Monday, June 30, 2014

Movie Review : Grace Of Monaco ( 2014 )

Grace of Monaco
Starring : Nicole Kidman, Tim Roth, Frank Langella
Writer : Arash Amel
Director : Olivier Dahan

























Grace Kelly yang sedang di puncak kariernya, meninggalkan gemerlap nya Hollywood  untuk menikah dengan Prince Rainier of Monaco. 5 Tahun setelah menikah dengan Prince Rainier, Alfred Hitchcock datang ke Monaco untuk menemui Grace Kelly, yang saat itu sudah menjadi Grace,  Her Serene Highness The Princess of Monaco. Hitch jauh jauh datang ke Monaco untuk mengajak Grace kembali ke Hollywood dan menawari nya peran utama di film terbaru nya, " Marnie ".

Grace yang sangat ingin kembali ke Hollywood berharap suaminya bisa mendukung, tapi para penasehat di kerajaan merasa hal tersebut akan merusak citra Monaco sendiri, karena akan terlihat jika Grace menelantarkan suami dan keluarga dan rakyat nya saat sedang dalam krisis akibat perselisihan dengan Charles De Gaulle, presiden Perancis.
Di tengah semua itu, ketegangan muncul saat diketahui terdapat mata mata di tengah mereka yang menjual banyak informasi ke pihak Perancis.

Film yang terinspirasi dari tokoh dan peristiwa nyata ini mempunyai tolak ukur yang tidak terlalu memikat secara emosional, yang saya kira adalah efek samping yang terjadi yang tidak ada dalam rencana Olivier Dahan dan penulis skenario nya, Arash Amel. Mereka berusaha membuat kisah kehidupan bintang hollywood yang menjadi bangsawan kerajaan Monaco ini sejauh mungkin dari ide happily ever after dalam dongeng dongeng.
























Saya tidak tahu apa yang terjadi pada Olivier Dahan. Menilik prestasi kerja nya dalam membuat sebuah film biopik yang cemerlang seperti La Vie En Rose ( 2006 ) , Grace Of Monaco ini jelas merupakan sebuah penurunan dalam banyak hal, terutama dalam script dan pendalaman 2 karakter tokoh utama ( Grace Kelly & Prince Rainier ). Dahan membuat kita melihat proses adaptasi Grace di Monaco setelah berada disana selama 5 tahun, dan sudah mempunyai 2 anak. Fase yang janggal menurut saya, karena Grace kelihatan seperti anak sekolah yang belajar ketika sudah mau ada ujian.

Film ini disebut mengecewakan oleh berbagai pihak, rating busuk didapatnya dari banyak kritikus film, seolah olah film ini sungguh keterlaluan buruknya. Tapi saya tidak ingin terlalu mempercayai hal itu, bahkan saya tidak mau mempercayai sepersepuluh dari caci maki yang didapat film ini sebelum menonton sendiri. After all, bisa seburuk apa film yang berujung tombak seorang Nicole Kidman dan Olivier Dahan ?

Meskipun Kidman ini bisa dibilang 'a lil bit too old' untuk menjadi Grace Kelly yang saat itu berumur awal 30an, sedangkan Kidman sendiri sekarang sudah berusia 40an, she does well in tough role, dan tentu saja mempertahankan statusnya sebagai salah satu aktris yang paling menarik .
Memerankan tokoh nyata dan tokoh fiksional tentu saja dua hal yang memberikan tantangan yang berbeda, ada seperti semacam raihan/pencapaian yang otentik yang harus diraih bagi seluruh pemain, mengingat tokoh tokoh yang mereka perankan adalah nyata, terkenal dan masih hidup. Para aktor dan aktrisnya pun tidak mempunyai range yang lebar untuk berimproviasi dengan karakter mereka, tidak seperti karakter fiksional yang memberikan mereka kesempatan untuk berimproviasi dengan kreatif, hal ini sulit diterapkan dalam film ini, improvisasi yang berlebihan mungkin malah akan merusak keotentikan karakter nyata tersebut, apalagi untuk Nicole Kidman, tokoh yang ia perankan ini bukanlah sosok sembarangan.



Rasanya tak terhindarkan untuk membandingkan film ini dengan Diana, dimana Naomi Watts yang menjadi Princess DIana, yang juga sama dengan film Grace of Monaco ini, yang juga dihantam pukulan bertubi tubi dari kritikus seakan menjadi sasaran target kebencian.
Membaca melalui berbagai macam review, sering kali sulit untuk menghubungkan kritik keras dengan film yang sebenarnya. Dan beberapa review tidak benar-benar merupakan ulasan, tetapi lebih ke upaya besar membuat film ini sebagai sasak pukul.

Hal ini sering terjadi  Sebuah film high-profile yang mendapat review buruk dari mulut ke mulut, menyebar dan kemudian banyak kritikus lainnya yang menjadi beringas, seperti siap menguliti mangsanya.Pisau pisau kritikus terhadap Grace dari Monaco juga dipertajam oleh berita keluarga Kerajaan Monaco yang terus mengecam film tersebut.

Sebagai kritikus, dalam banyak kasus, mereka juga adalah manusia, dan saya sendiri menolak untuk selalu seiya sekata dengan mereka mengenai sebuah film.Sulit untuk mengabaikan semua negativitas ini ketika menonton Grace dari Monaco. In all fairness, bagaimanapun, Grace dari Monaco mungkin tidak sempurna tapi yang pasti bukan film buruk. Kali ini saya beranggapan serangan kritik yang ditujukan ke film ini terlalu overwhelming dan berlebihan. 

****

Grace of Monaco ( 2014 )
A Film by Olivier Dahan







Thursday, June 19, 2014

Movie Review : Rope ( 1948 )

Rope
Starring : James Stewart, John Dall, Farley Granger
Writer : Hume Cronyn, Patrick Hamilton
Director : Alfred Hitchcock



























Bulan kemarin merupakan bulan kelahiran sang legenda James Stewart, aktor dari Peensylvania ini yang mungkin paling dikenal lewat film film klasik seperti "It's A Wonderfull Life", " Vertigo", dan "Rear Window", dan masih banyak lagi lainnya. Dia pernah bekerja dengan banyak sutradara legendaris, mulai dari Frank Capra, George Cukor, hingga Alfred HItchcock. Dan banyak film film hasil kolaborasinya dengan Hitchcock yang sampai sekarang dianggap sebagai karya karya terbaik dari James Stewart.
Membicarakan secara detail tentang perjalanan karier dari James Stewart akan menjadi tugas yang sangat panjang dan akan membuat tulisan ini menjadi sangat panjang untuk dibaca haha.., so instead, saya akan mencoba menulis review tentang salah satu film dari daftar panjang filmografi James Stewart, yang juga merupakan salah satu dari 4 film kolaborasi nya bersama HItchcock, Tiga diantara nya adalah Rear Window, The Man Who Knew To Much dan Vertigo

Setelah membaca banyak ulasan lain dan fakta fakta mengenai film ini, satu hal yang aneh, adalah, dari semua film film hasil kerja sama James Stewart dengan Hitchcock, Rope merupakan satu satu nya film yang tidak disukai James Stewart. Dia pernah berkata bahwa dia merasa salah casting untuk peran Profesor Rupert Cadell di film ini. Saya sendiri merasa berbeda, dan sebagai penggemar berat James Stewart, saya merasa akan terasa adil jika saya melawan arus dan membahas film ini. Film yang sangat jarang dibicarakan jika dibandingkan dengan 3 film kolaborasi Stewart-Hithccock lainnya.

Rope is a fairy simple film. Baik dalam eksekusi skenario nya sendiri, konsep dan jalan cerita. Diadaptasi dari drama panggung karya Patrick Hamilton di tahun 1929, memakai judul yang sama, tapi mempunyai banyak perbedaan dari yang aslinya. Dengan karakter dan kejadian tertentu yang diubah atau seluruhnya berubah untuk keperluan film ini sendiri, tapi inti ceritanya sendiri ditetapkan untuk setia.

Cerita nya sendiri mengikuti Brandon dan Philip, dua pemuda yang tinggal di sebuah apartemen di New York. Sebuah perasaan bangga datang ketika mereka membunuh teman mereka. David, yang merasa lebih superior dan unggul dalam kecerdasan. Mereka mencekik David dengan tali dan menyembunyikan tubuh nya di peti kayu yang ada di apartemen mereka. Film ini kemudian beralih, dan memfokuskan cerita pada dua karakter ini dan apartemen mereka, dimana mereka mengadakan pesta di apartemen tersebut, lengkap dengan mengundang beberapa orang, termasuk ayah dan tunangan sang korban, serta profesor lama mereka, Rupert Cadell, yang nanti nya tidak membutuhkan waktu lama untuk mencurigai jika sebuah kejahatan sudah terjadi di ruangan tersebut.


























Difilmkan dengan cara yang tampaknya seragam dan sederhana,  dengan durasi waktu yang berjalan 80 menit, Rope adalah film yang sangat terasa original dan menarik baik dari depan kamera atau belakang nya. Cara film ini bermain sangat indah, dengan tamu tamu pesta dari tuan rumah pembunuh tersebut yang menawarkan percakapan percakapan dengan latar yang menyeramkan tersebut, dimana tak jauh dari tempat mereka duduk, terdapat mayat dari seseorang yang juga mereka kenal. Cara David dan Phillip yang berusaha se casual dan se santai mungkin menghadapi hal tersebut, seperti menciptakan suasana tegang, seperti tinggal menunggu waktu akan seseorang diantara mereka menyadari apa yang telah terjadi.
Suasana tegang dan penuh antisipasi seperti ini sepertinya sudah sah menjadi merk dagang akan seorang Alfred Hittchcock.

Stewart memberikan penampilan yang sangat baik sebagai sang profesor, dan sifat penasarannya lah yang membuat film ini menjadi tegang. John Dall, yang menjadi Brandon juga membawakan peran nya dengan tak kalah cemerlang disamping stewart, even steals the show.
Skenario yang luar biasa dan dengan ritme film yang mondar-mandir, terutama dengan setting utama dan satu satunya di sebuah apartemen sepanjang film, sama sekali tidak membuat film ini membosankan. Aneh jika selama ini kita menganggap nuansa suspense hanya bisa didapatkan dari sebuah seting tempat yang beragam, berdebu, lapuk, gelap, dan misterius, karena di film ini malah ditampilkan sebaliknya, sebuah seting apartemen yang mewah, terang, sama sekali tidak berdebu, apalagi lapuk, bahkan tidak misterius.
Rasa suspense itu sendiri terwujud berkat skenario yang baik yang dieksekusi dengan akting yang juga sangat baik dari semua aktor pendukung nya.

 Rope tetap menjadi salah satu film Hitchcock favorit saya, serta film yang saya pikirkan ketika mengingat karir yang besar James Stewart. Mungkin bukan kinerja terbaik, atau film terbaik nya baik dari James Stewart atau Alfred Hitchcock, tapi Rope akan menjadi salah satu film yang saya cintai dan sayang nya  terasa diremehkan oleh banyak orang. 
*****
Rope ( 1948 )
A Film by Alfred Hitchcock