Wednesday, October 28, 2015

The Overnight ( 2015 )

Cast : Jason Schwartzman, Taylor Schilling, Adam Scott, Judith Godreche
Writer : Patrick Brice
Director : Patrick Brice

****






Pasangan muda, Alex ( Adam Scott ) dan Emily ( Taylor Schilling ) baru saja pindah dari Seattle ke Los Angeles dan sedang berusaha mencari teman baru. Kesempatan itu datang ketika mereka sedang menemani anak lelaki mereka yang berusia 5 tahun bermain di taman, dan mereka dihampiri oleh Kurt ( Jason Schwartzman ), ayah dari anak lelaki lainnya. Kurt yang bersikap sangat ramah, memuji pilihan mereka yang pindah ke salah satu lingkungan keluarga yang paling baik di LA, dan mengundang mereka untuk datang ke rumah nya untuk makan malam.
Kurt tinggal di sebuah mansion megah yang stylish dengan anak dan istrinya yang orang perancis, Charlotte ( Judith Godreche ). Walau awalnya dijelaskan jika Kurt memiliki bisnis di bidang pengelolahan air, sumber kekayaan pasangan ini sangatlah tidak jelas awal nya. Apakah dari studio lukis Kurt yang berisi banyak lukisan ( lol) butthole akrilik berwarna warni, atau dari pekerjaan akting Charlotte dimana pasangan ini mengerjakan DVD demo breast pump ?

Ketika anak anak mulai tidur, malam kedua pasangan muda ini baru saja dimulai, dan sexual tension diantara mereka yang sejak semula melayang layang di udara mulai mengelilingi mereka. Sementara Emily yang semula merindukan
 kesenangan bersama teman wanita di Charlotte, malah mendapati dirinya dalam perasaan awkward dan mulai merasa nervous ketika atmosfir yang ada diantara mereka semua berubah dari yang awalnya menyenangkan, bersahabat, fun-loving menjadi terasa seperti saling menggoda dan seperti siap akan melakukan pesta swinger. Setelah itu semua menjadi semakin aneh dan aneh. LOL
Penulis sekaligus Sutradara film ini, Patrick Brice telah membuat sebuah alur cerita yang lucu, aneh dan sangat banyak lelucon seks serta dialog dialog awkward yang bisa membuat berubah suasana diantara mereka seketika. 
Schwartzman memainkan peran nya dengan sangat sempurna di film ini, menjadi Kurt, seorang pria penggoda yang ramah, aneh dan ini merupakan salah satu hal terlucu yang pernah ia lakukan. Taylor Schilling yang bersinar dengan Orange Is The New Black , di film ini menunjukkan jika ia tidak hanya ahli akting di bidang drama dan komedi, tapi juga bisa menggabungkan keduanya dengan semua sikap awkward dan canggung di dalam diri Emily, satu satunya karakter yang bisa mendeteksi dan merasakan jika malam mereka yang semakin berubah menjadi aneh.


The Overnight mengajak penonton untuk selalu menebak nebak apa yang akan terjadi dan sebenarnya siapa yang sedang menggoda, atau kenapa mereka saling menggoda satu sama lain, dan bagaimana malam tersebut akan berakhir. Komedi ini sukses mendapatkan klimaksnya sendiri yang sama sama mengairahkan dan membuat frustasi.

Tidak peduli seberapa aneh alur ceritanya, seluruh film ini dipegang penuh oleh akting ensemble 4 aktor berpengalaman ini. Scott, Schilling dan Schwartzman membawa dan membagi pengalaman akting mereka bersama Godreche, sehingga sama sekali tidak ada weak link diantara mereka. Film indie berbudget rendah ini sukses mendapatkan kritik positif pada penayangan nya di Sundance Film Festival. Syuting film ini sendiri hanya memakan waktu 2 minggu, dengan seluruh pakaian dll yang berasal dari milik 4 aktornya masing masing.
The Overnight is one of those cringe comedies that come to truth through awkward misunderstanding and outlandish behavior. The ensemble sets the gold standard for millennial comedy acting. For me, The Overnight is one of the best Indie of 2015.

****

The Overnight ( 2015 )
A film by Patrick Brice



Friday, October 23, 2015

La Sapienza ( 2015 )

Cast : Fabrizio Rongione, Christelle Prot, Arianna Nastro,  Ludovico Succio
Writer : Eugène Green
Director : Eugène Green

******



Berlatar Paris, Alexandre Schmidt ( Fabrizio Rongione ) , arsitektur kelahiran Swiss ini sedang berada di puncak karier nya. Istrinya, Alienor ( Christelle Prot ) yang seorang profesional di bidang sosiologi dan psikologi juga sudah memiliki karier yang mapan. Jelas terlihat ada sesuatu yang menganjal secara emosional diantara mereka berdua. Kedua nya sendiri terlihat asing terhadap satu sama lain, dan bahkan dari hidup mereka secara umum nya, dan kita merasakan semua ini dari shoot kamera director yang sering menyorot pada bagian kepala saja, seperti foto cropped yang ada di kartu ID atau paspor, pandangan mata yang asing, dan banyak jeda jeda yang disengaja dengan keheningan dengan menyorot objek tertentu.

Karena urusan pekerjaan, Alexandre melakukan perjalan ke Italy, dan Alienor memutuskan untuk ikut juga bersama nya. Setelah itu, filmnya sendiri bergeser bolak balik antara dua karakter ini . Sang arsitek dan istrinya, pernah mengalami tragedi yang telah meninggalkan mereka berdua terluka, merasa bersalah dan menjadi dingin satu sama lain. Berinteraksi dengan dua bersaudara Goffredo dan Lavinia, yang mereka jumpai secara tidak sengaja di kota Stresa, membuat mereka kembali bersemangat melalui perhatian dan bimbingan yang bisa mereka berikan kepada Goffredo dan Lavinia. Alienor tetap tinggal bersama Lavinia yang sedang menderita sakit gangguan saraf, sedangkan Alexandre, melanjutkan perjalan nya ke Turin bersama Goffredo, yang juga sedang belajar arsitektur.



Hasil dari perjalanan tersebut menggerakkan banyak hal dalam diri Alexandre dan Alienor, mengatasi beban emosional yang ada dalam diri mereka, dengan cara langsung yang tidak banyak kita temui di film lain. Anak anak, serta orang orang asing yang mereka jumpai di film ini, seperti menerangi realitas yang sulit yang selama mereka hindari, membantu mereka kembali pulih dari trauma masa lalu, dan menemukan kembali apa yang hilang dari hidup mereka. Dialog dialog aneh dan asing di telinga, sikap tubuh serta cara mereka berekspresi yang terasa tidak sinkron satu sama lain, secara perlahan mulai bisa dipahami, It’s like recitations of poetry or pieces of a dream. It's all about finding wisdom.

Untuk sang istri, Alienor, ia menceritakan kepada Lavinia tentang hal yang membuat pernikahan nya terasa kering dan tidak lagi hasrat di dalam nya. Untuk Alexandre, ia menceritakan kepada Goffredo tentang kisah hidup aristek legendaris Italia, Francesco Borromini yang penuh gejolak, yang dirasakan nya seperti cerminan hidupnya sendiri.

Alexandre menjelaskan kepada Goffredo tentang persaingan yang ketat dan intense antara Francesco Borromini dan Gian Lorenzo Bernini. Bernini, kata Alexandre sangat rasional, sementara Borromini terasa lebih mistis karena prinsip nya. Again, the man is telling his own story. “ I am Bernini “, kata Alexandre, walau jelas dia terlihat lebih ingin menjadi Borromini. . Dalam menyampaikan semua ini untuk Goffredo, ia tampaknya menghidupkan kembali gairah dan tekad yang selama telah tertutupi oleh kesulitan hidup dewasanya dan kepatuhan kepada sisi ortodoks modern yang memuja materialisme dan sekularisme.



Dari luar permukaan, La Sapienza, film dari sutradara sekaligus penulis naskah, Eugène Green, bertempo sangat lambat, asing dan terasa sangat aneh. 
But stick with it and it may win you over. Been there, done that. !

Gerakan gerakan lambat di film ini seperti mencerminkan keindahan arsitektur klasik Italia yang menakjubkan, dengan kubah yang indah dan tiang tiang berukir yang diresapi cahaya, dengan kedalaman serta kekayaan yang melampaui kata kata.
Setelah saya perhatikan, saya menyadari jika hampir semua shoot shoot pemandangan arsitektur bangunan di film ini selalu terlihat ke arah atas atau ke bagian atas. Hal ini membuat saya teringat dengan di salah satu percakapan Alexandre dengan Goffredo. "We encounter many obstacles that draw us back toward Earth, but inevitably we find ourselves moving upward again. Until, via an inescapable trajectory, we reach a source of light."

It's a hopeful message in what is ultimately a very hopeful film

***

la Sapienza ( 2015 )
un film di Eugène Green