Thursday, July 24, 2014

Movie Review : NOAH ( 2014 )

NOAH
Starring : Russell Crowe, Jennifer Connely , Emma Watson, Logan Lerman, Anthony Hopkins, Ray Winstone
Writer : Darren Aronofsky, Ari Handel
Director : Darren Aronofsky



Noah, film terbaru dari Daren Aronofsky, yang mengambil konsep cerita Bahtera Nuh yang ada di Alkitab, adalah penggabungan yang menarik ( yang membuat frustrasi ) dari apa yang memang tertulis dan diterjemahkan dalam Alkitab dengan bumbu bumbu fiksi lainnya.
indah dan aneh, gelap dan seperti mimpi buruk.

Bekerja dengan sinematografer langganan nya, Matthew Libatique, Aronofsky menawarkan kepada kita sebuah tempat kuno yang dipenuhi dengan langit yang berwarna warni,  binatang aneh, tanah tandus, dan tampilan kasar jaman nya waktu itu.
Sebuah film blockbuster yang tidak biasa untuk Aronofsky, dengan tampilan visual yang  dan retorika retorika yang mengingatkan saya akan The Fountain ( 2007 ) yang juga dipenuhi visual visual magis dan berkelok kelok .

Seperti yang dilakukan Tuhan, dalam film ini, Darren Aronofsky memilih untuk memulai nya dari sebuah tampilan kosong.
Terdapat opening line " in the beginning, there was nothing ", yang kemudian dengan cepat dan dengan visual yang menarik, satu persatu tampilan gambar, ular yang meluncur merayap di rumput, tangan yang menyentuh apel, dan seorang pria yang menghancurkan kepala saudara nya sendiri dengan siluet langit yang memerah.

Noah, yang dimainkan oleh Russell Crowe, merupakan keturunan Seth ( saudara Kain dan Habel, yang juga anak dari Adam dan Hawa )  hidup di bawah bayang bayang para pemburu, bersama keluarga nya, mereka hidup di padang gurun di alam liar .Seluruh sisi di dunia telah dikuasai oleh keturunan Kain, yang merusak. Mereka menebang pohon, membakar, dan membunuh hewan hewan, bahkan manusia ( kanibalisme ).  Dosa dengan penyakit penyakit yang sama mulai memunculkan kemurkaan The Creator ( Tuhan ).


Disebuah malam, Noah bermimpi dan mendapat penglihatan. Ia melihat darah dan debu, dan kemudian dibersikan dengan air bah. Penglihatan itu, ia ceritakan kepada istrinya, Naameh ( Jennifer Connelly ) adalah pesan dari The Creator, yang berencana untuk "me-reboot" dunia. Ia  percaya penghancuran semua umat manusia oleh The Creator ( Tuhan ) akan datang, dan dia percaya ia akan menjadi bagian dari hal tersebut, dan ia merasa terpanggil untuk ikut membantu The Creator kembali menciptakan Taman Eden versi murni, sebelum ada nya Adam dan Hawa. Dibantu oleh anak anaknya, Shem ( Gouglas Booth ), Ham ( Logan Lerman ), Japeth ( Leo Carroll ), serta anak perempuan yang diadopsi mereka, Ila ( Emma Watson ), beserta The Watcher, para raksasa batu, yang diceritakan dalam film ini sebagai "Fallen Angels", para malaikat yang jatuh ke bumi, mereka membangun mega-bahtera, yang nanti nya akan diisi oleh semua jenis tumbuhan dan binatang yang berpasangan.

Darren Aronofksy sendiri tampaknya sangat serius menyikapi kisah Noah slash fantasy ini, bahkan ia melakukan penelitian tak kenal lelah untuk memastikan Bahwa unsur-unsur tertentu Tetap otentik. Beberapa hal yang ditambahkan Aronofsky sendiri adalah seperti, nama istri Noah, Naameh dan Ila. Nama istri Noah sendiri, dalam kitab Genesis tidak disebutkan, tapi nama Naameh, merupakan nama dari adik Tubal-Cain. Tapi tidak jelas, apakah nama Naameh dalam film ini, sama dengan yang dimaksudkan dalam kitab Genesis. Sedangkan Ila sendiri sepertinya sengaja dihadirkan untuk alasan komersil, karena Noah tidak pernah memiliki anak lain selain Shem, Ham dan Japeth. Dalam film ini juga diceritakan ketiga putra Noah tersebut masih muda, sedangkan di kitab Genesis menuliskan bahwa Shem, Ham dan Japeth sudah dewasa dan memiliki istri. Nah versi film inilah yang kemudian diperdebatkan, bagaimana nanti nya Ham dan Japeth ( Shem beristrikan Ila ) bisa meneruskan keturunan mereka jika hanya mereka lah yang selamat ?

Seperti judul dan juga karakter utamanya, Noah ( Russell Crowe ) membuat beberapa keputusan serius yang mengundang tanya, salah satu yang bisa dikatakan egois dan kejam dan mengorbankan banyak jiwa. Semua itu karena tekad nya untuk melaksanakan apa yang ia percaya adalah misi The Creator ( Tuhan ), yang nanti nya malah mengarahkan ia untuk melakukan tindakan yang mengerikan.
Meskipun mendapat protes dan dibenci oleh anak dan istri nya, visi nya jelas, dan iman nya dihargai. Kita langsung seketika tahu ketika perwujudan akan sifat jahat murni tersebut ada dalam karakter Ray Winstone, si pembuat senjata Tubal-Cain, yang mengatakan kepada Ham, salah satu putra Noah bahwa “A man is not ruled by the heavens. A man is ruled by free will.”
Nama Tubal-Cain sendiri sebenarnya ada di dalam alkitab, dan benar merupakan keturunan Cain, namun tidak jelas, apakah Tubal-Cain ini hidup di jaman yang sama dengan Noah.



Kemudian bagian dimana Noah berniat membunuh anak Shem dan Ila, karena Noah percaya dalam wahyu yang diterima nya, semua manusia harus mati, termasuk cucu nya. Hal ini juga tidak ada dalam Alkitab. Saya langsung spontan teringat dengan kisah Abraham ( Ibrahim ) yang juga nyaris membunuh putra nya ketika Tuhan sedang menguji iman nya. Beda nya Abraham tidak jadi membunuh putra nya karena campur tangan malaikat, tapi Noah tidak jadi membunuh cucu nya karena keinginan nya sendiri.

Apakah unsur fiksi tersebut bisa ditolerir ? buat saya tentu saja, tapi semua itu tergantung perluasan sudut pandang masing masing. Dalam kitab Genesis sendiri, kisah Noah terdiri dari 4 bab. Dengan materi dasar yang hanya 4 bab tersebut, menurut saya wajar saja jika Aronofksy banyak menambahkan elemen fiksi di dalam nya, mengingat film nya sendiri yang berdurasi 2 jam, kehadiran unsur fiksi tersebut diperlukan untuk memperlancar dan menjahit jalinan cerita, seperti kehadiran The Watcher, para raksasa batu. Yang tentu nya diperlukan Noah, karena untuk membuat bahtera yang sebegitu besar nya, mustahil bisa dikerjakan oleh ia sendiri dan ketiga putra nya. Dan juga saat Noah dibantu The Watcher ketika diserang oleh para penjahat yang berniat merebut bahtera nya.



Dari sisi hiburan, saya merasa Noah berhasil, karena saya merasa terpuaskan. Tapi dari sisi religi sendiri, tidak.
Tidak seperti The Passion of the Christ yang ternyata diputar di banyak gereja ketika paskah, maka Noah sama sekali tidak saya anjurkan untuk diputar di gereja atau bahkan dijadikan referensi sejarah bahkan atau sekadar film religi. Jelas film ini jauh dari keduanya, karena banyak nya selipan fiksi yang berkemampuan mengaburkan kisah asli nya.

Saya rasa ini wajar, karena Darren Aronosky sendiri merupakan Atheis, dan ia pernah mengatakan disebuah interview nya, bahwa dia ingin membuat "..this fantastical world ala middle earth, that they wouldn't expect from their grandmother's bible school.."
Tanpa menyinggung pihak manapun, jadi saya rasa Aronofsky memang tidak bermaksud untuk mengacak kisah asli Noah, tapi lebih ke membangun sebuah kisah fiksi lain nya dengan meminjam fondasi kisah Noah yang sudah ada.

ps : Review ini saya buat berdasarkan apa yang saya tahu dari kitab Genesis di Alkitab ( saya seorang kristen ), jadi harap dimaklumi kalau terdapat perbedaan dalam versi nabi Nuh di Al Quran.
******
Noah ( 2014 )
A film by Darren Aronofsky





Thursday, July 17, 2014

Movie Review : Miracle on 34th Street ( 1947 )

Miracle on 34th Street ( 1947 )
Starring : Maureen O'Haara, Edmund Gwenn, Natalie Woods, John Payne
Writer : George Seaton
Director : George Seaton


Doris Walker ( Maureen O'Haara ) sedang kebingungan Parade tahunan yang diadakan oleh perusahaan tempatnya bekerja, Macy's Department Store, yang juga merupakan tanggung jawab nya, memiliki pemeran Santa Claus yang tidak hanya tidak bisa duduk dengan benar di kursi kereta nya, tapi juga mabuk. Di detik terakhir sebelum jalannya parade, muncul seorang pria tua berjenggot putih ( Edmund Gwenn ), yang ditemukan Doris, dan dengan segera diajak untuk menggantikan Santa Clause pemabuk tersebut.
Parade pun berjalan sukses, dan masyarakan yang menonton ternyata sangat menyukai Santa Claus versi dadakan tersebut, sehingga pimpinan Doris di Macy ingin agar pria tua tersebut tetap menjalani peran nya sebagai Santa Claus di Mall mereka. Tentu saja dengan satu tujuan, supaya semakin banyak anak anak dan orang tua mendatangi mall mereka dan berbelanja di musim liburan ini.

Kris Krangle yang menjadi Santa Claus tersebut ternyata sangat menikmati, menghayati bahkan terlihat sudah terbiasa menjadi Santa Claus.
Tapi perasaan Kris terganggu ketika bertemu dengan Susan, putri Doris, yang merupakan seorang anak yang realis, terlalu dewasa untuk anak seumurannya, dan sama sekali tidak mempercayai Santa Claus. Doris pun juga tak kalah terganggu ketika Kris mengaku jika ia memang adalah Santa Claus di depan Susan. Masalah itu muncul ketika psikiater karyawan di Macy menuduh Kris sakit jiwa dan harus dibawa ke pengadilan karena telah berbohong pada publik dengan mengaku bahwa dirinya adalah Santa Claus.

*****

Tidak banyak film film yang bertemakan suasana liburan natal dan akhir tahun bisa berhasil untuk tidak hanya "menangkap" keajaiban semangat liburan tapi juga keindahan jiwa manusia. Film Miracle on 34th Street ini yang sangat ikonik akan aktor utamanya ini, Edmund Gwenn,  berhasil menggabungkan kedua hal tersebut, dan menjadi semacam semangat acara tahunan, tentang kebaikan jiwa seseorang dan hal hal yang luar biasa yang bisa kita lakukan ketika hati kita berada di tempat yang tepat. Sungguh menarik untuk dicatat bahwa meskipun film ini dikenal sebagai sebuah film keluarga, berkat beberapa humor dan adegan lucu, serta beberapa dialog nya yang renyah  dari aktor utamanya, film ini juga tampil sebagai film drama komedi yang sangat menghibur hati.

Banyak yang mengatakan, dalam beberapa ulasan yang saya baca, mengatakan bahwa, in many ways, film ini juga mempunyai konsep cerita yang mirip dengan Harvey nya Jimmy Stewart ( yang belum saya tonton ), dimana sama sama bercerita tentang seorang pria naif dan eksentrik yang bertindak di luar norma norma umum di masyarakat. Tapi kemudian, berkat antusiasme dan kenaifan tersebut, mereka bisa 'bring the best out' dari banyak orang, bahkan dari setiap individu yang paling sinis dan anti sosial sekalipun, sehingga akhirnya semua tidak terlalu mempermasalahkan apakah 'khayalan' mereka tersebut valid tidak nya. Sama saja seperti di film ini, apakah sang pria tua berjenggot putih yang panjang bernama Kris Kringle itu adalah benar benar Santa Claus ?
Pada akhirnya, karakter karakter di film ini telah mendapatkan cara pandang baru terhadap kehidupan mereka, and that's really all that counts.

Dengan konsep cerita yang ada, yang jauh melampaui pola pikir di tahun tersebut, penulis script dan sutradara, George Seaton menampilkan sebuah film tentang natal dan musim liburan, yang menggambarkan masyarakat yang hanya terfokus pada sifat konsumerisme dan materialistik, daripada merayakan sebuah semangat liburan yang seharusnya berarti khusus bagi orang orang yang merayakannya.
Dalam film ini, diceritakan tentang sebuah kelompok masyarakat yang hanya peduli tentang belanja dan menghabiskan waktu dengan belanja, dan tidak pernah peduli dengan hal lain di luar itu. Ini masih tema yang relevan dan menawarkan sebuah pintu masuk bagi Kris Kringle untuk mengubah pikiran tersebut. Edmund Gwenn menyajikan nuansa karakter yang kompleks yang hanya berusaha untuk membuat orang bahagia dan mengembalikan kepolosan dan kejujuran di tengah dunia yang semakin sinis.

























Perjalanan Kris Kringle di film ini, dari yang awalnya dianggap sebagai orang gila, hingga menjadi penyelamat dan protagonis utama, adalah salah satu yang mewujudkan film ini menjadi sebuah film yang sungguh kaya akan nilai nilai holiday spirit.
Apakah dia benar adalah Santa Claus ?
Pertanyaan ini terus memenuhi pikiran saya dari awal, tapi aneh nya, ketika film berakhir, saya tidak peduli lagi apakah ia Santa Clause asli atau tidak, Somehow, that's become incredibly unimportant by the very end of the film haha..
Natalie Wood yang menjadi Susan, memilii chemistry yang luar biasa dengan Kris yang menimbulkan tantangan bagi Kris sendiri untuk mengubah Susan menjadi anak yang innocence dan optimis, setelah sebelumnya terbiasa dididik dengan keras dan realistis oleh ibunya, tidak mempercayai Santa Claus dan tidak memiliki fantasi apapun seperti umumnya anak anak yang lain.
Di sebuah scene saat Kris bersikeras mengajak Susan bermain menggunakan imajinasi sederhana mereka, merupakan momen yang manis dan sangat berarti, terutama sejak Natalie Woods merupakan aktris yang sangat berbakat, bahkan sejak ia masih kecil, hingga ketika bertahun tahun kemudian ketika ia bermain film bersama James Dean di Rebel Without a Cause ( 1955 ), dan ia juga merupakan akrtis utama dalam drama musical, Westside Story ( 1961 ).

"Miracle on 34th Street" berhasil melampaui kebanyakan film film bertema liburan, yaitu sebuah makna, dan arti keinginan tulus dari sebuah keajaiban, yang ada dalam hati setiap orang, dan Kris sendiri "memberikannya" secara literally kepada setiap orang yang ia temui. Dari pemilik toko Macy dan Gimbel, kepada gadis kecil dari Belanda yang sangat berharap Santa Claus bisa berbicara dengannya, hingga si kecil Sarah yang sangat ingin memiliki ayunan di belakang rumahnya. Sutradara George Seaton berhasil menciptakan berbagai momen ikonik dan membuat film ini menjadi sebuah film Natal abadi yang selamat dari evolusi film, terlepas dari remake nya yang banyak dikritik.
Dengan kinerja yang sangat baik, beralaskan drama komedi yang halus dan menghibur, dan momen momen menyentuh, serta banyak antusias dan rasa optimis, "Miracle on 34th Street" adalah salah satu dari beberapa film yang sempurna secara emosional, dan merupakan film bertema Natal dan liburan yang akan hidup selamanya.

******

Miracle on 34th Street ( 1947 )


Wednesday, July 2, 2014

Movie Review : Michel Kohlhaas ( 2013 )

Michael Kohlhaas
Starring : Mads Mikkelsen, Mélusine Mayance, Delphine Chuillot
Writers: Christelle Berthevas
Director : Arnaud des Pallières




Ketika lineup kompeitior untuk Cannes Film Festival 2013 diumumkan, mungkin kejutan terbesar adalah dimasukkannya film adaptasi sastra oleh sutradara Perancis yang kurang populer, Arnaud Des Pallières, yaitu Michael Kohlhaas.

ilm ini, diadaptasi pada novel yang terbit di tahun 1810 oleh Heinrich Von Kleist , yang diberi judul Michael Kohlhaas.  Distributor film ini, Music Box Films, yang merubah judul film ini, dan mengubahnya menjadiu Age Of Uprising: The Legend Of Michael Kohlhaas, yang tampaknya seperti upaya yang cukup transparan untuk menarik penggemar drama epik era medieval yang sedang booming saat ini, Game Of Thrones .
Walau drama yang mengambil setting abad ke 16 ini yang mengambil konsep revenge/balas dendam dengan latar kesuraman abad pertengahan yang terlihat serupa, tapi seperti kehilangan elemen juicy nya seperti incest, sihir hitam, karakter brutal, pembantaian, atau hal hal adegan sadis, yang semakin membuat film ini terasa lebih kering dan sunyi.
Andil besar didapat dari aktor utamanya, Mads Mikkelsen, yang bisa membuat film ini menembus internasional, terutama Hollywood, setelah serial Hannibal yang membuat nya lebih menjadi populer di dataran Amerika. Dia membawa dan memiliki kharisma khas nya untuk peran Kohlhaas, seorang pedangang kuda yang tiba tiba diberitahu dan mendapat informasi, ketika ia sedang menuju kepasar, bahwa seorang Baron lokal telah memberlakukan pembatasan dan aturan baru untuk sebuah perjalanan, termasuk syarat baru lainnya yang diperlukan seperti tanda pengenal/passport.

 Ia pun Meninggalkan dua kuda kesayangannya sebagai jaminan sementara ketika ia hendak menuju ke kota untuk membereskan hal ini. Ia pun kembali beberapa minggu kemudian dan menemukan kuda kuda kesayangannya diperlakukan tidak manusiawi, dan dibiarkan kelaparan. Usahanya untuk mengamankan kompensasi hukum atas kerugiannya sepenuhnya tidak dihiraukan oleh penegak hukum yang korup, dan ketika istrinya ( Delphone Chuillot ) berusaha untuk mengirimkan petisi kepada kerajaan, dia dibunuh, dan kemudian membuat Kohlhaas  sekelompok orang bersalah, penjahat, sekutu sekutu yang muak dengan kerajaan dan kemudian terlibat dalam pemberontakan skala besar.

Tentunya, apakah akan banyak terjadi pertempuran berdarah dan "cincang mencincang " yang terjadi ?, dengan isi perut musuh Kohlhaas 'tumpah di seluruh lanskap yang hijau ??



Nope.

Novel Heinrich Von Kleist ini bukanlah sebuah saga perang atau action, yang ternyata kemudian membuatnya menjadi subjek yang sulit untuk diadaptasi dengan dramatis, meskipun beberapa telah mencoba. Ada terlihat beberapa adegan kekerasan di sana-sini, tapi Kohlhaas sepertinya tidak termotivasi oleh  balas dendam nya, bahkan setelah istirnya dibunuh, dia hanya ingin membuat hukum itu mengakui bahwa mereka salah. Pada satu titik, ada seorang pria, yang mencoba mengajak Kohlhaas untuk berbicara dan mundur, mengajak ia membiarkan Tuhan saja yang akan menyelesaikan semuanya. Perdebatan argumen yang sengit antara dua pria ini bahkan lebih seru daripada adegan tempur yang ada di film ini.

Tapi untuk sebuah film dengan cerita yang bertujuan untuk mengingatkan kita kerasnya kehidupan pra-modern, keseluruhan sangat emosional, minus elemen "pengeras" nya tersebut seperti elemen juicy yang saya sebutkan diatas. 

Dengan berpegang teguh pada sumbernya, des Pallières memastikan filmnya memiliki substansi, dan ia menambahkan banyak gaya visual dengan gaya dan konsep nya sendiri.

Overall, I saw Michael Kohlhaas as a missed opportunity, largely due to its middle portion.




 ***


Michael Kohlhaas