Friday, June 21, 2013

Review : The Place Beyond The Pines ( 2013 )

The Place Beyond The Pines ( 2013 )
Starring : Ryan Gosling, Eva Mendes, Bradley Cooper
Director : Derek Cianfrance







































Saya mulai menonton film ini tanpa mengetahui banyak info soal filmnya sendiri, bahkan tidak membaca sinopsis atau kroscek di RT atau IMDb sekalipun. Hannya mengetahui dari beberapa teman saya yang mengomentari film ini sebagai film seorang ayah yang mencari uang demi membeli susu untuk anaknya. Oke, awalnya dangkal sekali saya pikir mengingat film ini berujung tombak Ryan Gosling dan Derek Cianfrance, yang sebelumnya pernah sukses secara kualitas dalam kolaborasi mereka di Blue Valentine ( 2010 ).  Dan kejutan yang menyenangkan sekali saat mengetahui film ini jauh lebih powerfull daripada komentar teman saya soal film ayah yang mencari uang untuk susu tadi.

Ryan Gosling menguasai 50 Menit pertama dengan menjadi bad boy bertato yang sangat kharismatik, well..agak mirip dengan karakternya di Drive, tapi tanpa tusuk gigi atau martil atau jaket scorpionya. Ia adalah si awsome - Luke Glanton, pria berperawakan gagah, tapi dingin dan minim ekspresi. Ia menjual otot, tato dan keahliannya mengendalikan sepeda motor dalam pertunjukkan roda gila di sebuah festival keliling. Hidupnya berubah drastis saat ia mengetahui bahwa ia rupanya memiliki bayi laki laki yang masih kecil dari hubungan singkatnya dengan pelayan restoran setempat, Romina ( Eva Mendes ) bertahun yang lalu. Pertemuan dengan putranya yang tidak disengaja itu mengubah hidupnya.

Luke bertekad untuk tinggal dan peduli dengan anaknya, ia rela melakukan apa saja untuk menjaga dan bersama dengan Romina dan anaknya. Berusaha ingin memperbaiki hidupnya dan  membahagiakan dan memberikan hidup yang layak untuk mereka, Luke nekad merampok bank . Nah dari sini ia bertemu dengan Avery Cross ( Bradley Cooper ), polisi yang menangani kasus perampokan tersebut. Perjumpaan yang tak kurang dari 5 detik tersebut mengubah segalanya dan merubah situasi sepenuhnya. Narasi cerita pun berpindah pada Avery yang kemudian menjadi pahlawan dadakan di kota tersebut. Dari sini semua, kita disajikan dengan banyak hal hal yang berkaitan dengan moral yang sulit yang merubah masa depan orang orang yang terlibat di dalamnya. Film ini memasuki babak ketiga, saat cerita berlanjut ke 15 tahun kemudian, dimana anak Luke ( Dane DeHaan ) dan anak Avery ( Emory Cohen ) sama sama remaja dan tanpa sengaja berteman dan saling terlibat dalam beberapa peristiwa kenakalan khas remaja lainnya.





















Ketiga babak cerita ini menggabungkan sebuah benang merah yang merupakan takdir dari sebuah konsekuensi yang terjadi diantara masing masing karakter. Dimana apapun yang mereka lakukan saat itu mempunyai efek dan dampak yang tidak disangka walaupun sudah bertahun lamanya. Percontohan hubungan antara ayah dan anak laki lakinya juga menjadi topik dominan dalam rangkaian kisahnya. Seperti Luke, yang bersedia melakukan apa saja untuk anaknya yang masih kecil, Jason, walau harus merampok bank, atau Avery yang sering terpojokkan oleh sang ayah terhadap profesinya sebagai polisi kelas bawah, AJ yang merupakan anak remaja Avery yang merasa asing terhadap ayahnya sendiri, serta Jason yang tidak pernah mengenal ayahnya.

Sebuah penebusan atau balas dendam, merupakan nuansa dan ide yang pertama muncul di benak saya ketika selesai menyaksikan film ini. Luke, yang disia siakan oleh ayahnya sendiri, tidak ingin mengulangi hal tersebut terhadap anaknya sendiri, sehingga ia memutuskan untuk selalu berada di dekat anaknya, dan berusaha memberikan hidup yang lebih baik. Perampokkan yang dilakukan Luke sebenarnya bermotif baik ( mengharukan malah ), hanya saja cara pencapaian dan hasilnya sangat tidak ideal untuk siapapun.



















Seperti Luke, Avery ( Cooper ) juga adalah seorang ayah dari anak yang masih kecil, dan ia masih bergumul dengan dirinya sendiri akan aksi heroiknya tersebut. Dia tidak nyaman berbicara dengan istrinya, ia tidak bisa berbicara dengan ayahnya yang merupakan mantan hakim, dan ia tidak nyaman dengan dirinya sendiri.

Perasaan mendua yang dialami Avery antara pahlawan/penjahat juga terjadi dalam hidupnya setelah ia merasa bahwa apa yang ia lakukan terhadap Luke bukanlah tindakan atau citra polisi yang baik, hal itu pun menggoyahkan iman dan moralnya tentang profesi yang selama ini ia banggakan. Belum lagi dengan aksi aksi korupsi yang ternyata sering direncanakan oleh rekan-rekannya sesama polisi, dan hal itu membuat Avery merasa harus melakukan sesuatu, yang sekiranya juga dapat memberikan sebuah salvation , penebusan atau timbal balik terhadap kesalahan yang ia perbuat. Cooper yang merupakan polisi di film ini, memegang kendali akan setengah durasi filmnya kedepan. Sekali lagi, Cianfrance dan penulis naskahnya, telah melemparkan tipuan bersih dan pintar dalam hal ini.

Mereka semua ingin menjadi orang yang lebih baik, a better father, a better son, a better life. Hanya saja kadang cara yang mereka lakukan saat prosesnya tersebut itu salah dan mengorbankan moral dan nurani mereka sendiri.
 even if we don't have the power to choose where we come from, we can still choose where we go from there.

Pertaruhan yang sangat berani disajikan oleh Derek Cianfrance saat mengubah tempo dan karakter di film ini dan sangat mengejutkan saya juga. Dengan plot yang melompati pagar seperti ini, awalnya saya ragu akan bagaimana film ini akan dibawa 90 menit kemudian.
Film ini berisikan tiga plot yang sama powerfullnya, The Place Beyond The Pines awalnya dilihat sebagai sebuah film drama independent yang berskala kecil sebelum secara mengejutkan mengungkapkan jati dirinya sebagai sebuah proyek yang lebih ambisius, yang bertumpu pada konsep kedewasaan seorang laki laki, pengalaman dan kewajiban menjadi seorang ayah, dan cara kerja takdir yang begitu aneh di dunia ini.

Cianfrance kembali reuni dengan bintang Blue Valentine yang juga disutradarainya, Ryan Gosling, yang pertama kali kita lihat di film ini, ia mengendarai dan mengendalikan sepeda motor dengan begitu gila dan ajaib di sebuah festival keliling, kemudian memberikan tanda tangan kepada anak anak yang mengaguminya dan menuliskan "awsome Luke" diatas kertas yang disodorkan anak anak tersebut.. Dia adalah Luke, seorang stunt pengedara motor di pertunjukkan roda gila. Gosling yang identik dengan keheningannya seolah otomatis memberikan kesan cool dan pendiam pada karakternya sendiri.


















Ciafrance berhasil memberikan sajian intim dengan momen momen kecil yang sempat membuat saya sangat terharu, seperti saat Luke yang menangis sembunyi sembunyi saat melihat putra kecilnya dibaptis , cara Luke berinteraksi dengan anaknya, pancaran matanya yang begitu hangat, dan betapa kita tahu dari hal hal dan gesture tersebut, betapa besarnya tekad dan keiinginan Luke untuk menyayangi anaknya. Luke ternyata adalah karakter yang lebih stabil dari yang saya duga, ia bertemperamen tinggai dan itulah kelemahannya, Gosling dengan karkater Luke-nya yang dingin punya porsi narasi dan karakterisasi paling menarik. Ryan Gosling is really most talented actor in this generation.
Ciafrance berhasil menemukan trik untuk menarik penonton ke dalam dramanya sendiri tanpa merasa mual atau bingung. The Place Beyond The Pines, dibuat oleh Cianfrance dengan memaparkan bagaimana sesungguhnya mimpi itu berubah menjadi kental dan semakin sulit diwujudkan ketika banyak hal yang terlihat salah, dan bagaimana bahwa melarikan diri itu sebenarnya terjadi dengan cara lain yang sulit kita mengerti dan terima.

Cianfrance berhasil mengeksplorasi jaringan kuat antara kehidupan laki-laki yang dihubungkan oleh darah dan keringat,  yang berimbaskan pada sebuah butterfly effect, dimana sebuah tindakan dalam satu kehidupan menyebabkan respon juga di tempat lain, dan film ini memberikan kita cara pandang baru yang kuat dalam mengasah perspektif kita sendiri.

Ditangani dengan sangat kaya detail dan indah, dan tersetruktur dengan berani., The Place Beyond the Pines mungkin akan menjadi contoh yang paling menarik dari banyak film yang muncul dari Amerika tahun ini.

Thursday, June 6, 2013

Review : À la folie... pas du tout ( 2002 )

À la folie... pas du tout 

He Loves Me...He Loves Me Not

Stars: Audrey Tautou, Samuel Le Bihan
Writers : Laetitia Colombani, Caroline Thivel
Director : Laetitia Colombani
 
Hal pertama yang akan siapa saja sadari saat menonton film ini, baik itu dari poster atau nuansa filmnya sendiri, adalah nuansa mawar dalam segala warna, merah terang, pink, dan warna pastel yang halus. Kemudian hal kedua yang akan kita sadari adalah kehadiran sosok mungil Audrey Taotou dengan senyuman senyuman nakal yang sering menghiasi bibirnya. Unsur unsur perkenalan seperti ini seakan menggoda setiap penonton dan menjebak mereka dalam sebuah kekeliruan bahwa mereka akan menonton sebuah romance fantasy yang mirip seperti Amelie ( 2001 ) yang juga dimainkan Taotou.The truth, however, is darker and in many ways, more fun and thrilling. 

Mahasiswa seni yang cantik, Angelique ( Audrey Tautou ) bercerita kepada teman baiknya, David, bahwa dia sedang terlibat sebuah affair dengan seorang cardiologist, Dr. Loic ( Samuel Le Bihan ) dibelakang sang istri yang sedang hamil 5 bulan. Katanya, Loic berjanji akan meninggalkan istrinya untuk bersama dengan Angelique, tapi dimata Angelique yang sedang kasmaran, Loic kerap mengecewakannya dengan membatalkan banyak janji janji, dan puncaknya, dia batal pergi bersama Angelique dalam sebuah romatic trip ke Florence, Italy, dan mengecewakan Angelique hingga membuat nya depresi dan patah hati.

David pun sangat marah dengan kelakuan Loic yang sangat egois dan kerap menyakiti Angelique, dan dia memaksa Angelique agar segera mengakhiri affair tersebut supaya Angelique tidak terlampau jauh terpuruk secara emosional. Tapi Angelique bersikukuh untuk mengejar Loic bahkan hingga membahayakan nyawanya, dan berakhir di rumah sakit.
Sementara itu, Rachel, istri Loic, akhirnya mengetahui kecorobohan dan perselingkuhan suaminya nya. Tapi Rachel menolak untuk meninggalkan Loic, apalagi tidak saat seorang pasien Loic yang tidak stabil emosinya dan kerap menggoda Loic mengklaim bahwa Loic telah menyiksa dan memukulnya di ruang praktek di kliniknya, dan Loic terancam kehilangan lisensi prakteknya.

















Sampai disini, semua tidak terlihat seperti yang akan kita bayangkan, dan Angelique terlihat sebagai korban yang menyedihkan, sampai..ketika film ini tiba tiba di rewind dengan putaran yang sangat cepat hingga menit pertama, dan cerita kembali diulang, tapi kali ini dari sudut pandang Loic.
Ohoo. There Are Always Two Sides To Every Story

Tagline yang diusung film ini adalah " Is she crazy in love ? or just crazy ? ". Saat pertama membaca kalimat tersebut, pikiran saya bergetar bergairah akan kemungkinan ceritanya. Tagline yang sungguh berbicara banyak. Ya.., dari pertama saya sudah bisa menduga duga apabila mungkin film ini mempunyai unsur kepribadian ganda atau apalah namanya., seperti apakah benar Loic dan Angelique ini benar benar berselingkuh, atau semua ini hanya terjadi di dalam kepala Anglelique. Apalagi separuh waktu film ini berlangsung dari sudut pandang Angelique. Kita melihat bagaimana dia dengan hati berbunga bunga mengirimkan bunga kepada Loic, mengirimkan hadiah ulang tahun, senyum mengembang diantara mereka saat Loic mengantarnya pulang, Cerita cerita kecil tentang Loic yang dibagi Angelique dengan temannya, sketsa sketsa Loic yang dibuat Angelique yang sedang tersenyum merekah saat melihat Loic bermain bersama anak temannya di taman, apalagi dipadu padankan dengan music score yang cheerful dan menyenangkan. Awalnya sungguh terlihat sebagai pembukaan film romance yang baik dan menjanjikan.

Film ini sungguh sungguh menyajikan tipuan brilliant yang sanggup membuat saya terkesima hampir selama film ini berlangsung. Tidak ada magic trik canggih yang digunakan, hanya sebatas permainan sudut pandang dan kelihaian naskah yang dengan pintarnya mengarahkan penonton untuk mempercayai Angelique dan obsessi serta cintanya yang besar terhadap Loic, dan betapa jahatnya Loic yang telah mempermainkan hati Angelique dan istrinya sendiri. Saat sudut pandang mulai berganti dengan Loic, perasaan gelisah dan creepy itu mulai muncul, tapi juga perasaan lega atas terjawabnya banyak teka teki yang dibangun saat sesi sudut pandang dari Angelique tadi.

Entah apa yang ada di pikiran sang sutradara yang saat itu masih berusia 27 tahun, Laetitia Colombani saat membuat film ini. karena apa yang diciptakannya dalam film ini, sungguh brilliant. Caranya bermain dengan perspective sungguh cerdas. Ada penjelasan atas semua yang terjadi, dan cara Colombani mengikat semua aspek dalam film ini dengan erat dan saling melengkapi bisa memuaskan saya, dan saya yakin, banyak penonton lainnya.

Kemudian masih ada Audrey Tautou yang sangat cocok dan sempurna untuk bagian ini. Angelique sangat terlihat berbeda dengan Amelie, tapi dengan begitu memorable nya karakter Amelie yang pernah dibawakannya, sehingga hubungan dan penyatuan karakter Tautou dengan Amelie, termanfaatkan dengan baik untuk karakter Angelique, karena peran Amelie membuat dia bisa sebebas bebasnya bermain dengan ekspektas kita. In fact, sebenarnya karakter Angelique ini memerlukan range akting yang lebih luas dan dalam lagi dari Tautou daripada apa yang pernah diperankan Tautou sebagai Amelie, dan dia sama sekali tidak kesulitan akan memasuki teritori karakter yang lebih gelap tersebut.

Sangat sulit untuk tidak melebihkan pernyataan bahwa film film seperti ini sangatlah langka. Colombani dan jajaran cast nya kembali mengingatkan kita bahwa thriller thriller yang baik dan berkelas, tercipta dari rangkaian naskah yang kuat serta akting yang fenomenal. Dan film ini memiliki keduanya.

The film is deft, delicious work, but a very different romantic fantasy than you probably expect.