Wednesday, May 4, 2016

Amy ( 2015 )

















By Asif Kapadia

*****
Amy Winehouse
 
Tidak banyak dari kita yang pernah menyaksikan sosoknya yang ceria dan penuh dengan kepercayaan diri, dan menemukan kegembiraan dari mendengar suara yang menjadi talenta nya. Hal hal yang ada dan eksis sebelum invasi yang brutal dari flash flash kamera para papparazi yang mengincar nya 24/7, dan pada akhirnya memadamkan api yang sebelumnya sangat terang menyala di dalam dirinya.

Apa yang kita tahu sekarang tentang Amy, adalah ingatan ingatan akan seorang penyanyi jazz yang muncul pada awalnya di tengah maraknya tema hip hop, reggae, girl-boy band group pop, yang ketika muncul, langsung membakar industri musik dimana mana, dengan album baru yang begitu sukses, “ Back To Black “ dan berhasil menjual 20 juta copy dan memenangkan 5 penghargaan Grammy Awards. 


Saat itu, suara khas nya yang unik membantu nya membentuk persona bad girl nya yang centil yang ada di dalam dirinya. Dan pada akhirnya, Amy terjatuh pada jalan klise dunia showbiz, meninggal di usia yang terlalu muda karena keracunan alkohol.
Amy bergabung dengan “Club 27”, dimana merujuk pada usia dimana banyak musisi legendaris dunia seperti Jimi Hendrix, Kurt Cobain, Jim Morrison atau Brian Jones juga meninggal di usia 27 tahun, yang sangat jauh dari usia “pensiun” para musisi.

Kapadia menjukkan kepada kita transformasi seorang Amy, gadis ceria dan bandel dari utara London ini menjadi seorang penyanyi Jazz and soul terbesar di era modern ini, yang siap menaklukan dunia dan menempatkan dirinya di panggung yang sama dengan penyanyi penyanyi jazz legendaris seperti Ella Fitzgerald, Thelonious Monk atau Tony Bennet.

Kapadia juga sangat keras menyorot sang ayah, Mitch Winehouse, yang telah menekan putrinya untuk bekerja sejak usia muda hingga sampai ia mencapai batas limitnya, atau sang ibu yang terlihat tidak terlalu memusingkan diri dengan diet ekstrim yang dilakukan putrinya sejak remaja. Kemudian juga kepada mantan suami Amy, Blake Fielder, yang mengenalkan Amy dengan heroin dan kokain dan mengeksploitasi nya habis habisan.

Kapadia tidak berlebihan memainkan victim card untuk Amy di film ini. Kapadia dengan bijak dan pintar menggunakan lagu lagu Amy sepanjang film, dan kadang dengan lirik liriknya yang muncul di layar, untuk lebih mewakili kisahnya sendiri. Dari nyanyian happy birthday nya kepada sang sahabat di sebuah footage yang tidak pernah dilihat sebelumnya ketika ia masih berusia 14 tahun, dan lagu yang menjadi hits nya sepanjang masa ( Rehab, Back to Black, Love is A Losing Game ) , hingga ke konser nya di Belgrade, seminggu sebelum ia meninggal, dimana Amy naik ke panggung dalam kondisi mabuk dan tidak menyanyikan satu lagu pun.

Footage dari Amy yang kesulitan menyanyi karena mabuk dan dalam pengaruh narkotika, adalah tragis untuk dilihat. Dipaksa untuk melaksanakan tur di eropa yang tidak diinginkan nya, dia menolak menyanyi di satu konser di Belgrade, dan jatuh beberapa kali di atas panggung. Mungkin salah satu bagian paling mengganggu dalam hidup Amy bagi saya adalah ketika saat dia begitu membutuhkan banyak cinta dan dukungan, tapi yang ada di sekitar nya adalah orang orang yang begitu peduli untuk menginvestasikan uang mereka kedalam ketenaran Amy, tapi hanya dengan sedikit kepedulian akan kesehatan fisik dan mental nya sendiri. 



Film ini juga menunjukkan sisi buruk dari media, khusus nya paparazzi, yang begitu keras mencoba mencabik cabik setiap bagian dari Amy. Di dalam film, juga diperlihatkan teman teman lamanya. Amy mempunyai sangat banyak teman yang peduli padanya, tapi merasa tidak banyak yang bisa mereka perbuat untuk Amy. Salah satu nya dari teman baiknya, Juliette Ashby, berbicara tentang obrolan nya dengan Amy di telpon, beberapa jam sebelum ia meninggal. Amy meninggal tanggal 23 Juli 2011, di usia 27 tahun karena keracunan alkohol, dan yang juga menjadi faktor adalah eating disorder nya dan narkotika, yang melemahkan jantung nya.

Saya mendapat kesan di film ini adalah, Amy, pada dasarnya adalah orang yang baik, sekalipun banyak sekali hal hal yang dilakukannya adalah salah. Tapi film ini tidak menyinggung tentang Amy yang juga seorang Philanthropist semasa hidupnya, dimana ia banyak mendonasikan uang, waktu dan musiknya kepada banyak yayasan amal yang berfokus pada anak anak.

Bagian terakhir di film ini, kita melihat Amy yang dalam kondisi wasted dengan alkohol, narkotika dan eating disorders, dan ini adalah bagian bagian mengerikan seperti di film horror yang sulit untuk saya tonton. Tapi saya tidak memindahkan mata dari layar, karena film ini membuat saya tersentuh melihat Amy sebagai sosok seperti manusia lainnya, yang rapuh dan akhirnya terjatuh di usia yang sangat muda, dan bisa terjadi pada siapapun yang kita kenal. 

It’s her words, her music, her voicemails, her home videos, her friends, her family, her tormentors, and her timeless incandescence. Look, listen and weep.
Rest in peace, Amy 
 
 

Thursday, January 14, 2016

Carol ( 2015 )

Starring : Cate Blanchett, Rooney Mara, Sarah Paulson
Writer : Phyllis Naggy ( screenplay ), Patricia Highsmith ( Novel )
Director : Todd Hayness

Carol is gorgeous, gently groundbreaking, and might be the saddest thing you’ll ever see. 
 
Mereka pertama kali bertemu saat mendekati Natal di tahun 1952, di bagian mainan anak anak di sebuah departemen store dimana Therese bekerja dan Carol mencoba membeli boneka untuk anak perempuannya, tapi gadis penjaga toko, Therese menyarankan set kereta mainan, dan Carol membelinya. Kemudian sarung tangan Carol tertinggal ( very possibily on purpose ? ).

Hayness sengaja tidak terlalu menekankan hal ini, dia ingin menggoda kita dengan berbagai kemungkinan dan clue-clue yang perlu atau tidak kita perhatikan. 
Dari situ kemudian mengarah pada pertemuan pertemuan berikutnya, dari bertemu Carol di rumahnya, tapi suami Carol yang desperate dan sedang dalam proses perceraian, datang tiba tiba. Ketika Carol dan suaminya bertengkar di depan rumah, Therese sengaja menaikkan volume musik di phonograph yang sedang didengar nya. Therese berada di sebuah keadaan yang sama sekali asing baginya, tapi memikat dan ia tidak mampu menolak nya.


Memenangkan best actress di Oscar tahun lalu untuk Blue Jasmine, Blanchett kembali mengkonfirmasikan dirinya sebagai salah satu aktris terbaik di era sinema modern, aktris yang memiliki facial yang tenang, memikat, bahkan almost angelic, yang memiliki suara tenang ketika menggoda sampai gemetar dengan kemarahan tanpa perlu menaikkan suaranya. Dan Mara sendiri, it’s all about the eyes, tatapan tapapan nya, yang berubah dari penuh keingin tahuan sampai penuh passion. Bersama, mereka berdua seperti dinamit, chemsitry antara mereka diperkuat oleh desain kostum luar biasa dari Sandy Powell, yang menambahkan dinamika interpersonal yang terus berkembang sepanjang film.

Sarah Paulson disini menjadi supporting character, sebagai Abby, teman baik Carol, sekaligus mantan kekasih nya. Kyle Chandler yang menjadi Harge, suami Carol, juga tidak kalah baiknya. Dia seperti kombinasi yang tidak seksi antara keras kepala dan berapi api. Dia sangat pemarah dan tidak bahagia, membenci dirinya sendiri karena terlalu lunak dengan Carol dan perselingkuhan nya. Kontribusi Harge di film ini membahkan kompleksitas cerita, yang awalnya ia setuju untuk berbagi hak asuh menjadi akan melakukan apa saja untuk menjauhkan Carol dari anak nya.

Carol dipaksa untuk memilih antara hak asuh anak yang dicintai nya dengan suami yang tidak pernah dicintai nya and the person she love and wants to be with ( thanks pada tabu moral akan homoseksualitas dan sexism di era ini ).

Carol adalah cerita cinta dimana dua wanita yang memiliki daya tarik yang kuat satu sama lain, dan menghabiskan waktu sepanjang film mencoba untuk mencari tau apa yang harus mereka lakukan. Ini adalah tentang dua orang yang tidak tau bagaimana hidup mereka sebelum mereka bertemu satu sama lain.
Tidak ada hal yang sempurna di dunia ini, tapi film seperti Carol sangat dibutuhkan dan sangat penting, karena mengingatkan kita akan kemajuan dari perbudakan emosional yang telah banyak kita hadapi dan telah kita rasakan sampai saat ini di masyarakat

Carol lebih dari sekedar pencapaian yang mengesankan di bidang cinematic, Carol adalah sebuah karya seni yang melankolis ala abad pertengahan yang sangat spesifik, dan memahami cinta sebagai sesuatu yang sangat berisiko tapi juga merupakan perjudian yang paling penting dalam pengalaman siapapun.
It took close to twenty years to get Carol made but the wait has been worth it.

****

Carol ( 2015 )
A film by Todd Hayness