Wednesday, March 26, 2014

Review : Ninotchka ( 1939 )

Ninotchka 
Cast includes : Greta Garbo, Melvyn Douglas, Ina Claire
Writers : Charles Bracketts, Billy WIlder
Director : Ernst Lubitsch





















Greta Garbo laughs !!
Itulah slogan yang paling banyak muncul dalam poster poster promosi untuk film ini. Film komedi pertama seorang Greta Garbo. Sebuah slogan yang masih sama fascinating nya sekarang dan juga 70 tahun yang lalu.

Dalam Ninotchka, the legendary Greta Garbo menjadi Nina Ivanovna "Ninotchka" Yakushova, seorang yang diutus oleh  rusia  ke Paris yang memiliki misi untuk mengembalikan perhiasan perhiasan yang disita dari para aristokrat selama revolusi Rusia di tahun 1917, yang sebelumnya akan dijual oleh 3 orang Rusia lainnya, Iranov, Buljanov dan Kopalsky.
Kemudian muncul lah Count Leon d'Algout ( Melvyn Douglas ), yang juga diutus oleh mantan Grand Duchess Swana ( Ina Claire ) yang menginginkan perhiasannya kembali sebelum dijual oleh ketiga orang rusia tersebut. Bisa ditebak, persaingan sengit terjadi. Kaku dan keras pada awalnya, Nina pun perlahan mulai tergoda oleh Leon yang terlebih dulu jatuh cinta padanya

















Yang paling banyak didengung kan saat menonton Ninotchka adalah, bagaimana mungkin sepanjang karier panjang nya, film ini ternyata adalah film komedi pertamanya. Bertahun tahun, ia menjadi ratu drama di perfilman hollywod, lewat film filmnya yang memiliki unsur drama kuat dengan peran dan karakter yang kuat pula. but here she is, menunjukkan bahwa dirinya juga sama sempurna nya membawakan peran dalam sebuah film romantic comedy yang ringan dan charming.

Salah satu bagian paling hilarious adalah di awal awal film, saat  Nina dengan seringai lucu dan wajah kaku nya memuji muji pemerintahan Uni Soviet daripada bangsa barat. Salah satu letak komedi di film ini adalah Greta Garbo yang bisa mengundang tawa dari hampir setiap kalimatnya, tanpa terlalu banyak menggerakkan otot otot di wajah nya haha.., in fact, mungkin celetukan celetukan lucu dan sarkatis yang keluar dari ekspresi kaku nya itulah yang paling banyak mengundang senyum.

Dia bisa berakting, menyampaikan kalimat demi kalimat dalam cara yang lucu tanpa menekankan komedi itu sendiri, melainkan seperti memainkan perannya sealami mungkin, dan dengan cara itulah yang membuat karakter Nina benar benar lucu. That's the real talent of a great comedian!
Garbo juga memiliki chemistry yang sangat kuat dengan lawan mainnya, Melvyn Douglas, dan scene bersama mereka yang pertama, saat Nina mencoba menolaknya, dan bertanya dengan suaranya yang dalam "must you flirt ?"..hihi..are just as sweet as funny. 
Cara Garbo yang mencoba menjaga 'strict behaviour' nya ketika sedang dicium Douglas juga lucu dan mengesankan, begitu juga saat kemudian ia memerintah Douglas untuk mencium nya kembali, dan kemudian dengan tegas berkata "Again!" is too good haha..

Dan siapa yang bisa lupa dengan adegan saat Garbo pertama kali bertemu dengan butler ( kepala pelayan ) di rumah Douglas dan berkata " This man is very old, you shouldn't make him work. Do you whip him ?" haha..
Dan kemudian berkata kepada butler tersebut "go to bed, little father.".  

Pembawaan serius dengan suara tegas nya dalam hal ini, membuat adegan ini menjadi salah satu bagian yang penting dan lucu dalam film ini . Dan tentu saja, bagian dimana yang dibicarakan semua orang, scene "Garbo laughs" tersebut juga tidak mengecewakan. Tidak hanya mengenai tawa itu sendiri, itu semua seperti ada sesuatu dalam diri Nina yang selama ini akhirnya menampakkan dirinya, dengan tawa tersebut, Nina seperti menjadi orang baru.

Sayangnya, filmnya sendiri makin ke tengah mulai lebih berfokus pada sisi romantic nya itu sendiri dan jejak tema komedi yang diusung pun mulai melambat. Oh well, but romance is nothing new to Garbo, and so she also handles these scenes beautifully.
Semua scene scene nya bersama Melvyn Douglas is..gah..are just hopelessly romantic, dan sungguh sebuah kesenangan tersendiri melihat akting kedua orang ini bersama.
Proses Nina "mekar dan berkembang" dalam film ini dimainkan dengan sangat apik dan natural dan sangat mempesona oleh Garbo, dan membuat Ninotchka menjadi salah satu film klasik yang paling populer hingga saat ini.

Garbo laughs and so do we..:D

****

Ninotchka ( 1939 )
A Film by Ernst Lubitsch


Monday, March 24, 2014

Review : Snowpiercer ( 2013 )

Snowpiercer
Cast Include : Chris Evans, John Hurt, Jamie Bell, Octavia Spencer, Song Kang-Hoo, Ko Ah-Sung
Writers : Bong Jon-Hoo, Kelly Masterson
Director : Bong Jon-Hoo



















Saya tahu ini klise, but i must say this, kalo Snowpiercer adalah sesuatu yang tidak kita sering jumpai saat ini.
This is a smart, compelling, science fiction film.
Tentang sebuah kereta yang berjalan mengarungi beku nya masa depan, tidak boleh berhenti - yang tentu saja membuat kita terjebak dalam sebuah intrik, akan tampilan setting futuristik nya, sampai mengantarkan kita pada hal lainnya yang lebih menarik, yaitu perjalanannya sendiri yang dikemas dengan unik dan mendebarkan sampai kita sampai pada final nya, dimana kita tidak hanya peduli pada apa yang terjadi pada setiap karakter dalam perjalanan itu, tapi juga apa yang akan terjadi saat sampai mereka pad titik akhir perjalanan ( yang katanya tidak bisa berhenti tersebut. ).

Kita mungkin akan menemukan dan mengenali banyak celah kosong dan sisi retak dalam final perjalanan tesebut, tapi filmnya sendiri percaya diri dengan terus mendorongkan premis yang ditawarkan di awal film, mengenai sebuah perjalanan abadi mengarungi dunia yang beku tersebut,

Penonton pada dasarnya sudah dihempaskan ke dalam sebuah inti cerita dari awal film, dengan tensi ketegangan yang ada di kereta Snowpiercer, yang membawa berkonvoi manusia manusia yang masih bertahan hidup di bumi, dengan sistem kasta yang sangat mengkhawatirkan, dimana para golongan elit tinggal dengan nyaman di kompartemen depan, menikmati kecanggihan dengan serba ada, dan para golongan kelas bawah, para pekerja di gerbong belakang kereta, suram, kotor, berjejalan dan mendapat makanan dengan sistem jatah tertentu.
Dan semuanya ini dirancang oleh sang pemilik kereta, the one and only, mr.  Wilford ( Ed Harris ).


















17 tahun sudah sejak dunia membeku, yang awalnya merupakan eksperimen untuk melawan pemanasan global yang ternyata menghasilkan bencana besar dan mematikan. Kehidupan orang orang di gerbong belakang yang memprihatinkan membuat mereka merencanakan sebuah aksi penyerbuan berdarah untuk menerobos ke gerbong gerbong depan, yang dipimpin oleh Curtis ( Chris Evans ) dan Edgar ( Jamie Bell ), dengan bantuan nasehat dari seorang lelaki tua dan berlengan satu, Gilliam ( John Hurt ). Bergabung dengan mereka, Namgoong Minsu ( Song Kang-Ho) dan anaknya, Yona ( Ko Ah-Sung ), yang merupakan salah satu revolusioner dan juga dulunya ikut membuat pintu pintu antar gerbong kereta tersebut.. Menuju ke depan, mereka terus bergerak, dan tentu saja mr. Wilford tidak membuat misi mereka menjadi mudah.

Sebagai sebuah kesatuan film, Snowpiercer masih merupakan 'kendaraan' yang unggul dan canggih secara intelektual dan artistik diantara banyak sekali film film aksi futuristik saat ini. Filmnya sendiri, kadang kadang sengaja dilambatkan di beberapa scene untuk  memberikan waktu bagi kita mengidentifikasi para karakternya dan dunia distopia yang mereka jalani. 
















Distopia adalah masyarakat fiktif yang merupakan antitesis atau berlawanan dengan Utopia. Masyarakat distopia umumnya hidup di bawah pemerintahan yang otoriter atau totaliter, atau diawasi di bawah pengawasan sosial yang ketat dan menindas. Distopia biasanya terjadi pada masa depan bayangan atau sejarah alternatif, dan eksis akibat perbuatan manusia (merujuk kepada kesalahan yang dilakukan atau malah hanya merujuk kepada tindakan manusia yang sekadar berdiam diri dalam menghadapi masalah).

Ceritanya sendiri terus maju, dan semakin kita banyak maju bersama mereka, semakin kita merasa betapa tinggi resiko dan taruhan bagi semua orang yang terlibat dalam konflik di dalam kereta ini, dan kita juga diyakinkan dengan potensi bahaya yang ada bagi semua karakter, dan tidak ada yang benar benar aman dalam situasi penuh gejolak ini, makinlah saya sendiri diyakinkan ini menjadi sebuah film yang kejam yang tidak kenal kompromi dan terus bergulir dengan plot yang tidak terduga.

















Film ini juga mengambil waktu mereka sambil melihat lihat interior kereta yang penuh dengan daya tarik tersebut. Setiap gerbong memiliki fungsi tertentu, salah satu yang lucu dan memusingkan dan terasa dipelintir adalah ketika melihat sebuah gerbong untuk sekolah anak anak dari gerbong depan. Di dalam kelas yang terang dan menyenangkan tersebut, anak anak belajar dengan semangat tanpa mempertanyakan apapun, dengan sang ibu guru yang sedang hamil dengan ceria mengajarkan asal usul kereta dengan Wilford yang mereka puja puji setinggi langit.

The Cast is excellent, menghidupkan peran peran mereka yang memang terkonsep sederhana dengan penuh talenta dan kerja sama. Saya harus mengakui, bahwa saya sebelumnya sudah meng-underestimated Chris Evans karena berbagai filmnya, kecuali Puncture ( 2011 ), dan lewat film ini, saya bisa melihat bahwa Evans telah mengkonfirmasikan kepada saya, bahwa ia bisa melakukan lebih banyak hal daripada menjadi Captain America ( in tights ). Ada momen yang terasa menghantui saat Curtis menceritakan sisi gelapnya ke karakter lainnya, dan Evans sangat menarik ditonton dalam hal ini, menyampaikan sebuah horor yang tak terucapkan yang selama ini mendiami hatinya.
Kemudian cast lainnya sama sama mengesankan dalam peran mereka masing masing, baik itu Tilda Swinton yang dengan mengesankan membuat karakternya dibenci dengan mudah dalam hitungan detik, begitu jgua dengan Jamie Bell, Octavia Spencer, Song Kang-Hoo, dan John Hurt.
















Film ini as good as it can be untuk sebuah cerita science fiction, dan aspek aspek yang bisa dengan mudah dipermasalahkan pun bisa dengan gampang terlewatkan karena sudah lebih dulu nya kita di entertein dengan hal hal menarik di dalam kereta tersebut. Saya masih mengira ngira bagaimana kereta tersebut bisa bergerak degan cepat non stop selama lebih dari 10 tahun. Kita diajak melaju dengan cepat di beberapa bagian, dan kadang diajak menarik napas beberapa kali, sebelum kembali diseret dengan cepat ke gerbong demi gerbong kereta.
and if you're looking for a post-apocalyptic action flick, this has the good, this is a bumpy, wild ride, baby ;)

Saturday, March 8, 2014

Review : Demi Ucok ( 2012 )

Demi Ucok
Cast Includes : Geraldine Sianturi, Lina Marpaung
Writing, Directing by Sammaria Simanjuntak






















Di awal film, Mak Gondut ( Lina Marpaung ) sudah bersabda kepada anaknya, Glo ( Geraldine Sianturi ) kalau perempuan batak itu mempunyai 3 tugas yaitu : kawin sama orang batak, punya anak orang batak, dan punya menantu orang batak, barulah kau boleh sombong haha... Kalo kawin campuran, tak tinggi itu nilainya.

Glo adalah seorang filmmaker independen yang mengalami fase kebuntuan di karier nya setelah dalam 4 tahun belum memproduksi film baru karena masalah dana, setelah film pertamanya sukses dan meraih penghargaan, memasuki usia 29 tahun, Glo selalu dicecar oleh ibunya, Mak Gondut untuk cepat cepat menikah ( tentu nya sama orang batak juga ). Mak Gondut pun sibuk mendekatkan jodoh untuk anaknya ini, bahkan berkata akan mendanai film Glo 1 Milyar dengan uang asuransi nya, ooo..tapi tentu saja..*terms and condition apply ( baca : harus kawin sama orang batak )

Menjadi perempuan batak yang dikelilingi aturan konservatif seperti ini, Glo merasa itu adalah lingkaran maut dan berkaca pada opung dan emak nya, Mak Gondut yang sewaktu muda juga mempunyai mimpi menjadi bintang film, tapi malah lebih memilih menikah dan berkeluarga dan hidup boringly ever after, jelas Glo tambah menguatkan hati nya untuk tidak ingin menjadi seperti emak nya. Bagi Glo, menikah adalah semacam penjara yang berpotensi mengandaskan mimpinya membuat film kedua yang lebih profesional. 


















Demi Ucok is so hilarious, setidak nya itu yang terpikirkan oleh gue saat banyak "kata kata bijak" yang terucap dari film ini dengan nyinyir nya, baik lewat Mak Gondut ataupun Glo ataupun sahabat Glo, Nikki ( yang mengklaim dirinya lesbian, tapi sedang hamil ). Komedi yang absurd di film ini ditampilkan dengan porsi yang pas tanpa berlebihan, dan justru kekuatan terbesar kelucuan tersebut muncul dari karakterirasasi dan dialog dialog berkesan antara Glo dan Mak Gondut, dan juga ekspresi bosan Glo menghadapi sindiran yang terang terangan dari emak nya sendiri.

Apakah mungkin film ini sendiri adalah sinyal sinyal dari sebuah kisah jujur seorang Sammaria Simmanjuntak akan kehidupan pribadi nya sendiri ? mengingat selain Mak Gondut yang diperankan oleh ibunya sendiri, di film ini pun terlihat oleh kita tentang hubungan ibu dan anak,  curhatannya akan budaya batak yang konservatif, susahnya bikin film, semuanya ditampilkan dengan komikal dan absurd sehingga unsur komedi yang ada bisa maksimal.

Menjadikan adat batak sebagai tema utama di film ini, Sammaria pun sepertinya asik menuturkan dan bergosip dengan adat budaya nya sendiri. Sangat kocak bagi saya ketika ada beberapa adegan emak Glo yang bercakap bahasa batak dengan logat khas nya, saya juga tidak khawatir tidak akan mengerti joke joke yang ada disini, after all, hampir banyak dari kita yang perempuan pernah mengalami hal ini, at least di bagian di cecar supaya cepat kawin dan punya anak nya haha.., its like this can happen to anyone, batak or not.

Diluar kupasan utama akan adat batak dan idealisme mengenai pernikahannya, sebenarnya antara Glo dan Mak Gondut adalah orang yang normal normal saja, yang menarik adalah cara Sammaria membentuk karakter dan dialog dialog dan interaksi antar ibu dan anak ini. Pendirian yang berbeda 360 derajat dan selalu berperang dengan kepentingan masing masing itulah yang membuat detik demi detik film ini berharga dan kocak.
Glo, yang merupakan filmmaker yang independen dan idealis, yang bertekad untuk live by passion, tidak tertarik dengan cinta, membuat film tanpa dikejar kejar semboyan nikah muda, aman dan sejahtera yang diagungkan emak nya sendiri. 

Sedangkan mak Gondut, yahh..namanya juga emak emak tipikal ( maaf mak ! ), yang rajin merecoki anaknya, terutama jika putri nya sudah berhadapan dengan umur 30 dan masih belum menikah, rajin di usia emas nya dengan sibuk ikut berbagai MLM, aktif di gereja bahkan partai politik haha..
Yang menjadikan mak Gondut menarik adalah usahanya yang pantang menyerah dengan putri nya yang sama keras kepalanya ini, dan dengan pembawaan si emak yang lebih santai, natural dan lucu, membuat film ini jauh lebih kocak.























Perang tekad dan pendirian antara Glo dan Mak Gondut sangat mendominasi di film ini. Dibawakan dengan kocak, dan ada memunculkan beberapa bagian sentimental yang membuat gue bersimpati dan terharu, dan teringat dengan ( alm.) emak gue sendiri. Sammaria berhasil membawa film ini tidak terjatuh kedalam lubang slapstik konyol yang berlebihan ( mengingat ada nya beberapa adegan yang absurd nan kocak ), dan menyuntikkan cukup momen momen drama yang  tanpa harus berlinang derai air mata, tapi bisa menerbitkan perasaan haru.
Seiiring film selesai gue akhirnya bisa sangat mengerti kenapa film ini begitu dihargai, gue juga begitu, dan juga merasa terhibur dan tertawa geli, tapi bukan menertawakan.

****

Demi Ucok ( 2012 )


Monday, March 3, 2014

A Moment To Remember ; 86th Academy Award


















 Selesai sudah pesta akbar para elit Hollywood tahun ini tadi saat Best Motion Picture dibacakan dengan lantang oleh Will Smith ( still don't get it, why must Smith who read it ? :v )
Dengan host the famous Ellen DeGeneres, kali ini acara Oscar ini tampil agak beda dari yang sebelumnya. Tidak ada sindiran yahudi, atau semacam lagu "boobies song" nya MacFarlane seperti tahun lalu, Ellen tampil aman dengan joke joke khas nya, dan tentu saja dengan internet-bomb yang dilakukan Ellen lewat foto selfie epik yang memecahkan rekor retweet sepanjang masa haha.., tak kalah heboh juga saat Ellen membawakan pizza saat tengah acara dan membagikannya kepada para aktor aktris di sekitar nya, bahkan sempat menyuruh Brad Pitt membagi bagikan piring kertas dan meminta uang kepada Sandra Bullock untuk membayar tip pengantar pizza nya haha..( damn lucky pizza boy !! )
















Eniwei, here's the winner and congratulation !!

86th Academy Award :

Achievement in Costume Design -  The Great Gatsby
Achievement in Make up and hairstyling - Dallas Buyers Club
Achievement in Visual Effect - Gravity
Achievement in Production Design - The Great Gatsby
Achievement in Film Editing - Gravity
Achievement in Cinematography - Gravity
Achievement in sound mixing - Gravity
Achievement in sound editing - Gravity

Best original score - Gravity
Best original song - Let It Go ( Frozen )
Best live action short film - Helium
Best documentary feature - 20 Feet from Stardom
Best Documentary short subject - The Lady in Number 6
Best Foreign Film - The Great Beauty ( Italy )
Best Animated short film - Mr. Hublot
Best Animated feature film - Frozen

Best original screenplay - Her
Best adapted screenplay - 12 Years A Slave
Best Actor in supporting Role - Jared Letto ( Dallas Buyers Club )
Best Actress in supporting Role - Lupita Nyong'O ( 12 Years A Slave )
Best Actor in Leading Role - Matthew McConaughey ( Dallas Buyers Club )
Best Actress in Leading Role - Cate Blanchett ( Blue Jasmine )
Best Director - Alfonzo Cuaron ( Gravity )
Best Picture - 12 Years A Slave

YAY for Steve McQueen and entire cast of 12 Years A Slave

Photobomb Beni Cumberbatch and Anne Hathaway





The Golden Winner

Tasty pizza ( banyak anak, gak sempet makan di rumah ! )

another Epic selfie

Pizza is yumm, same as Channing Tate-yumm

When Brad Pitt serve pizza to Meryl Streep

Pengangan, supaya gak jatuh kedua kali dalam satu even haha..


When Kevin "John Doe" Spacey sharing his pizza