Thursday, December 25, 2014

One Chance ( 2013 )


Starring : James Corden, Alexandra Roach, Julie Walters, Mackenzie Crook, Colm Meaney
Writer : Justin Zackman
Director : David Frankel



Anda harus benar-benar sinis dan berhati keras jika tidak akan bahkan sedikit pun terkesan oleh "One Chance."
Jika kau pernah melihat video populer audisi nya Paul Potts ( 1st Britain's Got Tallent's Winner ) di Youtube yang viewers nya mencapai lebih dari 140 jutaan, mungkin kau juga pernah bertanya tanya, seperti yang lain. " Dari mana pria chubby yang menyanyikan lagu opera terkenal Nessun Dorma dari Puccini, dengan suara yang indah dan menggetarkan ini berasal ?"
Anda dapat melihat pertanyaan itu dalam ekspresi terkesima itu dari ketiga juri di talent show tersebut, Piers Morgan, Amanda Holden dan terutama Simon Cowell - yang tidak berharap banyak pada Potts, salesman ponsel dari Welsh, yang bertubuh gemuk, dan jelas sekali demam panggung.

Pertanyaan ini terjawab dalam " Once Chance ". Sebuah drama menyenangkan yang mendramatisasi jalan terjal Paul Potts menuju ketenaran dan keberuntungan, yang dibuat lebih menarik daripada fakta yang ada, yang dimainkan oleh James Corden sebagai Paul Potts. Memerankan seorang tokoh protagonis pecinta lagu lagu opera, dengan campuran pesona yang menonjolkan pesona dirinya akan kemampuan nya bernyanyi


oke, film ini memiliki formula murni yang  tanpa malu-malu memberikan gelar feel-good movie dengan sentimentalitas yang sama .
Bahkan jika sebelumnya anda belum pernah mendengar nama terkenal Paul Potts, anda akan tahu persis dimana film ini akan menuju pada akhirnya.
Ini adalah film komedi Inggris yang sudah sebelumnya pernah akrab untuk kita lewat The Full Monty, Billy Elliot ataupun LIttle Voice. Dengan latar masyarakan british kelas pekerja menengah, supporting karakter yang eksentrik dan humor humor yang mencela diri sendiri, serta ending yang menggembirakan.

Dengan porsi sebagian rom-com dan sebagian cinderfella, film yang menjadikan Simon Cowell sebagai producer nya ini, tidak memberikan puncak yang dramatis. Dengan klimaks nya lebih ke audisi legendaris Potts di Britain's Got Talent 2007.
Dimulai dari kisah masa kecil Potts yang sulit di kota kecil di Welsh, dengan ayah seorang pekerja pabrik dan berkarakter keras, serta seorang ibu ( Julie Walters ) penyayang dan selalu mendukung Paul kecil dengan minatnya bermusik di genre opera. Sehari hari ia rutin dibully oleh temannya hingga ia dewasa, lebih karena perawakannya yang chubby dan kutu buku, serta selera musiknya yang tidak lazim.


Ketika dewasa, Potts masih tinggal bersama orang tuanya ( hal ini sering disindir oleh ayahnya ), sehari hari ia bekerja di toko ponsel.
Braddon ( Mackenzie Crook ) yang berpenampilan aneh dan sering bersikap kasar dan kurang ajar, adalah bos sekaligus teman Potts satu satunya.
Lewat Braddon lah, akhirnya Potts berani mengejar perempuan yang selama ini hanya dikenal dan saling flirting di dunia maya, Julz ( Alexandra Roach ), seorang perempuan cantik dan pemalu, yang bekerja sebagai kasir toko obat di kota seberang, yang akhirnya nanti menjadi istrinya. Mulai dari Kisah kencan pertama mereka yang tidak sempurna ( Potts memberikan senter sebagai pengganti bunga kepada Julz ), hingga perjuangan mereka untuk bersama di berbagai masa masa sulit.

Walau ceritanya terdengar familiar, aktor aktor di film ini berhasil mengubah banyak hal yang akhirnya menjadi formula film ini menjadi menyenangkan dan asik ditonton.
Mengambil judul dari album debut Potts, "One Chance" terhitung berhasil, dengan suara Corden sebagai narasi, kisah "opera" kehidupan Potts .
Namun meskipun terselipkan banyak humor dan drama kehidupan - kisah sukses Potts ini juga diisi beberapa keadaan darurat medis, termasuk gendang telinga yang pecah, kanker tiroid dan kecelakaan mobil yang dialami Potts, belum lagi kekacauan yang terjadi pada Potts di depan Luciano ( a fantasy-dream come true ) Pavarotti saat ia sedang belajar musik di Venice.

Tidak sulit untuk melihat ke mana arah tujuan Once Chance, bahkan jika anda sama sekali tidak mengenal Paul Potts dan keberhasilan nya di ajang talent show sukses tersebut.
But it's also not hard to come away with a goosebumpy tingle and a smile. Feel-good stories feel good for a reason, and this one is practically operatic.

***
One Chance ( 2013 )
A Film by David Frankel







Tuesday, December 16, 2014

The Secret Life of Walter Mitty ( 2013 )

Starring : Ben Stiller, Kristen Wigg, Sean Penn, Adam Scott, Shirley McClaine
Writer : Steve Conrad
Director : Ben Stiller



The Secret Life of Walter Mitty

Ceritanya tak jauh dari kisah kisah pencarian jati diri, dalam hal ini, Walter Mitty, karyawan LIFE magazine yang sudah berkutat dengan rutinitas harian kantor selama 16 tahun bekerja disitu. Berganti nya pemilik LIFE magazine dan perubahan konsep menjadi majalah digital, membuat banyak karyawan terancam diberhentikan, tapi tidak sebelum dirilis issue terakhir dari LIFE magazine, yang memutuskan untuk memakai foto dari fotografer ternama ( Sean Penn ) menjadi cover terakhirnya. Hilangnya negatif film dari foto yang akan dipakai tersebut membuat Mitty memutuskan untuk mencari Sean, yang selama ini tidak bisa dihubungi dan selalu berkeliling dunia tanpa bisa dilacak. Pencarian tersebut membawa Mitty, yang seumur hidupnya paling jauh hanya pernah ke Phoenix - Arizona, menuju ke belahan dunia lain, di Greenland dan Islandia.

Perjalanan Mitty ini sebenarnya lebih merupakan pencarian jati dirinya yaitu melalui pengalaman pengalaman excitement yang bisa didapat dari sebuah perjalanan. Ayah Mitty meninggal ketika ia masih remaja, yang berarti memaksa dia bekerja untuk menopang keluarganya, dan sejak itu ia tenggelam dalam dirinya sendiri dan menjadi begitu takut bahwa ia akan berhenti menikmati hidupnya. Ransel travelling yang dihadiahkan ayahnya masih tetap kosong, sebuah representasi nyata dari sebuah hasrat yang tidak terpenuhi serta hidup yang tidak memuaskan dirinya.

 Ben Stiller, yang tidak hanya menjadi bintang utama tetapi juga sutradara di film ini, memahami bahwa pelajaran moral bisa didapat dalam konteks cerita itu sendiri. Dia membiarkan kita melihat rasa sakit yang dirasakan Mitty atas kehilangan ayahnya dan fakta bahwa dia sadar jika kesedihan atas kehilangan tersebut menyebabkan ia kehialngan lebih banyak dalam hidup. Tapi kita diperbolehkan untuk tersenyum melalui rasa sakit itu dan fokus pada titik yang lebih besar yang tidak pernah terlalu terlambat untuk kesempatan kedua.

Setelah membuat film seperti Little Fockers atau Night At The Museum, banyak yang telah menempatkan Ben Stiller dengan satu kelas bersama Adam Sandler, mencemooh nya sebagai hacker yang telah merusak tatanan film mainstream. Well, i can't tell that they're all true, that all may be very true about Ben Stiller, the actor. Tetapi, Ben Stiller, the director, masih memiliki trik trik tersendiri. Banyak orang yang tampaknya lupa bahwa Ben Stiller juga telah membuat film film yang bagus. The Cable Guy ( 1996 ) adalah film yang tak berguna di box office dan banyak kembali melihatnya sebagai karya brilian dari prediksi budaya pop subversif. Zoolander ( 2001 ) adalah sebuah karya komedi jenius, dan Tropic Thunder ( 2008 ) memiliki kemampuan luar biasa untuk menusuk paham paham benar secara politis.
No matter how I look at “The Secret Life of Walter Mitty,” I love it.
Tampilan film ini menarik, dengan palet warna yang dirancang untuk berubah bersama perubahan karakter Mitty, serta pemandangan dari petualangan yang dialami Walter dalam pencarian dirinya, sungguh indah dan mengagumkan.

Ada banyak film-film yang mengeksplorasi tema tentang kehilangan orang tua dan hilangnya masa kanak-kanak yang polos, dan tentang kebutuhan untuk tidak merasa takut menikmati hidup, bukan membiarkannya menjadi hanya serangkaian peristiwa yang terjadi hingga akhirnya menjadi kenangan.
Cerita nya sendiri menginspirasi, tapi untuk alasan yang berbeda. Tidak hanya menceritakan tentang pemimpi yang menyedihkan, tapi tentang seorang pria yang secara terkekang secara fisik, tapi pikirannya terbuka selebar mungkin. Ketika ia dikonfrontasi dengan pilihan apa yang bisa ia lakukan dengan hidupnya, he does something about it. Godaan untuk membuat film tentang tidak lebih dari seorang pria melamun ditolak, dan itulah yang memungkinkan film ini untuk menjadi sebuah film yang menantang penonton untuk mengejar mimpi.
Yes, that’s a corny message, but I’ve learned in my life that the corny cliches are often true in the pursuit of real happiness.

Seperti film Marc Forster "Stranger Than Fiction" hampir sepuluh tahun yang lalu, "The Secret Life of Walter Mitty" juga sama caranya dalam menangani beberapa masalah dengan "membengkokkan" realita untuk tetap membuat penonton mereka menebak nebak. Film Ini mungkin tidak akan menjadi game changer dalam hidup anda atau film terdalam yang pernah dibuat, tapi "The Secret Life of Walter Mitty" adalah salah satu film yang menarik untuk melihat, dan tidak ada yang salah dengan feel-good movie yang membuat Anda merasa baik tentang menyukainya.


Kristen Wiig disini mendapat kesempatan langka untuk memainkan karakter wanita biasa, tetapi memiliki  momen hebat di Mitty. Dia dan Stiller berbagi chemistry yang bagus yang ternyata membantu beberapa adegan mereka saat bersama. Adam Scott memberikan performance yang stand-out dan lucu setiap kali dia muncul.
Tapi ini akhirnya adalah cerita Ben Stiller , naik atau turunya, suka atau tidaknya penonton pada film ini akan tergantung padanya. Dan pada hal ini, film ini berhasil. Film ini berhasil mengelola serta menyeimbangkan kepribadian seorang pria yang telah menyerah pada dirinya sendiri tapi dengan martabat dalam hatinya dan juga refleksi yang menghindarkan nya menjadi seorang yang klise, seorang yang secara ajaib berhasil mengatasi ketakutannya ketika lamunan lamunannya menjadi kenyataan.
Lamunan lamunannya disini bukanlah refleksi kelemahannya, tetapi merupakan sebuah fakta bahwa dia masih "alive on the inside" dan diperlukan keberanian dan iman dalam dirinya lagi, sebagian dengan cara menghadapi dan mengakui  betapa besar efek yang dialaminya dari kehilangan ayahnya di masa remaja nya, telah memperngaruhi dirinya dan keluarganya.

The Secret Life of Walter Mitty menyediakan tawa tawa yang menyenangkan, tetapi juga mengajak kita berpikir tentang kehidupan dan bagaimana cara kita memilih untuk hidup di dalamnya. Dirilis hampir setahun yang lalu, dengan lumayan banyak unsur petualangan yang  menyenangkan, serta humor dan sentimen sentimen positif telah membuat film ini begitu menghibur.

If you’re looking for a holiday season movie that’s different from the rest of the pack, this is definitely a film to see. 

****

The Secret Life of Walter Mitty ( 2013 )
A Film by Ben Stiller


Sunday, December 7, 2014

Movie Review : Interstellar ( 2014 )

INTERSTELLAR
Starring : Matthew McConaughey, Anne Hathaway, Jessica Chastain, Cassey Affleck, Mackenzie Foy
Writer : Jonathan Nolan
Director : Christopher Nolan



Interstellar adalah sebuah film yang ingin mengajak kita berpikir serta merupakan sebuah film yang  dibuat sepenuh hati oleh Nolan Brothers.
Interstellar juga merupakan film yang sulit bagi saya untuk diberikan nilai rating. Film ini ambisius, di filmkan dengan indah, akting yang menawan, dan seperti banyak film film Nolan, film ini seakan meminta penonton untuk berpikir ketika mereka dibawa hanyut ke dalam sebuah perjalanan yang memikat.
Dibandingkan dengan kebanyakan film di luar sana, Interstellar benar-benar top-notch dan tidak boleh dilewatkan, Tapi jika dibandingkan dengan film film Nolan yang lain, seperti The Dark Night, Inception dan The Prestige, saya tidak yakin jika Interstellar memiliki dampak yang sama.

"Do not gentle into that good night, old age should burn and rave at close of day, rage, rage against the dying of the light"

Sepenggal puisi klasik Dylan Thomas, yang digunakan di film ini, juga merupakan tema sentral untuk Interstellar.
Ketika film dimulai, bumi dikondisikan sedang sekarat, badai pasir dimana mana, menderita akibat populasi yang membludak, kurangnya sumber daya, pemerintahan yang bangkrut dan banyak tanaman bahan pangan yang rusak.
Cooper, adalah seorang astronot yang kemudian menjadi petani, yang sambil berjuang membesarkan kedua anaknya. Ketika sebuah peristiwa terjadi, kemudian memaksa dia untuk kembali  menjadi pilot di pesawat ruang angkasa yang akan menuju ke sistem tata surya yang jauh untuk mencoba menyelamatkan seluruh umat manusia, mencari tempat baru yang bisa dihuni. 


Interstellar adalah epic science fiction sekaligus sebuah drama keluarga yang menyentuh. Berakar mendalam pada teori fisika Kip Throne dan pendahulunya, dan yang berhubungan dengan relativitas, teori teori rumit tentang waktu, dan hubungannya dengan gravitasi, dan teori tentang masa depan di jagad raya, sekaligus menyajikan drama menarik, dan petualangan luar angkasa yang memuaskan. Kekurangan dari semuanya itu justru datang dari lingkup nya yang epik dan upaya upaya lain dalam usaha menempatkan segala aspek di film ini untuk melebihi apa yang pernah kita lihat sebelumnya.

Interstellar, pada intinya, adalah tentang pertempuran setiap umat manusia antara melakukan apa yang benar untuk orang orang terdekatnya, dan melakukan apa yang benar, juga untuk seluruh umat manusia. Sementara berusaha membenamkan penonton dalam teori teori ilmiah dan petualangan di luar angkasa, Interstellar juga menunjukkan arti pentingnya sebuah keluarga dan cinta.

Seperti yang diduga, penyutradaraan Nolan di film ini masterful, dengan semua aspek menyatu menjadi satu, dengan tujuan yang sama dan kepekaan artistik. And the restult is breathtakingly beautifull. Setiap shot shot direncanakan dengan hati hati untuk menekankan mood dan perasaan dalam adegan itu sendiri. Nolan sepertinya banyak terinspirasi dari baik 2001:A Space Oddyssey atau Gravity, dan melakukan pekerjaannya dengan baik untuk mengambarkan kesepian di luar angkasa sana.


Matthew McConaughey yang menjadi ayah sekaligus astronot, dengan mudah bisa dikatakan merupakan bintang utama film ini, penampilannya yang luar biasa. Dia menampilkan berbagai emosi yang mungkin hanya sedikit aktor yang ada  bisa mampu melakukannya.
Matthew merupakan aktor yang solid dan mampu membuat saya begitu terfokus dengan ceritanya. Mengingat dekatnya film ini dengan waktu musim film film yang mengincar Oscar, tak ada salahnya jika banyak yang melihat Interstellar juga mengincar event tersebut, semua ini tergantung juga pada film film apa saja yang akan keluar selama musim Oscar nanti, dan saya tidak terkejut bila akan melihat McCougnaughey mendapatkan nominasi akting untuk Interstellar, meskipun saya ragu dengan kemampuannya akan menang kali ini, apalagi jika muncul banyak film yang akan menghalanginya menjadi satu satunya fokus.

Dengan banyaknya mixed review dan love-hate feeling untuk film ini, secara personal, saya sendiri sangat menyukai film ini, bahkan saya berani memberikan gelar film ini sebagai one of the best this year.
Ambisi dari seorang Christopher Nolan yang menghadirkan sebuah kisah yang kental dengan teori teori ilmiah dalam luasnya jagad raya, serta tak lupa memasukkan unsur drama keluarga yang keduanya mempunyai resiko masing masing.


Untuk beberapa orang, mungkin aspek drama di film ini dirasa overplayed dan klise, serta mengurangi fokus cerita dari aspek action space-adventure nya sendiri, dan untuk beberapa orang pula, malah aspek drama ini merupakan salah satu titik daya jual terbesar.
Ada penonton yang puas dengan teori teori ilmiah, serta memuaskan naluri petualangan mereka, tapi ada juga penonton di sisi ini yang menyukai kisah tentang seorang ayah yang sangat mencintai anaknya, secara literally, melampaui ruang dan waktu.

I don't know where to begin. Nolan terlah memeras otaknya sepanjang karier film nya, tapi dia telah mencapai level baru dengan Interstellar.
Seperti kebanyakan film Nolan (terutama Inception) orang dapat melihat kemungkinan plot hole di sana-sini. Namun, jauh lebih menyenangkan untuk duduk kembali dan mengagumi pemandangan dan tersesat dalam visual mendalam dan cerita yang juga mendalam. Imajinasi yang diperlukan untuk menyutradarai film ini dan menulis skenarionya  adalah di luar jangkauan pikiran saya, serta dibungkus dengan akting yang sangat baik juga.
This movie is one of a kind.

****

Interstellar ( 2014 )
A Film by Christopher Nolan