Thursday, December 25, 2014

One Chance ( 2013 )


Starring : James Corden, Alexandra Roach, Julie Walters, Mackenzie Crook, Colm Meaney
Writer : Justin Zackman
Director : David Frankel



Anda harus benar-benar sinis dan berhati keras jika tidak akan bahkan sedikit pun terkesan oleh "One Chance."
Jika kau pernah melihat video populer audisi nya Paul Potts ( 1st Britain's Got Tallent's Winner ) di Youtube yang viewers nya mencapai lebih dari 140 jutaan, mungkin kau juga pernah bertanya tanya, seperti yang lain. " Dari mana pria chubby yang menyanyikan lagu opera terkenal Nessun Dorma dari Puccini, dengan suara yang indah dan menggetarkan ini berasal ?"
Anda dapat melihat pertanyaan itu dalam ekspresi terkesima itu dari ketiga juri di talent show tersebut, Piers Morgan, Amanda Holden dan terutama Simon Cowell - yang tidak berharap banyak pada Potts, salesman ponsel dari Welsh, yang bertubuh gemuk, dan jelas sekali demam panggung.

Pertanyaan ini terjawab dalam " Once Chance ". Sebuah drama menyenangkan yang mendramatisasi jalan terjal Paul Potts menuju ketenaran dan keberuntungan, yang dibuat lebih menarik daripada fakta yang ada, yang dimainkan oleh James Corden sebagai Paul Potts. Memerankan seorang tokoh protagonis pecinta lagu lagu opera, dengan campuran pesona yang menonjolkan pesona dirinya akan kemampuan nya bernyanyi


oke, film ini memiliki formula murni yang  tanpa malu-malu memberikan gelar feel-good movie dengan sentimentalitas yang sama .
Bahkan jika sebelumnya anda belum pernah mendengar nama terkenal Paul Potts, anda akan tahu persis dimana film ini akan menuju pada akhirnya.
Ini adalah film komedi Inggris yang sudah sebelumnya pernah akrab untuk kita lewat The Full Monty, Billy Elliot ataupun LIttle Voice. Dengan latar masyarakan british kelas pekerja menengah, supporting karakter yang eksentrik dan humor humor yang mencela diri sendiri, serta ending yang menggembirakan.

Dengan porsi sebagian rom-com dan sebagian cinderfella, film yang menjadikan Simon Cowell sebagai producer nya ini, tidak memberikan puncak yang dramatis. Dengan klimaks nya lebih ke audisi legendaris Potts di Britain's Got Talent 2007.
Dimulai dari kisah masa kecil Potts yang sulit di kota kecil di Welsh, dengan ayah seorang pekerja pabrik dan berkarakter keras, serta seorang ibu ( Julie Walters ) penyayang dan selalu mendukung Paul kecil dengan minatnya bermusik di genre opera. Sehari hari ia rutin dibully oleh temannya hingga ia dewasa, lebih karena perawakannya yang chubby dan kutu buku, serta selera musiknya yang tidak lazim.


Ketika dewasa, Potts masih tinggal bersama orang tuanya ( hal ini sering disindir oleh ayahnya ), sehari hari ia bekerja di toko ponsel.
Braddon ( Mackenzie Crook ) yang berpenampilan aneh dan sering bersikap kasar dan kurang ajar, adalah bos sekaligus teman Potts satu satunya.
Lewat Braddon lah, akhirnya Potts berani mengejar perempuan yang selama ini hanya dikenal dan saling flirting di dunia maya, Julz ( Alexandra Roach ), seorang perempuan cantik dan pemalu, yang bekerja sebagai kasir toko obat di kota seberang, yang akhirnya nanti menjadi istrinya. Mulai dari Kisah kencan pertama mereka yang tidak sempurna ( Potts memberikan senter sebagai pengganti bunga kepada Julz ), hingga perjuangan mereka untuk bersama di berbagai masa masa sulit.

Walau ceritanya terdengar familiar, aktor aktor di film ini berhasil mengubah banyak hal yang akhirnya menjadi formula film ini menjadi menyenangkan dan asik ditonton.
Mengambil judul dari album debut Potts, "One Chance" terhitung berhasil, dengan suara Corden sebagai narasi, kisah "opera" kehidupan Potts .
Namun meskipun terselipkan banyak humor dan drama kehidupan - kisah sukses Potts ini juga diisi beberapa keadaan darurat medis, termasuk gendang telinga yang pecah, kanker tiroid dan kecelakaan mobil yang dialami Potts, belum lagi kekacauan yang terjadi pada Potts di depan Luciano ( a fantasy-dream come true ) Pavarotti saat ia sedang belajar musik di Venice.

Tidak sulit untuk melihat ke mana arah tujuan Once Chance, bahkan jika anda sama sekali tidak mengenal Paul Potts dan keberhasilan nya di ajang talent show sukses tersebut.
But it's also not hard to come away with a goosebumpy tingle and a smile. Feel-good stories feel good for a reason, and this one is practically operatic.

***
One Chance ( 2013 )
A Film by David Frankel







Tuesday, December 16, 2014

The Secret Life of Walter Mitty ( 2013 )

Starring : Ben Stiller, Kristen Wigg, Sean Penn, Adam Scott, Shirley McClaine
Writer : Steve Conrad
Director : Ben Stiller



The Secret Life of Walter Mitty

Ceritanya tak jauh dari kisah kisah pencarian jati diri, dalam hal ini, Walter Mitty, karyawan LIFE magazine yang sudah berkutat dengan rutinitas harian kantor selama 16 tahun bekerja disitu. Berganti nya pemilik LIFE magazine dan perubahan konsep menjadi majalah digital, membuat banyak karyawan terancam diberhentikan, tapi tidak sebelum dirilis issue terakhir dari LIFE magazine, yang memutuskan untuk memakai foto dari fotografer ternama ( Sean Penn ) menjadi cover terakhirnya. Hilangnya negatif film dari foto yang akan dipakai tersebut membuat Mitty memutuskan untuk mencari Sean, yang selama ini tidak bisa dihubungi dan selalu berkeliling dunia tanpa bisa dilacak. Pencarian tersebut membawa Mitty, yang seumur hidupnya paling jauh hanya pernah ke Phoenix - Arizona, menuju ke belahan dunia lain, di Greenland dan Islandia.

Perjalanan Mitty ini sebenarnya lebih merupakan pencarian jati dirinya yaitu melalui pengalaman pengalaman excitement yang bisa didapat dari sebuah perjalanan. Ayah Mitty meninggal ketika ia masih remaja, yang berarti memaksa dia bekerja untuk menopang keluarganya, dan sejak itu ia tenggelam dalam dirinya sendiri dan menjadi begitu takut bahwa ia akan berhenti menikmati hidupnya. Ransel travelling yang dihadiahkan ayahnya masih tetap kosong, sebuah representasi nyata dari sebuah hasrat yang tidak terpenuhi serta hidup yang tidak memuaskan dirinya.

 Ben Stiller, yang tidak hanya menjadi bintang utama tetapi juga sutradara di film ini, memahami bahwa pelajaran moral bisa didapat dalam konteks cerita itu sendiri. Dia membiarkan kita melihat rasa sakit yang dirasakan Mitty atas kehilangan ayahnya dan fakta bahwa dia sadar jika kesedihan atas kehilangan tersebut menyebabkan ia kehialngan lebih banyak dalam hidup. Tapi kita diperbolehkan untuk tersenyum melalui rasa sakit itu dan fokus pada titik yang lebih besar yang tidak pernah terlalu terlambat untuk kesempatan kedua.

Setelah membuat film seperti Little Fockers atau Night At The Museum, banyak yang telah menempatkan Ben Stiller dengan satu kelas bersama Adam Sandler, mencemooh nya sebagai hacker yang telah merusak tatanan film mainstream. Well, i can't tell that they're all true, that all may be very true about Ben Stiller, the actor. Tetapi, Ben Stiller, the director, masih memiliki trik trik tersendiri. Banyak orang yang tampaknya lupa bahwa Ben Stiller juga telah membuat film film yang bagus. The Cable Guy ( 1996 ) adalah film yang tak berguna di box office dan banyak kembali melihatnya sebagai karya brilian dari prediksi budaya pop subversif. Zoolander ( 2001 ) adalah sebuah karya komedi jenius, dan Tropic Thunder ( 2008 ) memiliki kemampuan luar biasa untuk menusuk paham paham benar secara politis.
No matter how I look at “The Secret Life of Walter Mitty,” I love it.
Tampilan film ini menarik, dengan palet warna yang dirancang untuk berubah bersama perubahan karakter Mitty, serta pemandangan dari petualangan yang dialami Walter dalam pencarian dirinya, sungguh indah dan mengagumkan.

Ada banyak film-film yang mengeksplorasi tema tentang kehilangan orang tua dan hilangnya masa kanak-kanak yang polos, dan tentang kebutuhan untuk tidak merasa takut menikmati hidup, bukan membiarkannya menjadi hanya serangkaian peristiwa yang terjadi hingga akhirnya menjadi kenangan.
Cerita nya sendiri menginspirasi, tapi untuk alasan yang berbeda. Tidak hanya menceritakan tentang pemimpi yang menyedihkan, tapi tentang seorang pria yang secara terkekang secara fisik, tapi pikirannya terbuka selebar mungkin. Ketika ia dikonfrontasi dengan pilihan apa yang bisa ia lakukan dengan hidupnya, he does something about it. Godaan untuk membuat film tentang tidak lebih dari seorang pria melamun ditolak, dan itulah yang memungkinkan film ini untuk menjadi sebuah film yang menantang penonton untuk mengejar mimpi.
Yes, that’s a corny message, but I’ve learned in my life that the corny cliches are often true in the pursuit of real happiness.

Seperti film Marc Forster "Stranger Than Fiction" hampir sepuluh tahun yang lalu, "The Secret Life of Walter Mitty" juga sama caranya dalam menangani beberapa masalah dengan "membengkokkan" realita untuk tetap membuat penonton mereka menebak nebak. Film Ini mungkin tidak akan menjadi game changer dalam hidup anda atau film terdalam yang pernah dibuat, tapi "The Secret Life of Walter Mitty" adalah salah satu film yang menarik untuk melihat, dan tidak ada yang salah dengan feel-good movie yang membuat Anda merasa baik tentang menyukainya.


Kristen Wiig disini mendapat kesempatan langka untuk memainkan karakter wanita biasa, tetapi memiliki  momen hebat di Mitty. Dia dan Stiller berbagi chemistry yang bagus yang ternyata membantu beberapa adegan mereka saat bersama. Adam Scott memberikan performance yang stand-out dan lucu setiap kali dia muncul.
Tapi ini akhirnya adalah cerita Ben Stiller , naik atau turunya, suka atau tidaknya penonton pada film ini akan tergantung padanya. Dan pada hal ini, film ini berhasil. Film ini berhasil mengelola serta menyeimbangkan kepribadian seorang pria yang telah menyerah pada dirinya sendiri tapi dengan martabat dalam hatinya dan juga refleksi yang menghindarkan nya menjadi seorang yang klise, seorang yang secara ajaib berhasil mengatasi ketakutannya ketika lamunan lamunannya menjadi kenyataan.
Lamunan lamunannya disini bukanlah refleksi kelemahannya, tetapi merupakan sebuah fakta bahwa dia masih "alive on the inside" dan diperlukan keberanian dan iman dalam dirinya lagi, sebagian dengan cara menghadapi dan mengakui  betapa besar efek yang dialaminya dari kehilangan ayahnya di masa remaja nya, telah memperngaruhi dirinya dan keluarganya.

The Secret Life of Walter Mitty menyediakan tawa tawa yang menyenangkan, tetapi juga mengajak kita berpikir tentang kehidupan dan bagaimana cara kita memilih untuk hidup di dalamnya. Dirilis hampir setahun yang lalu, dengan lumayan banyak unsur petualangan yang  menyenangkan, serta humor dan sentimen sentimen positif telah membuat film ini begitu menghibur.

If you’re looking for a holiday season movie that’s different from the rest of the pack, this is definitely a film to see. 

****

The Secret Life of Walter Mitty ( 2013 )
A Film by Ben Stiller


Sunday, December 7, 2014

Movie Review : Interstellar ( 2014 )

INTERSTELLAR
Starring : Matthew McConaughey, Anne Hathaway, Jessica Chastain, Cassey Affleck, Mackenzie Foy
Writer : Jonathan Nolan
Director : Christopher Nolan



Interstellar adalah sebuah film yang ingin mengajak kita berpikir serta merupakan sebuah film yang  dibuat sepenuh hati oleh Nolan Brothers.
Interstellar juga merupakan film yang sulit bagi saya untuk diberikan nilai rating. Film ini ambisius, di filmkan dengan indah, akting yang menawan, dan seperti banyak film film Nolan, film ini seakan meminta penonton untuk berpikir ketika mereka dibawa hanyut ke dalam sebuah perjalanan yang memikat.
Dibandingkan dengan kebanyakan film di luar sana, Interstellar benar-benar top-notch dan tidak boleh dilewatkan, Tapi jika dibandingkan dengan film film Nolan yang lain, seperti The Dark Night, Inception dan The Prestige, saya tidak yakin jika Interstellar memiliki dampak yang sama.

"Do not gentle into that good night, old age should burn and rave at close of day, rage, rage against the dying of the light"

Sepenggal puisi klasik Dylan Thomas, yang digunakan di film ini, juga merupakan tema sentral untuk Interstellar.
Ketika film dimulai, bumi dikondisikan sedang sekarat, badai pasir dimana mana, menderita akibat populasi yang membludak, kurangnya sumber daya, pemerintahan yang bangkrut dan banyak tanaman bahan pangan yang rusak.
Cooper, adalah seorang astronot yang kemudian menjadi petani, yang sambil berjuang membesarkan kedua anaknya. Ketika sebuah peristiwa terjadi, kemudian memaksa dia untuk kembali  menjadi pilot di pesawat ruang angkasa yang akan menuju ke sistem tata surya yang jauh untuk mencoba menyelamatkan seluruh umat manusia, mencari tempat baru yang bisa dihuni. 


Interstellar adalah epic science fiction sekaligus sebuah drama keluarga yang menyentuh. Berakar mendalam pada teori fisika Kip Throne dan pendahulunya, dan yang berhubungan dengan relativitas, teori teori rumit tentang waktu, dan hubungannya dengan gravitasi, dan teori tentang masa depan di jagad raya, sekaligus menyajikan drama menarik, dan petualangan luar angkasa yang memuaskan. Kekurangan dari semuanya itu justru datang dari lingkup nya yang epik dan upaya upaya lain dalam usaha menempatkan segala aspek di film ini untuk melebihi apa yang pernah kita lihat sebelumnya.

Interstellar, pada intinya, adalah tentang pertempuran setiap umat manusia antara melakukan apa yang benar untuk orang orang terdekatnya, dan melakukan apa yang benar, juga untuk seluruh umat manusia. Sementara berusaha membenamkan penonton dalam teori teori ilmiah dan petualangan di luar angkasa, Interstellar juga menunjukkan arti pentingnya sebuah keluarga dan cinta.

Seperti yang diduga, penyutradaraan Nolan di film ini masterful, dengan semua aspek menyatu menjadi satu, dengan tujuan yang sama dan kepekaan artistik. And the restult is breathtakingly beautifull. Setiap shot shot direncanakan dengan hati hati untuk menekankan mood dan perasaan dalam adegan itu sendiri. Nolan sepertinya banyak terinspirasi dari baik 2001:A Space Oddyssey atau Gravity, dan melakukan pekerjaannya dengan baik untuk mengambarkan kesepian di luar angkasa sana.


Matthew McConaughey yang menjadi ayah sekaligus astronot, dengan mudah bisa dikatakan merupakan bintang utama film ini, penampilannya yang luar biasa. Dia menampilkan berbagai emosi yang mungkin hanya sedikit aktor yang ada  bisa mampu melakukannya.
Matthew merupakan aktor yang solid dan mampu membuat saya begitu terfokus dengan ceritanya. Mengingat dekatnya film ini dengan waktu musim film film yang mengincar Oscar, tak ada salahnya jika banyak yang melihat Interstellar juga mengincar event tersebut, semua ini tergantung juga pada film film apa saja yang akan keluar selama musim Oscar nanti, dan saya tidak terkejut bila akan melihat McCougnaughey mendapatkan nominasi akting untuk Interstellar, meskipun saya ragu dengan kemampuannya akan menang kali ini, apalagi jika muncul banyak film yang akan menghalanginya menjadi satu satunya fokus.

Dengan banyaknya mixed review dan love-hate feeling untuk film ini, secara personal, saya sendiri sangat menyukai film ini, bahkan saya berani memberikan gelar film ini sebagai one of the best this year.
Ambisi dari seorang Christopher Nolan yang menghadirkan sebuah kisah yang kental dengan teori teori ilmiah dalam luasnya jagad raya, serta tak lupa memasukkan unsur drama keluarga yang keduanya mempunyai resiko masing masing.


Untuk beberapa orang, mungkin aspek drama di film ini dirasa overplayed dan klise, serta mengurangi fokus cerita dari aspek action space-adventure nya sendiri, dan untuk beberapa orang pula, malah aspek drama ini merupakan salah satu titik daya jual terbesar.
Ada penonton yang puas dengan teori teori ilmiah, serta memuaskan naluri petualangan mereka, tapi ada juga penonton di sisi ini yang menyukai kisah tentang seorang ayah yang sangat mencintai anaknya, secara literally, melampaui ruang dan waktu.

I don't know where to begin. Nolan terlah memeras otaknya sepanjang karier film nya, tapi dia telah mencapai level baru dengan Interstellar.
Seperti kebanyakan film Nolan (terutama Inception) orang dapat melihat kemungkinan plot hole di sana-sini. Namun, jauh lebih menyenangkan untuk duduk kembali dan mengagumi pemandangan dan tersesat dalam visual mendalam dan cerita yang juga mendalam. Imajinasi yang diperlukan untuk menyutradarai film ini dan menulis skenarionya  adalah di luar jangkauan pikiran saya, serta dibungkus dengan akting yang sangat baik juga.
This movie is one of a kind.

****

Interstellar ( 2014 )
A Film by Christopher Nolan

 



Thursday, November 27, 2014

Movie Review : The Imitation Games ( 2014 )

 The Imitation Games
Starring : Benedict Cumberbatch, Keira Knigtley, Matthew Goode, Mark Strong
Writer : Graham Moore
Director : Morten Tyldum






















" are you paying attention ?"
tanya seseorang yang berlogat khas british khas, yang menjadi penanda mulainya biopik dari era Perang Dunia ke 2 yang sophisticated dari sutradara Morten Tyldum, The Imitation Games.
Suara itu milik seorang jenius pemecah sandi dan ahli matematika, Alan Turing, yang menjadi subjek megah dalam skenario Graham Moore ( yang diadaptasi dari buku Andrew Hodges yang berjudul Alan Turing ; The Enigma ), yang bersiap siap untuk menceritakan kisahnya yang sangat rahasia di awal tahun 1950an.

Siapapun yang sudah lelah dengan kisah kisah biopik, terutama tentang seorang jenius atau tentang figur terkenal dalam sejarah, bisa agak santai, karena The Imitation Games bisa merubah elemen element yang melelahkan dan  berlebihan menjadi prestasi yang sangat mengasyikkan dan menghibur. The Imitation Games unggul dalam memoles ceritanya, sebuah keahlian sinematik mudah diremehkan saat ini, dan sama sekali bukan kejutan jika The Imitation Games segera maju bergabung dengan film film terbaik tahun ini. Dari Benedict Cumberbatch yang sukses menonjolkan sisi humanity dari Alan Turing dengan begitu mendalam hingga saat saat yang memperlihatkan si jenius aneh yang melekat dalam diri Turing tidak pernah membuatnya terlihat menjadi seseorang yang sombong atau menyebalkan.



Diperankan oleh Cumberbatch, sang matematikawan Inggris, Alan Turing, adalah seorang pria yang sudah mempunyai takdir tersendiri. Sangat brillian, kemungkinan Autis dan pastinya menyukai sesama jenis, Turing dibebankan dengan tugas negara yang berat dan membuat dia dibenci banyak orang, baik karena kejeniusannya ataupun karena iri dengki terhadapnya dan hal lainnya.

Awalnya, Turing dipanggil ke kantor polisi untuk ditanyai, dan menceritakan kisahnya kepada seorang polisi ( Rory Kinnear ), yang memiliki minat terhadapnya, tak lain karena nihilnya dokumentasi mengenai seorang Alan Turing. Dan dari sana kita memiliki tiga naratif cerita yang membangun kisah Alan Turing, mulai dari bagaimana ia bisa memimpin tim yang berisikan orang orang jenius, dalam misi mereka memecahkan kode enigma Nazi Jerman, yang bisa membantu mereka mempersingkat Perang Dunia ke 2.
Turing kemudian dengan cepat tidak disukai teman teman sekantornya ( salah satunya yang dimainkan oleh si kharismatik Matthew Goode ), yang secara kompak terganggu dengan sifat Turing yang arogan dan susah dimengerti, serta kecerdasannya yang intense dan ide untuk proto-computer yang menurutnya bisa memecahkan masalah mereka. Hanya Joan Clarke (  for Keira Knightley ) yang bisa mengerti dan menghormati perspektif luarnya.

Filmnya dimulai di tahun 1952, tapi kemudian flash back ke tahun 1938, dimana Turing ditugaskan untuk memecahkan kode enigma rahasia Jerman. Dengan kode kode yang berubah setiap harinya, sangat mustahil untuk menemukan jawaban jawaban diantara puluhan juta kemungkinan.
Tragis, nantinya Turing malah dihukum oleh pemerintah Inggris karena homoseksualitas, dan dengan jahat memakai terapi mengerikan sebagai 'obat', yang kemudian akhirnya menyebabkan ia bunuh diri.


Cumberbatch yang bisa mengkhususkan diri dalam menjadi karakter seorang yang jenius , dan tidak ada yang meragukan keahliannya dan empati dalam dirinya untuk Turing. Tapi ada sebuah self-awarness untuk penggambaran karakter nya ini yang sebelumnya pernah absen dari penampilan Cumberbatch sebelumnya. Ketika kita melihatnya sebagai Sherlock Holmes, kita hanya melihat sosok detektif besar nan cerdik dan jenius yang sepertinya dibawakan Benny dengan mudah. Disini, kita melihat Benedict Cumberbatch bekerja sangat keras untuk menjadi Alan Turing.

Konon katanya, ada sebuah rumus yang khas untuk membuat sebuah film yang bisa dilirik Oscar, dan The Imitation Games mengikutinya dengan obsesif. Apalagi dengan seorang Benedict Cumberbatch yang sangat berkomitmen dalam memimpin gerbong akting di film ini dan seorang produser yang sangat hafal dengan selera para juri Academy, Harvey Weinstein, yang menjadi komandan kampanye film ini, dipoles sedemikian rupa, film biografi yang memilukan ini sangat mungkin bisa menuai kesuksesan, karena terlihat jelas betapa keras usaha mereka.

Demikian pula, Tyldum dan penulis skenario Graham Moore yang tampaknya menggunakan metode yang disetujui selera juri Oscar seperti di The King's Speech, yang straightforward dan tidak bertele tele. Tapi kisah Turing ini aslinya luar biasa berantakan. Pengkhianatan memilukan dan ironi atas keberadaannya sendiri ; orang yang menyelamatkan negaranya dan akhirnya dikhianati oleh negara nya juga sendiri, seharusnya pantas dihargai dan tidak hanya sekadar kata kata basi , deserve more than well-meant platitudes.


Film ini, juga menerima banyak kritikan panas karena kurang nya porsi yang menunjukkan identitas Turing sebagai gay. After all, negara yang ia layani telah membunuhnya karena mereka menolak dan mengutuk homoseksualitas. Jadi, kenapa tidak bisa lebih berani lagi untuk memperlihatkan identitas nya tersebut?.
Tentu saja hal ini bisa dimengerti, tapi dalam The Imitation Games, hal tersebut tidak sepenuhnya relevan dengan apa yang ingin disampaikan dalam film ini, yaitu hal yang lebih melekat dalam diri Turing, tentang tidak hanya mendefiniskan dirinya sebagai seorang gay dan orientasi seksualnya, tapi lebih ke kerja dan kontribusinya yang besar dan tak tertandingi dalam sejarah.
 Disini, Alan Turing adalah seorang ahli matematika, pemecah kode, dan pahlawan perang, dan juga gay. Film ini sama sekali tidak mencoba menutupi identitas orientasi seksualnya, dan sebaliknya, memastikan anda bisa merasakan rasa sakit yang tajam untuk kehidupan Alan Turing yang luar biasa tersebut. Rasa sakit itu akan terus mengikuti dan meninggalkan tanda abadi, mengetahui bahwa hak hak gay mungkin telah melalui banyak perjalanan panjang, tapi masih ada jutaan mil lagi yang harus dilalui, terutama ketika Ratu Inggris hanya meminta maaf atas perlakuan Inggris terhadap Turing di tahun 2013 kemarin.

Untungnya, Tyldum dan Cumberbatch telah memberikan semangat dan kasih sayang dan ketulusan di film ini untuk memberikan kita kesempatan untuk mengetahui dan mengenal sebuah kisah hidup yang luar biasa dari seorang Alan Turing. 
*****
The Imitation Games ( 2014 )
A Film by Morten Tyldum

Tuesday, November 18, 2014

Movie Review : The Impossible ( 2012 )

The Impossible
Starring : Naomi Watts, Ewan McGregor, Tom Holland
Writer : Sergio G. Sanchez
Director : Juan Antonio Bayona


Lebih dari 250,000 orang meninggal di bencana Tsunami yang menerpa Asia Tenggara sehari setelah hari Natal di tahun 2004 dulu. Sekaligus merupakan bencana alam terbesar nomor 4 dalam beberapa ratus tahun terakhir ini. Seperempat juta cerita berakhir tragis di hari itu,belum lagi yang lain yang tak terhitung jumlahnya yang berakhir bertahan hidup tapi terluka, jatuh miskin, hingga patah hati karena kehilangan orang orang yang dicintai.
Tugas membuat film tentang tsunami yang bagus serta memiliki taste yang baik tampaknya sangat sulit. Anda harus menghormati para korban dan menghindari kesan telah memanfaatkan tragedi yang dialami mereka, yang berarti cerita Anda ceritakan itu mungkin perlu menjadi salah satu yang benar, real story. Tetapi pada saat yang sama, penonton menginginkan film yang memuaskan dan penuh kemenangan, dimana setidaknya ada satu karakter utama yang bertahan hidup. Sayangnya kisah seperti itu di tengah bencana hebat sangat jarang ada atau bahkan tidak ada.

In other words, "The Impossible" is an excellent title for this harrowing film.
Disutradarai dengan sensivitas yang tinggi oleh Juan Antonio Bayona. Film ini menceritakan kisah berdasarkan fakta tentang orang-orang yang mencapai sesuatu yang terdengar mustahil, impossible, dan Bayona melakukannya dengan cara yang tidak mengurangi sakitnya tragedi yang dialami mereka yang tidak seberuntung karakter di film ini. Meskipun beberapa karakter di film yang kita tonton ini luar biasa diberkati, mereka selalu menyadari betapa beruntungnya mereka, dan dengan demikian, kita juga bisa ikut bersukacita dengan kegembiraan mereka, saat masih berkabung bagi mereka yang kehilangan.


Tokoh tokoh nyata yang memiliki pengalaman ini adalah wisatawan dari Spanyol, fakta yang awalnya membuat saya berhenti sejenak.
Mengapa tidak menceritakan kisah inspirati dari beberapa orang lokal - you know, orang-orang yang kehilangan rumah dan komunitas mereka, bukannya orang lain, pengusaha yang kehilangan aset dan kekayaan mereka. well, i don't have an answer for that.
Untuk film ini, keluarga yang diceritakan adalah warga negara Inggris, dengan Naomi Watts dan Ewan McGregor berperan sebagai orang tua.

Karakter yang diperankan oleh Watts dan McGregor yaitu Maria dan Henry, sedang berada di sebuah resor kelas atas di Thailand  untuk liburan dengan anak-anak mereka, Lucas (Tom Holland), Thomas (Samuel Joslin), dan Simon (Oaklee Pendergast), di antaranya yang paling tua, Lucas, adalah berumur baru sekitar 13. Tsunami menerjang mereka tanpa ada peringatan terlebih dahulu, sama seperti kita yang menonton, kita langsung terhentak terkejut langsung pada awal film.

 Melihat satu keluarga ini dan sesama turis lainnya yang sebelum detik terjadi Tsunami, masih beraktivitas santai seperti biasa. Ketika bencana tiba, hal itu terjadi dan dilakukan dengan cepat, dan Bayona tidak membuatnya berlebihan atau mengubahnya menjadi sebuah petualangan. Menggunakan miniatur, model, dan tangki air sebanyak mungkin dan CGI sesedikit mungkin, ia memberikan gambaran akan tsunami nyata yang memiliki kekuatan dan ketakutan yang sama dan realistis. Dibuat lebih dramatis dengan adanya satu karakter yang diikuti, yaitu Maria, yang sudut pandangnya dipakai Bayona ketika dia terperangkap di dalam tumpahan air, dilemparkan ke batu dan puing puing, dan hampir putus asa untuk berjuang bernapas sambil berusaha mencari cari keluarganya.



Kemudian kita tetap bersama Maria dan Lucas untuk sementara, dan sama sekali tidak mengetahui nasib Henry dan kedua anaknya yang lebih kecil ( Maria dan Lucas mengira mereka sudah meninggal. Kita tahu tak mungkin Ewan McGregor dipakai Bayona hanya untuk menenggelamkannya di awal film, dan tidak memunculkannya lagi, anggap saja awalnya kita mengira hanya sang ayah yang bertahan hidup ).

Dengan Maria yang terluka parah, anak dan ibu ini secara cepat berusaha beradaptasi dengan keadaan yang masih chaos tersebut, dengan Lucas yang menjadi pengambil keputusan sambil mereka menunggu pertolongan. Tom Holland yang berumur 15 tahun telah memberikan performa yang sangat baik, autentik dan dewasa. Tapi ia tetaplah anak kecil yang ketakutan, yang masih perlu diajari oelh ibunya untuk tidak hanya menjaga dirinya sendiri, atau keluarganya, tapi juga harus memperhatikan orang orang disekitarnya.
Kemudian, di rumah sakit lokal yang saat itu diterpa kepanikan karena bencana tersebut, Maria membujuk Lucas untuk meninggalkan sisinya dan melihat apakah ia bisa membantu yang lain. Hati Lucas tersentuh melihat banyak orang tua dan anak yang bertemu kembali, sementara ia sendiri menekan perasaan ragu dan takutnya, bahwa mungkin ayah dan kedua adiknya tidak seberuntung itu.


Tema yang bergema sepanjang film adalah " we're all in this together ". Mentalitas yang cenderung muncul ketika terdapat krisis skala besar sedang terjadi, baik di kalangan wisatawan atau penduduk setempat.  Orang asing yang bersedia membantu satu sama lain, bekerja sama  tanpa pamrih daripada yang mereka lakukan dalam kehidupan normal. Melalui mata Lucas , kita melihat keindahan akan perbuatan baik yang sekecil mungkin yang dilakukan oleh mereka. Korban dalam bencana ini sangat banyak, tragedi ini begitu besar sehingga tampaknya hampir tidak ada gunanya untuk mencoba membantu satu orang. Tapi jika anda adalah satu orang itu...

Film ini mengundang air mata, jelas sekali. Saya tidak bisa membayangkan siapa pun yang memiliki anak-anak dapat menonton film seperti ini tanpa merasakan perasaan panik dan putus asa seperti yang dialami Maria dan Henry, belum lagi emosi lainnya yang muncul.

Sutradara Juan Antonio Bayona telah menunjukkan keahliannya dalam membungkus frame suatu bencana dengan lingkup dan skala seperti yang ada dan juga berfokus pada unsur drama nya juga.
Perasaan lega itu akhirnya datang, meskipun mungkin tidak dengan cara yang kita kira atau harapkan. Tanpa skenario yang berupaya untuk memanipulasi kita, Bayona dan screenwriter di film ini, Sergio G. Sanchez membawa kita melalui setiap aspek dari pengalaman keluarga, sebuah proses yang bermanfaat, baik secara dramatis dan emosional. Bayona dan Sanchez mengatasi masalah yang ada di film ini dengan eksekusi yang lembut.
Contohnya Setelah Maria dan Lucas diselamatkan oleh dua orang penduduk desa, Maria dirawat oleh beberapa perempuan. Dia berbisik "terima kasih" lagi dan lagi, kepada mereka, dia, kepada siapa pun, untuk semua orang.


Bagi saya itu seperti ungkapan syukur yang tiada ternilai, yang mungkin juga terasa oleh para filmmaker di film ini yang mengetahui bahwa terdapat ratusan ribu korban dan pihak yang tersakiti karena bencana ini. Yang tidak bisa kita tahu semua namanya, tapi film ini bisa diresapi dengan penderitaan yang mereka alami.
The Impossible bukanlah film yang mudah untuk ditonton, karena semuanya terasa nyata, dan memorinya pun masih ada di benak ktia. Tetapi itu juga adalah bagian yang menjadi motivasi kerja yang menunjukkan berapa banyak hal yang baik, yang bisa datang dari  situasi yang buruk seperti itu.
Kisah mereka mungkin tidak khas atau tidak terlalu unik, tapi keluarga merupakan lambang akan pertahanan, kasih sayang dan optimisme seluruh manusia.

***

The Impossible ( 2012 )
A Film by Juan Antonio Bayona

Saturday, November 15, 2014

Move Review : In The Mood For Love ( 2000 )

In The Mood For Love
Starring : Tony Leung-Chiu Wai, Maggie Cheung Man-Yuk
Writer : Wong Kar-Wai
Director : Wong Kar-Wai

They are In The Mood For Love, but not in the time and place for it.
Mereka saling memandang dengan mesra dan dengan kerinduan yang nyata, kemudian pulang ke rumah dan tertidur di tempat yang berbeda. Perselingkuhan telah mengganggu hidup mereka. Istri si pria dan suami si wanita telah berselingkuh. Kenapa mereka tidak melakukan hal yang sama ?
" let us do the same thing" - they agree ?.
Tapi apakah itu berarti keduanya sama saja dengan mereka ?
Kata kuncinya disini adalah setuju atau tidaknya. Dan yang terjadi adalah mereka sebenarnya tidak setuju.
Sangat simpel, karena keduanya tidak memiliki keberanian yang cukup untuk tidak setuju, dan waktu pun berlalu.

In The Mood For Love adalah sebuah film dimana mood ( suasana hati ) adalah segalanya. Senyuman misterius, sentuhan kecil, penyesalan dari kesempatan yang hilang, dan kesedihan pengkhianatan.Ceritanya sendiri berpusat tentang perselingkuhan, or rather, an affair that may never happen.

Actually, it's about both.
Chow Mo-Wan ( Tony Leung Chiu-wai ) dan Li-Zhen ( Maggie Cheung Man-Yuk) adalah tetangga di sebuah apartemen di Hongkong di tahun 1962.
Chow yang seorang jurnalis bersama istrinya tinggal disebelah apartemen Li Zhen, yang merupakan seorang sekretaris dan bersama suaminya.Keduanya adalah sosok yang menarik dan masih muda. Chow adalah sosok bersetelan jas rapi dan pendiam, sedangkan Li-Zhen adalah sosok yang sejatinya indah ; sosok ramping yang terbungkus cheongsam bermotif cerah berkerah, dengan rambut hitam tebal yang menawan.
Karena pasangan mereka yang tampaknya sering bekerja lembur atau bertugas ke luar kota, Chow dan Li-Zhen tak sengaja menjalin persahabatan. Mereka saling menemani, membaca novel novel serial seni bela diri, bahkan Chow bercita cita untuk bisa menulis itu juga.



Tapi ada hal lain yang terjadi ketika Chow menyadari tas tangan Li-Zhen  ( yang katanya hadiah dari suaminya ), ternyata identik sama dengan yang dimiliki istrinya. Kemudian Li-Zhen juga menyadari bahwa Chow memakai dasi ( yang katanya hadiah dari istrinya ), yang juga sama dengan milik suaminya. Dari hal hal kecil seperti itu lah yang merupakan  kesimpulan bahwa istri Chow dan suami Li-Zhen ternyata berselingkuh.
The question is, will the injured parties ever do the same?

Wong Kar-Wai, filmmaker Hongkong yang merangkap menulis, menyutradarai serta menjadi produser di film yang tidak biasa ini telah menghasilkan sebuah karya mengenai Cerita tentang perselingkuhan, yang sebenarnya bisa dibungkus dengan begitu umum, tapi ternyata tidak, hingga mungkin harus meluangkan waktu untuk menghargai betapa langka untuk sebuah film yang berfokus pada hubungan antara pasangan yang telah diselingkuhi tersebut, seperti yang dihadirkan Wong Kar-Wai di film ini.

Wong Kar-Wai, dengan film filmnya yang lebih dulu dikenal publik dengan Chungking Express dan Happy Togeher, telah mengembangkan sebuah gaya yang memabukkan yang telah mencapai jauh di luar cara cara bercerita yang tradisional ke dalam sebuah alam yang lebih abstrak tentang emosi manusia. Keahliannya yang unik ini telah sering dibandingkan dengan improvisasi dari artis artis jazz, yang biasa bernyanyi dengan mengejutkan dan bermain dengan suara dan nada.



Bukan hanya minimnya sentuhan fisik di film ini, tapi juga dialognya yang juga minim. Begitu banyak yang terjadi antara Chow dan Li-Zhen  diwakilkan oleh lirikan lirikan diam, tangisan tertahan, pandangan sendu. In a word, a matter of mood.
Dengan latar Hongkong yang suram tapi romantis dan sedih, hingga di pertengahan tahun 1960an, In The Mood For Love mungkin bisa diklasifikasikan sebagai sebuah drama periode, but only in the technical sense. Dalam merincikan hubungan persahabatan yang intim, dan cinta diantara dua pasangan yang sudah menikah dan kesepian ini, Wong Kar-Wai mengandalkan memori memori yang hidup dari waktu ke waktu, karena mereka mungkin masih bermain dalam memori seseorang walau sudah bertahun kemudian.

Banyak adegan kecil yang mengesankan, seperti ketika mereka dari tak sengaja menyentuh pundak masing masing ketika sedang naik tangga, atau berbagi payung ketika hujan lebat, telah membuat efek sedih yang ada melambat, seolah olah mereka berharap ini akan berlangsung selamanya.
Warna warna khas film noir banyak menyerap di film ini. Merah, Kuning, Coklat, bayangan gelap. Salah satu adegan dibuka dengan hanya kumparan asap rokok, dan kemudian mengungkapkan karakter. Di lorong di luar dua apartemen, kamera slide bolak-balik, menekankan soal ketidak kedekatan mereka, karena memang berlatar tentang dua apartemen, bukan satu.

Ikon bintang film Hongkong, yang mungkin adalah aktor aktor yang mempunyai pengaruh kuat di perfilman asia, terutama Hongkong, Tony Leung dan Maggie Cheung, di film ini, telah menjadi pasangan yang terasa natural, yang memiliki daya tarik yang susah dijelaskan, dan ketertarikan mereka terhadap satu sama lain sepertinya memang sudah ditakdirkan. Dan dengan kebetulan, mereka pindah ke apartemen yang bertetangga di gedung yang sama, dan di hari yang sama, segera menemukan bahwa kehidupan mereka bersinggungan dengan cara lain yang lebih signifikan.
Diabaikan oleh pasangan mereka, yang tidak pernah terlihat, mereka menumbuhkan keakraban khusus dan menghabiskan banyak waktu bersama-sama, tetapi adat istiadat sosial mendikte bahwa hubungan mereka harus dirahasiakan.


Wong Kar-Wai pun tidak mengijinkan pasangan mereka yang saling berselingkuh itu berada dalam layar. Film film tentang perselingkuhan sering sekali membahas tentang pihak yang berselingkuh. Terserah Pasangan mereka berselingkuh di Singapore, Tokyo atau bahkan motel murahan di pusat kota Hongkong, tapi mereka tidak akan pernah menodai layar film ini, karena perselingkuhan mereka membosankan dan biasa saja. Sedangkan keengganan dari Chow dan Li-Zhen mengangkat cinta mereka itulah adalah jenis kesempurnaan yang jarang kita lihat selama ini.

Seperti film-film Wong lainnya, In the Mood for Love menangkap keterasingan yang melekat dari kehidupan kota, namun dalam prosesnya, dia mengintensifkan kerinduan romantis antara dua karakter. Cinta tak berbalas mereka,masyarakat luar yang secara tidak langsung memaksa dengan halus untuk memisahkan mereka, seperti menyiram kita dengan emosi dan sebuah keyakinan bahwa itu menjadi corak yang paling khas dalam palet warna warni seorang Wong Kar-Wai. Selanjutnya, dilengkapi dengan jeda yang lembut oleh lagu nya Nat King Cole.
In The Mood For Love telah menghasilkan mantra yang melankolis yang tidak terputus bahkan lama setelah closing credit telah selesai.

Possibly the most unique and finely crafted romances to ever grace the silver screen

*****

In The Mood For Love ( 2000 )
A Film by Wong Kar-Wai







Thursday, November 6, 2014

Movie Review : Begin Again ( 2014 )

Begin Again
Starring : Mark Ruffallo, Keira Knightley, Adam Levine
Writer : John Carney
Director : John Carney


















Kita tidak bisa benar benar menyalahkan John Carney untuk kembali kembali mencoba, walau meskipun terdapat lebih banyak lagi momen momen bagus dalam Begin Again ini, tapi tetap saja mudah untuk didebat kepada Carney, "Once" should have been enough. Begin Again juga bukanlah pewaris atau sekuel untuk film Carney sebelumnya, Once ( 2006 ) film Indie-Romance yang hampir sempurna ( yang kemudian menjadi pemenang Tony Award ). Sesuai judulnya, Begin Again lebih merupakan usaha Carney untuk kembali mundur sejenak dari segala hingar bingar kesuksesan Once, dan memberikan kesempatan diri nya untuk mencoba yang lain, tapi tentu saja dengan nama nama yang terkenal dan budget yang lebih kali ini.

Jika di Once bercerita tentang kisah romansa dua orang singer-songwriters yang bersemangat dalam membuat proyek album si songwriter di Dublin, Begin Again adalah kisah cinta romantis dan kecintaan akan musik itu sendiri, hanya saja, dalam hal ini, kedua karakter utamanya terbayangi oleh masa lalu mereka.

Filmnya dimulai dengan Greta ( keira Knightley, yang menyayikan sendiri lagu lagu di film ini ) yang sedang bernyanyi lagu lagu tentang kesepian di tengah keramaian, tidak diperhatikan oleh semua orang, kecuali seorang pria setengah baya yang terlihat tidak jelas dengan keberadaan nya sendiri.
Dan ( Mark Ruffallo ) adalah seorang produser musik pemenang Grammy Award yang telah sukses menghancurkan karier nya beserta kehidupan pribadi nya, dan sebelumnya, moments earlier, bahkan mencoba bunuh diri.

Pernikahan Dan hancur , hubungan nya dengan putri nya sendiri semakin menjauh, semua itu dilengkapi Dan dengan menjadi pecandu alkohol, tapi setidaknya dia masih punya good sense of music. Ia tahu musik yang bagus ketika mendengarnya, dan dalam salah satu adegan terbaik di film ini, 
Begin Again memperlihatkan kepada kita dengan seksama apa yang Dan dengar dalam lagu lagu Greta, lengkap aransemen lagu yang sempurna, sebuah konektivitas sempurna yang menghasilkan senyum menawan di wajah Dan.

Seketika itu Dan tahu jika Greta memiliki kelebihan yang dicarinya. Ia mencoba meyakinkan Greta untuk bekerja bersama nya, yang tentu saja sulit, karena selain Dan baru saja dipecat dari label rekaman nya, Greta juga tidak memiliki ketertarikan di dunia musik, terutama sejak putus dari pacarnya yang menjengkelkan. Jadi, ketika Dan gagal mengajak mantan bos nya untuk membujuk Greta, Dan memutuskan untuk merekam sendiri lagu lagu nya, tentu saja low-budget dan menjadikan  kota New York sebagai latarnya.  

Semua nya berjalan lancar, kecuali satu. Hubungan antara kedua karakter utama ini dan chemistry diantara mereka. Berbeda dengan Once, dimana Glen Hansard dan Marketa Irglova yang menulis dan menciptakan sendiri lagu lagu di film Once memang sebenarnya memiliki hubungan romantis saat itu, hubungan antara Greta dan Dan terasa agak hambar dan datar. Tentu saja sulit untuk menghiraukan ketiadaan chemistry seperti itu, dari sebuah hubungan yang harusnya terlihat hidup, terutama karena sebelumnya hubungan mereka sudah 'dihidupkan ' terlebih dahulu oleh lagu lagu di film ini. Rekaman yang katanya low budget itu juga cukup jelas sebenarnya diproduksi di studio, meskipun semua aspek seni di film ini sudah mendukung keaslian artistik, dan integritas mereka sudah lebih diatas alasan komersialisme.


Tentu saja hal ini disayangkan, karena banyak yang bisa disukai dari Begin Again, atau tepatnya, sangat banyak yang bisa disukai dari film ini, terutama lagu lagu nya, dan segmen segmen untuk lagu itu sendiri, yang ada menampilkan lagu lagu pop ballads dari Gregg Alexander dan Danielle Briseboid dari The New Radicals. Seperti Dan, Carney ( yang juga pernah menjadi anggota band nya Glen Hansard, The Frames ) clearly knows the good stuff when he hears it. Carney mempunyai keterampilan dan bakat yang bagus dalam menangkap perasaan sukacita ketika membuat musik di layar.
Dan karena itulah, sulit, terutama bagi saya untuk memberikan perhatian atau kepedulian lebih kepada Dan yang mencoba memperbaiki hubungannya dengan istrinya, atau kemungkinan bahwa Greta mungkin akan kembali bersama sama dengan pacar nya yang terobsesi dengan dirinya sendiri.
Oh well, but when the songs work well, as a few of them do, much can be forgiven.

Kecuali yang saya ungkapkan diatas, overall, Begin Again such a nice film, gentle, musically romantic and beautifully performed by Ruffallo and Knightley. Tak lupa juga dengan akting yang juga solid dari James Corden yang menjadi teman Greta, Adam Levine yang menjadi pacar Greta, dan juga sama baiknya Catherine Keener dan Hailee Steinfeld.

There's freshness to this film, yaitu kecerdasan Carney dan latar belakang musik nya - ia memberikan kontribusi besar untuk lagu-lagu dalam film - yang telah menghasilkan suatu jenis feel-good movie yang bisa menghindari pola klise. Dan nilai A Plus di film ini untuk keputusan Dan merekam album live di jalanan New York. Momen yang menyenangkan yang bisa menghasilkan senyum di wajah kita, sama ketika pertama kali Dan tersenyum mendengar Greta bernyanyi, and that's something.

***

Begin Again ( 2013 )
A Film by John Carney


Wednesday, August 27, 2014

Movie Review : Chef ( 2014 )

CHEF ( 2014 )
Starring : Jon Favreau, Emjay Anthony, Sofia Vergara, John Leguizamo
Writter : Jon Favreau
Director : Jon Favreau



Seperti hal nya 'comfort food', film ini tidak mempunyai banyak kadar nutrisi, tapi sure, it goes down smoothly.
This is one of the best movies about cooking I've ever seen. Sebelumnya ada Julie and Julia, ada Meryl Streep, dan Amy Adams dengan masakannya yang juga sama membuat ngiler nya, film ini juga hampir mirip dengan Ratatouille, tapi minus tikus tikus nya,atau film dokumenter El Bulli ( 20011 ), yang pertama kali memperkenalkan saya dengan dunia Gastrononic molecular, yang juga lengkap dengan aneka masakannya yang aneh dan membuat penasaran. Ada juga Jean Reno dengan Le Chef ( 2012 ) yang juga menyisipkan soal gastronomic culinary.

Dan film ini have a lil bit of everything.
Ini adalah salah satu film yang tanpa malu-malu memperlihatkan hidangan hidangan yang lezat, penuh cinta dan passion, yang dibuat langsung di depan kamera, plus dengan karakter karakter yang mudah disukai, cameo cameo serta dialog dialog yang cerdas dan sukses membuat saya tersenyum.
So ? siapa yang peduli jika tidak ada hal hal yang tidak terduga yang akan terjadi ? Ini adalah sebuah jenis film yang bisa membuat kita duduk dengan santai dan menikmati menit demi menit tanpa khawatir akan ada nya plot twist.

Bercerita tentang Carl ( Jon Favreu ), seorang chef di sebuah restoran terkenal di Los Angeles yang sedang mengalami kebuntuan, karena sang pemilik ( Dustin Hoffman ) menolak untuk merubah apapun yang ada di dalam menu. Ketika seorang kritikus terkenal datang dan kemudian mengkritik Carl karena makanannya yang membosankan dan mudah ditebak serta selalu sama selama bertahun tahun, Carl langsung marah. Di tengah kemarahan itu, Carl langsung berhenti dari pekerjaannya, kemudian berniat menenangkan diri dulu sementara ia memperbaiki hubungannya dengan Percy ( Emjay Anthony ), anak laki laki nya yang beranjak remaja dan Inez ( Sofia Vergara ), mantan istrinya. Jadi Carl, dengan sidekick nya, Martin ( John Leguizamo ) mengajak Percy ke Miami untuk mencari food truck, dan kembali ke California, yang di tengah perjalannya, mereka membangun reputasi serta menyempurnakan menu mereka sendiri.



Karena plot kompleks dirasa hanya akan mengganggu, film ini menggantungkan diri pada karisma para aktornya, serta karakter karakter yang mudah disukai tersebut, bahkan menjadikan Scarlett Johansson sebagai kenalan nya dulu di restoran, Bobby Cannavale sebagai sesama koki, hingga, tentu saja yang paling memorable adalah Robert Downey jr, sebagai mantan pacar Inez yang gila dan histeris.
Terlihat film ini dibuat dengan menyenangkan, semua nya terlihat santai, dan bisa dengan mudah tertawa, yang membuat interaksi antar mereka terasa pas tanpa paksaan.

Film ini dengan mudah masuk ke dalam deretan film film sukses John Favreu sebagai sutradara ( tentu saja dua installamen Iron Man juga masuk ). Ini juga merupakan salah satu penampilan terbaiknya. well..what can i say. He infuses the whole film with easy-going charm. haha
Belum lagi jika saya membicarakan soal masakan masakan yang dibuat di film ini haha..simply mouth watering and tasty. Favreu jelas sangat menikmati film ini dan menikmati karakter nya saat dia membawa kita keliling daerah menggunakan food truck nya, berevolusi dari keahliannya di masakan Cuban saat di Miami hingga ke makanan makanan deep fried di Louisiana, Ber-barbeque di Texas hingga menjajal kemampuan nya dalam masakan mexico di California.



Film ini lebih merupakan tentang betapa menyenangkan memasak itu daripada memakannya, mulai dari menyiapkan bahan bahan nya, berinteraksi dengan orang di dapur hingga proses memasak itu sendiri.
Film ini juga merupakan wujud cinta dari Favreu sendiri, dimana ia menulis naskah, menjadi produser, menjadi sutradara hingga membintangi nya sendiri, dengan bantuan dari banyak teman teman nya yang sesama bintang terkenal.

Jon Favreu boleh dikatakan terkenal serta berimpah materi setelah menyutradari 2 film blockbuster Iron Man yang menjebol tangga box office, tapi Favreu awal nya adalah awalnya seorang sutradara sukses di film Indie, dan seperti karakter Carl di film ini, Favreu has gone back to basics, of course, with tasty results. Alih alih kembali menjadi sutradara film superhero lain, dia memberikan makanan pada publik yang sudah kenyang, dengan sebuah makanan comfort food dengan porsi yang pas.

Whatever he cooks up in the future, it will be hard to top “Chef.”

****

Chef ( 2014 )
A film by Jon Favreau

Thursday, July 24, 2014

Movie Review : NOAH ( 2014 )

NOAH
Starring : Russell Crowe, Jennifer Connely , Emma Watson, Logan Lerman, Anthony Hopkins, Ray Winstone
Writer : Darren Aronofsky, Ari Handel
Director : Darren Aronofsky



Noah, film terbaru dari Daren Aronofsky, yang mengambil konsep cerita Bahtera Nuh yang ada di Alkitab, adalah penggabungan yang menarik ( yang membuat frustrasi ) dari apa yang memang tertulis dan diterjemahkan dalam Alkitab dengan bumbu bumbu fiksi lainnya.
indah dan aneh, gelap dan seperti mimpi buruk.

Bekerja dengan sinematografer langganan nya, Matthew Libatique, Aronofsky menawarkan kepada kita sebuah tempat kuno yang dipenuhi dengan langit yang berwarna warni,  binatang aneh, tanah tandus, dan tampilan kasar jaman nya waktu itu.
Sebuah film blockbuster yang tidak biasa untuk Aronofsky, dengan tampilan visual yang  dan retorika retorika yang mengingatkan saya akan The Fountain ( 2007 ) yang juga dipenuhi visual visual magis dan berkelok kelok .

Seperti yang dilakukan Tuhan, dalam film ini, Darren Aronofsky memilih untuk memulai nya dari sebuah tampilan kosong.
Terdapat opening line " in the beginning, there was nothing ", yang kemudian dengan cepat dan dengan visual yang menarik, satu persatu tampilan gambar, ular yang meluncur merayap di rumput, tangan yang menyentuh apel, dan seorang pria yang menghancurkan kepala saudara nya sendiri dengan siluet langit yang memerah.

Noah, yang dimainkan oleh Russell Crowe, merupakan keturunan Seth ( saudara Kain dan Habel, yang juga anak dari Adam dan Hawa )  hidup di bawah bayang bayang para pemburu, bersama keluarga nya, mereka hidup di padang gurun di alam liar .Seluruh sisi di dunia telah dikuasai oleh keturunan Kain, yang merusak. Mereka menebang pohon, membakar, dan membunuh hewan hewan, bahkan manusia ( kanibalisme ).  Dosa dengan penyakit penyakit yang sama mulai memunculkan kemurkaan The Creator ( Tuhan ).


Disebuah malam, Noah bermimpi dan mendapat penglihatan. Ia melihat darah dan debu, dan kemudian dibersikan dengan air bah. Penglihatan itu, ia ceritakan kepada istrinya, Naameh ( Jennifer Connelly ) adalah pesan dari The Creator, yang berencana untuk "me-reboot" dunia. Ia  percaya penghancuran semua umat manusia oleh The Creator ( Tuhan ) akan datang, dan dia percaya ia akan menjadi bagian dari hal tersebut, dan ia merasa terpanggil untuk ikut membantu The Creator kembali menciptakan Taman Eden versi murni, sebelum ada nya Adam dan Hawa. Dibantu oleh anak anaknya, Shem ( Gouglas Booth ), Ham ( Logan Lerman ), Japeth ( Leo Carroll ), serta anak perempuan yang diadopsi mereka, Ila ( Emma Watson ), beserta The Watcher, para raksasa batu, yang diceritakan dalam film ini sebagai "Fallen Angels", para malaikat yang jatuh ke bumi, mereka membangun mega-bahtera, yang nanti nya akan diisi oleh semua jenis tumbuhan dan binatang yang berpasangan.

Darren Aronofksy sendiri tampaknya sangat serius menyikapi kisah Noah slash fantasy ini, bahkan ia melakukan penelitian tak kenal lelah untuk memastikan Bahwa unsur-unsur tertentu Tetap otentik. Beberapa hal yang ditambahkan Aronofsky sendiri adalah seperti, nama istri Noah, Naameh dan Ila. Nama istri Noah sendiri, dalam kitab Genesis tidak disebutkan, tapi nama Naameh, merupakan nama dari adik Tubal-Cain. Tapi tidak jelas, apakah nama Naameh dalam film ini, sama dengan yang dimaksudkan dalam kitab Genesis. Sedangkan Ila sendiri sepertinya sengaja dihadirkan untuk alasan komersil, karena Noah tidak pernah memiliki anak lain selain Shem, Ham dan Japeth. Dalam film ini juga diceritakan ketiga putra Noah tersebut masih muda, sedangkan di kitab Genesis menuliskan bahwa Shem, Ham dan Japeth sudah dewasa dan memiliki istri. Nah versi film inilah yang kemudian diperdebatkan, bagaimana nanti nya Ham dan Japeth ( Shem beristrikan Ila ) bisa meneruskan keturunan mereka jika hanya mereka lah yang selamat ?

Seperti judul dan juga karakter utamanya, Noah ( Russell Crowe ) membuat beberapa keputusan serius yang mengundang tanya, salah satu yang bisa dikatakan egois dan kejam dan mengorbankan banyak jiwa. Semua itu karena tekad nya untuk melaksanakan apa yang ia percaya adalah misi The Creator ( Tuhan ), yang nanti nya malah mengarahkan ia untuk melakukan tindakan yang mengerikan.
Meskipun mendapat protes dan dibenci oleh anak dan istri nya, visi nya jelas, dan iman nya dihargai. Kita langsung seketika tahu ketika perwujudan akan sifat jahat murni tersebut ada dalam karakter Ray Winstone, si pembuat senjata Tubal-Cain, yang mengatakan kepada Ham, salah satu putra Noah bahwa “A man is not ruled by the heavens. A man is ruled by free will.”
Nama Tubal-Cain sendiri sebenarnya ada di dalam alkitab, dan benar merupakan keturunan Cain, namun tidak jelas, apakah Tubal-Cain ini hidup di jaman yang sama dengan Noah.



Kemudian bagian dimana Noah berniat membunuh anak Shem dan Ila, karena Noah percaya dalam wahyu yang diterima nya, semua manusia harus mati, termasuk cucu nya. Hal ini juga tidak ada dalam Alkitab. Saya langsung spontan teringat dengan kisah Abraham ( Ibrahim ) yang juga nyaris membunuh putra nya ketika Tuhan sedang menguji iman nya. Beda nya Abraham tidak jadi membunuh putra nya karena campur tangan malaikat, tapi Noah tidak jadi membunuh cucu nya karena keinginan nya sendiri.

Apakah unsur fiksi tersebut bisa ditolerir ? buat saya tentu saja, tapi semua itu tergantung perluasan sudut pandang masing masing. Dalam kitab Genesis sendiri, kisah Noah terdiri dari 4 bab. Dengan materi dasar yang hanya 4 bab tersebut, menurut saya wajar saja jika Aronofksy banyak menambahkan elemen fiksi di dalam nya, mengingat film nya sendiri yang berdurasi 2 jam, kehadiran unsur fiksi tersebut diperlukan untuk memperlancar dan menjahit jalinan cerita, seperti kehadiran The Watcher, para raksasa batu. Yang tentu nya diperlukan Noah, karena untuk membuat bahtera yang sebegitu besar nya, mustahil bisa dikerjakan oleh ia sendiri dan ketiga putra nya. Dan juga saat Noah dibantu The Watcher ketika diserang oleh para penjahat yang berniat merebut bahtera nya.



Dari sisi hiburan, saya merasa Noah berhasil, karena saya merasa terpuaskan. Tapi dari sisi religi sendiri, tidak.
Tidak seperti The Passion of the Christ yang ternyata diputar di banyak gereja ketika paskah, maka Noah sama sekali tidak saya anjurkan untuk diputar di gereja atau bahkan dijadikan referensi sejarah bahkan atau sekadar film religi. Jelas film ini jauh dari keduanya, karena banyak nya selipan fiksi yang berkemampuan mengaburkan kisah asli nya.

Saya rasa ini wajar, karena Darren Aronosky sendiri merupakan Atheis, dan ia pernah mengatakan disebuah interview nya, bahwa dia ingin membuat "..this fantastical world ala middle earth, that they wouldn't expect from their grandmother's bible school.."
Tanpa menyinggung pihak manapun, jadi saya rasa Aronofsky memang tidak bermaksud untuk mengacak kisah asli Noah, tapi lebih ke membangun sebuah kisah fiksi lain nya dengan meminjam fondasi kisah Noah yang sudah ada.

ps : Review ini saya buat berdasarkan apa yang saya tahu dari kitab Genesis di Alkitab ( saya seorang kristen ), jadi harap dimaklumi kalau terdapat perbedaan dalam versi nabi Nuh di Al Quran.
******
Noah ( 2014 )
A film by Darren Aronofsky





Thursday, July 17, 2014

Movie Review : Miracle on 34th Street ( 1947 )

Miracle on 34th Street ( 1947 )
Starring : Maureen O'Haara, Edmund Gwenn, Natalie Woods, John Payne
Writer : George Seaton
Director : George Seaton


Doris Walker ( Maureen O'Haara ) sedang kebingungan Parade tahunan yang diadakan oleh perusahaan tempatnya bekerja, Macy's Department Store, yang juga merupakan tanggung jawab nya, memiliki pemeran Santa Claus yang tidak hanya tidak bisa duduk dengan benar di kursi kereta nya, tapi juga mabuk. Di detik terakhir sebelum jalannya parade, muncul seorang pria tua berjenggot putih ( Edmund Gwenn ), yang ditemukan Doris, dan dengan segera diajak untuk menggantikan Santa Clause pemabuk tersebut.
Parade pun berjalan sukses, dan masyarakan yang menonton ternyata sangat menyukai Santa Claus versi dadakan tersebut, sehingga pimpinan Doris di Macy ingin agar pria tua tersebut tetap menjalani peran nya sebagai Santa Claus di Mall mereka. Tentu saja dengan satu tujuan, supaya semakin banyak anak anak dan orang tua mendatangi mall mereka dan berbelanja di musim liburan ini.

Kris Krangle yang menjadi Santa Claus tersebut ternyata sangat menikmati, menghayati bahkan terlihat sudah terbiasa menjadi Santa Claus.
Tapi perasaan Kris terganggu ketika bertemu dengan Susan, putri Doris, yang merupakan seorang anak yang realis, terlalu dewasa untuk anak seumurannya, dan sama sekali tidak mempercayai Santa Claus. Doris pun juga tak kalah terganggu ketika Kris mengaku jika ia memang adalah Santa Claus di depan Susan. Masalah itu muncul ketika psikiater karyawan di Macy menuduh Kris sakit jiwa dan harus dibawa ke pengadilan karena telah berbohong pada publik dengan mengaku bahwa dirinya adalah Santa Claus.

*****

Tidak banyak film film yang bertemakan suasana liburan natal dan akhir tahun bisa berhasil untuk tidak hanya "menangkap" keajaiban semangat liburan tapi juga keindahan jiwa manusia. Film Miracle on 34th Street ini yang sangat ikonik akan aktor utamanya ini, Edmund Gwenn,  berhasil menggabungkan kedua hal tersebut, dan menjadi semacam semangat acara tahunan, tentang kebaikan jiwa seseorang dan hal hal yang luar biasa yang bisa kita lakukan ketika hati kita berada di tempat yang tepat. Sungguh menarik untuk dicatat bahwa meskipun film ini dikenal sebagai sebuah film keluarga, berkat beberapa humor dan adegan lucu, serta beberapa dialog nya yang renyah  dari aktor utamanya, film ini juga tampil sebagai film drama komedi yang sangat menghibur hati.

Banyak yang mengatakan, dalam beberapa ulasan yang saya baca, mengatakan bahwa, in many ways, film ini juga mempunyai konsep cerita yang mirip dengan Harvey nya Jimmy Stewart ( yang belum saya tonton ), dimana sama sama bercerita tentang seorang pria naif dan eksentrik yang bertindak di luar norma norma umum di masyarakat. Tapi kemudian, berkat antusiasme dan kenaifan tersebut, mereka bisa 'bring the best out' dari banyak orang, bahkan dari setiap individu yang paling sinis dan anti sosial sekalipun, sehingga akhirnya semua tidak terlalu mempermasalahkan apakah 'khayalan' mereka tersebut valid tidak nya. Sama saja seperti di film ini, apakah sang pria tua berjenggot putih yang panjang bernama Kris Kringle itu adalah benar benar Santa Claus ?
Pada akhirnya, karakter karakter di film ini telah mendapatkan cara pandang baru terhadap kehidupan mereka, and that's really all that counts.

Dengan konsep cerita yang ada, yang jauh melampaui pola pikir di tahun tersebut, penulis script dan sutradara, George Seaton menampilkan sebuah film tentang natal dan musim liburan, yang menggambarkan masyarakat yang hanya terfokus pada sifat konsumerisme dan materialistik, daripada merayakan sebuah semangat liburan yang seharusnya berarti khusus bagi orang orang yang merayakannya.
Dalam film ini, diceritakan tentang sebuah kelompok masyarakat yang hanya peduli tentang belanja dan menghabiskan waktu dengan belanja, dan tidak pernah peduli dengan hal lain di luar itu. Ini masih tema yang relevan dan menawarkan sebuah pintu masuk bagi Kris Kringle untuk mengubah pikiran tersebut. Edmund Gwenn menyajikan nuansa karakter yang kompleks yang hanya berusaha untuk membuat orang bahagia dan mengembalikan kepolosan dan kejujuran di tengah dunia yang semakin sinis.

























Perjalanan Kris Kringle di film ini, dari yang awalnya dianggap sebagai orang gila, hingga menjadi penyelamat dan protagonis utama, adalah salah satu yang mewujudkan film ini menjadi sebuah film yang sungguh kaya akan nilai nilai holiday spirit.
Apakah dia benar adalah Santa Claus ?
Pertanyaan ini terus memenuhi pikiran saya dari awal, tapi aneh nya, ketika film berakhir, saya tidak peduli lagi apakah ia Santa Clause asli atau tidak, Somehow, that's become incredibly unimportant by the very end of the film haha..
Natalie Wood yang menjadi Susan, memilii chemistry yang luar biasa dengan Kris yang menimbulkan tantangan bagi Kris sendiri untuk mengubah Susan menjadi anak yang innocence dan optimis, setelah sebelumnya terbiasa dididik dengan keras dan realistis oleh ibunya, tidak mempercayai Santa Claus dan tidak memiliki fantasi apapun seperti umumnya anak anak yang lain.
Di sebuah scene saat Kris bersikeras mengajak Susan bermain menggunakan imajinasi sederhana mereka, merupakan momen yang manis dan sangat berarti, terutama sejak Natalie Woods merupakan aktris yang sangat berbakat, bahkan sejak ia masih kecil, hingga ketika bertahun tahun kemudian ketika ia bermain film bersama James Dean di Rebel Without a Cause ( 1955 ), dan ia juga merupakan akrtis utama dalam drama musical, Westside Story ( 1961 ).

"Miracle on 34th Street" berhasil melampaui kebanyakan film film bertema liburan, yaitu sebuah makna, dan arti keinginan tulus dari sebuah keajaiban, yang ada dalam hati setiap orang, dan Kris sendiri "memberikannya" secara literally kepada setiap orang yang ia temui. Dari pemilik toko Macy dan Gimbel, kepada gadis kecil dari Belanda yang sangat berharap Santa Claus bisa berbicara dengannya, hingga si kecil Sarah yang sangat ingin memiliki ayunan di belakang rumahnya. Sutradara George Seaton berhasil menciptakan berbagai momen ikonik dan membuat film ini menjadi sebuah film Natal abadi yang selamat dari evolusi film, terlepas dari remake nya yang banyak dikritik.
Dengan kinerja yang sangat baik, beralaskan drama komedi yang halus dan menghibur, dan momen momen menyentuh, serta banyak antusias dan rasa optimis, "Miracle on 34th Street" adalah salah satu dari beberapa film yang sempurna secara emosional, dan merupakan film bertema Natal dan liburan yang akan hidup selamanya.

******

Miracle on 34th Street ( 1947 )


Wednesday, July 2, 2014

Movie Review : Michel Kohlhaas ( 2013 )

Michael Kohlhaas
Starring : Mads Mikkelsen, Mélusine Mayance, Delphine Chuillot
Writers: Christelle Berthevas
Director : Arnaud des Pallières




Ketika lineup kompeitior untuk Cannes Film Festival 2013 diumumkan, mungkin kejutan terbesar adalah dimasukkannya film adaptasi sastra oleh sutradara Perancis yang kurang populer, Arnaud Des Pallières, yaitu Michael Kohlhaas.

ilm ini, diadaptasi pada novel yang terbit di tahun 1810 oleh Heinrich Von Kleist , yang diberi judul Michael Kohlhaas.  Distributor film ini, Music Box Films, yang merubah judul film ini, dan mengubahnya menjadiu Age Of Uprising: The Legend Of Michael Kohlhaas, yang tampaknya seperti upaya yang cukup transparan untuk menarik penggemar drama epik era medieval yang sedang booming saat ini, Game Of Thrones .
Walau drama yang mengambil setting abad ke 16 ini yang mengambil konsep revenge/balas dendam dengan latar kesuraman abad pertengahan yang terlihat serupa, tapi seperti kehilangan elemen juicy nya seperti incest, sihir hitam, karakter brutal, pembantaian, atau hal hal adegan sadis, yang semakin membuat film ini terasa lebih kering dan sunyi.
Andil besar didapat dari aktor utamanya, Mads Mikkelsen, yang bisa membuat film ini menembus internasional, terutama Hollywood, setelah serial Hannibal yang membuat nya lebih menjadi populer di dataran Amerika. Dia membawa dan memiliki kharisma khas nya untuk peran Kohlhaas, seorang pedangang kuda yang tiba tiba diberitahu dan mendapat informasi, ketika ia sedang menuju kepasar, bahwa seorang Baron lokal telah memberlakukan pembatasan dan aturan baru untuk sebuah perjalanan, termasuk syarat baru lainnya yang diperlukan seperti tanda pengenal/passport.

 Ia pun Meninggalkan dua kuda kesayangannya sebagai jaminan sementara ketika ia hendak menuju ke kota untuk membereskan hal ini. Ia pun kembali beberapa minggu kemudian dan menemukan kuda kuda kesayangannya diperlakukan tidak manusiawi, dan dibiarkan kelaparan. Usahanya untuk mengamankan kompensasi hukum atas kerugiannya sepenuhnya tidak dihiraukan oleh penegak hukum yang korup, dan ketika istrinya ( Delphone Chuillot ) berusaha untuk mengirimkan petisi kepada kerajaan, dia dibunuh, dan kemudian membuat Kohlhaas  sekelompok orang bersalah, penjahat, sekutu sekutu yang muak dengan kerajaan dan kemudian terlibat dalam pemberontakan skala besar.

Tentunya, apakah akan banyak terjadi pertempuran berdarah dan "cincang mencincang " yang terjadi ?, dengan isi perut musuh Kohlhaas 'tumpah di seluruh lanskap yang hijau ??



Nope.

Novel Heinrich Von Kleist ini bukanlah sebuah saga perang atau action, yang ternyata kemudian membuatnya menjadi subjek yang sulit untuk diadaptasi dengan dramatis, meskipun beberapa telah mencoba. Ada terlihat beberapa adegan kekerasan di sana-sini, tapi Kohlhaas sepertinya tidak termotivasi oleh  balas dendam nya, bahkan setelah istirnya dibunuh, dia hanya ingin membuat hukum itu mengakui bahwa mereka salah. Pada satu titik, ada seorang pria, yang mencoba mengajak Kohlhaas untuk berbicara dan mundur, mengajak ia membiarkan Tuhan saja yang akan menyelesaikan semuanya. Perdebatan argumen yang sengit antara dua pria ini bahkan lebih seru daripada adegan tempur yang ada di film ini.

Tapi untuk sebuah film dengan cerita yang bertujuan untuk mengingatkan kita kerasnya kehidupan pra-modern, keseluruhan sangat emosional, minus elemen "pengeras" nya tersebut seperti elemen juicy yang saya sebutkan diatas. 

Dengan berpegang teguh pada sumbernya, des Pallières memastikan filmnya memiliki substansi, dan ia menambahkan banyak gaya visual dengan gaya dan konsep nya sendiri.

Overall, I saw Michael Kohlhaas as a missed opportunity, largely due to its middle portion.




 ***


Michael Kohlhaas