Thursday, January 14, 2016

Carol ( 2015 )

Starring : Cate Blanchett, Rooney Mara, Sarah Paulson
Writer : Phyllis Naggy ( screenplay ), Patricia Highsmith ( Novel )
Director : Todd Hayness

Carol is gorgeous, gently groundbreaking, and might be the saddest thing you’ll ever see. 
 
Mereka pertama kali bertemu saat mendekati Natal di tahun 1952, di bagian mainan anak anak di sebuah departemen store dimana Therese bekerja dan Carol mencoba membeli boneka untuk anak perempuannya, tapi gadis penjaga toko, Therese menyarankan set kereta mainan, dan Carol membelinya. Kemudian sarung tangan Carol tertinggal ( very possibily on purpose ? ).

Hayness sengaja tidak terlalu menekankan hal ini, dia ingin menggoda kita dengan berbagai kemungkinan dan clue-clue yang perlu atau tidak kita perhatikan. 
Dari situ kemudian mengarah pada pertemuan pertemuan berikutnya, dari bertemu Carol di rumahnya, tapi suami Carol yang desperate dan sedang dalam proses perceraian, datang tiba tiba. Ketika Carol dan suaminya bertengkar di depan rumah, Therese sengaja menaikkan volume musik di phonograph yang sedang didengar nya. Therese berada di sebuah keadaan yang sama sekali asing baginya, tapi memikat dan ia tidak mampu menolak nya.


Memenangkan best actress di Oscar tahun lalu untuk Blue Jasmine, Blanchett kembali mengkonfirmasikan dirinya sebagai salah satu aktris terbaik di era sinema modern, aktris yang memiliki facial yang tenang, memikat, bahkan almost angelic, yang memiliki suara tenang ketika menggoda sampai gemetar dengan kemarahan tanpa perlu menaikkan suaranya. Dan Mara sendiri, it’s all about the eyes, tatapan tapapan nya, yang berubah dari penuh keingin tahuan sampai penuh passion. Bersama, mereka berdua seperti dinamit, chemsitry antara mereka diperkuat oleh desain kostum luar biasa dari Sandy Powell, yang menambahkan dinamika interpersonal yang terus berkembang sepanjang film.

Sarah Paulson disini menjadi supporting character, sebagai Abby, teman baik Carol, sekaligus mantan kekasih nya. Kyle Chandler yang menjadi Harge, suami Carol, juga tidak kalah baiknya. Dia seperti kombinasi yang tidak seksi antara keras kepala dan berapi api. Dia sangat pemarah dan tidak bahagia, membenci dirinya sendiri karena terlalu lunak dengan Carol dan perselingkuhan nya. Kontribusi Harge di film ini membahkan kompleksitas cerita, yang awalnya ia setuju untuk berbagi hak asuh menjadi akan melakukan apa saja untuk menjauhkan Carol dari anak nya.

Carol dipaksa untuk memilih antara hak asuh anak yang dicintai nya dengan suami yang tidak pernah dicintai nya and the person she love and wants to be with ( thanks pada tabu moral akan homoseksualitas dan sexism di era ini ).

Carol adalah cerita cinta dimana dua wanita yang memiliki daya tarik yang kuat satu sama lain, dan menghabiskan waktu sepanjang film mencoba untuk mencari tau apa yang harus mereka lakukan. Ini adalah tentang dua orang yang tidak tau bagaimana hidup mereka sebelum mereka bertemu satu sama lain.
Tidak ada hal yang sempurna di dunia ini, tapi film seperti Carol sangat dibutuhkan dan sangat penting, karena mengingatkan kita akan kemajuan dari perbudakan emosional yang telah banyak kita hadapi dan telah kita rasakan sampai saat ini di masyarakat

Carol lebih dari sekedar pencapaian yang mengesankan di bidang cinematic, Carol adalah sebuah karya seni yang melankolis ala abad pertengahan yang sangat spesifik, dan memahami cinta sebagai sesuatu yang sangat berisiko tapi juga merupakan perjudian yang paling penting dalam pengalaman siapapun.
It took close to twenty years to get Carol made but the wait has been worth it.

****

Carol ( 2015 )
A film by Todd Hayness