Tuesday, December 10, 2013

Review : Frances Ha ( 2013 )

FRANCES HA
Starring : Greta Gerwig, Mickey Romney
Written by : Greta Gerwig and Noah Baumbach
Director : Noah Baumbach

" i'm not a real person yet " - Frances
















Cukup banyak film film yang bergantung terhadap bisa atau tidaknya kita terpesona dalam penampilan cemerlang baik itu aktris atau aktor utamanya, dan hal itu tidak sulit terpikirkan dalam Frances Ha. Bergaya mirip ala era French New Wave, difilmkan dalam hitam dan putih yang telah diproses secara digital menjadi kaya dalam nuansa berbayang nya, and somehow, sangat terasa nuansa nostalgia - Frances Ha, menceritakan tentang seorang perempuan dan kehidupannya di New York saat ia mencoba untuk berdamai dengan fakta bahwa ia sudah berusia 27 tahun dan sudah saat nya untuk menata hidupnya.

Frances Ha dirilis pertama kali saat Toronto Film Festival tahun ini, beberapa petikan obrolan yang saya tangkap dari teman saya yang sudah menontonnya, dan ketika saya bertanya film seperti apakah ini ? mereka hanya bisa menjabarkan nya menjadi " tentang seorang perempuan muda yang mencoba menata hidupnya di New York, kelihatannya sederhana dan remeh banget, but i promise it's good."
Setelah selesainya era Sex and The City dan The Girls, ditambah lagi dengan lumayan banyaknya film film tentang pencarian jati diri seperti ini di banyak film indie, rasanya memang sulit untuk berusaha menjelaskan keistimewaan yang super spesial dari film yang dipuja banyak kritikus tahun ini, its like Frances Ha just another addition to the genre. Bahkan bisa saja jika mendengar garis besar cerita film ini, para penonton screening di TIFF 2013 tersebut mungkin  sudah 'rolling their eyes' terlebih dahulu.
Dan tentu saja mereka salah, Frances Ha is not just another addition to the genre. Frances Ha justru tampil keluar menjadi permata diantara banyak film yang bertema sejenis.













 Meet Frances, seorang wanita yang secara penuh menyadari karakter nya yang unik, aneh, egois dan kadang bahkan kurang tau malu, yang dibawakan oleh Greta Gerwig, yang juga ikut menulis naskah film ini bersama sang sutradara, Noah Baumbach. Frances bersusah payah bertahan hidup di New York dengan meniti karier nya sebagai seorang dancer, dan sial nya, karier nya jalan ditempat dan tidak menunjukkan kemajuan. Pertama kali bertemu kita bertemu Frances, ia mempunyai pacar yang ingin agar dia tinggal serumah dengan nya dan memelihara kucing bersama. Tapi tak disangka, mereka malah berpisah.

Frances sangat bahagia tinggal dengan sahabat baiknya, Sophie ( Mickey Sumner ). Sophie adalah tipe wanita serius yang tau kapan waktunya bersenang senang, dan waktunya serius dengan hidupnya. Mereka bersenang senang, bercanda dan menghabiskan waktu bersama. Frances bahkan bergurau dan mengatakan pada orang lain, bahwa mereka basically adalah orang yang sama dengan rambut yang berbeda. Mereka seperti pasangan kekasih tanpa hubungan seksual haha.., dan itu benar. Mereka mesra dalam bersahabat.
Tapi kemudian semua itu mulai berubah ketika Sophie mempunyai pacar dan mulai serius, dan seperti hal yang ditakuti Frances, bahwa, Sophie pun mulai move on dengan hidupnya.












Well, you can tell..
bahwa Frances mungkin seperti tipe orang yang gampang membuat frustasi orang orang disektiarnya. Penuh spontanitas dan lelucon lelucon yang tidak masuk akal, suka bercanda yang tidak pantas di tengah jamuan makan, bersikeras untuk mentraktir kenalannya ( yang sesungguhnya tidak sanggup ia bayar ), dan yang terutama, Frances terlalu bergantung pada sahabatnya. Frances bisa saja menjadi mimpi buruk untuk sebuah film yang lain, bahkan mungkin di dalam film film Baumbach yang lain. Tapi selain hal itu, Frances juga dipenuhi banyak sifat menyenangkan lainnya, seperti semangat nya yang tinggi untuk setiap hal, ramah dan supel, lebih cerdas dari yang sesungguhnya ia ijinkan perlihatkan, dan yang terutama, Frances bersedia untuk berusaha dan mencoba menjadi dewasa dan berubah, - dua hal yang selama  ini ia hindari.

Jika kau menyukai Greta Gerwig, ini akan menjadi momen dimana kau akan memuja film ini sepanjang tahun, after all, this is Gerwig best performance, and she's pretty irresistible, dengan sosoknya yang tinggi, canggung, banyak bicara, dan selalu mengeluarkan lelucon lelucon yang kadang tidak nyambung, dan terutama Gerwig sangat bisa membuat karakter Frances yang terlihat awkward, tapi memiliki keterbukaan yang jujur, dan tentu saja, sering bersikap konyol. Saya sangat menyukai salah satu scene dimana Frances berlari lari di jalan, memakai ransel dan sambil menari sesekali, cute !.
Dan juga salah satu scene, dimana setelah kunjungan pas Natal di rumah orang tuanya di Sacramento berakhir, Frances membalikkan badannya dan menuju ke airport, wajahnya sangat penuh emosi  It's feels real, not like acting at all. In fact, orang tua Frances di film ini, juga dimainkan oleh orang tua asli Greta Gerwig
....
Bahkan lewat film ini, kita bisa melihat betapa film nya sendiri mencintai Gerwig dan karakter Frances nya. In fact ( again ! ), actually, it's the director Noah Baumbach. Baumbach dan Gerwig memang pasangan kekasih diluar film, mereka sudah berkencan sejak tahun 2011. Such a sweet ! haha..
Frances Ha bahkan bagai sebuah surat cinta Baumbach yang dipertontonkannya ke publik, sebuah surat cinta yang sama sama diapresiasi Gerwig dengan baik, lewat penampilannya yang sama bagus nya dengan arahan Baumbach sebagai sutradara untuknya. That's why, its funnily and cute enough for me.

Akhir akhir ini, Saya sepertinya jarang melihat film film bagus yang menceritakan tentang persahabatan antara sesama perempuan ( when was the last ? Bridesmaids ?? ). Frances Ha adalah film indie yang sangat charming, yang dishoot dalam balutan warna hitam dan putih yang indah. Ini adalah kisah cinta antara Frances dan Sophie, dan terasa jujur dan nyata. Honestly, seberapa banyak dari kita yang merasa stuck dengan hidup dan karier, sementara sahabat kita sudah melaju kencang, hal ini juga seperti menuntut kita untuk "stop bitching on everything, get real and move on !"
Saat kita memasuki umur 20an, kita seperti dihadapkan pada dua pilihan seperti Frances dan Sophie.
Its like, kita dihadapkan pada final version of us. Apakah seperti Sophie yang sedang bekerja dan berusaha membentuk fondasi utuh di kehidupan dewasa nya, atau seperti Frances, yang seperti terjebak dengan masa masa "gila" nya yang semua serba santai, nyaman dan serba spontan, tanpa perlu memikirkan hari esok.

You will love Gerwig for this, If you’ve not seen her in a film before, you will walk out of ‘Frances Ha’ having watched your new favourite actress. hihi..me did.
Frances Ha – both the movie and its heroine – is graceful, awkward, luminous and hilarious. It is a film that gives us a female central character living on her own terms, and it's remarkable how refreshing, even rare, this feels. 
One of the best film this year.

****

Review : Jagten ( 2012 )

Jagten ( The Hunt )
Starring: Mads Mikkelsen, Thomas Bo Larsen, Annika Wedderkopp
Directed by: Thomas Vinterberg













Ada semacam kesadaran yang menghantam saya ketika menonton film dari Denmark ini, Jagten ( The Hunt ), disamping fakta bahwa Mads Mikkelsen sangat bagus disini, dan gadis kecil berambut pirang di film ini, tak disangka ternyata menjadi ancaman yang sangat besar untuk Mads Mikkelsen.
Yaitu perkataan yang membawa celaka.
Kata-kata bisa menginspirasi - atau menghasut - atau menjadi cermin dari sebuah perilaku yang mencengangkan. Dan ketika kata-kata tersebut ditujukan untuk seseorang, entah itu benar atau tidak, hal itu bisa berkembang menjadi hal yang biadab dan barbarik.
Atau setidaknya, itulah realitas yang disajikan di film ini, dimana seorang pria baik baik, Lucas ( Mads Mikkelsen ), yang juga merupakan guru TK, yang terperangkap dalam gelombang cemooh masyarakat karena akibat dari sebuah perkataan seorang gadis kecil, dengan tuduhan pelecehan seksual, lebih tepatnya pedofilia.
Mengerikan !

Klara ( Annika Wedderkopp ), seorang gadis kecil yang cantik dan menggemaskan. Ketika pertama kita mengenalnya, dia sedang berkeliaran seorang diri di tengah tengah kota. Kemudian kita bertemu Lucas ( Mads Mikkelsen ), yang merupakan guru TK Klara dan juga sahabat baik ayah Klara, Theo. Lucas pun mengantarkan Klara yang tersesat tersebut. That's it, nothing happens.
Tapi Vinterberg kemudian dengan sukses mengubah tempo dan arah cerita ke sebuah jaringan yang terbentuk dari sisi sisi protektif para orang dewasa akan anak anak, dimana di masa masa sekarang, seorang anak yang berdiri sendiri selalu secara langsung dilihat sebagai korban.





















Walaupun nantinya Klara menyangkal semua perkataannya, tidak begitu dengan para orang dewasa disekitarnya.
Dan seperti fenomena, anak anak lainnya, tiba tiba juga mengaku menjadi korban pelecehan Lucas, para orang tua kemudian bersatu dan melaporkan Lucas ke polisi sebagai seorang predator mengerikan yang membujuk anak anak mereka ke basement rumahnya ( yang sebenarnya tidak pernah ada ) dan melakukan perbuatan tercela. Tanpa bukti yang kuat yang menyudutkannya, Lucas dibebaskan, tapi perlakuan yang diterima nya dari warga kota nya malah semakin memburuk dan membuat hidupnya dalam bahaya.

Untuk beberapa lama,walaupun sepanjang durasi film, kita diperlihatkan sisi jujur dari Lucas dan tidak ada nya perbuatan pelecehan tersebut, saya masih saja merasa was was, dan prasangka - karena sebuah film bisa saja mempunyai twist twist mengejutkan yang awalnya dilapisi kebohongan kebohongan yang begitu meyakinkan.
Walau akhirnya saya baru benar benar yakin bahwa Lucas tidak pernah melakukannya - disaat itulah dunia Lucas mulai runtuh dengan perlakuan tidak adil yang diterima nya sejak saat itu dari siapa saja.

Tentu saja hal ini menyiksa hati saya yang menontonnya, tidak ada yang lebih mengundang rasa simpati dimana saat ada seseorang yang menderita karena tuduhan perbuatan yang tidak pernah diperbuat nya. Apalagi kemudian hal itu berlanjut ketika melihat teman teman mu, keluarga, dan semua kenalan mu berbalik memusuhi mu, seperti rasa sakit yang susah dijelaskan

Kemudian hal lainnya, Kenapa kita selalu melihat anak anak sebagai korban utama ?
Menurut Vinterberg, hal itu karena kepolosan anak anak selalu membuat kita bisa melihat sisi iblis diantara kita, bahkan di dalam kita sendiri, dan kita sangat membencinya. kita seperti sedang mencari simbol untuk disalibkan tanpa pernah mengakui partisipasi kita sendiri.
Prestasi terbesar Vinterberg adalah bagaimana cara dia secara diam-diam memberikan "batu" ke tangan kita, dan membiarkan kita diam perlahan merasakan teksture dan beratnya, dan mengetahui kemampuan mematikannya jika kita melemparkan batu itu ke orang bersalah.
Sepotong drama moral yang  dirangkai dan dipoles dengan cemerlang dan indah oleh Mads Mikkelsen.





















Mikkelsen terkenal sebagai aktor yang mempunyai paras kokoh dan dingin, walau selama ini ia lebih dikenal publik barat sebagai musuh terbaik dalam franchise James Bond, dan kembali menakut nakuti penonton sebagai versi muda Dr. Hannibal Lecter. Mikkelsen sangat menarik disini, ia membawa karakter Lucas bisa disukai, tidak hanya karena hubungan harmonis nya dengan sahabatnya dan orang orang di komunitas kotanya, tapi juga dengan bagaimana ia tetap berusaha mempertahankan martabat nya di sepanjang film, bahkan ketika situasi semakin memburuk dan ia semakin dimusuhi semua kenalannya.
Lucas adalah seorang pria yang dipersalahkan atas tuduhan yang harusnya tidak pernah ada, dan Lucas menangani hal tersebut dengan rasional dan bermartabat. Saya separoh tegang dan kesal dengan situasi tersebut, ingin rasanya membuat Lucas berdiri di tengah tengah alun alun kota dan memproklamirkan pembelaan dan kebenaran dirinya. Apalagi dengan melihat perlakuan diskriminatif terhadap dirinya, ia berhak memperoleh kesempatan seperti itu. 

Thats why - di salah satu adegan kunci - saat Lucas sedang berbelanja di supermarket, dan ia ditolak belanja disana oleh tukang daging dan manajer nya, bahkan ia dipukul babak belur dan dilempar keluar saat ia menolak dan bersikeras dengan hak nya untuk berbelanja disitu, dengan wajah bersimbah darah, Lucas kembali masuk dan memukul tukang daging tersebut dan sang manajer akhirnya menyerah dan mengembalikan belanjaannya.

Terdapat sebuah kepuasan terhadap Lucas dengan kejadian tersebut. Dan kemudian berlanjut ke adegan puncak nya saat Lucas mengkonfrontir Theo di depan banyak orang saat sedang misa malam natal di gereja. Kau akan mendapatakan akting dari seorang Mads Mikkelsen yang begitu keren di adegan ini.

Mikkelsen memenangkan Best Actor saat Cannes FIlm Festival 2012 dari film ini. That ain’t no small thing and you see why it was deserved by his turn in this film