Wednesday, January 15, 2014

Review : The Spectacular Now ( 2013 )

THE SPECTACULAR NOW
Starring : Miles Teller, Shailene Woodley
Director : James Ponsoldt














Cowok populer bertemu dengan cewek pintar dan geeky, dan mereka jatuh cinta. 
That was Say Anything, wasn't it ?
Cowok yang suka berpesta mengajar teman sekelas nya untuk bersenang senang menikmati hidup ? 
That one was Ferris Buller's Day off, wasn't it ?

Oh yeah..kita menemukan banyak unsur unsur dalam kedua film remaja di era 1980an tersebut beresonansi kembali di The Spectacular Now. Film nya sendiri diadaptasi dari novel yang berjudul sama dari penulis Tim Tharp. Tapi disini, yang lebih eye-catching adalah, naskah layar lebar nya ditulis oleh screenwriter nya 500 Days of Summer, Scott Neustadter dan Michael Weber. But really, that eighties stuff hanya umpan saja, cerita dan hal lainnya di film ini jauh lebih menarik daripada 'umpan umpan' tersebut.

Sutter ( MIles Teller ) melewati tahun terakhirnya di SMA dengan bermalasan, minum minum,  dan berpesta sampai pagi, dan - putus dengan pacarnya, Cassidy, yang menginginkan hidup yang lebih daripada apa yang sedang mereka jalani sekarang. Sutter selalu menggambarkan dirinya sebagai penghidup sebuah pesta dan orang yang menyenangkan, sementara kenyataannya, kehidupannya tidak seindah itu di mata orang lain. Ia bahkan tidak sanggup mengisi form dan mendaftar ke universitas melanjutkan study nya, hanya karena ia berpikir itu tak ada gunanya.
" i have a job, i have a car, i can drink, and i have girlfriend. Life is good"

 Setelah mabuk dan berpesta semalaman, ia entah kenapa bisa terbangun di halaman rumah Aimee ( Shailene Woodley ), teman sekelas nya yang tidak pernah ia kenal. Sementara Sutter melihat Aimee sebagai seorang yang geeky dan cerdas, ia mencoba 'menyelamatkan' Aimee dengan mengajaknya menikmati hidup, dari satu pesta ke pesta lain, yang tanpa disadarinya bahwa, Sutter sendirilah yang perlu diselamat kan. Will he let Aimee in ? Can he redeem himself ?

 The Spectacular Now menawarkan pengalaman menjadi dewasa dalam sebuah film. Film lain yang juga memberikan gaung yang sama adalah Say Anything, tapi tanpa beberapa unsur dramatis berharga yang ada dalam film tahun 1989 tersebut, dan juga tanpa fokus ke beberapa hal klise yang ada di film coming of age lainnya, seperti The Perks of Being Wallfower. Sutter isn't exactly Lloyd Dobler, who wanted to really live life.
Sutter mungkin terlihat melihat dirinya seperti itu, live life, but it's a conceit. Sutter hanya membodohi dan menolak dirinya sendiri untuk hidup sesuai dengan apa yang ada, untuk melarikan diri dari perasaan nya yang merasa tak berharga, yang sering karena hal itu, membawa diri nya ke berbagai masalah.

 Both Teller and Woodley are perfect in their potrayals.
Saya mendeskripsikan Sutter sebagai orang yang karismatik. Tapi saya berjuang pada awalnya untuk mengungkapkan seberapa menariknya Sutter di film ini.  Sutter di film ini memenangkan hati para hater hater nya dengan senyum dan sifat bersahabat nya. Dia adalah Ferris Bueller minus ambisi ambisi nya, atau Tom Cruise dalam banyak film, typical a nice, good looking guy haha..
Beberapa teman saya berpendapat kenapa karakter Sutter ini tidak jatuh ke tangan aktor yang lebih ganteng dan cute untuk melengkapi potret Cassanova lokal nya ? but for me, Teller is perfect for Sutter. ;)

Tapi di luar pesona permukaan ini, Teller melapisi karakter Sutter dengan inti emosional yang terjaga. Seiiring film berjalan, lapisan lapisan ini mulai jatuh, dan Teller berhasil mengelola "pergantian" ini dengan sentuhan halus.  Jadi ketika kita sampai dan melihat titik terendah dalam dirinya, dimana ibunya memeluknya dengan erat dan menenangkannya, i wanted to join in dan hold him and fix him and just make him feel okay again haha..
Pesona Teller dalam film ini sangat cemerlang, dan itu sangat menarik saya ke dalam film ini. Serta kerentanan nya dalam banyak hal yang juga membuat saya tetap fokus ketika hal hal di hidupnya menjadi semakin muram dan gelap, and of course, wish him well.
















Untuk bagiannya sendiri, Woodley brilliant sebagai Aimee yang riang dan selalu terlihat gembira. Performa Woodley tak kalah bagus nya, entah itu mulai dari dia bersama Sutter belajar untuk minum alkohol, mengucapkan kata kata f-bomb dengan teriakan puas, berdansa di pesta prom. Aimee nya Woodley terasa real, campuran antara perasaan antusias, nervous dan penuh harapan. Bersama, Teller dan Woodley menciptakan cinta yang terasa bersemangat, indah, tapi sekaligus rapuh dan menyakitkan.

What an affecting film this is. It respects its characters and doesn't use them for its own shabby purposes. Teller and Woodley share a great chemistry. The Spectacular Now is a glorious coming-of-age drama and a fantastic first love tale.

****

The Spectacular Now ( 2013 )
by James Ponsoldt






Tuesday, January 7, 2014

Review : The Past ( 2013 )

The Past
Starring : Berenice Bejo, Ali Mosaffa, Tahar Rahim
Writer : Ashgar Farhadi
Director : Ashgar Farhadi
















William Cuthbert Faulkne, salah satu penulis paling berpengaruh di abad ke 20 dan pernah menerima nobel pada tahun 1949, mempunyai quote yang sangat terkenal,

" “The past is never dead. It’s not even past.”

Mungkin quote nilah yang bisa sangat mewakili film besutan sutradara Iran, Ashgar Farhadi, Le Passe ( The Past ).
Quote itu memberikan sebuah penjelasan bagi saya dalam memahami film ini. Apa yang terjadi di masa lalu akan mempengaruhi apa yang terjadi saat ini. Dalam hal ini masa lalu selalu bersama kita yang hidup dalam masa sekarang. Semua orang berasal dari sebuah tempat, dan akan selalu memiliki masa lalu yang hidup di dalam mereka. Luka emosional, kenangan manis, kerusakan, peristiwa yang mengganggu - akan mempengaruhi wawasan pertumbuhan kita di masa sekarang and that what its mean, the past is never dead.

Semua ini dimulai ketika Ahmad ( Ali Mosaffa ) tiba di Paris dari Tehran, untuk menyelesaikan proses perceraiannya dengan istrinya, Marie ( Berenice Bejo ) setelah 4 tahun berpisah, ketika bertemu segera keduanya mulai bertengkar, tidak sepenuhnya dalam cara pasangan yang siap untuk berpisah, meskipun berbagai komplikasi yang Farhadi secara bertahap ungkapkan, lapis demi lapis, dan menghalangi kemungkinan serius untuk mereka kembali bersama.


















Segera, ketika mereka sampai di rumah Marie di pinggiran kota, yang ditempatinya besama kedua anak perempuan mereka, Ahmad menjadi terlibat dalam situasi yang hampir tidak bisa dihindari nya. Anak tertuanya, Lucie ( Pauline Burlet ), sangat tidak setuju dengan rencana ibunya untuk menikah dengan Samir ( Tahar Rahim ), sedangkan yang satunya, Lea ( Jeanne Jestin ), dan anak laki laki Samir, Fouad ( Elyes Aguis ), keduanya dengan mudah menyebabkan masalah masalah kecil yang sangat mengganggu orang orang di dekatnya. Dalam krisis besar dan kecil, Ahmad diharuskanl untuk menjadi rasional, stabil, ditambah lagi dengan kehadirannya adalah sumber ketegangan. Marie sangat membutuhkan bantuan Ahmad untuk berbicara dengan putri mereka, Lucie yang tindakannya membenci Samir sangat tidak bisa dimengerti Marie, dan Ahmad adalah satu satunya figur ayah yang bisa dipercayai Lucie, terutama dalam menceritakan rahasia rahasia yang melingkupi hubungan Marie dan Samir.

Secara tidak sengaja terlemparkan ke dalam kekacauan keluarga, karakter Mosaffa adalah seorang pengamat yang mencoba untuk mencari tahu apa perannya dalam situasi ini. Dia bertindak sebagai duta diplomatik antara semua pihak karena ia peduli dengan anak anaknya, tapi ia tidak bisa mengabaikan keputusan egois Marie dan motif tersembunyi nya yang membutuhkan kehadirannya.















Berenice Bejo sendiri tak kalah menarik. Awalnya ia terlihat seperti karakter yang tenang dan tegas, tapi lama kelamaan terlihat seperti sebuah bom yang siap meledak dalam dirinya ketika kehidupan yang direncanakannya dengan cermat mulai berantakan ketika moralitas percintaannya dengan Samir mulai dipertanyakan. Marie, tentu tidak boleh dijudge karena jatuh cinta lagi kepada pria lain, tapi bagaimana jika cinta tersebut membahayakan orang lain ? apakah ia bertanggung jawab karena mengikuti hasrat nya meskipun itu berbahaya ? disisi lain, Samir mengambil alih bagian akhir di film ini saat ia mencoba untuk meletakkan tanggung jawab atas perbuatannya kepada orang lain, dan hanya untuk menemukan bahwa masa lalu yang dia pikir tidak akan pernah kembali ternyata telah membayangi nya hingga saat ini.

Farhadi adalah seorang pencerita yang handal dan percaya diri, dia tahu apa yang ingin ia katakan dan ia membutuhkan waktu mengatakannya. Hal ini memberikan kebebasan untuk para aktornya bereksplorasi,
semua masing masing memiliki ruang dan waktu  untuk bergerak melalui berbagai emosi yang dicurahkan kepada mereka saat kita mulai mengetahui lebih banyak tentang mengapa kehidupan mereka menjadi seperti itu.
Akhirnya, dan pada akhirnya, kita akan bertanya-tanya apakah mereka akan tetap hidup  tetap utuh atau pecah berantakan. Alih-alih membosankan kita dengan resolusi yang  dangkal, Farhadi membawa kita lebih dalam dan lebih ke dalam cerita, yang akhirnya menelanjangi sisi sisi yang abu abu dan tidak mengenakkan dari masalah cinta ini.













Beberapa orang mungkin cenderung melihat film sebagai sebuah drama sinetron karena banyak detail yang dramatis, yang tadaaa..surprise !!  adalah potongan-potongan informasi yang mengejutkan. haha.. Tapi semua rahasia  yang perlahan-lahan terungkap ini sebenarnya berada di sana pada awal film. Ini adalah tentang menemukan saat yang tepat untuk membiarkan penonton masuk ke dalamanya. Mungkin, ini adalah karunia terbesar Farhadi sebagai penulis. Sebagai sutradara ia tidak kurang brilian, terutama dalam bagaimana dia menggambarkan dunia begitu nyata. Anda merasa seolah-olah ia seperti memasang kamera ke rumah pribadi seseorang, mengamatinya dan menceritakannya lewat potongan gambar tersebut.  Laci penuh sampah, tumpukan barang tidak jelas ada di mana-mana, dan hal hal biasa lainnya lagi. Rasanya seolah-olah saya ini adalah lalat yang menempel di dinding, dan menonton drama drama tersebut terjadi.

Farhadi membuat cerita tentang masa lalu yang seluruhnya diceritakan di masa sekarang. Ia menolak menggunakan flasback untuk mengungkapkan hal hal yang mengarahkan apa sebenarnya terjadi. Drama ini mencapai puncaknya saat kesalahan para karakternya terungkap satu persatu dengan dramatis dan mencolok.
Ditulis dengan pengetahuan penuh atas kondisi cerita yang dibangunnya, Farhadi telah mencetak maha karya lain tentang  sebuah perasaan yang merupakan hasil yang mengerikan dari kesalahan masa lalu.
Farhadi menawarkan para karakter nya kesempatan penebusan yang lain,  Ia memungkinkan mereka untuk memaafkan, tetapi tidak melupakan. Forgiven, but not forgotten.
****
The Past by Ashgar Farhadi

Wednesday, January 1, 2014

Review : Blue Is The Warmest Colour ( 2013 )

 La Vie d'Adèle – Chapitres 1 & 2 ( 2013 )
A.k.a
Blue Is the Warmest Colour


Starring : Léa Seydoux, Adèle Exarchopoulos, Salim Kechiouche, Aurélien Recoing.
Directed by Abdellatif Kechiche
"This is still a blazingly emotional and explosively sexy film"



Dengan segala percikan panas yang melingkupi film ini, mulai dari memenangkan award tertinggi Cannes Film Festival, konten seksual yang eksplisit, serta perseteruan terbuka antara sang sutradara dan kedua aktris utamanya, Blue Is The Warmest Color, is in fact adalah film wajib tonton tahun ini, dan itu bukan karena segala percikan drama diatas, tapi lebih karena apa yang akan kita dengar selama bertahun tahun mendatang dari film ini adalah Adele Exarchopoulos. Adele memberikan sebuah performance yang berdedikasi, indah , dan sangat brilliant.
Dari saat pertama Adele ( Adele Exarchopouloos ) berpapasan dengan Emma ( Lea Seydoux ) di jalan, its clear..jelas sudah bagaimana Emma menarik perhatian hati Adele.Adele kemudian sempat berkencan dengan laki laki teman sekolahnya, tapi Adele sendiri tidak merasakan passion atau hasrat yang harusnya ada.
 
 
 
 






Mengakui naluri nya yang menyukai sesama jenis, berarti membawa diri nya sendiri menghadapi sindiran, ejekan dan konfrontasi dari teman teman nya secara terbuka, serta membawa diri nya ke dalam dunia yang asing baginya. Tapi tetap saja, untuk idealisme nya, untuk cinta pada pandangan pertama nya terhadap Emma, tidak ada pengorbanan yang terasa terlalu besar.


Untuk kehebohan dan kontroversi akan percintaan sesama jenis dan adegan adegan ranjang nya yang begitu intens dan eksplisit, film ini buat saya sebenarnya tidak mengeksploitasi frame frame tersebut, but quite the opposite ; yaitu disintegrasi sebuah hubungan cinta di pusat nya, antara 2 orang yang saling menyebrangi hati satu sama lain, dan terjebak dalam dinamika yang bisa diprediksi dengan pola yang sama normal nya dengan percintaan pasangan straight. Jadi sebenarnya ini juga menjadi catatan sendiri buat gue, yaitu film ini tidak se'porno' yang dilabelkan banyak orang. Kadang kita cenderung terlalu fokus pada hal hal yang mencolok ( dalam hal ini untuk adegan seks sesama perempuan eksplisit nya ), sehingga tidak bisa berkonsentrasi lagi menerima maksud cerita ini sebenarnya.

Ini adalah tipe tipe cerita coming-out and coming-of-age yang mencerminkan kecanggungan, the awkward messiness of young romance. Mungkin durasi nya terasa panjang, tapi film ini sendiri, ya...tidak akan bisa benar benar eksis tanpa 10 menit yang ekslusive akan adegan ranjang nya yang dilakoni baik Adele dan Lea dengan begitu intens dan agresif. Hal tersebut mewakili berkembangnya pribadi Adele yang masih muda kala itu, dan kemudian keputusasaan Adele yang menjadi kesepian dalam hubungan cinta mereka.
We fall into and out of love, and in this case, emotionally and physically.

Kechiche tidak hanya berlama lama dengan adegan bercinta mereka, tapi juga rutinitas mereka sehari hari, everyday scenes of meals, work and leisure time. Kita dengan pelan tapi pasti diajak mengeksplorasi awal mula hubungan Adele dan Emma. Yang setiap menit nya semakin intens seiiring bertambah dewasa nya mereka, dan bagaimana mereka mulai terkoyak ketika menyadari kalau dunia ternyata sangat luas dan penuh dengan kemungkinan kemungkinan yang expansive daripada apa yang mereka tau dan percayai dari dua tahun awal hubungan mereka.


 
 
 
 
 


And despite how Kechiche mendirect film ini dengan arogan dan bertangan besi, menurut pengakuan baik Lea Seydoux dan Adele Exarchoploulos, gue salut dengan bagaimana Kechiche membalut dan men-treat sisi seksualitas dari hubungan Adele dan Emma ini dengan lembut, manis serta mengalir dengan pas, dan bagaimana bahwa curi curi pandang, dan simple gesture lainnya bisa memiliki arti yang mendalam, manis tapi tidak terlihat norak, serta bagaimana kekuatan dan efek dari sebuah hubungan dari cinta pertama akan mempunyai pengaruh dalam hidup kita dalam hal hal yang mungkin tak pernah kita sadari.
Ini adalah sebuah memori melankolis akan sebuah "the first great loss" after " the first great love"

Blue Is The Warmest Color mengingatkan gue dengan Weekend ( 2011 ) nya Andrew Haigh, di Weekend, apa yang terjadi antara Glen dan Russell, sama dengan Adele dan Ema. They simply fall in love, despite marked differences in the way they approach their lives.

Forget the controversy and see Blue Is The Warmest Color for what truly is : a warm and compassionate odd to the vagaries of the heart and all its unexpected beauties. Emotionally immersive, with extraordinary - and extraordinarily intimate-performances.