Friday, March 27, 2015

Rayya ; Cahaya diatas cahaya ( 2012 )

Pemain : Titi Sjuman, Tio Pakusadewo, Christine Hakim, Alex Abbad
Skenario : Emah Ainun Najib
Sutradara : Viva Westi




































****
 

Bagi para penikmat film, genre road movies adalah genre yang tidak asing lagi di telinga. Untuk film film hollywood saja, sudah banyak yang familiar, seperti Road To Peridition ( 2002 ), Planes Trains and Automobiles ( 1987 ) dan remake nya, Due Date 9( 2010 ), Little Miss Sunshine ( 2010 ), dan masih banyak lagi.

Tapi untuk film Indonesia sendiri sangat jarang ditemukan genre ini, sebelum Rayya, ada 3 Hari Untuk Selamanya ( 2007 ) nya Riri Riza yang mampu memberikan nafas segar di tengah gempuran film film horno yang saat itu dengan masif masih membabi buta menyerang akal dan pikiran penonton Indonesia.
Mbak Viva Westi, sutradara Rayya, awalnya membuat saya pangling, karena dari apa yang banyak saya baca di internet, beliau pernah membuat beberapa film kategori horno dan salah satu penyuplai skenario untuk sutradara masyur, Nayato Fio Nuala, salah satu ikon laris produsen film film horno.

Well..., one ( or two ) bad films, doesn't make her bad permanently. Kalo Gordon Ramsay pernah berkata "Even The Greatest Chef have a bad day", maka buat mbak Westi, patut kita katakan, Even the greatest director have a bad film. Dan buat mbak Westi, Rayya, mungkin adalah salah satu pencapaian terbaik nya.
Berbekal skenario yang lahir dari tangan salah satu tokoh intelektual tanah air, Emha Ainun Najib, banyak Pesan-pesan terpuji yang dibalut dengan metafora menenteramkan yang kerap kali ditunjuk sebagai identitas tulisan pria yang akrab dipanggil Cak Nun ini. Bersama, mbak Westi dan Cak Nun menghasilkan sebuah Road Movies, yang dibalut dengan sinematografi yang indah, dialog yang puitis dan akting yang menawan dari Titi Sjuman dan Tio Pakusadewo.
























 Arogan, adalah kesan pertama yang kita dapatkan ketika bertemu Rayya ( Titi Sjuman ), artis multitalenta yang menyebalkan, dan senantiasa ingin dipahami, serta benar-benar merasa perlu untuk menunjukkan kepada dunia bahwa dia adalah seorang diva. Emosi nya yang meluap luap sering membuat Sapto, manajer nya, kewalahan, terutama saat Rayya membuat konflik dengan Kemal ( Alex Abbad ), fotografer dalam proyek buku biografi nya. Menggantikan Kemal, Arya ( Tio Pakusadewo ), tampil sebagi lawan yang seimbang untuk Rayya yang sering bersikap labil.

Perjalanan yang awalnya tidak lebih dari sekedar sesi foto foto cantik ini, menjadi terasa lebih ketika Arya berhasil membuat Rayya secara perlahan membuka diri. Dari ketenaran sampai uang yang melimpah ruah, plus status diva yang dimiliki Rayya, tidak otomatis membuat hidup nya sempurna. Kehidupan cinta Rayya justru memprihatin kan, dia dicampakkan oleh kekasih nya yang ternyata sudah beristri. Terluka karena patah hati membuat Rayya jadi lepas kendali dan membuat nya melemparkan tantrum kesana kesini, terlalu banyak kata kata pedas terlontar dari mulut manis nya.
Ada nya sosok Arya dalam perjalanan ini, yang juga memiliki problematika nya sendiri, membuat perjalanan Rayya terasa lebih berharga.

Sosok Arya yang bijak dan wong - wong cilik yang dijumpai mereka selama perjalanan membuka mata Rayya tentang pembelajaran hidup, bahwa bahagia itu sederhana, tidak selalu harus dari hal hal yang besar, kita baru bisa bahagia, serta pada akhirnya setiap orang akan menyadari bahwa seluruh usianya habis hanya untuk memahami cinta yang sangat sedikit.























 Banyak scene yang cukup memorable bagi saya, mulai dari Rayya dan Arya yang hadir dalam sebuah pesta perkawinan di sebuah kampung setelah ikut membantu calon mempelai pria yang hampir gagal pergi karena mobil yang rusak di tengah sawah, bertemu dengan Bu de nya Arya ( Christine Hakim memberikan scene yang berkelas sekali disini ), yang memiliki masalah pendengaran, tapi mengurus anak anak autis di kampung nya, bertemu dengan anak anak pemecah batu untuk mencari nafkah, hingga yang paling menohok Rayya ( dan saya ) adalah ketika seorang ibu yang menjual rengginang, menolak pemberian uang Rp. 50,000 dari Rayya yang saat itu membeli dua bungkus, dan dengan tegas berkata " saya bekerja, bukan pengemis. kalau beli dua harganya Rp. 3,000 ".

Dialog dialog puitis dalam film ini agak terasa kurang lazim dan berpotensi membuat frustasi penonton yang terbiasa dengan percakapan lo-gue yang lugas dan to the point. Cak Nun dan mbak Westi cenderung berlama lama bermain dengan kata, yang sering membuat saya cukup lama untuk mencerna makna dari dialog Rayya dan Arya. Sehingga, disinilah para pemain lain memegang ujung tombak yang penting.
Titi Sjuman dan Tio Pakusadewo memberikan performa yang gemilang dan menyenangkan. Titi Sjuman adalah Rayya yang bawel dan drama queen sejati di awal film ini. Keseluruhan aktingnya lumayan. Walau saya lebih suka Titi Sjuman ketika main sebagai TKW dalam Minggu Pagi di Victoria Park.
Sedangkan Tio Pakusadewo berhasil tampil sebagai Arya yang bijak, dan menjadi penetralisir Rayya yang meledak ledak.

Bersama, mereka memberikan chemsitry yang solid dan kokoh, dan ikut memoles film ini adalah, para pemeran pendukung yang muncul di setiap segmen perjalanan Rayya, yang berhasil berakting total layak nya pemain utama, dan terutama untuk ibu Christine Hakim, yang tidak pernah lelah untuk berakting di usia senja nya.























 Dengan dialog yang puitis dan sinematografi serta tampilan landscape bumi Indonesia yang begitu menawan membuat film ini begitu terkesan 'nyeni' dan indah. Bidikan gambar gambar cantik di sepanjang jalur pantura - jogja - hingga bali di sepanjang film benar benar memanjakan mata.

Menonton film ini, kita seperti diajak untuk mengikuti perjalanan batin Rayya menemukan jati dirinya, mencari cahaya untuk hati nya serta, mengajak kita untuk peduli dengan apa yang terjadi pada dua karakter utamanya ini. Perjalanan Rayya tidak sekedar jalan jalan biasa, tapi juga mengajak kita untuk betemu dengan banyak individu individu menarik yang memberikan warna warni dalam perjalanan ini.
Rayya adalah sebuah film yang istimewa, yang memberikan pembelajaran hidup lengkap dengan sentilan sentilan nya mengenai kehidupan sosial.

Wednesday, March 18, 2015

Selamat Pagi, Malam ( 2014 )

Penulis Naskah : Lucky Kuswandi
Sutradara : Lucky Kuswandi



Saya pernah berkata kepada sahabat saya yang hendak pindah dan merantau ke Jakarta, "  Jakarta will change everyone. Stay true and be yourself, only better ."
Hanya satu malam di Jakarta bisa mengubah jiwa kita. Cukup satu malam, apalagi jika untuk jangka waktu panjang.
Ada sesuatu yang tersimpan di dalam lipatan lipatan cahaya kota yang tak pernah terlelap sepenuhnya itu, sesuatu yang bisa menyelinap begitu saja dan diam diam memasuki jiwa dan pikiran kita. Cukup satu malam, dan semuanya bisa berubah.

Kemudian jika ditanyak, bagaimana kita mendeskripsikan Jakarta ?
( saya sendiri ) yang berada diluar Jakarta, mengingat Jakarta, berarti mengingat macet, banjir , daerah yang rawan, polusi, gaya hidup trendi dan segala gegap gempita dunia malam dan surga belanja di mall - mall. Seperti segala macam bercampur aduk menjadi satu keramaian yang jauh dari kata kenyamanan. Jadi jelas, Jakarta bukan tempat bagi anda yang mencari kenyamanan, kecuali jika anda memiliki ambisi untuk berkarier ke puncak dan siap bersaing dengan mengorbankan banyak hal.

Di megacity seperti Jakarta, banyak hal berubah dengan cepat tanpa kita sempat ikuti. Hal ini terjadi pada ketiga wanita yang menjadi tokoh sentral di film ini, yang memiliki cerita berbeda di malam yang sama, tak saling mengenal, dan tenggelam dalam gelapnya malam, yang kemudian pergi di pagi hari nya.



Gia ( Adinia Wirasti ), kembali ke Jakarta setelah lama menetap di New York. Gia kembali ke Jakarta dan mendapati kota tersebut telah berubah bentuk dan tingkah laku. Sebuah kenangan , membuatnya rindu dan ingin bertemu dengan kekasihnya selama di New York, Naomi ( Marissa Anita ).
Jarak serta aura Jakarta yang sanggup mengubah apa saja, juga telah ikut merubah Naomi.
Di sisi Jakarta yang lain, ada Indri ( Ina Panggabean ), seorang pegawai di sebuah gym elit, mencoba mewarnai hidupnya yang terasa datar dengan mencari pacar di dunia maya dan chatting melalui ponsel nya. Dengan bayangan romantis akan bertemu pria pujaan hati nya di restoran bagus, Indri malah mendapati dirinya terdampar pada hubungan sekilas yang lain.

Kemudian ada ci Surya ( Dayu Wijanto ) yang baru berduka sepeninggal suaminya, malah menemukan fakta menyakitkan, yaitu koh Surya ternyata selama ini memiliki wanita lain, penyanyi bar yang bernama Sofia ( Dira Sugandi ). Malam itu juga, ci Surya berbenah diri, menyusuri Jakarta ke tempat suami nya biasa menghibur diri.

Tiga perempuan, tiga kisah di dalam satu Jakarta yang gelap.

Ci Surya adalah istri yang lugu, tapi naif dan kesepian. Dia tampil tak banyak bicara. Dari pancaran mata, roman wajahnya mencoba mencari sesuatu. Rasa sakit hati, kehilangan, kecewa, marah, depresi, dan kesepian seperti memuncak saat ia duduk di depan bar, dan mendengar Sofia, wanita selingkuhan suaminya, bernyanyi. Mereka tidak saling kenal, tidak juga tatap muka sampai akhir cerita, tapi semuanya sama sama berteduh dari penatnya hingar bingar Jakarta. Ci Surya adalah bagian perih yang paling mewakili sosok Jakarta.
Pergulatan Dayu Wijanto menjadi karakter ibu rumah tangga yang berpetualang di dunia malam Jakarta, jauh dari stereotipe. Tak banyak bicara, minim dialog, tapi wajar, tak dibuat buat. Yang kuat dari aktingnya adalah ia mampu mengajak penonton menyelami apa yang dirasakan hanya dengan ekspresi wajah dan tubuhnya.


Gia, yang dibawakan tanpa halangan oleh Adinia Wirasti merupakan contoh anak muda Indonesia dari New York yang bohemian dan merasa geli melihat tingkah laku teman teman Naomi yang sangat "Jakarta".
Jika Naomi merupakan wakil dari sosok yang mau berkompromi dengan kota dan orang orang di dalam nya, yang berisi pesta hipokrit kalangan jetset Jakarta, yang artifisial dimana kepura puraan, hedonisme adalah syarat mutlak untuk bergaul diantara kaum berduit, maka Gia merupakan representasi dari sosok Jakarta yang jujur dan relaks dengan identitas nya. Dari mata Gia lah kita melihat tingkah laku kalangan atas yang bergelimangan harta dan narsistik.

" There's no place for us here" kata Naomi kepada Gia, dengan segala kesadaran jika mereka tidak lagi sama, karena Jakarta yang begitu "Indonesia" dengan akar agama yang masih sangat kuat, tidak mungkin mengijinkan mereka kembali bersama.
Chemistry kedua nya sangat kuat disini, lewat tatap mata, tawa dan gestur gestur samar dari Adinia Wirasti dan Marissa Anita, kita bisa merasakan kuatnya perasaan yang ada, debar menjelang perjumpaan, akwardness, pandangan mendamba, atau tensi saat mereka hanya berdua di ruangan atau di mobil dengan kerinduan yang tertahan.

Indri, yang mewakili elemen humor segar di film ini mendapati harapan nya pupus, alih alih mendapatkan Prince Charming dalam impian nya. Indri bertemu dengan Davit, si pujaan hati, yang tidak sesuai dengan foto nya di chatting room ( foto lama, katanya ). Yang awalnya hanya berharap bisa makan enak di restoran mahal ( bahkan bela belain membeli kantong kertas kosong berlabel Channel di jembatan penyebrangan seharga Rp. 5,000, supaya terlihat keren ditenteng di mall hihi..), Indri malah mendapati dirinya menjalani hubungan sekilas semalam dengan Faisal, waiter di restoran mahal tersebut. Bersama Ina Panggabean, ini adalah elemen humor yang dibutuhkan dalam malam Jakarta yang kelam ini.

Naskah film terasa berpijak pada pengalaman serta penuturan yang beragam. Ia bisa berbicara banyak bagi banyak orang, baik pada tataran intelektual maupun emosional. Bernada komedi sekaligus satir, dengan drama yang menembak tata hidup warga Jakarta atau penghuni kota besar di Indonesia.
Ketimbang membawa film ini bermuram durja, Lucky Kuswandi justru berhasil mendominasi tone film ini dengan keceriaan yang berisi celetukan celetukan yang sarkatis dan menohok, Jenaka dan manis di satu sisi, tetapi di sisi lain pun menyimpan rasa yang pahit. Apakah memang seperti ini Jakarta yang sesungguhnya, tampilan begitu megah menggoda tetapi isinya siapa yang tahu?

Hingar bingar Jakarta yang membungkus cerita Gia, Indri dan ci Surya dalam kelam nya malam Jakarta, berakhir dengan sebuah lantunan lagu Pergi Untuk Kembali ( dipopulerkan Melky Goeslaw tahun 1974 ), yang dinyanyikan Sofia dengan nada balada perlahan yang menyayat hati.
Balada tanpa iringan musik dengan lirik yang mewakili film ini , "...bulanpun bersinar, betapa indah nya / Namun menambah kepedihan.."

Selamat Pagi, Malam.
Sebuah film yang indah tentang Jakarta, sekaligus menambah kepedihan.

*****

Selamat Pagi, Malam ( 2014 )
A Film by Lucky Kuswandi