Tuesday, September 24, 2013

Review : You Can't Take It With You ( 1936 )



YOU CAN'T TAKE IT WITH YOU
Starring : James Stewart, Jean Arthur, Lionel Barrymore
Writer : Robert Riskin
Director : Frank Capra


























Tahun 1930 - 1940an merupakan era emas untuk Frank Capra. Namanya diperbincangkan banyak pihak dan disanjung banyak kritikus serta menjadi media darling. Dalam kurun waktu tersebut ia banyak menciptakan film film hebat yang membuatnya terus diingat sampai sekarang. Dari tahun 1930-1940, ia mendapat 5 nominasi Academy Awards, dan memenangkan 3 diantaranya, lewat It Happened OneNight ( 1934 ), Mr. Deeds Goes To Town ( 1936 ), dan You Can't Take It With You( 1938 ). Nama Capra mempunyai influence yang sangat hebat saat itu, semua film yang mempunyai label Capra diatasnya laris manis bahkan menjadikan ia anak emas Harry Cohn, presiden Columbia Pictures saat itu.

Awal mula kelahiran You Can't Take It With You dari tangan Capra tidaklah mulus,You Can't Take It You, adalah sebuah drama panggung yang sangat sukses saat itu, dan berhasil memenangkan Pulitzer Prize di tahun 1937, dan Frank Capra adalah salah satu penggembar beratnya. Niat memfilmkan drama ini awal nya ditolak mentah mentah oleh Harry Cohn, karena membutuhkan biaya yang sangat besar, lebih dari $200,000. Tapi nantinya Cohn pun berubah pikiran, sebagai bagian dari upaya damainya dengan Capra yang saat itu sedang bersitegang dengan Columbia dan berniat menuntut mereka, karena mencantumkan nama Capra di filmfilm yang tidak ada hubungan dirinya, dikarenakan faktor popularity Capra saat itu.

Karena keternaran Capra yang sangat hebat saat itu, lahirlah istilah "Capra-Corn". Istilah tersebut muncul untuk film film yang mempunyai ciriciri ; tentang pria baik yang terjebak dalam intrik si kaya melawan si miskin,bagaimana orang orang baik sering terjebak dalam intrik idealisme dan korupsi,dan tentang bagaimana integritas seorang pria diuji ketika ia dihadapkan dengan kekuatan besar yang bisa saja ia pergunakan untuk merubah hidup banyak orang,baik ke arah jahat atau baik.  Bersama Capra, tidak peduli seberapa perjalanan itu gelap dan menyakitkan, akan selalu ada cahaya diujung jalan (and it's tough to get darker than the alternate reality of It's a WonderfulLife ).















Dalam You Can't Take It With You, Grandpa Vanderhof ( Lionel Barrymore )adalah kepala keluarga Sycamore yang eksentrik. Granpa adalah mantan pengusaha yang banting setir dan memutuskan untuk hidup bahagia apa adanya, Granpa suka bernyanyi dan bermain harmonika, ramah terhadap siapa saja, dan ia tidak mempercayai pajak dan menolak untuk membayarnya !

Di rumah Sycamore, semua orang bebas melakukan apa yang mereka senangi,seperti Penny, anak Grandpa yang tiba tiba menjadi novelis saat ada seseorang yang tanpa sengaja mengirimkan mesin tik ke rumah mereka, atau suami Penny,yang bekerja membuat petasan di basement rumah mereka, dibantu Mr. DePinna,orang asing yang suatu hari muncul di depan rumah Sycamore dan sejak itu tidak pernah pergi lagi. Kemudian masih ada Essie, anak Penny, yang mempunyai impian menjadi Balerina dan selalu menari setiap saat dan di kondisi apapun. Guru Essie, Boris, adalah seorang rusia yang sama eksentrik nya dan selalu mengatai Essie itu payah ( tapi ia selalu tinggal untuk ikut makan malam ), dan masih ada Ed, suami Essie yang lebih suka bermain xylophone, ia juga suka memakai topeng serta ikut membantu menjual permen permen yang dibuat istrinya.

 


















Kemudian ada Alicia ( Jean Arthur ), satu satu nya anggota keluarga Sycamoreyang 'normal', ia bekerja sebagai sekretaris untuk Tony Kirby ( James Stewart), yang merupakan anak dari jutawan dan banker terkenal, Anthony Kirby. Keduanya jatuh cinta, tanpa keduanya saling tahu kalau ayah Tony, adalah bankeryang ingin menggusur rumah Sycamore yang saat itu menjadi penghambat sebuah kontrak properti besar yang sedang diurus perusahaan Kirby. Saat Tony berhasilmelamar Alice, mereka menghadapi sebuah masalah, yaitu bagaimana caranya untuk mendekatkan keluarga mereka yang sangat bertolak belakang, Alice dengan keluarga Sycamore yang penuh dengan hal hal eksentrik , dan Tony dengan ayah dan ibu nya yang berasal dari high society, kaku dan angkuh. Alicia, sebenarnya sudah berencana membujuk keluarga nya bersikap normal saat pertemuan itu akan terjadi, tapi sayang Tony mengacaukan rencana itu dan memberikan surprise dengan mengajak kedua orang tuanya datang di malam yang salah, yang tanpa sengaja mengekspos  ke-eksentrikkan keluarga Sycamore sehebat hebatnya secara dramatis. Dan Hal ini membuat pertunangan Alice dan Tony diujung tanduk
















Dengan jumlah karakter yang banyak dan mempunyai ciri ciri khusus seperti ini, sebenarnya film ini sangat rentan dan bisa dengan mudah menjadi memusingkan. Tapi bagusnya, semua karakter ternyata terbangun dengan sangat baik. serta diberikan waktu khusus untuk menunjukkan keunikkan karakter mereka,dan hal ini berhasil mewarnai dari awal hingga akhir. Capra pun dengan cerdas bisa memfokuskan kisah ini kepada karakter Granpa Vanderhof, Alice dan Tony. Grandpa dengan idealism nya yang ternyata mempengaruhi gaya hidup keluarga Sycamore, serta Tony dan Alice dengan kisah cinta mereka di tengah semua keributan tersebut, tanpa meremehkan karakter karakter lain yang ikut dalam kehebohan tersebut.

Dialog dan argument dalam film ini juga sangat menarik dan unik.
Menarik, karena saya susah untuk tidak tertawa saat melihat bagaimana Grandpa beradu debat dengan akuntan pemerintah yang saat itu datang untuk menegur dan memperingati Grandpa yang puluhan tahun tidak membayar pajak, dan bagaimana Grandpa dengan tenang, ramah dan sambil tersenyum malah membalikkan semua perkataan akuntan tersebut, hingga membuat akuntan tersebut kesal dan marah danbingung.
Kemudian unik, karena Capra sesungguhnya membawa tone film ini ke arah yang berbeda, tanpa kita bisa merasakan atau melihat sebenarnya betapa depresi tema dan maksud cerita ini, tapi Capra sekali lagi, alih alih memusatkan pikiran kita dengan idealisme idealisme pria sederhana vs intrik, dan kekuasaan si kaya yang jahat, ia malah membawa film ini dengan ringan menyenangkan, tapi tanpa melewatkan apa sebenarnya yang ingin ia sampaikan. 

Film ini merupakan film pertama kolaborasi antara James Stewart dan FrankCapra.
Don’t get me wrong, I’m a big fans of James Stewart, as much as it feels rightto talk about him, tapi film ini sepenuhnya milik Lionel Barrymore. Stewart terlihat begitu terbayangi oleh Barrymore, bahkan oleh love interestnya, yang juga merupakan salah satu aktris favorit Capra, Jean Arthur. Karakter Alice adalah karakter yang lembut, cerdas, dan independen, dan ia tidak ragu untuk membantu orang lain, atau meminta tolong saat ia membutuhkan bimbingan, Jean Arthur bisa mengeluarkan aspek aspek tersebut dalam akting nya, and turns in a really good performance.

Mengesampingkan semua aspek positif tersebut dan bagaimana film ini menjadifilm terlaris Capra, serta menjadi big winner untuk Academy Awards 1938, memangfilmnya sangat entertening, tapi bagi saya sendiri, untuk film film Capra, YouCan’t Take It With you tidak berada di urutan teratas favorit saya. Untuk hal ini, It Happenned One Night dan It’s A Wonderfull Life masih menjadipemenangnya.

YouCan’t Take It With You is an extremely feel-good movie if there everwas one. It is one of those films that speaks to every and any generation, andbecause of that timelessness it will never grow old. It makes the viewer feelwarm

Wednesday, September 18, 2013

Review : Bridge To Terabithia ( 2007 )

BRIDGE TO TERABITHIA
Starring : Josh Hutcherson, Anna Sophia Robb
Writer : Jeff Stockwell, David Paterson
Director : Gabor Csupo





















Jika lemari ajaib yang mengantarkan anak anak keluarga Pevensi ke kerajaan ajaib Narnia, maka bagi Jess Aarons ( Josh Hutcherson ) dan Leslie Burke ( Annasophia Robb ), sebuah tali lah yang mengantarkan mereka ke sebuah dunia fantasi yang mereka panggil Terabithia. Mungkin kita bisa melihat hubungan pararel yang jelas antara Chronicle of Narnia nya C.S. Lewis dengan buku nya Katherine Paterson ini, yang kemudian diadaptasikan oleh anak Paterson sendiri, David, ke sebuah layar lebar. Kedua cerita ini memiliki sebuah persamaan, yaitu keduanya sama sama melibatkan dunia fantasi dan dengan para pahlawan nya yang masih muda masuk kedalamanya, dibalik kenyataan itu, kedua buku ini sama sama juga sukses bertransisi ke layar lebar.
Sang sutradara, Gabor Csupo mungkin berhasil menghadirkan aspek aspek lembut tapi memilukan dari kisah Paterson ini, tapi ketrampilan dan skill nya yang handal sebagai seniman animasi lah yang memperkaya Bridge To Terabithia dengan imajinasi yang indah.


















Seiirng usia, dan sebelum pikiran pikiran mereka diisi oleh hal hal yang nyata, anak anak cenderung menghabiskan banyak waktu mereka untuk berimajinasi dan menjalani imajinasi itu sendiri. Dalam beberapa kasus, hal itu dilalukan karena kebuthan. Dalam Bridge To Terabithia, baik Jess dan Leslie memasuki dunia Terabithia untuk mendapatkan kebebasan dan kelonggaran dari masalah yang mereka hadapi di rumah atau sekolah. Jess sendiri kesulitan untuk bergaul dengan siapapun, bahkan dengan saudara dan orang tuanya. Sebagai satu satunya anak lelaki di keluarganya, Jess merasa sulit untuk dekat dengan ayahnya, yang terlihat lebih dekat dengan kakak dan adik perempuannya, tapi terlihat tidak peka atau bersikap keras terhadap Jess, yang diam diam memiliki kerinduan untuk dekat dengan ayahnya. Jess juga kesulitan di sekolah, ia adalah korban bully teman temannya, dan ia juga seorang seniman yang berbakat, yang berusaha mencari penghiburan dalam buku buku gambarnya.

Kemudian Leslie pun muncul. Leslie merupakan anak yang memiliki pemikiran yang kreatif dan suka berpakaian ala punk, Leslie juga dikucilkan oleh teman sebaya nya karena terlihat dan berprilaku aneh, dan karena sama sama merasa sebagai outsiders di lingkungannya sendiri, baik di rumah dan sekolah, dan juga ternyata mereka tertetangga, mereka kemudian menjadi sahabat yang sangat akrab. Mereka berpetualang ke hutan terdekat, dimana Leslie menemukan sebuah tali liar tergantung diantara sungai kecil, dia pun berayun dengan tali itu ke seberang sungai, dan dari situlah imajinasi keduanya terbuka lebar, dimana mereka seperti menemukan sebuah portal menuju dunia ajaib Terabithia yang dipenuhi makhluk makhluk aneh. Leslie pun mengajak Jess dan berbagi imajinasi akan Terabithia, dimana disini kedua anak muda ini berkuasa sebagai Raja dan Ratu, berperang melawan raksasa, troll, ogre, yang mereka bayangkan sebagai perwujudan teman teman mereka yang jahat yang sering mem bully mereka di sekolah.















Bridge To Terabithia, merupakan sebuah cerita tentang persahabatan yang terisolasi. Yang mempelajari dan menguji rasa sakit yang diderita oleh anak anak seperti Jess dan Leslie, yang memiliki waktu yang sulit untuk beradaptasi di lingkungannya sendiri, dan selalu merasa terasing dan merasa tersingkirkan. Hubungan persahabatan Jess dan Leslie sangat mendalam, bahkan kadang mengisyaratkan hal hal tentang perasaan cinta dan rasa nyaman terhadap satu sama lain. Persahabatan mereka dan Terabithia merupakan sumber penting akan kenyamanan di dalam keduanya di dalam hidup mereka yang bermasalah.

Dalam Bridge to Terabithia, Csupo berhasil membawa keluar hal hal mistis dan keindahan Terabithia, seperti bagaimana Csupo memberikan nuansa berpetualang di dalam hutan yang kita sebagai penonton melihatnya sama sekali sebagai hutan biasa, tapi kita seperti dinasehatkan dan diajak untuk melihat semua itu dari kacamata imajinasi Jess dan Leslie ( terutama Leslie ).  

" Just close your eyes, but keep your mind wide open." 

Lebih dalam lagi, Bridge to Terabithia lebih mengetengahkan tentang mewakili apakah Terabithia itu, dan itulah sebabnya apa yang terjadi di dunia nyata lebih penting. Aspekinilah yang berusaha disatukan oleh Cuspo, dan dibantu oleh performa yang kuat dan baik dari Josh Hutcherson dan Anna Sophia Robb.
Baik Josh maupun Anna, sangat mampu memberikan performa yang efektif, dan memang film ini bergantung pada performa mereka, karena kita harus percaya akan persahabatan keduanya, baru bisa melihat dimana keindahan film ini, and they succeed.

















Jess yang introvert dan Leslie yang extrovert berhasil dihidupkan oleh Josh dan Anna. Kemudian para karakter pendukung yang tetap berada di belakang sampai karakter mereka maju memberikan kontribusi dalam cerita, seperti Zooey Deschanel sebagai guru mereka, Robert Patrick, sebagai ayah Jess, dan Bailee Madison yang masih sangat muda, yang memberikan performa yang sangat baik.

Walau filmnya sendiri yang bertemakan fantasi, Bridge To Terabithia tidaklah dipenuhi oleh banyak spesial efek. Mungkin beberapa teknologi CGI diperlihatkan, tapi tidak terlalu sering. Terabithia adalah dunia imajinasi,

Terabithia is a land of imagination and, for the most part, Csupo keeps it that way.

Film ini memang magical, ajaib dan penuh fantasi, tapi tidak dijalur yang sama dengan Chronicle of Narnia. Bridge To Terabithia berhasil menyentuh hati kita tanpa berusaha terlalu keras atau memaksakan unsur unsur magical nya,
Ini semua mengingatkan kita bahwa kreativitas kadang harus didorong pada anak-anak, sebuah dunia dimana mereka bisa mendapatakna perlindungan sementara, ketika warna realitas berubah abu-abu.

Bridge To Terabithia is not only one of the best family films of 2007, it's one of the finest film adaptations of children's literature.

Monday, September 16, 2013

Review : Dave ( 1993 )

DAVE 
Starring : Kevin Kline, Sigourney Weaver, Frank Langella
Writer : Gary Ross
Director : Ivan Reitman
















Bill Mitchell adalah seorang yang korup, penipu, individu yang kejam dan tidak ramah.
Dan dia juga adalah Presiden Amerika Serikat.

Kita pertama melihat Bill MItchell saat ia melangkah keluar dari helikopter kepresidenan di halaman di luar gedung putih, bergandengan tangan dengan mesra bersama First Lady sambil menuntun anjing peliharaan mereka. Baik Presiden atau First Lady sama sama tersenyum dan disambut gembira oleh staff gedung putih, pers dan fotografer.
Dan ketika pasangan tersebut memasuki gedung putih, senyuman menghilang, saling melepaskan gandengan tangan, dan tali penuntun anjing nya pun dibuang sembarangan, dan keduanya menuju ke arah berlawanan tanpa banyak bicara
Yap..itu semua hanya untuk konsumsi publik, hubungan Presiden dan First Lady pun aslinya layak anjing dan kucing yang selalu bertengkar setiap kali bertemu atau..saling mendiamkan.

Dave Kovic ( Kevin Kline ), adalah seorang pria yang ramah, ceria, riang, bersahaja, baik hati dan selalu tersenyum. Hell, he even smile and sing and dance when he's riding his bike on the way home., he's a middle-American Mr. Nice Guy haha..Dia menjalankan sebuah agen yang membantu para pengangguran mencari pekerjaan, dan ia peduli pada semua orang. Ia adalah pria yang baik yang disukai semua orang.Dave adalah kebalikan dari semua sifat sifat jelek Bill Mitchell. Tapi satu persamaan mereka, yaitu wajah yang hampir kembar identik, bahkan suara nya pun mirip.


















Kemiripan ini membuat Dave diminta oleh Secret Service untuk menjadi "duplikat" sang Presiden dalam sebuah acara tertentu. Dave pun menerima dengan senang hati, karena melihat semua itu sebagai pekerjaan terhormat. Hanya saja tiba tiba saat semuanya sudah selesai, Dave ternyata diminta kembali ke gedung putih oleh kepala staff gedung putihl yang berniat jahat untuk tetap meneruskan samarannya.

The reason why Dave had been asked to stand in for the President is not a good one

The real Bill Mitchell ternyata mengalami stroke parah, sehingga membuatnya lumpuh baik otak maupun fisiknya, saat ia sedang berhubungan sex dengan sekretarisnya. Its massive stroke has rendered him incapacitated and without hope of recovery.
Itu berarti Dave ditugaskan ( dimanipulasi ) untuk menipu seluruh rakyat Amerika and err...First Lady..

Bisa melihat dimana kisah ini akan dibawa ?
awalnya predictable sekali bagi saya, tapi since the very first 10 minutes in the beginning, i felling pretty good, and try to give it a shot, dan saya tidak menyesal sama sekali, senang malah..
The movie is more proof that it isn't what you do, it's how you do.
Duet Ivan Reithman dan Gary Ross ini berhasil menghasilkan sebuah sentuhan cerdas ke dalam sebuah film yang memang cerdas plus merupakan hiburan yang ringan dan indah.

Frank Capra must have smiled when he saw Dave, salah satu film yang menonjolkan tema tema yang menjadi favorit Capra di masa keemasannya Hollywood Golden Age, yaitu bagaimana seorang pria baik baik yang dipermainkan situasi yang jahat dengan orang orang yang licik disekelilingnya dan berusaha memanfaatkannya.

Mitchell yang asli adalah sosok yang dingin, keras, tidak ramah serta tidak bermoral. Istri nya membencinya, mereka tidur di kamar terpisah di white houise, dan yang kemungkinan akan bercerai ketika masa jabatan Mitchell habis. Disisi lain, Dave adalah sosok yang sebaliknya. Dan ketika Dave menggantikan dan menyamar menjadi Mitchell, semua orang perlahan mulai merasa perubahan terjadi dalam sosok 'Mitchell' yang sekarang. Yap, Mitchell versi Dave jauh lebih menyegarkan dan malah membuatnya lebih populer ketimbang Mitchell yang asli sebelumnya.

Reitman menambahkan sindiran politik satir yang licik, tapi yang membuat kita tersenyum adalah bagaimana Reitman mengemas hubungan Dave dengan First Lady, yang dari awal penyamarannya sudah bisa menebak bahwa ia bukan Mitchell asli, dan bagaimana perlahan First Lady malah lebih nyaman berada disamping Dave, dan bagaimana mereka ibarat sepasang remaja yang diam diam bertemu, menerobos keluar white house, dan menikmati kehadiran satu sama lain.

Baik Kline maupun Weaver sangat baik dalam memainkan karakter yang cerdas ini, dan itulah poin nya. Film ini dibangun dengan variasi halus dari plot plot ( dimana karakternya terampil menghindar ketika tersandung hal hal yang dipastikan akan terjadi kepada mereka ), tapi mereka bisa membawa kualitas tertentu dalam karakter mereka, sehingga kita sangat gampang untuk mempercayakan jalan cerita selanjutnya kepada mereka.

Sigourney Weaver juga merupakan sosok First Lady yang ideal. karakternya cerdas, bermartabat, peduli dan diatas semuanya, membuat film ini lebih menyentuh inti cerita yang dibangun dari awal, dimana kesinisan dan kebencian nya terhadap Mitchell asli ikut membantu kita melihat sosok Mitchell yang memang tidak bermoral, serta betapa berbeda nya Michell nya Dave dari sisi First Lady.

Dave memiliki pesan pesan yang menyerupai banyak film film Capra ; Jika orang yang berkuasa bisa berprilaku bijaksana dan dengan niat yang baik, maka masalah masalah kita akan terpecahkan. But of course, it's not that simple. But watching "Dave," there were moments when I found myself asking, why isn't it?


















Dave juga bukanlah film komedi ( walau saya sempat tertawa dan tersenyum di banyak scene ), dan saya juga ragu kalo film ini akan menjadi sebuah film klasik yang akan jadi perhatian nanti nya, dalam arti generasi saat ini atau bertahun mendatang akan melihat film berkembang dan menjadi film klasik yang menjadi pusat pembicaraan. Namun, tetap saja film ini menyenangkan, good-natured comedy, thanks to its stars and director, yang tidak mendorong film ini terlampau jauh dari tema gentle politic, satir dan kisah romance yang ringan.

Well, but I will continue to admire this movie and look forward to further viewings as time goes on.

Wednesday, September 11, 2013

Review : Elizabethtown ( 2005 )

ELIZABETHTOWN ( 2005 )
Starring : Orlando Bloom, Kirsten Dunst, Susan Sarandon
Written and Directed by Cameron Crowe

















  Life is not going well for Drew Baylor (Orlando Bloom) 

Dia baru saja dipecat karena merugikan perusahaannya hampir 1 milyar dollar, kemudian dicampakkan pacarnya, Hal ini membuatnya depresi dan berniat bunuh diri, tapi disaat bersamaan juga ia mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal.

Drew mendapatkan dirinya dalam situasi yang tidak nyaman, karena ibunya ( Susan Sarandon ) bukanlah orang favorit dalam  keluarga ayahnya, sehingga ibu dan kakaknya meminta Drew untuk pergi ke Elizabethtown untuk acara pemakaman ayah nya,  sambil membawa setelan jas biru favorit ayahnya untuk dipakaikan saat dikremasi. Saat berada di dalam pesawat yag hampir kosong, Drew didatangi Claire ( Kirsten Dunst ), pramugari yang ceria dan antusias yang menawarkan Drew untuk duduk di kelas pertama, supaya ia tidak usah repot bolak balik untuk melayani Drew. Personaliti Claire yang antusias dan ramah ( dan lumayan kepo ), semakin terlihat saat dia mencoba untuk mengobrol dengan Drew dan menawarkan dia peta Elizabethtown yang terkenal mempunyai rute dan struktur jalan yang membingungkan, oh dan juga plus nomor telpon Claire.

Apa yang didapatkan Drew di Elizabethtown, memberikan sebuah pergalaman personal yang sangat berarti baginya. Crowe tidak asing dengan sentimentalitas yang manja dan ia bisa dengan handal menggunakan itu semua untuk membangun sebuah cerita. Peristiwa meninggal nya ayah Drew ini menjadi sebuah lem yang merekatkan segalam macam hal yang retak dalam hidup Drew. Menjelang akhir film, kita bisa merasakan betawa sosok ayah Drew ini  seperti merupakan pengamat pasif, dan kita akan merasakan hal hal yang bisa membuat kita melihat bahwa ayah dan anak itu kembali dekat dan 'terhubung' dengan cara cara yang lain, yang belum pernah dirasakan sebelum akhirnya sang ayah meninggal.
jangan membayangkan film ini sebagai sebuah film yang menggurui, karena pada dasar nya film ini adalah menceritakan hal hal sederhana, seorang pria yang sedang berada di masa kelam dalam kehidupan pribadinya, kembali bertemu dengan saudara dan kerabat kerabat lamanya, secara tidak sengaja tertarik dengan band nyentrik sepupunya, melihat banyak keponakannya yang bahkan mungkin ia sudah lupa namanya, berkumpul di meja dapur di rumah sang nenek, sambil merencanakan acara pemakaman sang ayah dengan beberapa teman dekat ayahnya, sementara anak anak kecil berlarian sana sini sebagai latar. 

Crowe memberikan sentuhan yang halus dan terdapat beberapa realisme di dalamnya, kita bisa merasakan seakan akan kita berada disana, kembali ke rumah nenek, berkumpul dengan keluarga untuk makan malam.
Mereka adalah orang orang yang mencitai ayah Drew, dan meskipun Drew awalnya ragu ragu, canggung dan merasa sebagai outsider, tapi tanpa sengaja ia ikut terhanyut dengan suasana kekeluargaan itu, dan merasa nyaman di dalamnya.

There’s a real sense of security and safety there that cuts right through a lot of life’s bullshit to the stuff that really matters.
Pertanyaan pertama yang muncul dalam hati  ketika menonton film ini adalah " can Orlando Bloom act ?"
Bloom mampu memainkan Legolas, elf tampan yang  minim tutur kata di Lord of the Rings. Di Pirates of the Carribbean, dia adalah protagonis yang sopan ( terkadang kaku ), dan berbakat memainkan pedangnya. Tapi sejauh ini kita jarang melihat penampilan Bloom yang bisa memberikan identitas aktor watak kepadanya.

Dalam Elizabethtown, dia adalah fokus utama di film ini, sekaligus menjadi engsel yang menggerak kan hampir seluruh jalan cerita. Dia juga menjadi seorang Amerika, yang berarti dia harus bisa mempunyai aksen Amerika yang meyakinkan ( Bloom adalah aktor kelahiran Inggris ).

Bloom isn’t just good as Drew Baylor, he is at times fantastic. Personally, ini adalah kejutan buat saya melihat Bloom seperti ini. Drew disini bukanlah karakter yang banyak bicara ( kecuali melalui narasi, yang juga merupakan inner-talk dalam dirinya ), sebaliknya, Crowe menggunakan permainan teknik ekspresi wajah dari Drew untuk membuat dirinya tampak seperti orang yang berjalan menuju dunia lain, karakter yang lebih dinamis yang menemukan dirinya sendiri ternyata bisa bereaksi dan berubah karena dunia lain itu.


Kemudian Claire ( Kirsten Dunst ), she's such a sweet girl in here, a lil bit annoying with his non-stop talking ability about everything, but she's a nice girl that just want to save Drew's life while he's in Elizabethtown haha..

Yap, Claire seakan ditakdirkan untuk menyelamatkan hidup Drew, dengan berusaha menjauhkan niat bunuh diri Drew ( di awal film ), dengan mengalihkan perhatiannya dengan segala macam topik random talk yang bisa diciptakan Claire tanpa banyak pikir. Oh tak lupa juga, ia bersikeras bahwa Drew jatuh hati kepadanya haha..

relax..she's not crazy desperate woman. Hubungan mereka yang terbagun lewat banyaknya obrolan lewat telepon memberikan sentuhan yang manis ( still not as good as Richard Linklater's Before Midnight though ), mengobrol hal hal random berjam jam hingga subuh dan hingga akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu dan ( lanjut ) mengobrol sambil memandang matahari terbit dari atas bukit.  such a awww..moment haha..

Elizabethtown merupakan film ke enam Cameron Crowe yang dikerjakan dengan label ganda, Sutradara sekaligus penulis naskahnya.  Fans akan terhibur melihat Crowe kembali ke zona yang akrab dengan, lengkap denga nuansa drama yang penuh perasaan plus percikan komedi halus, yang buat saya sendiri memberikan nuansa yang hangat, ringan , dan menghibur.

Elizabethtown juga merupakan film yang personal bagi Crowe ( seperti banyak film filmnya yang lain ). Ayah Crowe sendiri meninggal belasan tahun yang lalu. Absen nya figur Ayah menjadi tema dalam film ini, atau figur ayah yang mempunyai arti penting atau berpengaruh dalam hidup sang karakter utama, seperti di Say
Anything, Almost Famous dan We Bought A Zoo, dan Elizabethtown sendiri mungkin terinspirasikan dari hasil berkunjungnya Crowe  ke tempat kelahiran ayahnya di Kentucky, dimana ia sendiri tidak pernah mengunjungi lagi tempat tersebut sejak kematian ayahnya.

Elizabethtown, mungkin tidak seindah, sebagus atau lebih keren dari Almost Famous. 
But it is sweet and good-hearted and has some real laughs. There’s a magic in it somewhere, the kind that lifts you up and carries you right along with it. It sounds damn cheesy to say it, but Elizabethtown is life-affirming, the sort of film that leaves you thinking about your own future.

Thursday, September 5, 2013

Review : Easter Parade ( 1948 )

EASTER PARADE ( 1948 )
Starring : Fred Astaire, Judy Garland, Peter Lawford
Writters : Frances Goodric, Albert Hackett
Director : Charles Walters

 



















Seberapa banyak kita mengenal film film hebat musikal populer selain Singin' in The Rain, The Sound of Music, Westside Story, An American in Paris, Marry Poppins, Moulin Rouge atau Chicago ?
Saya sendiri ? Tidak terlalu banyak. 
Tapi sekarang, saya menambahkan satu ke dalam daftar saya, Easter Parade ( 1948 )

Dari apa yang sudah saya baca di berbagai sumber di internet, dari penghujung tahun 1920an sampai tahun 1940an, Studio MGM sedang menguasai Hollywood. MGM memproduksi lebih dari 50 film dalam setahun, dan mungkin MGM lah yang memulai " The Studio System", dimana The Studio "menguasai dan memiliki" para aktor, sutradara, penulis naskah, costume designer, kameramen, bahkan mungkin memiliki sendiri peternakan termasuk kuda kuda nya untuk keperluan syuting, Menggaji mereka semua dengan sistem gaji perminggu, sementara para petinggi nya memutuskan film film yang akan para crew cast mereka kerjakan ( atau tidak ), kemudian mengatur dan mengotak atik cara promosi akan film film tersebut lengkap dengan rencana publicity untuk para aktor nya, supaya 'selera' pasar bisa terpuaskan.  

Setelah Perang Dunia 2 selesai, celah retak mulai terlihat dalam MGM ( Metro-Goldwyn-Mayer). Selera pasar masyarakan Amerika akan film mulai berubah, dan lebih menginginkan film film yang "keras" dan real, daripada film film Louis. B. Mayer yang ringan, bijak, bahkan kadang lucu dan konyol.  Dan ini semua seperti ibarat kapal yang mulai bocor karena kelebihan muatan, dan untuk tidak tenggelam secara perlahan, MGM mulai memangkas 'muatan' nya, dan dimulai dari memutuskan atau tidak memperpanjang kontrak lagi dengan bintang bintang yang " mulai bosan dengan sistem studio" yang terkenal stabil tersebut, dan juga bintang bintang besar dengan gaji gaji yang luar biasa mahal, seperti Clark Gable, Greta Garbo, dan Norma Shearer.

Tapi ditengah semua itu, Mayer mempunyai ide, penonton Amerika masih mencintai musical. dan selama 20 tahun menguasai Hollywood, MGM telah memproduksi banyak yang terbaik di genre ini. Jadi kenapa tidak memperbanyak jumlah film film musical yang diharapkan bisa kembali menstabilkan kekuatan MGM di Hollywood ?
Jadi dengan visi seperti itu, MGM mulai menarik talenta talenta baru dan bersinar seperti Gene Kelly dan Frank Sinatra untuk bergabung dengan mereka. Kemudian bergabung juga, the studio's hardest-working (and most successful) song-and-dance stars: Judy Garland and Fred Astaire, the stars of 1948's Easter Parade.



















Dalam Easter Parade, Don Hewes ( Astaire ), adalah seorang penyanyi dan dance star panggun broadway. Dia jatuh cinta dengan partner dance nya, Nadine Hale ( Ann Miller ). Di awal film , kita melihat Don dengan ceria membelikan topi untuk Nadine kenakan dalam acara tahunan Easter Parade. Saat Don sampai ke apartment, Nadine memberitahukan Don bahwa ia tidak akan bekerja bersama Don lagi dalam tour yang sudah direncakanan Don ( dan terikat kontrak ), karena Nadine pun ternyata sudah menandatangani kontrak lain di panggung yang berbeda.
Karena terluka merasa dikhianati, Don berkata pada Nadine bahwa dia bukanlah satu satu nya dancer di bisnis ini dan dia bisa mengajari dan mengajak siaapun untuk menjadi partner nya, dan akan membuatnya lebih terkenal darinya.

Bertemu tanpa sengaja dengan Hannah Brown ( Judy Garland ), seorang gadis penari klub amatir yang polos dan ceria, Don yang sedang emosi dengan Nadine langsung mengajak Hannah untuk menjadi partnernya. Hannah tidak menyia nyiakannya dan langsung berhenti bekerja di klub demi Don, bagaimanapun Don adalah bintang terkenal. Tapi kesokannya DOn menyesali ajakannya tersebut dan berharap Hannah tidak datang ke tempat pertemuan mereka. Dan ketika Don mengetahui Hannah yang sudah berhenti bekerja demi menjadi partner nya, Don layaknya seorang gentleman saat itu, tidak menarik ucapannya, dan tetap bertekad bekerja sama dengan Hannah.

Kesalahan pertama yang dibuat Don, sekaligus menjadi mentor Hannah, adalah dia berusaha membentuk Hannah menjadi versi lain dari Nadine. Sialnya bagi mereka, Hannah bukan Nadine, dan show pertama mereka rusak dan gagal. Sementara itu, Don mulai menyadari kesalahannya, dan mulai "membongkar ulang" gaya panggung mereka, berbekal kekuatan utama Hannah, yaitu suaranya yang indah dan powerfull, Don mulai meramu kembali gaya panggung mereka, dan ternyata kombinasi baru ini sukses luar biasa.
Semuanya mulai rumit, ketika teman DOn, Johnny ( Peter Lawford ), jatuh cinta denagn Hannah, dan Hannah sendiri menyukai Don, dan Don sendiri..., masih terlihat menyukai Nadine.
But hey !. this is no tragic opera, it's an MGM musical. Things are bound to work out in the end.

The real stars of Easter Parade are its stars, and for different reasons.

Fred Astaire bukanlah penyanyi luar biasa, tapi dia adalah raja dalam menari. Saat Astaire menari, saya sendiri seakan otomatis lupa dan tidak terlalu memperhatiikan apa saja yang salah dengan filmnya sendiri, with any film. Bahkan Gene Kelly sendiri mengakui, bahwa semua yang dia ketahui soal tarian, adalah dari Fred Astaire.
Sampai hari ini, saya belum melihat  siapapun yang bisa menari seanggun dan semudah seperti Fred Astaire, Setiap tap-dancer lainnya ( termasuk Gene Kelly ) pernah terlihat penuh perjuangan melalui gerakan gerakan sulit, sementara Fred dengan ringan menunjukkan kepada mereka , seolah-olah mengatakan, " Look, it's no big deal, I'm just enjoying myself." Wow!

Astaire sendiri sebenarnya adalah last minutes choice, karena sebenarnya Gene Kelly lah yang akan membintangi film ini, tapi batal karena cedera mendadak, sedangkan di kursi sutradaar sendiri, Charles Walter adalah pengganti dari Vicente Minelli, yang saat itu adalah suami Judy Garland, tapi batal, karena Judy Garland tidak menginginkan mereka bekerja sama ( karena psikiatris Judy Garland mengatakan tak baik untuk pasangan suami istri ini bekerja dalam film yang sama !! )

Judy Garland di lain pihak, dia juga bukanlah penari yang luar biasa, tapi dalam bernyanyi dan menafsirkan lagu, tidak ada yang bisa seperti dirinya. Tapi sayang, dia malah lebih sering dikaitkan dengan banyak hal yang kurang baik untuk image nya sendiri. seperti pernikahannya yang 4 kali gagal, pertikaian nya dengan MGM yang terbuka di depan publik, kecanduan alkohol, dan yang paling menyedihkan adalah meninggalnya ia di usia yang masih muda, 47 tahun. Publik banyak yang tahu ia lewat The Wizard of Oz sebagai Dorothy. 

Tapi menonton Easter Parade, dan mendengarkan kemampuannya yang luar biasa untuk membungkus suaranya baik dalam sukacita bahagia dan duka dalam lagu yang sama (dan sering dalam kalimat yang sama), kita akan  melihat mengapa Garland adalah money-maker terbesar MGM, dan untuk begitu lama. Dan salah satu alasan utama mengapa Easter Parade begitu sukses.

Oh tak lupa juga, personal credit untuk Jules Munshin yang menjadi Headwaiter Fran├žois di restoran yang sering didatangi baik Don, Hannah atau Johnny. Damn !! Awalnya saya bertanya tanya, kenapa teman saya seperti terpikat dengan karakter figuran ini, dan saya ketika menontonnya sendiri, saya melihat alasan yang kuat untuk hal itu.
Untuk durasi penampilan yang cukup singkat, sungguh Jules Munshin menjadi salah satu scene stealer di film ini. haha.. 

Tapi apa yang benar-benar membuat film ini menyenangkan kerja sama yang solid dari  pasangan sekali once in a lifetime dari Fred Astaire dan Judy Garland. Astaire mempesona, dan Judy Garland benar-benar bersinar .
Untuk Holiday movie, Film ini berada diantara yang terbaik, berisikan banyak semangat, mudah dicerna, dan menyenangkan.

Easter Parade berhasil menjadi salah satu film tersukses untuk baik Judy Garland atau Fred Astaire, dan juga menjadi salah satu film musical tersukses secara finansial untuk MGM di tahun 1948. Filmnya sendiri menang Academy Awards untuk Best Original Music Score.
Easter Parade is a wonderful movie, made memorable by the amazing choreography, music, and the chemistry between the actors who play in it — all true masters of their craft.



Wednesday, September 4, 2013

Things That "Friends" Taught Us About Life

 Aside from the lyrics to “I’ll Be There For You…”

 

















So no one told you life was gonna be this way 
Your job's a joke, you're broke, your love life's DOA
It's like you're always stuck in second gear
When it hasn't been your day, your week, your month, or even your year

but..
I'll be there for you
When the rain starts to pour
I'll be there for you
Like I've been there before
I'll be there for you
'Cuz you're there for me too...


 *****

1. How to get out of things














2. The best pick-up line
















3. The worst pick-up line





 

 

 

 

4. How to avoid confrontation










5. How to tell someone they’re your soulmate












6. You’ll have an occasional bad day.














7. How to justify the occasional drinking binge



















8. Saying goodbye can hurt.



















9. Fun facts about cartoons



















10. Dating protocol
















11. How guests prepare for a wedding





12. Don’t let a man do your makeup.




13. How grooms prepare for a wedding
















14. How to relax





















15. How to feel once you graduate from college
















16. Incorrect dating protocol


















17. How to decorate your living room




















18. How to deal with intruders




19. How to get out of things on Thanksgiving




20. What to do when you’re unemployed


















21. It’s okay to be miserable.





22. The surefire way to apologize



















23. Things change.














24. How to get revenge

























25. How to help a friend in need


















26. It’s important to exercise.






27. There’s more to life than money.


















28. When in doubt, move to Yemen ;)



29.  "We were on a break" was never an excuse
















And of course… that some friendships last forever.