Friday, April 10, 2015

Cloud of Sils Maria ( 2014 )

Starring : Juliet Binoche, Kristen Stewart, Chloe Moretz
Writer : Olivier Assayas
Director : Olivier Assayas




 



































*****
Sangat indah ketika mereka dengan lihainya mengambil scene di lembah pegunungan Alpen di Swiss, cantik nya Eropa dengan arsitektur nya yang vintage, dan kemudian menit demi menit, Cloud of Sils Maria mulai menjadi “gila” ketika terkuak nya pergulatan emosi dan ambisi dari seorang aktris paruh baya dan seorang aktris muda yang sedang berada dipuncak kepopuleran nya.

Dalam kisah karya Olivier Assayas, penulis sekaligus sutradara film ini, Assayas sangat tertarik dengan gagasan akan sebuah ide,tentang bagaimana seseorang kembali berhubungan atau setidaknya diingatkan kembali akan orang orang di masa lalu mereka, seperti apa mereka dulu, masa lalu yang pernah mereka miliki, dimana tidak ada nya kepastian yang mungkin akan ditemukan disana.

Film ini lebih banyak berfokus pada hubungan antara Maria dan Valentine. Kita diperkenalkan kepada mereka sebagai Maria, aktris tersohor baik di panggung drama atau di layar lebar, baik film film prestisius atau film film blockbuster. Maria sedang dalam perjalanan ke Zurich untuk mewakili sutradara Wilhelm Melchior menerima sebuah penghargaan. Wilhelm sendiri diceritakan meninggal sebelum acara akan dilangsungkan.

 Ketika Maria masih remaja, Melchior melambungkan namanya lewat film Maloja Snake, film tentang seorang perempuan muda yang merayu bos nya yang lebih tua, dan mendorong nya untuk bunuh diri.
Juliet Binoche disini menjadi seorang aktris tersohor, Maria Enders, yang sedang galau, resah dan merasa tidak nyaman di usia nya yang mendekati paruh baya. Kristen Stewart disini adalah asisten pribadi nya, Valentine, seorang yang cerdas, simple, efisien, dan berhasil menjadi tangan kanan Maria yang selalu diandalkan nya. Chloe Moretz kemudian masuk nanti nya, sebagai Jo-Ann Ellis, seorang rising star yang heboh, dan menjadi target favorite pers. Kehadirannya di sebuah proyek remake sebuah film yang membuat Maria terkenal hingga saat ini. Dengan Jo-Ann yang menggantikan peran Maria, dan Maria sendiri mengambil peran sebagai wanita yang lebih tua dan desperate.

Through all of it, hubungan yang paling menarik perhatian kita adalah hubungan antara Maria dan Valentine. Binoche yang mempesona sebagai Maria, dan Stewart yang tak kalah menawan nya sebagai Valentine.
Ketika Valentine mencoba menjelaskan kepada Maria mengenai untung rugi nya film film blockbuster yang dibintangi Jo-Ann, sangat mustahil untuk kita tidak tiba tiba teringat dengan Stewart sendiri, dan tahun tahun yang dihabiskan nya untuk Twilight sebagi BellaSwan, sebuah peran yang melambungkan nama nya dan melekat pada nya hingga sekarang.


Performa acting Kristen Stewart yang begitu menawan dan berpengaruh di film ini, mengantarkan nya menjadi aktris Amerika pertama yang pernah menang dalam Cesar Award tahun ini, yang sering dianggap sebagai Oscar versi Perancis. How sweet it is, haters ? haha..
Stewart’s strength here is being the kind of actress i always suspected she could be

Di film ini, Stewart melakukan apa yang persis di deskripsikan Valentine terhadap bakat terbesar Jo-Ann, yaitu melebur dengan karakternya, dan “hilang” secara total ke dalam diri valentine.
Dan itu semua membuat interaksi acting nya dengan Binoche, yang juga merupakan seorang aktris hebat, seorang master akting yang juga bisa “merasuki” peran nya, dan berdua, they both mesmerizing to watch.
Interaksi interaksi tersebut merupakan inti dari film ini. Tarik menarik hubungan mereka, ketergantungan si aktris besar dan orang orang yang dekat dengan nya, menjadi hidup ketika sang aktris dan asisten mulai berbicara satu sama lain.


Big stars live for scripts like this,
yang mengaburkan garis antara karakter dan pesona public mereka dengan cara yang membuat acting mereka menjadi pencapaian tertinggi di film ini.
Binoche,Stewart dan Moretz bisa menghilang dalam karakter mereka, dan at the same time,stand outside them. And what of that next, meta level ? oh yes, Here is Binoche, sang aktris besar, Oscar-winning, memberikan salah satu penampilan nya yang paling kaya dan keren hingga saat ini. Setiap inci dari nya ‘meneriakkan’ diva.

Cloud of Sils Maria outstanding dalam pencapaian pe rindividu nya, baik dalam hal scenario, performa para aktrisnya, maupun sinematografinya.  
It's a great pleasure to watch Assayas,Stewart and Binoche mix it up onscreen.

Tuesday, April 7, 2015

Minggu Pagi di Victoria Park ( 2010 )

Pemain : Lola Amaria, Titi Sjuman, Donny Alamsyah, Donny Damara
Skenario : Titien Wattimena
Sutradara : Lola Amaria







































"Mentang-mentang sebutannya pahlawan devisa, terus kamu berharap dihargai sama negara ?"
Sahut Mayang ( Lola Amaria ) kepada seorang rekan nya sesama calon TKW yang akan dikirim ke Hongkong, yang kemudian dipaksa pulang oleh bapak nya karena banyak nya cerita dan bukti mengerikan mengenai kekejaman terhadap para TKW di luar negeri.
Toh hal itu tidak membuat Mayang ikut mundur, walau menjadi TKW tidak pernah ada dalam rencana nya, tapi lebih ke ( kebalikan nya ) paksaan dari bapak nya, sekaligus untuk mencari adik nya yang sudah menghilang beberapa bulan di Hongkong, Sekar ( Titi Sjuman ).

3 bulan awal Mayang bekerja di Hongkong ( majikan nya terlihat baik dan wajar saja ), belum berhasil mencari Sekar, lewat bantuan dari Gandhi ( Donny Damara ) dan  sahabatnya, Vincent ( Donny Alamsyah ), mereka bahu membahu mencari info akan keberadaan Sekar. Di sela pencarian itu, Vincent pun gigih mendekati Mayang.

Sekar terlilit hutang besar kepada rentenir, karena gegabah dan meminjam uang tersebut untuk dikirim ke orang tua nya sebagai bukti ia berhasil di Hongkong. Padahal menurut aturan nya, para TKW ini tidak menerima gaji selama 7 bulan, karena untuk membayar agen. Tidak mampu bersabar akan hal itu, Sekar pun terjebak dan tidak bisa pulang ke Indonesia karena paspor nya ditahan sampai ia bisa membayar hutang. Sekar pun melakukan apa saja untuk memperoleh uang, mulai dari mengajak anjing jalan jalan, menjaga lansia, nekad menjadi teman kencan tamu tamu di klub malam hingga ditawari menjadi pelacur. Akan kah Mayang bertemu kembali dengan adiknya?




















Di film ini ( dan kehidupan nyata ), Victoria Park aadalah tempat favorit berkumpul nya para TKW di hari libur. Sedikit kaget melihat begitu banyak nya orang Indonesia di tempat ini, dengan banyak hal yang bisa diperhatikan, mulai dari cara mereka berdandan yang lebih ekspresif, degnan pilihan gaya rambut yang warna warni dan fashion yang stylish, seperti menyulap diri sendiri dengan identitas baru demi berbaur dengan Hongkong yang modern.

Lola seperti sengaja mengajak kita untuk melihat terlebih dahulu tampilan luar kehidupan para TKW ini, sebelum nanti nya diajak masuk ke dalam problematika yang ada dan masing masing ternyata sama kompleks nya dengan Sekar dan Mayang. Kisah sederhana ini disajikan dengan sangat spesial dan simpel.

Lola Amaria berhasil membungkus film ini dengan apik dan rapi. Kekuatan film ini terletak pada drama nya yang tidak hanya kuat dalam menyajikan nya, tapi juga fasih dan lugas dalam menyampaikan nya dalam bentuk gambar dan dialog antar pemain, sehingga bisa diterima dengan baik oleh penonton. Naskah cantik dari Titien Wattimena yang berhasil diterjemahkan dengan baik oleh Lola dan Titi Sjuman beserta pemain lain nya, ditambah dengan sinematografi yang menyorot sudut sudut kota Hongkong dari berbagai sisi berhasil membawa saya hanyut dan merasa bersahabat dengan apa yang ditawarkan film ini.  


Beberapa yang menonton film ini mengatakan bahwa Lola Amaria terlihat kaku dan santai, berbeda dengan Titi Sjuman yang terlihat dapat menjelajahi kemampuan akting nya dengan lebih luas. Mungkin ini berdasarkan kepribadian Sekar dan Mayang yang memang bertolak belakang. Sekar yang sejak kecil menjadi putri favorit bapak nya serta menjadi kembang desa, mempunyai kepribadian yang lebih percaya diri dan "garang", sedangkan Mayang, yang selalu dinomor dua kan bapak nya, tumbuh menjadi gadis yang pemalu, pendiam dan kaku.

Adanya dialog dialog para TKW di film ini, dan juga Lola Amaria, yang menggunakan bahasa kanton tapi dengan logat jawa yang kental menjadi sedikit penghibur yang bisa membuat tersenyum.
Menangkap realita yang ada mengenai TKW, khusus nya di Hongkong, Lola mungkin tidak terlalu menyinggung soal kasus kekerasan dari majikan yang sangat akrab di telinga kita. Lola seperti nya tidak terlalu ingin berfokus pada masalah kekerasan diantara banyak nya masalah yang dialami TKW disana. Cukup mengangkat cakupan masalah masalah pribadi yang menimpa beberapa TKW yang ada di film ini, sepertinya cukup mewakili akan betapa tidak nyaman nya bekerja di negara orang, jauh dari rumah dan bertemu dengan orang orang yang belum tentu baik, jahat malah. Dengan takaran dosis masalah yang pas, membuat film ini tidak tercecer, tapi terlihat pas lengkap dengan tambahan dongkrak dramatisasi selain beberapa adegan flashback.



“Minggu Pagi di Victoria Park” adalah tontonan yang berbeda serta menyegar kan, dan juga spesial, di tengah produktif nya film film yang ada sekarang.
Dengan tema luas percintaan dan persahabatan, sudah tak terhitung betapa banyak jumlah film yang memakai tema serupa. Tapi jika dihitung secara kualitas, maka akan terlihat jumlah yang sebenar nya.

Sayang pencapaian film ini secara komersil ternyata mengecewakan. Pass untuk saya, karena memang tidak ada nya bioskop di kota saya menjadi penghalang. Sebegitu sulitnya membuat penonton Indonesia mau menonton film berkualitas hasil karya sineas negeri sendiri. Begitu sering mengeluh, komplain dan mem-bully kebobrokan film Indonesia, tapi selalu acuh dan terus menutup mata akan film film berkualitas yang ada.
Akan sulit, tapi bukan tidak mungkin, berharap suatu hari, para penonton kita akan mengerti dan bisa menghargai serta menjadikan film karya negeri sendiri sebagai kiblat di rumah sendiri.

St. Vincent ( 2014 )

Starring: Bill Murray, Melissa McCarthy, Nicole Kidman, Joeden Lieberher
Writer : Theodore Melfi
Director : Theodore Melfi


Dipimpin oleh Bill Murray, St. Vincent adalah sebuah reminder, bahwa bahkan seseorang yang paling menyebalkan dan gampang dibenci, sekalipun memiliki sisi sisi lembut dan murah hati yang tidak diketahui banyak orang.
Murray sempat dinominasikan di Golden Globes tahun ini berkat film ini, he's playing the wise-ass, but rarely the asshole.
St. Vincent menawarkan Murray untuk menjadi kedua antara si asshole dan penganut katolik dalam diri Vincent McKenna, seorang veteran perang Vietnam yang menghabiskan hari hari nya minum alkohol, berjudi dengan uang yang dipinjam nya dari lintah darat, hingga berhubungan dengan pelacur Rusia, Daka ( Naomi Watts *great accent, Naomi ;), hingga hangover dan bangun dengan wajah berlumuran darah, adalah rutinitas yang hampir terasa rutin bagi nya.

Ketika seorang ahli MRI di sebuah rumah sakit, Maggie ( Melissa McCarthy ) dan anaknya, Oliver ( Joeden Lieberher ) pindah ke rumah disampingnya, Vincent melihat hal itu sebagai kesempatan baginya untuk mendapatkan uang dengan mengasuh Oliver sementara Maggie bekerja di shift malam.
Maggie dengan mudahnya setuju. Dengan mudahnya kita bisa melihat bahwa Victor sama sekali bukan pengasuh impian orang tua. Ia merokok, ia pecandu alkohol, gemar berjudi, hingga mempunyai pelacur langganan. Ia mengajak Oliver ke bar dan tempat judi pacuan kuda, Dia juga diajari Vincent berkelahi. Tapi Oliver juga belajar jika pria yang suka bersumpah serapah seperti pelaut ini memiliki banyak bagian bagian dari dirinya yang tidak seperti orang lain kira.


Murray memainkan peran Vincent dengan mudah. Tapi ada banyak hal yang terjadi dalam penampilannya yang terbilang mudah tersebut.
Tidak mudah untuk memainkan karakter yang dapat menarik kebencian dan cinta, cemoohan dan tersenyum, kemarahan dan kasih sayang.

Di tangan Murray, Penulis / sutradara Theodore Melfi tidak perlu lagi membayangkan seorang aktor yang lebih baik untuk memainkan Vincent McKenna. Dan hal itu berlaku untuk semua sisa cast nya, dengan Naomi Watts yang cukup lucu dengan menjadi pelacur rusia yang selalu berkeluh kesah tentang kehamilan nya, dan bagaimana kehamilan tersebut telah mengurangi gaya dan penampilan nya. Melissa McCarthy juga memberikan penampilan yang sangat baik, dengan akting yang lebih tenang, dramatis, ketimbang mengeksploitasi kekonyolan nya di film film McCarthy sebelumnya.
Yang paling mengesankan, meski masih muda, Jaeden Lieberher, yang berumur 11 tahun, sama baik nya dengan para pemain senior lain nya.
Interaksi nya dengan Bill Murray di film ini, bagaimana karakter Oliver yang harus nya diasuh oleh Murray, malah melakukan sebalik nya, mereka malah menjadi semakin dekat dan mirip sahabat.


Kita akan melihat nanti nya, mengapa VIncent tampak seperti orang tua yang putus ada dengan hidup nya, kenapa ia selalu kekurangan uang, dan kenapa ia nekad berjudi dengan sedikit uang terakhir yang ia punya. Kita melihat bagaimana Oliver yang kemudian menjadi anak yang lebih aktif, dan lebih interaktif dalam keseharian nya, baik dengan Vincent maupun teman nya.
Oliver menemukan kebaikan dan hati yang lembut yang disembunyikan di balik penampilan luar Vincent yang kurang ajar, seperti seorang santo ( orang suci ) yang berada di balik dosa dosa nya. Jadi, ketika guru Oliver di sekolah katolik, Brother Geraghty ( Chris O'Dowd ), menugaskan Oliver dan teman sekelas nya yang lain untuk menulis tentang tokoh orang orang suci di sekitar mereka, bisa ditebak, jika yang dipilih Oliver adalah Vincent.

A funny and moving reminder that in the crabbiest of men can live a generous soul.

The Normal Heart ( 2014 )

Starring : Mark Ruffalo, Matt Bomer, Taylor Kitsch, Jonathan Groff
Writer : Larry Kramer
Director : Ryan Murphy


Pada awal tahun 1980an, bagi seorang penulis, Larry Kramer, ada beberapa hal yang terjadi.
Banyak pria gay yang perlahan sakit kemudian meninggal dengan misterius. Pemerintah dan hampir semua institusi medis tidak melakukan apa apa untuk mencari atau atau menghentikannya. Selain di antara kaum gay, terlebih lagi, masyarakat luas, tidak ada yang peduli.

Jadi, Kramer menulis " The Normal Heart ", sebuah drama panggung yang pertama kali debut di tahun 1985, dimana ia mewujudkan dirinya dalam tokoh karakter Ned Weeks, seorang penulis di New York, yang melihat satu persatu teman nya meninggal, membantu mendirikan Gay Men's Health Crisis Center, and does a lot of yelling. Ia banyak berteriak tentang homophobia, holocost, tentang masyarakat yang munafik, dan harga diri.

The Normal Heart dibuka ketika Ned Weeks ( Mark Ruffallo ) menghadiri acara di sebuah pulau, yang banyak dihadiri pria pria gay, yang kebanyakan saling mengenal dan merupakan teman nya. Ned jelas sekali tidak terlihat nyaman dengan sinar matahari panas, dan tidak hanya karena ia menulis buku yang mengkritik gaya hidup para gay yang hanya berfokus pada sex, well..he is just not into it. Pesta pantai, sinar matahari panas, musik dimana mana, pria tampan dan cute di sekeliling nya, dan tak lama, banyak diantara pria pria tampan tersebut satu persatu mulai sakit.


Which they do. Dan tidak ada yang peduli selain Dr. Emma Broker ( Julia Roberts, yang mengingatkan kita bahwa ia tidak harus jadi pemeran utama untuk mencuri perhatian ), yang pernah terserang polia sewaktu kecil, dan sekarang harus duduk di kursi roda.
Dr. Emma menyadari akibat fatal dari penyakit misterius ini, dan ia menyadari bahwa hanya pria gay yang sejauh ini menjadi korban, maka ia mencari pria pria gay yang dominan di komunitas nya untuk membuat sebuah grup atau komunitas yang peduli dengan penyakit ini.

Ned sendiri melakukan apa yang ia bisa, yang sebenarnya tidak terlalu banyak. In saying what is obvious..well, this is an epidemic, yang harusnya pihak pihak yang berwenang seperti pemerintah yang turun tangan, dan tentu saja para pria gay sendiri juga harus ambil andil dan melakukan apapun yang mereka bisa, karena merekalah korban potensial nya.
Poor Ned, he is met with doubt, silent and resentment.

Pemerintah tidak peduli dan tidak ingin mendengar nya, dan tidak juga para pria gay, yang selama ini selalu berjuang untuk meraih kebebasan seksual mereka. Dan seperti banyak whistle blower, Ned mendapat pelajaran bahwa perubahan butuh waktu, dan diplomasi lebih baik dibanding pemaksaan.


Selain melukiskan kengerian horror atas permulaan virus AIDS, film ini lebih luas lagi menceritakan tentang pergerakan aktivis, dan apa yang harus dilakukan untuk melakukan perubahan. Bekerja dari dalam sistem, atau out of box, dan di luar sistem yang ada ? Moderasi atau bergerak secara militan ? membangkitkan simpati atau malah cemooh ?

Di waktu yang sama, ini juga merupakan cerita romance antara Weeks dan reporter New York Times, Felix Turner ( Matt Bomer ), yang hubungan nya dimulai di pertengahan, semakin seksi - dan ketika Felix sendiri terkena AIDS, berubah menjadi tragis.

Mark Ruffalo memberikan performa yang apik, seorang pejuang, aktivis gay yang bisa bersikap menyebalkan, menantang dan berteriak kepada siapa saja hingga pesan yang ingin ia sampaikan didengar : we are dying, and nobody is doing anything.
Dr. Emma yang diperankan Julia Robert juga sama efektif nya, bergerak cepat dengan kursi roda nya sebagai salah satu dari sedikit dokter yang sadar akan epidemi ini, dan bersikap realistis. Dan tentu saja yang paling mengagumkan adalah Matt Bomer, yang menurunkan berat badan nya hingga 18 kg untuk menjadi Felix Turner. Akting yang apik disertai perubahan fisik yang ekstrim tersebut pun membawa Bomer meraih Golden Globe pertama nya.

Jika hanya kemarahan dan penderitaan yang ada di The Normal Heart, maka menonton nya pun akan menjadi siksaan.
Luckily, it has heart to match its guts. 



Setiap kematian mengurangi jumlah yang berhasil selamat, para survivor yang ada, yang membuat perkataan perkataan Tommy Boatwright ( Jim Parson ) lebih memilukan. Dia mengacu pada kartu Rolodex yang dia simpan setelah teman-teman nya perlahan meninggal sebagai "kumpulan batu nisan kardus, diikat dengan karet gelang."
Mereka yang kehilangan haknya untuk alasan apa pun tetap beresiko dirugikan atau meninggal dalam jumlah besar sebelum masyarakat, atau dunia, bereaksi. Memilih bersikap diam sama saja dengan mati.
Sometimes yelling is required.

Amelie ( 2001 )

Starring : Audrey Taoutou,Mathieu Kassovitz,
Writers  : (scenario), (scenario)
Director : Jean-Pierre Jeunet

"Bahkan artichoke memiliki hati," - pernah dikatakan kepada Amelie, dan dia harus menemukan miliknya juga.Sifat Optimisme "Amelie" telah terbukti tidak bisa diterima untuk beberapa orang, yang telah mengejek Film Jean-Pierre Jeunet ini di Cannes Film Festival, dan ternyata sukses komersial di Perancis - sebagai sebuah feel-good-movie.

Dalam dunia fantasi Jeunet di Amelie, Patung patung memliki mata yang bergerak, dan banyak lukisan yang berbicara. Bahkan ada satu scene, dimana Amelie sendiri mencair ke dalam kumbangan air hihi..
Ibu Amelie meninggal karena tertimpa seorang turis yang bunuh diri dengan cara melemparkan dirinya dari puncak gereja katedral Notre-Dame.
Blubber, sang ikan mas, Teman terdekat semasa kecilnya pernah melakukan bunuh diri dengan cara melompat keluar dari aquarium.
Tidak mengherankan jika Amelie tumbuh dewasa dikelilingi oleh fantasi, agak pemalu, dan selalu bersikap berhati-hati terhadap cinta.
Dari sang narator di film ini, timeline yang digunakan adalah sekitar tahun 1997 saat kematian Putri Diana, yang perlahan membawa kita berfokus pada hidup Amelie yang selalu mendahulukan kebahagian orang lain, seperti ketika Amelie menemukan box kaleng yang sudah berusia 40 tahun yang berisi barang berharga masa kecil milik seorang lelaki, yang kemudian berusaha ia cari keberadaan nya dan mengembalikan box berharga itu.


Pertama kali melihat ekspresi pria tersebut ketika mendapati box dari masa kecil nya, Amelie mendapat kepuasan dalam membantu orang lain.
Maka dimulai lah tekad nya satu persatu membantu teman teman dan tetangga nya melalui serangkaian tindakan yang pintar dan secara sembunyi, seperti membantu orang buta menyebrang dan menjelaskan secara rinci segala sesuatu yang mereka lewati ketika berjalan, membuat rekaman video tour de France untuk pria tua, tetangga nya, yang tidak pernah keluar apartemen. Atau menjadi mak comblang untuk rekan kerja di cafe tempat mereka bekerja.

Still, shy Amelie never does anything to make herself happy, and dines at home, alone, night after night.

Kemudian, actually, Amelie bertemu dengan soul mate nya dalam diri Nino Quimcampoix ( Mathieu Kassovitz ), seorang kasir part time di sebuah sex shop dan juga bekerja di taman bermain. Kebiasaan unik Nino yang suka membuat scrapbooks dari foto foto orang yang tercecer atau dibuang dari sebuah photobox di stasiun kereta, menarik perhatian Amelie. Satu kejadian membuat mereka saling mengenal, atau lebih tepatnya membuat Nino bertanya tanya dan penasaran tentang gadis yang memberikan banyak clue clue dan teka teki, hanya untuk bisa mengenal dirinya.
Nino is Amélie's kind of guy, though she's too shy to say hello. 


Amelie is fun, enterteining and charming drama, dengan elemen komedi yang unik serta quirky .Dengan cerita yang bagus di tangan nya, Jean-Pierre Jeunet membuat film ini cukup eksentrik sesuai dengan jalan cerita nya sendiri. Film ini  juga agak membuat saya teringat dengan Wes Anderson, karena fakta film ini juga memliki karakter yang bervariasi, cerita yang aneh dengan gaya yang unik serta quirky. Ini adalah sebuah pencapaian yang bagus dari Jeunet, salah satu film yang menawarkan cerita yang bagus dengan setting yang indah serta performa yang baik dari deretan cast nya.
Untuk sebuah drama komedi romantis, Amelie berhasil menjadi film yang menarik perhatian dari awal sampai akhir. Saya harus mengakui, awal nya tidak terlalu berharap banyak dari film ini ( silly me, bahkan pertama kali tau Amelie, melihat poster film nya, saya malah mengira ini film horror, karena gambar wajah Amelie yang disorot dengan tidak biasa *uhuk ).
Dan seperti diduga, saya cukup senang dan surprise akan betapa bagus nya film ini, dan betapa mood saya yang menjadi senang ketika selesai menonton film ini.

Jeunet dan cinematographer, Bruno Delbonnel dengan sangat lugas dan pintar, membawa kita berputar putar mengelilngi kota paris yang mempesona, dari Montmarte  ke NotreDame , sangat sulit untuk tidak jatuh ke dalam mantra "Amelie".
Audrey Tautou akan selalu diingat sebagai Amelie, bahkan Amelie sudah menjadi ikon dirinya di dunia perfilman. Mata belo dan senyum mengembang yang dimiliki nya membawa kita ikut terhipnotis ke dalam dunia Amelie dan bagaimana ia menjalani misi nya dalam membahagiakan orang lain.
She's a perfect in the lead role. Dia bisa memberikan pesona unik ke dalam performa nya yang semakin memberikan film ini 'roh' dan semakin charming.


Kepada siapa saja yang menginginkan sebuah drama dan komedi, yang berisikan jalan cerita dan cerita yang bagus, well...then, this is a must see film.
Film ini charming dan bisa memuaskan siapa saja yang mencari film bagus tapi beda dengan jenis jenis romantic comedi mainstream yang ada sekarang. Amelie memiliki pesona yang menjadi  kunci yang membuat film ini berharga untuk menonton. Akting dan cerita yang berjalan beriringan, menjadi sesuatu yang berbeda, Amelie mungkin bahwa film yang Anda cari.
Ini adalah film yang worth seeing, dan salah satu film yang melebihi harapan,  and like I said, I expected to be disappointed, but I walked away enjoying it.

Amelie is as deliciously romantic. ;)