Tuesday, July 28, 2015

The Newsroom ( HBO TV Series 2012 - 2014 )

The Newsroom
Cast : Jeff Daniels, Emily Mortimer, Sam Waterston, Olivia Munn, Thomas Sadoski
Creator : Aaron Sorkin


Sebagai pemerhati berita di tanah air, saya cukup rajin dan rutin mengikuti semua berita baik di televisi, media cetak atau media online, sehingga ditengah gempuran media di era modern ini, kadang saya sering mempertanyakan cara kerja dan kredibiltas yang disandang oleh mereka yang bekerja di balik layar semua berita yang kita tahu saat ini, yang kita tonton kemudian kita bagikan kepada orang lain.

The Newsroom, dengan sang creator Aaron Sorkin, salah satu scriptwriter terhebat yang pernah dimiliki Hollywood, memberikan apa yang mungkin saat ini bisa kita pertanyakan ke semua media berita yang ada, mengenai kredibilitas berita dan semua crew di belakang nya.

Hal pertama yang harus saya singgung mengenai The Newsroom adalah serial ini sama sekali tidak malu menampilkan pemikiran idealis mereka. The Newsroom diisi oleh para jurnalis yang sangat bergairah dengan profesi mereka, yang sangat menghargai kebenaran dan fakta diatas hal hal sepele ( bagi mereka ) seperti rating atau urusan iklan dan sponsor. Dan seperti yang sudah menjadi ciri khas dari karakter karakter rekaan Aaron Sorkin, aksi aksi para karakter serial ini terpusat pada lingkungan dengan tekanan kerja yang tinggi, dimana sebuah tim yang diisi oleh banyak para workaholic yang cerdas yang sering berpidato dengan berapi api.


Pusat dari segala pertunjukan idealis ini sendiri adalah Will McAvoy ( Jeff Daniels ), seorang news anchor yang penggerutu, yang populer karena tidak pernah menggangu pihak manapun, terutama dalam politik. Will pernah percaya jika sebuah berita harus diisi dengan nilai nilai yang berguna dan informatif, tapi dia sendiri sudah mengalami koma dalam pemikiran idealis nya sendiri selama beberapa tahun belakangan.
Semua ini berubah dalam sebuah tayangan debat dimana ia menjadi salah satu pembicara. Ia didesak untuk menjawab kenapa Amerika merupakan negara terhebat di dunia. Saat itu Will seperti dicambuk dari kesadaran nya dan justru melepaskan omelan jujur yang keras mengenai kegagalan Amerika.
" It's not the greatest country in the world !!" bentak Will kepada seluruh audiens yang hadir disitu, setelah sebelumnya memberikan monolog yang memukau kepada mereka.

Dan semuanya dimulai dari sini.

Sekembali nya Will ke kantor setelah liburan pasca insiden debat itu, ia menemukan jika kantor nya kosong, sebagian besar staff nya berhenti dan mantan pacar nya yang pernah mencampakkan nya 3 tahun lalu, Mackenzie McHale ( Emily Mortimer ), telah dipekerjakan oleh Charlie Skinner ( Sam Waterston ), yang merupakan presiden direktur divisi berita dari ACN ( Atlantic Cable News ) sebagai Executive Producer yang baru. 

Mac kecewa melihat Will yang sekarang terobsesi dengan rating dan ingin disukai publik, dia berteriak kepada Will " kau begitu takut akan potensi kehilangan penonton, dan kau akan melakukan apapun untuk menarik mereka kembali. Kau hanya berjarak selangkah lagi dari akan menyajikan berita dalam bentuk 3D !! "
Setelah cukup lama bertengkar, adu argumen, saling memaki, saling mengejek ( yang btw is very very hilarious, at least for me XD ), akhirnya kedua nya setuju untuk membuat program berita yang pernah mereka impikan dulu, sebuah berita yang tidak hanya memberikan apa yang diinginkan penonton, tapi juga memberikan apa yang belum diketahui penonton, terutama di ranah politik yang sebelumnya tidak berani disentuh oleh Will.





The Newsroom berada pada panggung terbaik nya ketika mereka menyajikan cara kerja di belakang layar, bagaimana mereka merangkai fondasi sebuah berita menjadi satu bagian yang utuh di layar kaca. Para kritikus banyak yang komplain mengatakan jika di dunia nyata, para jurnalis jurnalis ini tidak berbicara seperti karakter karakter Sorkin ini atau seidealis mereka.
Ketika Mac dan team nya sedang mengerjakan suatu berita, hasilnya sungguh sangat energetik dan menarik. Skenario dari Sorkin, meanwhile..remain the sharpest and wittiest on TV, you will amaze.
Dialog dialog cepat yang menarik, perdebatan yang serius tapi mengundang senyum, lelucon sinis dan sarkatis, adalah setengah bagian dari apa yang membuat The Newsroom begitu mempesona bagi saya. Setengah nya lagi adalah para karakter nya dan akting mereka yang berhasil menghidupkan setiap bagian cerita.

Jeff Daniels is excellent and outstanding as the gruff grumpy anchorman. Sam Waterston sangat menawan, lucu dan loveable sebagai Charlie Skinner, boss Will yang sangat suportif, memakai dasi kupu kupu dan sangat antusias dan sayang kepada segenap crew nya.
" I will bet the shit out of you ! i don't care how many protein bars you eat !!" teriak Charlie yang pura pura marah kepada Don ( Thomas Sadoski ) yang sedang berdebat dengan Will. Don Keefer adalah Executive Producer Will sebelum diganti oleh Mackenzie, yang keluar dari tim Will setelah tidak tahan dengan cara kerja Will.
Emily Mortimer yang menjadikan karakter Mackenzie yang mustahil untuk tidak disukai dengan rentetan dialog nya yang sinis dan sarkatis serta dedikasi nya terhadap crew nya, atau Olivia Munn sebagai Sloan Sabbith yang socially awkward, pakar ekonomi lulusan ivy league yang cantik dan seksi yang sering dianggap tidak serius atau kompeten karena tampilan nya yang lebih mirip model daripada George Bernard Shaw.
I seriously in love with these characters !!


Sorkin tidak menargetkan The Newsroom menjadi sebuah show yang realis seperti film dokumenter. The Newsroom adalah wujud romantis dari Aaron Sorkin terhadap dunia berita. Well, still, tiap episode nya dibangun dari even even nyata dalam sejarah, seperti meledak nya kilang minyak di teluk meksiko, kematian Osama Bin Laden, tertembak nya anggota kongres Gabrielle Giffords di keramaian, hingga menyentil soal politik tentang pihak Demokrat, Republik, Liberal, hingga meledek habis habisan gerakan tea party di Amerika. 

The Newsroom tidak sepenuh nya menemui gejolak berarti dalam langkah mereka mengubah konsep berita mereka, hingga di musim kedua. Di season kedua dan ketiga mereka lebih cermat dalam pendekatan yang umum dalam sebuah serial, dimana tertata nya berbagai momentum untuk sebuah keutuhan cerita, ketika mereka sedang menginvestigasi kasus yang berhubungan dengan operasi militer rahasia atau di musim ketiga dimana mereka berurusan dengan dokumen dokumen rahasia curian.


Admittedly, The Newsroom can be manipulative – one journalistic victory is accompanied by Coldplay’s Fix You – but it’s also uplifting, a rare quality these days, with most shows fixated on the darker side of human behaviour.

As McHale says during one of her aspirational speeches: “Being a cynic is easy.”

***

The Newsroom ( TV Series 2012 - 2014 )
by Aaron Sorkin


Sunday, July 26, 2015

Sokola Rimba ( 2013 )

Sokola Rimba
 Pemain : Prisia Nasution, Nyungsang Bungo, Rukman Rosadi, Nadhira Suryadi, Nengkabau Sunting
 Sutradara : Riri Riza

***

Guru Butet ( Prisia Nasution ) berbekal ransel gunung, celana cargo dan kemeja flanel nya mengendari motor selama 3 jam di jalanan yang tidak rata, berdebu dan tidak beraspal, kemudian menyembunyikan motor tersebut di tengah hutan dan menutupi nya dengan ranting dedaunan, dan melanjutkan perjalanan nya masuk ke tengah hutan dengan jalan kaki selama berjam jam.
Tidak, ia tidak sedang camping atau menjelajahi hutan demi kepuasan pribadi. Ia masuk ke dalam hutan, terpencil di dalam peta, sangat jauh dari pusat kota, hingga kadang membuat kita takjub mengetahui ada sekelompok masyarakat yang hidup di dalamnya.

Mereka lah yang dikenal sebagai orang rimba.
Yang menjalani kehidupan entah sudah beberapa keturunan dengan menggantungkan hidup pada alam dan segala sumber nya secara sederhana. Yang tak tersentuh kehidupan modern, tanpa kendaraan, tanpa listrik, tanpa teknologi dan tanpa pendidikan. 
mereka mencoba bertahan meski tanah tempat mereka berdiam tak serimbun dulu. Binatang buruan semakin langka akibat illegal logging. Orang-orang Rimba hanya bisa menatap ketika satu per satu pohon madu raksasa yang selama ini mereka keramatkan roboh dihajar gergaji mesin.

Pendidikan bukanlah prioritas utama bagi orang rimba. Pendidikan bahkan dianggap sebagai kutukan yang membawa penyakit atau membuat anak anak mereka pergi menjauh dan tidak kembali. Dan itu sangat dijauhi oleh orang rimba sama seperti mereka sangat menjauhi dan mencurigai orang asing.
Bagaimana jika pendidikan yang dianggap tabu tersebut dibawa masuk oleh orang asing ?



Perjuangan guru Butet membawa pendidikan ke dalam rimba bukanlah hal yang mudah. Karena sifat orang Rimba yang tidak mudah menerima apapun diluar komunitas dan kebiasaan mereka, mustahil bagi guru Butet untuk masuk ke dalam satu kelompok begitu saja dan langsung membuat sebuah sekolah instan. Guru Butet harus memulai semua itu dari nol, seperti dengan sabar meminta izin kepada ketua suku sampai diizinkan masuk, belajar berbaur dengan mereka yang memandang nya dengan penuh kecurigaan, mempelajari bahasa dan kebiasaan mereka, hingga akhirnya bisa mengajak beberapa anak untuk belajar. 

Nyungsang Bungo adalah seorang remaja cerdas dan serius ingin belajar. Ia awalnya membuntuti guru Butet sambil membawa bawa map coklat yang digulung, diam diam memperhatikan Butet mengajar di daerah hulu sungai, hingga akhirnya Butet penasaran dan mencari keberadaan Bungo, anak rimba yang tinggal di hilir sungai Makekal. Upaya Butet yang mencari Bungo dan memasuki komunitas orang orang rimba di hilir memicu masalah, tidak hanya ia berhadapan dengan sikap sinis orang rimba di hilir yang menentang kehadiran nya, hal itu juga memanaskan hubungan Butet denngan atasan nya di LSM  yang menaungi nya.

Terusirnya Butet dari suku di hilir sungai tidak bisa diterima oleh Bungo. Dengan pensil dan buku di tangan, Ia lari dari rombongan nya dan berusaha mencari keberadaan guru Butet. Tekad Bungo untuk belajar ditentang oleh hukum adat dan orang tua nya.
Butet sadar dilema dalam diri Bungo yang terlanjur mencintai sokola, tapi juga terlahir untuk mencintai adat, kaum, dan tanah pusakanya.


Saya salut dengan segenap pemain dan kru di film ini. Semua nya tersaji apik, mulai dari kondisi hutan orang rimba yang alami hingga daerah yang dikepung oleh perluasan kebun kelapa sawit, gelondongan kayu illegal logging dimana mana, transaksi ekonomi di pasar yang kerap menipu orang-orang rimba, hingga Prisia Nasution yang begitu fasih nya menggunakan bahasa lokal orang orang rimba, berpenampilan sederhana dan sangat jauh dari image "kota".

Di sepanjang film, kita disuguhkan berbagai macam shot-shot yang vibrant dan dinamis dengan warna warna  yang eye candy nan stylish yang berhasil membuat saya terpana dan susah mengalihkan pandangan dari latar yang cantik dan indah, seiiring dengan adegan yang sedang berjalan. Mata saya dimanjakan secara habis-habisan oleh panorama hutan yang dihadirkan oleh Sokola Rimba.

Akting Prisia Nasution sebagai Butet juga cemerlang dan benar benar realistis dan believable. Ia berhasil membawa karakter Butet yang bersahaja namun berbekas mendalam di hati penonton. Ada tiga adegan yang sangat berkesan buat saya, yang pertama ketika Butet menemani Bungo untuk pertama kali nya membaca kertas di map coklat yang selalu dibawa nya itu, yang ternyata adalah surat perjanjian perluasan hutan yang di cap jempol oleh ketua adat mereka tanpa tau apa yang tertulis di dalam nya, diam diam Butet menangis terharu melihat Bungo yang perlahan membaca nya.

Yang kedua adalah ketika beberapa anak rimba yang mengejar bus yang dinaiki Butet, dan dengan mata berkaca kaca menoleh keluar seakan ingin turun di tengah bus yang berjalan cepat. Kita bisa melihat gejolak emosi yang begitu besar di dalam diri nya.  Dan saat Butet kembali masuk ke dalam hutan dan melihat Bungo yang membantu para tetua nya membaca surat pernjanjian yang disodorkan kepada mereka. 
Adegan ini seperti merangkum semua keinginan, harapan dan tujuan mulia dari Butet, yaitu mengajar anak anak rimba untuk membela diri, mengetahui hak hak mereka sehingga tidak mudah dibodohi oleh pihak pihak lain yang menganggap mereka terbelakang.

Sokola Rimba adalah sebuah kejutan besar yang menyenangkan dan membuat saya terharu. Riri Riza berhasil memasukkan berbagai macam pesan moral dan pesan edukasi yang berhasil membuka hati tentang anak anak rimba yang juga memiliki kecerdasan dan ketekukan yang luar biasa dan tidak kalah dari anak anak kota jika mereka diberikan pendidikan yang setara. Riri Riza juga berhasil membuat sebuah film dengan character development yang sangat jelas, kuat dengan akting yang mengagumkan. Kredit khusus juga harus diberikan kepada seluruh orang orang rimba di film ini, terutama Nyungsang Buno serta anak anak rimba lain nya yang berada di sisi Butet sepanjang film.

Sokola Rimba adalah pencapaian yang luar biasa untuk perfilman Indonesia, serta salah satu film yang patut dibanggakan oleh siapa saja.

****

Sokola Rimba ( 2013 )
oleh Riri Riza & Mira Lesmana, berdasarkan pengalaman hebat dari Butet Manurung.


Friday, July 24, 2015

The Ides of March ( 2011 )

The Ides of March
Cast : Ryan Gosling, George Clooney, Phillip Seymour Hoffman, Paul Giamatti, Marisa Tomei
Writer : George Clooeny
Director : George Clooney

***





















Gubernur Mike Morris ( George Clooney ), adalah seorang politikus yang sangat berkharisma. Dia pintar, cerdas, dan sangat yakin jika partai Demokrat akan memilih nya sebagi kandidat utama untuk pemilihan presiden Amerika, Tak lupa juga, kepercayaan diri nya juga karena mempunyai seorang pakar strategi sekaligus manajer kampanye yang sama cerdasnya, Paul ( Phillip Seymour Hoffman ).

Sehingga tidak heran jika Stephen Myers ( Ryan Gosling ), asisten paul sekaligus juru bicara Morris mendukung nya sepenuh hati dengan segala kenaifan nya di dunia politik. Myers telah bekerja lama di dunia politik, terutama untuk masa kampanye seorang poiltikus, tapi di dunia politik yang penuh kompromi dan prinsip berkompromi, Myers memilih bersama dengan seorang kandidat yang ia percaya sebagai "real deal". 


The Ides Of March dimulai ketika beberapa hari menjelang pre-election yang sangat penting di Ohio, dimana Morris dihadapkan pada saingan nya yang lebih moderat, senator Pullman ( Michael Mantell ). Morris sebenarnya sudah unggul di polling sementara, tapi Pullman, didukung oleh kaum Republik dan Independen, yang juga ikut memilih dalam pre-election tersebut. Morris pun mulai menggalang kekuatan dari sumber lain nya, termasuk berusaha mendapatkan endorsment dari pihak pihak yang berpengaruh di Ohio.

Myers sendiri, antara dijebak atau karena memang naif, menerima ajakan bertemu dengan pakar strategi dari kubu Pullman yang licik ( Paul Giamatti ) untuk merundingkan beberapa hal, yang nanti nya menentukan arah film ini. Tanpa membeberkan detail detail tertentu, Myers mulai mempertanyakan kesetiaan nya sendiri ke kampanye Morris, dan mengetahui jika kandidat pilihan nya bukanlah politikus penyelamat yang ia harapkan.





Awalnya, The Ides of March membuat saya sedikit khawatir. Hampir separuh awal film berjalan lambat dan tidak benar benar menaikkan level jalan cerita ke sebuah thriller politik yang menarik. Then the seceond half come back with a vengeance. !
Disinilah kesebaran kita diuji, sama seperti Stephen yang diuji kesetiaan nya seperti langkah langkah strategis yang dimainkan dan digerakkan sana sini di sebuah papan catur.

Film ini tidak segelap atau sangat menegangkan seperti film film dengan genre sejenis. Mengingat judul nya sendiri diambil dari quote Shakespeare di cerita Julius Caesar yang berakhir tragis, membuat kita menebak nebak apakah akhir film ini juga akan berakhir seperti itu. well..sebenarnya ini lebih ke pembunuhan karakter, yang menunjukkan jika sebuah informasi bisa menjadi kekuatan yang paling kuat ketika kau sedang mencoba mendapatkan apa yang kau ingin kan, terutama ketika informasi yang kau ketahui bisa menghancurkan karier seseorang selama sisa hidup mereka.


The Ides of March adalah film yang classy, cerdas, dibuat dengan penuh cinta, tapi juga sebuah hiburan yang serius yang dibuat oleh orang orang berbakat yang mempunyai niat yang baik. Terdapat salah satu aktor yang dicintai dan dihormati Hollywood, George Clooney, yang merangkap menjadi aktor dan sutradara, The Ides of March dibuat seperti sebuah drama panggung dengan tema klasik seperti idealisme, pengkhianatan, paham paham oportunis dan sinisme yang kuat. Ini adalah jenis film yang membuat kita senang karena ada.
Dan Clooney sendiri, yang cool, tenang, dan berkomitmen kuat, membuat nya menjadi seorang kandidat yang sempurna. Dia dan Gosling sangat cocok di film ini sebagai karakter yang mampu membuat orang menebak nebak akan perbuatan nya, smart, never-let-them-see-you-sweat-kinda thing, dan sangat bertolak belakang dengan peran Giamatti dan Hoffman yang gaya bicara yang antusias dan meledak ledak.

Ryan Gosling, yang sebelumnya mengejutkan publik dengan peran nya yang asing serta minimalist di Drive, memberikan performa lain yang sama bagus nya sebagai pria yang sangat ingin loyal kepada kandidat nya, pria yang ia pandang sebagai teman, tapi mendapati jika kesetiaan nya diuji ketika satu persatu kejadian terkelupas dari kulit nya. 


Paul Giamatti, yang sebelumnya saya pandang sebagai aktor yang sering bermain sebagai karakter yang down to earth, di film ini menjadi lumayan berbeda dari pada film film nya yang lain, and yet he's great at it all the same. Giamatti sendiri sebenarnya tidak terlalu sering muncul, tapi untuk beberapa scene yang melibatkan dirinya, ia memberikan dampak yang besar, terutama di dalam final scene nya bersama Ryan Gosling.
Phillip Seymour Hoffman juga memberikan performa yang hebat di beberapa scene, terutama di sebuah scene ketika ia menguliahi Gosling tentang kesetiaan.

The Ides of March adalah sebuah film serius tapi menarik, dan juga mengungkapkan Clooney sebagai seorang sutradara yang mampu merekatkan akting hebat pemain lain nya menjadi sebuah ensemble yang luar.

****

The Ides of March ( 2011 )
A film by George Clooney

Monday, July 20, 2015

Pitch Perfect ( 2012 )

Pitch Perfect
Cast : Anna Kendrick, Brittany Snow, Rebel Wilson, Anna Camp
Writer ; Kay Cannon
Director : Jason Moore

*****

Menonton Pitch Perfect membuat saya langsung menghubungkan nya dengan Glee, dengan sedikit sentuhan Bridesmaid.
Pitch Perfect memiliki beberapa kesamaan dengan Bridesmaid. For start, it's a comedy, yang mempunyai deretan cast yang didominasi oleh perempuan, dan kedua, yang paling penting adalah sama seperti Bridesmaid nya Paul Feig di tahun 2011, Pitch Perfect is really very funny. 

Pitch Perfect menempatkan posisi mereka dalam kontes menyanyi a cappella yang begitu kompetitif. well.., you know how these things go. Anna Kendrick menjadi seorang remaja yang seharusnya memberontak ( well..tindikan anting di telinga nya saja lebih dari satu ), yang tiba di universitas dengan rencana untuk tidak berteman dengan siapapun dan menghadiri beberapa kelas saja.

Memiliki Anna Kendrick sebagai 'pemimpin pasukan',  Kendrick melepaskan reputasi gadis manis berambisi nya di Up In The Air untuk menjadi Becca, si gadis kota yang memakai banyak eyeliner dan headphone DJ yang selalu melekat di kepalanya, dan lebih menyukai membuat mashups di laptop nya dan bekerja di stasiun radio daripada benar benar berpartisipasi di kegiatan sosial kampus. Tapi berkat ultimatum dan iming iming dari ayah nya, ia tetap melanjutkan kuliah nya dan berkat dorongan antusias dari Chloe ( Brittany Snow ), akhirnya Becca bergabung dengan The Bellas, kelompok vokal acappella, yang tahun sebelumnya menjadi pecundang besar di kejuaraan nasional karena insiden dari Aubrey ( Anna Camp ), yang juga sebagai leader dari The Bellas, yang mengatur grup nya dengan tangan besi.


The Bellas yang akhirnya pulih secara mental dari insiden tersebut kemudian bertekad untuk memperbaiki diri di tahun yang baru dengan menggelar audisi ( a terrific montage of people singing Kelly Clarkson's "Since U Been Gone" :p ).
Dari audisi tersebut mereka memiliki crew baru termasuk Becca, Fat Amy ( Rebel Wilson ), dan beberapa gadis lain nya, yang btw, sebenarnya tidak sesuai dengan standar Audrey akan sorority girl.

Jason Moore menangani debut film pertama nya ini dengan sangat baik, very well. Ia berhasil mengatur fokus film ini, dengan tema accapella yang beresiko menjadi antara the blessing or the curse, ia mampu menjaga keseimbangan nya dengan komedi drama dengan banyak hal yang juga terjadi tanpa kebingungan, dan hasilnya Pitch Perfect cepat berkembang menjadi sebuah drama komedi musikal yang sangat menarik, dan tentu saja, really very funy. Dan ketika Pitch Perfect mulai melaju, tidak ada yang bisa menghentikan nya. Dengan script dari Kay Cannon yang menyelipkan satu persatu lagu populer di film ini, dan deretan cast bintang muda, mampu membawa film ini dengan segala emo dan bitchiness nya. Its all like Mean Girls and Clueless all over again, Pitch Perfect mengambil dan mengerjakan apa yang awal nya cerita yang terbatas menjadi sangat hilarious sampai kita tidak bisa menolak nya. 

Ketika menulis ini, saya sampai tertawa sendiri mengingat banyak nya joke joke lucu, many great lines, dan quote quote yang aneh, terutama dari Rebel Wilson yang menjadi Fat Amy, yang merujuk teman se tim nya sebagai " twiggy bitches ", atau seperti dialog Amy dengan teman nya, " why you calling yourself Fat Amy?", dan dijawab Fat Amy dengan wajah yang polos tapi menyebalkan, " so you bitches don't need to call it behind my back ". haha.. I bet Everyone will be talking about Wilson after seeing this, and it's well-deserved, she steals scenes shamelessly.


Untuk unsur musikal nya sendiri, ...it's work well, sangat bagus malah. khususnya ketika Beca akhirnya diperbolehkan untuk mencampur mashup nya dan bakatnya sebagai DJ yang meracik lagu dan dipergunakan The Bellas.
The scenes are nicely choreographed and manage not to forget about the characters in them while the singing and dancing is going on. hihi..

Walau Pitch Perfect banyak dihiasi deretan aktris, fokus kedua setelah accapella nya sendiri ternyat bukan lah tentang hubungan mereka dengan para pria, tapi lebih ke berfokus pada kompetisi dan hubungan persahabatan. Yang juga menyenangkan dari film ini adalah mereka berbeda, dan tidak memunculkan standar remaja hollywood pada kehidupan kampus yang kita familiar selama ini yang sering berisi pesta demi pesta, sorority house, make up, parade wanita cantik, saling bully dan mengejek. 
Ending dari script nya sendiri bisa mudah kita tebak, tapi selama proses nya itu, terdapat banyak surprise lucu yang disampaikan dengan kalimat kalimat yang cerdas, witty, dan lancang , yang bisa membuat kita terbahak bahak.

I need help, I think I’m turning into a teenage girl! First, last year I enjoyed  The Perks of being Wallflower,  and now I’ve warmed to the a cappella charms of Pitch Perfect. hahaha..












Wednesday, July 1, 2015

Orange Is The New Black ( TV Series 2013 - )

Cast : Taylor Schilling, Laura Prepon, Uzo Aduba, Jasson Biggs
Creator : Jenji Kohan

******

Orange Is The New Black adalah serial ketiga dari Netflix yang saya tonton tahun ini menyusul House of Cards dan Marvel's Daredevil. Jika HBO saat ini sedang booming dengan Game of Thrones dan True Detective, maka Netflix juga mempunyai jagoan sendiri, salah satu nya Orange Is The New Black, yang merupakan salah satu serial TV dengan konten yang sangat eksplisit di unsur LGBT nya, dan selain itu memiliki pesona tersendiri dengan skenario yang kuat dan akting para pemain nya yang memukau.

Mengambil latar Penjara wanita Litchfield di pinggiran kota New York, Orange Is The New Black berpusat pada Piper Chapman ( Taylor Schilling ), wanita berkulit putih, berambut pirang, yang sukses dan sedang berbahagia dengan tunangan baru nya, Larry ( Jasson Biggs ). Kekhawatiran terbesar nya saat itu adalah usaha nya untuk meluncurkan produk sabun alami bersama sahabat nya, Polly. That is.., sampai masa lalu nya tiba tiba muncul menghadang nya.
Di umur Piper yang masih 20an, Piper yang masih muda dan liar, menjalin menjalin hubungan kekasih dengan seorang wanita yang merupakan pengedar narkotik, yang bekerja untuk kartel narkotik internasional, Alex Vause ( Laura Prepon ) dan membantu Alex membawa uang narkotika tersebut di berbagai negara.
Piper yang telah melupakan masa lalu nya tersebut, tiba tiba mendapati jika tindakan nya di masa lalu tersebut kembali 'mengigit' nya dengan spektakuler ketika ia disebut sebut terlibat dalam pengadilan di kasus Alex, dan kemudian ia pun divonis 15 bulan penjara.


Dengan cepat, Piper mendapati dirinya berada di balik jeruji besi dan dipaksa untuk berhadapan dengan kerumitan kerumitan masalah di penjara, mulai dari urusan politik nya, krisis identitas, bully, tahanan yang gila, sipir yang seperti predator seksual,  dan perasaan nya sendiri terhadap Alex, yang by the way, ternyata juga berada di penjara yang sama.

Walau Piper didaulat sebagai karakter utama di seri ini, Orange Is The New Black is really all about its ensemble. Walau para tahanan ini merupakan pelaku kriminal, tapi mereka memiliki cerita nya masing masing, dan inilah yang di eksplore oleh Jenji Kohan di tiap episode nya. Sangat sulit ( bahkan sia sia ), jika diminta untuk memilih karakter terbaik dari para tahanan wanita yang kaya cerita ini, tapi Suzanne "crazy eyes" Warren ( performa yang sangat brilian dari Uzo Aduba ), mungkin merupakan salah satu karakter yang paling menarik di televisi saat ini, dan ada Nicky Nichols yang mempunyai masalah serius dengan orang tua nya, dan ia berpaling pada narkoba. Nicky mencoba untuk bertahan dengan situasinya sebaik mungkin di bawah perlindungan Red, wanita rusia berambut merah, yang menginginkan hal yang lebih di hidupnya selain memasak dan membersihkan rumah sebagai seorang istri dengan 3 putra. Tidak ada yang berani berurusan dengan nya, tapi Red juga manusia dan punya sisi lemah. Atau Tiffany Dogget yang super religius dan menganggap dirinya adalah orang terpilih dan berusaha "menyadarkan" semua orang.



Kemudian kita diajak berkenalan dengan kelompok wanita latin, all these wonderfull and hilarious chickas, Maria, Maritza, Flaca-ca yang memiliki porsi menarik tersendiri di penjara Litcfield. Berbicara cepat dengan bahasa spanyol, wajah mereka yang eksotis dan memiliki daya tarik tersendiri, dan tak luput dari masalah.
Kemudian ada Jones yang mengajar yoga dan menjadikan ajaran Budha sebagai pelindung nya, mantan biarawati sekaligus aktivis, sister Jane Ingals, yang dipenjara karena aksi aksi demo yang dibuat nya, Mrs. Claudette yang perfeksionis dan getir, atau Morello yang ceria dan tidak terlihat seperti wanita muda bermasalah.  Poussey dan Taystee are the best gals, they're the best duo on the show. Chemistry yang mereka miliki sebagai sahabat, sikap mereka dan cerita mereka, dan lelucon lelucon kasar dan jenaka yang mereka miliki is just unbreakable and genius. 

Performa dari semua karakter nya sangat membekas serta memberikan kontribusi yang besar untuk serial ini sendiri. Mulai dari para tahanan, karakter di dunia luar, atau bahkan para petugas dan sipir sipir di penjara ini. Seperti "pornstache' Mendez, yang diperankan Pablo Screiber, sangat bagus disini, dari kelakukan nya yang jahat, galak dan mesum. 


Untuk karakter Piper sendiri, Taylor Schilling is a very terrific lead. Ia berhasil menjual kenaifan Piper, dan keluguan nya, hingga usaha nya yang akhirnya membuat nya bisa menerima dirinya sebagai bagian dari para tahanan di Litchfield.
Hari hari Piper sering berakhir dengan penuh emosi, dan dia selalu terlihat seperti membutuhkan banyak tindakan dan usaha supaya ia bisa bertahan untuk hari esok. Piper is smart and intelligent, dan itu semua sudah merupakan tantangan untuk nya di Litchfield, selain karena ia berkulit putih, pemalu, itu semua tidak menolong nya. Para tahanan dan sistem yang ada sangat memperlakukan nya dengan keras dan spontan, terutama perlakuan yang ia terima dari sesama tahanan. Tapi pada akhirnya, ia menyadari jika masalah terbesar nya adalah cara nya beradaptasi dengan diri nya yang sebenarnya di Litchfield.

Di tiap episode nya, kita mulai mengenal orang orang di penjara ini. Kadang ada yang hanya karakter sesaat, tapi cukup signifikan, dan kadang beberapa karakter hanya diberikan dua scene dengan beberapa kalimat. Dan ketika cerita berjalan, ( hingga season 3 ini ), karakter karakter yang dominan di awal cerita, seperti Larry dan Polly, dengan cepat menjadi alien yang asing yang menyebalkan, tidak hanya untuk Piper, tapi juga untuk kita. 

Kemudian yang menjadi salah satu daya tarik serial ini adalah hubungan Piper dan Alex. Hubungan yang mereka jalani seperti rollercoaster, penulis skenario serial ini memberikan porsi cerita tentang hubungan mereka ini cukup stabil dan teratur dalam membangun konflik nya. Mereka memberikan kita cukup misteri misteri yang malah semakin membuat kita merasa terkoneksi dan akrab dengan Piper dan Alex dan masa lalu mereka.

Kemudian di masa sekarang saat mereka kembali bertemu di Litchfield, cara mereka bereaksi satu sama lain dengan emosi yang kuat, dari ketika Piper yang sangat marah hingga bahkan tidak mau melihat wajah Alex, atau ketika Alex menutup diri nya dan menolak membicarakan Piper. Keduanya memperlihatkan sebuah hubungan dengan chemistry yang sangat kuat, dan kita bisa melihat betapa mereka sangat berarti untuk satu sama lain. Dan tentu saja, daya tarik seksual antara keduanya membuat hubungan mereka semakin terasa irresistable and interesting. Hihihi..

Salah satu prestasi yang paling impresif dari sang creator, Jenji Kohan dengan serial ini adalah bagaimana dengan cepat nya ia membuat Litchfield seperti memiliki dunia tersendiri. Penjara adalah sebuah tempat yang berbeda, yang memiliki banyak aturan baik yang formal dari pemerintah, atau yang tidak formal antara sesama tahanan. Sebuah tempat dimana satu kalimat yang menyinggung perasaan orang tertentu bisa membuat para staff dapur membuat para tahanan kelaparan, sebuah tempat dimana sikat gigi yang tajam dan obeng yang hilang akan dianggap sebagai senjata mematikan, sebuah tempat dimana hal yang simple dan remeh seperti permen karet bisa menjadi awal dari sebuah hubungan cinta.

It’s a fascinating, terrifying and absolutely thrilling world to be dropped into – both for Piper and for the audience.

Dan setelah menulis sebanyak ini, saya bahkan tidak merasa telah menulis 10% saja dari hal hal yang menarik yang bisa saya bahas dari serial ini.
Orange Is the New Black is good because it's well written, it is defying, and intelligent. Serial ini bagus karena konsisten, dan bagian dari konsisten tersebut diikuti oleh performa yang sangat baik dari para pemainnya.

*****

“I’ve been starved out, felted up, teased, stalked, threatened and called Taylor Swift.” 
- Piper Chapman.