Tuesday, February 25, 2014

Movie Review : Caché ( 2005 )

Caché
Cast Includes : Daniel Auteuil, Juliet Binoche
Writer : Michael Haneke
Director : Michael Haneke
















Georges Laurent ( Auteuil ), seorang host acara talkshow di sebuah televisi, mulai menerima video video aneh yang difilmkan diluar rumah nya.  Awalnya, tampak seperti candaan biasa, pasif dan tidak berbahaya, tapi kelamaan hal tersebut mulai mengganggu dan memberikan perasaan tidak aman bagi Georges, Anne ( Binoche ) istrinya dan anak mereka.
Video pertama berisikan gambar rumah mereka dan lingkungan sekitar yang dishoot oleh seseorang.
Video lainnya datang, menunjukkan gambar sebuah rumah, dimana Georges dan keluarga nya pernah tinggal disitu sewaktu kecil. semua video diterima dengan gaya gambar yang sama ; sebuah kamera di kejauhan, yang hanya diam memperhatikan, simply looking. Banyak scene di film ini sendiri yang juga memiliki gaya yang sama di video video tersebut, jadi mungkin kata "Caché" di sini bisa berarti seperti menonton diri sendiri sama seperti video video yang menonton keluarga Laurents tersebut.
Tidak ada komentar di dalam video video tersebut, atau sekedar tulisan dan petunjuk lainnya. Or perhaps, dalam video video tersebut mengandung pesan yang sama : seseorang ingin mereka tahu bahwa mereka sedang diperhatikan.

Kelamaan, hal tersebut mengganggu kehidupan keluarga Laurent, baik dalam rumah, pekerjaan dan pernikahan Georges dan istrinya. Tapi karena video tersebut tidak mengandung ancaman yang terang terangan, polisi menolak untuk mengusut nya.
















Of course.., Haneke tidak memberikan kita gambaran keseharian rumah tangga yang simple atau membosankan. Haneke banyak menampilkan ketegangan dimana sejak awal, keluarga Laurents jelas sedang diteror oleh seseorang lewat video tersebut, mulai dari video pertama yang berisikan gambar rumah mereka, mobil yang datang dan pergi, pejalan kaki yang sesekali lewat.

Haneke benar benar membuat film ini dengan tempo yang diinginkannya, dan itu benar benar lambat.
Ini semua datang dari seorang filmmaker yang dua tahun sebelumnya membuat sebuah film tentang post-apocayptic di "Time of the Wolf ( 2003 )", yang tau bagaimana carantya bermain dengan kegelisahan para tokoh protagonis nya sekaligus penontonnya. Saat banyak petunjuk mulai berdatangan, keluarga Laurents semakin merasa takut dan gelisah, sama seperti saya yang menonton, yang juga merasa berada di posisi yang sama dengan sang istri, terjebak dalam kegelapan, tidak mengetahui cerita lengkap dari masa lalu Georges yang selalu ingin ia kubur dalam dalam.















Bagi saya, Caché sama seram dan thrilling nya dengan film film horor lainnya, dimana seorang pembunuh yang haus darah sedang mengancam dan akan muncul kapan saja diwaktu yang tidak kita kira, memgang pisau atau kapak atau instrumen berdarah lainnya yang siap diayunkan.
Dalam sebuah interview, Haneke mengatakan bahwa ia sebenarnya ingin membuat film tentang rasa bersalah, well..he could not have been more successful. Masa kecil George dan rahasia yang ada didalamnya sebenarnya berhubungan dengan sebuah peristiwa bersejarah. Georges adalah seorang yang arogan, tapi juga terkenal dan mudah disukai. Saat banyak hal mulai terungkap, Georges mulai berlaku buruk, keinginan si istri untuk tetap menyukai dan menerima sifat sifat sang suami inilah yang semakin membuat film ini rumit.

Performa yang diberikan oleh Auteuil dan Binoche sebagai George dan Anne sangat baik. Ketika video video tersebut mulai mengancam kehidupan mereka, Georges tampak sangat berusaha untuk bersikap biasa saja seakan tidak ada yang mengganggu hidup mereka. Binoche juga tampil sangat meyakinkan sebagai seorang wanita tidak mengetahui siapa suami nya ini sesungguh nya.

Caché adalah karya masterpiece dari Michael Haneke, sebuah drama thriller yang bermain main dengan emosi, rasa penasaran, dan perasaan kita tentang penolakan dan rasa bersalah, yang dicampur dengan unsur unsur dalam diri kita masing masing, yang kemudian diatur sedemikian rupa, difilmkan dengan tehnik luar biasa.

And clearly, it is one of the great film of this last decade, and its from one of Europe’s very finest filmmakers.

Movie Review : August ; Osage County ( 2013 )

August : Osage County
Cast Includes : Meryl Streep, Julia Robert, Juliette Lewis, Sam Shepart, Ewan McGregor, Abigail Breslin
Director : John Wells

















Drama itu dimulai ketika rumah keluarga Weston dipenuhi sanak saudara mereka. Sang ibu, Violet ( Meryl Streep ) panik mengetahui suaminya, Beverly ( Sam Shepard ) menghilang tanpa kabar, datanglah ketiga putri mereka, Barbara ( Julia Robert ), Karen ( Juliette Lewis ), dan Ivy ( Julianne Nicholson ). Barbara mengajak suami dan anaknya, sedangkan Karen mengajak tunangannya. Ada juga bibi dan paman mereka, serta Charles anak mereka. Suasana ramai itu kemudian dikejutkan ketika diketahui sang ayah ternyata ditemukan bunuh diri menenggelamkan diri di tengah danau. Ketengangan mencapai puncaknya ketika acara makan malam peringatan kematian sang ayah, ketika Violet mengkonfrontasi satu persatu anggota keluarganya di meja makan, dan mengungkapkan rahasia rahasia kelam mereka. Violet terlihat seperti serial bully yang memposisikan dirinya sebagai "truth-teller" sambil mencari korban selanjutny

Ada beberapa momen cemerlang di film ini, diantara nya adalah Sam Shepard awalnya. Dia tau bagaimana untuk bermain secara diam diam tanpa mencolok, tapi menarik perhatian tanpa perlu memberikan grand entrace terhadap karakter nya sendiri. Kemudian ada Margo Martindale yang tampil heboh sebagai adik Violet, yang meminta suami nya mencium bau keringat yang ada di ketiak nya, masih ada juga Chris Cooper yang menjadi suami nya, yang bisa tertawa heboh dan mencairkan suasana. Nanti nya, Cooper mempunyai sesi tersendiri, saat ia menatap istri nya dengan pedih dan memarahi nya atas perlakuan kejam nya terhadap anak mereka sendiri.That's heart rending for sure. Dia membela anak nya yang introvert dan canggung, yang ditampilkan Benedict Cumberbatch dalam waktu yang singkat tapi spot on.














Ini juga adalah filmnya Meryl Streep dan Julia Robert,  And this is all about world class acting. Streep sangat mencolok ketika ia muncul dengan wig nya, dan sambil merokok dengan jari jari nya yang kurus dan keriput dan kata kata tak beraturan yang keluar dari mulut nya. Tenggelam perlahan dan semakin ringkih dan rapuh akibat kanker dan kencanduannya terhadap obat obat penahan sakit, tapi saat ia sudah mengenakan wig nya dan make up nya, ia berubah menjadi seorang yang getir, sinis dan siap menggigit siapa saja.

Suprisingly, Robert does better too. Barbara yang dibawakannya menjukkan kemarahan, kebencian dan rasa tidak aman. Robert tidak menunjukkan bagaimana Barbara membawa kemarahannya terhadap ibunya kepada dirinya sendiri, which would have given the character another dimension.
Saya juga menyukai 'pidato' nya terhadap putri nya yang masih remaja ( Abigail Breslin ) ketika ia mengetahui ayah nya meninggal.

 " Die after me, allright ? i don't care what else you do, where you go, how you screw up your life, just survive, please"
Kata kata tersebut mungkin di sudut dunia lain juga diucapkan oleh seseorang kepada anaknya saat mengetahui kematian mendadak orang tuanya, dan juga saat fondasi fondasi hidupnya mulai retak.

Well, kalau kalian merasa mempunyai keluarga yang dysfunctional atau bermasalah dan penuh dengan drama, then this film will make you feel better. I mean is, saya sendiri tidak tahu harus merasa kasihan dan simpati nya terhadap siapa.   Violet yang menjadi tua dan getir, Barbara yang dikhianati oleh suaminya, Karen yang tunangannya seperti predator, Ivy yang jatuh cinta dengan orang yang salah, atau kepada paman dan bibi mereka yang ternyata mempunyai rahasia yang lebih besar yang ditutupi hampir selama 30 tahun. Singkatnya : semua adalah kekacauan

Satu yang menjadi sorot gue adalah, hubungan keluarga mereka yang jelas tidak akur, dan sama sekali asing. I mean, they just look like a bunch of strangers called family. 

Meryl Streep and Julia Robert is on fire !!
Funny, dark and just brilliant! no pun intended. 

****

Movie Review : The Maltese Falcon ( 1941 )

The Maltese Falcon
Cast Includes : Humphrey Bogart, Mary Astor, Gladys George
Writer : John Huston
Director : John Huston





















Sam Spade ( Bogart ) adalah seorang detektif swasta di San Fransisco yang terlibat sebuah kasus misteri ketika ia dan rekannya mengivenstigasi sebuah kasus hilangnya adik Miss Ruth Wonderly. Tak lama, Spade menerima kabar bahwa rekannya terbunuh. Satu persatu karakter aneh dan asing lalu lalang dalam kasus ini sebelum akhirnya ia semakin dekat menyelesaikan kasusnya sendiri.
Setiap karakter memiliki persamaan dalam satu hal, yaitu hasrat mereka yang begitu besar untuk mendapatkan patung Maltese Falcon yang terbuat dari emas. Falcon ( elang ) sendiri melambangkan ketamakan, ketakutan dan kekerasan. Patung itu sendiri sebenarnya tidak berarti apa apa, dan tidak terlalu penting, dan hanya sebagai simbol berbagai sifat dan perlawanan dalam film ini.

Performa Bogart sebagai Spade sangat berpengaruh dalam karier nya. Ia dikenal sebagai aktor yang dingin, tough-guy, dengan senyum tipis yang terlihat terpaksa dengan wajah sendu nya, yang nantinya akan membawa nya ke dalam film nya yang paling terkenal, salah satu nya Casablanca.
The myth was born. The Maltese Falcon juga merupakan titik penting dalam perjalanan karier John Huston, sang sutradara ( yang sebelumnya giat menjadi screenwriter ), yang dengan efisien, praktis dan berhasil membuat film ini sebagai salah satu karya klasik yang sukses untuk studio Warner Bros. Film ini merupakan debut nya sebagai sutradara, yang langsung melejitkan namanya di elit hollywood, dia menunjukkan talenta nya yang begitu jelas terlihat, diwaktu yang sama saat Hitchcock yang sedang membuat film Rebecca dan Orson Wlles yang juga sedang membuat Citizen Kane. 





















Gaya film ini sendiri merupakan salah satu unsur penting yang membuat film ini sukses. Alur cerita dan adegan aksi nya padat, tapi yang paling menarik adalah para karakter nya yang berhasil membuat hidup film ini, worth to watch.
Violence / kekerasan dalam film ini pun tampil dengan implisit atau tidak terang terangan, instead, nuansa nuansa yang muncul dari setiap perkataan orang orang di film ini dijiwai oleh kekerasan dan brutalitas.

The Maltese Falcon adalah salah satu film misteri detektif klasik yang populer yang pernah dibuat, dan banyak pakar serta penggiat film mempertimbangkannya sebagai salah satu pelopor genre film noir di Hollywood.
Filmnya sendiri meninggalkan perasaan getir untuk penonton, walau dengan konklusi yang sudah dipetakan di akhir.

Tense and enterteining film noir, The Maltese Falcon merupakan satu dari sekian banyak yang mendirikan aspek aspek penting dalam genre film noir. Ensemble cast yang baik, dialog yang renyah dan terarah serta cinematografi hitam putih yang sangat georgeus. The Maltese Falcon its status among great classic movies

***


Monday, February 24, 2014

Movie Review : Blue Jasmine ( 2013 )

Blue Jasmine 
Cast Includes : Cate Blanchett, Sally Hawkins, Alec Baldwin, Peter Sarsgaard
Writer : Woody Allen
Director : Woody Allen


















Blue Jasmine bisa masuk dengan mudah dalam deretan karya karya sukses Woddy Allen, tapi agak berbeda dengan karya nya yang lain, Blue Jasmine agak sulit ditonton. Mekar dan berkembang karena karakter karakter nya, terutama Cate Blanchett sebagai karakter utamanya, yang berhasil "menangkap" histeria seorang perempuan yang dunia nya tiba tiba kacau diluar kendali. Dan ini adalah penggambaran yang brutal serta realistis mengenai sosialita yang jatuh yang berhasil dihidupkan Allen di film ini.

Film nya sendiri berkisah tentang Jasmine Francis, seorang sosialita di kalangan elit New York yang hidupnya meledak kacau setelah ia jatuh bangkrut dan menjadi janda setelah ditinggalkan suaminya yang penipu, Hal Francis ( Alec Baldwin ). Tanpa uang atau petunjuk, Jasmine pindah tinggal bersama adiknya, Ginger di San Francisco. Yang terjadi selanjutnya adalah serangkaian upaya serta manuver sakit hati nya untuk kembali mencoba menjadi social climber serta keputus asaan nya untuk kembali meraih masa masa jaya nya seperti waktu masih menjadi sosialita kelas atas.

Highlight dari film ini adalah Blanchett dan kemahirannya menciptakan karakter Jasmine yang sophisticated, angkuh, dan terlalu terpesona oleh dunia yang tidak memungkinkan dia memiliki kebebasan diri. Ia begitu larut dan tergantung dengan dunia sosilita yang bertebaran uang dan nama baik, sehingga membuat nya memilih menutup mata akan banyak hal. 

Dia merasa terlalu kaya untuk tidak bergantung pada uang, atau bahkan mempertanyakan kesetiaan suami nya yang payah. Dia juga sama sekali tidak memiliki kecurigaan atau pertanyaan terhadap suaminya yang juga menggunakan namanya untuk jaminan akan hal hal finansial dalam bisnis, yang akhirnya mencelakakan dirinya sendiri. 

Jasmine juga tidak tidak bisa menunjukkan penyesalan atau kasih sayang yang tulus terhadap adiknya, Ginger. Ginger yang dibawakan oleh Sally Hawkins sebagai saudara non-biologis Jasmine, merupakan sebuah pengingat dan salah satu unsur yang secara pintar digunakan oleh Allen untuk memberikan dorongan dan petunjuk yang cukup untuk karakter utamanya, Jasmine, untuk kembali ke dalam cerita.

 Sejalan dengan selera Jasmine, kita diberikan oleh Allen nuansa gambar gambar berwarna pastel yang elegan dan kaku ( terlihat dari setting tempat dan gaya berpakaian Jasmine ) saat film sedang berputar ke arah flasback hidup Jasmine sewaktu masih menjadi sosialita. Ginger, sebaliknya, Ginger memberikan kesan ceria, keras dan jujur. Hancur dan terlunta lunta dengan hidupnya, pikirannya retak semakin kacau sewaktu melihat gaya hidup adiknya yang jauh berbeda dengannya ketika masih menjadi sosialita ( orientasi pikrian Jasmine masih terpusat dengan kebiasaan nya dulu sewaktu masih menjadi sosialita ). Saat ia kembali mencoba menata hidupnya, kelelahan dan masalah yang mengikuti nya dari awal mulai mengejar nya juga.

Blue Jasmine mungkin bukanlah karya terbaik Allen, tapi jelas ini merupakan salah satu karya nya yang berani.
Hampir semua karakter karakter di film Allen berada dibawah naungannya, dan bergerak dengan kecepatan tertentu, berbicara tanpa tanda baca dan memancarkan energi yang gugup sampai membuat kita sendiri terpana sekaligus bingung.
Apa yang membuat Blue Jasmine ini bersatu, adalah karakter nya, masing masing dituangkan dalam porsi dan ruang mereka sendiri, terutama Blanchett.

Naskah nya sendiri memiliki pandangan yang sama kompleks nya akan para karakter pendukung, dan apa yang membuat Blue Jasmine memiliki sebuah integritas tertentu adalah pengakuannya, bahwa, meskipun ada perbedaan kelas dan kecanggihan, rasa dan latar belakang sosial ekonomi, setiap salah satu orang orang dalam film ini juga memiliki poin mereka masing masing. Cita rasa Allen dalam memberikan stratifikasi kelas disini sebenarnya tidak terlalu mencolok , tapi rasa simpati nya lebih merata dari biasanya, dan ia dengan senang hati mengungkapkan bahwa lebih dari satu sisi dari setiap kepribadian, a strategy that helps bring out in a very fine cast.


Movie Review : Her ( 2013 )

Her
Cast Includes : Joaquin Phoenix, Scarlett Johansson, Amy Adams
Writer : Spike Jonze
Director : Spike Jonze

Samantha terdengari tipe tipe girl next door - bersahabat, ceria, bersemangat.
Untuk Theodore ( Joaquin Phoenix ), seorang yang puitis dan melankolis di film baru Spike Jonze ini, suara Samantha ( by Scarlett Johansson ) adalah garis kehidupan dan semangat nya di dunia ini, yang sebelumnya ia acuh kan sejak berpisah dengan istirnya. Samantha menyambutnya di pagi hari, dengan desah seksinya dan mengantar nya tidur setiap malam. Suara tersebut mengatur kesehariannya, membantu nya mengurus banyak hal, dan tidak seperti beberapa perempuan yang walau hebat multitasking, Samantha terdengar tidak mengeluh dengan perannya yang banyak, mulai dari asisten nya, temannya, dan penyelamatnya, yang sebenarnya membuatnya sebagai seorang pendamping yang sangat ideal, even if she's also just a software.

Theodore pun menikmati hari hari nya bersama suara Samantha di telinganya. Selain memiliki asisten yang begitu hebat, dia juga seperti mempunyai teman yang bisa diajak ngobrol dan bercanda. See, kecerdasan Samantha berfungsi seperti intuisi yang baik, dan dia belajar dari setiap pengalamannya. " Setiap saat, aku berkembang, sama sepertimu." katanya kepada Theodore. Dan Theodore pun menemukan dirinya jatuh ke pelukan suara Samantha.
















Mengagumkan sekaligus menggelikan melihat Jonze membuat hubungan romance antara Theodore dan Samantha benar benar romantis. " Kencan-kencan" mereka terlihat familiar bagi siapa saja yang pernah mengalami LDR untuk waktu yang lama
Sulit membayangkan seseorang selain Phoenix dalam peran yang melankolis ini. Dia didandani dengan ide ide Jonze lewat kumis lebat yang tidak rapi, yang terlihat seperti sesuatu yang tumbuh secara tidak sengaja tapi dibiarkan begitu saja. Phoenix adalah jenis aktor yang, for better and the worse, berusaha untuk selalu total dan menghilang ke dalam peran perannya. Saya merasa Phoenix pergi terlalu dalam dan jauh dalam film The Master, dimana penderitaannya terkalahkan oleh karakter nya sendiri. Dan dia kurang bisa menghubungkan dirinya dengan aktor lainnya. Namun, di dalam film ini, dia seperti menjadi dirinya sendiri, hanya merespon kepada suara, sehingga kinerja aktingnya berjalan mulus.

Bagaimana rasanya berbagi hidupmu dengan orang lain ?
Kebersamaan itu sulit, begitu juga dengan kesendirian. Film ini memberikan feeling feeling seperti seperti saat kau menonton matahari terbit dalam sunyi sambil bersandar ke bahu orang yang mengenal mu dan mencintai mu, mengobrol sepanjang malam dengannya tanpa tau kapan selesai nya - dan kau menikmatinya. Apa yang diungkapkan Jonze di film ini seperti tumpukan lelucon dan air mata, but it’s not something you can sort through right now.
Samantha pernah menjelaskan pertemuanya dengan Theodore seperti " I was somewhere else with you".
This is what it is to love someone you can't touch.
Tidak masalah dimana kau berada - selama kau mendengar suaranya di telinga, kau bersamanya
Mostly, i love this film because sometimes i recognize myself in Theodore's grinning face as he stands at the bow of a boat, technically alone, high off the idea that someone, something, loves him. That there is a loving presence with him that makes his life meaningful. On better days, that’s me.


Saturday, February 22, 2014

Review : The Seventh Seal ( 1957 )

The Seventh Seal ( 1957 )
Det Sjunde Inseglet

Cast Includes : Max Von Sydow, Gunnar Björnstrand, Bengt Ekerot, Nils Poppe
Director : Ingmar Bergman

















Berlatar abad ke 14 di Swedia di tengah tengah wabah black death dan perang salib, seorang ksatria ( Von Sydow ) dan pengikutnya, Jöns ( Björnstrand ) kembali ke rumah. Setelah berhasil lolos dari banyak bahaya dan perangkap kematian lainnya selama perang dan perjalanannya, sang ksatria memasuki sebuah gereja dan bertemu tatap muka dengan seseorang yang memakai jubah hitam dan menyembunyikan dirinya. Diketahui bahwa sosok berjubah tersebut telah mengikutinya selama perjalanan pulangnya.

Walau berurusan dengan subjek yang gelap dan suram, film ini terbukti merangsang pemikiran dan disutradarai dengan keahlian yang baik, sehingga siapapun yang menonton seperti diajak masuk dan melupakan isu isu depresi yang menjadi tema film ini.
Bergman sungguh adalah masternya film film yang broody genre ( yang banyak mengajak merenung dan berpikir ), selalu mengeksplorasi kompleksitas kehidupan manusia serta agama yang menjadi kepercayaannya.

 Kematian berada dimana mana disaat terjadi wabah dan disaat itu terjadi, sang ksatria bermain catur dengan si kematian, yang diwujudkan oleh sosok berjubah hitam, yang bagi Berman adalah sebuah hipotesis pribadinya mengenai Tuhan dan agama. Menggunakan wabah, Bergman menawarkan penjelasan wawasan lain dari orang orang secara pribadi mengenai kepercayaan mereka, dan cara mereka menerima takdir mereka dengan cara berbeda, tergantung dengan pembelajaran spiritual mereka dan hubungan mereka dengan Tuhan, yang mereka terima sebagai sang Pencipta dan yang memiliki kuasa atas yang baik, dan iblis yang jahat, yang harus diusir dan dibuang.

The film is great, tapi ketika menonton nya lagi ( ini yang kedua kali hehe ), terbersit pertanyaan dalam hati saya, akan betapa sedikitknya sebenarnya adegan bermain catur itu berlangsung. Saya hanya menyadari nya ketika sang kematian berkata 'checkmate'. Ide yang mengagumkan bagi saya, karena itu berarti membuat pesan film ini tersampaikan dengan baik, bahwa sang ksatria tahu bahwa dia tidak akan pernah menang, dan menyerahkan dirinya sendiri untuk kalah setelah ia telah memastikan kemenangan dengan cara yang jauh berbeda.

Terang terangan bernuasa puitis, lambat dan suram, The Seventh Seal merupakan salah satu karya klasik Ingmar Bergman yang istimewa. The Seventh Seal telah menghantui banyak penggiat film ( termasuk saya ) dengan tantangan berpikir dan merenung nya, dan telah menantang banyak orang orang yang percaya ataupun atheis sejak lama  dengan tema eksistensi kematian nya. Sudah lama dianggap sebagai salah satu film terbaik sepanjang masa, ini adalah film medieval drama dari Bergman yang sangat sulit ditonton dan diterima, tapi tidak mungkin dilupakan.

Some filmmakers are born. Ingmar Bergman was made

Review : Top Hat ( 1935 )

TOP HAT ( 1935 )
Cast Includes : Fred Astaire, Ginger Rogers, Edward Everett
Director : Mark Sandrich
Music and Lyric by Irving Berlin














Dua orang asing, Jerry Travers ( Astaire ) dan Dale Tremont ( Rogers ) bertemua tanpa sengaja. Tak lama, jalinan romance diantara mereka menjadi rumit dan membingungkan karena terjadinya kesalahan identitas.
However, Jerry akhirnya bisa memenangkan hati Dale ( yang sekarang ) berubah menjadi skeptikal dengan dansa dansa dan lagu romantis di seting tempat yang indah, seperti lagu "Isn't This A Lovely Day" yang menjadi background saat hujan lebat di London, atau  lagu "Cheek To Cheek" yang begitu legendaris, yang dinyanyikan Astaire di kota Venice saat berdansa dengan Rogers.

Seperti film film mereka sebelumnya, Top Hat dibuka dengan Fred yang memberikan kesan yang jelek terhadap Rogers, kemudian menghabiskan sisa durasinya untuk kembali memenangkan hati Rogers haha..
Pola ini tampakanya cocok dengan pribadi Astaire yang riang dan banyak bicara lengkap pesona annoying nya, walau dibandingkan dengan filmnya yang lain, ia lebih likeable di film ini. 
Ini adalah film keempat duet antara Fred Astaire dan Ginger Rogers, and mungkin adalah film terbaik mereka yang sampai sekarang sangat dicintai publik. Scene scene dansa mereka berdua begitu melegenda, siapa yang akan melupakan aksi Astaire yang latihan menari tap di dalam kamar hotel sambil memakai "top hat, white tie and tails " nya ?, kemudian tentu saja lagu Cheek to Cheek sendiri yang without a doubt adalah lagu yang paling romantis yang pernah dinyanyikan Astaire berikut dansa nya bersama Rogers yang begitu menghayutkan.
Film-film dari Astaire dan Rogers adalah pelarian yang sempurna untuk Setiap Era. Let's face it, ketika itu Amerika sedang dilanda Great Depression dimana hampir di seluruh pelosok Amerika sedang kesusahan. Fred and Rogers melakukan apa yang merupakan keahlian mereka, memberikan sebuah performance yang gliterring, ceria, sinis dan asiknya melarikan diri sejenak dari masa sulit itu. Saat menonton Fred dan Ginger menari, seperti menciptakan sebuah momen singkat yang begitu sempurna dan mulus, dan kita seperti diingatkan, bahwa, ya, pada waktu dan tempat yang tepat, hal itu akan terjadi, dan itu membuat segala sesuatu menjadi berharga.
 who says escpism can't be art ? haha

Film seperti Top Hat adalah sebuah contoh dimana sebuah film yang ketika menjadi sangat populer, akan menciptakan efek lain yaitu munculnya film lain yang memasangkan pasangan sebelumnya atas permintaan pasar. hanya saja ketika itu Astaire agak mengesankan keenganannya untuk kembali bermain bersama Rogers, tapi ia menyerah ketika produsernya saat itu, Pandro Berman, menawarkan 10% profit dari film film mereka.

Hal semacam itu memunculkan cerita lain, yaitu apakah Astaire dan Rogers saling tidak menyukai dan tidak pernah saling bicara diluar sorotan kamera. Keduanya, menurut beberapa artikel yang saya baca, berusaha menampik hal itu, tapi tetap saja kesan itu telah terbentuk. Walau mereka tidak pernah terlihat sebagai pasangan yang dekat diluar kamera, keduanya tampak saling menghormati talenta masing masing dan terlihat saling berbagi susah dan senang dan kepuasan dari pekerjaan mereka.

Top Hat, film box office terbesar studio RKO di era 1930an, adalah sebuah produksi yang istimewa ; kostum yang elegan, setting art-deco yang indah, musik riang dan lirik lirik yang ceria ( terima kasih kepada Irving Berlin ), semuanya sangat elok dan menakjubkan, dan tentu saja juga karena Fred Astaire dan Ginger Rogers.


Friday, February 21, 2014

Review : The General ( 1926 )

THE GENERAL
Cast Includes : Buster Keaton, Marion Mack, Charles Henry Smith
Directors : Clyde Buckman, Buster Keaton






















Sangat mengagumkan saat kita berpikir sudah berapa lama kah industri perfilman di dunia ini berlansung. Coba bayangkan, hampir sebagian orang yang hidup di hari ini tidak pernah menonton film film yang dulu dirilis tanpa dialog.
Apa yang dulu dianggap tegas sebagai satu satunya bentuk asli dari sebuah pembuatan film, sekarang tampaknya menjadi malah lebih sulit dilakukan bahkan dengan teknologi yang jauh lebih canggih.
Bayangkan anda mencoba untuk memberi tahu seseorang cerita cerita yang belum pernah mereka dengar sebelumnya hanya dengan menggunakan pantomim dan beberapa kalimat tertulis sederhana.
Tampak seperti kerumitan yang tak berujung bukan ?

Dan itulah yang dilakukan oleh Buster Keaton, yang merupakan co-writer dan sutradara serta bintang utama di The General.

Ketika perang sipil di Amerika pecah, Johnnie Gray ( Buster Keaton ) mencoba untuk ikut mendaftarkan diri ke sekutu. Tapi, para tentara tersebut merasa Johnnie lebih cocok dan lebih berguna di pekerjaan nya sebagai engineer di lokomotif nya, The General.
Kekasihnya, Annabelle ( Marion Mack ) mencampakkan Johnnie, karena melihat Johnnie terlalu pengecut untuk ikut berperang.

Setahun kemudian, Annabelle diculik ketika para pemberontak sedang membajak The General. Johnnie pun segera menyusun misi untuk menyelamatkan baik The General dan Annabelle sendiri. Setelah berhasil dan kembali ke kampung halaman mereka dengan banyak informasi beharga mengenai perang , Johnnie pun diberi penghargaan pangkat Letnan dan tentu nya juga Annabelle yang semakin menyayangi nya.

Untuk banyak hal, ini adalah masterpiece nya Buster Keaton, walau tidak dilihat sebagai salah satu film action-comedy terbaik sepanjang masa, pada saat itu para kritikus dan penonton memberikan respon yang sangat hangat dan menyenangkan. Ceritanya berdasarkan kisah nyata, The Great Locomotive Chase, yang terjadi pada 12 April 1862 di Georgia Utara sewaktu perang sipil.

However, kisah nyata tersebut secara umum diceritakan dari sudut pandang para prajurit bagian utara, dan Keaton menyadari jika dia hanya bisa menciptakan seorang tokoh pahlawan simpatik dari daerah selatan. Dalam beberapa versi, cerita aslinya berakhir dengan para pembajak tersebut ditangkap, dan sebagian dari mereka dieksekusi.

The General adalah harta karun yang sangat beharga bagi banyak pecinta dan penggiat film. Selain dari betapa 'wah' nya lokasi syuting dan perhatian yang begitu besar pada detail detail sejarah nya, Keaton ternyata melakukan sendiri semua adegan adegan berbahaya dalam film ini. Dia bahkan berhasil membuat dan mengatur adegan kereta yang terbakar di jembatan tersebut secara nyata.



















Buster Keaton terkenal dengan wajah kaku dan diam nya yang tetap tenang ditengah kekacauan. Aktor film bisu lainnya mungkin akan mencoba menarik perhatian supaya hal hal yang ingin mereka maksudkan bisa tersampaikan, tapi untuk Buster Keaton ia tetap bertahan dengan ciri khas " great stone face" nya tersebut.

Mengesampingkan teknologi dan kemajuannya dalam pembuatan film ini, The General masih mempertahankan pesonanya dan bakat dari film ini sendiri yang sanggup menghibur hingga sekarang.
Hal ini juga berfungsi sebagai pelajaran dalam sejarah sinema, menunjukkan bahwa hanya karena film adalah diam bukan berarti tidak bisa beresonansi.

Sunday, February 9, 2014

Review : Lovely Man ( 2011 )

LOVELY MAN
Director Teddy Soeriaatmadja
Screenwriter Teddy Soeriaatmadja
Cast Donny Damara, Raihaanun

 " HEH !! apa lu liat liat ? kayak kagak pernah liat banci aje !!"

Seru Ipuy kepada bapak penjaga warung yang tertegun melihatnya sedang duduk bersama seorang remaja berjilbab dan berwajah polos.

Sebelumnya, Cahaya ( Raihannun ) sama sekali tidak pernah menyangka, pertemuan pertama dengan ayahnya setelah 15 tahun ditinggal pergi akan berlangsung di pinggir jalan, tempat sang ayah sedang "bekerja" bersama teman temannya, dan juga, sosok ayah dalam pikirannya sangat jauh berbeda dengan laki laki yang berdiri di depannya tersebut. Walau dilarang sang ibu mencari ayahnya, Cahaya tetap nekad mendatangi Jakarta untuk mencari sang ayah. Menggeluti profesi waria adalah pilihan Ipuy, ia tidak menyesal atau malu atau bahkan merasa terpaksa. Ipuy menganggap setiap orang memiliki jalan hidup masing masing, dan jalan hidupnya adalah seperti ini. Seperti hujan yang turun ke bumi, alih alih menghindar, Ipuy menghadapi nya dan menikmatinya.

Bagi baik Cahaya dan Ipuy, saling bertemu dengan kondisi seperti itu adalah sangat mengejutkan.  Awalnya terlihat sepertinya  dunia mereka begitu jauh sehingga sama sekali tidak ada cara untuk mereka mulai memperbaiki hubungan ayah anak tersebut, dan saat itulah inti drama ini berdatangan dengan sendirinya. Sebagai pasangan yang dipaksa untuk menghabiskan waktu bersama sama, mereka secara perlahan mulai mendapati sebuah persepsi yang mendalam akan kehidupan masing masing. Dengan setting malam yang terlihat cerah, ayah anak yang sama sekali asing ini belajar untuk membuka diri dan jujur satu sama lain, melawan segala rintangan yang ada, mereka belajar untuk saling memahami.

Scene saat Ipuy yang terlihat ngeri dan terkejut mengetahui gadis polos didepannya adalah anaknya, disinilah semuanya mulai menarik. Soeriaatmadja mulai bermain dengan ekspektasi kita dan persepsi akan Cahaya dan Ipuy dan secara sistematis pula membongkar persepsi persepsi awal tersebut.
Keduanya ada pada sudut untuk belajar yang curam dan penuh dengan prasangka awal ( kebanyakan Ipuy ). Dan ketika malam semakin larut dan kabur, kebenaran pun terkubur dan perasaan tidak aman semakin tumbuh dan muncul di permukaan.

Ini bukanlah narasi dari sebuah imajinasi, seperti Shakespeare, tema tidak selalu harus baru untuk bisa berjalan dan bergabung ke dalam cerita. Dengan karakter yang tidak terlalu mencolok, Raihaanun sangat baik berpasangan dengan Donny Damara, sebagai ayah dan anak. Dan ini semua berjalan dengan dua arah : Cahaya yang juga memiliki pergumulannya sendiri, dan Ipuy yang bergulat dengan dirinya sendiri mengenai asingnya perasaan keduanya, terutama saat Ipuy mendengar Cahaya menceritakan hidupnya.

Dan diatas segalanya, ini adalah performance terbaiknya nya Donny Damara. Dengan dagunya yang persegi, alis matanya yang tebal, tak lupa otot lengannya yang sangat menonjol, Donny sangat memperhatikan detail kecilnya sebagai Ipuy, seperti memainkan bulu matanya, membenarkan wig nya, dan sesekali memperhatikan kuku tangannya. Belum lagi kosakata dan gaya bicara sebagai Ipuy yang benar benar terasa nyata. Ipuy menggunakan kata katanya yang tajam sebagai senjata dan untuk menenangkan dirinya sendiri dalam menghadapi  publik luas yang selama ini sudah memiliki penilaian ( yang tidak menyenangkan ) sendiri terhadap transgender.

Lovely Man, in a word, Lovely

****
Lovely Man ( 2011 )
A Film by Teddy Soeriaatmadja


Tuesday, February 4, 2014

Review : Short Term 12 ( 2013 )

 Short Term 12
Starring : Brie Larson, John Gallagher Jr, Frantz Turner
Director : Destin Cretton



Look into my eyes so you know what it’s like
To live a life not knowing what a normal life’s like.

Lirik lagu rap tersebut dinyanyikan oleh Marcus ( Keith Stanfield ), salah satu remaja bermasalah yang tinggal di sebuah rumah asuh. Marcus akan berusia 18 tahun sebentar lagi, yang berarti usia dimana ia sudah dianggap cukup umur dan berhak meninggalkan rumah tersebut dan menuntun dirinya sendiri ke dalam dunia nyata yang selama ini terlihat membalikkan badan kepadanya.
Dia korban kekerasan orang tua dan ketidakpedulian sosial , serta keterasingan dari keluarganya dan normalitas yang diciptakan dan dibagi oleh sesama penghuni fasilitas rumah asuh ini.

Salah satu pengurus di rumah asuh tersebut adalah Grace ( Brie Larson ), yang juga dulu pernah menjadi remaja bermasalah dan sekarang berharap ia juga bisa membantu dan menjadi pembimbing bagi para remaja tersebut. Masa lalu Grace yang menyakitkan kembali muncul menghantui nya, tapi diperlihatkan dengan sengaja dalam potongan potongan yang kurang terlalu jelas, tidak ada detail lebih yang diberikan oleh Grace.

Saat film dimulai, Grace terlihat sudah meraih keseimbangan yang nyaman antara kehidupan pekerjaan dan pribadinya. Dia bisa menghandle dengan baik rutinitas kerja di rumah asuh tersebut yang terdapat banyak ledakan ledakan emosi dari beberapa remaja dengan percaya diri yang kuat.

Grace juga mempunyai kekasih, Mason ( John Gallagher Jr ), yang juga menjadi pengurus di rumah asuh tersebut. Hubungan Grace dan Mason terlihat stabil, playfull, dan jelas terlihat keduanya saling mencintai. Keduanya pun bisa bekerja sama mengurus rumah asuh tersebut.

Brie Larson sebagai Grace memberikan perfomance yang apik, inilah sambutan hangatnya atas peran utama yang sudah lama ia tunggu tunggu, setelah seringnya hanya mendapat porsi supporting parts di beberapa film seperti The Spectacular Now, Scott Pilgrim vs The World, ataupun serial The United States of Tara.
Terdapat sebuah kepolosan dan kejujuran yang menarik dalam dirinya, bahkan di dalam film ini, dimana karakter Grace dimaksudkan untuk terlihat pemalu dan rendah hati. Larson membuat semuanya berfokus pada dirinya tapi tanpa bermaksud begitu, dengan penggambaran bawaan alaminya Grace sebagai wanita yang memiliki integritas dan menyelesaikan persoalan dengan perlahan tapi pasti dengan caranya sendiri, dan menunggu para anak asuhnya membuka diri padanya.

Grace, dirinya sendiri juga pernah menjadi korban kekerasan fisik dan mental terhadap remaja, and somehow agak sedikit meragukan melihat bagaimana ia akan bisa mengurus dan menjadi teman bicara bagi para remaja bermasalah tersebut. Adegan favorit saya adalah dimana saat sorot kamera diam memperlihatkan reaksi wajah Grace saat salah satu remaja sedang bercerita tentang dirinya dan perasaannya, dia terihat berkonsentrasi memperhatikan remaja tersebut, mimik wajahnya yang dingin dan semakin dingin, seakan saya juga malah diajak untuk memperhatikan dan menebak nebak sebenarnya apa yang pernah terjadi pada Grace dulunya.
Saya menyukai Larson di film ini, seperti yang saya utarakan sebelumnya. Karakternya yang sebenarnya pemalu dan low profile malah terlihat lebih menonjol daripada karakter pacarnya, Mason, yang sebenarnya lebih riang dan "ramai".






















Cretton sepertinya mempunyai rencana yang jelas dengan Short Term 12. Grace dan Mason akan mengalami suatu titik pergolakan, dimana baik dengan kehidupan pribadi mereka ataupun pekerjaan mereka, and kita akan berpikir " oh that's it ! he or she is over the hump".
Salah satu remaja disana kembali mengalami gejolak emosi ataupun mengamuk dan membuat masalah.
One step forward, one fall back. Tidak akan ada obatnya, yang ada hanyalah harapan bahwa sesuatu yang baik  akan mendobrak "tembok tembok" perlawanan para remaja tersebut.

Mood yang melingkupi film ini begitu penuh, saya ketika menonton film ini merasa bergejolak dengan banyak hal, baik itu ekpektasi yang baik atau buruk, keseimbangannya rapuh dan ditambah dengan music score yang sangat lembut, dan bisa dirasakan bahwa komposer music score film ini tidak ingin melukai karakter karater di film ini yang rentan.
Short Term 12 leaves me shaken, but not hopelss.  It suggests that a certain kind of love, however short-term, can be everlasting.

***

Short Term 12
A Film by Destin Cretton