangkannya Bogart dan Hepburn seperti pilihan yang tidak cocok. Apalagi jika dibandingkan dengan Bergman dan Bacall yang sama sama berhasil memberi chemistry yang bersinar bersama Bogart. In many ways, love, as it applies to Linus, adalah sesuatu yang muncul disaat yang tidak tepat dan dengan orang yang tidak tepat, atau at least, seseorang yang tidak pernah muncul dalam bayangannya sekalipun ( dan juga penonton ).

Bogart sebagai Linus, adalah seorang pengusaha yang sangat sukses dan terlihat bahagia dan puas dengan hidupnya. Tapi, saat ia mulai menyadari bahwa ia jatuh cinta dengan Sabrina keberhasilannya terasa hampa dan begitu juga hidupnya. Pepatah lama yang berkata, bahwa cinta mengalahkan segalanya, dan dengan sangat non-Wilder, cinta berhasil mengalahkan semua mimpi.
Audrey Hepburn is georgeus, Humphrey Bogart seperti yang saya tulis diatas adalah sosok dingin yang rapuh, namun hanya menunggu waktu yang tepat untuk retak dan melebur. Wiliam Holden sangat charming dan self-oriented serta playboy. Dialog dialog nya lucu, licik dan cerdas, dan filmnnya pun tipikal Wilder, simpel dan to the point serta memanjakan mata dengan segala sinematografinya, setting tempat atau kostum.

Sesekali, anda perlu menonton sebuah film ringan yang berisikan banyak opini opini sosial di permukaannya. Sabrina adalah film itu, tontonan ringan, yang bisa dikatakan sebagai perwujudan lain dari dongeng Cinderella yang berisikan sisi kehidupan sosial masyarakan kelas atas beserta wujud orang orang yang suka membicarakan hal itu. Opini sosial yang bermunculan dalam film ini sebenarnya tidak menyentuh terlalu banyak kalangan, dan mungkin bahkan banyak orang yang tidak menyadarinya jika mereka tidak mencarinya. Wilder seperti sengaja menyentil pihak pihak kelas atas, para orang orang kaya versus orang orang yang puas dengan hidupnya yang sederhana, cinta sebagai konsep and mostly, cinta yang harus berhadapan dengan prestasi di dunia nyata atau kesuksesan di dunia nyata tidaklah menjamin kebahagiaan yang lebih baik.




















Ini adalah cerita yang telah sering sekali diangkat selama sejarah cinema dan tentu saja Audrey Hepburn faktor yang membuatnya semakin familiar dan loveable. Cinderella adalah tipe standar untuk gadis gadis malang yang kemudian berubah menjadi putri yang cantik jelita, dengan segala ketidak beruntungannya, bertemu dengan seorang pria yang akan membahagiakannya, dengan iklim yang indah seperti itu, semakin mengukuhkan ceritanya sendiri menjadi dreamy dan menggelikan. Dan Sabrina pun tidak lepas dari iklim yang seperti ini, dan sayangnya juga tidak berbeda jauh atau diberikan special treatment dengan hal hal baru .

Saya juga agak kesulitan melihat, bagaimana Sabrina yang pre-paris, tidak terlihat cantik oleh Linus atau David, karena..bagaimanapun mereka mencoba mendadani Sabrina dengan se-sederhana mungkin atau tanpa make up sekalipun. Audrey Hepburn adalah Audrey Hepburn, and she is simply georgeus.
However, the acting is good throughout. Dengan cerita yang mungkin sangat familiar, yang dibawakan dengan tempo yang cepat tapi menyenangkan, didukung oleh dialog dialog yang renyah dan pesona gagah dari Humphrey Bogart membuat sepanjang film ini sangat enjoyable.

Sabrina adalah tontonan yang tergolong ringan dan mudah untuk dicerna, terutama dengan isu isu sosial yang dibawakannya, permasalahannya yang sama fresh nya dengan yang terjadi di lingkup sosial modern saat ini

Watching Hepburn in any good romantic comedy is always a treat, but pairing her with such stalwarts as Holden and Bogart made Sabrina even more of a treat than her usual romantic comedy fare.

No comments:

Post a Comment