Tuesday, November 26, 2013

Review : 12 Years A Slave

12 Years A Slave

Starring : Chiwetel Ejiofor, Michael Fassbender, Benedict Cumberbatch, Lupita Nyong'O, Sarah Paulson
Writers: John Ridley (screenplay), Solomon Northup (based on "Twelve Years a Slave" by)
Director : Steve McQueen
















Sebuah film horor bisa menjadi sangat mengerikan, menakutkan, atau cenderung depresif dan bisa membuat penonton kehilangan selera menonton itu sendiri ( kecuali, tentu saja untuk para die-hard fans yang sangat mencintai hal hal ekstrim tersebut ). Sebuah film yang baik dapat membuat sebuah hal yang gelap menjadi begitu baiknya sehingga menjadi tidak menyenangkan untuk menonton.

and "12 Years A Slave" is like that.

Karya Solomon Northup, Twelve Years A Slave, dipublikasikan tahun 1853, adalah sebuah karya yang keras dan mencekik hati dengan semua cerita mengerikan yang bisa terbayangkan terjadi pada seorang pria biasa.
Di Tahun1841, sepasang seniman pertunjukkan keliling mengajak Solomon (Chiwetel Ejiofor) untuk meninggalkan keluarga nya dan bekerja sama dengan mereka dalam sebuah pertunjukkan di Saratoga Springs, New York, dengan janji janji bahwa ia akan sangat cepat mendapatkan uang jika bekerja bersama mereka dengan keahliannya bermain violin. Ajakan manis itu berubah kesialan yang mengerikan, ketika  Solomon terbangun keesokkan harinya dan menyadari bahwa dirinya telah ditipu, diculik dan dijual sebagai budak keWashington, DC
















Mulai dari situ Solomon dengan cepat belajar bahwa bersikeras dengan identitas aslinya akan membuat nya lebih keras dipukuli, berbicara lebih banyak akan membuatnya dicambuk, atau jika membuat orang lain tau kalau ia bisa membaca dan menulis, mungkin akan membuatnya dibunuh. Majikan pertamanya, Mr. Ford ( Benedict Cumberbatch ) adalah seorang yang baik, terhormat dan taat pada agamanya, yang cukup manusiawi memperlakukan para budak budak nya. Namun majikan nya yang lain, Mr. Epps ( Michael Fassbender ), adalah seorang alkoholik dan psychopath.“ Dia dikenal sebagai ‘nigger-breaker”” tulis Northup. Epps melihat para budaknya yang berkulit hitam tidak sebagai manusia, but as…mere live property,no better, except in value than his mule or dog”.

Steve McQueen, sutradara yang berada dibalik adaptasi film ini, memiliki sebuah keahlian ; ia suka membingkai sebuah hal ekstremis dalam diri seseorang dari kamera nya - mati kelaparan dalam Hunger, shaming himself sexually in shame, dan sekarang disiksa oleh monster monster berkulit putih. Shot shot kamera nya tajam dan high-toned, terasa mistis dan menyiksa dalam kebekuan yang kering. McQueen seperti berusaha menciptakan efek claustrophobia, secara fisik atau mental. Gambar gambar yang dishoot McQueen memiliki kekuatan yang cukup besar, dan saya mungkin akan menonton film-filmnya dengan kurang waspada jika saya pikir dia sedang mencari sesuatu yang lebih dari reaksi tokoh-tokohnya  dari sebuah degradasi ekstrim seperti di Hunger atau hal yang menyiksa batin dan personal di Shame.
Dalam hal ini, setidaknya, ia telah menemukan sebuah lingkungan di mana perasaan terjebak seperti itu tidak harus ada dalam setiap frame.




















Mr. McQueen adalah seorang sutradara British yang berani membuat transisi yang kasar dan drastis dalam kedua film besarnya, "HUnger" dan "Shame" yang keduanya terasa dibalsem oleh McQueen untuk mempromosikan dirinya dan memetakan dirinya dalam jajaran Sutradara menjanjikan. Dan untuk "12 Years A Slave", dengan kontrasnya Mr. McQueen sekali lagi, dengan drastis nya, bertransisi dari gaya art cinema untuk membuat sesuatu yang lebih dekat dengan naratif yang klasik, dalam film ini, penekanannya bukan pada gaya visual tetapi pada Solomon dan jelas nya keinginannya untuk bebas.

Kemudian dari  Ejiofor sebagai Solomon Northop. TIdak ada yang ambivalen dari karakter Solomon. Ejiofor sendiri memiliki sosok wajah yang lembut, kind and inviting face,  dan dia memainkan karakternya sedari awal dengan cemerlang, mulai dari sosok seorang warga biasa terhormat yang sopan menjadi seorang pria yang tertegun melihat kaki dan tangannya dirantai, dan tidak percaya dengan bencana yang terjadi padanya. Tidak lama setelah Solomon diculik, ia duduk meringkuk bersama dua tahanan lainnya pada sebauh perahu. Seorang diantara mereka menegaskan bahwa mereka harus melawan kru kapal tersebut supaya bebas. Tapi yang lainnya tidak setuju. " survival is not about certain death, but its about keeping your head down dan not making a scene" kata yang satunya. Duduk diantara mereka, Solomon yang menggelengkan kepala tidak setuju akan keduanya. Beberapa hari sebelumnya, ia masih bersama keluarganya di rumah, dan sekarang kedua teman seperjalanannya itu seakan mengatakan padanya bahwa semua itu sudah hilang. Bagi Solomon, bertahan hidup saja tidak cukup. Ia ingin hidup. " I want to live". He's amazing.

 

Kemudian ada Mr. Ford yang baik yang dimainkan oleh Benedict Cumberbatch, yang sayangnya, baru akan mulai bersinar dengan karakter Ford yang baik hati nya itu, tapi kemudian terhenti tengah jalan ketika perasaan takut dan was was itu kembali ke status quo ketika Mr. Epps beralih menjadi majikan Solomon. Hidup Solomon langsung berubah mengerikan ketika ia sampai ke rumah Mr. Epps yang mengerikan dan istri gorgon nya yang tak kalah aneh dan psycopath, Mrs. Epss ( Sarah Paulson ), yang terobsesi untuk menyiksa Patsey ( Lupita Nyong'o ), budak wanita kesayangan Mr. Epps, bahkan ia bisa memukul dan melempari Patsey dengan sorot wajah datar seakan hal itu hal yang sangat wajar.

Selain Chiwetel Ejiofor, masih ada Michael Fassbender yang mengundang decak kagum. Fassbender memberikan penampilan yang cemerlang sebagi Epps - dengan cara nya sendiri. Kau akan menahan napas ketika ia memasuki ruangan. Dia adalah seorang predator yang pada saat ramah nya, kau akan mengijinkannya bercanda dengan anak, nenek dan orang tuamu. Fassbender tidak salah lagi, akan menjadi wujud sempurna dari karakter Richard III atau Macbeth - atau bahkan werewolf. Ia menampilkan kegilaan yang tidak biasa dari Mr. Epps yang freak, dan terobsesi dengan "pesta" dansa tengah malam yang ia peruntukkan untuk budak budak nya. Dan kemudian begitu menikmati pertunjukan dansa yang dihiasi wajah wajah murung ketakutan tersebut. Walau tidak sesakit Caligula, Epps cukup membuat bulu kuduk merinding dengan kegilaannya, dan sekali lagi - with his own way.
Kemudian Sarah Paulson sebagai Mrs. Epps, paulson juga ternyata melakukan hal yang menarik, Mrs. Epps seperti berusaha memasang topek baik di wajahnya, tapi ia lebih sering teracuni oleh kecemburuannya yang tinggi terhadap Patsey. 

















"12 Years A Slave" bukanlah film yang menyenangkan, bahkan bisa saya kualifikasikan menjadi film horror.  Kekejaman yang dilakukan terhadap para budak di film ini bahkan tidak jauh berbeda dalam karakter dari penyiksaan seksual mengerikan di "Saw." Dan tentu saja, ini lebih menjadi meresahkan ketika mengetahui ini adalah kisah nyata. Ini adalah sebuah film yang panjang dan dibuat dengan baik, dan menjadi tes yang melelahkan untuk penonton dengan unsur unsur horror nya yang berbeda tersebut. 

Mungkin saja itu intinya, yaitu supaya kita menjadi kebal terhadap kebiadaban di layar tv atau mungkin inilah satu satunya cara untuk memahami mengapa perbuatan mengerikan yang seperti ini bisa begitu luas  di era perbudakan ini terjadi. Ada bahaya besar bagi sebuah peradaban yang tumbuh dari sebuah adat dan kebiasaan yang mati rasa seperti itu. 

Film ini mungkin menimbulkan banyak implikasi. Seperti memecut kebohongan yang banyak terlihat di film film hollywood klasik, dimana budak budak menari gembira di tengah perkebunan.
Lebih kritis lagi, itu seperti mendorong masa lalu perbudakan, rasisme yang kelam tersebut dan berlama lama di dalam sebuah cahaya yang terang seperti untuk diperiksa, diperhatikan dan dipertunjukkan ke masyarakat saat ini, seperti inilah cermin perbudakana dimasa tersebut.

"12 Years a Slave" harus hadir di Academy Awards 2014. Layak nominasi untuk Best Picture, Best Actor, Best Supporting Actor and Actress, and adapted screenplay. It is, however, the best and most important film of 2013.

****
12 Years A Slave / 2013 / Steve MacQueen


Sunday, November 17, 2013

Review : Efter Brylluppet ( 2006 )

Efter Brylluppet (After the Wedding)

Starring : Mads Mikkelsen, Rolf Lassgård , Sidse Babett Knudsen , Stine Fischer Christensen
Written By: Susanne Bier, Anders Thomas Jensen
Directed By : Susanne Bier














Walau lahir dan dibesarkan di Denmark, Jacob ( Mads Mikkelsen ) mempunyai hidup lain di India, dimana ia membangun kehidupan yang simpel, sederhana dan membaktikan hidupnya sebagai pekerja sosial di sebuah rumah yatim piatu di Bombay, India, dimana ia juga mengajar, merawat dan menjadi orang tua asuh bagi anak anak terlantar ini.
Walau Jacob bukan orang yang terlalu terlena akan uang, mencari bantuan dana ( raising funds ) untuk rumah asuh yang diurusnya adalah menjadi kewajibannya, saat itulah ia mengetahui, bahwa Jørgan (Rolf Lassgård), seorang jutawan dari negara asalnya, ingin mendonasikan jumlah uang yang sangat besar kepada Jacob, tapi dengan syarat, Jacob harus bertemu langsung dengan dirinya. Jacob pun terpaksa harus kembali ke negara nya mengurus hal ini.
Ketika sampai di Denmark, Jørgan bersikeras agar Jacob juga ikut menghadiri pesta pernikahan putrinya, Anna ( Stine Fischer Christensen )  , dan di pesta pernikahan itu, Jacob mengetahui kalau istri Jørgan, Helene ( Sidse Babett Knudsen ) adalah mantan kekasihnya di masa lalu, dan mulai muncul nya kemungkinan bahwa Jacob adalah ayah kandung Anna. Dan masih ada Jørgan, yang mempunyai rencana tersendiri dibalik donasi yang ingin diberikannya kepada Jacob. 


















Dijamin, premis yang seperti ini bisa menjadi  sebuah awal cerita yang sangat menarik, bernuansa drama bergaya opera sabun yang membuat kita familiar, namun penulis sekaligus sutradaranya, Susanne Bier, bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang khusus serta  mendalam dengan studi karakter yang baik dan memasukkan unsur drama yang unik dari sebuah keluarga yang sedang berada dalam krisis .

Basically, film ini menceritakan kepada kita, bahwa sekalipun, sebuah keluarga yang saling dekat, menyayangi dan normal, pasti ada bagian yang dirangkai oleh jaringan jaringan rahasia, yang selama ini berusaha ditutupi, dan film ini pun memberikan progress yang baik tentang bagaimana rahasia rahasia itu terbuka, dan bagaimana mereka berusaha untuk memperbaikinya dari apa yang tersisa.

Tapi ketika kebohongan dan kebenaran yang ditutupi tersebut berhasil disingkirkan dari keluarga ini, apa yang terjadi bukanlah sebuah kekosongan atau munculnya kepentingan lain, tetapi semua semangat dan kekuatan yang well..maybe will makes you proud to be human.
Berbicara perasaan, film ini memberikan sebuah perjalanan yang emosional ( mungkin kalian akan memikirkan hal hal dari film ini berhari hari kemudian seperti saya ), dan buat saya itu sangat memuaskan, hal hal yang saya inginkan dari sebuah film drama, dan pada saat yang sama, tidak ada momen momen palsu yang bisa saja mengacaukan drama ini, semua terasa dalam porsi yang tepat dan tidak mengada ngada.

Selain itu, setiap adegan memberikan sentuhan ironi, dengan semua karakter yang tampak sempurna, dengan narasi perlahan yang mengungkap jati diri masing masing karakter yang terlihat sempurna tadi. Sepertinya, sang sutradara, Susanne Bier berhasil memoles namanya lewat film ini.
Mikkelsen mungkin akan selalu diingat sebagai penjahat Le Chiffre yang berlumuran darah di salah satu film James Bond nya Daniel Craig. Ia memiliki wajah yang terkesan seperti dipahat, keras dan terlihat garang. Dan Mikkelsen sendiri memberikan penampilan nya yang sangat apik dalam film ini sebagai Jacob, akting yang keren dan penuh dengan emosi emosi yang terpancar dari raut wajahnya.

Knudsen yang menjadi Helene, istri Jørgan, Anda akan merasa kenal dengan wanita wanita sepertinya, merasa dekat dan familiar, dan mungkin akan memahami kesalahannya, dan bersimpati dengan pilihannya.

Kemudian masih ada Rolf Lassgård yang menjadi Jørgan, yang merupakan seorang pria yang bersemangat dan penuh dengan rencana rencana, yang ikut menopang film ini dari awal hingga akhir, Jørgan adalah seorang pria yang bisa mempunyai kepercayaan diri yang tinggi, sekaligus menghasihani diri sendiri, yang terpaksa bertindak berani untuk memanipulasi banyak hal untuk menjaga orang orang yang disayanginya.
Dan pada akhirnya, Jørgan melambangkan banyak tema dalam film ini, ketidakmampuan individu saat ia tidak berdaya walaupun ia kaya sekalipun dan bagaimana uang tiu mempunyai nilai abadi dalam hidup beberapa orang.

After the Wedding, adalah sebuah drama yang kuat bernuansa soap-opera nya, bisa memainkan emosi penonton serta berisikan hal hal tak terduga dan rahasia yang membuat kita terkejut. Dan semuanya terjadi tepat ketika pasangan pengantin mengatakan " I do ", sesuai judulnya, After the Wedding, yang juga mewakili makna perjalanan Jacob dengan masa lalu nya yang kembali berhadapan dengannya.
Sutradara Susanne Blier dengan co-writer nya, Anders Jensen telah mengembangkan sebuah cerita yang komplek, pararel, berisikan pengkhianatan, intrik, simbol simbol dan banyak metafora.

Dinding di mansion milik Jørgan yang penuh dengan piala-piala, trophy ( yang sering dishoot lama lama ), kemudian di luar di halaman, terdapat kebun yang indah dengan kawanan rusa merumput tanpa gangguan. Hidup dan mati, sebuah hubungan yang masih hidup dan terjalin dengan yang sudah mati, nilai nilai yang bertentangan, kebenaran dan kebohongan, masa lalu dan masa depan, semua itu Kembali tercermin dalam gambar ini.

Kemudian tema lainnya yang menarik dari film ini adalah, apa yang lebih penting untuk sebuah sebab, orang nya atau uang nya ?. Ketika Jacob menolak untuk kembali ke Denmark, dan bersikeras ia ingin tetap di Mumbai, ketua rumah yatim memberikan pandangan yang jelas kepada Jacob, tanpa uang tersebut, tempat mereka akan tutup, karena kekurangan pendanaan. Dan ketika Jacob akhirnya mengetahui seluk beluk rahasia dari keluarga Jørgan
dan istrinya ( mantan kekasih Jacob ), yang sangat melibatkan dirinya, reaksi Jacob adalah personal dan keras, yang tentu saja bisa membahayakan rumah yatim nya di India kehilangan donasi. At one point another character puts the question directly to jacob " Think how many you could help ? won't you sell yourself for that ? "

***