Thursday, November 27, 2014

Movie Review : The Imitation Games ( 2014 )

 The Imitation Games
Starring : Benedict Cumberbatch, Keira Knigtley, Matthew Goode, Mark Strong
Writer : Graham Moore
Director : Morten Tyldum






















" are you paying attention ?"
tanya seseorang yang berlogat khas british khas, yang menjadi penanda mulainya biopik dari era Perang Dunia ke 2 yang sophisticated dari sutradara Morten Tyldum, The Imitation Games.
Suara itu milik seorang jenius pemecah sandi dan ahli matematika, Alan Turing, yang menjadi subjek megah dalam skenario Graham Moore ( yang diadaptasi dari buku Andrew Hodges yang berjudul Alan Turing ; The Enigma ), yang bersiap siap untuk menceritakan kisahnya yang sangat rahasia di awal tahun 1950an.

Siapapun yang sudah lelah dengan kisah kisah biopik, terutama tentang seorang jenius atau tentang figur terkenal dalam sejarah, bisa agak santai, karena The Imitation Games bisa merubah elemen element yang melelahkan dan  berlebihan menjadi prestasi yang sangat mengasyikkan dan menghibur. The Imitation Games unggul dalam memoles ceritanya, sebuah keahlian sinematik mudah diremehkan saat ini, dan sama sekali bukan kejutan jika The Imitation Games segera maju bergabung dengan film film terbaik tahun ini. Dari Benedict Cumberbatch yang sukses menonjolkan sisi humanity dari Alan Turing dengan begitu mendalam hingga saat saat yang memperlihatkan si jenius aneh yang melekat dalam diri Turing tidak pernah membuatnya terlihat menjadi seseorang yang sombong atau menyebalkan.



Diperankan oleh Cumberbatch, sang matematikawan Inggris, Alan Turing, adalah seorang pria yang sudah mempunyai takdir tersendiri. Sangat brillian, kemungkinan Autis dan pastinya menyukai sesama jenis, Turing dibebankan dengan tugas negara yang berat dan membuat dia dibenci banyak orang, baik karena kejeniusannya ataupun karena iri dengki terhadapnya dan hal lainnya.

Awalnya, Turing dipanggil ke kantor polisi untuk ditanyai, dan menceritakan kisahnya kepada seorang polisi ( Rory Kinnear ), yang memiliki minat terhadapnya, tak lain karena nihilnya dokumentasi mengenai seorang Alan Turing. Dan dari sana kita memiliki tiga naratif cerita yang membangun kisah Alan Turing, mulai dari bagaimana ia bisa memimpin tim yang berisikan orang orang jenius, dalam misi mereka memecahkan kode enigma Nazi Jerman, yang bisa membantu mereka mempersingkat Perang Dunia ke 2.
Turing kemudian dengan cepat tidak disukai teman teman sekantornya ( salah satunya yang dimainkan oleh si kharismatik Matthew Goode ), yang secara kompak terganggu dengan sifat Turing yang arogan dan susah dimengerti, serta kecerdasannya yang intense dan ide untuk proto-computer yang menurutnya bisa memecahkan masalah mereka. Hanya Joan Clarke (  for Keira Knightley ) yang bisa mengerti dan menghormati perspektif luarnya.

Filmnya dimulai di tahun 1952, tapi kemudian flash back ke tahun 1938, dimana Turing ditugaskan untuk memecahkan kode enigma rahasia Jerman. Dengan kode kode yang berubah setiap harinya, sangat mustahil untuk menemukan jawaban jawaban diantara puluhan juta kemungkinan.
Tragis, nantinya Turing malah dihukum oleh pemerintah Inggris karena homoseksualitas, dan dengan jahat memakai terapi mengerikan sebagai 'obat', yang kemudian akhirnya menyebabkan ia bunuh diri.


Cumberbatch yang bisa mengkhususkan diri dalam menjadi karakter seorang yang jenius , dan tidak ada yang meragukan keahliannya dan empati dalam dirinya untuk Turing. Tapi ada sebuah self-awarness untuk penggambaran karakter nya ini yang sebelumnya pernah absen dari penampilan Cumberbatch sebelumnya. Ketika kita melihatnya sebagai Sherlock Holmes, kita hanya melihat sosok detektif besar nan cerdik dan jenius yang sepertinya dibawakan Benny dengan mudah. Disini, kita melihat Benedict Cumberbatch bekerja sangat keras untuk menjadi Alan Turing.

Konon katanya, ada sebuah rumus yang khas untuk membuat sebuah film yang bisa dilirik Oscar, dan The Imitation Games mengikutinya dengan obsesif. Apalagi dengan seorang Benedict Cumberbatch yang sangat berkomitmen dalam memimpin gerbong akting di film ini dan seorang produser yang sangat hafal dengan selera para juri Academy, Harvey Weinstein, yang menjadi komandan kampanye film ini, dipoles sedemikian rupa, film biografi yang memilukan ini sangat mungkin bisa menuai kesuksesan, karena terlihat jelas betapa keras usaha mereka.

Demikian pula, Tyldum dan penulis skenario Graham Moore yang tampaknya menggunakan metode yang disetujui selera juri Oscar seperti di The King's Speech, yang straightforward dan tidak bertele tele. Tapi kisah Turing ini aslinya luar biasa berantakan. Pengkhianatan memilukan dan ironi atas keberadaannya sendiri ; orang yang menyelamatkan negaranya dan akhirnya dikhianati oleh negara nya juga sendiri, seharusnya pantas dihargai dan tidak hanya sekadar kata kata basi , deserve more than well-meant platitudes.


Film ini, juga menerima banyak kritikan panas karena kurang nya porsi yang menunjukkan identitas Turing sebagai gay. After all, negara yang ia layani telah membunuhnya karena mereka menolak dan mengutuk homoseksualitas. Jadi, kenapa tidak bisa lebih berani lagi untuk memperlihatkan identitas nya tersebut?.
Tentu saja hal ini bisa dimengerti, tapi dalam The Imitation Games, hal tersebut tidak sepenuhnya relevan dengan apa yang ingin disampaikan dalam film ini, yaitu hal yang lebih melekat dalam diri Turing, tentang tidak hanya mendefiniskan dirinya sebagai seorang gay dan orientasi seksualnya, tapi lebih ke kerja dan kontribusinya yang besar dan tak tertandingi dalam sejarah.
 Disini, Alan Turing adalah seorang ahli matematika, pemecah kode, dan pahlawan perang, dan juga gay. Film ini sama sekali tidak mencoba menutupi identitas orientasi seksualnya, dan sebaliknya, memastikan anda bisa merasakan rasa sakit yang tajam untuk kehidupan Alan Turing yang luar biasa tersebut. Rasa sakit itu akan terus mengikuti dan meninggalkan tanda abadi, mengetahui bahwa hak hak gay mungkin telah melalui banyak perjalanan panjang, tapi masih ada jutaan mil lagi yang harus dilalui, terutama ketika Ratu Inggris hanya meminta maaf atas perlakuan Inggris terhadap Turing di tahun 2013 kemarin.

Untungnya, Tyldum dan Cumberbatch telah memberikan semangat dan kasih sayang dan ketulusan di film ini untuk memberikan kita kesempatan untuk mengetahui dan mengenal sebuah kisah hidup yang luar biasa dari seorang Alan Turing. 
*****
The Imitation Games ( 2014 )
A Film by Morten Tyldum

Tuesday, November 18, 2014

Movie Review : The Impossible ( 2012 )

The Impossible
Starring : Naomi Watts, Ewan McGregor, Tom Holland
Writer : Sergio G. Sanchez
Director : Juan Antonio Bayona


Lebih dari 250,000 orang meninggal di bencana Tsunami yang menerpa Asia Tenggara sehari setelah hari Natal di tahun 2004 dulu. Sekaligus merupakan bencana alam terbesar nomor 4 dalam beberapa ratus tahun terakhir ini. Seperempat juta cerita berakhir tragis di hari itu,belum lagi yang lain yang tak terhitung jumlahnya yang berakhir bertahan hidup tapi terluka, jatuh miskin, hingga patah hati karena kehilangan orang orang yang dicintai.
Tugas membuat film tentang tsunami yang bagus serta memiliki taste yang baik tampaknya sangat sulit. Anda harus menghormati para korban dan menghindari kesan telah memanfaatkan tragedi yang dialami mereka, yang berarti cerita Anda ceritakan itu mungkin perlu menjadi salah satu yang benar, real story. Tetapi pada saat yang sama, penonton menginginkan film yang memuaskan dan penuh kemenangan, dimana setidaknya ada satu karakter utama yang bertahan hidup. Sayangnya kisah seperti itu di tengah bencana hebat sangat jarang ada atau bahkan tidak ada.

In other words, "The Impossible" is an excellent title for this harrowing film.
Disutradarai dengan sensivitas yang tinggi oleh Juan Antonio Bayona. Film ini menceritakan kisah berdasarkan fakta tentang orang-orang yang mencapai sesuatu yang terdengar mustahil, impossible, dan Bayona melakukannya dengan cara yang tidak mengurangi sakitnya tragedi yang dialami mereka yang tidak seberuntung karakter di film ini. Meskipun beberapa karakter di film yang kita tonton ini luar biasa diberkati, mereka selalu menyadari betapa beruntungnya mereka, dan dengan demikian, kita juga bisa ikut bersukacita dengan kegembiraan mereka, saat masih berkabung bagi mereka yang kehilangan.


Tokoh tokoh nyata yang memiliki pengalaman ini adalah wisatawan dari Spanyol, fakta yang awalnya membuat saya berhenti sejenak.
Mengapa tidak menceritakan kisah inspirati dari beberapa orang lokal - you know, orang-orang yang kehilangan rumah dan komunitas mereka, bukannya orang lain, pengusaha yang kehilangan aset dan kekayaan mereka. well, i don't have an answer for that.
Untuk film ini, keluarga yang diceritakan adalah warga negara Inggris, dengan Naomi Watts dan Ewan McGregor berperan sebagai orang tua.

Karakter yang diperankan oleh Watts dan McGregor yaitu Maria dan Henry, sedang berada di sebuah resor kelas atas di Thailand  untuk liburan dengan anak-anak mereka, Lucas (Tom Holland), Thomas (Samuel Joslin), dan Simon (Oaklee Pendergast), di antaranya yang paling tua, Lucas, adalah berumur baru sekitar 13. Tsunami menerjang mereka tanpa ada peringatan terlebih dahulu, sama seperti kita yang menonton, kita langsung terhentak terkejut langsung pada awal film.

 Melihat satu keluarga ini dan sesama turis lainnya yang sebelum detik terjadi Tsunami, masih beraktivitas santai seperti biasa. Ketika bencana tiba, hal itu terjadi dan dilakukan dengan cepat, dan Bayona tidak membuatnya berlebihan atau mengubahnya menjadi sebuah petualangan. Menggunakan miniatur, model, dan tangki air sebanyak mungkin dan CGI sesedikit mungkin, ia memberikan gambaran akan tsunami nyata yang memiliki kekuatan dan ketakutan yang sama dan realistis. Dibuat lebih dramatis dengan adanya satu karakter yang diikuti, yaitu Maria, yang sudut pandangnya dipakai Bayona ketika dia terperangkap di dalam tumpahan air, dilemparkan ke batu dan puing puing, dan hampir putus asa untuk berjuang bernapas sambil berusaha mencari cari keluarganya.



Kemudian kita tetap bersama Maria dan Lucas untuk sementara, dan sama sekali tidak mengetahui nasib Henry dan kedua anaknya yang lebih kecil ( Maria dan Lucas mengira mereka sudah meninggal. Kita tahu tak mungkin Ewan McGregor dipakai Bayona hanya untuk menenggelamkannya di awal film, dan tidak memunculkannya lagi, anggap saja awalnya kita mengira hanya sang ayah yang bertahan hidup ).

Dengan Maria yang terluka parah, anak dan ibu ini secara cepat berusaha beradaptasi dengan keadaan yang masih chaos tersebut, dengan Lucas yang menjadi pengambil keputusan sambil mereka menunggu pertolongan. Tom Holland yang berumur 15 tahun telah memberikan performa yang sangat baik, autentik dan dewasa. Tapi ia tetaplah anak kecil yang ketakutan, yang masih perlu diajari oelh ibunya untuk tidak hanya menjaga dirinya sendiri, atau keluarganya, tapi juga harus memperhatikan orang orang disekitarnya.
Kemudian, di rumah sakit lokal yang saat itu diterpa kepanikan karena bencana tersebut, Maria membujuk Lucas untuk meninggalkan sisinya dan melihat apakah ia bisa membantu yang lain. Hati Lucas tersentuh melihat banyak orang tua dan anak yang bertemu kembali, sementara ia sendiri menekan perasaan ragu dan takutnya, bahwa mungkin ayah dan kedua adiknya tidak seberuntung itu.


Tema yang bergema sepanjang film adalah " we're all in this together ". Mentalitas yang cenderung muncul ketika terdapat krisis skala besar sedang terjadi, baik di kalangan wisatawan atau penduduk setempat.  Orang asing yang bersedia membantu satu sama lain, bekerja sama  tanpa pamrih daripada yang mereka lakukan dalam kehidupan normal. Melalui mata Lucas , kita melihat keindahan akan perbuatan baik yang sekecil mungkin yang dilakukan oleh mereka. Korban dalam bencana ini sangat banyak, tragedi ini begitu besar sehingga tampaknya hampir tidak ada gunanya untuk mencoba membantu satu orang. Tapi jika anda adalah satu orang itu...

Film ini mengundang air mata, jelas sekali. Saya tidak bisa membayangkan siapa pun yang memiliki anak-anak dapat menonton film seperti ini tanpa merasakan perasaan panik dan putus asa seperti yang dialami Maria dan Henry, belum lagi emosi lainnya yang muncul.

Sutradara Juan Antonio Bayona telah menunjukkan keahliannya dalam membungkus frame suatu bencana dengan lingkup dan skala seperti yang ada dan juga berfokus pada unsur drama nya juga.
Perasaan lega itu akhirnya datang, meskipun mungkin tidak dengan cara yang kita kira atau harapkan. Tanpa skenario yang berupaya untuk memanipulasi kita, Bayona dan screenwriter di film ini, Sergio G. Sanchez membawa kita melalui setiap aspek dari pengalaman keluarga, sebuah proses yang bermanfaat, baik secara dramatis dan emosional. Bayona dan Sanchez mengatasi masalah yang ada di film ini dengan eksekusi yang lembut.
Contohnya Setelah Maria dan Lucas diselamatkan oleh dua orang penduduk desa, Maria dirawat oleh beberapa perempuan. Dia berbisik "terima kasih" lagi dan lagi, kepada mereka, dia, kepada siapa pun, untuk semua orang.


Bagi saya itu seperti ungkapan syukur yang tiada ternilai, yang mungkin juga terasa oleh para filmmaker di film ini yang mengetahui bahwa terdapat ratusan ribu korban dan pihak yang tersakiti karena bencana ini. Yang tidak bisa kita tahu semua namanya, tapi film ini bisa diresapi dengan penderitaan yang mereka alami.
The Impossible bukanlah film yang mudah untuk ditonton, karena semuanya terasa nyata, dan memorinya pun masih ada di benak ktia. Tetapi itu juga adalah bagian yang menjadi motivasi kerja yang menunjukkan berapa banyak hal yang baik, yang bisa datang dari  situasi yang buruk seperti itu.
Kisah mereka mungkin tidak khas atau tidak terlalu unik, tapi keluarga merupakan lambang akan pertahanan, kasih sayang dan optimisme seluruh manusia.

***

The Impossible ( 2012 )
A Film by Juan Antonio Bayona

Saturday, November 15, 2014

Move Review : In The Mood For Love ( 2000 )

In The Mood For Love
Starring : Tony Leung-Chiu Wai, Maggie Cheung Man-Yuk
Writer : Wong Kar-Wai
Director : Wong Kar-Wai

They are In The Mood For Love, but not in the time and place for it.
Mereka saling memandang dengan mesra dan dengan kerinduan yang nyata, kemudian pulang ke rumah dan tertidur di tempat yang berbeda. Perselingkuhan telah mengganggu hidup mereka. Istri si pria dan suami si wanita telah berselingkuh. Kenapa mereka tidak melakukan hal yang sama ?
" let us do the same thing" - they agree ?.
Tapi apakah itu berarti keduanya sama saja dengan mereka ?
Kata kuncinya disini adalah setuju atau tidaknya. Dan yang terjadi adalah mereka sebenarnya tidak setuju.
Sangat simpel, karena keduanya tidak memiliki keberanian yang cukup untuk tidak setuju, dan waktu pun berlalu.

In The Mood For Love adalah sebuah film dimana mood ( suasana hati ) adalah segalanya. Senyuman misterius, sentuhan kecil, penyesalan dari kesempatan yang hilang, dan kesedihan pengkhianatan.Ceritanya sendiri berpusat tentang perselingkuhan, or rather, an affair that may never happen.

Actually, it's about both.
Chow Mo-Wan ( Tony Leung Chiu-wai ) dan Li-Zhen ( Maggie Cheung Man-Yuk) adalah tetangga di sebuah apartemen di Hongkong di tahun 1962.
Chow yang seorang jurnalis bersama istrinya tinggal disebelah apartemen Li Zhen, yang merupakan seorang sekretaris dan bersama suaminya.Keduanya adalah sosok yang menarik dan masih muda. Chow adalah sosok bersetelan jas rapi dan pendiam, sedangkan Li-Zhen adalah sosok yang sejatinya indah ; sosok ramping yang terbungkus cheongsam bermotif cerah berkerah, dengan rambut hitam tebal yang menawan.
Karena pasangan mereka yang tampaknya sering bekerja lembur atau bertugas ke luar kota, Chow dan Li-Zhen tak sengaja menjalin persahabatan. Mereka saling menemani, membaca novel novel serial seni bela diri, bahkan Chow bercita cita untuk bisa menulis itu juga.



Tapi ada hal lain yang terjadi ketika Chow menyadari tas tangan Li-Zhen  ( yang katanya hadiah dari suaminya ), ternyata identik sama dengan yang dimiliki istrinya. Kemudian Li-Zhen juga menyadari bahwa Chow memakai dasi ( yang katanya hadiah dari istrinya ), yang juga sama dengan milik suaminya. Dari hal hal kecil seperti itu lah yang merupakan  kesimpulan bahwa istri Chow dan suami Li-Zhen ternyata berselingkuh.
The question is, will the injured parties ever do the same?

Wong Kar-Wai, filmmaker Hongkong yang merangkap menulis, menyutradarai serta menjadi produser di film yang tidak biasa ini telah menghasilkan sebuah karya mengenai Cerita tentang perselingkuhan, yang sebenarnya bisa dibungkus dengan begitu umum, tapi ternyata tidak, hingga mungkin harus meluangkan waktu untuk menghargai betapa langka untuk sebuah film yang berfokus pada hubungan antara pasangan yang telah diselingkuhi tersebut, seperti yang dihadirkan Wong Kar-Wai di film ini.

Wong Kar-Wai, dengan film filmnya yang lebih dulu dikenal publik dengan Chungking Express dan Happy Togeher, telah mengembangkan sebuah gaya yang memabukkan yang telah mencapai jauh di luar cara cara bercerita yang tradisional ke dalam sebuah alam yang lebih abstrak tentang emosi manusia. Keahliannya yang unik ini telah sering dibandingkan dengan improvisasi dari artis artis jazz, yang biasa bernyanyi dengan mengejutkan dan bermain dengan suara dan nada.



Bukan hanya minimnya sentuhan fisik di film ini, tapi juga dialognya yang juga minim. Begitu banyak yang terjadi antara Chow dan Li-Zhen  diwakilkan oleh lirikan lirikan diam, tangisan tertahan, pandangan sendu. In a word, a matter of mood.
Dengan latar Hongkong yang suram tapi romantis dan sedih, hingga di pertengahan tahun 1960an, In The Mood For Love mungkin bisa diklasifikasikan sebagai sebuah drama periode, but only in the technical sense. Dalam merincikan hubungan persahabatan yang intim, dan cinta diantara dua pasangan yang sudah menikah dan kesepian ini, Wong Kar-Wai mengandalkan memori memori yang hidup dari waktu ke waktu, karena mereka mungkin masih bermain dalam memori seseorang walau sudah bertahun kemudian.

Banyak adegan kecil yang mengesankan, seperti ketika mereka dari tak sengaja menyentuh pundak masing masing ketika sedang naik tangga, atau berbagi payung ketika hujan lebat, telah membuat efek sedih yang ada melambat, seolah olah mereka berharap ini akan berlangsung selamanya.
Warna warna khas film noir banyak menyerap di film ini. Merah, Kuning, Coklat, bayangan gelap. Salah satu adegan dibuka dengan hanya kumparan asap rokok, dan kemudian mengungkapkan karakter. Di lorong di luar dua apartemen, kamera slide bolak-balik, menekankan soal ketidak kedekatan mereka, karena memang berlatar tentang dua apartemen, bukan satu.

Ikon bintang film Hongkong, yang mungkin adalah aktor aktor yang mempunyai pengaruh kuat di perfilman asia, terutama Hongkong, Tony Leung dan Maggie Cheung, di film ini, telah menjadi pasangan yang terasa natural, yang memiliki daya tarik yang susah dijelaskan, dan ketertarikan mereka terhadap satu sama lain sepertinya memang sudah ditakdirkan. Dan dengan kebetulan, mereka pindah ke apartemen yang bertetangga di gedung yang sama, dan di hari yang sama, segera menemukan bahwa kehidupan mereka bersinggungan dengan cara lain yang lebih signifikan.
Diabaikan oleh pasangan mereka, yang tidak pernah terlihat, mereka menumbuhkan keakraban khusus dan menghabiskan banyak waktu bersama-sama, tetapi adat istiadat sosial mendikte bahwa hubungan mereka harus dirahasiakan.


Wong Kar-Wai pun tidak mengijinkan pasangan mereka yang saling berselingkuh itu berada dalam layar. Film film tentang perselingkuhan sering sekali membahas tentang pihak yang berselingkuh. Terserah Pasangan mereka berselingkuh di Singapore, Tokyo atau bahkan motel murahan di pusat kota Hongkong, tapi mereka tidak akan pernah menodai layar film ini, karena perselingkuhan mereka membosankan dan biasa saja. Sedangkan keengganan dari Chow dan Li-Zhen mengangkat cinta mereka itulah adalah jenis kesempurnaan yang jarang kita lihat selama ini.

Seperti film-film Wong lainnya, In the Mood for Love menangkap keterasingan yang melekat dari kehidupan kota, namun dalam prosesnya, dia mengintensifkan kerinduan romantis antara dua karakter. Cinta tak berbalas mereka,masyarakat luar yang secara tidak langsung memaksa dengan halus untuk memisahkan mereka, seperti menyiram kita dengan emosi dan sebuah keyakinan bahwa itu menjadi corak yang paling khas dalam palet warna warni seorang Wong Kar-Wai. Selanjutnya, dilengkapi dengan jeda yang lembut oleh lagu nya Nat King Cole.
In The Mood For Love telah menghasilkan mantra yang melankolis yang tidak terputus bahkan lama setelah closing credit telah selesai.

Possibly the most unique and finely crafted romances to ever grace the silver screen

*****

In The Mood For Love ( 2000 )
A Film by Wong Kar-Wai







Thursday, November 6, 2014

Movie Review : Begin Again ( 2014 )

Begin Again
Starring : Mark Ruffallo, Keira Knightley, Adam Levine
Writer : John Carney
Director : John Carney


















Kita tidak bisa benar benar menyalahkan John Carney untuk kembali kembali mencoba, walau meskipun terdapat lebih banyak lagi momen momen bagus dalam Begin Again ini, tapi tetap saja mudah untuk didebat kepada Carney, "Once" should have been enough. Begin Again juga bukanlah pewaris atau sekuel untuk film Carney sebelumnya, Once ( 2006 ) film Indie-Romance yang hampir sempurna ( yang kemudian menjadi pemenang Tony Award ). Sesuai judulnya, Begin Again lebih merupakan usaha Carney untuk kembali mundur sejenak dari segala hingar bingar kesuksesan Once, dan memberikan kesempatan diri nya untuk mencoba yang lain, tapi tentu saja dengan nama nama yang terkenal dan budget yang lebih kali ini.

Jika di Once bercerita tentang kisah romansa dua orang singer-songwriters yang bersemangat dalam membuat proyek album si songwriter di Dublin, Begin Again adalah kisah cinta romantis dan kecintaan akan musik itu sendiri, hanya saja, dalam hal ini, kedua karakter utamanya terbayangi oleh masa lalu mereka.

Filmnya dimulai dengan Greta ( keira Knightley, yang menyayikan sendiri lagu lagu di film ini ) yang sedang bernyanyi lagu lagu tentang kesepian di tengah keramaian, tidak diperhatikan oleh semua orang, kecuali seorang pria setengah baya yang terlihat tidak jelas dengan keberadaan nya sendiri.
Dan ( Mark Ruffallo ) adalah seorang produser musik pemenang Grammy Award yang telah sukses menghancurkan karier nya beserta kehidupan pribadi nya, dan sebelumnya, moments earlier, bahkan mencoba bunuh diri.

Pernikahan Dan hancur , hubungan nya dengan putri nya sendiri semakin menjauh, semua itu dilengkapi Dan dengan menjadi pecandu alkohol, tapi setidaknya dia masih punya good sense of music. Ia tahu musik yang bagus ketika mendengarnya, dan dalam salah satu adegan terbaik di film ini, 
Begin Again memperlihatkan kepada kita dengan seksama apa yang Dan dengar dalam lagu lagu Greta, lengkap aransemen lagu yang sempurna, sebuah konektivitas sempurna yang menghasilkan senyum menawan di wajah Dan.

Seketika itu Dan tahu jika Greta memiliki kelebihan yang dicarinya. Ia mencoba meyakinkan Greta untuk bekerja bersama nya, yang tentu saja sulit, karena selain Dan baru saja dipecat dari label rekaman nya, Greta juga tidak memiliki ketertarikan di dunia musik, terutama sejak putus dari pacarnya yang menjengkelkan. Jadi, ketika Dan gagal mengajak mantan bos nya untuk membujuk Greta, Dan memutuskan untuk merekam sendiri lagu lagu nya, tentu saja low-budget dan menjadikan  kota New York sebagai latarnya.  

Semua nya berjalan lancar, kecuali satu. Hubungan antara kedua karakter utama ini dan chemistry diantara mereka. Berbeda dengan Once, dimana Glen Hansard dan Marketa Irglova yang menulis dan menciptakan sendiri lagu lagu di film Once memang sebenarnya memiliki hubungan romantis saat itu, hubungan antara Greta dan Dan terasa agak hambar dan datar. Tentu saja sulit untuk menghiraukan ketiadaan chemistry seperti itu, dari sebuah hubungan yang harusnya terlihat hidup, terutama karena sebelumnya hubungan mereka sudah 'dihidupkan ' terlebih dahulu oleh lagu lagu di film ini. Rekaman yang katanya low budget itu juga cukup jelas sebenarnya diproduksi di studio, meskipun semua aspek seni di film ini sudah mendukung keaslian artistik, dan integritas mereka sudah lebih diatas alasan komersialisme.


Tentu saja hal ini disayangkan, karena banyak yang bisa disukai dari Begin Again, atau tepatnya, sangat banyak yang bisa disukai dari film ini, terutama lagu lagu nya, dan segmen segmen untuk lagu itu sendiri, yang ada menampilkan lagu lagu pop ballads dari Gregg Alexander dan Danielle Briseboid dari The New Radicals. Seperti Dan, Carney ( yang juga pernah menjadi anggota band nya Glen Hansard, The Frames ) clearly knows the good stuff when he hears it. Carney mempunyai keterampilan dan bakat yang bagus dalam menangkap perasaan sukacita ketika membuat musik di layar.
Dan karena itulah, sulit, terutama bagi saya untuk memberikan perhatian atau kepedulian lebih kepada Dan yang mencoba memperbaiki hubungannya dengan istrinya, atau kemungkinan bahwa Greta mungkin akan kembali bersama sama dengan pacar nya yang terobsesi dengan dirinya sendiri.
Oh well, but when the songs work well, as a few of them do, much can be forgiven.

Kecuali yang saya ungkapkan diatas, overall, Begin Again such a nice film, gentle, musically romantic and beautifully performed by Ruffallo and Knightley. Tak lupa juga dengan akting yang juga solid dari James Corden yang menjadi teman Greta, Adam Levine yang menjadi pacar Greta, dan juga sama baiknya Catherine Keener dan Hailee Steinfeld.

There's freshness to this film, yaitu kecerdasan Carney dan latar belakang musik nya - ia memberikan kontribusi besar untuk lagu-lagu dalam film - yang telah menghasilkan suatu jenis feel-good movie yang bisa menghindari pola klise. Dan nilai A Plus di film ini untuk keputusan Dan merekam album live di jalanan New York. Momen yang menyenangkan yang bisa menghasilkan senyum di wajah kita, sama ketika pertama kali Dan tersenyum mendengar Greta bernyanyi, and that's something.

***

Begin Again ( 2013 )
A Film by John Carney