Thursday, July 25, 2013

Review : INNI ( 2011, Documentary )

Inni
Starring : Jón Þór Birgisson, Georg Hólm, Orri Páll Dýrason, Kjartan Sveinsson
Director : Vincent Morisset

 













Saya sering membiarkan dingin nya musik ambient di "Svefn-g-Englar", lagu pembuka dari album kedua Sigur Ros, Ágætis byrjun, ( seolah ) mengangkat saya dari pijakan kaki, melayang layang, bagai mengejek eksistensi gravitasi di dunia ini. Sigur Ros memiliki cara sendiri untuk melelehkan unsur duniawi dan membuat apapun itu, baik berjalan menyusuri jalanan kota yang ramai dipenuhi turis, atau menunggu angkutan umum yang penuh sesak, terlihat dan terkesan indah, luhur, lain daripada yang lain.

Tapi "Svefn-g-Englar" bukanlah lagu yang bisa diubah haluannya dari jati diri ambient music dan post rock nya. Bahkan jika kau mencoba untuk mengubah kunci kunci nada di lagu ini, akan tetap terasa seperti berputar putar tak karuan.
Sehingga buat saya sendiri, "Svefn-g-Englar" merupakan salah satu lagu Sigur Ros, yang berunsurkan ambient dan post rock terkeren hingga saat ini. Mengawinkan kedua genre ambient dan post-rock, merupakan hal yang berani, keren sekaligus badass. Penggabungan keduanya merupakan penyempurnaan teori bahwa pesan akan sesuatu tidak selalu harus berupa bahasa dan kata kata.

















Dan inilah yang menjadikan kedua genre ini merupakan musik tanpa lirik lagu, atau tidak perlu ditambah interpretasi lirik. Sigur Ros adalah versi modern sekaligus yang lebih "ramah" dari kedua genre ini, karena mereka masih memasukkan lirik ke dalam lagu lagu mereka. Mungkin untuk lebih mudah menginterpretasikan lagunya sendiri, walau sebenarnya tetap saja asing di telinga, karena mereka masih menggunakan bahasa Icelandic ( termasuk bahasa minoritas di dunia ini dengan minimnya jumlah populasi penduduk Islandia yang menggunakan bahasa ini ), atau suara gumamam Jonsi yang lebih dikenal dengan bahasa Hopelandic.

" Inni " merupakan album ke 8 sekaligus project ke 2 Sigur Ros untuk film dokumenter live performance mereka, yang dirilis di tengah isu berhembusnya kabar hiatus akan ke 4 personilnya saat itu. Berjarak 2 tahun lebih dari album "Með suð í eyrum við spilum endalaust" yang dirilis tahun 2008 kemarin, bisa dibilang Inni merupakan semacam "obat penenang" bagi para fans yang waktu itu sedang resah dengan kabar hiatus, apalagi di awal 2009 sebelumnya, Kabar berhembus bahwa Sigur  sudah hampir selesai mengerjakan album teranyar mereka, tapi membutuhkan waktu lebih banyak karena berusaha menambahkan unsur ambient yang lebih banyak.

 Tapi hingga akhir tahun 2010, tak kunjung terdengar kabar lagi.  Hingga akhirnya pada awal 2011, Jónsi secara resmi menyatakan bahwa mereka akan segera mengerjakan sebuah project baru, sebuah video live-performance / documentary dari rangkaian tour mereka di musim panas 2010 di London, yang berjudul " Inni ". Screening filmnya sendiri dilakukan di 68th Venice Film Festival , dan dirilis secara resmi pada November 2011.

















Jika Heima ( 2007 ), film dokumenter live performance mereka yang pertama, menunjukkan taringnya dengan unsur indie yang sangat terasa di banyak lagu, apalagi didukung dengan kentalnya unsur "kekeluargaan" nya sendiri ( heima means home, yang merujuk pada Islandia sebagai negara asal mereka ), maka " Inni " seolah ingin mengembalikan Sigur Ros ke jalur jati diri musik mereka sendiri, ambient dan post rock.
Jangan mengharapkan Inni akan berwarna warni seperti Heima, karena layaknya 'warna' yang mewakili kedua genre ini, yang ada ialah hitam, putih dan abu abu. That's right, sepanjang video yang berdurasi  76 menit ini, kita disajikan gambar hitam putih, yang seolah mengeraskan esensi dari music ambient dan post rock itu sendiri.

The performances on Inni are raw, powerfull dan menunjukkan bahwa band ini sanggup menampilkan sisi ambient terbaik dari lagu lagu mereka. "Ný batterí”, salah satu lagu dari album kedua mereka, Ágætis byrjun, mendemonstrasikan serta menunjukkan perbedaan dari live perfomance mereka dengan versi rekaman studio. Serta "Svefn-g-Englar" yang tak lupa juga berhasil menjadi jagoan dalam album ini.
Kemudian ada "Festival", centerpiece dari album teranyar mereka sebelumnya,, Með suð í eyrum við spilum endalaust" yang mengaum penuh dengan dentuman fanatik sang drummer, Orri Pall Dýrason.

Svefn-g-Englar, Festival, Ny Batteri jelas menjadi highlights dalam Inni, tapi menjelang 15 menit terakhir, muncul kejutan dari Track 8 dari album ( ) untitled, yang sering dijuluki berjudul Popplagið dalam berbagai live performance, possibly is their most intense, passionate, and truly epic composition. Popplagið yang muncul di Inni, mengekslpoitasi suasana "live" itu sendiri, penuh dengan kesan gritty, berani, spontan, dengan energi yang seolah mengajak saya untuk bergabung dengan entah apapun itu yang disajikan oleh Sigur Ros ( lebay haha.. ).

Di album kedua mereka, Ágætis byrjun, track track pembuka penuh dengan suara suara 'ribut', yang diikuti oleh petikan bas yang sangat berani dari Georg, dan suara suara alat musik yang lain yang agak susah dicermati secara cepat, karena ditenggelamkan tadi oleh petikan bass, bercampur dengan bowed guitar nya Jónsi, bahkan kalo dicermati masih bisa terdengar sayup sayup bunyi flute. 
















Sedangkan di Inni, petikan bass berani dan keras dari Georg tadi lebih terdengar tenang dan berhati hati, teriakan Jonsi dengan suara falsetto nya juga terdengar menawan, dan dilengkapi dengan dentuman drum dari  Orri Páll Dýrason yang benar benar merangsang telinga dari menit pertama, serta memberikan vitalitas yang segar untuk kualitas musiknya sendiri.

In another way, Inni memberikan kontradiksi tersendiri dengan image Sigur Ros yang dibangun oleh mereka sendiri dari Heima. Heima berisikan banyak segment, dimana Sigur Ros, terlihat nyaman dengan lagu lagu yang dibawakan secara  akustik, dan alat alat musik sederhana, yang dibawakan ke 4 personilnya, bersama di sebuah ruangan dan jumlah penonton yang lebih kecil, sehingga terasa personal.
Sedangkan Inni lebih terasa mengikat para penonton dan fans mereka ke sebuah totem khusus, dimana kita bisa melihat dan memperhatikan ke 4 personil Sigur Ros benar benar berkonsentrasi bermusik dan bernyanyi, dengan segala kepolosan akan esensi atau makna inti dari lagu lagu mereka.

Inni bagai telah membawa Sigur Ros turun dari Olympus untuk bergabung dengan para mortal, yang lucunya spontan mengingatkan saya, bahwa selama ini mereka terlihat seperti demigod di dunia musik bagi saya. Mendekati akhir durasi album ini, bagi saya Sigur Ros ternyata memang memasukkan perasaan "seeing God" moment tersebut, komplit dengan crescendo dan klimaks yang membentuk komponen penting dari lagu-lagu terbaik mereka.

******

Orri, Georg, Kjartan, Jónsi














Their music is not for everybody, but most people will have a strong reaction to it one way or the other ( me as an example ). It's impossible to describe. For that reason alone, it's worth experiencing at least once. It feels like a post-rock elegy for the rock band that just blew your mind.

this is another strong performance by the most innovative musicians on the scene in the first part of this century.

Saturday, July 20, 2013

Dedicated to one of the greatest TV Series ever.

F.R.I.E.N.D.S  

"The Last Bow"

Well, every party has to end...

****
























You know, setiap orang punya yang namanya “First Love” untuk segala hal.  baik untuk sebuah band,contohnya, pasti ada satu lagu pertama yang bikin kita jatuh cinta dengan band tersebut, atau saat kalian mengunjungi suatu tempat dan jatuh cinta dengan tempat tersebut, pasti ada satu factor entah itu tempat, orang, budaya, etc yang bikin kita jatuh cinta. Begitu pula dengan film.

Dan FRIENDS adalah cinta pertama saya di dunia film.

Monica, Rachel, Phoebe, Ross, Chandler dan Joey, mereka hanyalah kaum urban yang mencoba bertahan di kota besar New York. Dan 10 tahun serial ini berlangsung, menceritakan tentang bagaimana mereka survive dan menyematkan diri sebagai survivor di kota besar tersebut. Apartemen monica yang selama ini menjadi “mojo” di serial ini, setting utama di hampir 50% serial ini berlangsung. Semua tawa, canda, kesedihan, pertengkaran, persaingan, pernah terjadi di Apartemen nomor 20 ini. Suasana Apartemen yang homey dan rapi ( dibawah kendali penuh Monica !!), akan selalu menjadi markas mereka berkumpul.



Saya kembali menonton rerun serial ini sejak sebulan yang lalu untuk kesekian kalinya. Dan minggu lalu saya memberanikan diri kembali menonton episode terakhir yang selama ini saya hindari karena gagal move on haha..
Saya bahkan sedih saat Ross menutup pintu Apartemen Monica yang jadi symbol berakhir nya juga serial ini di masa puncaknya. Satu hal yang akan selalu diingat dari Friends, yaitu mereka tamat di puncak kepopulerannya,karena memang sudah waktunya. Banyak serial lain, karena motif komersil lainnya, selalu memperpajang serialnya sampai saat serial itu tidak laku lagi,baru di stop. Tapi tidak dengan Friends. Mereka berhenti secara terhormat haha..

Saat menonton disc terakhir, di bagian special feature, ada potongan interview dengan ketiga creator serial ini, Kevin Bright, Martha Kauffman dan David Crane, bagaimana awal mula mereka mempunyai ide untuk membuat serial ini, dan bagaimana proses casting yang melelahkan untuk mencarike-6 pemeran utama di serial ini. Dan semuanya terbayar lunas. 
Courtney Cox as Monica, David Schwimmer as Ross, Matthew Perry as Chandler,Matt LeBlanc as Joey, Jennifer Aniston as Rachel and Lisa Kudrow as Phoebe, mereka akan selalu menjadi ensemble cast terbaik yang pernah ada.

Satu persatu dari cast tersebut berbicara mengenai peran mereka untuk terakhir kalinya, dengan nada suara biasa ( bahkan terdengar cenderung sedih ), tidak se”hidup” karakter mereka di serial ini, dari situ kita bahkan bisa merasakan betapa mereka sedih melepaskan karakter yang 10 tahun terakhir ini menjadi side-kick character di kehidupan mereka. Trus masih ada behind the scene saat bagaimana ketiga produser berusaha merangkai cerita per season, supaya, walau terlihat seperti kisah lepas dan acak, tetap memiliki story line yang berarti.




Saat bagian bedah karakter Chandler dan Monica, saya selalu tersenyum, karena ibarat sedang mem-flashback hubungan dua sejoli aneh ini selama 10 seri terakhir. Bagaimana Chandler dengan latar belakang kehidupannya dari keluarga broken home, dan selalu berpikir hopeless akan perempuan, dan takut akan sendiri seumur hidupnya (episode mr. Heckles !! ), ternyata dia berbahagia dan menikah dan membangun keluarga dengan Monica, yang juga punya latar tersendiri, merupakan black-sheep di keluarganya, dan selalu kalah saing dengan Ross, kakaknya yang terlihat jelas lebih disayangi orangtuanya. Dan ibu Monica sendiri yang ( walau dalam konteks bercanda ), paling sering mengkritisi dan membandingkan pencapaian di hidup monica yang selalu kalah dari Ross.

Ya, Monica dan Chandler, yang dari season awal selalu diperlihatkan sebagai hopeless romantic person, akhirnya disatukan sebagai sweetheart couple dalam serial ini. Yang unik adalah, terlihat dari interview dengan Kauffman dan Bright akan bagaimana mereka membuat kedua pasangan ini backstreet di season 5 karena keduanya takut akan komitmen. Mereka ternyata sengaja membuat chandler dan monica backstreet dulu untuk mengetes keinginan penonton haha..

Kemudian saat bagian Joey, diceritakan bagaimana Joey ini secara jujur, saya melihatnya kurang berkembang haha.., kehidupannya tidak maju maju. Joey di season 1 masih sama dengan Joey di season 10, dia masih playboy akut, fanatic akan makanan, tidak pernah mengingat nama perempuan yang berkencan dengannya,  dan kariernya yang tidak maju maju. Tapi berhasil keluar sebagai personil Friends yang paling lucu dan menghibur.



Ahh..dan there’s Phoebe. Satu anggota Friends yang mempunyai masa lalu paling absurd dan menyedihkan, tidak pernah mempunyai kehidupan normal layaknya teman temannya yang lain, tinggal bersama neneknya, bekerja sebagai tukang pijat, dan sering mengalami masalah keuangan. Phoebe jelas adalah karakter yang witty, nyeleneh ala gipsi ( ingat Gladys dan Glyniss ? ).Bagaimana hidup Phoebe dari season pertama hingga 10 jelas berkembang layaknya Chandler dan Monica. Masa lalu nya yang suram dan tidak normal, akhirnya terbayarkan dengan “happy ending” sempurna ala karakter Phoebe, akhirnya ia menikah dengan Mike, laki laki yang mencintai nya dengan segala “keunikkannya”


Well, dan tentu saja kedua karakter yang paling terkenal dengan “ WE WERE ON A BREAK” nya ini haha..Rachel dan Ross, Ross dan Rachel.Green and Geller. Geller and Green. haha..
Ross adalah kakak Monica, dan teman Chandler sejak kuliah. Sedangkan Rachel adalah sahabat Monica.
Ross is monica's geeky older brother di mata Rachel, dan Rachel adalah monica's hot girl friend di mata Ross.
Yes, Rachel adalah cinta pertama Ross sejak jaman dinosaurus belom punah haha..

Hubungan Ross dan Rachel yang pasang surut sejak season pertama, putus-nyambung berulang kali hingga akhirnya, Ross nekad membeli tiket seharga 4,000 dollar + juga buat phoebe juga di season 10 episode terakhir buat ngejar dan mencegah Rachel yang akan pindah ke Paris ( daripada Chandler yang sengaja beli tiket buat ke Yaman buat menghindari Janice hahaa..)

Ross, yang sudah cerai 3 kali akhirnya bersama Rachel !!

Perkembangan karakter Ross juga tidak begitu banyak ya, dikarenakan mandeknya hubungan dia dan Rachel yang awalnya jadi sajian utama romance di serial ini (tapi akhirnya bergandengan dengan romance chandler – monica ), Ross dari bekerja di museum, akhirnya menjadi dosen di sebuah universitas. Rachel yang di episode pilot mengejutkan semua orang saat menerjang masuk central perk memakai baju pengantin, yang di 3 season awal bekerja sebagai waitress di central perk,akhirnya melejit dengan pesat kariernya, dari bekerja di bloomingdale hingga Ralph Lauren, ( dan juga Gucci, not Gucky ), di bidang fashion yang dicintainya, dan dengan sempuran bertransform dari anak papih menjadi wanita karier yang sukses.

Dan salah satu bagian di special feature yang sangat mengharukan adalah bagaimana akhirnya syuting di scene terakhir selesai, dan semua cast dan crew saling berpelukan sambil menangis, bagaimana mereka mengosongkan setting apartemen monica, dan bagaimana mereka membongkar setting Central Perk yang selama ini juga jadi “mojo” di serial ini. Well, kan memang mereka syuting di studio ya, jadi pas Setting Central Perk dibongkar hingga jadi ruang kosong, wwaaaaa…serasa mau teriak gak rela T___T

Well, 10 tahun memang waktu yang lama ditemani serial ini, saya bahkan tidak inget lagi kapan pertama nonton serial ini. 
Gue ingat dengan punch line monica di episode pilot di serial ini  

“ Welcome to the real world, it’s sucks. But you gonna love it.”

****

Phoebe taught me that it’s okay to be a little crazy
Rachel taught me that it’s okay to be a little materialistic, as long as I’m a good person
Monica taught me that it’s okay to control specific details of my life
Ross taught me that it’s okay to embrace my inner nerd
Joey taught me that it’s okay to show my sensitive side
Chandler taught me that it’s okay to laugh at myself

As a whole, they taught me that all these little things combine to make one big, beautifull thing.




























Friday, July 19, 2013

Review : We Bought A Zoo ( 2011 )

We Bought A Zoo ( 2011 )
Starring : Matt Damon, Scarlett Johansson, Colin Forth, Maggie Elizabeth Jones
Written by : Cameron Crowe
Directed by : Cameron Crowe

 














Cameron Crowe akhirnya kembali dari masa vakum sejak film terakhirnya dirilis, Elizabethtown ( 2005 ). Crowe kali ini mencoba ranah film keluarga yang sepertinya belum sangat familiar baginya, sebuah feel-good drama family with the rigously sweet-natured, We Bought a Zoo. Sempat disebut sebagai film yang sudah terlalu tipical Cameron, tapi walaupun begitu, tetap tidak menghindarkan film ini dari sebuah sentimentality yang muncul secara perlahan lahan, dan menghasilkan sebuah kisah yang punya hati, rasa kemanusiaan dan sebuah penampilan yang warmly emphatetic central performance from Matt Damon

Oh and to quote his character, “It has lots of cool animals too.”

Benjamin Mee ( Matt Damon ) masih kesulitan berdamai dengan diri dan masa lalunya sejak meninggalnya istri tercinta. Memiliki putra remaja yang sedang hormonal dan dalam pencarian jati diri, serta seorang putri kecil yang masih berusia 8 tahun, Benjamin berusaha memberi kehidupan yang baik untuk keduanya. Ingin memulai hidup baru dan di kota yang baru, ia dan anak anaknya memutuskan untuk pindah dan membeli sebuah kebun binatang yang sedang dalam kesulitan keuangan. Benjamin pun memutuskan untuk mencoba membangun kembali kebun binatang tersebut serta merawat binatang-binatang tersebut, dengan bantuan dari Zookeeper, Kelly (Scarlett Johansson), walaupun begitu, ternyata perubahan tersebut malah mengganggu anak laki-lakinya, Dylan (Collin Ford) yang belum bisa beradaptasi dengan lingkungan baru tersebut. Tapi Benjamin tetap tak bergeming, apa yang dilakukannya tidak hanya untuk membahagiakan putri kecilnya, Rosie (Maggie Elizabeth Jones) namun juga ingin memulai sebuah petulangan baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, tapi tentu saja itu tidak mudah.




 








 We Bought a Zoo, seperti halnya hampir semua film film Crowe, berkonsentrasi pada hubungan interpersonal.Katherine Mee, istri Benjamin yang sudah meninggal juga merupakan salah satu karakter utama disini, sejak semua hal tentangnya sampai kematiannya selalu membayangi Benjamin dan kedua anak mereka. Film ini lebih ke sebuah usaha mengeratkan kembali hubungan Benjamin dengan kedua anaknya pasca kematian istrinya. Selama berkutat dengan urusan manajemen kebun binatang tersebut, hubungan romance antara Benjamin dan Kelly yang tidak terlalu difokuskan dalam film ini, menurut saya adalah pilihan yang sangat seimbang tapi menemukan irama nya dengan tepat. There's something there, between them, but its obviously too soon for Benjamin to be falling in love again. Walau begitu, porsi romance di film ini sendiri, diserahkan  pada Dylan dengan keponakan Kelly, Lily ( Elle Fanning ) yang jelas tertarik satu sama lain, tapi Dylan yang mudah moody dan galau layaknya remaja 14 tahun, lebih terlihat mem-PHP kan Lily haha...

Matt Damon patut diberi pujian karena kesediaanya untuk memperluas jangkauan akting dan perluasan karakter karakter yang pernah dibawakannya. Dia adalah aktor terkenal yang sudah pernah bermain dengan film film berbudget fantastis, film film indie quirky, komedi, drama dan telah bekerja dengan banyak sineas legendaris Hollywood ; Stephen Spielberg, Francis Ford Coppolla, Gus Van Sant, Anthony Minghella, Robert Redford, Soderberg, Frank Darabont, Scorsese, Clint Eastwood dan Coen Brothers. And yet, dia bisa dengan mudah kembali "membumi" dengan karakter Benjamin. 

Kekuatan yang mengikat karakter karakter yang berbeda dalam film ini, untuk tetap bersama serta merupakan jangkar cerita yang tetap membungkus film ini dalam sebuah kebenaran emosional adalah Benjamin sendiri.
Perjuangannya dalam segala hal baik itu tentang perasaannya sendiri atau keluarga dan kebun binatang tersebut, memberikan film ini sebuah ketertarikan emosi yang cukup heartwarming.
Seperti saat dia berbicara dan memohon kepada Spar, si harimau yang sudah tua dan sakit sakitan untuk tidak menyerah, atau saat Benjamin kesal dan berteriak karena frustasi kepada putranya tentang rasa sakit yang sama sama mereka rasakan, tapi juga sama sama tidak bisa membicarakan atau mengungkapkannya. Damon berhasil membawakan karakter Benjamin dengan segala integritas dan usahanya untuk move on dari kesedihan yang dirasakannya sejak kematian istrinya.

Damon is good here, and probably one of his finest perfomance. ScarJo sebagai Kelly, well..she's not major character, bahkan hardly called love interest nya Benjamin, tapi seperti yang saya tuliskan diatas, jelas hubungan mereka akan berkembang nanti. Terlalu sering melihat ScarJo berpakaian seksi di banyak film, mungkin film ini menimbulkan pemandangan berbeda dengan Kelly nya ScarJo yang selalu berpakaian safari, jeans, but she still have that georgeous charming smile haha..
oh and Elle Fanning, this young actress keeps proving that she'll be threat to her sister, Dakota. karakter Lily selalu mencuri perhatian di setiap scene bagiannya. And boy !, duo anak Benjamin disini, Collin Ford seakan tak ingin kalah dengan Damon, aktor muda ini terlihat begitu mudah membawakan karakter Dylan sebagai remaja kompleks, serta si kecil Maggie Jones sebagai Rosie, gah..she's too damn adorable little princess hehe..

Kita mengetahui Crowe adalah sutradara dengan taste of music yang bagus. Dari Almost Famous ( 2000 ), yang hampir bisa katakan sebagai film personal akan pengalamannya di masa remaja, kita mengetahui kalau Crowe ternyata dimasa remaja nya pernah menjadi contributing Editor di majalah Rolling Stone. Sehingga tidak heran jika Film filmnya tidak pernah lepas jauh dari musik, atau paling tidak ia cerdas dalam memasukkan music score dan lagu yang oke ke dalam film filmnya, maka saat saya mengetahui komposer utama soundtrack film ini adalah Jón Þór "Jónsi" Birgisson, vokalist utama dari Sigur Rós, band legendaris Islandia yang beraliran ambient, post rock, dreamy-pop, bayangkan betapa luar biasa antisipasi dalam diri saya untuk melihat bagaimana Jónsi menyalurkan kejeniusan nya bermusik dalam film. I'm super big fans of Sigur Ros, by the way. Pilihan yang non-mainstream dari Cameron Crowe tentu saja juga menghasilkan music score dan lagu yang tidak mainstream.

Dan bagaimana hasilnya ? Luar biasa epik. music score, semua lagu lagu nya, adalah salah satu faktor yang membuat saya betah menonton film ini sampai selesai. Track lagu 'Gathering Stories'  yang muncul di credit title juga begitu enak didengar, entah mengapa tidak masuk sebagai nominator Oscar. Atmosfir soothing dan relaxing menambah kesan nyaman untuk film manis ini. The music is awesome, if a little too perfect.
The feelings that wash over me when I hear Sigur Ros play, when I hear Jonsi's voice, are almost indescribable. The soundtrack is so sublimely beautifull and simply overwhelming. All the things that you would hope from Sigur Ros release are here.
Jónsi , you magnificent bastard !! haha..
 















 How lovely it is to be able to sit back and watch Cameron Crowe and Matt Damon do what they do best: make a wonderful film. We Bought a Zoo bukan film thriller atau action atau romance, bahkan bukan komedi. We Bought a Zoo adalah film keluarga, sebuah film modern, yang jujur, down to earth, tapi tidak sok menggurui.

I cannot say how much i have enjoyed and loved this movie and the soundtrack. What a lovely film !

Saturday, July 13, 2013

Review : Safety Last ! ( 1923 )


Safety Last !
Starring : Harold Lloyd, Mildred Davis, Bill Strother
Writer : Hal Roach, Sam Taylor
Director : Fred C. Newmever, Sam Taylor





















Ikonik. Kata tersebut berhubungan dengan sesuatu yang memiliki gaya formula konvensional. Ini adalah kata yang cenderung terpikirkan oleh kita saat sedang mendiskusikan entah itu benda, gambar, di sebuah film atau buku. Apakah itu sesuatu yang sudah lama dan abadi, seperti robot maria di Metropolis nya Fritz Lang, poster Jaws nya Stephen Spielberg, atau yang teranyar mungkin topeng ghostface yang mulai ikonik dengan film Scream. Itu semua diselaraskan sebagai "ikon" karena sewaktu kita melihat gambar gambar tersebut, kita akan langsung mengenali dan mengasosiasikannya dengan sebuah film atau karakter, bahkan jika hal hal tersebut tidak sedang digunakan dalam hal yang tidak berhubungan dengan film atau karakter tersebut.

misalnya, untuk mengiklankan sesuatu yang lain atau bahkan parodi akan karya tersebut . Gambar gambar ikonik tersebut telah menjadi bagian kuat dari budaya populer, dan salah satu gambar yang paling abadi yang pernah menjadi bagian dari budaya populer tersebut berasal dari Harold Lloyd dan filmnya, Safety Last (1923)


Ini adalah sebuah silent movie ( film bisu ) yang juga bisa dideskripsikan sebagai romantik komedi. Awalnya, kita melihat Llyod ( the boy ) terlihat seperti seorang pria yang berada di dalam penjara yang sedang menunggu eksekusinya. Sebenarnya pertama saya agak bingung dengan apa yang terjadi ,  ibu Lyod dan kekasihnya ( Mildred Davis, juga merupakan istri Harold Lloyd di kehidupan nyata ) datang menemui Lyod dari balik "jeruji besi" tersebut, dan sedang berbicara menenangkannya kemudian seorang pria berpenampilan seperti imam/pendeta datang menghampiri. Background di belakangnya, kita mendengar suara suara berisik, dan terlihat sebuah tali simpul menggantung seperti yang biasa dipergunakan untuk hukuman gantung.

Dan saat saya mulai hampir sama sekali kebingungan, ternyata kisahnya langsung dipecah ruah. Para filmmaking di balik adegan ini telah berhasil memperdayai saya sejauh ini, bermain dengan hal hal yang menggantung dan tidak jelas, sehingga adegan yang kita lihat di layar adalah representasi sebenarnya nanti akan terjadi dalam cerita, padahal sebenarnya Lloyd berada di stasiun kereta api. jeruji yang kita lihat di awal juga bukan di penjara tapi di kantor tiket stasiun dan jerat tali simpul kita lihat menggantung sebenarnya ring lintasan yang digunakan oleh awak kereta api untuk menerima perintah tanpa harus berhenti.  Haha..

Cerita sebenarnya adalah, Llyod akan menuju kota besar untuk merantau dan menjadi sukses, dan dia sedih harus meninggalkan kekasih nya di belakang. Saat Llyod tiba, dia bekerja sebagai sales di " the De Vore Department Store". Di apartemen kecilnya, dia berbagi sewa dengan temannya yang merupakan pekerja konstruksi, Bill ( Bill Strother ). Mereka selalu kekurangan uang, and Llyod make matters worse. Dia menjual phonograph ( semacam alat musik pemutar piringan hitam ) milik Bill, dan membeli perhiasan untuk kekasihnya di kampung halaman, dia menulis surat dan menceritakan bahwa dia menjadi manajer di the De Vore. Lloyd tetap menutup nutupi fakta kalau dia hanya sales kecil di departement store tersebut, karena Llyod ingin kekasihnya percaya bahwa dia benar benar sukses di kota besar. Llyod berjanji saat dia sudah menghasilkan banyak uang, mereka akan menikah. Tapi untuk saat itu, ia memilih untuk menutupi keadaan nya yang sebenarnya.

Kemudian, saat Lloyd tanpa sengaja menguping pembicaraan manajer nya bahwa ia akan memberikan $1000 dollar kepada siapa saja yang bisa mengundang keramaian datang ke toko. Setelah mengkonfirmasi kebenaran akan hal itu, Llyod segera menelpon Bill dan menawarkan nya untuk memanjat gedung berlantai 12 dengan tangan kosong demi $500 dollar, karena berpikir dia akan membagi uangnya dengan Bill, jadi ia bisa menggunakan sisanya untuk menikah.

Tapi walau semua sudah direncanakan dengan matang sekalipun, tetap saja berantakan. Lloyd dan bill ternyata masih diburu dan dikejar kejar oleh seorang polisi yang sebelumnya mereka kerjai. Alih alih Bill, malah Lloyd yang kemudian memanjat gedung itu sendiri, dan YES, scene ikonik di Safety Last dimulai dari Lloyd yang perlahan lahan memanjat gedung tersebut hingga akhirnya ia bergelantungan di jarum jam di atas gedung tersebut. Stunt stunt berbahaya inilah yang digunakan dengan maksimal dan luar biasa dalam film ini. Kita tahu bahwa gambar gambar tersebut kita sudah lihat ratusan kali entah itu film film lain, berbagai parodi atau photo shoot, It’s as powerful as it was the day it was filmed.

Safety Last sungguh mempesona, dan sebuah karya cerdas yang bisa dilahirkan oleh seorang filmmaker. Awalnya mencoba untuk bermain cepat dan bermain dengan sudut pandang kita sendiri, kemudian mulai melonjak dengan unsur komedi situasi dan slapstick yang menghiasai sepanjang durasi.


Safety Last has a lot more to offer fans of silent cinema than just its most famous scene. So, if you get a chance, do have a look. It’s been with us for 90 years so far and I’m sure it’s not going anywhere anytime soon!
Silent movies sekarang sangat sulit untuk menemukan jalannya kembal kepada penonton penonton muda. Walau tahun disaat film ini dirilis, belum menjadi yang terlaris atau terlucu saat itu, Safety Last berisikan banyak stunt stunt yang memancing adrenaline dan perasaan was was.

Lloyd adalah aktor jenius ketiga dalam era silent film. Pengamat sejarah era silent film, Kevin Brownlow pernah mengatakan, bahwa Lloyd dan film filmnya sebenarnya bersaing ketat dengan Chaplin dan Keaton di tahun 1920an, Bahkan ia membuat lebih banyak film daripada Chaplin, dan sosoknya yang khas akan kesederhaan dan tampilan umum pria pria di era itu lebih bisa menarik audiens yang lebih luas daripada Keaton. Tapi dia tidaklah fantastis atau melegenda di dunia perfilman saat itu, atau menciptakan komedi yang out of box, dan di luar inspirasi yang umum yang berdasarkan insting.

 Llyod was an ordinary man. If he wanted to be a successful film comedian, he would have to learn how be one, and learn the hard way.
Lahir di tahun 1893, Lloyd memulai kariernya sebagai pemain figuran dengan cara mengikuti kerumunan pemain figuran lainnya di studio studio film saat mereka sedang istirahat siang. Dia bertemu figuran lainnya, Hal Roach, yang nanti nya akan menjadi salah satu produser besar di industri perfilman hollywood. Lloyd pernah membuat ratusan film film pendek sebelum menemukan "ritme" yang cocok dalam dunia perfilman.  

 Dia terus bekerja keras untuk membangun karakternya, dan tidak punya waktu untuk mengikuti kesempurnaan yang dimiliki Chaplin saat itu, atau memiliki kepiawaian bisnis seperti yang dimiliki Keaton.
Dia menabung uangnya, merawat film-filmnya, dan memilih menyimpan dan tidak mengedarkan film filmnya karena terbentur masalah kesepakatan distribusi.

Cucu nya, Suzanne Lloyd, yang pernah tumbuh bersamanya hingga kematiannya di tahun 1971, yang sekarang mewarisi semua royalti dan hak waris, yang  mengawasi perilisan ulang dari film film yang sebelumnya diduga sudah hilang, bahkan tidak terlihat hancur, atau rapuh, tapi bahkan terlihat fresh seperti saat pertama ditayangkan. Setelah  proses restorasi yang juga ikut menggandeng UCLA selesai, pertama kali film film Llyod tersebut ditayangkan di TCM ( Turner Classic Movies, saluran tv kabel yang khusus menayangkan film film klasik ), dan dari sana, masih dalam pengawasan Suzanne, film film Lloyd tersebut sekarang kembali diproduksi dalam bentuk home videonya dibawah bendera New Line cinema..It is like going to watch new movies that happen to have been made 90 years ago.

****

Harold Clayton Lloyd, Sr. 
(April 20, 1893 – March 8, 1971)

was an American film actor and producer, most famous for his silent comedies, made nearly 200 comedy films, both silent and "talkies", between 1914 and 1947. 
He is best known for his "Glasses" character, a resourceful, success-seeking go-getter who was perfectly in tune with 1920s era America.

Tuesday, July 9, 2013

Review : Rear Window ( 1954 )

Rear Window
Starring : James Stewart, Grace Kelly
Director : Alfred Hitchcock
















Jauh sebelum era MTV dengan acara Real World nya dan teknologi semacam internet web cams mulai ramai dan populer, Master suspense dari Hollywood, Alfred Hitchcock sudah lebih dulu mengekspos kehidupan masyarakat Amerika dan dengan segala Voyeurisme nya. Voyeurisme adalah sebuah kelainan yang di dunia kedokteran dikenal sebagai istilah skopofilia. Ciri utama voyeurisme adalah adanya dorongan yang tidak terkendali untuk secara diam-diam mengintip atau melihat seseorang yang berlainan jenis atau sejenis tergantung orientasi seksual berbeda yang sedang telanjang, menanggalkan pakaian atau melakukan kegiatan seksual. Bukannya saya mengatakan bahwa film Hitchcock satu ini tentang seorang yang punya kelainan seperti itu, tapi bisa dikatakan agak mirip, tapi tidak mempunyai unsur seksual. Jim Stewart is not peeping Jim hehe..

Rear Window awalnya hanya dirilis dalam 300 print saja di tahun 1954, dan kecuali kalau kau benar benar adalah seorang kolektor langka, versi asli dari 300 print tersebut bisa dikatakan super langka hingga saat ini, tapi thanks kepada departemen restorasi Universal Studio yang berkat kerja keras dan usaha besar mereka, akhirnya Rear Window bisa direstorasi sampai ke warna warna gambarnya yang detail dan cemerlang, dan juga kemudian dirilis ke bioskop, just as Hitch intended us to see it.

"Rear Window" bercerita tentang seorang fotografer lapangan yang gemar berpetualang. L.B. Jefferies played by the everyman of the day Jimmy Stewart. Jefferies saat itu sedang diistirahatkan karena harus duduk di kursi roda karena patah kaki karena insiden di pekerjaannya. Terlanda kebosanan dan jenuh akut, Jeff ternyata menyukai kegiatan baru nya yang tak biasa, yaitu memperhatikan kehidupan sehari hari para tetangga nya di apartemen sebelah yang masih dalam satu komplek dengan apartemen nya. Secara sederhana, Hitchcock berbagi lewat apa yang dilihat oleh Jefferies. Dia membuat kita, audience untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan "mengintip" tersebut dengan mengikuti cerita cerita kecil tetangga Jefferies yang sama sekali asing ini.
















Diantara banyak cerita, ada Miss torso yang gemar melakukan senam aerobik setiap hari nya dan berpesta dimalam harinya, kemudian ada Miss Lonelyheart yang suka ber'akting' sedang bersama lelaki impiannya, dan seperti sedang makan malam berdua di meja makannya yang kosong, dan bahkan ada seniman yang sedang depresi dan mencoba hal apapun untuk mengungkapkan kegundahannya, ada juga pasangan pengantin baru yang sering terdengar suara suara rintihan dari apartemen mereka yang sering tertutup jendela nya, tapi pasangan suami istri yang tak terlihat harmonis yang tinggal pas di apartemen seberang yang menarik perhatian Jefferies yang kemudian  membuatnya menyimpulkan bahwa sedang ada peristiwa kriminal berat yang terjadi.
Semua berasal dari kesimpulan  yang didapatkannya dari memperhatikan kebiasaan sehari hari para tentangga nya tersebut.

Kegiatan peeping seperti itu sebenarnya bukan satu satunya hal yang mengisi hari hari dan pikirian Jefferies. Tapi dia juga menceritakan dan berbagi akan hal tersebut dengan kekasihnya yang sesekali mengunjungi nya di apartemen, Sosialita Lisa Fremont yang diperankan oleh Grace Kelly. Jefferies terlihat seperti orang bodoh yang lebih tertarik dengan para tetangga nya daripada pesona sang kekasih yang sangat perhatian pada nya. Tapi semua itu tidak lama, sebelum Lisa merebut binocular ( teropong ) yang dipakai Jeff dan melihat sendiri apa yang diributkan Jeff selama ini, dan kemudian mulai melebar lah opini opini tentang apa yang sebenarnya terjadi di apartemen tetangga mereka.
















Stewart adalah pilihan yang menarik untuk karakter Jefferies. Di era tahun 1930an dan 1940an, dia bermain di banyak film komedi, romance, cerita kriminal dan western, dan lucunya, selalu karakter yang kita akan suka. Setelah era perang dunia 2, dia mengeluarkan sisi fantasi yang gelap dalam film Capra, "It's a Wonderfull Life", dan Hitchcock kemudian mengeksploitasi sisi tersebut, dingin dan tak ramah, di ke 4 film kolaborasi mereka nantinya. Saya sendiri baru menonton Vertigo dan Rear Window. Rope dan The Man Who Knew Too Much masih on progress hehe...

DI Rear Window, Jeff bukanlah seorang moralis, polisi atau aktivis sosoial, tapi dia adalah seorang pria yang suka melihat, mengamati, mengintip, apapun itu istilahnya.
Ada saat-saat penting dalam film di mana ia jelas diharuskan untuk bertindak, dan dia menunda, bukan karena dia tidak peduli apa yang terjadi, tetapi karena dia lupa dia bisa menjadi pemain aktif atau ikut bertindak, tapi lebih karena ia diserap dalam sebagai peran pasif. Secara signifikan, pada akhirnya, ketika ia berada dalam bahaya di apartemen sendiri, self defense yang ada hanyalah flashgun dari kamera nya sendiri, ia berharap bisa menyilaukan musuhnya dan melambatkan gerakannya, dan seperti penglihatan pria itu berangsur-angsur kembali, semuanya ditampilkan melalui sudut pandang si penjahat dalam balutan warna darah merah larut yang menunjukkan gairah ekstrim yang diekspresikan melalui mata.

Dan Grace Kelly sendiri, dia cool dan elegan disini. Ada beberapa adegan yang membuat kita bisa merasakan hatinya yang terluka karena sikap tidak peduli Jeff. Dia suka mengenakan gaun gaun cantik dan masuk dalam ruangan dengan dramatis, memanjakan Jeff dengan wine dan makanan mewah. Tapi Jeff tidak memperhatikan atau tidak terlalu peduli dengan semua perhatiannya ini. Ada sebuah shot scene singkat, bahkan lebih close up ke wajah Kelly, saat dia berniat mencium Jeff, dan pergerakan kamera menangkap sisi seksualitas dari Kelly sendiri, bahkan saat Jeff tidak menyadari hal itu, seolah-olah dia meminta bantuan para penonton untuk mengakhiri obsesi Jeff dengan kegiatan peeping nya itu, dan seharusnya Jeff lebih memilih untuk bersama dengan dirinya.
















So what’s so great about Rear Window? 

kau boleh bertanya, dan sebagai pendatang baru di dunia film seperti saya ( yang senior tidak perlu membaca review apapun lagi soal flm ini, they can better use their time seeing it again hehe..), well..for me, kesenangan yang luar biasa itu muncul dari detail detail kecil dalam film yang dieksploitasi secara komersial oleh Hitchcock ini. Hitchcock, adalah seorang populis. Dia ingin dan suka menakut nakuti banyak orang dalam sebuah ruangan dengan film filmnya, sebagai pelarian sejenak dari horor nyata yang ada di dunia ini. Tapi dia tidak menakut nakuti penonton dengan musik musik score yang menyeramkan atau benda benda hancur atau simbahan darah., tapi lebih dengan permainan kamera dan sudut pandang, dia lihai menakut nakuti penonton dengan hal hal asing dan imajinasi mereka sendiri.

Tapi saya masih belum memberi tahu bagian favorit saya. Hitchcock, master dunia suspense, sangat cerdas dalam menggoda penontonnya. Definisi suspense buat Hitchcock bagi saya adalah, dia mendorong kita dalam jurang ketakutan, menggantung kita di udara dengan segala kumpulan perasaan takut yang sudah diantispasi sebelumnya. Itulah senjata utamanya - tensi yang terus menerus meningkat. Dalam 35 menit pertama di Rear Window, yang kemudian menjadi bagian favorit saya, kita dengan lembut dibimbing oleh Hitch dalam sebuah dunia ramah, jinak, bahkan cenderung biasa, seperti "thats what we do in days of our life.".








Jefferies dengan kakinya yang patah dan duduk di kursi roda adalah media dan motif yang dirasa cukup tepat yang cukup membuatnya "lekat" dengan jendelanya dan melihat jendela apartemen lainnya. Jeff bahkan bertanya kepada diri sendiri akan kebiasaan uniknya ini yang selalu membuat dia ketagihan bahkan cenderung terhibur. Tapi saat dia bertanya tanya, kita serasa menemukan diri kita yang memaafkan perbuatan mengintip nya ini, tak lain supaya kita bisa tetap "mengintip" bersama nya.

Inilah permainan psikologis dari Hitchcok, dia mendorong emosi dan pikiran kita dengan lembut, perlahan dan kemudian ikut mengajak kita bersama melihat kesimpulan apa yang sebenarnya ingin diperlihatkannya. Semua karakter yang kita lihat bersama Jeff dari jendela kamarnya adalah orang orang yang sama seperti yang lain, sehingga memberikan dimesi yang lain, terlihat sederhana dan mendasar tapi merupakan sebuah teknik filmmaking yang sangat brilliant.
Jadi jika kita bisa menggabungkan semua ini dengan jeli, sukacita diam diam akan hal hal peeping/voyeuristik tadi dengan halus, cengkeraman ketegangan yang dihasilkan Hitchock ini akan membuat kita terpaku pada layar.

Sunday, July 7, 2013

Review : Almost Famous ( 2000 )

Almost Famous
Starring : Kate Hudson, Billy Crudup, Patrick Fugit, , Zooey Deschanel, Phillip Seymour Hoffman
Writer : Cameron Crowe
Director : Cameron Crowe



Cameron Crowe adalah Stanley Kubrick di dunia cinema rock n' roll. Dia adalah tipe filmmaker yang berhati hati dalam karyanya, membutuhkan waktu untuk mengembangkan ceritanya sebelum dibuka ke publik. Sebut saja " Say Anything" di tahun 1989., kemudian "Singles" ( 1992 ), sampai ke film romcom klasik nya Tom Cruise, "Jerry Maguire" di tahun 1996. Empat tahun kemudian, Crowe membuat film yang paling personal baginya, sekaligus mungkin salah satu film terbaiknya. "Almost Famous" bercerita tentang seorang reporter ambisius yang sangat mencintai musik rock n' roll, dan memutuskan untuk menginterview sebuah band, dan ikut dalam tour keliling mereka. Hanya saja, wartawan ini baru berumur 15 tahun !

Pendatang baru, Patrick Fugit sebagai sang remaja cerdas, William Miller ( berdasarkan kisah nyata akan Crowe sendiri yang pernah menjadi reporter semasa remaja nya ), yang mendapat tugas yang tidak biasa - Majalah Rolling Stone meminta nya membuat sebuah liputan cerita akan sebuah band yang sedang populer, Stillwater. Sebelumnya, pihak Rolling Stone terpesona dengan dengan liputan Miller di sebuah majalah lokal, "Creem". Kemudian dimulailah petualangan si naif dan rendah hati, William Miller, ikut travelling bersama band Stillwater yang sedang dalam tur keliling Amerika lewat darat ( penampakan bus Almost Famous yang terkenal itu haha..).
















William tinggal di hotel, kehilangan virginity nya kepada cewek cewek groupies, membangun perasaan suka dengan Penny Lane ( Kate Hudson ), salah satu anak groupie yang jatuh cinta dengan gitaris band tersebut, Russell ( Billy Crudup ). Dalam perjalanan singkat tersebut, kadang atmosfir di kelompok band-crew-groupies-dan William sendiri yang jadi reporter sisipan di grup itu, berubah ubah, dan berisikan perselisihan antar personil band, dan pembangunan ( pencitraan ) karakter band tersebut yang berjalan di alur Rock N' Roll, serta masa depan band itu sendiri yang masih sangat rentan kritik dan totalitas Rock N' Roll.

Kemudian masih ada Penny, yang mulai terpesona dengan kenaifan dan kecerdasan William, dia bahkan pernah memberi tahu William, bahwa dia " too sweet for Rock N' Roll.", dan masih ada ibu William ( Frances McDormand ), yang overprotective dan juga  seorang dosen universitas, yang masih terbentur antara adat modern dan konservatif ( dan hal itu jugalah yang memaksa kakak William, Anita ( Zooey Deschanel ) memilih keluar dari rumah mereka karena merasa dikekang oleh sang ibu )

Ada banyak orang yang mendominasi kehidupan William, dan yang paling signifikan ternyata bukan ibu atau kakak nya, melainkan Russel, gitaris Stillwater. Russel dan Will menjalin persahabatn yang kuat yang didasarkan pada saling menghormati ( dengan kenyataan bahwa Will sebenarnya masih 15 tahun ). Penny, yang juga menjadi sahabat Will, tapi terlalu terobsesi dengan hubungannya dengan Russell sehingga dia seperti menghiraukan kenyataan bahwa mungkin Russell sama sekali tidak mencintainya. Kemudian masih ada jurnalis rock yang "uncool", Lester Bangs ( Phillip S. Hoffman ), yang memperingati William bahwa musik rock dan musisi nya mungkin akan memperalat William untuk mendapatkan liputan kisah yang bagus. The last thing a band needs is negative press.

"Almost Famous" dibanjiri oleh pesona Patrick Fugit dengan pengelolaan kata kata nya yang cerdas, dan sorot matanya yang naif. Dia bisa mengeluarkan aura simpati dan kepercayaan seperti, just say, Tobey Maguire di Spiderman. Dia sangat merasa terikat dengan band ini, sehingga dia bersedia mengambil resiko bersama mereka. Yang berarti juga William harus mengorbankan prestasi akademik nya di sekolah, dan menunda kelulusannya. But who cares when you have sex, drugs, and rock n' roll ! Fugit is so damn lovable dan likeable that it is impossible to hate the film for having such a warm, fuzzy character at its center.
Also worth mentioning is the up-and-coming actor, Billy Crudup, yang memperlihatkan sifat temperamental yang alami dari Russel. Russel juga ikut berubah bersama William, dan menyadari kesalahannya dalam affair nya dengan Penny Lane. Kemudian Kate Hudson, yang juga sangat bagus menjadi emotionally fraught Penny, yang juga ikut dipengaruhi oleh sifat sifat baik yang ada dalam diri William. Phillip Seymour Hoffman is delightfully witty and on-target as Lester Bangs, sang kritikus rok legendaris. Ia tidak memperdulikan umur Wililam, tapi lebih memilih mempercayai talentnya, bahkan berbagi tips, " be honest and unmerciful". Selama dalam tur, bahkan William sering menelpon Bangs untuk meminta nasehat.




















 There is nothing in "Almost Famous" that does not work. Semua scene terasa jujur dan benar, dan Cameron Crowe mempunyai bakat untuk semua ini. Dia punya bakat untuk dialog yang colorfull dan juga situasinya, dan juga membawa percampuran yang unik antara alur dan realita dari para aktornya. Salah satu adegan favorit saya adalah saat band sedang dalam bus tur, dan mereka bernyanyi bersama sama lagu Eltoh John, Tinny Dancer. Scene seperti ini mungkin bisa akan dengan mudah ditertawakan atau terlihat murahan, tapi Crowe  berhasil menemukan hubungan perasaan kekeluargaan dan perasaan intim antara anggota band dan itu terbayar dengan hal yang cheesy and corny, but its soo cool.

Dengan menolak untuk menjadi sentimental secara berlebihan, Crowe telah membuat film yang lebih hidup, film yang penuh perasaan tentang tahun 1970-an, lengkap dengan Rock N' Roll nya. 
"Almost Famous" is about the world of rock, tapi ini bukan film rock. Ini film tentang karakter dan perkembangannya, yang terwakili oleh sosok William. Tentang seorang anak yang idealistic dan bagaimana sudut pandangnya terhadap dunia nyata, menyaksikan sendiri kekejaman yang ada, tekanan, patah hati, and yet finds much room for hope.

" Oh, what a lovely film. I was almost hugging myself while I watched it." - Roger Ebert's said.
Roger, I totally agree here. Cameron Crowe nails it perfectly.